Uncategorized

BIDARA LAUT (Strychnos lingustrina)

Nama Latin Strychnos lingustrina Taksonomi Kingdom Plantae Devisi Magnoliophyta Kelas Magnoliopsida Ordo Gentianales Famili Loganiaceae Genus Strychnos Spesies Strychnos ligustrina Blume Definisi Umum Strychnos ligustrina Blume merupakan tumbuhan semak dengan tinggi sekitar 2 m. Batangnya berukuran kecil, berkayu keras dan kuat, berwarna kuning kecokelatan, tidak berbau, serta memiliki rasa pahit. Rantingnya berwarna pucat keabu-abuan dan ditandai oleh banyak lentisel yang tampak lebih terang pada permukaannya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Daunnya tunggal, berbentuk elips hingga lonjong dengan ukuran 2,6–6,1 cm × 1,7–3,7 cm, bagian bawah daun lebih pucat dibandingkan bagian atas dan memiliki tiga tulang daun utama yang terlihat jelas, sedangkan tangkai daunnya sangat pendek, yaitu sekitar 1–1,2 mm. Bunganya memiliki mahkota berbentuk tabung dengan panjang 10–15 mm, benang sari terletak pada tenggorokan tabung mahkota dengan filamen pendek, dan ovariumnya berbentuk bulat berdiameter sekitar 1 mm. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 2–2,5 cm dan berisi 2–3 biji. Biji berbentuk hampir seperti cakram dengan ukuran 12–15 mm × 10–12 mm serta permukaannya ditutupi rambut-rambut pendek dan rapat (Setiawan & Narendra, 2012). Kandungan Strychnos ligustrina mengandung berbagai senyawa aktif yang berpotensi sebagai bahan obat, antara lain striknin (strychnine), brusin (brucine), loganin, tanin, dan steroid. Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam berbagai aktivitas biologis yang mendukung pemanfaatan tanaman ini dalam pengobatan tradisional. Dari sekitar 190 spesies dalam genus Strychnos, hanya beberapa spesies, termasuk S. ligustrina, yang diketahui mengandung alkaloid utama berupa striknin dan brusin(Waluyo dan Marlena, 1992; Itoh, 2006). Khasiat Strychnos ligustrina merupakan tanaman obat yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini digunakan untuk berbagai tujuan terapeutik, antara lain sebagai pembersih tubuh, obat sakit perut, obat cacing, pengobatan bisul, chancre (ulkus akibat infeksi), serta sebagai penawar racun ular. Berbagai pemanfaatan tersebut menunjukkan potensi S. ligustrina sebagai sumber bahan obat tradisional yang bernilai bagi kesehatan Masyarakat (Setiawan & Narendra, 2012). Cara Pengolahan Strychnos ligustrina* Blume dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional melalui beberapa bentuk pengolahan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bagian kayu atau batang tanaman ini dapat diolah menjadi simplisia maupun ekstrak yang selanjutnya digunakan sebagai bahan dalam pengobatan tradisional. Bentuk pengolahannya meliputi: Daftar Pustaka

BIDARA LAUT (Strychnos lingustrina) Read More »

Kenanga (Cananga odorata)

