Uncategorized

Matoa (Pometia Pinnata)

Nama Latin Pometia Pinnata Taksonomi Kingdom Plantae Divisi  Tracheophyta Subclass Magnoliopsida Order Sapindales Familly Sapindaceae Genus  Pometia Spesies Pometia pinnata(Thomson dan Thaman (2006) Definisi Umum Matoa (Pometia pinnata) merupakan tanaman buah tropis yang berasal dari wilayah Asia Tenggara dan banyak ditemukan di Indonesia, terutama di Papua. Tanaman ini termasuk dalam famili Sapindaceae, yang juga mencakup tanaman rambutan dan leci. Matoa dikenal sebagai tanaman yang memiliki nilai gizi tinggi serta potensi sebagai tanaman obat karena mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Buahnya banyak dikonsumsi sebagai sumber nutrisi, sedangkan daun dan bagian tanaman lainnya telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat (Rahmah et al., 2021). Secara morfologi, matoa merupakan pohon berkayu yang dapat tumbuh hingga lebih dari 20 meter dengan batang yang kuat serta daun majemuk menyirip. Tanaman ini banyak dibudidayakan di daerah tropis karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan. Selain dimanfaatkan sebagai buah konsumsi, bagian daun dan kulit batang juga digunakan sebagai bahan obat tradisional karena memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan dan antibakteri (Putri et al., 2023). Kandungan Tanaman matoa diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder yang berperan penting dalam aktivitas biologis. Senyawa yang ditemukan pada daun maupun buah matoa antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, fenolik, dan terpenoid. Selain itu, buah matoa juga mengandung beberapa vitamin penting seperti vitamin C, vitamin A, dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan alami dalam tubuh (Islamiyati, 2024).              Kandungan senyawa flavonoid dan fenolik pada matoa memiliki kemampuan untuk menangkal radikal bebas dengan cara mendonorkan elektron sehingga dapat mencegah kerusakan sel. Aktivitas antioksidan ini sangat penting dalam mencegah berbagai penyakit degeneratif yang berkaitan dengan stres oksidatif, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker (Putri et al., 2023). Khasiat Tanaman matoa memiliki berbagai aktivitas farmakologis yang berpotensi dikembangkan sebagai obat bahan alam. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Aktivitas ini menunjukkan potensi matoa sebagai sumber antibakteri alami yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan (Pagarra et al., 2025).        Selain sebagai antibakteri, kandungan senyawa flavonoid dan fenolik pada tanaman  matoa juga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Senyawa antioksidan tersebut mampu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang dapat memicu berbagai penyakit kronis dan degeneratif (Rahmah et al., 2021).           Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman matoa berpotensi memiliki aktivitas antikanker. Aktivitas ini berkaitan dengan kemampuan flavonoid dan senyawa fenolik dalam menghambat proliferasi sel kanker, menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram), serta menekan stres oksidatif yang berperan dalam perkembangan sel kanker (Putri et al., 2023). Cara Pengolahan 1. Ambil sekitar 10–15 gram daun matoa segar. 2. Cuci bersih menggunakan air mengalir. 3. Rebus dengan 2–3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas. 4. Saring air rebusan tersebut. 5. Minum air rebusan tersebut 1–2 kali sehari secara tradisional untuk membantu menjaga kesehatan tubuh (Putri et al., 2023). Daftar Pustaka Rahmah W, Hamzah H, Hajar S, Ressandy SS, Putri EM. Potential of matoa fruit extract (Pometia pinnata) as antioxidant source. Jurnal Farmasi Sains dan Praktis. 2021;7(1). Putri AC, Yuliana TN, Suzery M, Aminin ALN. Total phenolic, flavonoid and LC-MS analysis of the ethanolic extract of matoa (Pometia pinnata) leaves. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi. 2023;26(12). Islamiyati R. Phytochemical screening and determination of total flavonoids of matoa leaves using UV-VIS spectrophotometry. PHARMACON. 2024;13(2). Pagarra H, Rachmawaty, Musawira, Handayani B, Haq MNS. Phytochemical screening and antimicrobial activity of matoa (Pometia pinnata) leaves against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Biosel: Biology Science and Education. 2025;14(2).

Matoa (Pometia Pinnata) Read More »

Putri Malu (Mimosa Pudica L)

Nama Latin Mimosa pudica L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Divisi : Magnoliophyta  Kelas : Magnoliopsid Ordo : Fabales  Famili : Fabaceae  Genus : Mimosa  Spesies : Mimosa pudica, Linn  (Syahid, 2009)  Definisi Umum Putri malu adalah tanaman semak kecil yang dikenal karena daunnya yang akan menutup secara cepat bila disentuh atau digoyangkan — fenomena ini disebut seismonasti. Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka seperti pinggir jalan, ladang, dan kebun. Meskipun sering dianggap gulma, Mimosa pudica memiliki berbagai manfaat pengobatan tradisional. Kandungan Beberapa senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman Mimosa pudica antara lain: Alkaloid, Flavonoid, Tanin,Saponin, Mimosin (senyawa khas putri malu), Steroid dan terpenoid, Asam amino dan glikosida Khasiat Secara tradisional, Mimosa pudica digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti: Cara Pengolahan Metode rebusan atau teh adalah salah satu cara paling umum untuk mengonsumsi daun putri malu secara internal. Pengolahan ini relatif mudah dan dapat dilakukan di rumah. Rebusan ini bertujuan untuk mengekstrak senyawa aktif yang terkandung dalam daun. DAFTAR PUSTAKAJournal of Pharmacognosy and Phytochemistry (2018). Phytochemical and pharmacological review of Mimosa pudica L. Rahmawati, D., & Sari, P. (2020). Potensi ekstrak daun Mimosa pudica sebagai antibakteri alami. Jurnal Biologi Tropis, 20(2), 115–123. Kumar, V., Singh, R., & Sharma, A. (2020). Phytochemical and pharmacological properties of Mimosa pudica: A review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 61(1), 45–52. Putra, I. G. N. A., & Dewi, N. L. P. (2020). Uji aktivitas antiinflamasi tanaman putri malu (Mimosa pudica L.). Jurnal Farmasi Udayana, 9(1), 30–36. Hasanah, U., & Lestari, T. (2020). Pemanfaatan tanaman putri malu sebagai obat tradisional di masyarakat. Jurnal Kesehatan Herbal Indonesia, 5(2), 78–85.Patil, S., & Patil, R. (2020). Evaluation of antioxidant activity of Mimosa pudica leaves. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 13(4), 120–124.

