Blog

Bunga Pukul Empat

Nama latin Mirabilis jalapa L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Sub kingdom : Tracheobionta  Seb devision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Clas : Magnoliopsida Subclass : Caryophylidae Order : Caryophyllales Family : Nyctaginaceae  Genus : Mirabilis  Spesies : Mirabilis jalapa L.  (Ramesh et al., 2014)  Definisi umum Indonesia: kembang pukul empat. Sumatra: kempang pagi sore, kembang pukul empat, bunga waktu kecil. Jawa: kederat, segerat, tegerat. Nusatenggara: noja, koderat, bunga ledonosok, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga,bodoko sina, bunga teteapa, bunga-bunga paranggi, bunga-bunga parengki. Maluku: kupa, oras, cako, raha.Herba tahunan, tegak, tinggi 20-80 cm, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam orang sebagai tanaman hias  di pekarangan atau sebagai pembatas pagar rumah. Tumbuh di dataran rendah yang cukup mendapat sinar matahari maupun di daerah perbukitan. Termasuk suku kampah-kampahan, berbatang basah, daunnya berbentuk jantung, warna hijau tua, panjang 2-11 cm, lebar 7-8 cm, pangkal daun mambulat, ujung meruncing, tepi daun rata, letak berhadapan, mempunyai tangkai daun yang panjangnya 5-6 cm. Bunganya berbentuk terompet, dengan banyak macam warna antara lain: merah, putih, jingga, kuning, kombinasi/belang-belang. Mekar di waktu sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Buahnya keras warna hitam berbentuk telur dapat dibuat bedak. Kulit umbinya bewarna coklat kehitaman berbentuk bulat memanjang, panjang 7-9 cm dengan diameter 2-5 cm, isi umbi bewarna putih. Kandungan Akar mengandung betaxanthins. Buah mengandung zat tepung, lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), zat asam minyak (46,9%).  Khasiat Selain sebagai tanaman hias, tanaman pukul empat memiliki manfaat sebagai antioksidan dan aktivitas sitotoksisitas (Rumzhum et al., 2008), antiartritis, (Augustine et al., 2013), antispasmodik (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti inflamasi (Singh et al., 2010), efek hipoglikemia dan 9 hipolipidemik (Zhou et al., 2011), antibakteri (Devi, 2010). Aktivitas farmakologi pada berbagai ekstrak yang dilaporkan oleh Shaik et al. (2012), menunjukkan aktivitas antidiabetes, antioksidan, antimikroba, antifungal, antiviral, dan penyakit urinan. Cara pengolahan a. Acute arthritis: akar segar direbus lalu diminum, bila badan panas ditambah tahu. b. Bunga putih sebanyak 120 gram, direbus lalu minum.  c. Bisul:    1) Pada bisulnya dioleskan sedikit minyak kemiri. Daun kembang pukul empat dilayukan diatas api, kemudian dioleskan sedikit minyak kelapa, tengahnya dilubang dan letakkan diatas bisul. 2)   10 lembar kembang pukul empat dicuci kemudian dilumatkan ditambah air garam secukupnya, ditempelkan pada bisul dan sekelilingnya lalu dibalut. 3)   Akar segar dibuang kulitnya kemudian dilumatkan dan ditambah gula enau. Tempelkan pada bisulnya, sehari diganti 2 kali. d. Jerawat:Buahnya mengandung zat tepung, dibuat tepung bedak, tepung bedak ditambah air kemudian dioleskan. Daftar Pustaka Anggara MA. 2013. Aktivitas MAP (Mirabilis Antiviral protein) sebagai Pengendalian Penyakit Gemini Virus pada Tanaman Cabai. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi]. Ariantari N P, Ikawati Z, Sudjadi, Sismindari. 2010. Efek sitotoksik protein dari daun Mirabilis jalapa L. hasil pemurnian dengan kolom CM Sepharose CL6B terhadap kultur sel HeLa. Jurnal farmasi dan ilmu kesehatan. 1(1): 1-7. Asniwita, SH hidayat, G Suastika, S Sujiprihatin, S Susanto dan I Hayati. 2012. Eksplorasi isolat lemah Chili veinal mottle potyvirus pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera barat dan Jawa Barat. J.Hortikultura. 22(2): 181-186. Ayuni FFL dan Mulyanti D. 2015. Uji aktivitas antibakteri tepung biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan formulasinya dalam sediaan krim. Prosding Penelitian SPeSIA Unisba. 154-158 Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi sayuran di Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php. Diunduh 26 Desember 2018. Four O’Clock Flower Latin Name Mirabilis jalapa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Sebdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Caryophylidae Order: Caryophyllales Family: Nyctaginaceae Genus: Mirabilis Species: Mirabilis jalapa L. (Ramesh et al., 2014) General Definition Indonesia: four o’clock flower. Sumatra: morning and evening flower, four o’clock flower, small flower. Java: kederat, jauht, tegerat. Nusa Tenggara: noja, koderat, ledonosok flower, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga, bodoko sina, teteapa flower, paranggi flower, parengki flower. Maluku: kupa, oras, cako, raha. An erect, annual herb, 20-80 cm tall, native to South America, often planted as an ornamental plant in yards or as a fence border. It grows in lowlands with sufficient sunlight, as well as in hilly areas. It belongs to the kampah-kampahan family and has a moist stem. Its leaves are heart-shaped, dark green, 2-11 cm long and 7-8 cm wide. The leaf base is rounded, the tip is pointed, the leaf margins are even, opposite, and the petioles are 5-6 cm long. The flowers are trumpet-shaped and come in a variety of colors, including red, white, orange, yellow, and mixed/striped. They bloom in the afternoon and rebud in the morning before dawn. The fruit is hard, black, egg-shaped, and can be used as a powder. The tuber skin is blackish-brown and elongated, 7-9 cm long and 2-5 cm in diameter, with a white core. Contents The roots contain betaxanthins. The fruit contains starch, fat (4.3%), fatty acids (24.4%), and oil acids (46.9%). Benefits Besides being an ornamental plant, the four o’clock plant has antioxidant and cytotoxic properties (Rumzhum et al., 2008), antiarthritis (Augustine et al., 2013), antispasmodic (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti-inflammatory (Singh et al., 2010), hypoglycemic and hypolipidemic effects (Zhou et al., 2011), and antibacterial (Devi, 2010). The pharmacological activities of various extracts reported by Shaik et al. (2012) indicate antidiabetic, antioxidant, antimicrobial, antifungal, antiviral, and urinary tract infections activities. Processing Method a. Acute arthritis: Boil the fresh roots and drink. If you have a fever, add tofu. b. Boil 120 grams of white flowers and drink. c. Boil boils: 1) Rub a little candlenut oil on the boil. Wilt the four o’clock flower leaves over a fire, then apply a little coconut oil, make a hole in the center, and place it on the boil. 2) Wash 10 four o’clock flower leaves, crush them, add enough salt water, and apply to the boil and the surrounding area, then bandage. 3) Peel the fresh roots, crush them, and add palm sugar. Apply to the boil, changing the dressing twice a day. d. Acne:The fruit contains starch, which can be made into a powder, the powder mixed with water, and then applied. Bibliography Anggara MA. 2013.