Nama Latin Cananga odorata Taksonomi Kingdom Plantae, plants Divisi Magnoliophyta, flowering plants Kelas Magnoliopsida, dicotyledons Ordo Magnoliales Famili Annonaceae, custard-apple amily Genus Cananga (DC.) Hook. f. & thomson, ylang-ylang Spesies Cananga odorta (Lam.) Hook. f. & Thomson, ylang-ylang (Tan et al.,2015) Definisi Umum Tanaman kenanga (Cananga odorata) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Annonaceae dan berperawakan pohon dengan tinggi mencapai sekitar 10 meter. Tanaman ini memiliki akar tunggang serta batang berkayu, berbentuk bulat, bercabang, dan berwarna hijau kotor. Daunnya merupakan daun tunggal yang tersusun tersebar, berbentuk bulat telur, berujung runcing, berpangkal rata, dengan panjang 10–23 cm dan lebar 3–14 cm, serta memiliki pertulangan menyirip dan tangkai berukuran 1–1,5 cm (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Bunganya merupakan bunga majemuk berbentuk payung yang tumbuh di ketiak daun dan berwarna kuning. Bunga memiliki kelopak berbentuk corong, benang sari yang banyak, kepala putik berbentuk bulat, serta enam mahkota berbentuk lanset dengan panjang 5–7,5 cm yang berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi kuning setelah tua. Tanaman ini juga menghasilkan buah buni berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 2 cm dan berwarna hijau (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Bunga kenanga juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak atsiri yang memiliki aroma khas, yaitu floral, dengan warna mulai dari kuning muda hingga kuning tua (Syafruddin et al., 2025). Kandungan Bunga kenanga (Cananga odorata) mengandung berbagai senyawa kimia, antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Minyak atsiri yang terdapat pada bunga kenanga tersusun atas berbagai senyawa, dengan beberapa komponen utama berupa linalool, trans-karyophyllene, α-humulene, dan germacrene-D, sedangkan senyawa lainnya ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil (Amelia & Rubiyanto, 2020). Khasiat Bunga kenanga (Cananga odorata) secara tradisional dimanfaatkan untuk membantu meredakan nyeri saat haid (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Selain itu, bunga kenanga juga dimanfaatkan sebagai bahan kosmetika dan minyak atsirinya dapat digunakan sebagai repelan terhadap nyamuk Anopheles aconitus betina(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Cara Pengolahan Bunga kenanga dapat diolah dengan mengambil minyak atsirinya melalui metode destilasi uap. Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk sediaan, salah satunya lotion dan parfum sebagai penolak nyamuk. Penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri bunga kenanga yang diformulasikan dalam lotion pada konsentrasi 7,5% dan parfum pada konsentrasi 20% memiliki efektivitas sebagai penolak nyamuk (Budi et al., 2018). Daftar Pustaka Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2015). 100 top tanaman obat Indonesia (Cetakan ke-2). Kementerian Kesehatan RI. Budi, J. J. S., Damayanti, N. L. Y., Dhani, Y. R., & Dewi, N. P. A. (2018). Ekstraksi dan karakterisasi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dan aplikasinya sebagai penolak nyamuk pada lotion dan parfum. Jurnal Kimia, 12(1), 19–24. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Acuan bahan baku obat tradisional dari tumbuhan obat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Syafruddin, S., Dewi, R., & Sari, R. (2025). Ekstraksi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dengan perbandingan metode distilasi uap dan teknik enfleurasi. Prosiding Seminar Nasional Politeknik Negeri Lhokseumawe, 8(1), A-81–A-85. https://e-jurnal.pnl.ac.id/semnaspnl/article/view/6751 Tan, L. T. H., Lee, L. H., Yin, W. F., Chan, C. K., Abdul Kadir, H., Chan, K. G., & Goh, B. H. (2015). Traditional uses, phytochemistry, and bioactivities of Cananga odorata (ylang-ylang). Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2015, Article 896314, 30 pages. https://doi.org/10.1155/2015/896314 Tentu. Saya pertahankan struktur dan isi yang kamu buat, lalu menerjemahkannya ke bahasa Inggris dengan istilah ilmiah yang sesuai. Latin Name Cananga odorata Taxonomy Kingdom Plantae, plants Division Magnoliophyta, flowering plants Class Magnoliopsida, dicotyledons Order Magnoliales Family Annonaceae, custard-apple amily Genus Cananga (DC.) Hook. f. & thomson, ylang-ylang Species Cananga odorta (Lam.) Hook. f. & Thomson, ylang-ylang (Tan et al.,2015) General Description The ylang-ylang plant (Cananga odorata) belongs to the family Annonaceae and is a tree that can reach a height of approximately 10 meters. It has a taproot and a woody, cylindrical, branched stem with a dirty green color. The leaves are simple and alternately arranged, with an ovate shape, pointed apex, and rounded base. The leaves are approximately 10–23 cm long and 3–14 cm wide, with pinnate venation and petioles measuring 1–1.5 cm (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). The flowers are borne in clusters in an umbel-like arrangement in the leaf axils and are yellow in color. The flowers have funnel-shaped sepals, numerous stamens, a rounded stigma, and six lanceolate petals measuring 5–7.5 cm in length, which are green when young and turn yellow when mature. The plant also produces berry-like fruits with an oblong shape, approximately 2 cm in length, and green in color (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Ylang-ylang flowers can also be utilized to produce essential oil with a characteristic floral aroma and a color ranging from light yellow to dark yellow (Syafruddin et al., 2025). Chemical Constituents Ylang-ylang flowers (Cananga odorata) contain various chemical compounds, including saponins, flavonoids, polyphenols, and essential oils (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). The essential oil found in ylang-ylang flowers consists of various compounds, with several major components including linalool, trans-caryophyllene, α-humulene, and germacrene-D, while other compounds are present in smaller amounts (Amelia & Rubiyanto, 2020). Benefits Ylang-ylang flowers (Cananga odorata) have traditionally been used to help relieve menstrual pain (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). In addition, ylang-ylang flowers are utilized as a cosmetic ingredient, and their essential oil can be used as a repellent against female Anopheles aconitus mosquitoes (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Processing Methods Ylang-ylang flowers can be processed to obtain essential oil through the steam distillation method. The resulting essential oil can then be utilized in various formulations, including lotions and perfumes as mosquito repellents. A study showed that ylang-ylang essential oil formulated in lotion at a concentration of 7.5% and in perfume at a concentration of 20% was effective as a mosquito repellent (Budi et al., 2018). References Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2015). 100 top tanaman obat Indonesia (2nd ed.). Kementerian Kesehatan RI. Budi,

Kenanga (Cananga odorata) Read More »

Pilea (Pilea cadierei)

