Uncategorized

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume)

Aerva sanguinolenta (L.) Blume Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Caryophyllidae Ordo : Caryophyllales Famili : Amaranthaceae Genus : Aerva Spesies : Aerva sanguinolenta (L.) Blume  (Backer and Bakhuizen van den Brink, 1965) Sambang colok adalah salah satu spesies tumbuhan berbentuk perdu kecil dari famili Amaranthaceae (suku bayam-bayaman) yang memiliki siklus hidup semusim (annual). Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim tropis basah. Nama ilmiah Aerva sanguinolenta pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1826. Sambang colok (Iresine herbstii) merupakan salah satu tanaman obat yang namanya kurang dikenal oleh masyarakat. Rebusan cabang-cabang muda sambang colok digunakan untuk mengobati haematuria dan nyeri haid. Daun sambang colok mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol disamping itu daunnya juga mengandung minyak atsiri. Tanaman yang umum ditanam sebagai tanaman hias ini mempunyai sifat diuretik, anti-inflamasi, dan antipiretik  Daun sambang colok dalam pengobatan biasa digunakan sebagai obat haid kurang teratur, obat untuk menghilangkan rasa nyeri haid, obat kencing kurang lancar, obat kencing nanah, obat kurang darah, obat keputihan, obat cacing dan obat radang rahim Cara Rebusan (Pemakaian Dalam) Ini adalah metode paling umum untuk mengobati penyakit dalam seperti nyeri haid atau kencing batu.Bahan: Ambil sekitar 15-30 gram daun sambang colok segar (atau 10-15 gram yang sudah kering). Proses: Cuci bersih daun sambang colok. Rebus dengan 3 gelas air (sekitar 600 ml) hingga tersisa 1,5 gelas.Penggunaan: Saring dan minum air rebusan tersebut. Umumnya diminum 2-3 kali sehari, pagi dan sore. Nurrosyidah, I. H., et al. (2020). Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Berbasis Pengetahuan Lokal di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. [Penelitian terkait penggunaan tanaman obat/sambang colok]. Warta Hortusmed Edisi 1 2020 (2020). B2P2TOOT Tawangmangu (terbit 18 September 2020)..Studi Pustaka/Kajian Metabolit (2026). Referensi terkait identifikasi morfologi dan metabolit sekunder (contoh: flavonoid total) yang mencakup tanaman sejenis. [Catatan: Berdasarkan data pencarian, studi komprehensif sering dirilis dalam jurnal penelitian pertanian terkait metabolit].

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume) Read More »

Kamboja (Plumeria sp.)

Nama Latin Plumeria sp. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae)Ordo : GentianalesFamili : ApocynaceaeGenus : Plumeria (Adrian ,2008) Definisi Umum Kamboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria yang umumnya berupa pohon kecil atau semak, berbatang sukulen (berair), dan memiliki getah putih. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah namun telah beradaptasi luas di daerah tropis, sering ditanam sebagai tanaman hias, peneduh, atau di area pemakaman. Bunganya harum, terdiri dari lima kelopak dengan warna putih, kuning, merah muda, hingga merah. Kandungan Tanaman kamboja (Plumeria acuminate, W.T.Ait) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (!967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Ait mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996). Khasiat Tanaman kamboja digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai: Cara Pengolahan Daftar Pustaka Center for Collaborative Research on Pharmacy (CCRF) UGM. (2008). Kamboja (Plumeria acuminata). Dalimartha, S., dr., 1999, Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, hal 62-63, Penebar Swadata, Jakarta. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. (2021). Klasifikasi dan Manfaat Tanaman Kamboja. Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (2025). Bunga Kamboja (Plumeria sp.). Jurnal Ilmiah Stigma (Unipasby). (n.d.). Pengaruh Ekstrak Etil Asetat Getah Kamboja (Plumeria sp.). Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), Departemen Kesehatan RI, Jakarta, page 452-453 Tampubolon, A.S., 1967, Obat Asli Indonesia, 214-215, Dian Rakjat, Jakarta

Kamboja (Plumeria sp.) Read More »