Bunga Pukul Empat Read More »

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb)

Nama Latin Ardisia elliptica Thunb Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Primulales Famili : Myrsinaceae R. Br. Genus : Ardisia Sw. Spesies : Ardisia elliptica Thunb.                                                                                   (USDA, t.t.) Definisi Umum Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) merupakan salah satu tumbuhan liar yang termasuk dalam famili Myrsinaceae dan umumnya tumbuh dalam bentuk perdu atau pohon kecil. Tanaman ini memiliki ciri morfologi berupa batang berkayu dengan tinggi dapat mencapai sekitar 5 meter, serta daun berbentuk lonjong memanjang dengan ukuran berkisar 8–20 cm dan berwarna hijau hingga kemerahan. Buah lempeni tumbuh berkelompok di sekitar percabangan daun, berukuran kecil, dan mengalami perubahan warna yang khas dari merah terang menjadi hitam saat matang. Karakteristik fisik tersebut menjadikan tanaman ini cukup mudah dikenali, meskipun sering kali kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Secara umum, tanaman lempeni memiliki potensi yang cukup besar baik dari segi kesehatan maupun pengembangan ekonomi. Buah dan daunnya diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta triterpena yang berperan sebagai antioksidan, antimikroba, dan berpotensi sebagai agen antidiabetes. Selain itu, tanaman ini relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan intensif, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai komoditas lokal berbasis agribisnis. Dengan pemanfaatan yang tepat, lempeni dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti minuman herbal, selai, maupun campuran produk pangan lainnya (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Kandungan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam bidang kesehatan. Bagian buah dan daun lempeni kaya akan senyawa seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antimikroba. Selain itu, daun lempeni juga mengandung senyawa triterpena, khususnya α-amyrin dan β-amyrin, yang dilaporkan memiliki potensi sebagai antiplatelet serta berperan dalam pengendalian kadar gula darah. Kandungan senyawa tersebut menjadikan tanaman lempeni berpotensi sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan produk herbal dan pangan fungsional. Secara keseluruhan, keberadaan senyawa-senyawa bioaktif ini menunjukkan bahwa lempeni tidak hanya bernilai sebagai tanaman liar, tetapi juga memiliki prospek yang cukup besar dalam pemanfaatan kesehatan dan industri (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Khasiat Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) memiliki beberapa khasiat utama bagi kesehatan, antara lain sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas, antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri, serta berpotensi sebagai antidiabetes dalam membantu menurunkan kadar gula darah. Selain itu, kandungan bioaktifnya juga memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat bagi tubuh (Karlingga et al., 2025; Agustini et al., 2023; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Cara Pengolahan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, salah satunya minuman herbal dari daunnya. Proses pengolahannya dilakukan dengan mencuci bersih daun lempeni, kemudian direbus bersama bahan tambahan seperti kunyit, belimbing wuluh, dan gula hingga mendidih. Setelah itu, larutan didinginkan dan siap dikonsumsi. Selain itu, buah lempeni juga dapat diolah menjadi produk lain seperti selai dan campuran kopi melalui proses pengeringan dan pengolahan lanjutan, sehingga meningkatkan nilai tambah tanaman ini (Karlingga et al., 2025). Daftar Pustaka Karlingga, L. D., Rachman, L. J., Febriyanti, M. P., Alamsyah, M. F., Hidayatullah, M. N., Mundiroh, M., et al. (2025). Olahan tanaman lempeni sebagai produk alternatif unggulan untuk masa depan masyarakat Kemlagi, Mojokerto. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 268–284. https://doi.org/10.55506/arch.v4i2.163  Wibawa, I. P. A. H., & Lugrayasa, I. N. (2020). Studi potensi antioksidan dan antimikroba ekstrak buah lempeni (Ardisia elliptica Thunb.). Jurnal Widya Biologi, 11(2), 109–117.

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb) Read More »

