Uncategorized

Murbei (Morus alba L.)

Nama Latin Morus alba L. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : MagnoliophytaKelas : MagnoliopsidaOrdo : RosalesFamili : MoraceaeGenus : MorusSpesies : Morus alba (Sriset et al., 2016). Definisi Umum Murbei (Morus alba L.) adalah tanaman tropis yang dikenal sebagai “white mulberry” dan banyak dibudidayakan di Asia serta beberapa bagian dunia. Tanaman ini secara tradisional digunakan dalam pengobatan herbal dan pangan. Buahnya dimakan segar atau diolah, daun sering dibuat teh, serta bagian lain tanaman dipakai untuk berbagai manfaat kesehatan. Secara umum tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif yang berkontribusi pada aktivitas farmakologis seperti antioksidan dan anti-inflamasi (Sriset et al., 2016). Kandungan Murbei (Morus alba L.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam aktivitas farmakologisnya. Senyawa-senyawa tersebut meliputi alkaloid, flavonoid, stilbenoid seperti mulberroside A, senyawa fenolik, tanin, saponin, serta fitosterol. Keberadaan flavonoid dan senyawa fenolik berkontribusi besar terhadap aktivitas antioksidan, sedangkan stilbenoid dan alkaloid diketahui memiliki potensi anti-inflamasi, antibakteri, serta hipoglikemik. Kombinasi kandungan fitokimia ini menjadikan Morus alba sebagai tanaman yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan obat tradisional maupun fitofarmaka (Sriset et al., 2016). Khasiat Daun murbei diketahui memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antioksidan karena mengandung flavonoid dan senyawa fenolik yang mampu menangkal radikal bebas serta melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Selain itu, senyawa bioaktif seperti flavonoid dan stilbenoid pada murbei juga memiliki aktivitas anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan pada jaringan tubuh. Ekstrak murbei juga dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri patogen sehingga berpotensi digunakan sebagai agen antimikroba alami. Selain itu, murbei memiliki efek antidiabetes (hipoglikemik) dengan membantu menurunkan kadar glukosa darah melalui penghambatan enzim dalam metabolisme karbohidrat, serta berpotensi sebagai antihiperlipidemik yang dapat menurunkan kadar lipid darah seperti kolesterol dan trigliserida sehingga bermanfaat dalam pencegahan penyakit kardiovaskular (Sriset et al., 2016; Pamuladiman & Widiyastuti, 2021; Rhahmah, 2015; Salampe et al., 2025). Cara Pengolahan Daun murbei dapat diolah menjadi minuman herbal teh murbei dengan langkah sebagai berikut : a.      Pilih daun murbei segar, kemudian cuci bersih dengan air untuk menghilangkan debu dan kotoran. b.     Keringkan daun murbei terlebih dahulu, proses pengeringan penting agar teh memiliki daya simpan yang lebih baik dan mudah diseduh (misalnya bisa dikeringkan di tempat teduh atau oven/pengering). c.      Setelah daun kering, remukkan atau sobek kecil-kecil agar mudah keluar sari saat direbus/seduh. d.     Masukkan daun murbei kering yang telah disiapkan ke dalam panci atau teko, kemudian rebus dengan air panas sampai air berubah warna dan sari daun keluar. e.      Saring hasil rebusan untuk memisahkan ampas daun dari air teh. f.      Tambahkan gula atau madu secukupnya jika diinginkan untuk rasa manis. g.     Dinginkan hingga mencapai suhu yang nyaman untuk diminum atau nikmati teh murbei hangat/dingin sesuai selera. (Rhahmah, 2015) Daftar Pustaka Pamuladiman, A. R., & Widiyastuti, L. (2021). Formulasi dan Aktivitas Antibakteri Gel Ekstrak Daun Murbei ( Morus alba L .) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 19(1), 39–48. Rhahmah, A. (2015). Optimasi Pembuatan Teh Herbal Daun Murbei (Morus Alba) Annisa Rhahmah. 2(2). Salampe, M., Rahimah, S., Nur, S., Mamada, S. S., Biring, F. S., Keyzia, K., Matandung, F. N., Payung, D., Rahman, A. A., Wahyuddin, N., & Ivone P., V. (2025). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Murbei (Morus alba) Menggunakan Metode BCB, CUPRAC, dan FRAP. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 11(1), 149–157. https://doi.org/10.35311/jmpi.v11i1.723 Sriset, Y., Jarukamjorn, K., & Chatuphonprasert, W. (2016). Pharmacological Activities of Morus alba Linn .