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

Brojo Lintang

Nama latin Belamcanda chinensis (L.) DC Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Belamcanda Spesies : Belamcanda chinensis (L.) DC. (Syahrin, 2023)\ Definisi Umum Brojo lintang berasal dari Asia Timur, menyebar di daerah Jepang, India, dan Indo-China, dan Amerika Utara. Brojo lintang sering dijadikan tanaman hias pada pekarangan rumah. Namun tanaman ini ternyata memiliki beberapa khasiat dan berguna untuk kesehatan. Telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati gangguan paru-paru dan hati, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan. Jamaka, Sulinga (Sunda), Semprit, Wordi (Jawa), Karimenga kulo, Katna, Ketep, Ketew, Kiris (Minahasa).  Semak, herba, tinggi 0,6-1,0m. Daun berumput, seperti tali, tersusun kipas pipih pada batang pendek tegak. Bunganya berwarna kuning jingga bertitik merah, menggulung rapat setelah diserbuki. Buah polong kering, matang dari hijau menjadi coklat, dibelah hingga terlihat kelompok biji. Biji berwarna hitam, beracun jika tertelan. Ideal sebagai tanaman penutup tanah yang berbunga bebas dan mencolok di perbatasan bunga dengan tanah lembab dan memiliki drainase yang baik. Mampu mekar di tempat teduh parsial. Rimpang berwarna coklat pucat. Perbanyak dengan pembagian bola akar atau biji.  Kandungan Flavonoid, terpenoid, quinones, senyawa fenolik, ketones, glikosida skekanin, belamkandin, dan iridin. Khasiat Antiinflamasi, antipiretik, ekspektoran, sakit perut dan purgatif, mengobati asma, bau mulut, batuk, masalah pencernaan, radang amandel, penurun panas, mencegah kerusakan hati. Daun untuk mengobati sembelit, sakit pinggang, sakit tenggorokan, asma, batuk dan penyakit kulit. Akar untuk mengobati radang amandel, pembengkakan limfah/hati dan demam nifas. Bunga dan daun untuk menurunkan demam. Cara Pengolahan Hepatitis Penurun demam Daftar Pustaka CABI. (2020). Invasive Species Compendium. Iris domestica(blackberry lily). https://www.cabi.org/isc/datasheet/62815878. 21-10-2020. Fern, Ken. (2014). Useful Tropical Plants. Iris domestica. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Bixa+orellana. 21-10-2020. Stuart Xchange. (2015). Philippine Medicinal Plants. Abaniko. http://www.stuartxchange.com/Abaniko.html. 21-10-2020.

Brojo Lintang Read More »

Bidara Upas

Nama latin Merremia mammosa Chois  Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan)  Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)  Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)  Divisio : Magnoliophyta (berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub-kelas : Asteridae  Ordo : Solanales  Familia : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)  Genus : Merremia  Spesies : Merremia mammosa Chois (Anonim, 2007) Deskripsi umum Decalobanthus mammosus atau Bidara Upas merupakan salah satu tanaman dari keluarga Convolvulaceae yang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari wilayah India, Pulau Andaman, dan Indo-Cina. Di Indonesia bidara upas ini dibudidayakan di Pulau Jawa, Bali, Maluku, dan Madura sebagai tanaman obat dan sumber makanan (bagian umbinya). Spesies ini adalah salah satu spesies langka dan termasuk dalam kriteria langka berdasarkan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003). Di wilayah Indonesia dan Malaysia, spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang secara empiris berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bidara upas juga merupakan bahan herbal yang banyak dijual sebagai jamu gendong dan digunakan dalam industri kecil obat tradisional. Selain itu, bidara upas juga telah digunakan masyarakat sebagai sumber serat, dimana batangnya dapat menghasilkan serat yang sangat halus dan kuat, dengan kilau satin, yang dapat dibuat menjadi kain. Kandungan Zat oxydase (getahnya), flavonoid, kuinon, senyawa fenolik, triterpenoid dan steroid.  Khasiat Menurunkan demam, mengobati gangguan pernafasan, pencernaan, luka akibat gigitan ular atau luka bakar, diabetes, batuk, suara serak, difteri, radang tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang usus buntu, tifus, sembelit, buang air besar darah dan lendir, muntah darah, kusta, melanoma, sifilis (lues), batu kantung kemih atau kencing batu, digunakan dalam terapi pengobatan kanker, mengatasi keracunan makanan, menghilangkan bengkak, memperlancar ASi (penggunaan eksternal), bersifat sebagai pencahar dan penyejuk. Memiliki aktivitas sebagai antinflamasi, analgetik (menghilangkan rasa sakit), antidot (menetralkan racun). Cara pengolahan Untuk diabetes,  Daftar pustaka Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Perbanyakan Vegetatif Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) Kebun Raya Bogor. Berita Biologi, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati 16(2), Agustus 2017. Herbal Medicine. 2014. Diabetes mellitus use Merremia mammosa. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. 07-09-2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceeding of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters. Bidara Upas Latin name Merremia mammosa Chois Taxonomy Kingdom: Plantae (plants) Subkingdom: Tracheobionta (vascular plants) Superdivision: Spermatophyta (seed-bearing plants) Division: Magnoliophyta (flowering plants) Class: Magnoliopsida (dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Solanales Family: Convolvulaceae (morning glory family) Genus: Merremia Species: Merremia mammosa Chois (Anonymous, 2007) General Description Decalobanthus mammosus, also known as Bidara Upas, is a plant in the Convolvulaceae family that is not native to Indonesia but originates from India, the Andaman Islands, and Indochina. In Indonesia, Bidara Upas is cultivated on the islands of Java, Bali, Maluku, and Madura as a medicinal plant and a food source (its tuber). This species is classified as rare and meets the criteria for rarity under the Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan issued by the National Development Planning Agency (2003). In Indonesia and Malaysia, this species is widely used as a medicinal plant with empirically proven efficacy for treating various ailments. Bidara upas is also a herbal ingredient widely sold as a traditional herbal remedy and used in small-scale traditional medicine industries. Additionally, bidara upas has been used by communities as a source of fiber, as its stems produce very fine and strong fibers with a satin sheen, which can be made into fabric. Composition Oxidase (latex), flavonoids, quinones, phenolic compounds, triterpenoids, and steroids. Benefits Reduces fever, treats respiratory and digestive disorders, snake bites or burns, diabetes, cough, hoarseness, diphtheria, sore throat, pneumonia, appendicitis, typhoid, constipation, bloody and mucus-filled stools, vomiting blood, leprosy, melanoma, syphilis (lues), bladder stones, used in cancer therapy, treating food poisoning, reducing swelling, promoting breast milk flow (external use), and acting as a laxative and cooling agent. It possesses anti-inflammatory, analgesic (pain-relieving), and antidotal (toxin-neutralizing) properties. Preparation For diabetes, Take 100 g of bidara upas root and wash it thoroughly. Grate it, then squeeze out the juice using a piece of cloth. Drink it every morning, half an hour before eating. References Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Vegetative Propagation of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) at the Bogor Botanical Garden. Berita Biologi, Journal of Biological Sciences 16(2), August 2017. Herbal Medicine. 2014. Use of Merremia mammosa for Diabetes Mellitus. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. September 7, 2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceedings of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters”

