Nama Latin
Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Taksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Keluarga : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb.
(Syamsudin et al., 2019)
Definisi Umum
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia yang termasuk dalam famili Zingiberaceae dan banyak dijumpai di wilayah beriklim tropis. Selain dikenal dengan sebutan temulawak atau kunyit Jawa, tanaman ini memiliki berbagai nama daerah seperti koneng gede (Sunda), temu labak (Madura), tommo (Bali), tommo (Sulawesi Selatan), dan karbanga (Ternate). Tanaman ini mampu tumbuh di berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah hingga sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, temulawak tumbuh luas dan dibudidayakan hampir di seluruh pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Selain itu, budidayanya juga telah meluas ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Bahkan, tanaman ini juga dibudidayakan di negara-negara Asia lainnya seperti Cina, India, Jepang, dan Korea (Mukti & Hermady, 2020).Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh berumpun dengan batang semu setinggi sekitar 2–2,5 meter. Dalam satu rumpun biasanya terdapat 3 hingga 9 tanaman, dan masing-masing tanaman memiliki 2 sampai 9 helai daun. Daun temulawak berukuran panjang 50–55 cm dan lebar sekitar 18 cm. Bunga temulawak tumbuh sepanjang tahun secara bergantian dari rimpangnya. Tangkai bunga memiliki panjang sekitar 3 cm, dengan rangkaian bunga mencapai 1,5 cm, dan setiap tangkai terdiri dari 3–4 kuntum bunga. Tangkai tersebut berbentuk ramping, berbulu, dan dapat mencapai panjang 4–37 cm. Bunganya berbentuk bulat memanjang hingga sekitar 23 cm, dengan daun pelindung yang panjangnya bisa sama atau lebih besar daripada mahkota bunga. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan layu menjelang sore. Rimpang utama temulawak berbentuk bulat lonjong menyerupai telur, sedangkan rimpang cabang tumbuh menyamping dan memanjang dengan jumlah 3–4 cabang per tanaman. Sistem akarnya berupa akar serabut yang tumbuh tidak beraturan dengan panjang sekitar 2,5 cm (Mukti & Hermady, 2020).
Kandungan
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung berbagai metabolit sekunder penting, terutama pada bagian batang bunganya yang memiliki sejumlah senyawa aktif. Kandungan tersebut meliputi xanthorrhizol sebesar 16,13%, α-curcumene sebesar 15,12%, β-element sebesar 4,60%, trans-caryophyllene sebesar 3,48%, β-farnesene sebesar 0,29%, kamper sebesar 0,21%, serta dan isoborneol sebesar 0,04%. Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) juga mengandung berbagai senyawa seperti gula, saponin, flavonoid, glikosida jantung, terpenoid, dan anthraquinon, namun tidak mengandung alkaloid, steroid, tanin, maupun phlobatannin (Mukti & Hermady, 2020).
Xanthorrhizol merupakan senyawa sesquiterpene dengan berat molekul 218. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) tidak hanya kaya akan senyawa seskuiterpena seperti xanthorrhizol, bisacumol, bisacurol, dan zingiberene, tetapi juga mengandung kurkuminoid sekitar 1–2%. Menurut Jantan et al. (2012), kandungan kurkuminoid dalam temulawak dapat mencapai 5%, dengan kadar kurkumin sebesar 2,3% dan bisdemetoksikurkumin sebesar 0,8%. Minyak atsiri temulawak terdiri dari 1–2% kurkumin, serta 3–12% sesquiterpene, dengan komponen utama berupa xanthorrhizol sebesar 44,5% dan sedikit kamper. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa komposisi temulawak kering meliputi pati sebesar 48,59%, air 9,8%, protein 3,3%, abu 3,29%, lemak 2,84%, dan kurkumin 2,02% (Mukti & Hermady, 2020). Menurut European Medicines Agency Science Medicines Health (2014), akar temulawak mengandung curcuminoid sekitar 1–2%, yang merupakan campuran turunan cinnamoyl methane, meliputi curcumin (diferuloylmethane) monodemethoxycurcumin (feruloyl-phydroxycinnamoylmethane) dan bisdesmethoxycurcumin (bis-(phydroxycinnamoyl)methane). Selain itu, akar temulawak juga mengandung diarilheptanoid baik yang bersifat fenolik maupun non-fenolik, serta minyak atsiri sebesar 3–12%. Komponen utama dalam minyak atsirinya meliputi sesquiterpene seperti β-curcumene, ar-curcumene, xanthorrhizol sebesar 44,5%, dan sedikit kamper sekitar 1,39% (Mukti & Hermady, 2020).