Murbei (Morus alba L.) Read More »

BUAH MARKISA (Passiflora edulis L.)

Nama Latin Passiflora edulis L. Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Spermatophyta Subdivisi     : Angiospermae Kelas           : Dicotyledonae Ordo            : Malpighiales Famili         : Passifloraceae Genus          : Passiflora Spesies        : Passiflora edulis Sims. (Karnirius Harefa et al., 2022) Definisi Umum Buah markisa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan karena memiliki kandungan nutrisi yang berkhasiat. Buah Markisa identik mempunyai rasa masam sehingga jarang dimanfaatkan secara langsung dan hanya dibuat sebagai bahan minuman Awalnya, markisa berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar ke berbagai negara melalui bangsa Spanyol di Eropa. Di Indonesia, markisa pertama kali diperkenalkan dari Peru, masuk melalui daerah Manado, Ambon, dan Sulawesi, lalu berkembang ke berbagai pulau lainnya di seluruh wilayah Indonesia (Kaswar et al., 2020). Kandungan Buah markisa ungu mengandung flavonoid, tani, saponin, steroid, dan alkaloid (Sudarwati et al., 2024). Pada biji markisa ungu mengandung flavonoid dan fenolik (Al Reskyani et al., 2024). Daunnya mengandung flavonoid, fenolik, tanin, terpenoid, steroid, saponin, alkaloid (Hayu Septiningrum et al., 2024). Kulit buah markisa ungu (Passiflora edulis) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat, termasuk senyawa fenolik, flavonoid, antosianin, karotenoid, vitamin, serta serat pangan  (Weyya et al., 2024). Khasiat Buah markisa ungu sendiri memiliki beragam khasiat bagi kesehatan, antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi, peningkat imunitas, penurun tekanan darah, serta pendukung kesehatan pencernaan karena kandungan seratnya yang tinggi. Aktivitas antioksidan dari buah dan kulit markisa berperan dalam melindungi tubuh dari stres oksidatif dan kerusakan sel akibat radikal bebas. Sementara itu, kulit markisa ungu secara khusus memiliki khasiat tambahan seperti aktivitas anti-aging, membantu menjaga elastisitas kulit, mengurangi kerutan, serta memperbaiki hidrasi kulit berkat tingginya kandungan fenolik dan vitamin C. Kandungan antosianin pada kulit markisa juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang aman (Weyya et al., 2024). Cara Pengolahan Pengolahan sirup markisa dilakukan dengan mencuci buah markisa hingga bersih, kemudian memisahkan isi buah dari kulitnya. Isi buah dihaluskan menggunakan blender dengan putaran rendah agar biji terlepas dari selaputnya, lalu disaring untuk mendapatkan sari markisa. Selanjutnya, 20 liter air dipanaskan hingga mendidih (100°C), kemudian ditambahkan 5 kg gula dan diaduk hingga larut. Setelah itu campuran didinginkan hingga suhu 70°C, lalu sari markisa dimasukkan dan diaduk sekitar 15 menit. Setelah suhu turun hingga ±30°C, sirup dimasukkan ke dalam kemasan dan dilakukan proses penyegelan (Ana Anggorowati et al., 2019). Daftar Pustaka Al Reskyani, M., Malik, A., & Handayani, S. (2024). UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL BIJI MARKISA UNGU (Passiflora edulis Sims) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT). Makassar Natural Product Journal, 2(2), 12. https://journal.farmasi.umi.ac.id/index.php/mnpj Ana Anggorowati, D., Astuti Rahman, N., & Wijayaningtyas, M. (2019). OPTIMASI PROSES PEMBUATAN SIRUP MARKISA DI KAMPUNG RAMPAL CELAKET MALANG. 89–92. Hayu Septiningrum, C., Ariastuti, R., & Ahwan. (2024). UJI SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK ETANOL 96% DAUN MARKISA UNGU (Passiflora edulis Sims) Phytochemical Screening Test of 96% Ethanol Extract of Purple Passion Fruit Leaves (Passiflora edulis Sims). Jurnal Farmasi SYIFA, 2(2), 37–41. Karnirius Harefa, Barita Aritonang, & Ahmad Hafizullah Ritonga. (2022). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Markisa Ungu (Passiflora Edulis Sims) Terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes. Jurnal Multidisiplin Madani, 2(6), 2743–2758. https://doi.org/10.55927/mudima.v2i6.469 Kaswar, B. A., Risal, N., Fatiah, & Nurjannah. (2020). KLASIFIKASI TINGKAT KEMATANGAN BUAH MARKISA MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PENGOLAHAN CITRA DIGITAL. Journal of Embedded System Security and Intelligent System (JESSI), 1, 1–8. https://journal.unm.ac.id/index.php/JESSI/article/view/398/291 Sudarwati, T., Ariastuti, R., & Ahwan. (2024). Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Buah Markisa Ungu (Passiflora edulis sims). Health Research Journal of Indonesia (HRJI), 2(6), 317–323. Weyya, G., Belay, A., & Tadesse, E. (2024). Passion fruit (Passiflora edulis Sims) by-products as a source of bioactive compounds for non-communicable disease prevention: extraction methods and mechanisms of action: a systematic review. In Frontiers in Nutrition (Vol. 11). Frontiers Media SA. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1340511 Passion Fruit (Passiflora edulis L.) Latin Name Passiflora edulis L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Spermatophyta Subdivision: Angiospermae Class: Dicotyledonae Order: Malpighiales Family: Passifloraceae Genus: Passiflora Species: Passiflora edulis Sims. (Karnirius Harefa et al., 2022) General Definition Passion fruit has many health benefits due to its nutritious nutritional content. Passion fruit is known for its sour taste, so it is rarely consumed directly and is only used as a beverage ingredient. Originally, passion fruit originated in South America and then spread to various countries via the Spanish in Europe. In Indonesia, passion fruit was first introduced from Peru, entering through the Manado, Ambon, and Sulawesi regions, then spreading to various other islands throughout Indonesia (Kaswar et al., 2020). Content Purple passion fruit contains flavonoids, tannins, saponins, steroids, and alkaloids (Sudarwati et al., 2024). Purple passion fruit seeds contain flavonoids and phenolics (Al Reskyani et al., 2024). The leaves contain flavonoids, phenolics, tannins, terpenoids, steroids, saponins, and alkaloids (Hayu Septiningrum et al., 2024). The rind of purple passion fruit (Passiflora edulis) is known to contain various beneficial bioactive compounds, including phenolics, flavonoids, anthocyanins, carotenoids, vitamins, and dietary fiber (Weyya et al., 2024). Benefits Purple passion fruit itself has various health benefits, including antioxidant, anti-inflammatory, immunity-boosting, blood pressure-lowering, and digestive health support due to its high fiber content. The antioxidant activity of passion fruit and rind plays a role in protecting the body from oxidative stress and cell damage caused by free radicals. Meanwhile, purple passion fruit rind in particular has additional benefits such as anti-aging activity, helping maintain skin elasticity, reducing wrinkles, and improving skin hydration thanks to its high phenolic and vitamin C content. The anthocyanin content in passion fruit rind can also be used as a safe natural dye (Weyya et al., 2024). Processing Method Passion fruit syrup is prepared by washing the passion fruit thoroughly, then separating the pulp from the rind. The pulp is pureed using a blender on low speed to remove the seeds from the membrane, then filtered to obtain the passion fruit juice. Next, 20 liters of water are heated to boiling (100°C), then 5 kg of sugar is added and stirred until dissolved. The mixture is then cooled to 70°C, then the passion fruit juice is added and

BUAH MARKISA (Passiflora edulis L.) Read More »

NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsoniae Balf.F)