Bidara Upas Read More »

Bunga Pagoda

Nama Latin Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus : Clerodendron  Spesies : Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet  (Kurnianingsih, 2010) Deskripsi umum Bunga pagoda berasal dari China kemudian menyebar ke seluruh dunia. Umumnya ditanam di taman, pinggir jalan, pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Disebut bunga pagoda karena memiliki bentuk bunga yang unik bersusun seperti pagoda. Selain indah dan dijadikan tanaman hias, pagoda juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tanaman daun bunga pagoda umumnya merupakan salah satu tanaman hias yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tanaman ini merupakan tanaman perdu meranggas, tinggi 1-3 m, batangnya dipenuhi rambut halus. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur melebar, pangkal daun berbentuk jantung, daun tua bercangap menjari, panjangnya dapat mencapai 30 cm, bunganya majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk piramida dan keluar dari ujung tangkai, buahnya berbentuk bulat. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan biji. Bunga pagoda ini merupakan tanaman obat yang berkhasiat untuk berbagai macam penyakit pada manusia. Rasa daunnya manis, asam, agak kelat, dan bersifat netral  Kandungan Alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, zat samak, saponin, polifenol, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Khasiat Mengobati asam urat, mengobati wasir berdarah, mengobati luka, peluruh air seni, menyembuhkan bengkak, antiradang, menghancurkan darah beku, mengatasi insomnia. Cara pengolahan  Untuk penyakit yang proses penyembuhannya menggunakan akar, digunakan sebanyak 30 sampai 90 gram akar lalu digodok atau dijadikan bubuk, lalu diseduh dan diminum. Sedangkan penyakit yang disembuhkan dengan daunnya, pemakaiannya cukup dengan melumatkan beberapa daun segar yang kemudian dibubuhkan pada tempat yang sakit. Dan untuk memanfaatkan bunganya, digunakan bunga yang sudah dikeringkan, talu disajikan dalam bentuk serbuk. Atau bisa dengan merebusnya dan diminum setelah dingin. Untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal- gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan banga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti keputihan Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes Pagoda Flower Latin Name Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taxonomy Kingdom: Plantae (Plants) Subkingdom: Tracheobionta (Vascular Plants) Superdivision: Spermatophyta (Seed-bearing Plants) Division: Magnoliophyta (Flowering Plants) Class: Magnoliopsida (Dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Verbenaceae Genus: Clerodendron Species: Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet (Kurnianingsih, 2010) General Description The pagoda flower originates from China and has since spread throughout the world. It is commonly grown in gardens, along roadsides, and in home yards as an ornamental plant. It is called the pagoda flower because its blossoms have a unique, tiered shape resembling a pagoda. In addition to being beautiful and used as an ornamental plant, the pagoda flower also offers health benefits. The pagoda flower is generally one of the most common ornamental plants grown in home yards. This plant is a deciduous shrub, 1–3 m tall, with stems covered in fine hairs. The leaves are simple, petiolate, and arranged oppositely. The leaf blades are broadly ovate, with a heart-shaped base; mature leaves are deeply lobed, and can reach up to 30 cm in length. The flowers are red, composed of small florets clustered into a pyramid shape and emerging from the tip of the stem; the fruit is round. The pagoda flower can be propagated by seed. The pagoda flower is a medicinal plant effective for treating various human ailments. The leaves have a sweet, sour, and slightly astringent taste and possess cooling properties. Components Alkaloids, flavonoids, steroids, terpenoids, tannins, saponins, polyphenols, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Benefits Treats gout, treats bleeding hemorrhoids, heals wounds, promotes urination, reduces swelling, anti-inflammatory, dissolves blood clots, treats insomnia. Preparation Method For ailments treated with the root, use 30 to 90 grams of the root, which is then boiled or ground into a powder, brewed, and consumed. For ailments treated with the leaves, simply crush a few fresh leaves and apply them to the affected area. To use the flowers, dried flowers are used, often in powder form. Alternatively, they can be boiled and consumed once cooled. This is effective for washing bleeding wounds, bleeding hemorrhoids, and itching (pruritus). Additionally, fresh flowers can be finely ground and applied to the affected area, such as for vaginal discharge. Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes

Bunga Pagoda Read More »

Bunga Pukul Empat

Nama latin Mirabilis jalapa L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Sub kingdom : Tracheobionta  Seb devision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Clas : Magnoliopsida Subclass : Caryophylidae Order : Caryophyllales Family : Nyctaginaceae  Genus : Mirabilis  Spesies : Mirabilis jalapa L.  (Ramesh et al., 2014)  Definisi umum Indonesia: kembang pukul empat. Sumatra: kempang pagi sore, kembang pukul empat, bunga waktu kecil. Jawa: kederat, segerat, tegerat. Nusatenggara: noja, koderat, bunga ledonosok, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga,bodoko sina, bunga teteapa, bunga-bunga paranggi, bunga-bunga parengki. Maluku: kupa, oras, cako, raha.Herba tahunan, tegak, tinggi 20-80 cm, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam orang sebagai tanaman hias  di pekarangan atau sebagai pembatas pagar rumah. Tumbuh di dataran rendah yang cukup mendapat sinar matahari maupun di daerah perbukitan. Termasuk suku kampah-kampahan, berbatang basah, daunnya berbentuk jantung, warna hijau tua, panjang 2-11 cm, lebar 7-8 cm, pangkal daun mambulat, ujung meruncing, tepi daun rata, letak berhadapan, mempunyai tangkai daun yang panjangnya 5-6 cm. Bunganya berbentuk terompet, dengan banyak macam warna antara lain: merah, putih, jingga, kuning, kombinasi/belang-belang. Mekar di waktu sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Buahnya keras warna hitam berbentuk telur dapat dibuat bedak. Kulit umbinya bewarna coklat kehitaman berbentuk bulat memanjang, panjang 7-9 cm dengan diameter 2-5 cm, isi umbi bewarna putih. Kandungan Akar mengandung betaxanthins. Buah mengandung zat tepung, lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), zat asam minyak (46,9%).  Khasiat Selain sebagai tanaman hias, tanaman pukul empat memiliki manfaat sebagai antioksidan dan aktivitas sitotoksisitas (Rumzhum et al., 2008), antiartritis, (Augustine et al., 2013), antispasmodik (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti inflamasi (Singh et al., 2010), efek hipoglikemia dan 9 hipolipidemik (Zhou et al., 2011), antibakteri (Devi, 2010). Aktivitas farmakologi pada berbagai ekstrak yang dilaporkan oleh Shaik et al. (2012), menunjukkan aktivitas antidiabetes, antioksidan, antimikroba, antifungal, antiviral, dan penyakit urinan. Cara pengolahan a. Acute arthritis: akar segar direbus lalu diminum, bila badan panas ditambah tahu. b. Bunga putih sebanyak 120 gram, direbus lalu minum.  c. Bisul:    1) Pada bisulnya dioleskan sedikit minyak kemiri. Daun kembang pukul empat dilayukan diatas api, kemudian dioleskan sedikit minyak kelapa, tengahnya dilubang dan letakkan diatas bisul. 2)   10 lembar kembang pukul empat dicuci kemudian dilumatkan ditambah air garam secukupnya, ditempelkan pada bisul dan sekelilingnya lalu dibalut. 3)   Akar segar dibuang kulitnya kemudian dilumatkan dan ditambah gula enau. Tempelkan pada bisulnya, sehari diganti 2 kali. d. Jerawat:Buahnya mengandung zat tepung, dibuat tepung bedak, tepung bedak ditambah air kemudian dioleskan. Daftar Pustaka Anggara MA. 2013. Aktivitas MAP (Mirabilis Antiviral protein) sebagai Pengendalian Penyakit Gemini Virus pada Tanaman Cabai. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi]. Ariantari N P, Ikawati Z, Sudjadi, Sismindari. 2010. Efek sitotoksik protein dari daun Mirabilis jalapa L. hasil pemurnian dengan kolom CM Sepharose CL6B terhadap kultur sel HeLa. Jurnal farmasi dan ilmu kesehatan. 1(1): 1-7. Asniwita, SH hidayat, G Suastika, S Sujiprihatin, S Susanto dan I Hayati. 2012. Eksplorasi isolat lemah Chili veinal mottle potyvirus pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera barat dan Jawa Barat. J.Hortikultura. 22(2): 181-186. Ayuni FFL dan Mulyanti D. 2015. Uji aktivitas antibakteri tepung biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan formulasinya dalam sediaan krim. Prosding Penelitian SPeSIA Unisba. 154-158 Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi sayuran di Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php. Diunduh 26 Desember 2018. Four O’Clock Flower Latin Name Mirabilis jalapa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Sebdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Caryophylidae Order: Caryophyllales Family: Nyctaginaceae Genus: Mirabilis Species: Mirabilis jalapa L. (Ramesh et al., 2014) General Definition Indonesia: four o’clock flower. Sumatra: morning and evening flower, four o’clock flower, small flower. Java: kederat, jauht, tegerat. Nusa Tenggara: noja, koderat, ledonosok flower, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga, bodoko sina, teteapa flower, paranggi flower, parengki flower. Maluku: kupa, oras, cako, raha. An erect, annual herb, 20-80 cm tall, native to South America, often planted as an ornamental plant in yards or as a fence border. It grows in lowlands with sufficient sunlight, as well as in hilly areas. It belongs to the kampah-kampahan family and has a moist stem. Its leaves are heart-shaped, dark green, 2-11 cm long and 7-8 cm wide. The leaf base is rounded, the tip is pointed, the leaf margins are even, opposite, and the petioles are 5-6 cm long. The flowers are trumpet-shaped and come in a variety of colors, including red, white, orange, yellow, and mixed/striped. They bloom in the afternoon and rebud in the morning before dawn. The fruit is hard, black, egg-shaped, and can be used as a powder. The tuber skin is blackish-brown and elongated, 7-9 cm long and 2-5 cm in diameter, with a white core. Contents The roots contain betaxanthins. The fruit contains starch, fat (4.3%), fatty acids (24.4%), and oil acids (46.9%). Benefits Besides being an ornamental plant, the four o’clock plant has antioxidant and cytotoxic properties (Rumzhum et al., 2008), antiarthritis (Augustine et al., 2013), antispasmodic (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti-inflammatory (Singh et al., 2010), hypoglycemic and hypolipidemic effects (Zhou et al., 2011), and antibacterial (Devi, 2010). The pharmacological activities of various extracts reported by Shaik et al. (2012) indicate antidiabetic, antioxidant, antimicrobial, antifungal, antiviral, and urinary tract infections activities. Processing Method a. Acute arthritis: Boil the fresh roots and drink. If you have a fever, add tofu. b. Boil 120 grams of white flowers and drink. c. Boil boils: 1) Rub a little candlenut oil on the boil. Wilt the four o’clock flower leaves over a fire, then apply a little coconut oil, make a hole in the center, and place it on the boil. 2) Wash 10 four o’clock flower leaves, crush them, add enough salt water, and apply to the boil and the surrounding area, then bandage. 3) Peel the fresh roots, crush them, and add palm sugar. Apply to the boil, changing the dressing twice a day. d. Acne:The fruit contains starch, which can be made into a powder, the powder mixed with water, and then applied. Bibliography Anggara MA. 2013.