Nama Latin Pilea cadierei Taksonomi Kindom: Plantae Devisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Rosales Famili: Urticaceae Genus: Pilea Spesies: Pilea cadierei Gagnep & Guillaumin Definisi Umum Pilea cadierei merupakan tanaman herba dengan tinggi sekitar 50 cm yang memiliki akar tunggang, batang tegak berbentuk bulat, dan daun tunggal yang tersusun berhadapan bersilang. Daunnya berbentuk elips hingga bulat telur terbalik, berwarna hijau, dengan permukaan halus, licin, dan mengkilap serta memiliki ciri khas berupa noda berwarna abu-abu atau perak pada bagian tengah daun. Bunganya merupakan bunga majemuk yang tumbuh di ketiak daun, sedangkan buah dan bijinya jarang ditemukan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Tanaman ini memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan diketahui berasal dari daerah pegunungan di Vietnam bagian tengah (Yang et al., 2011). Dalam pemanfaatannya, Pilea cadierei juga dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok (Zaichang et al., 2013). Kandungan Daun Pilea cadierei dilaporkan mengandung proanthocyanidin (PA), yaitu kelompok polifenol atau tanin terkondensasi yang tersusun atas dua atau lebih unit flavan-3-ol. Proanthocyanidin dapat dikelompokkan menjadi procyanidin dan prodelphinidin. Pada daun Pilea cadierei, lebih dari 90% proanthocyanidin dilaporkan berada dalam bentuk tidak larut (insoluble proanthocyanidins) (Girard et al., 2020). Selain kandungan tersebut, pada daun dan ruas batang P. cadierei ditemukan struktur cystolith yang terutama tersusun dari mikrofibril selulosa, pektin, dan polisakarida dinding sel serta mengandung garam anorganik, terutama kalsium karbonat. Sebagian cystolith juga dilaporkan mengandung silikon (Watt et al., 1987). Khasiat Pilea cadierei secara tradisional dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat untuk membantu mengatasi beberapa gangguan kesehatan. Berdasarkan buku Acuan Bahan Baku Obat Tradisional dari Tumbuhan Obat Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017), Pilea cadierei digunakan untuk membantu mengatasi susah buang air besar. Selain penggunaan tersebut, Pilea cadierei juga dilaporkan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk membantu menangani infeksi saluran kemih. Penelitian oleh Zaichang et al. (2013) menunjukkan bahwa ekstrak Pilea cadierei memiliki aktivitas anti-biofilm terhadap Escherichia coli secara in vitro. Aktivitas tersebut diduga berkaitan dengan pemanfaatannya secara tradisional untuk infeksi saluran kemih. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menguji aktivitas tersebut pada model hewan. Cara Pengolahan Pilea cadierei dapat dimanfaatkan dalam bentuk bahan tanaman maupun hasil ekstraksi. Beberapa bentuk pengolahannya antara lain: Daftar Pustaka Girard, M., Lehtimäki, A., Bee, G., Dohme-Meier, F., Karonen, M., & Salminen, J.-P. (2020). Changes in feed proanthocyanidin profiles during silage production and digestion by lamb. Molecules, 25(24), 5887. https://doi.org/10.3390/molecules25245887 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Acuan bahan baku obat tradisional dari tumbuhan obat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Watt, W. M., Morrell, C. K., Smith, D. L., & Steer, M. W. (1987). Cystolith development and structure in Pilea cadierei (Urticaceae). Annals of Botany, 60(1), 71–84. https://doi.org/10.1093/oxfordjournals.aob.a087424 Yang, L., Li, Y., Yang, X., Xiao, H., Peng, H., & Deng, S. (2011). Effects of iron plaque on phosphorus uptake by Pilea cadierei cultured in constructed wetland. Procedia Environmental Sciences, 11, 1508–1512. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2011.12.227 Zaichang, Y., Du, R., Zhang, J., & Li, Q. (2013). In Vitro Anti-Biofilm Activity of The Extract Of Pilea Cadierei. Asian Journal of Pharmaceutical Research and Development, 1(1), 53–57. https://ajprd.com/index.php/journal/article/view/11 Latin Name Pilea cadierei Taxonomy Kindom: Plantae Devisi: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Ordo: Rosales Family: Urticaceae Genus: Pilea Species: Pilea cadierei Gagnep & Guillaumin General Definition Pilea cadierei is a herbaceous plant that can grow up to approximately 50 cm tall. It has a taproot, an erect and round stem, and simple leaves arranged in an opposite and decussate pattern. The leaves are elliptic to broadly ovate, green in color, with a smooth, glossy surface, and are characterized by distinctive grayish-white or silvery spots in the middle of the leaf. The flowers are compound flowers that grow in the leaf axils, while the fruits and seeds are rarely found (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2017). This plant is adaptable to environmental conditions and is known to originate from mountainous regions of central Vietnam (Yang et al., 2011). In terms of its utilization, Pilea cadierei is also known in traditional Chinese medicine (Zaichang et al., 2013). Chemical Constituents The leaves of Pilea cadierei are reported to contain proanthocyanidins (PA), a group of polyphenols or condensed tannins composed of two or more flavan-3-ol units. Proanthocyanidins can be classified into procyanidins and prodelphinidins. More than 90% of the proanthocyanidins reported in Pilea cadierei leaves are present in an insoluble form (insoluble proanthocyanidins) (Girard et al., 2020). In addition to these compounds, the leaves and stems of P. cadierei contain cystoliths, which are structures composed of cellulose microfibrils, pectin, and polysaccharides within the cell wall, and contain inorganic salts, particularly calcium carbonate. Some cystoliths have also been reported to contain silicon (Watt et al., 1987). Medicinal Benefits Pilea cadierei has traditionally been used as a medicinal plant to help treat several health conditions. According to the book Reference for Raw Materials of Traditional Medicines from Indonesian Medicinal Plants, published by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (2017), Pilea cadierei is used to help relieve constipation. In addition to this use, Pilea cadierei has also been reported in traditional Chinese medicine to help treat urinary tract infections. Research by Zaichang et al. (2013) showed that Pilea cadierei extract exhibited anti-biofilm activity against Escherichia coli in vitro. This activity is thought to be associated with its traditional use for treating urinary tract infections. However, further research is still needed to evaluate this activity in animal models. Processing Methods Pilea cadierei can be utilized in the form of raw plant material or as an extract. Several forms of processing include: 1. Plant Extract Pilea cadierei can be processed into a plant extract. Zaichang et al. (2013) used the whole plant, which was first dried and then extracted using ethanol. The resulting extract was subsequently used to evaluate its anti-biofilm activity against Escherichia coli.