Nama Latin Clerodendrum thomsoniae Balf.F Taksonomi Kingdom Plantae Divisi  Streophyta Subclass Magnolidae Order Lamiales Familly Verbenaceae Genus  Clerodendrum Spesies Clerodendrum thomsoniae Balf. F (Halilah et.al 2017) Definisi Umum Nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae), yang dikenal sebagai tanaman merambat jantung berdarah atau bunga kantung, merupakan tanaman hias semi-herba yang tumbuh merambat dan memiliki nilai estetika tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan dalam industri florikultura. Secara morfologi, nona makan sirih memiliki batang lunak, pertumbuhan menjalar, serta daun yang rimbun, yang menjadikannya populer sebagai tanaman hias (Kar et.al 2024). Kandungan Daun Nona Makan Sirih mengandung berbagai metabolit sekunder bioaktif, antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan senyawa fenolik, yang diketahui berperan penting dalam aktivitas antibakteri dan farmakologis (Hadjar et.al 2023). Khasiat Daun nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae) digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, antara lain sebagai antimikroba, antihelmintik, antiinflamasi, antimalaria, antidiabetes, hepatoprotektif, serta untuk mengatasi gangguan pencernaan, hipertensi, demam tinggi, asma, dan berbagai keluhan kesehatan lainnya (Hadjar et.al 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahannya yaitu dengan mengambil segenggam daun segar (sekitar 10–15 gram), kemudian direbus dalam 2–3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas. Air rebusan tersebut selanjutnya disaring dan diminum dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, yang secara tradisional digunakan untuk membantu meredakan radang serta memperlancar sistem tubuh tertentu (Socfindo Conservation, 2026). Daftar Pustaka Hadjar, A., Fitriana, & Asmaliani, I. (2024). Isolation and identification endophyte fungi from daun nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae) as antibacterial against bacteria causing skin infection using TLC-bioautography. Journal Microbiology Science, 4(1), 107-119. https://jurnal.farmasi.umi.ac.id/index.php/microbiologyscience/article/download/1034/pdf Halilah, N. A., Febrina, L., & Ramadhan, A. M. (2017). Standarisasi ekstrak daun nona makan sirih (Clerodendrum x speciosum Dombrain). Proceeding of the 6th Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Samarinda, Indonesia, 36–40. https://prosiding.ff.unmul.ac.id/index.php/mpc/article/view/65/59 Kar, P., Oriola, A. O., & Oyedeji, A. O. (2024). In vitro antioxidant, anti-inflammatory, anti-cancer and in silico molecular docking studies of Clerodendrum thomsoniae. Journal of Phytology, 16, 200–215. https://doi.org/10.25081/jp.2024.v16.9015 Socfindo Conservation. (2026). Clerodendrum thomsoniae (Nona makan sirih) — Socfindo Conservation. Diakses 11 Februari 2026, dari https://www.socfindoconservation.co.id/plant/638

NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsoniae Balf.F) Read More »

PURING (Codiaeum variegatum)

Nama Latin Codiaeum variegatum Taksonomi Kingdom Plantae Divisi  Angiospermae Subclass Eudikotil Order Malpighiales Familly Euphorbiaceae Genus  Codiaeum Spesies C. variegatum Yulianti et al., 2023 Definisi Umum Tanaman puring adalah salah Satu jenis tanaman yang populer di beberapa tahun terakhir. Tanaman puring menjadi salah satu komoditas yang berperan penting di kalangan masyarakat karena dapat mempercantik atau memperindah lingkungan dan menyerap polutan (Sukmawati et al. 2020). Tanaman puring adalah tanaman yang memiliki bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi. Daunnya yang memiliki bentuk dan warna yang khas memikat masyarakat untuk mengoleksi tanaman puring. Selain itu, tanaman puring juga dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Kandungan Daun puring mengandung senyawa sekunder seperti flavonoida, terpenoida, tannin, saponin, dan alkaloida. () Daftar Pustaka Yulianti, A. D. A., Murty, E. H., Hikmiyah, L.R., A’yuningtiyas, Q., Agustin, S. A. D., Rahmadhani, S., & Fardhani, I. (2023). Diversity of Angiosperm Plants in the Tugu Square, Malang City. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA,9(6), 4343-4352. https://doi.org/10.29303/jppipa.v9i6.2622

