Uncategorized

Talok/kersen (Muntingia calabura L.)

Nama Latin Muntingia calabura L. Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan) Sub kingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Super divisi : Spermatophyta (berbiji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub kelas : Dilleniidae Bangsa : Malvales (Culumniferae) Suku : Elaeocarpaceae Marga : Muntingia Jenis : Muntingia calabura L. (Shiddiqua, et al. 2010) Deskripsi Umum Kersen/ceri/talok/baleci dapat tumbuh di daerah tropis dan banyak dijumpai oleh masyarakat karena sifat pertumbuhannya tidak memerlukan perlakuan khusus dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik, Kersen (Muntingia calabura L.) dapat berbunga dan berbuah setiap tahun. Keadaan musim berbunga dan berbuah hampir terus menerus tidak menentu (Kosasih dkk, 2013). Kersen atau talok (Muntingia calabura L.) merupakan tumbuhan tropis yang tersebar di berbagai dataran tropis. Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah yang tandus dan toleran terhadap asam dan basa. Buah yang matang memiliki rasa yang manis dan dimakan dalam kondisi segar. Tanaman kersen memiliki pertumbuhan yang cepat dan proporsinya ramping. Tanaman ini asli dari Benua Amerika dan banyak dibudidayakan di Asia. Kandungan Penelitian Khusnawati dan Sulistyowati (2014), daun kersen memiliki kesamaan beberapa kandungan zat gizi seperti daun teh (Camellia sinensis L.) yaitu karbohidrat, vitamin C, kafein dan polifenol. Khasiat Selain memiliki banyak manfaat, daun kersen juga memiliki beberapa efek samping yang dapat mengganggu kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan secara berlebihan. Untuk rebusan daun kersen yang memiliki zat inflamasi dan antibiotik kuat dapat berubah berbahaya bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Cara Pengolahan Teh Herbal (Rebusan): Daftar Pustaka Arum, Y. P., Supartono, & Sudarmin. (2012). Isolasi dan Uji Daya Antimikroba Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.). Jurnal MIPA, 35(2), 165-174. Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura. (n.d.). Informasi Singkat Benih Kersen/Talok (Muntingia calabura L.). Biofarma. (2026). 8 Manfaat Buah Kersen yang Jarang Diketahui untuk Kesehatan Tubuh. Halodoc. (2026). Kerennya Daun Talok Kersen: Kontrol Gula Darah Alami. Krishnaveni, M., & Dhanalakshmi, R. (2014). Penelitian terkait fitokimia Muntingia calabura.

Talok/kersen (Muntingia calabura L.) Read More »

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.)

Nama Latin Malpighia coccigera L.  Taksonomi Kerajaan: Plantae (Plantarum) Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Bangsa (Ordo): Polygalales Suku (Famili): Malpighiaceae Marga (Genus): Malpighia Jenis (Spesies): Malpighia coccigera L.  Kew Science (2024) Deskripsi Umum Tanaman M. coccigera L. mempunyai nama lain yaitu daun serut, bunga mutiara, kelingkit dan daun selaput. Selain itu juga memiliki nama asing yaitu mirten lurus. Tanaman kelingkit berasal dari India Barat yang beriklim sub-tropis, dan banyak ditemukan di Malaysia dan China. Di Indonesia tumbuh di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa berada di dataran tinggi Kandungan Tanaman kelingkit mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menanggulangi produksi radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel yang hebat. Flavonoid dapat menghambat produksi radikal bebas, menghambat produksi enteroksin, dan meningkatkan imunitas tubuh. Khasiat M. coccigera L. merupakan tanaman tradisional yang mempunyai aktivitas farmakologi yaitu sebagai antibakteri, antioksidan, mencegah pembekuan darah, antikanker, antidiabetes, antidiare, sebagai obat batuk, dan memiliki aktivitas sitotoksik Cara Pengolahan Pengolahan tanaman klingit Taiwan umumnya menggunakan bagian daun atau bunga. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum dalam jumlah terbatas sebagai ramuan herbal. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Tanaman ini juga dapat dikeringkan dan diseduh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Pathare, Y. S., Hastak, V. S. dan Bajaj, A. N. (2013). Polymers Used For Fast Disintegrating Oral Films: A review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 21(1), pp. 169–178. 20 Saucedo V.A., Abarca N.A., Ocampo, H.A.G., Reyes, J.A.A., Valdez, L.S.G., Gonzalez, A.L., Alvarado, E.A.D., Ricario R.T. Phytochemical Characterization And Antioxidant Properties Of The Wild Edible Acerola Malpighia umbellata rose’, CYTA – Journal of Food. Taylor & Francis, 16:1(2018):698–706. 21 Betta, F.D., Nehring, P., Seraglio, S.K.T., Schulz, M., Valese, A.C. H., Gonzaga, L.V., Fett, R., Costa, A..O. Phenolic Compounds Determined by LC-MS/MS and In Vitro Antioxidant Capacity of Brazilian Fruits in Two Edible Ripening Stages. Plant Foods for Human Nutrition. 73:4(2018): 302- 307 22 Bala, R. dan Sharma, S. Formulation Optimization and Evaluation Of Fast Dissolving Film Of Aprepitant By Using Design Of Experiment. Bulletin of Faculty of Pharmacy, Cairo University. Elsevier B.V. 56:2(2018):159–168.