Putri Malu (Mimosa Pudica L) Read More »

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata)

Nama Ilmiah Kalanchoe pinnata Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : MagnoliophytaKelas : MagnoliopsidaOrdo : SaxifragalesFamili : CrassulaceaeGenus : KalanchoeSeksi : BryophyllumSpesies : Kalanchoe pinnata (Sumber: USDA Plants Database; Plants of the World Online) Definisi Umum Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L). Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) merupakan tanaman dengan ciri-ciri daunnya yang tebal dan berair (Amiyati, 2015). Daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, peluruh dahak, radang dan luka bakar (Purwitasari, 2017).  Uji fitokimia daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) positif mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid, tanin, saponin, dan steroid (Almeida, 2006). Menurut Yantih, (2011), Isolasi dan karakterisasi senyawa ekstrak etanol daun cocor bebek, hasil FTIR menunjukkan senyawa flavonoid, tanin, dan saponin memiliki intensitas yang kuat di daerah 3550cm⁻¹-3200cm⁻¹. Kandungan senyawa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) diduga memiliki kemiripan yang sama dengan ekstrak rimpang kencur yang memiliki aktivitas antiinflamasi dengan persen inhibisi sebesar 51,27%.  Senyawa flavonoid diduga berperan penting pada aktivitas antiinflamasi dengan cara menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat (Hasanah, 2011). Daun cocor bebek merupakan spesies Crassulaceae yang kaya akan senyawa fenolik yaitu kuersetin dan merupakan flavonoid utama daun cocor bebek sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi (Costa, 2008).  Kandungan Daun cocor bebek mengandung senyawa flavonoid, senyawa tanin dan senyawa saponin. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Kandungan flavonoid ini bersifat polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil ataupun mengikat gula, oleh karena itu flavonoid umumnya larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, dan butanol. Flavonoid dapat digunakan sebagai antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel terhadap efek kerusakan oleh oksigen reaktif. Flavonoid juga dapat mempengaruhi kenaikan jumlah trombosit dan memiliki bioaktivitas sebagai anti kanker, antivirus, anti bakteri, anti peradangan dan anti alergi (Fitriyah, 2013). Flavonoid juga dapat mempengaruhi kecepatan proses inflamasi pada penyembuhan luka dan dapat melindungi luka dari radikal bebas, flavonoid telah disintesis oleh tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba sehingga tidak mengherankan jika senyawa flavonoid efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme. Tanin bersifat antiseptik pada permukaan luka bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan sebagai penangkal infeksi pada kulit, mukosa, dan infeksi pada luka (Elis, 2013). Tanin juga memiliki efek menangkal radikal bebas, oksigenasi, meningkatkan kontraksi luka, meningkatkan pembentukan pembuluh darah, dan jumlah fibroblas (Pratiwi, 2018). Saponin merupakan salah satu kelas senyawa glikosida, steroid, triterpenoid struktur dan spesifitas yang memiliki solusi koloid bentuk dalam air dan berbusa seperti sabun. Ada menggambarkan sekelompok senyawa kompleks dan molekul besar yang memiliki banyak manfaat. Saponin dapat ditemukan pada akar dan daun tanaman juga sebagai antimikroba seperti virus antibakteri dan antiviral, kehadiran saponin ditandai dengan keberadaan dari solusi koloid yang stabil fungsi sebagai pembersih dan mampu merangsang pembentukan kolagen, suatu protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka lebih baik (Putri, 2015).  Saponin dapat diklasifikasikan sebagai steroid, triterpenoid atau alkaloid tergantung pada sifat aglikon, dan bagian aglikon dari saponin disebut sebagai sapogenin yang umumnya oligosakarida. Steroid saponin hormon dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok dengan reseptor yang mengikat mereka glikortikoid, kortikoids, mineral, androgen, estrogen, prostagen, vitamin D, dan erathormon. Steroid dalam studi klinis modern telah mendukung peran mereka sebagai anti inflamasi dan analgesik agen (Pratiwi, 2018). Khasiat Secara tradisional, Kalanchoe pinnata digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti: Cara Pengolahan a. Untuk luka dan bisulDaun segar dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Gunakan 2–3 kali sehari. b. Untuk luka bakar ringanAmbil daun segar, haluskan, lalu oleskan langsung pada area luka. Lakukan secara rutin sampai kondisi membaik. c. Untuk batukRebus 2–3 lembar daun dalam 1 gelas air selama 10–15 menit. Saring dan minum 1–2 kali sehari. d. Untuk radang atau bengkakDaun ditumbuk dan digunakan sebagai kompres pada bagian tubuh yang meradang. e. Sebagai antiinflamasi internalEkstrak daun dapat dikonsumsi dalam bentuk rebusan dengan dosis terbatas (konsultasi dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang). Daftar Pustaka Almeida, A. P. (2006). Phytochemical and pharmacological studies of Kalanchoe pinnata. Journal of Ethnopharmacology. Amiyati. (2015). Pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam pengobatan tradisional. Jakarta: Penebar Swadaya. Costa, S. S. (2008). Flavonoids and phenolic compounds of Kalanchoe pinnata. Phytochemistry Reviews. Elis, R. (2013). Peran tanin dalam penyembuhan luka. Jurnal Farmasi Indonesia. Fitriyah, N. (2013). Aktivitas antioksidan flavonoid pada tanaman obat. Jurnal Biologi. Hasanah, U. (2011). Mekanisme flavonoid sebagai antiinflamasi. Jurnal Kedokteran. Pratiwi, D. (2018). Efektivitas senyawa tanin dan saponin dalam penyembuhan luka. Jurnal Ilmu Farmasi. Purwitasari, E. (2017). Studi etnobotani tanaman obat di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press. Putri, A. (2015). Saponin sebagai agen penyembuhan luka. Jurnal Kimia Farmasi. Yantih. (2011). Isolasi dan karakterisasi senyawa aktif daun cocor bebek menggunakan FTIR. Skripsi.

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata) Read More »

Mimba (Azadirachta indica)