PURING (Codiaeum variegatum) Read More »

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo

Yogyakarta, July 18, 2024 – Taman Jamu Naturindo recently hosted a special private visit for a Japanese couple and their family. This educational trip was part of their week-long journey through Yogyakarta and Bali. The family chose a VIP private tour to gain a deeper, personalized understanding of Indonesia’s herbal heritage. Traditional Attire and Educational Plant Tour The experience began with an authentic cultural immersion. The guests enjoyed a themed photo session wearing “Mbok Jamu” attire, the traditional costume of Indonesian herbal sellers. Following the session, the family took an educational tour of the medicinal plant showcase. During this tour, they explored: The couple showed great enthusiasm, asking deep questions about the biodiversity and traditional uses of the plants they encountered. Hands-on Jamu Workshop at Joglo Pancanaka A highlight of the visit was the traditional Jamu crafting workshop at the Joglo Pancanaka pavilion. Guided by Naturindo’s expert herbalists, the guests learned the art of making “ready-to-drink” herbal beverages. In this interactive session, the family: This hands-on experience provided a profound connection to the local culture. It allowed the guests to see the transition of Jamu from a traditional philosophy into a modern wellness practice. A Meaningful Cultural Exchange This private visit was a meaningful way for the Japanese guests to understand the dynamics of the Indonesian herbal industry. They left with more than just information; they took home cherished memories and a newfound passion for Indonesian herbal traditions. For Taman Jamu Naturindo, hosting international guests is an honor. It serves as a vital opportunity to promote the preservation of Jamu as a global educational asset.

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo Read More »

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris)

Nama Latin Bambusa vulgaris Taksonomi Kingdom      : Plantae Divisi           : Spermatophyta Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Poales Famili           : Gramineae Genus           : Bambusa Spesies         : Bambusa vulgaris (Sarmila et al., 2022) Definisi Umum Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Khasiat Bambu kuning terdeteksi positif senyawa saponin, flavon dan tannin. Saponin bermanfaat sebagai peptisida, insektisida, moluskasida, fungisida dan penggunaan pada industri untuk foaming. Ekstrak daun Bambusa vulgaris memiliki efek hepatoprotektor dan pemulihan fungsi ginjal. Ekstrak daun B. vulgaris berpotensi menjadi produk antimalaria alami yang menjanjikan tanpa efek samping pada penggunaan, terutama bila diberikan dalam kisaran dosis 100 – 200 mg/kg berat badan. Tanin digunakan sebagai astringen, melawan diare, sebagai diuretik, melawan lambung dan tumor duodenum, dan sebagai antiinflamasi, antiseptik, antioksidan dan hemostatik obat-obatan (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoid pada bambu kuning dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih. Nanopartikel emas ekstrak daun bambu kuning memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 0,907 cm (Prasetya et al., 2020). Selain itu, ekstrak etanol daun bambu Bambusa vulgaris juga memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Salmonella typhi (Ulfa et al., 2015). Cara Pengolahan Rebung berpotensi menjadi produk olahan tepung yang mengandung serat tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, tepung rebung dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Namun kandungan serat yang tinggi menyulitkan rebung untuk dibuat menjadi tepung secara langsung. Untuk itu, rebung perlu diberi perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan ada beberapa macam, seperti blansing, fermentasi pikel dan perendaman dengan Na- Metabisulfit, fermentasi alami atau spontan. Perlakuan pendahuluan yang digunakan dalam pengolahan rebung menjadi tepung adalah fermentasi alami atau spontan karena perlakuan tersebut tidak menggunakan bahan kimia (Rachmadi, 2011). Proses pembuatan tepung rebung adalah mengambil rebung yang sudah difermentasi, kemudian rebung dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven dengan suhu 60 ̊C selama ± 14 jam hingga kering (rebung mudah dipatahkan). Lalu rebung digiling atau diblender hingga halus dan kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Prabasini et al., 2013). DAFTAR PUSTAKA Prabasini H, Ishartani D, Rahadian D. 2013. Kajian sifat kimia dan fisik tepung labu kuning (Cucurbita moschata) dengan perlakuan blanching dan perendaman natrium metabisulfite (Na2S2O5). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 93-102. Prasetya A, A., Prima A. P., Amalia, H., dan Yandi S., 2020. Biosintesis Nano Herbal Ekstrak Daun Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) Dengan Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Mahasiswa Khazanah Vol. 11(1) Hal: 1-6. Universitas Islam Indonesia. Rachmadi, 2011. Gangguan Ginjal Akut. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.  Sarmila, Nirawati, & Nuriman, A. (2022). Eksplorasi Jenis Bambu (Bambusa, Sp.) Berdasarkan Ciri Morfologi Kabupaten Maros. Jurnal Eboni, 4(1), 9–15. Sujarwanta, A., & Zen, S. (2020). Identifikasi Jenis dan Potensi Bambu (Bambusa sp.) sebagai Senyawa Antimalaria. BIOEDUKASI, 11(2), 131-151. Ulfa, M., Apridamayanti, P., & Sari, R. (2015). Penentuan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bambu (Bambusa vulgaris) terhadap Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1).

