rnd

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

Brojo Lintang

Nama latin Belamcanda chinensis (L.) DC Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Belamcanda Spesies : Belamcanda chinensis (L.) DC. (Syahrin, 2023)\ Definisi Umum Brojo lintang berasal dari Asia Timur, menyebar di daerah Jepang, India, dan Indo-China, dan Amerika Utara. Brojo lintang sering dijadikan tanaman hias pada pekarangan rumah. Namun tanaman ini ternyata memiliki beberapa khasiat dan berguna untuk kesehatan. Telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati gangguan paru-paru dan hati, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan. Jamaka, Sulinga (Sunda), Semprit, Wordi (Jawa), Karimenga kulo, Katna, Ketep, Ketew, Kiris (Minahasa).  Semak, herba, tinggi 0,6-1,0m. Daun berumput, seperti tali, tersusun kipas pipih pada batang pendek tegak. Bunganya berwarna kuning jingga bertitik merah, menggulung rapat setelah diserbuki. Buah polong kering, matang dari hijau menjadi coklat, dibelah hingga terlihat kelompok biji. Biji berwarna hitam, beracun jika tertelan. Ideal sebagai tanaman penutup tanah yang berbunga bebas dan mencolok di perbatasan bunga dengan tanah lembab dan memiliki drainase yang baik. Mampu mekar di tempat teduh parsial. Rimpang berwarna coklat pucat. Perbanyak dengan pembagian bola akar atau biji.  Kandungan Flavonoid, terpenoid, quinones, senyawa fenolik, ketones, glikosida skekanin, belamkandin, dan iridin. Khasiat Antiinflamasi, antipiretik, ekspektoran, sakit perut dan purgatif, mengobati asma, bau mulut, batuk, masalah pencernaan, radang amandel, penurun panas, mencegah kerusakan hati. Daun untuk mengobati sembelit, sakit pinggang, sakit tenggorokan, asma, batuk dan penyakit kulit. Akar untuk mengobati radang amandel, pembengkakan limfah/hati dan demam nifas. Bunga dan daun untuk menurunkan demam. Cara Pengolahan Hepatitis Penurun demam Daftar Pustaka CABI. (2020). Invasive Species Compendium. Iris domestica(blackberry lily). https://www.cabi.org/isc/datasheet/62815878. 21-10-2020. Fern, Ken. (2014). Useful Tropical Plants. Iris domestica. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Bixa+orellana. 21-10-2020. Stuart Xchange. (2015). Philippine Medicinal Plants. Abaniko. http://www.stuartxchange.com/Abaniko.html. 21-10-2020.

Brojo Lintang Read More »

Bidara Upas

Nama latin Merremia mammosa Chois  Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan)  Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)  Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)  Divisio : Magnoliophyta (berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub-kelas : Asteridae  Ordo : Solanales  Familia : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)  Genus : Merremia  Spesies : Merremia mammosa Chois (Anonim, 2007) Deskripsi umum Decalobanthus mammosus atau Bidara Upas merupakan salah satu tanaman dari keluarga Convolvulaceae yang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari wilayah India, Pulau Andaman, dan Indo-Cina. Di Indonesia bidara upas ini dibudidayakan di Pulau Jawa, Bali, Maluku, dan Madura sebagai tanaman obat dan sumber makanan (bagian umbinya). Spesies ini adalah salah satu spesies langka dan termasuk dalam kriteria langka berdasarkan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003). Di wilayah Indonesia dan Malaysia, spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang secara empiris berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bidara upas juga merupakan bahan herbal yang banyak dijual sebagai jamu gendong dan digunakan dalam industri kecil obat tradisional. Selain itu, bidara upas juga telah digunakan masyarakat sebagai sumber serat, dimana batangnya dapat menghasilkan serat yang sangat halus dan kuat, dengan kilau satin, yang dapat dibuat menjadi kain. Kandungan Zat oxydase (getahnya), flavonoid, kuinon, senyawa fenolik, triterpenoid dan steroid.  Khasiat Menurunkan demam, mengobati gangguan pernafasan, pencernaan, luka akibat gigitan ular atau luka bakar, diabetes, batuk, suara serak, difteri, radang tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang usus buntu, tifus, sembelit, buang air besar darah dan lendir, muntah darah, kusta, melanoma, sifilis (lues), batu kantung kemih atau kencing batu, digunakan dalam terapi pengobatan kanker, mengatasi keracunan makanan, menghilangkan bengkak, memperlancar ASi (penggunaan eksternal), bersifat sebagai pencahar dan penyejuk. Memiliki aktivitas sebagai antinflamasi, analgetik (menghilangkan rasa sakit), antidot (menetralkan racun). Cara pengolahan Untuk diabetes,  Daftar pustaka Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Perbanyakan Vegetatif Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) Kebun Raya Bogor. Berita Biologi, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati 16(2), Agustus 2017. Herbal Medicine. 2014. Diabetes mellitus use Merremia mammosa. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. 07-09-2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceeding of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters. Bidara Upas Latin name Merremia mammosa Chois Taxonomy Kingdom: Plantae (plants) Subkingdom: Tracheobionta (vascular plants) Superdivision: Spermatophyta (seed-bearing plants) Division: Magnoliophyta (flowering plants) Class: Magnoliopsida (dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Solanales Family: Convolvulaceae (morning glory family) Genus: Merremia Species: Merremia mammosa Chois (Anonymous, 2007) General Description Decalobanthus mammosus, also known as Bidara Upas, is a plant in the Convolvulaceae family that is not native to Indonesia but originates from India, the Andaman Islands, and Indochina. In Indonesia, Bidara Upas is cultivated on the islands of Java, Bali, Maluku, and Madura as a medicinal plant and a food source (its tuber). This species is classified as rare and meets the criteria for rarity under the Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan issued by the National Development Planning Agency (2003). In Indonesia and Malaysia, this species is widely used as a medicinal plant with empirically proven efficacy for treating various ailments. Bidara upas is also a herbal ingredient widely sold as a traditional herbal remedy and used in small-scale traditional medicine industries. Additionally, bidara upas has been used by communities as a source of fiber, as its stems produce very fine and strong fibers with a satin sheen, which can be made into fabric. Composition Oxidase (latex), flavonoids, quinones, phenolic compounds, triterpenoids, and steroids. Benefits Reduces fever, treats respiratory and digestive disorders, snake bites or burns, diabetes, cough, hoarseness, diphtheria, sore throat, pneumonia, appendicitis, typhoid, constipation, bloody and mucus-filled stools, vomiting blood, leprosy, melanoma, syphilis (lues), bladder stones, used in cancer therapy, treating food poisoning, reducing swelling, promoting breast milk flow (external use), and acting as a laxative and cooling agent. It possesses anti-inflammatory, analgesic (pain-relieving), and antidotal (toxin-neutralizing) properties. Preparation For diabetes, Take 100 g of bidara upas root and wash it thoroughly. Grate it, then squeeze out the juice using a piece of cloth. Drink it every morning, half an hour before eating. References Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Vegetative Propagation of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) at the Bogor Botanical Garden. Berita Biologi, Journal of Biological Sciences 16(2), August 2017. Herbal Medicine. 2014. Use of Merremia mammosa for Diabetes Mellitus. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. September 7, 2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceedings of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters”