Pilea (Pilea cadierei) Read More »

Daun Duduk

Nama Latin Desmodium triquetrum Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Desmodium Spesies : Desmodium triquetrum (L.) DC. (Tjitrosoepomo, 2010) Deskripsi Umum Daun duduk merupakan tanaman semak kecil dengan batang tegak dan bercabang. Daunnya berwarna hijau berbentuk lonjong hingga lanset, sedangkan bunganya kecil berwarna ungu muda. Tanaman ini umumnya tumbuh liar di tepi jalan, kebun, maupun lahan terbuka yang lembap. Tanaman daun duduk mudah tumbuh dan mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan. Bagian tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah daun dan batangnya. Kandungan Tanaman daun duduk mengandung berbagai senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan, antara lain: Kandungan tersebut berperan sebagai antiinflamasi dan membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Khasiat Cara Pengolahan untuk Obat Herbal 1. Rebusan Daun Duduk Bahan: Segenggam daun duduk segar 3 gelas air Cara membuat:Daun duduk dicuci bersih kemudian direbus hingga air tersisa sekitar 1 gelas. Air rebusan disaring dan diminum setelah dingin. Ramuan ini dipercaya membantu meredakan nyeri dan menjaga kesehatan tubuh. 2. Obat Oles Tradisional Bahan: Daun duduk segar secukupnya Cara membuat:Daun duduk dicuci bersih lalu ditumbuk hingga halus. Hasil tumbukan ditempelkan pada bagian tubuh yang bengkak atau luka ringan. Daftar Pustaka Materia Medika Indonesia. 1989. Materia Medika Indonesia Jilid V. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tjitrosoepomo, G. 2010. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Dalimartha, S. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Puspa Swara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga. Jakarta: Kemenkes RI.

Daun Duduk Read More »

Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)

Nama Latin Excoecaria cochinchinensis Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Excoecaria Spesies: Excoecaria cochinchinensis Lour. (Plantamor.com) Definisi Umum Sambang darah dengan nama lokal daun remek daging (Jateng), ki sambaing memiliki ciri Tanaman tegak tanaman hingga 200 centimeter dengan percabangan banyak dan getah berwarna putih. Bentuk daun berhelai lancip, dengan tangkai bercabang kayu. Warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap. Kandungan Sambang darah dengan nama lokal daun remek daging (Jateng), ki sambaing memiliki ciri Tanaman tegak tanaman hingga 200 centimeter dengan percabangan banyak dan getah berwarna putih. Bentuk daun berhelai lancip, dengan tangkai bercabang kayu. Warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap. Khasiat Obat disentri, muntah dan batuk darah, pendarahan setelah melahirkan ataupun keguguran, obat penyakit kulit. Cara Pengolahan Berikut cara pengolahan sambang darah untuk obat: Pemanfaatan Dalam (Diminum/Rebusan) diolah dengan cara rebus 10-15 lembar daun segar atau cuci bersih ranting kering sepanjang satu jari, rebus dalam 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Air rebusan daunnya dapat dikonsumsi setiap pagi dan sore hari. Pemanfaatan Luar (Obat Oles) dapat diolah dengan cara Giling atau tumbuk daun segar sampai halus, lalu lumurkan pada bagian tubuh yang terluka atau gatal. Selanjutnya dapat diolah dengan melalui proses pengeringan dimana daun sambang darah bisa dikeringkan terlebih dahulu untuk digunakan sebagai bahan teh herbal atau rebusan. Daftar Pustaka Aminah, dkk. 2022. Formulasi Sediaan Serbuk Perona Pipi Ekstrak Daun Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis) sebagai Pewarna Alami. Jurnal Farmasi. Vol 5(1).

Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis) Read More »

Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.)