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.) Read More »

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.)

Nama Latin Canna edulis Ker Gawl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi               : MagnoliophytaKelas               : LiliopsidaOrdo                : ZingiberalesFamili              : CannaceaeGenus              : CannaSpesies            : Canna edulis Ker Gawl. Plants of the World Online oleh Royal Botanic Gardens, Kew (2024) Deskripsi Umum Ganyong merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini memiliki rimpang (umbi batang) yang berkembang di dalam tanah dan menjadi bagian utama yang dimanfaatkan. Tinggi tanaman dapat mencapai 1–2 meter dengan batang semu yang tegak dan lunak. Daunnya lebar, berbentuk lonjong memanjang, berwarna hijau hingga kemerahan, dengan tulang daun yang jelas. Bunganya berwarna mencolok, umumnya merah, oranye, atau kuning, dan tersusun dalam tandan. Ganyong dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah, terutama tanah gembur dan cukup lembap. Tanaman ini juga cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang subur, sehingga sering dijadikan tanaman alternatif sumber pangan. Kandungan Kimia Rimpang ganyong mengandung berbagai zat yang bermanfaat, terutama karbohidrat dalam bentuk pati (amilum) dengan kadar yang cukup tinggi. Selain itu, ganyong juga mengandung serat, protein dalam jumlah kecil, serta mineral seperti kalsium dan fosfor. Kandungan lainnya meliputi vitamin, terutama vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Khasiat Ganyong dikenal sebagai tanaman pangan sekaligus tanaman obat. Kandungan patinya yang tinggi menjadikan ganyong sebagai sumber energi alternatif pengganti beras atau tepung. Selain itu, ganyong memiliki sifat mudah dicerna sehingga baik untuk penderita gangguan pencernaan. Secara tradisional, ganyong juga digunakan untuk membantu mengatasi diare, memperbaiki fungsi pencernaan, serta menjaga kesehatan tubuh. Kandungan seratnya membantu melancarkan sistem pencernaan, sedangkan antioksidannya berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ganyong umumnya difokuskan pada bagian rimpangnya. Rimpang dapat direbus atau dikukus hingga matang, kemudian dikonsumsi langsung sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, rimpang juga dapat diolah menjadi tepung ganyong dengan cara dikupas, dicuci, diparut, kemudian diperas dan diendapkan untuk diambil patinya, lalu dikeringkan. Tepung ganyong dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk makanan seperti kue, bubur, atau makanan tradisional lainnya. Selain itu, ganyong juga dapat diolah menjadi keripik atau olahan pangan lain sesuai kebutuhan. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Rukmana, R. (2000). Ganyong: Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.) Read More »

Micro Kepyar (Ricinus communis L.)