Bidara Upas Read More »

Bunga Pagoda

Nama Latin Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus : Clerodendron  Spesies : Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet  (Kurnianingsih, 2010) Deskripsi umum Bunga pagoda berasal dari China kemudian menyebar ke seluruh dunia. Umumnya ditanam di taman, pinggir jalan, pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Disebut bunga pagoda karena memiliki bentuk bunga yang unik bersusun seperti pagoda. Selain indah dan dijadikan tanaman hias, pagoda juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tanaman daun bunga pagoda umumnya merupakan salah satu tanaman hias yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tanaman ini merupakan tanaman perdu meranggas, tinggi 1-3 m, batangnya dipenuhi rambut halus. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur melebar, pangkal daun berbentuk jantung, daun tua bercangap menjari, panjangnya dapat mencapai 30 cm, bunganya majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk piramida dan keluar dari ujung tangkai, buahnya berbentuk bulat. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan biji. Bunga pagoda ini merupakan tanaman obat yang berkhasiat untuk berbagai macam penyakit pada manusia. Rasa daunnya manis, asam, agak kelat, dan bersifat netral  Kandungan Alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, zat samak, saponin, polifenol, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Khasiat Mengobati asam urat, mengobati wasir berdarah, mengobati luka, peluruh air seni, menyembuhkan bengkak, antiradang, menghancurkan darah beku, mengatasi insomnia. Cara pengolahan  Untuk penyakit yang proses penyembuhannya menggunakan akar, digunakan sebanyak 30 sampai 90 gram akar lalu digodok atau dijadikan bubuk, lalu diseduh dan diminum. Sedangkan penyakit yang disembuhkan dengan daunnya, pemakaiannya cukup dengan melumatkan beberapa daun segar yang kemudian dibubuhkan pada tempat yang sakit. Dan untuk memanfaatkan bunganya, digunakan bunga yang sudah dikeringkan, talu disajikan dalam bentuk serbuk. Atau bisa dengan merebusnya dan diminum setelah dingin. Untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal- gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan banga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti keputihan Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes Pagoda Flower Latin Name Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taxonomy Kingdom: Plantae (Plants) Subkingdom: Tracheobionta (Vascular Plants) Superdivision: Spermatophyta (Seed-bearing Plants) Division: Magnoliophyta (Flowering Plants) Class: Magnoliopsida (Dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Verbenaceae Genus: Clerodendron Species: Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet (Kurnianingsih, 2010) General Description The pagoda flower originates from China and has since spread throughout the world. It is commonly grown in gardens, along roadsides, and in home yards as an ornamental plant. It is called the pagoda flower because its blossoms have a unique, tiered shape resembling a pagoda. In addition to being beautiful and used as an ornamental plant, the pagoda flower also offers health benefits. The pagoda flower is generally one of the most common ornamental plants grown in home yards. This plant is a deciduous shrub, 1–3 m tall, with stems covered in fine hairs. The leaves are simple, petiolate, and arranged oppositely. The leaf blades are broadly ovate, with a heart-shaped base; mature leaves are deeply lobed, and can reach up to 30 cm in length. The flowers are red, composed of small florets clustered into a pyramid shape and emerging from the tip of the stem; the fruit is round. The pagoda flower can be propagated by seed. The pagoda flower is a medicinal plant effective for treating various human ailments. The leaves have a sweet, sour, and slightly astringent taste and possess cooling properties. Components Alkaloids, flavonoids, steroids, terpenoids, tannins, saponins, polyphenols, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Benefits Treats gout, treats bleeding hemorrhoids, heals wounds, promotes urination, reduces swelling, anti-inflammatory, dissolves blood clots, treats insomnia. Preparation Method For ailments treated with the root, use 30 to 90 grams of the root, which is then boiled or ground into a powder, brewed, and consumed. For ailments treated with the leaves, simply crush a few fresh leaves and apply them to the affected area. To use the flowers, dried flowers are used, often in powder form. Alternatively, they can be boiled and consumed once cooled. This is effective for washing bleeding wounds, bleeding hemorrhoids, and itching (pruritus). Additionally, fresh flowers can be finely ground and applied to the affected area, such as for vaginal discharge. Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes

Bunga Pagoda Read More »