Nama Latin Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Taksonomi Kingdom : Plantae Devisi : Spermatophyta Class : Dicotylendonae Ordo : Solanales Family : Lamiaceae Genus : Coleus Spesies : Plectranthus scutellarioides (L) R. Br (Elfianis, 2021). Deskripsi Umum Tanaman iler memiliki banyak sinonim, seperti Coleus atropurpureus Benth, Coleus scutellarioides (L) Benth, Coleus blumei Benth, Solenostemon scutellarioides (L) Codd. Nama daerah di Indonesia dikenal dengan si gesing (Batak), jawer kotok (Sunda), kentangan (Jawa), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura) dan adang-adang (Padang) (Elfanis, 2021). Kandungan Daun iler memiliki berbagai kandungan senyawa kimia seperti minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan turunan fenolik/polifenol. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Mpila et al., (2012) yang menyatakan bahwa daun iler mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoid dan polifenol, begitu juga dengan beberapa penelitian setelahnya. Auliawan et al. (2014) melakukan penapisan fitokimia terhadap ekstrak daun iler menunjukkan bahwa hasil uji tabung positif terhadap keberadaan alkaloid, flavonoid, tannin dan saponin. Flavonoid adalah salah satu senyawa fenolik yang dapat memproteksi sel beta pankreas dari radikal bebas dengan bersifat sebagai antioksidan, selain itu flavonoid mampu menghambat enzim alfa glukosidase yang berfungsi memecah karbohidrat. Penghambatan enzim alfa glukosidase ini menyebabkan penundaan penyerapan glukosa sehingga mampu menurunkan kadar gula dalam darah (Fitrianto dan Priyo, 2010). Khasiat Antioksidan, Antibakteri, Imunomodulator, Antihistamin, Antihelmintik, Mukolitik Cara Pengolahan Obat Batuk dan Demam (Seduhan): Siapkan 5 lembar daun muda dan 15 cm batang atas tanaman iler, lalu cuci bersih. Rebus dengan 300 ml air hingga mendidih. Air rebusan diminum setelah hangat. Obat Batuk Berdahak dan Asma (Perasan): Ambil 7-10 lembar daun miana/iler, cuci bersih. Tumbuk halus daun tersebut Seduh dengan sedikit air panas, lalu saring. Tambahkan madu untuk mengurangi rasa pahit (opsional) lalu minum Daftar Pustaka Alzamani, L. M., Marbun, M. R., Purwanti, M. E., Salsabilla, R., & Rahmah, S. (2022). Ulkus Kronis : Mengenali Ulkus Dekubitus dan Ulkus Diabetikum. Jurnal Nasional Indonesia, 2(02), 272–286. American Diabetes Association. (2018). Standards of medical care in diabetes – 2021 abridged for primary care providers. Clinical Diabetes, 39(1), 14–43. https://doi.org/10.2337/cd21-as01 American Diabetes Association. (2022). Professional Practice Committee: Standards of Medical Care in Diabetes—2022. Diabetes Care, 45(January), S3. https://doi.org/10.2337/dc22-SPPC Anita, Basarang, M., Arisanti, D., Rahmawati, & Fatmawati, A. (2019). Analisis Daya Hambat Esktrak Etanol Daun Miana (Coleus atropurpureus) terhadap Staphylococcus aureus dan Vibrio Cholera. Seminar Nasional Sains, Teknologi, Dan Sosial Humaniora Uit 2019, 1(1), 1–9. Bela, Preyendiswara, A. (2021). Manfaat Dan Budidaya Daun Miana. Universitas Tarumanegara, Jakarta. Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.) Latin Name Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Spermatophyta Class: Dicotylendonae Order: Solanales Family: Lamiaceae Genus: Coleus Species: Plectranthus scutellarioides (L) R. Br (Elfianis, 2021). General Description Coleus plants have many synonyms, such as Coleus atropurpureus Benth, Coleus scutellarioides (L) Benth, Coleus blumei Benth, Solenostemon scutellarioides (L) Codd. Regional names in Indonesia include si gesing (Batak), jawer kotok (Sunda), kentangan (Javanese), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura), and adang-adang (Padang) (Elfanis, 2021). Iler leaves contain various chemical compounds such as essential oils, alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and phenolic/polyphenol derivatives. This is supported by research from Mpila et al., (2012) which stated that iler leaves contain essential oils, saponins, flavonoids, and polyphenols, and so do several subsequent studies. Auliawan et al. (2014) conducted a phytochemical screening on iler leaf extracts and showed that the test tube results were positive for the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. Flavonoids are one type of phenolic compound that can protect pancreatic beta cells from free radicals by acting as antioxidants. Additionally, flavonoids can inhibit the enzyme alpha-glucosidase, which functions to break down carbohydrates. This inhibition of the alpha-glucosidase enzyme delays glucose absorption, which can help lower blood sugar levels (Fitrianto and Priyo, 2010). Benefits Antioxidant, Antibacterial, Immunomodulator, Antihistamine, Antihelminthic, Mucolytic How to Prepare Cough and Fever Remedy (Infusion): Prepare 5 young leaves and 15 cm of the top stem of the iler plant, then wash thoroughly. Boil with 300 ml of water until it boils. Drink the decoction while warm. Remedy for Phlegmy Cough and Asthma (Juice): Take 7-10 leaves of miana/iler, wash thoroughly. Pound the leaves into a fine paste. Steep with a little hot water, then strain. Add honey to reduce the bitterness (optional), then drink. References Alzamani, L. M., Marbun, M. R., Purwanti, M. E., Salsabilla, R., & Rahmah, S. (2022). Chronic Ulcers: Recognizing Decubitus Ulcers and Diabetic Ulcers. Indonesian National Journal, 2(02), 272–286. American Diabetes Association. (2018). Standards of medical care in diabetes – 2021 abridged for primary care providers. Clinical Diabetes, 39(1), 14–43. https://doi.org/10.2337/cd21-as01 American Diabetes Association. (2022). Professional Practice Committee: Standards of Medical Care in Diabetes—2022. Diabetes Care, 45(January), S3. https://doi.org/10.2337/dc22-SPPC Anita, Basarang, M., Arisanti, D., Rahmawati, & Fatmawati, A. (2019). Analysis of the Inhibitory Effect of Ethanol Extract of Miana Leaves (Coleus atropurpureus) on Staphylococcus aureus and Vibrio Cholera. National Seminar on Science, Technology, and Social Humanities Uit 2019, 1(1), 1–9. Bela, Preyendiswara, A. (2021). Benefits and Cultivation of Miana Leaves. Tarumanagara University, Jakarta.

Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.) Read More »

Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. )