Nama Latin Azadirachta indica Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Sapindales   Familiki: Meliaceae Genus: Azadirachta Spesies: Azadirachta indica A. Juss (Uzzaman, 2020) Definisi Umum Mimba merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak manfaat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan pertanian. Hal ini dapat dilihat dari pemberian nama latin dari tanaman ini yang memiliki makna kebebasan dari segala penyakit (Lestari et al., 2025). Tanaman ini berasal dari wilayah India dan Myanmar yang keberadaanya telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu pada wilayah tersebut. Berbagai manfaat yang dapat diberikan oleh tanaman ini, membuat tanaman ini mulai tersebar di Indonesia pada tahun 1.500 dengan pulau Jawa sebagai daerah utama pembudidayaan tanaman ini.Mimba sama seperti tanaman lainnya, memerlukan kondisi lingkungan yang tepat untuk menunjang pertumbuhan. Kondisi lingkungan yang tepat dapat menunjang produktivitas tanaman, serta meningkatkan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam tanaman (Okyranida et al., 2024). Umumnya mimba dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 1-800 mdpl, lahan kering, curah hujan 450-750 mm/tahun, suhu 25-28°C, Ph 5,9-7, dan intensitas cahaya 100% (Wahyudiarto et al., 2023). Pohon mimba merupakan tanaman yang sebagian besar bagiannya dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan baik daun, batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya pohon mimba memiliki batang dengan tinggi mencapai 2-5 meter dengan tekstur yang kasar, berkayu, dan kulitnya tebal. Akar dari pohon ini berjenis akar tunggang, berbentuk silindris, dan berwarna coklat. Pohon mimba juga memiliki bunga yang tersusun sepanjang ranting secara aksilar dan berwarna putih dengan benang sari berbentuk silindris, putik lonjong, dan kelopak bunga berwarna hijau. Buah mimba berbentuk bulat lonjong dengan ukuran maksimal 2 cm yang berwarna kuning hingga hijau apabila matang. Bagian terakhir pohon mimba adalah daun mimba yang berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi, daun lancip, pangkal daun runcing, dan susunan tulang daun menyirip serta lebar sekitar 2 cm (Javandira et al., 2025). Kandungan Mimba memiliki berbagai macam senyawa-senyawa penting yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, anti-inflamasi, dan antivirus. Menurut Utami et al., (2024) senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian-bagian tanaman mimba seperti batang, daun, maupun biji adalah sebagai berikut. a. Promeliasin b.      Limonoid c.       Gedunin d.      Vilasinin e.       C-Sekomeliasin f.       Flavonoid, g.      Sitosterol h.      Hiperosida i.        Nimbolida j.        Quercetin k.      Quercitrin Khasiat Senyawa-senyawa yang terkandung dalam mimba ini memberikan berbagai khasiat. Menurut Utami et al., (2024) beberapa khasiat tersebut adalah dapat memberikan kesehatan kulit, kesehatan mulut, melindungi ginjal, anti kanker, diabetes, antiparasit, antijamur, dan antibakteri. Cara Pengolahan Pengolahan daun mimba, umumnya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode sehingga menghasilkan berbagai macam produk akhir sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Salah satu pengolahan daun mimba yang dapat dengan mudah dilakukan adalah dengan mengolah daun mimba menjadi teh herbal. Berdasarkan Alfira et al., (2023) metode yang dapat dilakukan untuk menghasilkan the herbal ini adalah dengan cara mengambil daun mimba yang ada pada pucuk hingga daun ketiga pada setiap ranting, untuk kemudian disortasi. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah mengkukus daun mimba selama 90 detik dengan suhu 100°C, lalu didinginkan selama 5 menit dalam suhu ruang. Daun mimba yang telah dingin kemudian dioven dengan suhu pengeringan 50°C dalam waktu 4 jam. Daun mimba yang telah kering dapat dihancurkan dengan menggunakan blender dan diayak hingga mendapatkan bubuknya. Bubuk yang dihasilkan ini kemudian dapat diseduh dan dikonsumsi. Daftar Pustaka Alfira, K., Yusarini, N. L. A., & Puspawati, G. A. K. (2023). Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik The Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss). Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan, 12(2), 293-308. https://doi.org/10.24843/itepa.2023.v12.i02.p06. Javandira, C., Suryana, I. M., Dewi, N. L. K. A., & Sarno, P. J. (2025). Potensi Daun Mimba sebagai Rodentisida Nabati dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar. Universitas Mahasaraswati Denpasar. https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/pilar/article/view/11276 Lestari, N. W., Safutri, W., & Safitri, O. S. (2025). Narrative Riview: Potensi Terapeutik dan Fitokimia Daun Mimba (Azadirachta indica) dalam Pengobatan Tradisional. Jurnal Farmasi, 4(1), 51-58. DOI: https://orcid.org/0009-0002-1284-924X Okyranida, I. Y., Widia, C., Rayhan, A. S., Salsabila, D., & Seramaidra, C. I. (2024). Intensitas Cahaya dan Suhu Lingkungan terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Nutrisi Microgreen. Prosiding Seminar Nasional Sains 2024. Universitas Indraprasta PGRI. https://proceeding.unindra.ac.id/index.php/sinasis/article/view/7932 Utami, Y. P., Imrawati, Jariah, A., Mustarin, R., Bone, M., & Bachri, N. (2024). Penetapan Sifat Fisikokimia Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadiractha indica A. Juss) : Penelitian Eksperimen Berskala Laboratorium. Health Information : Jurnal Penelitian, 16(3), 355-365. https://doi.org/10.36990/hijp.v16i3.1298 Wahyudiarto, A. D., Yuniastuti, T., & Joegijantoro, R. (2023). Efektivitas Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica juss) Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca domestica) di Lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Koesnadi Bondowoso. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2988-2995. https://doi.org/10.31004/jkt.v4i3.16511

Mimba (Azadirachta indica) Read More »

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum)

Nama Latin (Graptophyllum pictum) Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo         : Scorpulariales Famili          : Acanthaceae Genus          : Graptophylum Spesies        : Graptophyllum pictum (L.) Griff  (Griff et al., 2021)  Definisi Umum Graptophyllum pictum yang juga dikenal sebagai ‘Daun Ungu’, ‘handeuleum’, dan ‘tulak’ di Indonesia merupakan tumbuhan asal Papua Nugini yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae (Goswami et al., 2021). Daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 1,5-3 m dan tidak berambut. Terdapat lendir pada kulit dan daunnya. Daunnya tunggal, bertangkai pendek dan terletak berhadapan bersilangan. Panjang daun kira-kira 8-20 cm dengan lebar 3-13 cm, bentuk bulat telur hingga lanset dengan tepi bergelombang dan ujung pangkal runcing. Nama lokal dari Graptophyllum pictum yaitu pudding hitam, daun wungu (Wibowo et al., 2021). Kandungan Daun ungu ini terdapat kandungan fenolik dalam daun ungu seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid (Dewi et al., 2023) Khasiat Tanaman daun ungu memiliki berbagai aktivitas farmakologi diantaranya yaitu antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, analgesik, photoprotective, imunomodulator, nefroprotektif, antihemoroid, dan antibakteri (Griff et al., 2021). Daun ungu dimanfaatkan sebagai obat diuretik (batang atau daunnya), bunganya untuk melancarkan haid, dan daunnya digunakan dalam pengobatan antiinflamasi, pengobatan sembelit, ambeien, antireumatik, pengobatan bisul, dan berperan sebagai pencahar ringan. Penyembuhan dilakukan dengan meminum rebusan daun ungu sekali dalam sehari dan dilakukan setiap pagi secara rutin (Dewi et al., 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahan daun ungu yang paling umum didokumentasikan dalam literatur pengobatan tradisional adalah melalui metode perebusan atau dekokta (Sartika & Indradi, 2021). Untuk penggunaan internal, daun segar direbus dengan air hingga volumenya menyusut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang larut air (Meilani et al., 2023). Sedangkan untuk penggunaan eksternal seperti mengobati bisul, daun ungu dapat diolah dengan cara ditumbuk halus dan ditempelkan langsung pada area yang sakit sebagai tapal (Safitri, 2021). Daftar Isi Dewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Edukasi Pembuatan Seduhan Daun Ungu untuk Atasi Wasir Di Desa Maku Kecamatan Dolo, KabupatenSigi,SulawesiTengah.2(2),16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770 Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative literature review on Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8 (9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10 Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Daun Ungu Plants Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531 Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization Of Ethanol Extract Of Wungu Leaf (Graptophyllum Pictum (L) Griff) Growing In The Pamah Deli Old Area As An Anti-Inflammatory. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1 (2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260 Safitri, S. (2021). Pengaruh Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus aureus). Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 8 (1), 25–33. https://doi.org/10.63763/ijsp.v1i2.20 Sartika, I., & Indradi, S. (2021). Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Indonesian Journal of Biological Pharmacy, 1 (2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531.g16953 Wibowo, D., Ismayadi, P., & Wati, D. (2021). Tanaman Obat Desa Air Selimang, kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahyang,Bengukulu, Indonesia. Bengkulu:Deepublish.https://pustaka.uniraya.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4230 Purple Leaf (Graptophyllum pictum) Latin name(Graptophyllum pictum)TaxonomyKingdom : PlantaeDivision : MagnoliophytaClass : MagnoliopsidaOrder : ScorpularialesFamily : AcanthaceaeGenus : GraptophylumSpecies : Graptophyllum pictum (L.) Griff (Griff et al., 2021) General DefinitionGraptophyllum pictum, also known as ‘Purple Leaf’, ‘handeuleum’, and ‘tulak’ in Indonesia, is a plant native to Papua New Guinea and belongs to the Acanthaceae family (Goswami et al., 2021). Purple Leaf (Graptophyllum pictum L. Griff) is a hairless, shrubby plant growing 1.5-3 m tall. It has a slime on its skin and leaves. The leaves are single, short-stemmed, and arranged oppositely. The leaves are approximately 8-20 cm long and 3-13 cm wide, ovate to lanceolate in shape with wavy edges and a pointed base. Local names for Graptophyllum pictum include black pudding and purple leaves (Wibowo et al., 2021). ContentPurple leaves contain phenolic compounds such as alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids (Dewi et al., 2023).BenefitsThe purple leaf plant has various pharmacological activities, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, analgesic, photoprotective, immunomodulatory, nephroprotective, antihemorrhoidal, and antibacterial properties (Griff et al., 2021). Purple leaves are used as a diuretic (either the stem or the leaves), the flowers are used to regulate menstruation, and the leaves are used as an anti-inflammatory, to treat constipation and hemorrhoids, as an antirheumatic, to treat boils, and as a mild laxative. Healing is achieved by drinking a decoction of purple leaves once daily, regularly every morning (Dewi et al., 2023). Processing MethodsThe most common method of processing purple leaves documented in traditional medicine literature is through boiling or decoction (Sartika & Indradi, 2021). For internal use, fresh leaves are boiled in water until their volume reduces to extract the water-soluble active compounds (Meilani et al., 2023). For external use, such as treating boils, purple leaves can be finely ground and applied directly to the affected area as a poultice (Safitri, 2021). Table of ContentsDewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Education on Making Purple Leaf Infusion to Treat Hemorrhoids in Maku Village, Dolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi. 2(2), 16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative Literature Review on the Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8(9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Purple Leaf Plants. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization of Ethanol Extract of Purple Leaf (Graptophyllum Pictum (L.) Griff) Growing in the Pamah Deli Old Area as an Anti-Inflammatory Agent. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1(2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260Safitri, S. (2021). The Effect of Purple Leaf Extract (Graptophyllum pictum L.) on the