Bunga Pukul Empat

Nama latin Mirabilis jalapa L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Sub kingdom : Tracheobionta  Seb devision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Clas : Magnoliopsida Subclass : Caryophylidae Order : Caryophyllales Family : Nyctaginaceae  Genus : Mirabilis  Spesies : Mirabilis jalapa L.  (Ramesh et al., 2014)  Definisi umum Indonesia: kembang pukul empat. Sumatra: kempang pagi sore, kembang pukul empat, bunga waktu kecil. Jawa: kederat, segerat, tegerat. Nusatenggara: noja, koderat, bunga ledonosok, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga,bodoko sina, bunga teteapa, bunga-bunga paranggi, bunga-bunga parengki. Maluku: kupa, oras, cako, raha.Herba tahunan, tegak, tinggi 20-80 cm, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam orang sebagai tanaman hias  di pekarangan atau sebagai pembatas pagar rumah. Tumbuh di dataran rendah yang cukup mendapat sinar matahari maupun di daerah perbukitan. Termasuk suku kampah-kampahan, berbatang basah, daunnya berbentuk jantung, warna hijau tua, panjang 2-11 cm, lebar 7-8 cm, pangkal daun mambulat, ujung meruncing, tepi daun rata, letak berhadapan, mempunyai tangkai daun yang panjangnya 5-6 cm. Bunganya berbentuk terompet, dengan banyak macam warna antara lain: merah, putih, jingga, kuning, kombinasi/belang-belang. Mekar di waktu sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Buahnya keras warna hitam berbentuk telur dapat dibuat bedak. Kulit umbinya bewarna coklat kehitaman berbentuk bulat memanjang, panjang 7-9 cm dengan diameter 2-5 cm, isi umbi bewarna putih. Kandungan Akar mengandung betaxanthins. Buah mengandung zat tepung, lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), zat asam minyak (46,9%).  Khasiat Selain sebagai tanaman hias, tanaman pukul empat memiliki manfaat sebagai antioksidan dan aktivitas sitotoksisitas (Rumzhum et al., 2008), antiartritis, (Augustine et al., 2013), antispasmodik (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti inflamasi (Singh et al., 2010), efek hipoglikemia dan 9 hipolipidemik (Zhou et al., 2011), antibakteri (Devi, 2010). Aktivitas farmakologi pada berbagai ekstrak yang dilaporkan oleh Shaik et al. (2012), menunjukkan aktivitas antidiabetes, antioksidan, antimikroba, antifungal, antiviral, dan penyakit urinan. Cara pengolahan a. Acute arthritis: akar segar direbus lalu diminum, bila badan panas ditambah tahu. b. Bunga putih sebanyak 120 gram, direbus lalu minum.  c. Bisul:    1) Pada bisulnya dioleskan sedikit minyak kemiri. Daun kembang pukul empat dilayukan diatas api, kemudian dioleskan sedikit minyak kelapa, tengahnya dilubang dan letakkan diatas bisul. 2)   10 lembar kembang pukul empat dicuci kemudian dilumatkan ditambah air garam secukupnya, ditempelkan pada bisul dan sekelilingnya lalu dibalut. 3)   Akar segar dibuang kulitnya kemudian dilumatkan dan ditambah gula enau. Tempelkan pada bisulnya, sehari diganti 2 kali. d. Jerawat:Buahnya mengandung zat tepung, dibuat tepung bedak, tepung bedak ditambah air kemudian dioleskan. Daftar Pustaka Anggara MA. 2013. Aktivitas MAP (Mirabilis Antiviral protein) sebagai Pengendalian Penyakit Gemini Virus pada Tanaman Cabai. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi]. Ariantari N P, Ikawati Z, Sudjadi, Sismindari. 2010. Efek sitotoksik protein dari daun Mirabilis jalapa L. hasil pemurnian dengan kolom CM Sepharose CL6B terhadap kultur sel HeLa. Jurnal farmasi dan ilmu kesehatan. 1(1): 1-7. Asniwita, SH hidayat, G Suastika, S Sujiprihatin, S Susanto dan I Hayati. 2012. Eksplorasi isolat lemah Chili veinal mottle potyvirus pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera barat dan Jawa Barat. J.Hortikultura. 22(2): 181-186. Ayuni FFL dan Mulyanti D. 2015. Uji aktivitas antibakteri tepung biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan formulasinya dalam sediaan krim. Prosding Penelitian SPeSIA Unisba. 154-158 Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi sayuran di Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php. Diunduh 26 Desember 2018. Four O’Clock Flower Latin Name Mirabilis jalapa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Sebdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Caryophylidae Order: Caryophyllales Family: Nyctaginaceae Genus: Mirabilis Species: Mirabilis jalapa L. (Ramesh et al., 2014) General Definition Indonesia: four o’clock flower. Sumatra: morning and evening flower, four o’clock flower, small flower. Java: kederat, jauht, tegerat. Nusa Tenggara: noja, koderat, ledonosok flower, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga, bodoko sina, teteapa flower, paranggi flower, parengki flower. Maluku: kupa, oras, cako, raha. An erect, annual herb, 20-80 cm tall, native to South America, often planted as an ornamental plant in yards or as a fence border. It grows in lowlands with sufficient sunlight, as well as in hilly areas. It belongs to the kampah-kampahan family and has a moist stem. Its leaves are heart-shaped, dark green, 2-11 cm long and 7-8 cm wide. The leaf base is rounded, the tip is pointed, the leaf margins are even, opposite, and the petioles are 5-6 cm long. The flowers are trumpet-shaped and come in a variety of colors, including red, white, orange, yellow, and mixed/striped. They bloom in the afternoon and rebud in the morning before dawn. The fruit is hard, black, egg-shaped, and can be used as a powder. The tuber skin is blackish-brown and elongated, 7-9 cm long and 2-5 cm in diameter, with a white core. Contents The roots contain betaxanthins. The fruit contains starch, fat (4.3%), fatty acids (24.4%), and oil acids (46.9%). Benefits Besides being an ornamental plant, the four o’clock plant has antioxidant and cytotoxic properties (Rumzhum et al., 2008), antiarthritis (Augustine et al., 2013), antispasmodic (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti-inflammatory (Singh et al., 2010), hypoglycemic and hypolipidemic effects (Zhou et al., 2011), and antibacterial (Devi, 2010). The pharmacological activities of various extracts reported by Shaik et al. (2012) indicate antidiabetic, antioxidant, antimicrobial, antifungal, antiviral, and urinary tract infections activities. Processing Method a. Acute arthritis: Boil the fresh roots and drink. If you have a fever, add tofu. b. Boil 120 grams of white flowers and drink. c. Boil boils: 1) Rub a little candlenut oil on the boil. Wilt the four o’clock flower leaves over a fire, then apply a little coconut oil, make a hole in the center, and place it on the boil. 2) Wash 10 four o’clock flower leaves, crush them, add enough salt water, and apply to the boil and the surrounding area, then bandage. 3) Peel the fresh roots, crush them, and add palm sugar. Apply to the boil, changing the dressing twice a day. d. Acne:The fruit contains starch, which can be made into a powder, the powder mixed with water, and then applied. Bibliography Anggara MA. 2013.

