Uncategorized

Tapak Liman (Elephantopus scaber L)

Nama Latin Elephantopus scaber L Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Asteridae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Elephantopus Spesies : Elephantopus scaber L Deskripsi Umum Tapak liman (Elephantopus scaber L.) dikenal sebagai jenis tumbuhan liar yang tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia. Tumbuhan ini umumnya tumbuh di area yang tidak terkena sinar matahari secara langsung, di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini tergolong dalam famili Asteraceae dan memiliki asal-usul dari wilayah Amerika serta Asia.. (Mandal et al., 2018). Kandungan Ekstrak etanol daun tapak liman mengandung senyawa-senyawa seperti steroid, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Flavonoid diketahui memiliki aktivitas antibakteri melalui mekanisme perusakan membran sitoplasma, yaitu dengan berikatan dengan protein hingga merusak struktur protein tersebut (Widyaningrum et al., 2020). Khasiat Cara Pengolahan Air Rebusan (Infus): Tumbukan (Obat Luar): Daftar Pustaka Ahmad, A. R., Juwita, J., & Ratulangi, S. A. D., 2015. Penetapan Kadar Fenolik dan Flavonoid Total Ekstrak Metanol Buah dan Daun Patikala (Etligera elatior (Jack) RM SM). Pharmaceutical Sciences & Research, 2(1), pp. 1-10. Alponsin, Maideliza, T., & Noli, Z. A. 2017. Studi Anatomi Daun Cantigi (Vaccinium korinchense Ridl.) pada Altitud Berbeda di Gunung Talang. Jurnal Metamorfosa, 4(1), pp. 114-121. Andrian, Supriadi., & Purba, M. 2014. Pengaruh Ketinggian Tempat dan Kemiringan Lereng terhadap Produksi Karet (Havea brasiliensis Muell. Arg.) di Kebun Hapesong PTPN III Tapanuli Selatan. Jurnal Online Agroteknologi, 2(3), 981-989. Azter, A. A., 2009. Uji Efek Ekstrak Etanol Herba Tapak Liman (Elephantopus scaber L.) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Kafeina. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Tapak Liman (Elephantopus scaber L) Read More »

Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don)

Nama Latin Catharanthus roseus (L.) G.Don Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Gentianales Famili: Apocynaceae Genus: Catharanthus Spesies: Catharanthus roseus (L.) G.Don (POWO,2024) Deskripsi Umum Tapak dara adalah salah satu spesies tumbuhan perdu atau perdu kecil dari famili Apocynaceae. Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Catharanthus roseus ini berasal dari bioma beriklim tropis kering di wilayah Madagaskar timur dan selatan. Di Indonesia tapak dara memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya bunga serdadu, kembang tembaga, atau tapak dara. Nama ilmiah Catharanthus roseus pertama kali dipublikasikan oleh botanis George Don pada tahun 1837. Kandungan Ekstrak etanol daun tapak liman mengandung senyawa-senyawa seperti steroid, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Flavonoid diketahui memiliki aktivitas antibakteri melalui mekanisme perusakan membran sitoplasma, yaitu dengan berikatan dengan protein hingga merusak struktur protein tersebut (Widyaningrum et al., 2020). Khasiat Daun tapakdara (Catharanthus roseus) telah digunakan secara tradisional untuk membantu menurunkan tekanan darah, membantu meringankan malaria, sembelit dan kencing manis. Akarnya digunakan untuk membantu meringankan kencing manis dan peluruh haid. Cara Pengolahan Merebus, menyeduh, atau mengeringkan daun dan bunganya untuk pengobatan tradisional, seperti diabetes dan darah tinggi. Cara utamanya meliputi perebusan 10-16 lembar daun dengan 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas, atau menyeduh 7 lembar daun dengan air panas.  Daftar Pustaka Hariana.A. 2011. Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya. Hal 110 – 112. Penebar Swadaya : Jakarta. Leonindita.2009. Formulasi Tablet Ekstrak Herba Tapak Dara (Catharantus Roseus (L) G. Don) Dengan Bahan Pengikat Gelatin Dan Gom Arab Pada Berbagai Konsentrasi.Skripsi.Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiah Surakarta. Sakina. 2012. Khasiat Di Balik Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Dan Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarp ).Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Haluoleo. Kendari.

Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don) Read More »

Tembelekan (Lantana camara L.)

Nama Latin Lantana camara L. Taksonomi Regnum : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub Classis : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Ordo : Lamiales Familia : Verbenaceae Genus : Lantana Species : Lantana camara L. (Van Steenis, 1997) Deskripsi Umum Tembelekan (L. camara) merupakan tanaman perdu tegak atau setengah merambat dengan ciri-ciri batang : berkayu, bercabang banyak, ranting berbentuk segi empat, tinggi lebih dari 0,5-4 m, memiliki bau yang khas, terdapat dua varietas (berduri dan tidak berduri); Daun : tunggal, duduk berhadapan, bentuk bulat telur dengan ujung meruncing dan bagian 7 pinggirnya bergerigi, panjang 5-8 cm, lebar 3,5-5 cm, warna hijau tua, tulang daun menyirip, permukaan atas berbulu banyak, kasar dan permukaan bawah berbulu jarang; Bunga : majemuk bentuk bulir, mahkota bagian dalam berbulu, berwarna putih, merah muda, jingga kuning, dan masih banyak warna lainnya; Buah : seperti buah buni dan berwarna hitam mengkilat bila sudah matang (Dalimarta, 1999). Kandungan Menurut Pramono 1999, daun tembelekan (L. camara) memiliki kandungan senyawa kimia seperti lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid, minyak atsiri (berbau menyengat yang tidak disukai serangga), beta- caryophyllene, gamma-terpidene, alpha-pinene dan p-cymene. Khasiat Tanaman tembelekan selain dapat digunakan sebagai tanaman hias juga dapat digunakan sebagai tanaman obat dan insektisida alami. Bagian tanaman yang dapat digunakan adalah akar yang bersifat tawar dan sejuk, untuk meredakan demam, TBC, rematik, memar, keputihan, kencing nanah, gondongan, sakit kulit, penawar racun, penghilang nyeri dan penghenti pendarahan. Daun yang bersifat pahit, sejuk dan berbau, untuk menghilangkan gatal, batuk, rematik, anti-toksik, menghilangkan bengkak. Bunga tembelekan bersifat manis dan sejuk dapat digunakan untuk penyakit TBC, sesak nafas dan dapat menghentikan pendarahan. Tanaman ini juga digunakan sebagai pengendali serangga (Dalimarta, 1999). Cara Pengolahan Tanaman tembelekan (Lantana camara) diolah secara tradisional maupun modern sebagai obat luar (luka/bisul) dan dalam (batuk/diare). Cara utamanya meliputi pelumatan daun untuk kompres, perebusan 5-7 lembar daun, atau ekstraksi etanol untuk lotion dan salep. Daun harus dicuci bersih dan dikeringkan (diangin-anginkan) sebelum diolah.  Daftar Pustaka Azis. S. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder Teori. Konsep dan Tekhnik Pemurnian.: Yogyakarta Ansel. H.C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press : Jakarta. Gandjar IG & Abdul R. 2014. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Gandjar IG & Abdul R. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Gandjar IG & Abdul R. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Hanani. E. 2015. Analisa Fitokimia. Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Hidayat S. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Cibubur. Jakarta Timur. Herbie. T. 2015. Kitab Tanaman Berkhaisat Obat. Octopus Publishing House : Yogyakarta. . . . Tembelekan (Lantana camara L.) Latin Name Lantana camara L. Taksonomi Regnum : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub Classis : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Ordo : Lamiales Familia : Verbenaceae Genus : Lantana Species : Lantana camara L. (Van Steenis, 1997) General Description Tembelekan (Lantana camara L.) is an upright or semi-climbing shrub with the following characteristics: Stem: woody, highly branched, with quadrangular twigs, reaching a height of more than 0.5–4 m, possessing a distinctive odor, and occurring in two varieties (thorny and thornless). Leaves: simple, oppositely arranged, ovate in shape with pointed tips and serrated margins, 5–8 cm long and 3.5–5 cm wide, dark green in color, with pinnate venation. The upper surface is densely hairy and rough, while the lower surface is sparsely hairy. Flowers: compound flowers arranged in spike-like clusters, with hairy inner corollas, and varying in color, including white, pink, orange, yellow, and many other colors. Fruits: berry-like fruits that become glossy black when fully ripe (Dalimartha, 1999). Contents According to Pramono (1999), tembelekan (L. camara) leaves contain chemical compounds such as lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid, essential oils (with a pungent odor that is disliked by insects), beta-caryophyllene, gamma-terpinene, alpha-pinene, and p-cymene. Benefits In addition to being used as an ornamental plant, the tembelekan plant can also be used as a medicinal plant and a natural insecticide. The part of the plant that can be used is the root, which is bland in taste and cooling in nature, to relieve fever, tuberculosis (TB), rheumatism, bruises, vaginal discharge, gonorrhea, mumps, skin diseases, poisoning, pain, and bleeding. The leaves, which are bitter, cooling, and aromatic, are used to relieve itching, coughs, rheumatism, act as an anti-toxic agent, and reduce swelling. Tembelekan flowers are sweet and cooling in nature and can be used for tuberculosis (TB), shortness of breath, and to stop bleeding. This plant is also used as an insect control agent (Dalimartha, 1999). Processing Methods The tembelekan plant (Lantana camara) is processed both traditionally and modernly for external use (wounds/boils) and internal use (coughs/diarrhea). The main methods include crushing the leaves for compresses, boiling 5–7 leaves, or ethanol extraction for lotions and ointments. The leaves must be thoroughly washed and dried (air-dried) before processing. References Azis, S. (2014). Natural Secondary Metabolite Compounds: Theory, Concepts, and Purification Techniques. Yogyakarta. Ansel, H. C. (1989). Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms. Universitas Indonesia Press: Jakarta. Gandjar, I. G., & Abdul, R. (2014). Analytical Pharmaceutical Chemistry. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Gandjar, I. G., & Abdul, R. (2008). Analytical Pharmaceutical Chemistry. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Gandjar, I. G., & Abdul, R. (2007). Analytical Pharmaceutical Chemistry. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hanani, E. (2015). Phytochemical Analysis. EGC Medical Book Publisher: Jakarta. Hidayat, S. (2015). Book of Medicinal Plants. Cibubur, East Jakarta. Herbie, T. (2015). Book of Medicinal Plants and Their Benefits. Octopus Publishing House: Yogyakarta.