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum) Read More »

DAUN DEWA (Gynura divaricata)

Nama Latin (Gynura divaricata) Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Sub-divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledoneae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Gynura Spesies: Gynura procumbes (Lour.) Merr atauG. Sarmentosa BL. (IPNI, 2024) Definisi Umum  Tanaman daun dewa (Gynura divaricate) merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Indonesia, tanaman daun dewa juga sering disebut sebagai tanaman tapak dewa yang tergolong dalam famili Asteraceae. Daun dewa dikenal karena memiliki banyak khasiat karena mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder (Aprilliani et al., 2021). Kandungan senyawa metabolit sekundernya inilah yang membuat daun dewa seringkali dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat produk maupun obat herbal yang dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti kanker, demam, hipertensi, diabetes, dan penyakit kulit. Selain itu, daun dewa juga biasanya digunakan dalam mengatasi ruam pada wajah dan pengobatan penyakit ginjal (Meisinca et al., 2024).  Kandungan      Berdasarkan dari penelitian  yang telah dilakukan oleh Gultom & Siagian (2021) dan Apriliani et al. (2021), daun dewa diketahui memiliki kandungan berupa fitokimia seperti terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polisakarida, asam fenolik, steroid, dan minyak atsiri. Khasiat      Menurut Commas et al. (2021) dan Meisinca et al. (2024), daun dewa sering dimanfaatkan sebagai obat herbal karena memiliki khasiat yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit seperti kanker, demam, hipertensi, diabetes, penyakit kulit, penyakit ginjal, dan ruam pada wajah. Cara Pengolahan Proses pengolahan daun dewa sebagai obat herbal sangat bervariasi, meliputi metode yang diterapkan secara sederhana hingga skala industri. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari website Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul (2024), rangkaian pengolahan daun dewa secara sederhana untuk menghilangkan panas, menurunkan gula darah, dan membersihkan racun dalam tubuh adalah sebagai berikut:      Disisi lain, proses pengolahan daun dewa di skala industri memiliki rangkaian pengolahan yang lebih kompleks. Pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa aktif pada daun dewa dengan kadar yang lebih tinggi. Berdasarkan dari penelitian Rosa et al. (2022), proses ekstraksi daun dewa melalui metode maserasi menjadi metode yang mampu memperoleh kadar senyawa fenolat paling tinggi dibandingkan dengan metode blender maupun metode shaker. Rangkaian pengolahan daun dewa melalui metode maserasi menurut Rosa et al. (2022) adalah sebagai berikut: Daftar Pustaka AR PUSTAKA Apriliani, A., Fhatonah, N., & Ashari, N. (2021). Uji Efektivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol 70% Daun Dewa. Jurnal Farmagazine, 8(2), 52–58. Commas, D. R., Munir, M., & Yadi. (2021). Uji Aktivitas Antifungal Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura Pseudochina (Lour.) DC.) Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans dengan Metode Kirby Bauer. Mulawarman Dental Journal, 1(2), 67–75. Gultom, R. P. J., & Siagian, H. S. (2021). Uji Aktivitas Analgetik Fraksi Aktif Ekstrak Metanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.) Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus). Jurnal Farmasi Higea, 13(2), 92. Meisinca, D. N., Riga, R., Silvani, M. A., Oktria, W., Nasra, E., Kurniawati, D., Dewita, F. O., Doni, D. D. R., & Khairiyah, G. (2024). Analisis Aktivitas Antioksidan Jamur Endofitik DDP yang Berkolonisasi dengan Daun Dewa (Gynura Segetum) Dengan Metode DPPH (2,2-Defenil-1-Pikrilhirazil). Jurnal Farmamedika, 9(2), 150-157. Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul. (2024). Tanaman Daun Dewa. Diambil dari https://desagrogol.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/2306-Tanaman-Daun-Dewa Rosa, R., Widya, N., Novrita, S., & Elvina R. (2022). Effecr of Extraction Modification on Total Phenolic Compound Level in Dewa Leaf. Indonesian Journal of Pharmaceutical Research, 1(1), 1-5. DAUN DEWA (Gynura divaricata) Latin Name(Gynura divaricata)TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaSubdivision: AngiospermaeClass: DicotyledoneaeOrder: AsteralesFamily: AsteraceaeGenus: GynuraSpecies: Gynura procumbes (Lour.) Merr or G. Sarmentosa BL.(IPNI, 2024) General DefinitionThe Gynura divaricate plant (Gynura divaricata) is a type of herbal plant native to Indonesia, Malaysia, and Thailand. In Indonesia, the Gynura divaricate plant is also often referred to as the tapak dewa plant, which belongs to the Asteraceae family. Gynura divaricata is known for its numerous benefits due to its content of various secondary metabolite compounds (Aprilliani et al., 2021). These secondary metabolite compounds make Gynura divaricate often used as a base ingredient in medicinal products and herbal remedies to treat various health problems such as cancer, fever, hypertension, diabetes, and skin diseases. Gynura divaricata is also commonly used to treat facial rashes and kidney disease (Meisinca et al., 2024). ContentBased on research conducted by Gultom & Siagian (2021) and Apriliani et al. (2021), the god leaf is known to contain phytochemicals such as terpenoids, flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, polysaccharides, phenolic acids, steroids, and essential oils.BenefitsAccording to Commas et al. (2021) and Meisinca et al. (2024), the god leaf is often used as a herbal remedy because it has properties that can treat various diseases such as cancer, fever, hypertension, diabetes, skin diseases, kidney disease, and facial rashes. Processing MethodThe process of processing gynura leaves as herbal medicine varies widely, ranging from simple methods to industrial-scale methods. Based on information obtained from the Gunungkidul Regency Government website (2024), a simple process for processing gynura leaves to reduce fever, lower blood sugar, and cleanse toxins from the body is as follows:1. Prepare 10-15 grams of gynura leaves.2. Wash the gynura leaves thoroughly under running water until clean.3. Boil the gynura leaves with 3 (three) glasses of water.4. Let it boil until the water is reduced by half.5. Strain the boiled gynura leaves.6. The boiled gynura leaves are now ready to drink. On the other hand, the industrial-scale processing of ginkgo biloba leaves involves a more complex sequence. This process aims to obtain higher levels of active compounds in ginkgo biloba leaves. Based on research by Rosa et al. (2022), the maceration method of extracting ginkgo biloba leaves yields the highest levels of phenolic compounds compared to the blender or shaker method. According to Rosa et al., the maceration process for ginkgo biloba leaves is as follows: (2022) is as follows: 1. Prepare sufficient gynura leaves.2. Wash the gynura leaves thoroughly under running water until clean.3. Air-dry the gynura leaves until they reach a constant weight.4. Crush the dried gynura leaves using a grinder.5. Weigh 5 grams of the ground gynura leaves.6. Soak the gynura leaves in 50 mL of 70% ethanol for 6 hours in a dark maceration container, stirring occasionally.7. The macerate is separated, and the process is repeated until the final extract is phenolic-negative using the same type and amount of solvent.8. Collect the previously separated macerate.9. Evaporate the macerate using a