Nama Latin Ricinus communis L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalpighialesFamili              : EuphorbiaceaeGenus              : RicinusSpesies            : Ricinus communis L. USDA Plants Database (2023) Deskripsi Umum Micro kepyar merupakan bentuk tanaman jarak kepyar yang berukuran lebih kecil (varietas atau hasil budidaya tertentu dari Ricinus communis). Tanaman ini berupa semak dengan tinggi yang relatif lebih pendek dibandingkan jarak kepyar biasa, namun tetap memiliki ciri morfologi yang sama. Batangnya tegak, berwarna hijau hingga kemerahan, dan bertekstur lunak saat muda. Daunnya berbentuk menjari (palmate) dengan 5–9 lobus, berwarna hijau atau kemerahan, serta memiliki tangkai panjang. Bunganya tersusun dalam tandan, dengan bunga jantan dan betina berada dalam satu tanaman (monoecious). Buahnya berbentuk bulat berduri lunak yang berisi biji. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan cukup tahan terhadap kondisi kering, sehingga mudah dibudidayakan di daerah tropis. Kandungan Kimia Tanaman jarak kepyar, termasuk micro kepyar, mengandung berbagai senyawa kimia aktif, antara lain minyak jarak (castor oil), asam risinoleat, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Biji tanaman ini juga mengandung senyawa toksik berupa risin yang bersifat sangat berbahaya apabila tidak diolah dengan benar. Kandungan minyaknya memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi maupun industri. Khasiat Tanaman micro kepyar memiliki berbagai manfaat, terutama dalam pengobatan tradisional. Minyak dari bijinya dikenal sebagai pencahar alami untuk membantu mengatasi sembelit. Selain itu, tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat digunakan untuk mengurangi nyeri serta pembengkakan. Daunnya sering dimanfaatkan sebagai obat luar untuk membantu mengatasi luka, bengkak, dan gangguan kulit. Selain itu, minyak jarak juga digunakan untuk perawatan rambut dan kulit. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman micro kepyar harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada bagian biji karena mengandung racun. Minyak jarak biasanya diperoleh melalui proses pengepresan biji yang telah melalui pengolahan khusus untuk menghilangkan toksisitasnya. Untuk penggunaan tradisional, daun dapat direbus dan air rebusannya digunakan sebagai obat luar atau diminum dalam jumlah terbatas sesuai anjuran. Daun juga dapat dipanaskan atau ditumbuk, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau bengkak. Penggunaan biji secara langsung sangat tidak dianjurkan tanpa pengolahan yang tepat karena berisiko menyebabkan keracunan. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Micro Kepyar (Ricinus communis L.) Read More »

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.)

Nama Latin Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : LamialesFamili              : VerbenaceaeGenus              : StachytarphetaSpesies            : Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl Global Biodiversity Information Facility (GBIF) (2024) Deskripsi Umum Ngokilo merupakan tanaman herba atau semak kecil yang banyak tumbuh liar di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini biasanya ditemukan di tepi jalan, kebun, maupun lahan terbuka. Tingginya berkisar antara 30–100 cm dengan batang yang ramping dan bercabang. Daunnya berbentuk lonjong hingga lanset, berwarna hijau, dengan tepi bergerigi dan permukaan agak kasar. Bunga ngokilo tersusun dalam bentuk bulir memanjang dengan warna ungu kebiruan yang khas. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang cukup subur dengan paparan sinar matahari penuh hingga setengah teduh. Ngokilo dikenal sebagai tanaman liar, namun memiliki potensi sebagai tanaman obat karena kandungan senyawa aktif di dalamnya. Kandungan Kimia Tanaman ngokilo mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta iridoid glikosida. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan tersebut mendukung berbagai aktivitas farmakologis tanaman. Khasiat Dalam pengobatan tradisional, ngokilo dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan, serta antibakteri yang berperan dalam melawan infeksi. Ngokilo juga digunakan sebagai obat penurun demam dan peluruh air seni (diuretik). Selain itu, tanaman ini dipercaya membantu mengatasi gangguan pencernaan, luka ringan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya juga berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ngokilo sebagai obat tradisional umumnya menggunakan bagian daun. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum untuk membantu mengatasi demam atau gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Daun juga dapat dikeringkan, lalu diseduh seperti teh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.) Read More »

Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.)