Bunga Pukul Empat Read More »

Buah Tin

Nama latin Ficus carica L. Taksonomi Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophta Kelas : Magnoliospida Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus carica L. (Sobir dan Mega, 2013) Definisi umum Pohon Tin masuk kedalam kerabat pohon beringin dengan batang lunak berwarna abu-abu halus kecoklatan. Buah yang disebut dengan buah Tin adalah buah semu, yaitu bukan buah dalam pengartian biologi melainkan bagian bunga yang terdiri dari ratusan tangkai sari dan putik, ukurannya sebesar bola pingpong ada yang berbentuk lonjong dan ada yang bulat. Sekilas, buah Tin memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum, teksturnya empuk, rasanya keset, sedikit mengandung air dan berbiji kecil banyak. Buah Tin masih belum populer dikalangan masyarakat Indonesia sehingga keberadaanya belum banyak diketahui, oleh karena itu tanaman Tin masih menjadi tanaman yang langka yang mempunyai nilai jual tinggi (Sobir dan Mega, 2013).  Tanaman Tin dapat tumbuh pada suhu 21º – 27 º C dengan kondisi curah hujan sedang dengan kelembaban tinggi. Tanaman Tin membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk pertumbuhan, perkembangan tanaman, serta proses pematangan buah. Kondisi media tanam yang lembab dengan drainase yang baik merupakan jenis media yang disukai oleh tanaman Tin. Tanaman Tin juga bisa tumbuh dalam berbagai tanah mulai dari tanah pasir, tanah kaya akan kandungan lempung, tanah berliat berat maupun tanah yang mengandung kapur. Kandungan Buah tin mengandung sedikit air dan biji yang banyak. Selain itu, buah tin juga mengandung zat-zat yang mampu menghilangkan keasamaan bagi tubuh. Unsur-unsur zat yang terkandung di dalam buah tin, diantaranya yaitu karbohidrat, protein, minyak, yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), klorin, malic acid, dan nicotinic acid. Buah Tin (Ficus carica L.) juga disebutkan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an yang termuat dalam QS. At-Tin. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa Allah swt. menurunkan ayat tersebut pasti bermanfaat bagi umat-Nya, yang mana terbukti dengan buah tin yang memiliki segudang manfaat bagi manusia.  Khasiat a. Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan Buah tin diketahui dapat mengatasi sembelit, diare, kembung, kram perut, dan lain sebagainya. Di dalam buah tin terdapat kandungan serat yang berfungsi sebagai probiotik. Kandungan serat tersebut mendukung pertumbuhan bakteri baik yang berada di saluran pencernaan, sehingga meningkatan kesehatan pada sistem pencernaan b. Mencegah Terjadinya Penyakit Kronis Buah tin memiliki kandungan antioksidan, seperti asam fenolik dan flavonoid yang dapat mencegah terjadinya penyakit kronis, seperti diabetes, katarak, penyakit jantung, dan lain sebagainya. Kandungan antioksidan tersebut paling banyak ditemukan di kulit buah tin yang berwarna ungu gelap. c. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Penyakit hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Faktor penyebab munculnya hipertensi salah satunya yaitu ketidakseimbangnya kalium akibat terlalu banyak memakan makanan yang mengandung natrium dan makanan yang kekurangan kalium. Oleh karena itu, buah tin dapat digunakan sebagai obat penurun hipertensi karena merupakan buah yang kaya akan kalium. Kandungan serat yang tinggi dalam buah tersebut dapat membantu membuang kelebihan natrium dari sistem tubuh. d. Meningkatkan Kesehatan Tulang Buah tin merupakan buah yang kaya akan kalsium dan potasium yang baik. Mineral tersebut berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tulang, sehingga dapat mencegah pengeroposan tulang, seperti osteoporosis. e. Membantu Menstabilkan Berat Badan Secara alami, buah tin mengandung serat tinggi yang dikemas dalam bentuk vitamin dan mineral. Buah tin dapat menjadi makanan inklusi yang berguna untuk meningkatkan nutrisi dalam pola makan. Dengan begitu berat badan menjadi stabil dan dapat dikelola dengan baik. Cara pengolahan a. Teh/rebusan daun tin Meskipun bukan buahnya, daun tin sering diolah menjadi teh untuk menurunkan gula darah dan maag. Bahan: 1 sendok teh daun tin kering (cacah), 1 cangkir air panas. Cara: Seduh daun tin kering dengan air panas, diamkan selama 5-10 menit, lalu saring. Manfaat: Mengatasi sesak napas (asma), mengencerkan dahak, dan menurunkan tekanan darah b. Sirup buah tin Bahan: Buah tin, sedikit air, perasan lemon, madu (opsional). Cara: Blender buah tin hingga kental. Masukkan dalam panci, tambahkan sedikit air, rebus dengan api kecil. Aduk terus hingga konsistensi seperti sirup. Tambahkan perasan lemon untuk rasa segar. Cara Minum: Campurkan 1-2 sendok makan sirup buah tin ke dalam segelas air hangat Daftar Pustaka  Agustin, S. 2022. 4 Manfaat Buah Tin untuk Kesehatan. https://www.alodokter.com/intip- manfaat-buah-tin-untuk-kesehatan. Diakses pada 30 April 2022. Makarim, F.R. 2022. Catat, Ini Manfaat Buah Tin yang Sayang untuk Dilewatkan.https://www.halodoc.com/artikel/catat-ini-manfaat-buah-tin-yang-sayang-untuk- dilewatkan. Diakses pada 30 April 2022. Nugraha, W.F., dan Tri, M. 2020. Review Artikel : Etnofarmakologi Tanaman Tin (Ficus carica L.) (Kajian Tafsir Ilmi Tentang Buah Tin Dalam Al-Qur’an). Jurnal Farmagazine. 7(1): 58-65. Buah Tin Latin Name Ficus carica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophta Class: Magnoliospida Order: Rosales Family: Moraceae Genus: Ficus Species: Ficus carica L. (Sobir and Mega, 2013) General Definition The fig tree is a relative of the banyan tree, with a soft, smooth, gray-brownish stem. The fruit, called the fig, is a pseudofruit, meaning it is not a fruit in the biological sense but rather a flower part consisting of hundreds of pollen stalks and pistils. It is about the size of a ping-pong ball, some are oval, some are round. At first glance, the fig fruit has a taste and aroma similar to guava. It has a fragrant aroma, a soft, astringent texture, a little water content, and many small seeds. Figs are still relatively unknown among Indonesians, making them a rare crop with high market value (Sobir and Mega, 2013). Figs can grow in temperatures ranging from 21°C to 27°C, with moderate rainfall and high humidity. They require full sunlight throughout the day for growth, development, and fruit ripening. A moist, well-drained growing medium is preferred. Figs can grow in a variety of soils, from sandy soils to clay-rich soils, heavy clay soils, and even those containing lime. Contents Figs contain little water and many seeds. Furthermore, they contain substances that can reduce acidity in the body. These elements include carbohydrates, protein, oil, iodine, calcium, phosphorus, iron, magnesium, sulfur (phosphate), chlorine, malic acid, and nicotinic acid. Figs (Ficus carica L.) are also mentioned by Allah SWT. The verse in the Quran, Surah At-Tin, indicates that Allah SWT revealed this verse for the benefit of His people, as evidenced by the myriad