Khasiat
- Aktivitas Antioksidan
Penelitian yang dilakukan oleh Kawiji dan Nugraha, (2010) menunjukkan bahwa penggunaan pengering tenaga surya (solar dryer) dengan tambahan kain penutup pada proses isolasi senyawa temulawak menghasilkan kadar kurkuminoid, total fenol, serta aktivitas antioksidan oleoresin yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pengeringan menggunakan sinar matahari langsung tanpa kain maupun penutup hitam (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Antibakteri dan Antimikroba
Menurut Maryani dan Kristina (2004), minyak atsiri yang terdapat pada rimpang temulawak memiliki berbagai khasiat, antara lain meningkatkan produksi empedu, menurunkan kadar kolesterol, serta bersifat analgesik, antipiretik, dan antibakteri. Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian Retnaningsih (2015) yang menunjukkan bahwa air perasan rimpang temulawak memiliki daya hambat bakteri sebesar 15,5 mm setelah 24 jam inkubasi. Dalam penelitian tersebut, aktivitas antibakteri perasan temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terbukti lebih kuat dibandingkan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.), yang hanya menghasilkan zona hambat sebesar 12,1 mm (Syamsudin et al., 2019).
Temulawak mengandung berbagai senyawa aktif yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba, sehingga sering dimanfaatkan sebagai agen antimikroba sekaligus obat tradisional. Tanaman ini digunakan untuk mengatasi gatal-gatal, keputihan, diare, serta jerawat, dan juga berkhasiat dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroba patogen seperti Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Selain itu, ekstrak Curcuma xanthorrhiza Roxb. terbukti dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti Bacillus cereus, E. coli, Penicillium sp., dan Rhizopus oryzae (Syamsudin et al., 2019).
Menurut Adila dan Agustien (2013), spesies Curcuma spp. menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan yang bervariasi terhadap Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak segar rimpang temulawak terhadap E. coli masing-masing tercatat sebesar 12,5% dan 25% (Syamsudin et al., 2019).
Penambahan sari temulawak terbukti dapat mengurangi kadar garam dan lemak pada telur asin, namun tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap total fenol maupun tekstur. Hasil terbaik diperoleh pada telur asin dengan penambahan sari temulawak sebesar 75% (Syamsudin et al., 2019).
Minyak atsiri temulawak mengandung berbagai senyawa seperti pelandren, kamfer, borneol, sineol, dan xanthorrhizol. Di antara komponen tersebut, xanthorrhizol memiliki khasiat penting sebagai antibakteri, pencegah kerusakan email gigi, serta berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker payudara, paru-paru, dan ovarium. Penambahan minyak atsiri temulawak dengan berbagai konsentrasi ke dalam edible film terbukti dapat menghambat aktivitas mikroba sekaligus masih dapat diterima secara organoleptik oleh panelis. Konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroba adalah 0,1%, sedangkan konsentrasi yang masih dapat diterima panelis mencapai 1%. Nilai aktivitas antioksidan minyak atsiri temulawak ditunjukkan oleh 11,828% DPPH/mg (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Antivirus
Temulawak juga menunjukkan aktivitas antivirus terhadap Simian Retrovirus Serotype-2 (SRV-2), yaitu virus penyebab penurunan sistem kekebalan tubuh pada monyet jenis Macaca (K/SAIDS). Virus ini memiliki spektrum infeksi yang luas, menyerang sel limfoid dan berbagai sel tubuh lainnya, serta dapat terdeteksi di berbagai jaringan dan organ monyet menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR). Kombinasi ekstrak meniran dan temulawak pada konsentrasi 100 ppm, 250 ppm, dan 500 ppm terbukti mampu menghambat pertumbuhan virus SRV-2 yang dikultur pada sel A549 (sel kanker paru-paru manusia) (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Hepatoprotektif
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Candra (2013), pemberian ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dengan dosis 500 mg/kgBB selama 7 hari berturut-turut mampu menurunkan kadar SGOT dan SGPT pada ayam yang sebelumnya diinduksi dengan parasetamol dosis 1350 mg/kgBB selama 7 hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa temulawak efektif dalam mencegah peningkatan kadar SGOT dan SGPT yang disebabkan oleh pemberian parasetamol dalam dosis toksik (Syamsudin et al., 2019).