DAUN DEWA (Gynura divaricata) Read More »

Daun Sendok (Plantago major L.)

Nama Latin (Plantago major L) Taksonomi Kingdom     : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisio : Spermatophyta Divisio        : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Subkelas      : Asteridae Ordo            : Lamiales Famili         : Plantaginaceae Genus          : Plantago Spesies        : Plantago major L. (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1999) Definisi Umum Plantago major L. atau sering disebut dengan daun sendok merupakan tanaman yang tergolong tanaman perdu gulman didaerah perkebunan atau tumbuhan liar yang terdapat di lading dan halaman berumput yang agak lembab, ditanam di pot juga sebagai tanaman obat. Daun sendok berasal dari dataran rendah hingga ketinggian antara 3.300mdpl. Tinggi dari tanaman ini bervariasi antara 30-200 cm, bentuk batangnya bulat dan silinder, juga permukaan batang yang agak licin dengan arah tumbuh batang tegak lurus ke atas, batang tergolong batang rumput yang tidak keras dan bergetah putih (Indriani et al., 2023). Daun yang berbentuk oval yang saling berimpitan, memiliki Panjang daun antara 5-20 cm dan lebar daun antara 4-9 cm, terdapat 5-9 jari-jari daun yang terlihat jelas, daunnya memiliki ujung yang lancip. Termasuk daun yang tunggal, susunan roset akar bertangkai, bentuk bulat telur terbalik sampai lanset melebar atau sudip, helaian tepinya yang bergerigi kasar atau tidak beraturan, memiliki permukaan yang licin dan tegak berambut. Tanaman ini memiliki biji yang berukuran sangat kecil berbentuk bulat telur juga memiliki rasa pahit, tanaman yang berbunga yang berdiri dan memangjang dengan ukuran kurang lebih 5-15 cm diatas batang (Irawan & Cahyanto, 2024). Kandungan Kandungan flavonoid, alkaloid, tannin, asam fenolik, iridoid glikosida serta polisakarida yang ada dalam daun sendok tersebut berperan sebagai antioksidan alami, antiinflamasi, dan pelindung sel, sehingga mendukung berbagai aktivitas farmakologis daun sendok (Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto 2023). Khasiat Daun sendok memiliki khasiat untuk menjaga Kesehatan yakni untuk antiinflamasi yang membantu meredakan peradangan pada sendi yang mengalami asam urat. Kandungan antidiuretic yang meningkatkan produksi urin sehingga membantu mengeluarkan asam urat melalui urin. Kandungan antioksidan yang juga dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan Cara Pengolahan a. Persiapan bahan (daun sendok) 1) Pilih daun yang sehat dan bersih (bebas kotoran) 2) Cuci dengan air mengalir untuk menghilangkan debu/kotoran 3) Keringkan daun di oven pada suhu rendah (40-500 C) 4) Blender atau haluskan daun kering menjadi simplisia dengan proses maserasi b. Proses maserasi 1) Serbuk daun direndam dalam rtanol 96% selama kurang lebih 3 hari 2) Campuran disaring untuk memisahkan larutan ekstrak dari sisa simplisia 3) Ekstrak di- evaporasi hingga menjadi ekstrak kental c. Proses pembuatan sirup dari ekstrak daun sendok sebagai ekspektoran 1) Cuci bersih daun sendok dari kotoran atau debu 2) Iris kecil-kecil daun sendok yang segar 3) Rebus air sekitar 250-300 ml hingga mendidih 4) Masukkan daun sendok ke air yang mendidih 5) Rebus sekitar 5-10 menit (untuk membantu ekstraksi senyawa aktif) 6) Matikan api kompor, tunggi 5 menit agar terserap 7) Saring ke dalam cangkir 8) Teh siap  diminum atau di hidangkan. Daftar Pustaka Angelin, V., & Sukadana, W. (2021). UTILIZATION AND PROCESSING OF PLANTAGO MAJOR HERBAL PLANTS INTO HERBAL TEA PRODUCTS IN PEDUNGAN AREAS. Jurnal Qardhul Hasan; Media Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(3), 143–149. Indriani, N. P., Mustafa, H. K., Susilawati, I., Mansyur, Khairuni, L., & Islami, R. (2023). Plantago di padang penggembalaan sebagai pakan dan penghasil metabolit sekunder. JNTTIP Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Dan Ilmu Pakan, 5(2), 74–81. Irawan, F. R., & Cahyanto, T. (2024). Pemanfaatan Daun Sendok ( Plantago Major L .) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA Nusantara : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://e-journal.nalanda.ac.id/index.php/usd/article/view/636/598 Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto. (2023). Pemanfaatan Daun Sendok (Plantago Major L.) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA NUSANTARA : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://doi.org/10.47861/usd.v2i1.636 Spoon Leaf (Plantago major L.) Latin Name (Plantago major L) Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Plantaginaceae Genus: Plantago Species: Plantago major L. (Syamsuhidayat and Hutapea, 1999) General Definition Plantago major L., often called broadleaf plantain, is a plant classified as a shrubby herb found in plantations or a wild plant that can be found in fields and grassy yards that are somewhat moist, and it can also be grown in pots as a medicinal plant. Broadleaf plantain originates from lowlands up to an altitude of 3,300 meters above sea level. The height of this plant varies between 30-200 cm, with stems that are round and cylindrical, also having a somewhat smooth surface with upright growth, and the stem is classified as a grass-like stem that is not hard and contains white sap (Indriani et al., 2023). The leaves are oval-shaped and closely overlapping, with a length ranging from 5-20 cm and a width between 4-9 cm, with 5-9 clearly visible leaf veins, and the leaves have pointed tips. Includes single leaves, a rosette arrangement of stalked roots, shapes ranging from inverted egg-shaped to broad lanceolate or spatula-shaped, with leaf margins that are coarsely or irregularly toothed, having a smooth and erect hairy surface. This plant has very small seeds that are egg-shaped and also have a bitter taste, and flowering plants that stand upright and elongate, with a size of approximately 5-15 cm above the stem (Irawan & Cahyanto, 2024). Content The content of flavonoids, alkaloids, tannins, phenolic acids, iridoid glycosides, and polysaccharides in the spoon leaf acts as natural antioxidants, anti-inflammatory agents, and cell protectors, thereby supporting various pharmacological activities of the spoon leaf (Fadhila Rahma Irawan & Tri Cahyanto 2023). Benefits The spoon leaf has benefits for maintaining health, including anti-inflammatory properties that help relieve inflammation in joints affected by uric acid. Its antidiuretic content increases urine production, thereby helping to expel uric acid through urine. Its antioxidant content can also protect body cells from damage. Processing Method a. Preparation of ingredients (spoon leaves) 1) Choose healthy and clean leaves (free from dirt) 2) Wash under running water to remove dust/dirt 3) Dry the leaves in an oven at