Nama Latin Ruellia napifera Zoll. & Mor.  Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Scrophulariales Famili: Acanthaceae Genus: Ruellia Spesies: Ruellia napifera Zoll. & Mor. \ (A Rozak,2011) Deskripsi Umum Tumbuhan Gempur batu ini merupakan tumbuhan liar yang ada di hutan-hutan, diladang pada tanah agak lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl tumbuhan ini berhabitus semak. Tanaman daun gempur batu adalah salah satu tanaman yang telah lama dikenal sebagai tanaman herbal. Daun berbentuk tombak dan berakar, daun agak kasar terdapat banyak bulu halus di permukaannya, memiliki bunga berukuran kecil-kecil warna-nya putih. Kandungan Bagian  akar  diketahui mengandung  triterpenes  (lupeol),  fitosterol  (sitosterol,  stigmasterol,  dan kampesterol), 2,6-Dimetoksikuinon, dan akasetin, sedangkan pada daun dan bunga telah diisolasi senyawa apigenin-7-â-D-glukoronida. Dari tanaman ini telah pula diisolasi senyawa golongan flavonoid yaitu kirsimaritin, kirsimarin, kirsiol  4’-glikosida,  sorbifolin,  dan  pedalitin. Ruellia   brittoniana telah mengandung  senyawa  2-O-galaktopiranosil  gliserol  heksaasetat.  Tanaman Ruellia   patula mengandung  senyawa  lioniresinol-9-O-â-D-glukopiranosida dan 5,5-dimetoksi. Larisiresinol -9- O -â- glukopiranosida yang merupakan suatu lignan. Khasiat Tanaman gempur batu ini dapat menyembuhkan penyakitkencing batu, sebagai obat batu ginjal, melancarkan buang airkecil, mencegah sembelit, mengatasi sakit kuning, anti tumor, Untuk lebih jelasnyamengatasi wasir, anti tumor, mengobati maag, anti kolesterol, obat mengenai daun gempurdiare, gatal-gatal, baik untuk lambung. Cara Pengolahan Siapkan sekitar 7 lembar daun gempur batu, 30 gram daun semanggi, dan 7 lembar daun kembangbungang. Bersihkan semua daun tersebut dan rebus bersama-samadalam 800cc hingga tersisa setengahnya. Minumlah air rebusantersebut secara teratur 2 kali sehari. Daftar Pustaka Bahriyah, I., Hayati, A., & Zayadi, H. (2015). Etnobotani dan Penggunaan Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.  Departemen Kesehatan RI. (1986). Medical Herb Index in Indonesia. Ningsih, I. Y. (2016). Studi Etnofarmasi Penggunaan Tumbuhan Obat di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.  Putri Citrawati. (n.d.). Khasiat dan Perawatan Gempur Batu.  Repository UGM. (1991). Pengaruh Daun Gempur Watu (Borreria hispida, SCHUM) Terhadap Daya Larut Kalsium Batu Ginjal secara In Vitro. Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. ) Latin Name Ruellia napifera Zoll. & Mor. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Scrophulariales Family: Acanthaceae Genus: Ruellia Species: Ruellia napifera Zoll. & Mor. (A Rozak, 2011) General Description This Gempur Batu plant is a wild plant found in forests and fields on somewhat moist soil at lowlands up to an altitude of 500 m above sea level. The plant has a shrub habit. The leaves of the Gempur Batu plant are spear-shaped and rooted, somewhat coarse with many fine hairs on the surface, and it has small white flowers. Contents The root part is known to contain triterpenes (lupeol), phytosterols (sitosterol, stigmasterol, and campesterol), 2,6-Dimethoxyquinone, and acacetin, while the leaves and flowers have been found to contain apigenin-7-β-D-glucuronide. From this plant, flavonoid compounds such as cirsimaritin, cirsimarin, cirsiol 4’-glucoside, sorbifolin, and pedalitin have also been isolated. Ruellia brittoniana contains 2-O-galactopyranosyl glycerol hexaacetate. Ruellia patula contains lioniresinol-9-O-β-D-glucopyranoside and 5,5-dimethoxylariciresinol-9-O-β-D-glucopyranoside, which is a lignan. Benefits This gempur batu plant can help treat urinary stones and kidney stones, improve urination, prevent constipation, treat jaundice, acts as an anti-tumor, helps with hemorrhoids, treats stomach ulcers, has anti-cholesterol properties, and its leaves can be used for diarrhea, itching, and are good for the stomach. Bibliography Bahriyah, I., Hayati, A., & Zayadi, H. (2015). Ethnobotany and the Use of Medicinal Wild Plants in Guluk-Guluk District, Sumenep Regency, Madura. Indonesian Ministry of Health. (1986). Medical Herb Index in Indonesia. Ningsih, I. Y. (2016). Ethnopharmacology Study on the Use of Medicinal Plants in Guluk-Guluk District, Sumenep Regency, Madura. Putri Citrawati. (n.d.). Benefits and Care of Gempur Batu. UGM Repository. (1991). The Effect of Gempur Watu Leaves (Borreria hispida, SCHUM) on the Solubility of Kidney Stone Calcium In Vitro.

Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. ) Read More »

Garut (Maranta arundinacea Linn)