Tembelekan (Lantana camara L.) Read More »

Talok/kersen (Muntingia calabura L.)

Nama Latin Muntingia calabura L. Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan) Sub kingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Super divisi : Spermatophyta (berbiji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub kelas : Dilleniidae Bangsa : Malvales (Culumniferae) Suku : Elaeocarpaceae Marga : Muntingia Jenis : Muntingia calabura L. (Shiddiqua, et al. 2010) Deskripsi Umum Kersen/ceri/talok/baleci dapat tumbuh di daerah tropis dan banyak dijumpai oleh masyarakat karena sifat pertumbuhannya tidak memerlukan perlakuan khusus dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik, Kersen (Muntingia calabura L.) dapat berbunga dan berbuah setiap tahun. Keadaan musim berbunga dan berbuah hampir terus menerus tidak menentu (Kosasih dkk, 2013). Kersen atau talok (Muntingia calabura L.) merupakan tumbuhan tropis yang tersebar di berbagai dataran tropis. Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah yang tandus dan toleran terhadap asam dan basa. Buah yang matang memiliki rasa yang manis dan dimakan dalam kondisi segar. Tanaman kersen memiliki pertumbuhan yang cepat dan proporsinya ramping. Tanaman ini asli dari Benua Amerika dan banyak dibudidayakan di Asia. Kandungan Penelitian Khusnawati dan Sulistyowati (2014), daun kersen memiliki kesamaan beberapa kandungan zat gizi seperti daun teh (Camellia sinensis L.) yaitu karbohidrat, vitamin C, kafein dan polifenol. Khasiat Selain memiliki banyak manfaat, daun kersen juga memiliki beberapa efek samping yang dapat mengganggu kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan secara berlebihan. Untuk rebusan daun kersen yang memiliki zat inflamasi dan antibiotik kuat dapat berubah berbahaya bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Cara Pengolahan Teh Herbal (Rebusan): Daftar Pustaka Arum, Y. P., Supartono, & Sudarmin. (2012). Isolasi dan Uji Daya Antimikroba Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.). Jurnal MIPA, 35(2), 165-174. Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura. (n.d.). Informasi Singkat Benih Kersen/Talok (Muntingia calabura L.). Biofarma. (2026). 8 Manfaat Buah Kersen yang Jarang Diketahui untuk Kesehatan Tubuh. Halodoc. (2026). Kerennya Daun Talok Kersen: Kontrol Gula Darah Alami. Krishnaveni, M., & Dhanalakshmi, R. (2014). Penelitian terkait fitokimia Muntingia calabura.