Daun Sendok (Plantago major L.) Read More »

Delima (Punica granatum L.)

Nama Latin (Punica granatum L.) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi      : Magnoliophyta Class       : Magnoliophyta Sub class : Rosidae Ordo        : Myrtales Family     : Lythraceae Genus      : Punica Spesies    : Punica granatum L. (Firdiana, E. R. (2021) Definisi Umum Delima (Punica granatum L.), sejak zaman kuno, telah menjadi tanaman yang dimanfaatkan oleh umat manusia; itu milik keluarga Punicaceae yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Namanya berasal dari bahasa Latin Malum granatum , yang berarti “apel granular” ( El Barnossi et al., 2021 ). Pohon itu memiliki batang yang bengkok dan berduri, daun hijau memanjang dengan permukaan halus dan kelopak berwarna oranye atau merah tua. Itu beradaptasi dengan sangat baik terhadap kondisi iklim yang bervariasi; buahnya berbentuk bulat dengan diameter 6-12 cm. Warna kulit delima bervariasi dari kuning, hijau, dan merah muda, yang pada gilirannya dapat berubah menjadi merah pekat dan ungu tua ( Holland et al., 2009 ). Menurut Fawole & Opara (2013) , bagian yang dapat dimakan terdiri dari 50% dari total berat dan 50% sisanya sesuai dengan kulitnya. Bagian yang dapat dimakan terdiri dari sari buah (78% b/b) dan biji (22% b/b). Kandungan Pada buah delima terdapat kandungan elagitanin asam ellagic (termasuk punicalagin), asam punicic, flavonoid, antosianidin, antosianin, flavonol dan flavon estrogenik. (Faradisa & Fakhruddin, 2021). Khasiat Delima telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti pengobatan diare, disentri, wasir, parasit usus, sakit tenggorokan, diabetes, epistaksis, dan gatal-gatal vagina dan diyakini tonik untuk jantung. Selain itu, baru-baru ini telah digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit termasuk diabetes, penyakit Alzheimer, kanker, arthritis, infertilitas pria, obesitas, dan gangguan kardiovaskular (Eghbali et al. 2021). Cara Pengolahan kulit dari buah delima dapat di olah menjadi teh herbal dengan cara sebagai berikut : Daftar Pustaka Mansur, S. A. (2022). Kandungan buah delima (Punica granatum L.) dalam Al-Qur’an dan implikasi ilmiah. Repository UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (https://repository.uin-malang.ac.id/14808/1/14808.pdf)  Resti, P. V., Utami, S., & Arsyad, M. (2020). Antioxidant Activity Potential of Red Pomegranate (Punica granatum L.) Peel as Herbal Tea. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 20(2), (https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/9788)  Valero-Mendoza, A. G., Meléndez-Rentería, N. P., Chávez-González, M. L., Flores-Gallegos, A. C., Wong-Paz, J. E., Govea-Salas, M., Zugasti-Cruz, A., & Ascacio-Valdés, J. A. (2023). The whole pomegranate (Punica granatum L.), biological properties and important findings: A review. Food Chemistry Advances, 2, 100153. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772753X22001411)  Pomegranate (Punica granatum L.) Latin Name (Punica granatum L.) Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Magnoliophyta Class : Magnoliophyta Subclass : Rosidae Order : Myrtales Family : Lythraceae Genus : Punica Species : Punica granatum L. (Firdiana, E. R. (2021)) General Definition Pomegranate (Punica granatum L.), since ancient times, has been a plant utilized by humans; it belongs to the Punicaceae family that grows in tropical and subtropical regions. Its name comes from the Latin Malum granatum, which means “granular apple” (El Barnossi et al., 2021). The tree has a crooked and thorny stem, elongated green leaves with a smooth surface, and orange or dark red petals. It adapts very well to varying climatic conditions; the fruit is round with a diameter of 6-12 cm. The pomegranate skin color ranges from yellow, green, and pink, which in turn can change to deep red and dark purple (Holland et al., 2009). According to Fawole & Opara (2013), the edible part makes up 50% of the total weight and the remaining 50% corresponds to the skin. The edible part consists of the juice (78% w/w) and seeds (22% w/w). Content Pomegranate contains ellagitannin, ellagic acid (including punicalagin), punicic acid, flavonoids, anthocyanidins, anthocyanins, flavonols, and estrogenic flavones. (Faradisa & Fakhruddin, 2021). Benefits Pomegranate has been widely used in traditional medicine for treating diarrhea, dysentery, hemorrhoids, intestinal parasites, sore throat, diabetes, epistaxis, and vaginal itching, and is believed to be a tonic for the heart. In addition, it has recently been used in the treatment of various diseases including diabetes, Alzheimer’s disease, cancer, arthritis, male infertility, obesity, and cardiovascular disorders (Eghbali et al. 2021). Processing Method The skin of the pomegranate fruit can be processed into herbal tea as follows: 2. Then cut into small pieces 3. Ground using a blender to obtain red pomegranate skin powder 4. Some of the obtained red pomegranate skin powder is brewed with boiling water at 100° C. References Mansur, S. A. (2022). Nutritional content of pomegranate fruit (Punica granatum L.) in the Qur’an and its scientific implications. Repository UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (https://repository.uin-malang.ac.id/14808/1/14808.pdf) Resti, P. V., Utami, S., & Arsyad, M. (2020). Antioxidant Activity Potential of Red Pomegranate (Punica granatum L.) Peel as Herbal Tea. Mutiara Medika: Journal of Medicine and Health, 20(2), (https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/9788) Valero-Mendoza, A. G., Meléndez-Rentería, N. P., Chávez-González, M. L., Flores-Gallegos, A. C., Wong-Paz, J. E., Govea-Salas, M., Zugasti-Cruz, A., & Ascacio-Valdés, J. A. (2023). The whole pomegranate (Punica granatum L.), biological properties and important findings: A review. Food Chemistry Advances, 2, 100153. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772753X22001411)