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris) Read More »

Bougenvile (Bougainvillea glabra Choisy)

Nama Latin Bougainvillea glabra Choisy Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta SubDivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Sub Kelas : Apetalae/Monochlamydeae Ordo : Caryophyllales Familia : Nyctaginaceae Genus : Bougainvillea Spesies : Bougainvillea glabra Choisy (I. G. Ornelas García dkk.,2023) Definisi Umum Tanaman bunga kertas (Bougainvillea) merupakan jenis tanaman yang paling banyak dijumpai di pekarangan rumah sebagai tanamanhias. Tanaman ini juga dijumpai dalam bentuk semak berbatang keras dan tumbuh dengan baik di daerah tropis. Bunga kertas ini karena memiliki varian warna yang beranekaragam baik daun seludang maupun daunnya, menjadikan tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Karakter morfologi yang mudah dikenali dari tanaman ini yaitu semak hingga pohon kecil yang berbatang keras, memiliki seludang bunga yang beraneka ragam,bercabang banyak, dan terdapat modifikasi duri pada batang dan cabangnya (Umaternate H, dkk 2022). Kandungan Bunga kertas memiliki sifat anti inflamasi, antimaag, antidiabetes, antidiare, dan antibakteri (Saadprai et al., 2025) dengan kandungan senyawanya berupa flavonoid, glikosida, fenol, alkaloid, saponin, steroid, tanin dan terpenoid (Kalaiyarasan dkk, 2022). Khasiat Tanaman bunga kertas (Bougainvillea glabra) memiliki beberapa khasiat dan kegunaan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai penyembuh luka, analgesik, insektisida, anti-inflamasi, anti diare, antimaag, antimikroba dan anti-diabetes. Tanaman ini juga dilaporkan digunakan sebagai agen hepatoprotektif dan antibakteri. Di Panama, bunga ini digunakan untuk pengobatan hipotensi sementara di India tanaman ini digunakan untuk pengobatan berbagai gangguan termasuk diare, batuk, radang tenggorokan, masalah pembuluh darah, keputihan, dan hepatitis (Saleem et al., 2021). Cara Pengolahan Untuk pengolahan bugenvil yang bisa diminum sebagai obat tradisional antidiabetes, cara yang umum digunakan adalah dengan membuat teh bunga bugenvil (Kirana, 2023). Metode pengolahannya sederhana dan sesuai untuk dikonsumsi langsung: Daftar pustaka Kirana,  febi anindya. (2023). Resep Teh Bunga Bougenville. Fimela.com Saadprai, C., Chaichana, C., Swainson, N., Tangjittipokin, W., & Chukiatsiri, S. (2025). Evaluation of anti-diabetic effects of ethanolic extract of Bougainvillea glabra. Biocatalysis and Agricultural Biotechnology, 67, 103617. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.bcab.2025.103617 Saleem, H., Usman, A., Mahomoodally, M. F., & Ahemad, N. (2021). Bougainvillea glabra (choisy): A comprehensive review on botany, traditional uses, phytochemistry, pharmacology and toxicity. Journal of Ethnopharmacology, 266, 113356. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.113356 Umaternate, hendra. Munawar, suslina. Soamole, R. (2022). Karakteristik Morfologi Bunga Kertas (Bougenville). Jurnal JBES: Journal Of Biology Education And Sciencee, 2(2). V. Kalaiyarasan, C. Kalaiselvi, C. Jothimanivannan, M. Sakthivel, S. S., & Varma, J. T. S. (2022). Pharmacological activities of bougainvillea glabra. World Journal of Pharmaceutical Research, 11(13), 1023–1029.

