Nama Latin
Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria)
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathopyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma zedoaria
(BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN PAPUA T.A, 2022)
Definisi Umum
Kunyit putih (Curcuma zedoaria) termasuk ke dalam kelompok tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah dan mampu membentuk tunas serta akar baru pada setiap ruasnya. Kunir putih dicirikan oleh adanya batang semu yang lunak dan berada di dalam tanah dalam bentuk rimpang dengan warna hijau pucat. Daunnya berupa daun tunggal berbentuk lanset, yaitu lonjong dengan ujung runcing dan pangkal tumpul, serta memiliki tulang daun menyirip halus. Tanaman ini tergolong tanaman semak dengan tinggi mencapai ± 2 meter, permukaannya berbulu halus, dan berwarna hijau dengan garis-garis ungu. Bunga kunir putih tersusun secara majemuk, berbentuk tabung, muncul dari ketiak daun, dan tumbuh ke atas membentuk bongkol bunga yang berukuran besar (Sagita et al., 2022)
Kandungan
Kandungan utama yang terdapat pada rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang terdiri atas kurkumin sebagai komponen terbesar, desmetoksikurkumin sekitar 10%, serta bisdesmetoksikurkumin sebesar 1–5%. Kurkumin termasuk ke dalam golongan senyawa polifenol yang berperan penting dalam aktivitas biologis kunyit. Selain kurkuminoid, rimpang kunyit juga mengandung berbagai senyawa lain yang bermanfaat, antara lain minyak atsiri yang tersusun atas keton seskuiterpen, turmeron dan tumeon (±60%), zingiberen (±25%), serta senyawa lain seperti felandren, sabinen, borneol, dan sineol. Rimpang kunyit juga mengandung komponen nutrisi berupa lemak (1–3%), karbohidrat (±3%), protein (±30%), pati (±8%), vitamin C (45–55%), serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan kalsium, yang berkontribusi terhadap khasiatnya dalam membantu pengobatan berbagai penyakit (Sofiana Putri, 2023)
Khasiat
- Antioksidan : Ekstrak kunir putih (Curcuma zedoaria Rosc.) berdasarkan studi lanjutan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Zat yang berperan di dalamnya adalah senyawa polifenol yang didapatkan dari ekstraksi maserasi berkelanjutan menggunakan etanol 96%. Pada rasio massa 72:28% rendemen hasil ekstraksi memberikan kandungan kurkumin tertinggi (Syed Abdul Rahman et al., 2022).
- Antiinflamasi : Kunir putih (Curcuma zedoaria Rosc.) adalah bahan herbal yang banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional meringankan inflamasi atau peradangan. Pada formulasi sediaan gel, ekstrak kunir putih memberikan aktivitas sebagai anti inflamasi pada 7 hari masa penyembuhan yang diuji pada mencit putih jantan dengan konsentrasi 10% (Sagita et al., 2022)
- Antimikroba : Rimpang kunyit putih (Curcuma zedoaria Rosc.) diteliti menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus epidermidis bacteria setelah dilakukan pengujian anti bakteri menggunakan metode difusi cakram (Indryani et al., 2021).
- Antikanker : Kunir putih (Curcuma zedoaria Rosc.) pada beberapa studi menunjukan aktivitas anti kanker sehingga perlu pengembangan lebih untuk menjadikan bahan aktif ini menjadi salah satu terapi alternatif alami untuk kanker (Jyothi et al., 2023)
Cara Pengolahan
Rimpang kunyit putih dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut:
- Usai kunyit direbus dan dikeringkan dengan oven a(suhu kurang lebih 65 derajat celcius x 36 jam)/ menjemur hingga kering, dan dihaluskan dengan blender sampai halus
- 1 – 2 sendok teh serbuk kunyit putih dapat dicampurkan ke dalam 1 gelas air
- Penambahan madu, lemon, jeruk nipis dan jahe dapat menambah cita rasa sehingga lebih enak
- Penambahan susu,santan dan minyak kelapa pada larutan kunyit putih dapat meningkatkan penyerapan bahan aktif ke dalam tubuh
- Penambahan lada dapat memperkuat cita rasa kunyit
Daftar Pustaka
Indryani, Chiuman, Wijaya, Lister, & Grandis. (2021). Antibacterial Effect of Curcuma zedoaria Extract on Bacillus cereus and Staphylococcus epidermidis.
Jyothi, Prasanna, Sakarkar, Prabha, Ramaiah, & Srawan. (2023). Microencapsulation techniques, factors influencing encapsulation efficiency.
Sagita, N. D., Sopyan, I., & Hadisaputri, Y. E. (2022). Kunir Putih (Curcuma zedoaria Rocs.): Formulasi, Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologi. Majalah Farmasetika, 7(3), 189. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v7i3.37711
Sofiana Putri, M. (2023). Curcuma zedoaria): Its Chemical Subtance and The Pharmacological Benefits. In J MAJORITY | (Vol. 3).
Syed Abdul Rahman, Abdul Wahab, & Abd Malek. (2022). In vitro morphological assessment of apoptosis induced by antiproliferative constituents from the rhizomes of Curcuma zedoaria. Evidence-Based Complement Altern Med.
Magdalena MM. Kunyit putih: herbal pengusir kanker dan tumor. 2014. Tersedia dari http://www.deherba.com (Diakses tanggal 24 Maret 2014).
Hartati MS, Mubarika S, Bolhuis RLH, Nooter K, Oostrum RG, Boersma AWM, Wahyuono S. Sitotoksisitas rimpang temu mangga (Curcuma mangga) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria L) terhadap beberapa sel kanker manusia (in vitro) dengan metoda SRB. Berkala Ilmu Kedokteran. 2003; 35(4): 197–201.
Hutapea JR. Inventaris tanaman obat Indonesia. Edisi ke–2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993.