Buah Tin Read More »

Sirih Cina (Peperomia pellucida (L.) Kunth)

Nama Tumbuhan Sirih Cina (Peperomia pellucida (L.) Kunth) Taksonomi Tumbuhan Kingdom     : Plantae Divisi          : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo            : Piperales Famili          : Pipareceae Genus          : Peperomie Spesies        : Peperomia pellucida (L.) Kunth (Karomah, 2019) Definisi Umum Sirih cina (Peperomia pellucida L.) adalah tanaman herbal dari famili Piperaceae yang tumbuh secara liar di lingkungan lembap dan kurang subur, seperti di celah batu, dinding basah, ladang, pekarangan, atau pinggir parit. Tanaman ini memiliki ciri khas daun berbentuk hati dengan ujung runcing dan sering dianggap sebagai gulma, meskipun banyak dimanfaatkan dalam berbagai keperluan tradisional (Permadani et al., 2024). Sirih cina (Peperomia pellucida L.) adalah tanaman herba semusim dari famili Piperaceae yang tumbuh liar di tempat lembap dan teduh, seperti pekarangan rumah, pinggir parit, atau celah bebatuan. Tanaman ini berukuran kecil dengan tinggi sekitar 15–45 cm, batangnya lunak, berair, berwarna hijau transparan, dan mudah patah. Daunnya tipis, licin mengilap, berbentuk hati dengan ujung meruncing, berukuran 1–4 cm panjang dan 1–2 cm lebar. Sirih cina sering dianggap sebagai gulma karena mudah tumbuh dan menyebar, namun memiliki ciri khas bentuk daun yang membuatnya mudah dikenali (Tania, 2024) Kandungan Pada bagian daun sirih cina, kandungan utamanya meliputi alkaloid, polifenol, dan tannin, disertai keberadaan flavonoid dan saponin yang banyak terdapat pada jaringan epidermis dan mesofil. Batangnya juga mengandung polifenol dan alkaloid dalam kadar sedang, serta triterpenoid yang berperan dalam perlindungan struktural tanaman. Sementara itu, bagian akar umumnya memiliki kadar alkaloid dan tannin lebih tinggi dibandingkan bagian lain, dengan tambahan senyawa fenol sederhana (Andriana et al., 2022). Khasiat Daun sirih cina (Peperomia pellucida L. Kunth) memiliki khasiat utama sebagai sumber antioksidan yang berperan dalam menetralisir radikal bebas, sehingga dapat membantu mencegah dan mengobati berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kanker, dan aterosklerosis. Khasiat ini berasal dari kandungan senyawa metabolit sekundernya, antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, dan steroid, yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan. Flavonoid berperan sebagai penangkap radikal bebas melalui gugus fenolnya, sementara saponin dan tannin juga turut memberikan efek perlindungan terhadap kerusakan sel akibat oksidasi (Anggreni et al., 2022). Cara Pengolahan Pengolahan sirih cina (Peperomia pellucida L. Kunth) untuk pengobatan umumnya dilakukan melalui dua metode, yaitu secara oral dan pemakaian luar. Untuk penggunaan oral, bagian daun yang masih segar terlebih dahulu dicuci bersih guna menghilangkan kotoran dan mikroorganisme yang menempel, kemudian direbus dalam air bersih selama kurang lebih 15 menit hingga air rebusan berubah warna menjadi kehijauan. Air hasil rebusan ini disaring dan diminum sebagai ramuan herbal. Sementara itu, untuk pemakaian luar, daun sirih cina segar dicuci bersih lalu ditumbuk hingga halus, kemudian ditempelkan atau dibalurkan langsung pada bagian tubuh yang mengalami keluhan seperti bengkak, nyeri, atau peradangan. Kedua metode ini diyakini mampu mengeluarkan senyawa aktif dalam sirih cina sehingga khasiat antiinflamasi, pereda nyeri, dan penyembuhan luka dapat dimanfaatkan secara optimal (Fauzian dan Arianti, 2023). Daftar Pustaka Andriani, L., Monica, T., & Lubis, N. I. (2022). Pemanfaatan Tanaman Herbal (Sirih Cina, Jahe, dan Kayu Manis) Melalui Kegiatan KKN di RT 03 Kelurahan Suka Karya Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 2(2), 465-472.  https://doi.org/10.54082/jamsi.180 Anggreni, N. P. P. C., Yanti, N. P. R. D., Pratiwi, K. A. P., & Udayani, N. N. W. (2023). Uji Aktivitas Antioksidan Gummy Candy Ekstrak Daun Sirih Cina (Peperomia pellucida L. Kunth) dengan Metode DPPH. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(3).  https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/ijpe/article/view/22117 Fauziah, S., & Arianti, V. (2023). Tingkat Pengetahuan Manfaat Tanaman Sirih Cina (Paperomia pellucida L. kunth) Sebagai Antiinflamasi Di Salah Satu Wilayah Kelurahan Cakung Barat. Indonesian Journal of Health Science, 3(2), 348-354. https://doi.org/10.54957/ijhs.v3i2a.479 Permadani, A., Nikmah, H., Halimatussakdiah, H., Mastura, M., & Amna, U. (2024). Skrining Fitokimia Daun Sirih Cina (Peperomia pellucida L.) dari Kecamatan Bireun Bayeun, Aceh Timur. QUIMICA: Jurnal Kimia Sains dan Terapan, 6(1), 6-12  https://doi.org/10.33059/jq.v6i1.10259 Tania, N. L. (2024). Formulasi Facial Wash Ekstrak Etanol Herba Sirih Cina (Peperomia pellucida L. Kunth) (Doctoral dissertation, POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG). https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/pj/article/view/4870

