Taksonomi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Genus: Citrus
Spesies: Citrus maxima (Burm.) Merr.
(USDA, 2013)
Definisi Umum
- Citrus maxima pada masyarakat dikenal sebagai jeruk Bali yang merupakan jenis tanaman jeruk yang banyak dilestarikan pada wilayah-wilayah Asia Tenggara. Citrus maxima terdiri atas 2 bagian yaitu bagian kulit dengan warna yang bermacam-macam dan bagian daging buahnya yang berwarna merah muda dan berbentuk kantong-kantong sari.
Jeruk Bali merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Rutaceae yang dimana jeruk ini dapat tumbuh subur hingga 5-15 meter dibawah sinar matahari dengan limpahan hujan sekitar 1.500-2.000 mm baik di dataran yang rendah maupun tinggi serta kelembapan yang mencapai suhu 25-32°C.
Kandungan
Kandungan pada kulit jeruk Bali terdiri dari flavonoid, pectin, dan lycopene yang membuat buah ini semakin banyak manfaatnya. Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Pectin pada kulit jeruk bali mempunyai efektivitas antimikroba. Jeruk Bali juga mengandung limonen yang menimbulkan adanya rasa pahit.
Khasiat
Kulit jeruk Bali memiliki sangat banyak manfaat dimana ekstrak etanol pada kulit jeruk Bali memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, triterpenoid atau steroid, saponin, serta tannin yang mempunyai aktivitas antioksidan. Salah satu peran senyawa flavonoid dinamakan sebagai free radical scavenger dimana atom hidrogen dilepaskan oleh flavonoid dari gugus hidroksilnya, radikal bebas akan mengikat atom hidroksil yang terlepas sehingga membuatnya kembali dalam kondisi netral.
Cara Pengolahan
- Kulit jeruk Bali yang dikumpulkan dicuci hingga bersih dengan air, kemudian masukkan ke dalam lemari pengering untuk dikeringkan agar menghindari paparan dari debu dan sinar matahari selama 4 hari kemudian simplisia dihaluskan menggunakan blender.
- Proses pembuatan ekstrak kulit jeruk Bali dilakukan dengan teknik maserasi, yaitu serbuk kulit jeruk Bali yang telah dihaluskan, diambil sebanyak 200 gram lalu 2 liter larutan etanol 96% digunakan dalam proses maserasi tahap I dan direndamkan selama 24 jam sambil diaduk sekali-kali dalam waktu 3 hari. Kemudian saringkan ekstrak yang didapatkan menggunakan kertas saring lalu akan memperoleh filtrat. Maserasi tahap II dilakukan dengan cara yang sama seperti tahap I hanya saja larutan etanol 96% dikurangi menjadi 1,5 liter lalu disaring. Hasil filtrat maserasi kemudian digabungkan dalam suatu wadah. Selanjutnya pisahkan larutan pada hasil filtrat menggunakan Rotary Vaccum Evaporator pada suhu 70°C dengan laju putaran 48 rpm hingga diperoleh ektrak kental. Kemudian untuk memperoleh hasil ekstrak yang lebih kental, dilakukan pengadukan pada Waterbath dengan suhu 80°C selama 5 hari.
- Pembuatan suspensi bakteri melalui inokulasi masing-masing biakan bakteri P. aeruginosa dan E. faecalis ke dalam media Nutrient Agar (NA), kemudian inkubasikan media selama 1×24 jam di dalam inkubator pada suhu 37°C. Lalu menggunakan pelarut berupa NaCl 0,9% untuk melarutkan bakteri sampai standar kekeruhan McFarland terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Filbert K, dkk. 2023. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT JERUK BALI CITRUS MAXIMA PERICARPIUM) TERHADAP PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN ENTEROCOCCUS FAECALIS. JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCE AND RESEARCH. 5 (1).