Bunga Pukul Empat Read More »

Buah Tin

Nama latin Ficus carica L. Taksonomi Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophta Kelas : Magnoliospida Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus carica L. (Sobir dan Mega, 2013) Definisi umum Pohon Tin masuk kedalam kerabat pohon beringin dengan batang lunak berwarna abu-abu halus kecoklatan. Buah yang disebut dengan buah Tin adalah buah semu, yaitu bukan buah dalam pengartian biologi melainkan bagian bunga yang terdiri dari ratusan tangkai sari dan putik, ukurannya sebesar bola pingpong ada yang berbentuk lonjong dan ada yang bulat. Sekilas, buah Tin memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum, teksturnya empuk, rasanya keset, sedikit mengandung air dan berbiji kecil banyak. Buah Tin masih belum populer dikalangan masyarakat Indonesia sehingga keberadaanya belum banyak diketahui, oleh karena itu tanaman Tin masih menjadi tanaman yang langka yang mempunyai nilai jual tinggi (Sobir dan Mega, 2013).  Tanaman Tin dapat tumbuh pada suhu 21º – 27 º C dengan kondisi curah hujan sedang dengan kelembaban tinggi. Tanaman Tin membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk pertumbuhan, perkembangan tanaman, serta proses pematangan buah. Kondisi media tanam yang lembab dengan drainase yang baik merupakan jenis media yang disukai oleh tanaman Tin. Tanaman Tin juga bisa tumbuh dalam berbagai tanah mulai dari tanah pasir, tanah kaya akan kandungan lempung, tanah berliat berat maupun tanah yang mengandung kapur. Kandungan Buah tin mengandung sedikit air dan biji yang banyak. Selain itu, buah tin juga mengandung zat-zat yang mampu menghilangkan keasamaan bagi tubuh. Unsur-unsur zat yang terkandung di dalam buah tin, diantaranya yaitu karbohidrat, protein, minyak, yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), klorin, malic acid, dan nicotinic acid. Buah Tin (Ficus carica L.) juga disebutkan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an yang termuat dalam QS. At-Tin. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa Allah swt. menurunkan ayat tersebut pasti bermanfaat bagi umat-Nya, yang mana terbukti dengan buah tin yang memiliki segudang manfaat bagi manusia.  Khasiat a. Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan Buah tin diketahui dapat mengatasi sembelit, diare, kembung, kram perut, dan lain sebagainya. Di dalam buah tin terdapat kandungan serat yang berfungsi sebagai probiotik. Kandungan serat tersebut mendukung pertumbuhan bakteri baik yang berada di saluran pencernaan, sehingga meningkatan kesehatan pada sistem pencernaan b. Mencegah Terjadinya Penyakit Kronis Buah tin memiliki kandungan antioksidan, seperti asam fenolik dan flavonoid yang dapat mencegah terjadinya penyakit kronis, seperti diabetes, katarak, penyakit jantung, dan lain sebagainya. Kandungan antioksidan tersebut paling banyak ditemukan di kulit buah tin yang berwarna ungu gelap. c. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Penyakit hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Faktor penyebab munculnya hipertensi salah satunya yaitu ketidakseimbangnya kalium akibat terlalu banyak memakan makanan yang mengandung natrium dan makanan yang kekurangan kalium. Oleh karena itu, buah tin dapat digunakan sebagai obat penurun hipertensi karena merupakan buah yang kaya akan kalium. Kandungan serat yang tinggi dalam buah tersebut dapat membantu membuang kelebihan natrium dari sistem tubuh. d. Meningkatkan Kesehatan Tulang Buah tin merupakan buah yang kaya akan kalsium dan potasium yang baik. Mineral tersebut berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tulang, sehingga dapat mencegah pengeroposan tulang, seperti osteoporosis. e. Membantu Menstabilkan Berat Badan Secara alami, buah tin mengandung serat tinggi yang dikemas dalam bentuk vitamin dan mineral. Buah tin dapat menjadi makanan inklusi yang berguna untuk meningkatkan nutrisi dalam pola makan. Dengan begitu berat badan menjadi stabil dan dapat dikelola dengan baik. Cara pengolahan a. Teh/rebusan daun tin Meskipun bukan buahnya, daun tin sering diolah menjadi teh untuk menurunkan gula darah dan maag. Bahan: 1 sendok teh daun tin kering (cacah), 1 cangkir air panas. Cara: Seduh daun tin kering dengan air panas, diamkan selama 5-10 menit, lalu saring. Manfaat: Mengatasi sesak napas (asma), mengencerkan dahak, dan menurunkan tekanan darah b. Sirup buah tin Bahan: Buah tin, sedikit air, perasan lemon, madu (opsional). Cara: Blender buah tin hingga kental. Masukkan dalam panci, tambahkan sedikit air, rebus dengan api kecil. Aduk terus hingga konsistensi seperti sirup. Tambahkan perasan lemon untuk rasa segar. Cara Minum: Campurkan 1-2 sendok makan sirup buah tin ke dalam segelas air hangat Daftar Pustaka  Agustin, S. 2022. 4 Manfaat Buah Tin untuk Kesehatan. https://www.alodokter.com/intip- manfaat-buah-tin-untuk-kesehatan. Diakses pada 30 April 2022. Makarim, F.R. 2022. Catat, Ini Manfaat Buah Tin yang Sayang untuk Dilewatkan.https://www.halodoc.com/artikel/catat-ini-manfaat-buah-tin-yang-sayang-untuk- dilewatkan. Diakses pada 30 April 2022. Nugraha, W.F., dan Tri, M. 2020. Review Artikel : Etnofarmakologi Tanaman Tin (Ficus carica L.) (Kajian Tafsir Ilmi Tentang Buah Tin Dalam Al-Qur’an). Jurnal Farmagazine. 7(1): 58-65. Buah Tin Latin Name Ficus carica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophta Class: Magnoliospida Order: Rosales Family: Moraceae Genus: Ficus Species: Ficus carica L. (Sobir and Mega, 2013) General Definition The fig tree is a relative of the banyan tree, with a soft, smooth, gray-brownish stem. The fruit, called the fig, is a pseudofruit, meaning it is not a fruit in the biological sense but rather a flower part consisting of hundreds of pollen stalks and pistils. It is about the size of a ping-pong ball, some are oval, some are round. At first glance, the fig fruit has a taste and aroma similar to guava. It has a fragrant aroma, a soft, astringent texture, a little water content, and many small seeds. Figs are still relatively unknown among Indonesians, making them a rare crop with high market value (Sobir and Mega, 2013). Figs can grow in temperatures ranging from 21°C to 27°C, with moderate rainfall and high humidity. They require full sunlight throughout the day for growth, development, and fruit ripening. A moist, well-drained growing medium is preferred. Figs can grow in a variety of soils, from sandy soils to clay-rich soils, heavy clay soils, and even those containing lime. Contents Figs contain little water and many seeds. Furthermore, they contain substances that can reduce acidity in the body. These elements include carbohydrates, protein, oil, iodine, calcium, phosphorus, iron, magnesium, sulfur (phosphate), chlorine, malic acid, and nicotinic acid. Figs (Ficus carica L.) are also mentioned by Allah SWT. The verse in the Quran, Surah At-Tin, indicates that Allah SWT revealed this verse for the benefit of His people, as evidenced by the myriad