Talok/kersen (Muntingia calabura L.) Read More »

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.)

Nama Latin Malpighia coccigera L.  Taksonomi Kerajaan: Plantae (Plantarum) Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Bangsa (Ordo): Polygalales Suku (Famili): Malpighiaceae Marga (Genus): Malpighia Jenis (Spesies): Malpighia coccigera L.  Kew Science (2024) Deskripsi Umum Tanaman M. coccigera L. mempunyai nama lain yaitu daun serut, bunga mutiara, kelingkit dan daun selaput. Selain itu juga memiliki nama asing yaitu mirten lurus. Tanaman kelingkit berasal dari India Barat yang beriklim sub-tropis, dan banyak ditemukan di Malaysia dan China. Di Indonesia tumbuh di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa berada di dataran tinggi Kandungan Tanaman kelingkit mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menanggulangi produksi radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel yang hebat. Flavonoid dapat menghambat produksi radikal bebas, menghambat produksi enteroksin, dan meningkatkan imunitas tubuh. Khasiat M. coccigera L. merupakan tanaman tradisional yang mempunyai aktivitas farmakologi yaitu sebagai antibakteri, antioksidan, mencegah pembekuan darah, antikanker, antidiabetes, antidiare, sebagai obat batuk, dan memiliki aktivitas sitotoksik Cara Pengolahan Pengolahan tanaman klingit Taiwan umumnya menggunakan bagian daun atau bunga. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum dalam jumlah terbatas sebagai ramuan herbal. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Tanaman ini juga dapat dikeringkan dan diseduh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Pathare, Y. S., Hastak, V. S. dan Bajaj, A. N. (2013). Polymers Used For Fast Disintegrating Oral Films: A review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 21(1), pp. 169–178. 20 Saucedo V.A., Abarca N.A., Ocampo, H.A.G., Reyes, J.A.A., Valdez, L.S.G., Gonzalez, A.L., Alvarado, E.A.D., Ricario R.T. Phytochemical Characterization And Antioxidant Properties Of The Wild Edible Acerola Malpighia umbellata rose’, CYTA – Journal of Food. Taylor & Francis, 16:1(2018):698–706. 21 Betta, F.D., Nehring, P., Seraglio, S.K.T., Schulz, M., Valese, A.C. H., Gonzaga, L.V., Fett, R., Costa, A..O. Phenolic Compounds Determined by LC-MS/MS and In Vitro Antioxidant Capacity of Brazilian Fruits in Two Edible Ripening Stages. Plant Foods for Human Nutrition. 73:4(2018): 302- 307 22 Bala, R. dan Sharma, S. Formulation Optimization and Evaluation Of Fast Dissolving Film Of Aprepitant By Using Design Of Experiment. Bulletin of Faculty of Pharmacy, Cairo University. Elsevier B.V. 56:2(2018):159–168.

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.) Read More »

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.)