Sirih Cina (Peperomia pellucida (L.) Kunth) Read More »

Kunjungan PT. Naturindo Fresh Bersama Disperindagkop Mengunjungi Mitra UMKM di Kulon Progo

Kulon Progo, Agustus 2025 – PT. Naturindo Fresh berkesempatan melakukan kolaborasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kabupaten Kulon Progo untuk melakukan kunjungan pada beberapa kelompok wanita tani di daerah Kulon Progo. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengembangkan kemandirian bahan baku lokal serta pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh tim PT. Naturindo Fresh bersama Disperindagkop Kabupaten Kulon Progo kunjungan dilakukan pada empat lokasi, yaitu KWT Soka Hargowilis Kokap, KWT Gunungrejo Hargorejo Kokap, Dusun Kretek Glagah Temon, serta UMKM Cerme di Panjatan. Kunjungan dilakukan untuk menjalin kerja sama secara langsung dengan petani dalam pengembangan bahan baku sediaan obat bahan alam yang berkualitas. Dengan tersedianya bahan baku lokal yang berkualitas maka dapat menunjang adanya pengembangan produk – produk lokal berbasis hasil pertanian yang berkualitas baik dan terjaga dalam menunjang terbentuknya kemandirian dan penguatan ekonomi lokal. Dilakukannya kegiatan ini diharapkan dapat berdampak bagi penguatan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan petani daerah, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang ada di Kulon Progo.

Kunjungan PT. Naturindo Fresh Bersama Disperindagkop Mengunjungi Mitra UMKM di Kulon Progo Read More »

Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth)