Delima (Punica granatum L.) Read More »

Ciplukan (Physalis angulata L.)

Nama Latin Physalis angulata L. Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophyta Sub devisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonnae Ordo: Solanes Famili: Solanaceae Genus: Physialis Spesies: Physalis angulata L. (Haiyul Fadhli dkk.,2023) Definisi Umum Ciplukan (Physalis angulata L.) adalah tumbuhan liar berupa herba/perdu yang tumbuh tahunan dengan tinggi 0,1–1 m, memiliki batang berongga, percabangan menggarpu, dan daun tunggal berbentuk bulat telur hingga memanjang. Buahnya bulat berwarna hijau saat muda lalu menjadi kuning saat matang dan terbungkus kelopak (Sarumaha dkk., 2023). Tanaman ini dapat tumbuh 0,5–1,8 m, memiliki biji sangat banyak, dan seluruh bagiannya (akar, batang, daun, buah) digunakan dalam pengobatan tradisional (Istiqomah, 2024). Kandungan Skrining fitokimia berbagai bagian tanaman ciplukan menunjukkan adanya Flavonoid, Fenolik, Tanin, Saponin, Steroid/Terpenoid, Physalin (khususnya Physalin F) dan Withanolide. (Farida dkk., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025). Khasiat (Fadhli dkk., 2023; Farida dkk., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025) Cara Pengolahan Seluruh bagian tanaman, mulai dari akar, batang, daun, hingga buah, dapat dimanfaatkan. Metode pengolahan yang paling umum dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat penderita hipertensi adalah dalam bentuk air rebusan, yang diminum secara rutin 1-2 kali sehari, atau disajikan sebagai seduhan(Laia, 2022). Untuk mengatasi diare, bagian yang digunakan adalah daun, yang diolah menjadi air rebusan Sementara untuk mengatasi masalah kesehatan umum seperti demam, alergi, dan panas dalam, selain rebusan, buah ciplukan juga sering dikonsumsi dalam keadaan segar. Secara umum, ciplukan menunjukkan aktivitas farmakologi seperti antidiabetik, antioksidan, antikanker, antiinflamasi, dan antidiare (Fadhli dkk., 2023). Daftar Pustaka Fadhli, H., Ruska, S. L., Furi, M., Suhery, W. N., Susanti, E., & Nasution, M. R. (2023). Ciplukan (Physalis angulata L.): Review Tanaman  Liar yang Berpotensi Sebagai Tanaman Obat. JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X, 15(2), 134–141. https://doi.org/10.35617/jfionline.v15i2.144 Farida, M., Azhari, S., Darsa, D. D., & Mahmudi, M. (2025). Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L) Dikawasan Manifestasi Geothermal Seulawah Agam. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 571–580. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v8i1.826 Istiqomah, N. N. (2024). Karakterisasi Morfologi Ciplukan (Physalis angulata L.). Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru. https://repository.uin-suska.ac.id/84010/1/FILE%20LENGKAP%20KECUALI%20HASIL%20PENELTIAN%20(ABB%20UIV).pdf Laia, I. S. (2022). Pemanfaatan Ciplukan (Physalis angulata) Sebagai Tanaman Obat Hipertensi di Desa Mohili Kecamatan Amandraya Kabupaten Nias Slatam. 1(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/faguru/article/download/675/652 Sarumaha, M., Harefa, D., Bago, A. S., Fau, A., Priatin, W., Duha, T. L., Zirahu, M., & Lase, H. W. (2023). Sosialisasi Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata L.) Sebagai Obat Tradisional. 2(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/HAGA Sih Prabandari, A., & Novita Sari, A. (2025). Fraksi kaya antioksidan ciplukan (physalis angulata) sebagai kandidat terapi komplementer diabetes melitus tipe 2: Literature Review. Avicenna : Journal of Health Research, 8(2), 109. http://dx.doi.org/10.36419/avicenna.v8i2.1607 Ciplukan (Physalis angulata L.) Latin Name Physalis angulata L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Spermatophyta Subdivision: Angiospermae Class: Dicotyledonnae Order: Solanales Family: Solanaceae Genus: Physalis Species: Physalis angulata L. (Haiyul Fadhli et al., 2023) General Definition Ciplukan (Physalis angulata L.) is a wild plant in the form of an herb/shrub that grows annually with a height of 0.1–1 m, has a hollow stem, forked branching, and simple leaves shaped from oval to elongated. Its fruit is round, green when young, then turns yellow when ripe and is covered by a calyx (Sarumaha et al., 2023). This plant can grow 0.5–1.8 m, has a very large number of seeds, and all parts (roots, stems, leaves, fruit) are used in traditional medicine (Istiqomah, 2024). Contents Phytochemical screening of various parts of the ciplukan plant shows the presence of Flavonoids, Phenolics, Tannins, Saponins, Steroids/Terpenoids, Physalin (especially Physalin F), and Withanolides. (Farida et al., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025). Benefits Reduces Internal Heat Antidiabetic High Antioxidant Anti-inflammatory and Antibacterial Treats Digestive Disorders Potential Anticancer (Fadhli et al., 2023; Farida et al., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025) Processing Method All parts of the plant, from roots, stems, leaves, to fruits, can be utilized. The most common and widely consumed method by people with hypertension is in the form of boiled water, which is drunk routinely 1-2 times a day, or served as an infusion (Laia, 2022). To treat diarrhea, the part used is the leaves, which are processed into boiled water. Meanwhile, to address common health issues such as fever, allergies, and internal heat, besides boiling, the ciplukan fruit is also often consumed fresh. In general, ciplukan exhibits pharmacological activities such as antidiabetic, antioxidant, anticancer, anti-inflammatory, and antidiarrheal (Fadhli et al., 2023). References Fadhli, H., Ruska, S. L., Furi, M., Suhery, W. N., Susanti, E., & Nasution, M. R. (2023). Ciplukan (Physalis angulata L.): Review of a Wild Plant with Potential as a Medicinal Plant. JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X, 15(2), 134–141. https://doi.org/10.35617/jfionline.v15i2.144 Farida, M., Azhari, S., Darsa, D. D., & Mahmudi, M. (2025). Phytochemical Screening and Antioxidant Activity Test of Ethanol Extract of Ciplukan Leaves (Physalis angulata L) in the Seulawah Agam Geothermal Manifestation Area. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 571–580. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v8i1.826 Istiqomah, N. N. (2024). Morphological Characterization of Ciplukan (Physalis angulata L.). Agrotechnology Study Program, Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, Sultan Syarif Kasim State Islamic University of Riau Pekanbaru. https://repository.uin-suska.ac.id/84010/1/FILE%20LENGKAP%20KECUALI%20HASIL%20PENELTIAN%20(ABB%20UIV).pdf Laia, I. S. (2022). Utilization of Ciplukan (Physalis angulata) as a Hypertension Medicinal Plant in Mohili Village, Amandraya District, South Nias Regency. 1(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/faguru/article/download/675/652 Sarumaha, M., Harefa, D., Bago, A. S., Fau, A., Priatin, W., Duha, T. L., Zirahu, M., & Lase, H. W. (2023). Socialization of Ciplukan Plants (Physalis angulata L.) as Traditional Medicine. 2(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/HAGA Sih Prabandari, A., & Novita Sari, A. (2025). Antioxidant-rich fraction of ciplukan (Physalis angulata) as a complementary therapy candidate for type 2 diabetes mellitus: Literature Review. Avicenna: Journal of Health Research, 8(2), 109. http://dx.doi.org/10.36419/avicenna.v8i2.1607