Nama Latin Canna edulis Ker Gawl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi               : MagnoliophytaKelas               : LiliopsidaOrdo                : ZingiberalesFamili              : CannaceaeGenus              : CannaSpesies            : Canna edulis Ker Gawl. Plants of the World Online oleh Royal Botanic Gardens, Kew (2024) Deskripsi Umum Ganyong merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini memiliki rimpang (umbi batang) yang berkembang di dalam tanah dan menjadi bagian utama yang dimanfaatkan. Tinggi tanaman dapat mencapai 1–2 meter dengan batang semu yang tegak dan lunak. Daunnya lebar, berbentuk lonjong memanjang, berwarna hijau hingga kemerahan, dengan tulang daun yang jelas. Bunganya berwarna mencolok, umumnya merah, oranye, atau kuning, dan tersusun dalam tandan. Ganyong dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah, terutama tanah gembur dan cukup lembap. Tanaman ini juga cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang subur, sehingga sering dijadikan tanaman alternatif sumber pangan. Kandungan Kimia Rimpang ganyong mengandung berbagai zat yang bermanfaat, terutama karbohidrat dalam bentuk pati (amilum) dengan kadar yang cukup tinggi. Selain itu, ganyong juga mengandung serat, protein dalam jumlah kecil, serta mineral seperti kalsium dan fosfor. Kandungan lainnya meliputi vitamin, terutama vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Khasiat Ganyong dikenal sebagai tanaman pangan sekaligus tanaman obat. Kandungan patinya yang tinggi menjadikan ganyong sebagai sumber energi alternatif pengganti beras atau tepung. Selain itu, ganyong memiliki sifat mudah dicerna sehingga baik untuk penderita gangguan pencernaan. Secara tradisional, ganyong juga digunakan untuk membantu mengatasi diare, memperbaiki fungsi pencernaan, serta menjaga kesehatan tubuh. Kandungan seratnya membantu melancarkan sistem pencernaan, sedangkan antioksidannya berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ganyong umumnya difokuskan pada bagian rimpangnya. Rimpang dapat direbus atau dikukus hingga matang, kemudian dikonsumsi langsung sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, rimpang juga dapat diolah menjadi tepung ganyong dengan cara dikupas, dicuci, diparut, kemudian diperas dan diendapkan untuk diambil patinya, lalu dikeringkan. Tepung ganyong dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk makanan seperti kue, bubur, atau makanan tradisional lainnya. Selain itu, ganyong juga dapat diolah menjadi keripik atau olahan pangan lain sesuai kebutuhan. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Rukmana, R. (2000). Ganyong: Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius. Canna (Canna edulis Ker Gawl.) Latin Name Canna edulis Ker Gawl. Taxonomy Kingdom: PlantaeDivision: MagnoliophytaClass: LiliopsidaOrder: ZingiberalesFamily: CannaceaeGenus: CannaSpecies: Canna edulis Ker Gawl. Plants of the World Online by Royal Botanic Gardens, Kew (2024) General Description Canna is a perennial herb that grows widely in tropical regions. This plant has rhizomes (stem tubers) that develop underground and are the main part used. The plant can reach 1–2 meters in height with erect, soft pseudostems. The leaves are broad, elongated-oval, green to reddish in color, with distinct veins. Its flowers are strikingly colored, generally red, orange, or yellow, and are arranged in clusters. Canna can grow well in various types of soil, especially loose and moderately moist soil. This plant is also quite resistant to less fertile environmental conditions, so it is often used as an alternative food source. Chemical Content Canna rhizomes contain various beneficial substances, especially carbohydrates in the form of starch (starch) at fairly high levels. In addition, canna also contains fiber, small amounts of protein, and minerals such as calcium and phosphorus. Other nutrients include vitamins, especially vitamin C, and phenolic compounds that act as antioxidants. Benefits Canna is known as both a food crop and a medicinal plant. Its high starch content makes it an alternative energy source to replace rice or flour. Furthermore, canna is easily digested, making it good for people with digestive disorders. Traditionally, canna is also used to help treat diarrhea, improve digestive function, and maintain body health. Its fiber content helps smooth the digestive system, while its antioxidants play a role in warding off free radicals. Processing Methods Ganyong processing generally focuses on the rhizome. The rhizome can be boiled or steamed until cooked, then consumed directly as a source of carbohydrates. Additionally, the rhizome can be processed into ganyong flour by peeling, washing, grating, squeezing, and settling to extract the starch, which is then dried. Ganyong flour can be used as a base ingredient in various food products such as cakes, porridge, or other traditional dishes. Furthermore, ganyong can be processed into chips or other food products as needed. Bibliography Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia. Jakarta: Sarana Wana Jaya Foundation.Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2017). Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia.Tjitrosoepomo, G. (2010). Plant Taxonomy. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Rukmana, R. (2000). Ganyong: Cultivation and Post-Harvest. Yogyakarta: Kanisius.