Nama Tumbuhan Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Lamiales Famili : Lamiaceae Genus : Coleus Spesies : Coleus Aromaticus Benth (Safithri, 2017) Definisi Umum Daun jinten merupakan tanaman yang sering dipergunakan sebagai bumbu masakan yang berasal dari benua Afrika dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan pada berbagai negara seperti Asia,Afrika dan Amerika (Wadikar dan Patki, 2016). Daun jinten memiliki nama lain yaitu daun bangun-bangun atau torbangun, Oregano, Five season herb, Broad-leaf thyme, Patharchur, dan Indian borage (Rahmawati et al., 2021). Tanaman daun jinten memiliki ciri dengan daun berselang seling, tepi daun bergerigi, daun berbulu dan berwarna hijau (Nasution, 2017). Selain itu, batangnya bulat, berdaging dan berambut, berwarna hijau hingga merah muda, dan memiliki karakter aromatis. Akarnya berwarna coklat dan memiliki aroma. Bunganya berwarna ungu, dengan panjang 3-4 mm, bertangkai pendek, dalam rumpun panjang ramping yang tegak (Hullatti & Bhattacharjee, 2011). Kandungan Daun jinten mengandung senyawa penting atau metabolit sekunder seperti flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, steroid dan saponin (Sujamol et al., 2020). Tanaman ini terkenal akan rasa dan aroma mirip dengan oregano yang khas, menunjukkan variasi kandungan senyawa volatilnya seperti karvakrol, thymol, terpinen dan caryophyllene (Verma et al., 2012). Khasiat Daun jinten memiliki aktivitas biokimia sebagai memiliki kemampuan untuk menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat molekul yang sangat reaktif dan radikal bebas. (Silalahi dan Astuti, 2023). Daun jinten juga memiliki aktifitas biokimia lainnya seperti antimikrobial, antifungal, antiinflamasi, antibakterial, antidiabetes, antidiuretik, anxiolytic activity, antineoplastic, penyembuhan luka, penyakit pernapasan, antiurolithiatic, analgesik, artritis reumatoid, dan antiplatelet aggregation activity (Kumar et al., 2020). Khasiat daun jinten diantaranya juga dapat untuk mengobati batuk, infeksi tenggorokan, dan hidung tersumbat (Ramadahan, 2016). Selain itu, daun jinten juga dapat untuk memperlancar asi pada ibu menyusui (Oktiningrum dan Harjanti, 2023). Cara Pengolahan Pengolahan daun jinten secara tradisional dapat menggunakan beberapa cara, yaitu rebusan daun jinten sebagai teh dan kompres daun jinten. Perebusan daun jinten diawali mencuci daun segar, lalu direbus dan diminum hangat, atau dapat juga ditambahkan dengan madu (Satheesh et al., 2022). Kompres daun jinten yaitu dengan menumbuk daun jinten hingga menjadi pasta, lalu tempelkan pada kulit yang luka (Filipe et al., 2025). Selain itu, daun jinten juga dapat diolah sebagai simplisia daun jinten dengan daun dikeringkan, atau dapat juga sebagai lalapan atau bumbu masakan. Daftar Pustaka Filipe, M.S., Bangay, G., Brauning, F. Z., Ogungbemiro, F. O., Palma, B. B., Díaz-Lanza, A. M., … & Rijo, P. (2025). Plectranthus amboinicus: A Systematic Review of Traditional Uses, Phytochemical Properties, and Therapeutic Applications. Pharmaceuticals, 18(5), 707. https://doi.org/10.3390/ph18050707. Hullatti, K.K. and Bhattacharjee, P. (2011). Pharmacognostical evaluation of different parts of Coleus amboinicus lour., Lamiaceae. Pharmacognosy Journal, 3(24): 39–44. https://doi.org/10.5530/pj.2011.24.8. Kumar, P., Sangam, Kumar, N. (2020). Plectranthus amboinicus: a review on its pharmacological and, pharmacognostical studies. American journal of physiology, biochemistry and pharmacology, 10(2), 55–62. https://www.ajpbp.com/abstract/plectranthus-amboinicus-a-review-on-its-pharmacological-and-pharmacognosticalc-studies-48022.html. Nasution. N, Luthfi A. M. Siregar, E. S. Bayu. (2017). Karakteristik Pertumbuhan Vegetatif dari Beberapa Aksesi Tanaman Bangun-Bangun (Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng). Jurnal Agroekoteknologi, 5(1): 26-32. https://doi.org/10.32734/ja.v5i1.2286. Oktiningrum, M., & Harjanti, A. I. (2023). Literatur Review: Pemanfaatan Bahan Alam Guna Memperlancar ASI pada Ibu Menyusui. In Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo. 2(1), 138-146. https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/442. Rahmawati, R., Astuti, P., & Wahyuono, S. (2021). Profil Fitokimia dan Multipotensi dari Coleus amboinicus (Lour.). JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research, 6(2), 158-188. https://doi.org/10.20961/jpscr.v6i2.47436. Ramadhan, G. C. (2016). Uji daya analgetik ekstrak etanol daun jinten (Coleus amboinicus L.) pada mencit dengan metode rangsang kimia. Indonesian Journal on Medical Science, 3(2), 31-37. https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2926772&val=25832&title=UJI%20DAYA%20ANALGETIK%20EKSTRAK%20ETANOL%20DAUN%20JINTEN%20Coleus%20amboinicus%20L%20PADA%20MENCIT%20DENGAN%20METODE%20RANGSANG%20KIMIA. Satheesh, V., Kaur, J., Jarial, S., Ghosh, P., Sharma, K., Patni, M., … & Bhadariya, V. (2022). Indian borage: A comprehensive review on the nutritional profile and diverse pharmacological significance. The Pharma Innovation Journal, 11(6), 42-51. https://www.thepharmajournal.com/archives/?year=2022&vol=11&issue=6&ArticleId=13535. Silalahi, M. (2018). Plectranthus amboinicus (lour.) Spreng sebagai bahan pangan dan obat serta bioaktivitasnya. Jurnal Dinamika Pendidikan, 11(2), 123-138. http://repository.uki.ac.id/id/eprint/452. Sujamol, M. S., Roy, J., & James, K. M. (2021). Phytochemical screening and antimicrobial activity of Coleus aromaticus leaf extract. Materials Today: Proceedings, 41, 596-599. https://doi.org/10.1016/j.matpr.2020.05.255. Verma, R.S, Padalia, R.C.,and Chauhan, A. (2012). Essential oil composition of coleus aromaticus benth. from uttarakhand. Journal of Essential Oil-Bearing Plants, 15(2): 174–179. https://doi.org/10.1080/0972060X.2012.10644033. Wadikar, D.D., and Patki, P.E. (2016). Coleus aromaticus: a therapeutic herb with multiple potentials. J Food Sci Technol. 53(7): 2895-2901. https://doi.org/10.1007/s13197-016-2292-y. Cumin Leaves (Coleus Aromaticus Benth) Coriander Leaves (Coleus Aromaticus Benth) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Lamiales Family: Lamiaceae Genus: Coleus Species: Coleus Aromaticus Benth (Safithri, 2017) General Definition Cumin leaves are a plant commonly used as a culinary spice that originates from the African continent and is utilized as a food ingredient in various countries across Asia, Africa, and the Americas (Wadikar and Patki, 2016). Oregano is also known by other names, including bangun-bangun or torbangun, Oregano, Five season herb, Broad-leaf thyme, Patharchur, and Indian borage (Rahmawati et al., 2021). The oregano plant is characterized by alternate leaves, serrated leaf margins, hairy leaves, and a green color (Nasution, 2017). Additionally, the stem is round, fleshy, and hairy, ranging in color from green to pink, and possesses an aromatic quality. The roots are brown and aromatic. The flowers are purple, 3–4 mm long, with short stalks, arranged in slender, upright clusters (Hullatti & Bhattacharjee, 2011). Composition Cumin leaves contain important compounds or secondary metabolites such as flavonoids, phenols, alkaloids, tannins, steroids, and saponins (Sujamol et al., 2020). This plant is known for its distinctive flavor and aroma, similar to oregano, indicating variations in its volatile compound content, such as carvacrol, thymol, terpinene, and caryophyllene (Verma et al., 2012). Benefits Cumin leaves possess biochemical activity, specifically the ability to inhibit oxidative reactions by binding to highly reactive molecules and free radicals (Silalahi and Astuti, 2023). Cumin leaves also possess other biochemical activities, including antimicrobial, antifungal, anti-inflammatory, antibacterial, antidiabetic, antidiuretic, anxiolytic, antineoplastic, wound-healing, respiratory disease-relieving, antiurolithiatic, analgesic, rheumatoid arthritis-relieving, and antiplatelet aggregation activities (Kumar et al., 2020). The benefits of fennel leaves also include treating coughs, throat infections, and nasal congestion (Ramadahan, 2016). Additionally, fennel leaves can help increase breast milk production in breastfeeding

Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth) Read More »

Brotowali (Tinospora crispa)

Nama Tumbuhan Brotowali (Tinospora crispa) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Ranunculales Famili : Menispermaceae Genus : Tinospora Spesies : Tinospora crispa L. (Kresnady, 2003) Definisi Umum Brotowali termasuk jenis tanaman perdu yang tumbuh memanjang dengan tinggi mencapai sekitar 2,5 meter, dan cenderung berkembang baik di lingkungan yang panas. Batangnya berukuran kira-kira sebesar jari kelingking, memiliki permukaan berbintil rapat, dan dikenal dengan rasa yang sangat pahit. Daunnya bertangkai tunggal, berbentuk menyerupai jantung atau agak oval dengan ujung yang meruncing. Bunganya berukuran kecil, berwarna hijau muda, tersusun dalam tandan semu. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui metode stek (Margarethy et al., 2019). Brotowali merupakan tanaman liar yang dapat ditemukan tumbuh di hutan, ladang, atau dibudidayakan di dekat pagar, dan oleh masyarakat pedesaan dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang umum dimanfaatkan adalah batang dan daunnya. Kandungan Tanaman brotowali diketahui memiliki beragam senyawa kimia yang bermanfaat untuk membantu mengatasi berbagai jenis penyakit. Senyawa-senyawa aktif tersebut tersebar di seluruh bagian tanaman, mulai dari akar, batang, hingga daunnya. Bagian daun dan batang brotowali mengandung senyawa seperti alkaloid, saponin, dan tannin. Secara khusus, batang brotowali mengandung sekitar 2,22% alkaloid, serta senyawa lain seperti barberin, zat pahit, kolumbin, glikosida, dan pikokarotin (Firdaus et al., 2021). Khasiat Batang tanaman brotowali kerap digunakan sebagai bahan alami untuk membantu meredakan berbagai gangguan kesehatan seperti rematik, demam, penyakit kuning, batuk, dan infeksi cacing. Sementara itu, bagian daunnya dimanfaatkan secara tradisional untuk membersihkan luka pada kulit serta mengatasi rasa gatal (Maylina, 2019). Cara Pengolahan Brotowali memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, salah satunya digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan tradisional untuk meredakan reumatik. Cara pengolahannya cukup sederhana: ambil seukuran satu jari batang brotowali, cuci bersih, potong kecil-kecil, lalu rebus dengan tiga gelas air hingga airnya berkurang menjadi sekitar satu setengah gelas. Setelah disaring, tambahkan madu untuk mengurangi rasa pahit. Ramuan ini diminum tiga kali sehari, masing-masing sebanyak setengah gelas (Nisfiyanti, 2012). Daftar Pustaka Firdaus, M., Nazaruddin, N., & Cicilia, S. (2021). Efek Lama Perebusan terhadap Aktivitas Antioksidan Air Rebusan Batang Brotowali (Tinospora crispa L.). Journal of Food and Agricultural Product, 1(2), 71-81. https://doi.org/10.32585/jfap.v1i2.2076 Margarethy, I., Yahya, Y., & Salim, M. (2019). Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases, 5(2), 40-48. https://www.researchgate.net/publication/339407675_Kearifan_lokal_dalam_pemanfaatan_tumbuhan_untuk_mengatasi_malaria_oleh_pengobat_tradisional_di_Sumatera_Selatan Maylina, A. (2019). Studi Katalitik Herbal Pemanfaatan Tanaman Brotowali (Tinospora cordifolia) Sebagai Obat Penurun Kadar Glukosa Darah (Diabetes Mellitus). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689-1699. https://www.researchgate.net/publication/333128275_Studi_Katalitik_Herbal_Pemanfaatan_Tanaman_Brotowali_Tinospora_Cordifolia_sebagai_Obat_Penurun_Kadar_Glukosa_Darah_Diabetes_Mellitus Nisfiyanti, Y. (2012). Sistem Pengobatan Tradisional (Studi Kasus di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu). Patanjala, 4(1), 125-136. https://www.researchgate.net/publication/323787130_SISTEM_PENGOBATAN_TRADISIONAL_Studi_Kasus_di_Desa_Juntinyuat_Kecamatan_Juntinyuat_Kabupaten_Indramayu

Brotowali (Tinospora crispa) Read More »

Scroll to Top