Nama Latin Justicia gendarussa Burm.f. Taksonomi Kingdom         :PlantaeDivisi               :MagnoliophytaKelas               :MagnoliopsidaOrdo                :LamialesFamili              :AcanthaceaeGenus              :JusticiaSpesies            : Justicia gendarussa Burm.f. World Flora Online (2023) Deskripsi Umum Gandarusa merupakan tanaman perdu yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki tinggi sekitar 1–2 meter dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Daunnya berbentuk lanset, memanjang dengan ujung meruncing, berwarna hijau tua atau keunguan, serta memiliki permukaan yang halus. Bunganya kecil, berwarna putih hingga keunguan, dan tersusun dalam bentuk malai. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) dan juga sebagai tanaman pagar. Gandarusa dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang gembur, subur, serta memiliki drainase yang baik dengan paparan sinar matahari yang cukup. Kandungan Kimia Gandarusa mengandung berbagai senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas farmakologis, di antaranya flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, minyak atsiri, serta senyawa khas seperti gendarusin A dan gendarusin B. Kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan memiliki efek biologis tertentu. Khasiat Tanaman gandarusa memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional. Daunnya dikenal memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan. Selain itu, gandarusa juga bersifat analgesik untuk meredakan nyeri, antipiretik untuk menurunkan demam, serta antibakteri untuk melawan infeksi. Tanaman ini juga telah diteliti memiliki potensi sebagai kontrasepsi pria alami karena kemampuannya dalam mempengaruhi fertilitas. Selain itu, gandarusa digunakan secara tradisional untuk mengobati memar, luka, dan pegal-pegal. Cara Pengolahan Pengolahan gandarusa dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya diminum untuk mengatasi demam atau nyeri. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau bengkak. Daun gandarusa juga dapat dikeringkan, kemudian diseduh seperti teh untuk dikonsumsi sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka (Format APA) Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.) Read More »

Waru (Hibiscus tiliaceus L.)

Nama Latin Hibiscus tiliaceus L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalvalesFamili              : MalvaceaeGenus              : HibiscusSpesies            : Hibiscus tiliaceus L. Tjitrosoepomo (2010) Deskripsi Umum Tanaman waru merupakan tumbuhan berupa pohon yang banyak ditemukan di daerah tropis, khususnya wilayah pesisir. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 5–15 meter. Batangnya berkayu dengan percabangan yang cukup banyak serta memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan. Daun waru berbentuk bulat hingga menyerupai jantung (cordate), berwarna hijau, dan berpermukaan halus. Bunganya berwarna kuning cerah dengan bagian tengah berwarna merah keunguan. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan mengalami perubahan warna menjadi oranye atau kemerahan pada sore hari sebelum layu. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik pada tanah berpasir maupun tanah lembap serta memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti kadar garam (salinitas) yang tinggi. Kandungan Kimia Tanaman waru mengandung berbagai senyawa kimia yang berperan dalam aktivitas biologis, antara lain flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polifenol, serta steroid atau triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan berkontribusi dalam menjaga kesehatan. Khasiat Tanaman waru telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Beberapa khasiat yang diketahui antara lain sebagai anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan, antibakteri untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai penurun demam, obat batuk alami, serta untuk menjaga kesehatan kulit seperti mengatasi bisul dan iritasi. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman waru sebagai obat tradisional dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus selama kurang lebih 10–15 menit, kemudian air rebusannya disaring dan diminum. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau pembengkakan. Bagian daun maupun kulit batang juga dapat dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi serbuk untuk diseduh atau diolah lebih lanjut sebagai bahan herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Waru (Hibiscus tiliaceus L.) Read More »

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume)