Buah Tin

Nama latin Ficus carica L. Taksonomi Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophta Kelas : Magnoliospida Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus carica L. (Sobir dan Mega, 2013) Definisi umum Pohon Tin masuk kedalam kerabat pohon beringin dengan batang lunak berwarna abu-abu halus kecoklatan. Buah yang disebut dengan buah Tin adalah buah semu, yaitu bukan buah dalam pengartian biologi melainkan bagian bunga yang terdiri dari ratusan tangkai sari dan putik, ukurannya sebesar bola pingpong ada yang berbentuk lonjong dan ada yang bulat. Sekilas, buah Tin memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum, teksturnya empuk, rasanya keset, sedikit mengandung air dan berbiji kecil banyak. Buah Tin masih belum populer dikalangan masyarakat Indonesia sehingga keberadaanya belum banyak diketahui, oleh karena itu tanaman Tin masih menjadi tanaman yang langka yang mempunyai nilai jual tinggi (Sobir dan Mega, 2013).  Tanaman Tin dapat tumbuh pada suhu 21º – 27 º C dengan kondisi curah hujan sedang dengan kelembaban tinggi. Tanaman Tin membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk pertumbuhan, perkembangan tanaman, serta proses pematangan buah. Kondisi media tanam yang lembab dengan drainase yang baik merupakan jenis media yang disukai oleh tanaman Tin. Tanaman Tin juga bisa tumbuh dalam berbagai tanah mulai dari tanah pasir, tanah kaya akan kandungan lempung, tanah berliat berat maupun tanah yang mengandung kapur. Kandungan Buah tin mengandung sedikit air dan biji yang banyak. Selain itu, buah tin juga mengandung zat-zat yang mampu menghilangkan keasamaan bagi tubuh. Unsur-unsur zat yang terkandung di dalam buah tin, diantaranya yaitu karbohidrat, protein, minyak, yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), klorin, malic acid, dan nicotinic acid. Buah Tin (Ficus carica L.) juga disebutkan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an yang termuat dalam QS. At-Tin. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa Allah swt. menurunkan ayat tersebut pasti bermanfaat bagi umat-Nya, yang mana terbukti dengan buah tin yang memiliki segudang manfaat bagi manusia.  Khasiat a. Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan Buah tin diketahui dapat mengatasi sembelit, diare, kembung, kram perut, dan lain sebagainya. Di dalam buah tin terdapat kandungan serat yang berfungsi sebagai probiotik. Kandungan serat tersebut mendukung pertumbuhan bakteri baik yang berada di saluran pencernaan, sehingga meningkatan kesehatan pada sistem pencernaan b. Mencegah Terjadinya Penyakit Kronis Buah tin memiliki kandungan antioksidan, seperti asam fenolik dan flavonoid yang dapat mencegah terjadinya penyakit kronis, seperti diabetes, katarak, penyakit jantung, dan lain sebagainya. Kandungan antioksidan tersebut paling banyak ditemukan di kulit buah tin yang berwarna ungu gelap. c. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Penyakit hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Faktor penyebab munculnya hipertensi salah satunya yaitu ketidakseimbangnya kalium akibat terlalu banyak memakan makanan yang mengandung natrium dan makanan yang kekurangan kalium. Oleh karena itu, buah tin dapat digunakan sebagai obat penurun hipertensi karena merupakan buah yang kaya akan kalium. Kandungan serat yang tinggi dalam buah tersebut dapat membantu membuang kelebihan natrium dari sistem tubuh. d. Meningkatkan Kesehatan Tulang Buah tin merupakan buah yang kaya akan kalsium dan potasium yang baik. Mineral tersebut berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tulang, sehingga dapat mencegah pengeroposan tulang, seperti osteoporosis. e. Membantu Menstabilkan Berat Badan Secara alami, buah tin mengandung serat tinggi yang dikemas dalam bentuk vitamin dan mineral. Buah tin dapat menjadi makanan inklusi yang berguna untuk meningkatkan nutrisi dalam pola makan. Dengan begitu berat badan menjadi stabil dan dapat dikelola dengan baik. Cara pengolahan a. Teh/rebusan daun tin Meskipun bukan buahnya, daun tin sering diolah menjadi teh untuk menurunkan gula darah dan maag. Bahan: 1 sendok teh daun tin kering (cacah), 1 cangkir air panas. Cara: Seduh daun tin kering dengan air panas, diamkan selama 5-10 menit, lalu saring. Manfaat: Mengatasi sesak napas (asma), mengencerkan dahak, dan menurunkan tekanan darah b. Sirup buah tin Bahan: Buah tin, sedikit air, perasan lemon, madu (opsional). Cara: Blender buah tin hingga kental. Masukkan dalam panci, tambahkan sedikit air, rebus dengan api kecil. Aduk terus hingga konsistensi seperti sirup. Tambahkan perasan lemon untuk rasa segar. Cara Minum: Campurkan 1-2 sendok makan sirup buah tin ke dalam segelas air hangat Daftar Pustaka  Agustin, S. 2022. 4 Manfaat Buah Tin untuk Kesehatan. https://www.alodokter.com/intip- manfaat-buah-tin-untuk-kesehatan. Diakses pada 30 April 2022. Makarim, F.R. 2022. Catat, Ini Manfaat Buah Tin yang Sayang untuk Dilewatkan.https://www.halodoc.com/artikel/catat-ini-manfaat-buah-tin-yang-sayang-untuk- dilewatkan. Diakses pada 30 April 2022. Nugraha, W.F., dan Tri, M. 2020. Review Artikel : Etnofarmakologi Tanaman Tin (Ficus carica L.) (Kajian Tafsir Ilmi Tentang Buah Tin Dalam Al-Qur’an). Jurnal Farmagazine. 7(1): 58-65. Buah Tin Latin Name Ficus carica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophta Class: Magnoliospida Order: Rosales Family: Moraceae Genus: Ficus Species: Ficus carica L. (Sobir and Mega, 2013) General Definition The fig tree is a relative of the banyan tree, with a soft, smooth, gray-brownish stem. The fruit, called the fig, is a pseudofruit, meaning it is not a fruit in the biological sense but rather a flower part consisting of hundreds of pollen stalks and pistils. It is about the size of a ping-pong ball, some are oval, some are round. At first glance, the fig fruit has a taste and aroma similar to guava. It has a fragrant aroma, a soft, astringent texture, a little water content, and many small seeds. Figs are still relatively unknown among Indonesians, making them a rare crop with high market value (Sobir and Mega, 2013). Figs can grow in temperatures ranging from 21°C to 27°C, with moderate rainfall and high humidity. They require full sunlight throughout the day for growth, development, and fruit ripening. A moist, well-drained growing medium is preferred. Figs can grow in a variety of soils, from sandy soils to clay-rich soils, heavy clay soils, and even those containing lime. Contents Figs contain little water and many seeds. Furthermore, they contain substances that can reduce acidity in the body. These elements include carbohydrates, protein, oil, iodine, calcium, phosphorus, iron, magnesium, sulfur (phosphate), chlorine, malic acid, and nicotinic acid. Figs (Ficus carica L.) are also mentioned by Allah SWT. The verse in the Quran, Surah At-Tin, indicates that Allah SWT revealed this verse for the benefit of His people, as evidenced by the myriad

Buah Tin Read More »

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria))

Nama Latin Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi           : Spermathopyta Subdivisi     : Angiospermae Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Zingiberales Famili          : Zingiberaceae Genus          : Curcuma Spesies        : Curcuma zedoaria (BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN PAPUA T.A, 2022) Definisi Umum Kunyit putih (Curcuma zedoaria) termasuk ke dalam kelompok tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah dan mampu membentuk tunas serta akar baru pada setiap ruasnya. Kunir putih dicirikan oleh adanya batang semu yang lunak dan berada di dalam tanah dalam bentuk rimpang dengan warna hijau pucat. Daunnya berupa daun tunggal berbentuk lanset, yaitu lonjong dengan ujung runcing dan pangkal tumpul, serta memiliki tulang daun menyirip halus. Tanaman ini tergolong tanaman semak dengan tinggi mencapai ± 2 meter, permukaannya berbulu halus, dan berwarna hijau dengan garis-garis ungu. Bunga kunir putih tersusun secara majemuk, berbentuk tabung, muncul dari ketiak daun, dan tumbuh ke atas membentuk bongkol bunga yang berukuran besar (Sagita et al., 2022) Kandungan Kandungan utama yang terdapat pada rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang terdiri atas kurkumin sebagai komponen terbesar, desmetoksikurkumin sekitar 10%, serta bisdesmetoksikurkumin sebesar 1–5%. Kurkumin termasuk ke dalam golongan senyawa polifenol yang berperan penting dalam aktivitas biologis kunyit. Selain kurkuminoid, rimpang kunyit juga mengandung berbagai senyawa lain yang bermanfaat, antara lain minyak atsiri yang tersusun atas keton seskuiterpen, turmeron dan tumeon (±60%), zingiberen (±25%), serta senyawa lain seperti felandren, sabinen, borneol, dan sineol. Rimpang kunyit juga mengandung komponen nutrisi berupa lemak (1–3%), karbohidrat (±3%), protein (±30%), pati (±8%), vitamin C (45–55%), serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan kalsium, yang berkontribusi terhadap khasiatnya dalam membantu pengobatan berbagai penyakit (Sofiana Putri, 2023) Khasiat Cara Pengolahan Rimpang kunyit putih dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut: Daftar Pustaka Indryani, Chiuman, Wijaya, Lister, & Grandis. (2021). Antibacterial Effect of Curcuma zedoaria Extract on Bacillus cereus and Staphylococcus epidermidis. Jyothi, Prasanna, Sakarkar, Prabha, Ramaiah, & Srawan. (2023). Microencapsulation techniques, factors influencing encapsulation efficiency. Sagita, N. D., Sopyan, I., & Hadisaputri, Y. E. (2022). Kunir Putih (Curcuma zedoaria Rocs.): Formulasi, Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologi. Majalah Farmasetika, 7(3), 189. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v7i3.37711 Sofiana Putri, M. (2023). Curcuma zedoaria): Its Chemical Subtance and The Pharmacological Benefits. In J MAJORITY | (Vol. 3). Syed Abdul Rahman, Abdul Wahab, & Abd Malek. (2022). In vitro morphological assessment of apoptosis induced by antiproliferative constituents from the rhizomes of Curcuma zedoaria. Evidence-Based Complement Altern Med. Magdalena MM. Kunyit putih: herbal pengusir kanker dan tumor. 2014. Tersedia dari http://www.deherba.com (Diakses tanggal 24 Maret 2014). Hartati MS, Mubarika S, Bolhuis RLH, Nooter K, Oostrum RG, Boersma AWM, Wahyuono S. Sitotoksisitas rimpang temu mangga (Curcuma mangga) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria L) terhadap beberapa sel kanker manusia (in vitro) dengan metoda SRB. Berkala Ilmu Kedokteran. 2003; 35(4): 197–201. Hutapea JR. Inventaris tanaman obat Indonesia. Edisi ke–2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993.