Ciplukan (Physalis angulata L.) Read More »

Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia)

Nama Latin Citrus aurantiifolia Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rutales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Species : Citrus aurantiifolia (Pertiwi et al., 2025) Definisi Umum Jeruk nipis (Citrus aurantiifolia) merupakan tanaman perdu yang memiliki percabangan yang relatif rapat. Batangnya berkayu dengan warna coklat hingga coklat kehijauan, permukaannya dapat halus hingga agak kasar, serta terdapat duri yang intensitasnya bervariasi antar lokasi tumbuh (Pertiwi et al., 2025). Daun jeruk nipis merupakan tipe daun tungga dengan warna hijau tua, permukaan licin dan mengkilap, serta berbentuk elips hingga lonjong. Tipe tulang daun menyirip dengan struktur yang jelas dengan ujung daun meruncing (Adlini, 2021). Buah jeruk nipis berukuran relatif kecil dibandingkan dengan jeruk lainnya, berbentuk bulat dengan diameter berkisar antara 4 – 5 cm. Memiliki kulit buah yang tipis, dengan permukaan yang halus, dan memiliki daging buah berwarna hijau kekuningan yang memiliki rasa asam yang kuat (Saputra et al., 2024). Kandungan Jeruk nipis memiliki senyawa aktif antara lain limonene, linalil, lonalol, terpen, terpinol, sorbitol, saponin, dan flavonoid. Sari buah jeruk nipis mengandung minyak atsiri limonene dan asam sitrat 7%. buah jeruk nipis memiliki kandungan metabolit sekunder flavonoid dalam jumlah yang banyak baik dalam bentuk C atau O-glikosida. Tanaman jeruk nipis merupakan salah satu tanaman yang memiliki efek terapeutik untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Konsentrasi ekstrak 25% jeruk nipis mampu menghambat pertumbuhan bakteri E (Mustam et al., 2020). Khasiat Buah jeruk dapat dimanfaatkkan sebagau herbal alami yang dapat mengobati berbagai macam penyakit. Manfaat buah jeruk nipis yaitu dapat meredakan batuk, peluruh dahak (mukolitik), peluruh kencing (diureti) dan keringat, meredakan demam, serta membantu proses pencernaan (Lestari, 2016).  Cara Pengolahan Cara Pengolahan buah jeruk sebagai obat herbal dapat diolah bersama dengan tanaman obat lainnya dengan cara tradisional yang mudah untuk dibuat dan dipraktikkan, antara lain sebagai berikut: 1.     Buah jeruk nipis dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk dengan berbagai cara mencampurkan perasan jeruk nipis dengan kecap dan garam lalu diminum langsung sebanyak satu sendok makan (Lestari, 2016). 2.     Pemanfaatan buah jeruk nipis untuk demam dapat dicampurkan dengan dua hingga empat siung bawang merah yang telah dihaluskan, kemudian ditambahkan setengah sendok minyak kayu putih dan setengah sendok minyak kelapa dan perasan jeruk nipis (Lestari, 2016). 3. Perasan jeruk nipis yang dikombinasikan dengan madu dan air rebusan jahe dapat digunakan sebagai tonik penambah tenaga (Kambira et al., 2024) Daftar Pustaka Adlini, m. N. (2021). Karakterisasi tanaman jeruk (Citrus sp.) Di kecamatan Nibung Hangus Kabupaten Batu Bara Sumatera Utara. Jurnal klorofil, 4(1). Https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30821/kfl:jibt.v4i1.8921 Kambira, P. F., Tatsbita, M., Margaretha, L., Angeline, L., Aurelia, C., & Panjaitan, S. L. (2024). Jeruk nipis sebagai tanaman obat keluarga (toga) untuk swamedikasi dan peningkatan kesejahteraan di Desa Wates Jaya. Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 2(2), 114–122. Https://doi.org/https://doi.org/10.25170/mitramas.v2i2.5594 Lestari, P. (2016). Studi tanaman khas sumatera utara yang berkhasiat obat. Jurnal farmanesia, 1(1), 11–21. Mustam, M., Azis, H. A., & Alam, R. (2020). Aktivitas antibakteri disinfektan ekstrak daun sirih dan jeruk nipis terhadap bakteri Staphylococcus . A dan E . Coli hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan yang ada melalui cuci. Jurnal tecnoscienza, 6(2), 220–226. Https://doi.org/10.51158/tecnoscienza.v6i2.624 Pertiwi, E. D., Arsyad, M., & Purniawan, I. M. (2025). Karakterisasi tanaman jeruk (Citrus sp.) Di Kecamatan Taluditi Kabupaten Pohuwato. Jurnal pertanian berkelanjutan, 13(2), 131–141. Https://doi.org/https://doi.org/10.30605/perbal.v13i2.6185 Prastiwi, S. S., & Ferdiansyah, F. (2017). Review artikel: kandungan dan aktivitas farmakologi jeruk nipis (citrus aurantifolia s.). Jurnal farmaka, 15(2), 1–8. Https://doi.org/https://doi.org/10.24198/jf.v15i2.12964.g5940 Saputra, R., Erlanda, H., & Ramadhanu, A. (2024). Klasifikasi citra dalam identifikasi jeruk nipis dan jeruk mandarin menggunakan convolutional neural network (cnn). Jurnal ilmiah teknologi sistem informasi, 5(4), 213–218. Https://doi.org/10.62527/jitsi.5.

Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) Read More »

Scroll to Top