Nama Latin Maranta arundinacea Linn Taksonomi kerajaan :Plantae; divisi : Spermatophyte; kelas : Monocotyledoneae; bangsa : Zingerbales; suku : Marantacea; magra : Maranta; jenis : Maranta arundinacea Linn (TANAMAN GARUT BUDIDAYA DAN PEMASARAN SECARA ONLINE,2019) Deskripsi Umum Garut merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat menghasilkan karbohidrat dengan jumlah yang cukup tinggi. Tanaman ini memiliki potensi pasar internasional, karena dapat diusahakan secara komersial. Garut mudah beradaptasi pada banyak agroekologi, tetapi setiap daerah menghasilkan garut dalam jumlah yang berbeda-beda tergantung pada kadar air dalam tanah karena jumlah hujan yang sedikit mengakibatkan pasokan air dalam tanah juga sedikit. Kandungan Umbi garut memiliki kandungan gizi tinggi, kandungan karbohidrat 25-30%, kandungan pati Buletin Plasma Nutfah Vol.17 No.1 Th.2011 13 +20% (Widowati, 1998; Suhartini T dan Hadiatmi, 2011), tepungnya dapat digunakan sebagai bahan baku pengganti terigu (Djaafar dan Rahayu, 2006;Suhartini T dan Hadiatmi,2011). Umbi garut memiliki manfaat kesehatan karena indeks glikemiknya rendah Khasiat Garut merupakan tanaman multifungsi, antara lain penghasil pati dan bahan baku industri emping garut, yang diketahui sebagai makanan sehat.Limbah pengolahan umbi garut berupa kulit dan ampas dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Umbi garut merupakan penghasil pati yang potensial dengan hasil pati 12 berkisar antara 1,92-2,56 t/ha (Djaafar et al. 2007; Anonim 2009a;Titiek F,dkk,2010). Pati garut dapat digunakan sebagai bahan substitusi terigu (Djaafar dan Rahayu 2006;Titiek F,dkk,2010) hingga 50-100%. Oleh karena itu, pati garut berpotensi menurunkan impor terigu yang telah mencapai 4,10 juta t/tahun dengan nilai Rp3,40 triliun (Gusmaini et al. 2003; Anonim 2008;Titiek F,dkk,201 Cara Pengolahan Umbi garut dapat langsung direbus atau dibakar sebagai camilan tradisional yang rasanya mirip bengkuang namun lebih gurih. Umbi garut memiliki indeks glikemik rendah , menjadikannya sangat baik untuk kesehatan pencernaan dan penderita diabetes. Daftar Pustaka Amalia, B. 2014. Umbi Garut Sebagai Alternatif Pengganti Terigu Untuk Individual Austitik. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Insustri. Vol. 20. No. 2. Hal: 30-31 Anusavice, K.J. 2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedoktera Gigi. Ed. Ke-10. Alih bahasa: Budiman JA, Purwoko S. Jakarta:EGC. Hal. 94. 103-106. Cahyani, E.D. dan Nugroho, D.H. 2012. Pengaruh Uji Temperatur Air Pencampur Terhadap Setting Time Bahan Cetak Alginat Dengan Penambahan Pati Garut (Maranta Arundinaceae L.). Departemen Biomaterial Pendidikan Dokter Gigi, UMY. Hal 6 Faridah, D.N., Fardiaz, D., Andarwulan, N., Sunarti, T.C. 2014. Karakteristik Sifat Fisikokimia Pati Garut (Maranta Arundinaceae). Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Universitas Pertanian Bogor. Hal 15 Arrowroot (Maranta arundinacea Linn.)Latin Name Maranta arundinacea Linn. Taxonomy Kingdom: Plantae; Physique: Spermatophyte; Class: Monocotyledoneae; Order: Zingerbales; Family: Marantacea; Magra: Maranta; Species: Maranta arundinacea Linn. (ARROUT PLANT CULTIVATION AND ONLINE MARKETING, 2019) General Description Arrowroot is a tuber plant that can produce high levels of carbohydrates. This plant has international market potential because it can be cultivated commercially. Arrowroot adapts easily to various agroecologies, but each region produces arrowroot in varying amounts depending on soil water content, as low rainfall results in limited soil water supplies. Nutritional Content Arrowroot tubers have a high nutritional value, with a carbohydrate content of 25-30% and a starch content of 20% (Widowati, 1998; Suhartini T and Hadiatmi, 2011). Their flour can be used as a substitute for wheat flour (Djaafar and Rahayu, 2006; Suhartini T and Hadiatmi, 2011). Arrowroot tubers offer health benefits due to their low glycemic index. Benefits Arrowroot is a multifunctional plant, producing starch and raw material for the arrowroot chips industry, known as a healthy food. The waste from arrowroot tuber processing, in the form of skin and pulp, can be used as animal feed. Arrowroot tubers are potential starch producers with starch yields ranging from 1.92-2.56 t/ha (Djaafar et al. 2007; Anonymous 2009a; Titiek F, et al., 2010). Arrowroot starch can be used as a wheat flour substitute (Djaafar and Rahayu 2006; Titiek F, et al., 2010) up to 50-100%. Therefore, arrowroot starch has the potential to reduce wheat flour imports, which have reached 4.10 million tons/year with a value of IDR 3.40 trillion (Gusmaini et al. 2003; Anonymous 2008; Titiek F, et al., 201). Processing Methods Arrowroot tubers can be directly boiled or baked as a traditional snack that tastes similar to jicama but is more savory. Arrowroot tubers have a low glycemic index, making them excellent for digestive health and diabetes sufferers. Bibliography Amalia, B. 2014. Arrowroot Tubers as an Alternative to Flour for Individuals with Austitis. Journal of Industrial Plant Research and Development. Vol. 20. No. 2. Pages: 30-31 Anusavice, K.J. 2003. Textbook of Dentistry Materials Science. 10th Ed. Translated by: Budiman JA, Purwoko S. Jakarta: EGC. Page 94. 103-106. Cahyani, E.D. and Nugroho, D.H. 2012. The Effect of Mixing Water Temperature Test on the Setting Time of Alginate Impression Material with the Addition of Arrowroot Starch (Maranta Arundinaceae L.). Department of Biomaterials, Dentistry Education, UMY. Page 6 Faridah, D.N., Fardiaz, D., Andarwulan, N., Sunarti, T.C. 2014. Characteristics of the Physicochemical Properties of Arrowroot Starch (Maranta Arundinaceae). Department of Food Science and Technology. Bogor Agricultural University. Page 15

Garut (Maranta arundinacea Linn) Read More »

Gragas Otot (Equisetum ramosissimum)