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria)) Read More »

Bunga Nusa Indah

Nama Latin Mussaenda frondosa L  Taksonomi Kingdom : Plantae  Phylum : Tracheoophyta  Class : Magnoliopsida  Order : Gentianules  Family : Rubiaceae Genus : Mussaenda  Species : Mussaenda frondosa L  (Setia et al., 2022) Definisi umum Tanaman nusa indah berasal dari Filipina, awalnya merupakan tanaman liar yang tumbuh disemak-semak di lereng perbukitan. Tanaman ini umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Selain cantik, Nusa Indah juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Tumbuhan liar ini memiliki cabang-cabang yang berbulu halus. Tangkai bunga dapat mencapai panjang 1,5 cm dengan pangkalnya yang lonjong dan berujung runcing. Daunnya memiliki panjang antara 6 hingga 10 cm, juga ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian bawah dan ujungnya yang runcing. Stipula tanaman ini memiliki panjang 3-4 mm, berbentuk lonjong, dan bercabang dua di 5 bagian puncaknya.Bunga tumbuhan ini tumbuh dalam bentuk majemuk di bagian terminal, membentuk cymes yang longgar dan memiliki tampilan tomentose linier dengan panjang antara 1 hingga 1,5 cm serta ditutupi rambut halus. Brakteolnya memiliki bentuk linier.Yang menarik, salah satu dari lima lobus kelopak bunga berkembang menjadi struktur yang menyerupai daun dengan ukuran 8-12 x 4,5 cm dan juga ditutupi rambut putih, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Panjang lobus tersebut berkisar 6-7 mm, berbentuk oval-lanset, dan terhubung dengan corolla yang memiliki panjang 2,5-3 cm, berbentuk corong dan melebar di bagian tengah, dengan warna yang menawan, baik oranye maupun kuning (Setia et al., 2022).  Kandungan Terdapat Fitokonstituen seperti quercetin, isoquercetin, hyperin, asam singapat, asam ferulat, dan stiglusida diisolasi menggunakan kromatografi arus balik tetes dari ekstrak metanol daun bunga Mussaenda frondosa L (Shanthi & Radha, 2020).  Khasiat Menyembuhkan influenza, demam, batuk, radang amandel, radang tenggorokan, koreng, luka, bisul, mencegah kanker payudara, mencegah dan mengatasi kanker payudara. Akar dari tanaman bunga Nusa Indah berguna untuk mengobati batuk dan aktivitas farmakologi yang telah dilaporkan yaitu sebagai diuretik, antipologis, antipiretik aktivitas dalam laringoparingitis, gastroenteritis akut, liver dan hepatitis (Rojin dkk., 2015). Kandungan senyawa kimia yang terdapat pada bunga Nusa Indah diantaranya adalah senyawa flavonoid, saponin, glikosida dan terpenoid (Eishwaraiah, 2011; Raju dan Rao, 2011). Senyawa terpenoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang dapat dijumpai pada bagian akar, batang, daun, buah maupun biji tanaman. Senyawa golongan terpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi yang menarik sebagai antiviral, antibakteri, antiinflamasi, sebagai inhibisi terhadap sintesis kolesterol dan antikanker (Mahato et al.,1997). Menurut Andini, dkk., (2014), senyawa golongan triterpenoid merupakan agen fitokimia yang dapat secara selektif membunuh sel kanker payudara dan mencegah rusaknya sel normal.  Cara pengolahan a. Untuk mencegah kanker payudara : Siapkan 15-30 g batang nusa indah kering atau 30-60 g yang segar, dan 30 g tapak dara. Rebus semua bahan dengan 600 ml air hingga mendidih dan air tersisa 300 ml. Saring dan dinginkan, minum ramuan. b. Untuk Influenza : Cuci bersih 12 g daun segar lalu rebus dengan 200 ml air bersih hingga mendidih (selama 5 menit). Saring dan dinginkan lalu minum sekaligus (sehari 2-3 kali). Daftar Pustaka Raju, N.J., and Rao, G.B., 2011, Anthelmintic Activities Of Antigonon Leptopus Hook and Mussaenda erythrophylla Lam., J. Pharm. Pharmaceut. Sci., 3 : 68-69.  Rojin, Sukanya S., dan Rajendra H., 2015, Hepatoprotective Effect Of Erythrophylla And Aegle Marmelos In Ethanol Induced Rat Hepatotoxicity Model, International Journal Of Applied Biology And Pharmaceutical Technology, 6 (3).  Tussanti, Iin, Andrew J., dan Kisdjamiatun, 2014, Sitotoksisitas In Vitro Ekstrak Etanolik Buah Parijoto (Medinilla Speciosa, Reinw.Ex Bl.) Terhadap Sel Kanker Payudara T47D, J. Gizi Indonesia, 2(2) : 53-58  Parwata IM. O.A.P.,Ratnayani K., dan Listya A. , 2010. Aktivitas Antiradical Bebas serta Kadar Beta Karoten pada Madu Randu (Ceiba Pentendra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L). Jurnal Kimia. 4:54-62.  Putra,B.A.A., Bogoriani, N.W., Diantariani, N.W., 2014. Ekstraksi Warna Alam dari Bonggol Tanaman Pisang (Musa Paradiasciaca L.) dengan Metode Maserasi, Refluks, dan Sokletasi. 8:113-199.  Rita, W.S., 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma Zedooria Berg.) (Roscoe). J.Kim 4:20-26. BEAUTIFUL NUSA FLOWERS LATIN NAME Mussaenda frondosa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Phylum: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Gentianules Family: Rubiaceae Genus: Mussaenda Species: Mussaenda frondosa L. (Setia et al., 2022) General Definition The Nusa Indah plant originates from the Philippines and originally grows wild as a shrub on hillside slopes. This plant is generally cultivated as an ornamental. Besides its beauty, the Nusa Indah also offers health benefits. This wild plant has fine, hairy branches. The flower stalks can reach 1.5 cm in length with an oval base and pointed tips. The leaves are between 6 and 10 cm long and are covered with fine hairs on the underside and have pointed tips. The stipules of this plant are 3-4 mm long, oval, and bifurcated at five apex points. The flowers grow in terminally compound inflorescences, forming loose, linear-tomentose cymes, ranging from 1 to 1.5 cm long and covered with fine hairs. The bracteoles are linear. Interestingly, one of the five calyx lobes develops into a leaf-like structure measuring 8-12 x 4.5 cm and also covered with white hairs, creating a truly stunning sight. The lobes are 6-7 mm long, oval-lanceolate, and connected to a corolla that is 2.5-3 cm long, funnel-shaped and widening in the center, and has a captivating color, either orange or yellow (Setia et al., 2022). Content Phytoconstituents such as quercetin, isoquercetin, hyperin, singapic acid, ferulic acid, and stiglucide were isolated using countercurrent drop chromatography from the methanol extract of Mussaenda frondosa L. flower leaves (Shanthi & Radha, 2020). Benefits Treats influenza, fever, cough, tonsillitis, sore throat, scabs, wounds, boils, and prevents breast cancer. The roots of the Nusa Indah flower are useful for treating coughs, and its pharmacological activities have been reported as diuretic, antifungal, and antipyretic activities in laryngopharyngitis, acute gastroenteritis, liver disease, and hepatitis (Rojin et al., 2015). The chemical compounds found in the Nusa Indah flower include flavonoids, saponins, glycosides, and terpenoids (Eishwaraiah, 2011; Raju and Rao, 2011). Terpenoid compounds are secondary metabolites found in the roots, stems, leaves, fruits, and seeds of plants. Terpenoid compounds exhibit interesting pharmacological activities as antivirals, antibacterials, anti-inflammatories, inhibitors of cholesterol synthesis, and anticancer agents (Mahato et al., 1997). According to Andini et al., (2014), triterpenoid compounds are