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.) Read More »

Micro Kepyar (Ricinus communis L.)

Nama Latin Ricinus communis L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalpighialesFamili              : EuphorbiaceaeGenus              : RicinusSpesies            : Ricinus communis L. USDA Plants Database (2023) Deskripsi Umum Micro kepyar merupakan bentuk tanaman jarak kepyar yang berukuran lebih kecil (varietas atau hasil budidaya tertentu dari Ricinus communis). Tanaman ini berupa semak dengan tinggi yang relatif lebih pendek dibandingkan jarak kepyar biasa, namun tetap memiliki ciri morfologi yang sama. Batangnya tegak, berwarna hijau hingga kemerahan, dan bertekstur lunak saat muda. Daunnya berbentuk menjari (palmate) dengan 5–9 lobus, berwarna hijau atau kemerahan, serta memiliki tangkai panjang. Bunganya tersusun dalam tandan, dengan bunga jantan dan betina berada dalam satu tanaman (monoecious). Buahnya berbentuk bulat berduri lunak yang berisi biji. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan cukup tahan terhadap kondisi kering, sehingga mudah dibudidayakan di daerah tropis. Kandungan Kimia Tanaman jarak kepyar, termasuk micro kepyar, mengandung berbagai senyawa kimia aktif, antara lain minyak jarak (castor oil), asam risinoleat, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Biji tanaman ini juga mengandung senyawa toksik berupa risin yang bersifat sangat berbahaya apabila tidak diolah dengan benar. Kandungan minyaknya memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi maupun industri. Khasiat Tanaman micro kepyar memiliki berbagai manfaat, terutama dalam pengobatan tradisional. Minyak dari bijinya dikenal sebagai pencahar alami untuk membantu mengatasi sembelit. Selain itu, tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat digunakan untuk mengurangi nyeri serta pembengkakan. Daunnya sering dimanfaatkan sebagai obat luar untuk membantu mengatasi luka, bengkak, dan gangguan kulit. Selain itu, minyak jarak juga digunakan untuk perawatan rambut dan kulit. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman micro kepyar harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada bagian biji karena mengandung racun. Minyak jarak biasanya diperoleh melalui proses pengepresan biji yang telah melalui pengolahan khusus untuk menghilangkan toksisitasnya. Untuk penggunaan tradisional, daun dapat direbus dan air rebusannya digunakan sebagai obat luar atau diminum dalam jumlah terbatas sesuai anjuran. Daun juga dapat dipanaskan atau ditumbuk, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau bengkak. Penggunaan biji secara langsung sangat tidak dianjurkan tanpa pengolahan yang tepat karena berisiko menyebabkan keracunan. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Micro Kepyar (Ricinus communis L.) Read More »

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.)

Nama Latin Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : LamialesFamili              : VerbenaceaeGenus              : StachytarphetaSpesies            : Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl Global Biodiversity Information Facility (GBIF) (2024) Deskripsi Umum Ngokilo merupakan tanaman herba atau semak kecil yang banyak tumbuh liar di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini biasanya ditemukan di tepi jalan, kebun, maupun lahan terbuka. Tingginya berkisar antara 30–100 cm dengan batang yang ramping dan bercabang. Daunnya berbentuk lonjong hingga lanset, berwarna hijau, dengan tepi bergerigi dan permukaan agak kasar. Bunga ngokilo tersusun dalam bentuk bulir memanjang dengan warna ungu kebiruan yang khas. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang cukup subur dengan paparan sinar matahari penuh hingga setengah teduh. Ngokilo dikenal sebagai tanaman liar, namun memiliki potensi sebagai tanaman obat karena kandungan senyawa aktif di dalamnya. Kandungan Kimia Tanaman ngokilo mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta iridoid glikosida. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan tersebut mendukung berbagai aktivitas farmakologis tanaman. Khasiat Dalam pengobatan tradisional, ngokilo dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan, serta antibakteri yang berperan dalam melawan infeksi. Ngokilo juga digunakan sebagai obat penurun demam dan peluruh air seni (diuretik). Selain itu, tanaman ini dipercaya membantu mengatasi gangguan pencernaan, luka ringan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya juga berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ngokilo sebagai obat tradisional umumnya menggunakan bagian daun. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum untuk membantu mengatasi demam atau gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Daun juga dapat dikeringkan, lalu diseduh seperti teh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.) Read More »

Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.)

Nama Latin Justicia gendarussa Burm.f. Taksonomi Kingdom         :PlantaeDivisi               :MagnoliophytaKelas               :MagnoliopsidaOrdo                :LamialesFamili              :AcanthaceaeGenus              :JusticiaSpesies            : Justicia gendarussa Burm.f. World Flora Online (2023) Deskripsi Umum Gandarusa merupakan tanaman perdu yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki tinggi sekitar 1–2 meter dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Daunnya berbentuk lanset, memanjang dengan ujung meruncing, berwarna hijau tua atau keunguan, serta memiliki permukaan yang halus. Bunganya kecil, berwarna putih hingga keunguan, dan tersusun dalam bentuk malai. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) dan juga sebagai tanaman pagar. Gandarusa dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang gembur, subur, serta memiliki drainase yang baik dengan paparan sinar matahari yang cukup. Kandungan Kimia Gandarusa mengandung berbagai senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas farmakologis, di antaranya flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, minyak atsiri, serta senyawa khas seperti gendarusin A dan gendarusin B. Kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan memiliki efek biologis tertentu. Khasiat Tanaman gandarusa memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional. Daunnya dikenal memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan. Selain itu, gandarusa juga bersifat analgesik untuk meredakan nyeri, antipiretik untuk menurunkan demam, serta antibakteri untuk melawan infeksi. Tanaman ini juga telah diteliti memiliki potensi sebagai kontrasepsi pria alami karena kemampuannya dalam mempengaruhi fertilitas. Selain itu, gandarusa digunakan secara tradisional untuk mengobati memar, luka, dan pegal-pegal. Cara Pengolahan Pengolahan gandarusa dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya diminum untuk mengatasi demam atau nyeri. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau bengkak. Daun gandarusa juga dapat dikeringkan, kemudian diseduh seperti teh untuk dikonsumsi sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka (Format APA) Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.) Latin Name Justicia gendarussa Burm.f. Taxonomy Kingdom : PlantaeDivision : MagnoliophytaClass : MagnoliopsidaOrder : LamialesFamily : AcanthaceaeGenus : JusticiaSpecies : Justicia gendarussa Burm.f. World Flora Online (2023) General Description Gandarusa is a shrub that grows widely in tropical regions, including Indonesia. This plant reaches a height of about 1–2 meters with a woody stem and many branches. Its leaves are lance-shaped, elongated with pointed tips, dark green or purplish in color, and have a smooth surface. The flowers are small, white to purplish, and arranged in clusters. This plant is often used as a family medicinal plant (TOGA) and also as a hedge plant. Gandarusa can grow well in loose, fertile soil with good drainage and sufficient sunlight exposure. Chemical Content Gandarusa contains various active compounds that play a role in pharmacological activity, including flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, essential oils, as well as characteristic compounds such as gendarusin A and gendarusin B. These contents act as antioxidants and have certain biological effects. Benefits The gandarusa plant has various benefits in traditional medicine. Its leaves are known to have anti-inflammatory properties that can help reduce inflammation. Additionally, gandarusa also has analgesic properties to relieve pain, antipyretic properties to reduce fever, and antibacterial properties to fight infections. This plant has also been studied for its potential as a natural male contraceptive due to its ability to affect fertility. Furthermore, gandarusa is traditionally used to treat bruises, wounds, and muscle aches. Processing Method Gandarusa can be processed using several simple methods. Fresh leaves can be boiled in water until boiling, then the boiled water can be drunk to treat fever or pain. In addition, the leaves can also be pounded until smooth and used as a topical medicine by applying them to the affected or swollen part of the body. Gandarusa leaves can also be dried, then brewed like tea to be consumed as an herbal drink. References (APA Format) Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Phytochemical Methods. Bandung: ITB.Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2017). Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia.Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Plant Taxonomy. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.) Read More »

Waru (Hibiscus tiliaceus L.)