Buah Tin Read More »

Bunga Nusa Indah

Nama Latin Mussaenda frondosa L  Taksonomi Kingdom : Plantae  Phylum : Tracheoophyta  Class : Magnoliopsida  Order : Gentianules  Family : Rubiaceae Genus : Mussaenda  Species : Mussaenda frondosa L  (Setia et al., 2022) Definisi umum Tanaman nusa indah berasal dari Filipina, awalnya merupakan tanaman liar yang tumbuh disemak-semak di lereng perbukitan. Tanaman ini umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Selain cantik, Nusa Indah juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Tumbuhan liar ini memiliki cabang-cabang yang berbulu halus. Tangkai bunga dapat mencapai panjang 1,5 cm dengan pangkalnya yang lonjong dan berujung runcing. Daunnya memiliki panjang antara 6 hingga 10 cm, juga ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian bawah dan ujungnya yang runcing. Stipula tanaman ini memiliki panjang 3-4 mm, berbentuk lonjong, dan bercabang dua di 5 bagian puncaknya.Bunga tumbuhan ini tumbuh dalam bentuk majemuk di bagian terminal, membentuk cymes yang longgar dan memiliki tampilan tomentose linier dengan panjang antara 1 hingga 1,5 cm serta ditutupi rambut halus. Brakteolnya memiliki bentuk linier.Yang menarik, salah satu dari lima lobus kelopak bunga berkembang menjadi struktur yang menyerupai daun dengan ukuran 8-12 x 4,5 cm dan juga ditutupi rambut putih, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Panjang lobus tersebut berkisar 6-7 mm, berbentuk oval-lanset, dan terhubung dengan corolla yang memiliki panjang 2,5-3 cm, berbentuk corong dan melebar di bagian tengah, dengan warna yang menawan, baik oranye maupun kuning (Setia et al., 2022).  Kandungan Terdapat Fitokonstituen seperti quercetin, isoquercetin, hyperin, asam singapat, asam ferulat, dan stiglusida diisolasi menggunakan kromatografi arus balik tetes dari ekstrak metanol daun bunga Mussaenda frondosa L (Shanthi & Radha, 2020).  Khasiat Menyembuhkan influenza, demam, batuk, radang amandel, radang tenggorokan, koreng, luka, bisul, mencegah kanker payudara, mencegah dan mengatasi kanker payudara. Akar dari tanaman bunga Nusa Indah berguna untuk mengobati batuk dan aktivitas farmakologi yang telah dilaporkan yaitu sebagai diuretik, antipologis, antipiretik aktivitas dalam laringoparingitis, gastroenteritis akut, liver dan hepatitis (Rojin dkk., 2015). Kandungan senyawa kimia yang terdapat pada bunga Nusa Indah diantaranya adalah senyawa flavonoid, saponin, glikosida dan terpenoid (Eishwaraiah, 2011; Raju dan Rao, 2011). Senyawa terpenoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang dapat dijumpai pada bagian akar, batang, daun, buah maupun biji tanaman. Senyawa golongan terpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi yang menarik sebagai antiviral, antibakteri, antiinflamasi, sebagai inhibisi terhadap sintesis kolesterol dan antikanker (Mahato et al.,1997). Menurut Andini, dkk., (2014), senyawa golongan triterpenoid merupakan agen fitokimia yang dapat secara selektif membunuh sel kanker payudara dan mencegah rusaknya sel normal.  Cara pengolahan a. Untuk mencegah kanker payudara : Siapkan 15-30 g batang nusa indah kering atau 30-60 g yang segar, dan 30 g tapak dara. Rebus semua bahan dengan 600 ml air hingga mendidih dan air tersisa 300 ml. Saring dan dinginkan, minum ramuan. b. Untuk Influenza : Cuci bersih 12 g daun segar lalu rebus dengan 200 ml air bersih hingga mendidih (selama 5 menit). Saring dan dinginkan lalu minum sekaligus (sehari 2-3 kali). Daftar Pustaka Raju, N.J., and Rao, G.B., 2011, Anthelmintic Activities Of Antigonon Leptopus Hook and Mussaenda erythrophylla Lam., J. Pharm. Pharmaceut. Sci., 3 : 68-69.  