Bunga Nusa Indah Read More »

Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.)

Nama Latin Isotoma longiflora (L.) C. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Campanulaceae Genus : Isotoma Spesies : Isotoma longiflora L.C. pers Plantamor (2008) Definisi Umum Kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don), yang juga dikenal dengan sinonim Isotoma longiflora, merupakan tanaman herba berumur panjang yang termasuk dalam famili Campanulaceae dan secara alami tumbuh di wilayah tropis yang lembap, terutama di Asia Tenggara (Burhan, 2024). Tanaman ini dikenal sebagai spesies ruderal karena kemampuannya beradaptasi pada lingkungan terganggu dan mampu tumbuh tanpa perawatan khusus di area terbuka, pinggir parit, pematang sawah, maupun dekat permukiman (Ibrahim et al., 2025). Secara etnobotani, kitolod telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman herbal yang dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan mata, pernapasan, serta sebagai agen antiinflamasi dan antiseptik alami (Andi Permana et al., 2025). Namun, keberadaan senyawa alkaloid berpotensi toksik dalam jaringan tanaman membuat penggunaannya memerlukan kehati-hatian, terutama jika digunakan secara oral atau kontak langsung pada jaringan sensitif seperti mata (Ibrahim et al., 2025). Dengan demikian, kitolod dipandang sebagai tanaman yang memiliki nilai farmakologi potensial, tetapi masih memerlukan validasi ilmiah lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan batas dosis penggunaannya (Burhan, 2024). Secara morfologis, kitolod merupakan tanaman herba berbatang lunak yang umumnya memiliki tinggi antara 30 hingga 60 cm, dengan struktur batang hijau, sedikit berair, dan mudah patah jika ditekan (Burhan, 2024). Daunnya tersusun secara spiral dan berbentuk lanset memanjang, dengan ujung meruncing dan tepi yang dapat bergerigi atau sedikit melekuk, berukuran antara 5–17 cm pada tanaman dewasa (Ibrahim et al., 2025). Ciri khas utama tanaman ini terletak pada bunganya yang berbentuk terompet ramping dengan mahkota putih menyerupai bintang, tumbuh soliter pada ketiak daun melalui tangkai panjang, sehingga mudah dikenali dibanding tanaman liar lainnya (Andi Permana et al., 2025). Buah tanaman berbentuk kapsul kecil yang akan merekah ketika matang dan mengandung banyak biji berukuran sangat halus yang membantu distribusi alami melalui angin atau air (Ibrahim et al., 2025). Seluruh bagian tanaman mengandung getah putih yang lengket dan dilaporkan bersifat iritatif, sehingga kontak langsung dengan mata atau luka terbuka perlu dihindari (Burhan, 2024). Kandungan Kitolod mengandung berbagai metabolit sekunder yang berperan penting dalam aktivitas biologisnya, terutama dari kelompok: (Burhan, 2024).   Khasiat   Menurut literatur dan laporan etnobotani, Kitolod digunakan secara tradisional maupun dalam penelitian ilmiah untuk berbagai tujuan, antara lain:  Cara Pengolahan Berdasarkan literatur:  (Lena Enjelina, 2021) Daftar Pustaka Ibrahim, A., Bulan, A. S., Ramadhan, M. R., Bone, M., Rashif, H. R., Rusman, A., Arifuddin, M., Junaidin, J., & Rijai, L. (2025). Secondary metabolites and cytotoxicity of Kitolod leaf extract (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) against shrimp larvae (Artemia salina Leach). Jurnal Riseta Naturafarm, 2(1), 33–42. Burhan, A. (2024). Phytochemical profiling of Hippobroma longiflora leaf extract. Egyptian Journal of Chemistry. Andi Permana, S. D. A., Nisa Nur Azizah, T. R., Selviani E. S., Intan N. L. I., Alisya N. A., & Sehrama A. W. (2025). Fitokimia dan farmakologi tumbuhan Kitolod (Isotoma longiflora Presi). Buana Farma. “DNA Barcoding Analysis Kitolod (Hippobroma longiflora) from Riau Based on matK Gene.” (2025) Lena Enjelina. (2021). Monografi Tumbuhan Kitolid. https://www.scribd.com/document/524876548/MONOGRAFI-2

Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.) Read More »

Gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Nama Latin Talinum paniculatum Gaertn Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Spermatophyta Kelas           : Dicotyledonae Ordo            : Caryophyllales Famili          : Talinaceae Genus          : Talinum Spesies        : Talinum paniculatum Gaertn (Simpson (2006) dan van Steenis (2002) ) Definisi Umum Tanaman Gingseng Jawa adalah tanaman obat yang tumbuh liar di pekarangan dan kebun di Indonesia. Masyarakat lokal sering menyebutnya “som jawa” dan memanfaatkannya sebagai sayuran dan obat herbal tradisional karena khasiatnya yang beragam. Tanaman ini dikenal memiliki kandungan bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid, yang memberikan aktivitas farmakologis (Silalahi, 2022). Tanaman Gingseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) merupakan herba tropis tegak dengan akar tunggang menebal sebagai tempat cadangan makanan. Batangnya berair dan bercabang banyak, sedangkan daunnya tunggal, berbentuk elips hingga lonjong, licin, dan tersusun berselang-seling, yang menjadi bagian utama yang dimanfaatkan karena kandungan senyawa bioaktifnya. Bunga tersusun dalam malai kecil berwarna merah muda hingga ungu muda, dengan buah berupa kapsul kecil berisi biji hitam. Tanaman ini mudah dibudidayakan di daerah tropis dan memiliki kemampuan produksi biomassa daun yang tinggi (Lakitan et al., 2021; Silalahi, 2022). Kandungan Tanaman gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) mengandung berbagai senyawa bioaktif penting, antara lain flavonoid, senyawa fenolik, saponin, tanin, serta steroid atau triterpenoid, yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri (Oktaviani et al., 2024; Susilo et al., 2024). Selain itu, gingseng jawa juga mengandung chlorogenic acid dan quercetin yang memiliki aktivitas antiinflamasi, serta fitosterol seperti stigmasterol dan sitosterol yang mendukung aktivitas biologis tanaman ini (El-Baehaqi et al., 2022; Susilo et al., 2024). Khasiat Ekstrak daun dan akar gingseng jawa memiliki aktivitas antioksidan yang membantu menekan stres oksidatif dan menjaga kesehatan sel (Rachmawan et al., 2025; Susilo et al., 2024). Kandungan flavonoid, tanin, dan saponin pada daunnya juga menunjukkan aktivitas antibakteri, khususnya terhadap Shigella dysenteriae (Oktaviani et al., 2024). Selain itu, ekstrak akar gingseng jawa dilaporkan memiliki efek afrodisiak, sedangkan senyawa fenolik dan fitosterol berkontribusi terhadap aktivitas antiinflamasi dan tonik, sehingga mendukung pemanfaatannya sebagai tanaman obat untuk meningkatkan vitalitas tubuh (El-Baehaqi et al., 2022; Susilo et al., 2024). Cara Pengolahan Akar atau daun dicuci dengan air mengalir hingga bersih dari kotoran dan tanah sebelum diolah. Akar dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau suhu rendah hingga kadar air menurun dan bahan stabil. Simplisia diekstraksi menggunakan pelarut air dengan pemanasan untuk menarik senyawa aktif yang larut air. Ekstrak cair dikeringkan menggunakan spray drying hingga diperoleh ekstrak kering berbentuk serbuk. Serbuk ekstrak disimpan dalam wadah tertutup, terlindung dari cahaya dan kelembapan. Daun Ginseng Jawa disortasi, kemudian dicuci menggunakan air mengalir lalu ditiriskan. Daun ginseng jawa dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 55°C. Kemudian daun gigseng jawa digiling menjadi serbuk teh. Teh diseduh dengan air mendidih (suhu 90oC) sebanyak 121 ml dalam gelas, lalu ditutup selama 15 menit. Teh herbal siap disajikan (Fajriyah et al., 2024) Daftar Pustaka El-Baehaqi, S. F., A. D. Aminah, dan F. Firdayani. 2022. Analysis of potential compounds from Javanese Ginseng (Talinum paniculatum Gaertn.) and Moringa leaves as the anti-inflammation with molecular docking method. Acta Pharmaceutica Indonesia, 47 (2) : 16 – 27. DOI: https://doi.org/10.5614/api.v47i2.18974 Fajriyah, M., A. Nirmalawaty, D. A. Rosida, dan T. W. S. Panjaitan. 2024. Pembuatan teh herbal dengan bahan baku daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum), Rosella (Hibiscus sabdariffa) dan Serai (Cymbopogon citratus). Agroteksos, 34 (1) : 242 – 249. DOI: https://doi.org/10.29303/agroteksos.v34i1.1100 Lakitan, B., K. Kartika, L. I. Widuri, E. Siaga, dan L. N. Fadilah. 2021. Lesser-known ethnic leafy vegetables Talinum paniculatum grown at tropical ecosystem: Morphological traits and non-destructive estimation of total leaf area per branch. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 22, 4487 – 4495. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d22104 Oktaviani, R., F. Fitriyanti, dan P. K. Sari. 2024. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn) terhadap Shigella dysenteriae. Borneo Journal of Pharmascientech, 8 (1) : 25 – 33. DOI: https://doi.org/10.51817/bjp.v8i1.502 Rachmawan, R. L., S. Wahyuningsih, dan F. H. Suryani. 2025. Uji aktivitas ekstrak etanol 50% akar Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Jacq. (Gaertn)) sebagai inhibitor stres oksidatif. J. Buana Farma, 5 (3) : 386 – 393. DOI: https://doi.org/10.36805/jbf.v5i3.1391 Silalahi, M. 2022. Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn (Kajian pemanfaatannya sebagai bahan pangan dan bioaktivitasnya). Pro-Life: Jurnal Pendidikan Biologi, Biologi dan Ilmu Serumpun, 9 (1) : 289 – 299. DOI: https://doi.org/10.33541/pro-life.v9i1.3588 Susilo, S., F. N. Aini, dan E. D. Permanasari. 2024. Phytochemical constituents of leaves and roots ethanolic extract of Talinum paniculatum and their biological activities. Research Journal of Pharmacy and Technology, 17 (2) : 679 – 685. DOI: https://doi.org/10.52711/0974-360X.2024.00105

Gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Read More »

Kantil (Magnolia × alba)

