Nama Ilmiah
Kalanchoe pinnata
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Saxifragales
Famili : Crassulaceae
Genus : Kalanchoe
Seksi : Bryophyllum
Spesies : Kalanchoe pinnata
(Sumber: USDA Plants Database; Plants of the World Online)
Definisi Umum
Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L). Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) merupakan tanaman dengan ciri-ciri daunnya yang tebal dan berair (Amiyati, 2015). Daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, peluruh dahak, radang dan luka bakar (Purwitasari, 2017).
Uji fitokimia daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) positif mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid, tanin, saponin, dan steroid (Almeida, 2006). Menurut Yantih, (2011), Isolasi dan karakterisasi senyawa ekstrak etanol daun cocor bebek, hasil FTIR menunjukkan senyawa flavonoid, tanin, dan saponin memiliki intensitas yang kuat di daerah 3550cm⁻¹-3200cm⁻¹. Kandungan senyawa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) diduga memiliki kemiripan yang sama dengan ekstrak rimpang kencur yang memiliki aktivitas antiinflamasi dengan persen inhibisi sebesar 51,27%.
Senyawa flavonoid diduga berperan penting pada aktivitas antiinflamasi dengan cara menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat (Hasanah, 2011). Daun cocor bebek merupakan spesies Crassulaceae yang kaya akan senyawa fenolik yaitu kuersetin dan merupakan flavonoid utama daun cocor bebek sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi (Costa, 2008).
Kandungan
Daun cocor bebek mengandung senyawa flavonoid, senyawa tanin dan senyawa saponin. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Kandungan flavonoid ini bersifat polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil ataupun mengikat gula, oleh karena itu flavonoid umumnya larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, dan butanol. Flavonoid dapat digunakan sebagai antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel terhadap efek kerusakan oleh oksigen reaktif. Flavonoid juga dapat mempengaruhi kenaikan jumlah trombosit dan memiliki bioaktivitas sebagai anti kanker, antivirus, anti bakteri, anti peradangan dan anti alergi (Fitriyah, 2013). Flavonoid juga dapat mempengaruhi kecepatan proses inflamasi pada penyembuhan luka dan dapat melindungi luka dari radikal bebas, flavonoid telah disintesis oleh tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba sehingga tidak mengherankan jika senyawa flavonoid efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme.
Tanin bersifat antiseptik pada permukaan luka bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan sebagai penangkal infeksi pada kulit, mukosa, dan infeksi pada luka (Elis, 2013). Tanin juga memiliki efek menangkal radikal bebas, oksigenasi, meningkatkan kontraksi luka, meningkatkan pembentukan pembuluh darah, dan jumlah fibroblas (Pratiwi, 2018). Saponin merupakan salah satu kelas senyawa glikosida, steroid, triterpenoid struktur dan spesifitas yang memiliki solusi koloid bentuk dalam air dan berbusa seperti sabun. Ada menggambarkan sekelompok senyawa kompleks dan molekul besar yang memiliki banyak manfaat. Saponin dapat ditemukan pada akar dan daun tanaman juga sebagai antimikroba seperti virus antibakteri dan antiviral, kehadiran saponin ditandai dengan keberadaan dari solusi koloid yang stabil fungsi sebagai pembersih dan mampu merangsang pembentukan kolagen, suatu protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka lebih baik (Putri, 2015).
Saponin dapat diklasifikasikan sebagai steroid, triterpenoid atau alkaloid tergantung pada sifat aglikon, dan bagian aglikon dari saponin disebut sebagai sapogenin yang umumnya oligosakarida. Steroid saponin hormon dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok dengan reseptor yang mengikat mereka glikortikoid, kortikoids, mineral, androgen, estrogen, prostagen, vitamin D, dan erathormon. Steroid dalam studi klinis modern telah mendukung peran mereka sebagai anti inflamasi dan analgesik agen (Pratiwi, 2018).
Khasiat
Secara tradisional, Kalanchoe pinnata digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti:
- Anti Inflamasi
- Antimikroba dan antiseptik alami
- Antipiretik dan analgesik
- Obat batuk dan asma
- Antikaker (Potensial)
Cara Pengolahan
a. Untuk luka dan bisul
Daun segar dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Gunakan 2–3 kali sehari.
b. Untuk luka bakar ringan
Ambil daun segar, haluskan, lalu oleskan langsung pada area luka. Lakukan secara rutin sampai kondisi membaik.
c. Untuk batuk
Rebus 2–3 lembar daun dalam 1 gelas air selama 10–15 menit. Saring dan minum 1–2 kali sehari.
d. Untuk radang atau bengkak
Daun ditumbuk dan digunakan sebagai kompres pada bagian tubuh yang meradang.
e. Sebagai antiinflamasi internal
Ekstrak daun dapat dikonsumsi dalam bentuk rebusan dengan dosis terbatas (konsultasi dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang).
Daftar Pustaka
Almeida, A. P. (2006). Phytochemical and pharmacological studies of Kalanchoe pinnata. Journal of Ethnopharmacology.
Amiyati. (2015). Pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam pengobatan tradisional. Jakarta: Penebar Swadaya.
Costa, S. S. (2008). Flavonoids and phenolic compounds of Kalanchoe pinnata. Phytochemistry Reviews.
Elis, R. (2013). Peran tanin dalam penyembuhan luka. Jurnal Farmasi Indonesia.
Fitriyah, N. (2013). Aktivitas antioksidan flavonoid pada tanaman obat. Jurnal Biologi.
Hasanah, U. (2011). Mekanisme flavonoid sebagai antiinflamasi. Jurnal Kedokteran.
Pratiwi, D. (2018). Efektivitas senyawa tanin dan saponin dalam penyembuhan luka. Jurnal Ilmu Farmasi.
Purwitasari, E. (2017). Studi etnobotani tanaman obat di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press.
Putri, A. (2015). Saponin sebagai agen penyembuhan luka. Jurnal Kimia Farmasi.
Yantih. (2011). Isolasi dan karakterisasi senyawa aktif daun cocor bebek menggunakan FTIR. Skripsi.