Aerva sanguinolenta (L.) Blume Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Caryophyllidae Ordo : Caryophyllales Famili : Amaranthaceae Genus : Aerva Spesies : Aerva sanguinolenta (L.) Blume  (Backer and Bakhuizen van den Brink, 1965) Sambang colok adalah salah satu spesies tumbuhan berbentuk perdu kecil dari famili Amaranthaceae (suku bayam-bayaman) yang memiliki siklus hidup semusim (annual). Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim tropis basah. Nama ilmiah Aerva sanguinolenta pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1826. Sambang colok (Iresine herbstii) merupakan salah satu tanaman obat yang namanya kurang dikenal oleh masyarakat. Rebusan cabang-cabang muda sambang colok digunakan untuk mengobati haematuria dan nyeri haid. Daun sambang colok mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol disamping itu daunnya juga mengandung minyak atsiri. Tanaman yang umum ditanam sebagai tanaman hias ini mempunyai sifat diuretik, anti-inflamasi, dan antipiretik  Daun sambang colok dalam pengobatan biasa digunakan sebagai obat haid kurang teratur, obat untuk menghilangkan rasa nyeri haid, obat kencing kurang lancar, obat kencing nanah, obat kurang darah, obat keputihan, obat cacing dan obat radang rahim Cara Rebusan (Pemakaian Dalam) Ini adalah metode paling umum untuk mengobati penyakit dalam seperti nyeri haid atau kencing batu.Bahan: Ambil sekitar 15-30 gram daun sambang colok segar (atau 10-15 gram yang sudah kering). Proses: Cuci bersih daun sambang colok. Rebus dengan 3 gelas air (sekitar 600 ml) hingga tersisa 1,5 gelas.Penggunaan: Saring dan minum air rebusan tersebut. Umumnya diminum 2-3 kali sehari, pagi dan sore. Nurrosyidah, I. H., et al. (2020). Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Berbasis Pengetahuan Lokal di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. [Penelitian terkait penggunaan tanaman obat/sambang colok]. Warta Hortusmed Edisi 1 2020 (2020). B2P2TOOT Tawangmangu (terbit 18 September 2020)..Studi Pustaka/Kajian Metabolit (2026). Referensi terkait identifikasi morfologi dan metabolit sekunder (contoh: flavonoid total) yang mencakup tanaman sejenis. [Catatan: Berdasarkan data pencarian, studi komprehensif sering dirilis dalam jurnal penelitian pertanian terkait metabolit].

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume) Read More »

Kamboja (Plumeria sp.)

Nama Latin Plumeria sp. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae)Ordo : GentianalesFamili : ApocynaceaeGenus : Plumeria (Adrian ,2008) Definisi Umum Kamboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria yang umumnya berupa pohon kecil atau semak, berbatang sukulen (berair), dan memiliki getah putih. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah namun telah beradaptasi luas di daerah tropis, sering ditanam sebagai tanaman hias, peneduh, atau di area pemakaman. Bunganya harum, terdiri dari lima kelopak dengan warna putih, kuning, merah muda, hingga merah. Kandungan Tanaman kamboja (Plumeria acuminate, W.T.Ait) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (!967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Ait mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996). Khasiat Tanaman kamboja digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai: Cara Pengolahan Daftar Pustaka Center for Collaborative Research on Pharmacy (CCRF) UGM. (2008). Kamboja (Plumeria acuminata). Dalimartha, S., dr., 1999, Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, hal 62-63, Penebar Swadata, Jakarta. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. (2021). Klasifikasi dan Manfaat Tanaman Kamboja. Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (2025). Bunga Kamboja (Plumeria sp.). Jurnal Ilmiah Stigma (Unipasby). (n.d.). Pengaruh Ekstrak Etil Asetat Getah Kamboja (Plumeria sp.). Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), Departemen Kesehatan RI, Jakarta, page 452-453 Tampubolon, A.S., 1967, Obat Asli Indonesia, 214-215, Dian Rakjat, Jakarta

Kamboja (Plumeria sp.) Read More »

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

Scroll to Top