Nama Latin Magnolia × alba Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Famili : Magnoliaceae Genus : Magnolia Spesies : Magnolia × alba (Indrokilo oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan periode 2019-2020) Definisi Umum Kantil putih (Magnolia × alba) adalah pohon berbunga yang banyak ditemukan di kawasan tropis Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Tiongkok. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih bersih dan sangat harum, sehingga sering digunakan dalam upacara adat, hiasan bunga, serta sebagai simbol budaya di beberapa daerah. Walaupun lebih dikenal sebagai tanaman hias, bagian bunganya juga memiliki sejarah pemanfaatan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan kesehatan ringan. Kandungan Tanaman kantil putih mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat berkontribusi pada aktivitas farmakologisnya: Khasiat  Beberapa khasiat tanaman kantil putih yang didukung oleh penelitian ilmiah dan penggunaan tradisional antara lain: Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak bunga Magnolia × alba memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, menunjukkan potensi sebagai bahan alami untuk menghambat pertumbuhan mikroba penyebab infeksi (Safrina, 2022). Kandungan flavonoid dalam ekstrak bunga menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki aktivitas antioksidan, yang berarti dapat membantu tubuh mengatasi stres oksidatif dan mendukung kesehatan secara umum Dalam praktik pengobatan tradisional, bunga kantil putih sering digunakan untuk meredakan batuk dan gangguan pernapasan ringan, serta sebagai bahan aromaterapi dan penenang karena aromanya yang khas. Tanaman ini juga digunakan untuk membantu meredakan demam, gangguan pencernaan ringan, serta sebagai diuretik ringan (peluruh kencing) (Oktaviana dkk., 2023). Cara Pengolahan Berikut beberapa cara pengolahan bagian tanaman kantil putih untuk pemanfaatan tradisional atau pengujian aktivitas biologis: Bunga kantil dapat direbus dengan air bersih untuk dijadikan teh herbal ringan. Penyajian ini sering digunakan secara tradisional sebagai minuman aroma terapi yang diyakini membantu meredakan batuk atau stres ringan. Dalam penelitian modern, bagian bunga diekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol untuk memperoleh konsentrasi flavonoid dan senyawa beraroma lain yang kemudian diuji aktivitasnya di laboratorium (Mastura dkk., 2024). Minyak esensial yang diperoleh dari bunga M. × alba juga digunakan dalam aromaterapi atau sebagai bagian dari formulasi minyak pijat untuk relaksasi karena aromanya yang menenangkan Daftar Pustaka Bawa, I. G. A. G. (2011). Aktivitas antioksidan dan antijamur senyawa atsiri bunga cempaka putih (Michelia alba). Jurnal Kimia, 5(1): 43–50. De Mel, S., Gruenler, J., Khoury, L., Heynes, A., Fazekas, J., Damaske, K., and Anderson, R. S. (2025). Green synthesis of silver nanoparticles using Magnolia alba leaf extracts and evaluating their antimicrobial, anticancer, antioxidant, and photocatalytic properties. Scientific Reports, 15 (1): 23709. Mastura, Amna, U., Niaci, S., and Pebiola, T. (2024). Determination of total flavonoids extract of white (Magnolia alba (DC.) Figlar) using spectrophotometry UV–Vis method. Journal of Carbazon, 2(1): 31–37. Oktaviana, N., Isnaini, N., Harnelly, E., Zulkarnain, Z., Muhammad, S., dan Misrahanum, M. (2023). Theoretical evaluation of Michelia species’ bioactive compounds and therapeutic potential: A literature review. Grimsa Journal of Science, Engineering and Technology, 1(2): 52–59. Safrina, S. (2022). Uji aktivitas antimikroba dan kandungan senyawa kimia bunga cempaka putih (Michelia alba DC.). Jurnal Ilmiah Guru Madrasah, 1(2): 83–96. Socfindo Conservation. (n.d.). Magnolia × alba (Kantil / cempaka putih). Socfindo Conservation. https://www.socfindoconservation.co.id/plant/919](https://www.socfindoconservation.co.id/plant/919)

Kantil (Magnolia × alba) Read More »

TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Nama Latin Curcuma xanthorrhiza Roxb. Taksonomi Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Keluarga : Zingiberaceae Genus : Curcuma Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb. (Syamsudin et al., 2019) Definisi Umum Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia yang termasuk dalam famili Zingiberaceae dan banyak dijumpai di wilayah beriklim tropis. Selain dikenal dengan sebutan temulawak atau kunyit Jawa, tanaman ini memiliki berbagai nama daerah seperti koneng gede (Sunda), temu labak (Madura), tommo (Bali), tommo (Sulawesi Selatan), dan karbanga (Ternate). Tanaman ini mampu tumbuh di berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah hingga sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, temulawak tumbuh luas dan dibudidayakan hampir di seluruh pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Selain itu, budidayanya juga telah meluas ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Bahkan, tanaman ini juga dibudidayakan di negara-negara Asia lainnya seperti Cina, India, Jepang, dan Korea (Mukti & Hermady, 2020).Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh berumpun dengan batang semu setinggi sekitar 2–2,5 meter. Dalam satu rumpun biasanya terdapat 3 hingga 9 tanaman, dan masing-masing tanaman memiliki 2 sampai 9 helai daun. Daun temulawak berukuran panjang 50–55 cm dan lebar sekitar 18 cm. Bunga temulawak tumbuh sepanjang tahun secara bergantian dari rimpangnya. Tangkai bunga memiliki panjang sekitar 3 cm, dengan rangkaian bunga mencapai 1,5 cm, dan setiap tangkai terdiri dari 3–4 kuntum bunga. Tangkai tersebut berbentuk ramping, berbulu, dan dapat mencapai panjang 4–37 cm. Bunganya berbentuk bulat memanjang hingga sekitar 23 cm, dengan daun pelindung yang panjangnya bisa sama atau lebih besar daripada mahkota bunga. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan layu menjelang sore. Rimpang utama temulawak berbentuk bulat lonjong menyerupai telur, sedangkan rimpang cabang tumbuh menyamping dan memanjang dengan jumlah 3–4 cabang per tanaman. Sistem akarnya berupa akar serabut yang tumbuh tidak beraturan dengan panjang sekitar 2,5 cm (Mukti & Hermady, 2020). Kandungan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung berbagai metabolit sekunder penting, terutama pada bagian batang bunganya yang memiliki sejumlah senyawa aktif. Kandungan tersebut meliputi xanthorrhizol sebesar 16,13%, α-curcumene sebesar 15,12%, β-element sebesar 4,60%, trans-caryophyllene sebesar 3,48%, β-farnesene sebesar 0,29%, kamper sebesar 0,21%, serta dan isoborneol sebesar 0,04%. Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) juga mengandung berbagai senyawa seperti gula, saponin, flavonoid, glikosida jantung, terpenoid, dan anthraquinon, namun tidak mengandung alkaloid, steroid, tanin, maupun phlobatannin (Mukti & Hermady, 2020). Xanthorrhizol merupakan senyawa sesquiterpene dengan berat molekul 218. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) tidak hanya kaya akan senyawa seskuiterpena seperti xanthorrhizol, bisacumol, bisacurol, dan zingiberene, tetapi juga mengandung kurkuminoid sekitar 1–2%. Menurut Jantan et al. (2012), kandungan kurkuminoid dalam temulawak dapat mencapai 5%, dengan kadar kurkumin sebesar 2,3% dan bisdemetoksikurkumin sebesar 0,8%. Minyak atsiri temulawak terdiri dari 1–2% kurkumin, serta 3–12% sesquiterpene, dengan komponen utama berupa xanthorrhizol sebesar 44,5% dan sedikit kamper. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa komposisi temulawak kering meliputi pati sebesar 48,59%, air 9,8%, protein 3,3%, abu 3,29%, lemak 2,84%, dan kurkumin 2,02% (Mukti & Hermady, 2020). Menurut European Medicines Agency Science Medicines Health (2014), akar temulawak mengandung curcuminoid sekitar 1–2%, yang merupakan campuran turunan cinnamoyl methane, meliputi curcumin (diferuloylmethane) monodemethoxycurcumin (feruloyl-phydroxycinnamoylmethane) dan bisdesmethoxycurcumin (bis-(phydroxycinnamoyl)methane). Selain itu, akar temulawak juga mengandung diarilheptanoid baik yang bersifat fenolik maupun non-fenolik, serta minyak atsiri sebesar 3–12%. Komponen utama dalam minyak atsirinya meliputi sesquiterpene seperti β-curcumene, ar-curcumene, xanthorrhizol sebesar 44,5%, dan sedikit kamper sekitar 1,39% (Mukti & Hermady, 2020). Khasiat Penelitian yang dilakukan oleh Kawiji dan Nugraha, (2010) menunjukkan bahwa penggunaan pengering tenaga surya (solar dryer) dengan tambahan kain penutup pada proses isolasi senyawa temulawak menghasilkan kadar kurkuminoid, total fenol, serta aktivitas antioksidan oleoresin yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pengeringan menggunakan sinar matahari langsung tanpa kain maupun penutup hitam (Syamsudin et al., 2019). Menurut Maryani dan Kristina (2004), minyak atsiri yang terdapat pada rimpang temulawak memiliki berbagai khasiat, antara lain meningkatkan produksi empedu, menurunkan kadar kolesterol, serta bersifat analgesik, antipiretik, dan antibakteri. Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian Retnaningsih (2015) yang menunjukkan bahwa air perasan rimpang temulawak memiliki daya hambat bakteri sebesar 15,5 mm setelah 24 jam inkubasi. Dalam penelitian tersebut, aktivitas antibakteri perasan temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terbukti lebih kuat dibandingkan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.), yang hanya menghasilkan zona hambat sebesar 12,1 mm (Syamsudin et al., 2019). Temulawak mengandung berbagai senyawa aktif yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba, sehingga sering dimanfaatkan sebagai agen antimikroba sekaligus obat tradisional. Tanaman ini digunakan untuk mengatasi gatal-gatal, keputihan, diare, serta jerawat, dan juga berkhasiat dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroba patogen seperti Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Selain itu, ekstrak Curcuma xanthorrhiza Roxb. terbukti dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti Bacillus cereus, E. coli, Penicillium sp., dan Rhizopus oryzae (Syamsudin et al., 2019). Menurut Adila dan Agustien (2013), spesies Curcuma spp. menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan yang bervariasi terhadap Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak segar rimpang temulawak terhadap E. coli masing-masing tercatat sebesar 12,5% dan 25% (Syamsudin et al., 2019). Penambahan sari temulawak terbukti dapat mengurangi kadar garam dan lemak pada telur asin, namun tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap total fenol maupun tekstur. Hasil terbaik diperoleh pada telur asin dengan penambahan sari temulawak sebesar 75% (Syamsudin et al., 2019). Minyak atsiri temulawak mengandung berbagai senyawa seperti pelandren, kamfer, borneol, sineol, dan xanthorrhizol. Di antara komponen tersebut, xanthorrhizol memiliki khasiat penting sebagai antibakteri, pencegah kerusakan email gigi, serta berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker payudara, paru-paru, dan ovarium. Penambahan minyak atsiri temulawak dengan berbagai konsentrasi ke dalam edible film terbukti dapat menghambat aktivitas mikroba sekaligus masih dapat diterima secara organoleptik oleh panelis. Konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroba adalah 0,1%, sedangkan konsentrasi yang masih dapat diterima panelis mencapai 1%. Nilai aktivitas antioksidan minyak atsiri temulawak ditunjukkan oleh 11,828% DPPH/mg (Syamsudin et al., 2019). Temulawak juga menunjukkan aktivitas antivirus terhadap Simian Retrovirus Serotype-2 (SRV-2), yaitu virus penyebab penurunan sistem kekebalan tubuh pada monyet jenis Macaca (K/SAIDS). Virus ini memiliki spektrum infeksi yang luas, menyerang sel limfoid dan berbagai sel tubuh lainnya, serta dapat terdeteksi di berbagai jaringan dan organ monyet

TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Read More »

Jeruk Bali (Citrus maxima)

Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae  Ordo: Sapindales Famili: Rutaceae Genus: Citrus Spesies: Citrus maxima (Burm.) Merr. (USDA, 2013) Definisi Umum Jeruk Bali merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Rutaceae yang dimana jeruk ini dapat tumbuh subur hingga 5-15 meter dibawah sinar matahari dengan limpahan hujan sekitar 1.500-2.000 mm baik di dataran yang rendah maupun tinggi serta kelembapan yang mencapai suhu 25-32°C. Kandungan Kandungan pada kulit jeruk Bali terdiri dari flavonoid, pectin, dan lycopene yang membuat buah ini semakin banyak manfaatnya. Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Pectin pada kulit jeruk bali mempunyai efektivitas antimikroba. Jeruk Bali juga mengandung limonen yang menimbulkan adanya rasa pahit. Khasiat Kulit jeruk Bali memiliki sangat banyak manfaat dimana ekstrak etanol pada kulit jeruk Bali memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, triterpenoid atau steroid, saponin, serta tannin yang mempunyai aktivitas antioksidan. Salah satu peran senyawa flavonoid dinamakan sebagai free radical scavenger dimana atom hidrogen dilepaskan oleh flavonoid dari gugus hidroksilnya, radikal bebas akan mengikat atom hidroksil yang terlepas sehingga membuatnya kembali dalam kondisi netral.  Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA Filbert K, dkk. 2023. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT JERUK BALI CITRUS MAXIMA PERICARPIUM) TERHADAP PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN ENTEROCOCCUS FAECALIS. JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCE AND RESEARCH. 5 (1). 

Jeruk Bali (Citrus maxima) Read More »

Scroll to Top