Rojin, Sukanya S., dan Rajendra H., 2015, Hepatoprotective Effect Of Erythrophylla And Aegle Marmelos In Ethanol Induced Rat Hepatotoxicity Model, International Journal Of Applied Biology And Pharmaceutical Technology, 6 (3).  Tussanti, Iin, Andrew J., dan Kisdjamiatun, 2014, Sitotoksisitas In Vitro Ekstrak Etanolik Buah Parijoto (Medinilla Speciosa, Reinw.Ex Bl.) Terhadap Sel Kanker Payudara T47D, J. Gizi Indonesia, 2(2) : 53-58  Parwata IM. O.A.P.,Ratnayani K., dan Listya A. , 2010. Aktivitas Antiradical Bebas serta Kadar Beta Karoten pada Madu Randu (Ceiba Pentendra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L). Jurnal Kimia. 4:54-62.  Putra,B.A.A., Bogoriani, N.W., Diantariani, N.W., 2014. Ekstraksi Warna Alam dari Bonggol Tanaman Pisang (Musa Paradiasciaca L.) dengan Metode Maserasi, Refluks, dan Sokletasi. 8:113-199.  Rita, W.S., 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma Zedooria Berg.) (Roscoe). J.Kim 4:20-26. BEAUTIFUL NUSA FLOWERS LATIN NAME Mussaenda frondosa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Phylum: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Gentianules Family: Rubiaceae Genus: Mussaenda Species: Mussaenda frondosa L. (Setia et al., 2022) General Definition The Nusa Indah plant originates from the Philippines and originally grows wild as a shrub on hillside slopes. This plant is generally cultivated as an ornamental. Besides its beauty, the Nusa Indah also offers health benefits. This wild plant has fine, hairy branches. The flower stalks can reach 1.5 cm in length with an oval base and pointed tips. The leaves are between 6 and 10 cm long and are covered with fine hairs on the underside and have pointed tips. The stipules of this plant are 3-4 mm long, oval, and bifurcated at five apex points. The flowers grow in terminally compound inflorescences, forming loose, linear-tomentose cymes, ranging from 1 to 1.5 cm long and covered with fine hairs. The bracteoles are linear. Interestingly, one of the five calyx lobes develops into a leaf-like structure measuring 8-12 x 4.5 cm and also covered with white hairs, creating a truly stunning sight. The lobes are 6-7 mm long, oval-lanceolate, and connected to a corolla that is 2.5-3 cm long, funnel-shaped and widening in the center, and has a captivating color, either orange or yellow (Setia et al., 2022). Content Phytoconstituents such as quercetin, isoquercetin, hyperin, singapic acid, ferulic acid, and stiglucide were isolated using countercurrent drop chromatography from the methanol extract of Mussaenda frondosa L. flower leaves (Shanthi & Radha, 2020). Benefits Treats influenza, fever, cough, tonsillitis, sore throat, scabs, wounds, boils, and prevents breast cancer. The roots of the Nusa Indah flower are useful for treating coughs, and its pharmacological activities have been reported as diuretic, antifungal, and antipyretic activities in laryngopharyngitis, acute gastroenteritis, liver disease, and hepatitis (Rojin et al., 2015). The chemical compounds found in the Nusa Indah flower include flavonoids, saponins, glycosides, and terpenoids (Eishwaraiah, 2011; Raju and Rao, 2011). Terpenoid compounds are secondary metabolites found in the roots, stems, leaves, fruits, and seeds of plants. Terpenoid compounds exhibit interesting pharmacological activities as antivirals, antibacterials, anti-inflammatories, inhibitors of cholesterol synthesis, and anticancer agents (Mahato et al., 1997). According to Andini et al., (2014), triterpenoid compounds are