Nama Latin Equisetum ramosissimum Taksonomi Kerajaan:Plantae Divisi:  Polypodiophyta Kelas:  Polypodiopsida Subkelas:Equisetidae Ordo:   Equisetales Famili: Equisetaceae Genus: Equisetum Spesies:Equisetum ramosissimum (Herbie,2015) Deskripsi Umum Equisetum ramosissimum var. huegelii adalah tumbuhan berspora dengan batang tegak, silindris, dan berongga. Cabang-cabangnya panjang, ramping, memiliki dua atau tiga bagian dalam vertisil, berusuk, simpul yang dikelilingi oleh selubung ketat sisik bawaan seperti daun dan memiliki strobilus lonjong di ujung cabang Kandungan Asam kersik 5 % – 10 %, asam oksalat, asam malat, asam akonitat, asam tanat, kalium, natrium dan saponin Khasiat Indikasi khusus: Peradangan pada kelenjar prostat – membantu hilangnya kontrol pada saluran kandung kemih pada anak (mengurangi mengompol pada anak) – Diuretik – meringankan Cystitis (nyeri pada kandung kemih) dengan kondisi hematuria (kencing berdarah) – meringankan uretritis (pembengkakan pada saluran kandung kemih). – penggunaan Oral : untuk terapi irigasi pada penyakit bakteri dan inflamasi pada saluran kemih bagian bawah dan kerikil (serpihan batu) ginjal  Cara Pengolahan Untuk minum: 10-15 g herba kering, rebus. Pemakaian luar: Dibuat parem. Digunakan untuk sakit pada persendian, digosokkan pada anak untuk memperkuat anggota gerak dan obat luka. Daftar Pustaka Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1978).”Materia Medika Indonesia jilid 2″ Global Biodiversity Information Facility Research (1999).”Global Biodiversity Information Facility” Mithun Biswas, Aninda Mandal, Madhuparna Hore, Subikash Biswas, Suvendu Dey, Jayita Biswas1, Amrik Mondal, Bidyut Kumar Mandal, Piu Das, Sudha Gupta (2016).”new record of equisetum ramosissimum susbsp. debile from lower gangetic plain, west bengal, india and conservation approach” British Herbal Medicine Association (1976).”British Herbal Pharmacopoeia” American Botanical Council (1986).”Herbal Medicine: Expanded Commission E Monographs” Muscle Gragas (Equisetum ramosissimum)Latin name Equisetum ramosissimum Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Polypodiophyta Class: Polypodiopsida Subclass: Equisetidae Order: Equisetales Family: Equisetaceae Genus: Equisetum Species:Equisetum ramosissimum (Herbie, 2015) General Description Equisetum ramosissimum var. huegelii is a spore plant with erect, cylindrical, hollow stems. The branches are long, slender, have two or three inner verticils, ribbed, and the nodes are surrounded by a dense sheath of leaf-like scales. They have oblong strobili at the ends of the branches. Contents 5% – 10% ricin, oxalic acid, malic acid, aconitic acid, tannic acid, potassium, sodium, and saponins. Benefits Specific Indications: Inflammation of the prostate gland Processing Method To drink: Boil 10-15 g of dried herb. External use: Made into a paste. Used for joint pain, rubbed on children to strengthen limbs, and as a wound healer. Bibliography Ministry of Health of the Republic of Indonesia (1978) “Materia Medika Indonesia Volume 2” Global Biodiversity Information Facility Research (1999) “Global Biodiversity Information Facility” Mithun Biswas, Aninda Mandal, Madhuparna Hore, Subikash Biswas, Suvendu Dey, Jayita Biswas1, Amrik Mondal, Bidyut Kumar Mandal, Piu Das, Sudha Gupta (2016) “New Record of Equisetum ramosissimum subsp. debile from Lower Gangetic Plain, West Bengal, India and Conservation Approach” British Herbal Medicine Association (1976) “British Herbal Pharmacopoeia” American Botanical Council (1986) “Herbal Medicine: Expanded Commission E Monographs”

Gragas Otot (Equisetum ramosissimum) Read More »

Takokak (Solanum torvum Sw.)

Nama Latin Solanum torvum Sw. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Solanales Famili: Solanaceae Genus: Solanum Spesies: Solanum torvum Sw. IPNI (2024) Deskripsi Umum Terung pipit adalah salah satu spesies tumbuhan berbentuk perdu dari famili Solanaceae (suku terong-terongan). Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Solanum torvum ini berasal dari bioma beriklim tropis basah dengan rentang sebaran mulai dari Meksiko, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, hingga Brazil timur. Di Indonesia terung pipit memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya takokak, pokak (Jawa), atau terong pipit (Sumatra). Nama ilmiah Solanum torvum pertama kali dipublikasikan oleh botanis Olof Peter Swartz pada tahun 1788. Kandungan Menurut Rahman (2013), senyawa flavonol dan flavon dimanfaatkan dalam sayuran indigenous tersebut sangat bervariasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sayuran indigenous yang diteliti mengandung senyawa quarcetin. Selain itu, menurut Astri (2012) buah takokak mengandung flavonoid, tanin, saponin, fenol dan quercetin. Khasiat Takokak (Solanum torvum Swartz) digunakan oleh masyarakat sebagai sayur baik dimasak atau sebagai lalapan. Selain itu, takokak juga digunakan sebagai obat darah tinggi dan penambah nafsu makan. Tanaman ini juga dapat digunakan sebagai obat sakit lambung, sakit gigi, tidak datang haid, batuk kronis, obat sakit pinggang kaku, bisul, koreng, darah tinggi, penambah nafsu makan, gatal-gatal, mata kering, penghilang rasa sakit, anti radang dan alat kontrasepsi (Mustarichie, dkk. 2011). Cara Pengolahan  Sediakan 10-15 gram takokak kering atau 30-60 gram takokak segar, rebus hingga mendidih, lalu minum airnya. Daftar Pustaka Gandhi GR, Ignacimuthu S, Paulraj MG. 2011. Solanum torvum Swartz: fruit containing phenolic compounds shows antidiabetic and antioxidant effects in streptozotocin induced diabetic rats. Food Chem Toxicol 49:2725-2733. Helilusiatiningsih, N. (2020). Pengolahan buah terung pokak (Solanum torvum) menjadi teh herbal sebagai minuman fungsional. Buana Sains, 20(2), 139–148. Lee et al. (2013). PENGARUH LOKASI TUMBUH TERHADAP SENYAWA FITOKIMIA PADA BUAH, BIJI, DAUN, KULIT BUAH TANAMAN TAKOKAK (Solanum torvum). Buana Sains.

Takokak (Solanum torvum Sw.) Read More »

Scroll to Top