Nama Latin Hibiscus tiliaceus L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalvalesFamili              : MalvaceaeGenus              : HibiscusSpesies            : Hibiscus tiliaceus L. Tjitrosoepomo (2010) Deskripsi Umum Tanaman waru merupakan tumbuhan berupa pohon yang banyak ditemukan di daerah tropis, khususnya wilayah pesisir. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 5–15 meter. Batangnya berkayu dengan percabangan yang cukup banyak serta memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan. Daun waru berbentuk bulat hingga menyerupai jantung (cordate), berwarna hijau, dan berpermukaan halus. Bunganya berwarna kuning cerah dengan bagian tengah berwarna merah keunguan. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan mengalami perubahan warna menjadi oranye atau kemerahan pada sore hari sebelum layu. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik pada tanah berpasir maupun tanah lembap serta memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti kadar garam (salinitas) yang tinggi. Kandungan Kimia Tanaman waru mengandung berbagai senyawa kimia yang berperan dalam aktivitas biologis, antara lain flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polifenol, serta steroid atau triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan berkontribusi dalam menjaga kesehatan. Khasiat Tanaman waru telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Beberapa khasiat yang diketahui antara lain sebagai anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan, antibakteri untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai penurun demam, obat batuk alami, serta untuk menjaga kesehatan kulit seperti mengatasi bisul dan iritasi. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman waru sebagai obat tradisional dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus selama kurang lebih 10–15 menit, kemudian air rebusannya disaring dan diminum. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau pembengkakan. Bagian daun maupun kulit batang juga dapat dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi serbuk untuk diseduh atau diolah lebih lanjut sebagai bahan herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. Waru (Hibiscus tiliaceus L.) Latin Name Hibiscus tiliaceus L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalvalesFamili              : MalvaceaeGenus              : HibiscusSpesies            : Hibiscus tiliaceus L. Tjitrosoepomo (2010) General Description The waru plant (Hibiscus tiliaceus L.) is a tree commonly found in tropical regions, particularly in coastal areas. It can grow to a height of approximately 5–15 meters. The stem is woody with numerous branches and is covered by grayish-brown bark. The leaves are round to heart-shaped (cordate), green in color, and have a smooth surface. Its flowers are bright yellow with a reddish-purple center. The flowers typically bloom in the morning and gradually change color to orange or reddish in the afternoon before wilting. This plant grows well in both sandy and moist soils and exhibits a high tolerance to harsh environmental conditions, including areas with high salinity levels. Due to its adaptability, the waru plant is widely distributed along coastlines and is often used for shade, environmental conservation, and traditional medicinal purposes. Chemical Contents The waru plant contains various chemical compounds that play a role in biological activities, including flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, polyphenols, and steroids or triterpenoids. These compounds are known to possess antioxidant activity and contribute to maintaining health. Benefits The waru plant has long been used in traditional medicine. Some of its known benefits include its anti-inflammatory properties to reduce inflammation, antibacterial activity to inhibit the growth of microorganisms, and its ability to help accelerate the wound-healing process. In addition, this plant is also used as a fever reducer, a natural cough remedy, and for maintaining skin health, such as treating boils and skin irritation. Processing Methods The processing of the waru plant as a traditional medicine can be carried out using several simple methods. Fresh leaves can be boiled for approximately 10–15 minutes, after which the decoction is filtered and consumed. In addition, the leaves can be crushed into a fine paste and applied externally to parts of the body affected by wounds or swelling. The leaves and bark can also be dried and then ground into powder for brewing or further processing as an herbal ingredient. References Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya. Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2017). Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia.

Waru (Hibiscus tiliaceus L.) Read More »

Scroll to Top