Bougenvile (Bougainvillea glabra Choisy) Read More »

Tempuyung (Sonchus arvensis L.)

Nama latin Sonchus arvensis L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida (dikotil) Ordo     : Asterales Famili   : Asteraceae Genus    : Sonchus Spesies   : Sonchus arvensis L. (Hariana, A, 2019.). Definisi Umum Tempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki khasiat obat dan tumbuh subur di daerah beriklim tropis maupun subtropis. Tanaman ini termasuk famili Asteraceae dan sering dijumpai tumbuh liar di tempat lembap seperti tepi jalan, ladang, atau tanah berbatu. Tempuyung memiliki tinggi tanaman sekitar 50–150 cm dengan batang tegak, berongga, dan mengandung getah putih. Daunnya berbentuk lonjong hingga memanjang, berwarna hijau muda, dengan tepi bergerigi tidak beraturan. Daun bagian bawah biasanya lebih besar, panjangnya dapat mencapai 20–40 cm dan lebarnya 4–10 cm, serta menempel melingkari batang. Bunga tempuyung tersusun dalam tandan berbentuk bongkol (capitulum) berwarna kuning cerah, sedangkan buahnya kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan angin. Akar tempuyung termasuk jenis akar tunggang dengan cabang halus di sekitarnya. Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (Folium Sonchi arvensis), karena mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, kalium, dan triterpenoid, yang berperan dalam efek diuretik, antiinflamasi, dan peluruh batu ginjal (antilithiasis) (Djamal, R., et al. 2017). Khasiat Kandungan kalium pada daun tempuyung membantu melarutkan dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan cara menggantikan ion kalsium pada batu oksalat, sehingga batu lebih mudah larut dan dikeluarkan melalui urin (Djamal et al., 2017). Efek diuretik dan relaksasi otot polos pembuluh darah dari ekstrak daun tempuyung dapat membantu menurunkan tekanan darah (Hariana, 2019). Cara Pengolahan Tempuyung (Sonchus arvensis L) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain: Daun segar/kering direbus dalam air 10-25 menit (biasanya 5-20 g dalam 200 ml air). dengan cara  ini ekstrak air dapat diminum langsung. Ramuan ini dapat dikonsumsi secara tunggal atau ditambahkan madu maupun gula merah untuk memperbaiki rasa. Sediaan ini umumnya digunakan sebagai penurun kadar asam urat karena hasil uji fitokimia menunjukan infusa daun tempuyung positig mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin (Estevany Priliansi et al., 2025) Pilih 2–3 helai daun segar, cuci bersih di air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan getah berlebih. Tumbuk atau haluskan daun hingga menjadi pasta lembut. Jika diinginkan, tambahkan 1–2 sendok teh air hangat atau beberapa tetes minyak kelapa untuk meningkatkan daya sebar dan penyerapan zat aktif pada kulit (Hariana, A. 2019) Daftar Pustaka Estevany Priliansi, Sarah Puspita Atmaja, & Ari Widhiarso. (2025). Antihyperuricemia Activity Test of Tempuyung Leaf Infusion (Sonchus arvensis L.) on Male Swiss Webster Mice (Mus musculus). JURNAL FARMASIMED (JFM), 7(2), 264–273. https://doi.org/10.35451/jfm.v7i2.2588  Hariana, A. (2019). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Isnindar, I., et al. (2014). “Study of diuretic and uric acid lowering effect of Sonchus arvensis L. leaf infusion.” Indonesian Journal of Pharmacy. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI.

Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Read More »

Scroll to Top