Bunga Nusa Indah Read More »

Jeruk Bali (Citrus maxima)

Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae  Ordo: Sapindales Famili: Rutaceae Genus: Citrus Spesies: Citrus maxima (Burm.) Merr. (USDA, 2013) Definisi Umum Jeruk Bali merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Rutaceae yang dimana jeruk ini dapat tumbuh subur hingga 5-15 meter dibawah sinar matahari dengan limpahan hujan sekitar 1.500-2.000 mm baik di dataran yang rendah maupun tinggi serta kelembapan yang mencapai suhu 25-32°C. Kandungan Kandungan pada kulit jeruk Bali terdiri dari flavonoid, pectin, dan lycopene yang membuat buah ini semakin banyak manfaatnya. Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Pectin pada kulit jeruk bali mempunyai efektivitas antimikroba. Jeruk Bali juga mengandung limonen yang menimbulkan adanya rasa pahit. Khasiat Kulit jeruk Bali memiliki sangat banyak manfaat dimana ekstrak etanol pada kulit jeruk Bali memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, triterpenoid atau steroid, saponin, serta tannin yang mempunyai aktivitas antioksidan. Salah satu peran senyawa flavonoid dinamakan sebagai free radical scavenger dimana atom hidrogen dilepaskan oleh flavonoid dari gugus hidroksilnya, radikal bebas akan mengikat atom hidroksil yang terlepas sehingga membuatnya kembali dalam kondisi netral.  Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA Filbert K, dkk. 2023. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT JERUK BALI CITRUS MAXIMA PERICARPIUM) TERHADAP PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN ENTEROCOCCUS FAECALIS. JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCE AND RESEARCH. 5 (1). 

Jeruk Bali (Citrus maxima) Read More »

Scroll to Top