Kandungan kurkumin dalam temulawak berperan sebagai antioksidan dan agen detoksifikasi, yang bekerja dengan meningkatkan aktivitas enzim Gt dan GS-x, serta melindungi eritrosit dan hemoglobin dari proses oksidasi akibat paparan senyawa nitrit. Selain itu, kurkumin juga berfungsi dalam menjaga kesehatan hati, saluran pencernaan, dan ginjal, menurunkan kadar radikal bebas, serta menghambat aktivitas enzim nitric oxide synthase pada makrofag. Hasil penelitian oleh Sari et al. (2015) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak temulawak sebagai upaya pencegahan terhadap efek radiasi gamma mampu menurunkan kadar SGPT secara signifikan, yaitu dari 153,91 U/L menjadi 32,06 U/L (Syamsudin et al., 2019).
Menurut penelitian Romualdo et al. (2010), enzim L-asparaginase yang terdapat dalam temulawak berperan dalam menghambat sintesis protein pada sel kanker secara selektif dengan menghasilkan asam aspartat dan amonia sebagai produk reaksinya. Aktivitas spesifik tertinggi dari fraksi L-asparaginase hasil isolasi menggunakan amonium sulfat ditemukan pada fraksi keempat (tingkat kemurnian 60–80%), dengan aktivitas enzim sebesar 22,639 unit/mg protein. Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa fraksi keempat isolat amonium sulfat memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa, dengan nilai LC₅₀ sebesar 309,74 ppm (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Antiinflamasi
Temulawak diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi. Berdasarkan penelitian Farida et al. (2018) yang menggunakan metode penghambatan denaturasi protein pada ekstrak dan nanopartikel ekstrak rimpang temulawak, hasilnya menunjukkan bahwa kedua bentuk tersebut memiliki kemampuan antiinflamasi. Nilai IC₅₀ penghambatan denaturasi protein dari ekstrak temulawak sebesar 521,67 ± 5,80 bpj, sedangkan pada nanopartikel ekstrak rimpang temulawak nilainya lebih rendah, yaitu 398,02 ± 1,78 bpj. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antiinflamasi nanopartikel ekstrak rimpang temulawak lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol 96% rimpang temulawak biasa (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Antidepresan
Ekstrak temulawak diketahui memiliki aktivitas sebagai antidepresan, yang didukung oleh kandungan kurkumin sebesar 1–2% serta minyak atsiri sebanyak 6–10% yang mengandung fellandrean dan turmerol. Senyawa-senyawa tersebut berperan sebagai agen anti inflamasi dan berfungsi dalam mekanisme patofisiologis yang dapat menurunkan gejala depresi (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Stimulansia
Secara umum, temulawak bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan dan memelihara stamina tubuh. Hasil uji klinis menunjukkan bahwa konsumsi minuman ekstrak temulawak dapat menurunkan jumlah sel limfosit B, sehingga mengindikasikan adanya pengaruh terhadap penurunan fungsi imun humoral (Syamsudin et al., 2019).
- Aktivitas Analgesik
Temulawak merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki khasiat sebagai analgesik. Pemberian ekstrak metanol temulawak secara oral pada tikus percobaan terbukti mampu mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan akibat injeksi asam asetat (Syamsudin et al., 2019).
Minyak atsiri temulawak memiliki kemampuan menghambat rangsangan nyeri baik pada sistem saraf pusat (SSP) maupun sistem saraf perifer, masing-masing sebesar 26,85±2,73% dan 75,08±0,86%. Sementara itu, senyawa kurkuminoid hanya mampu menghambat nyeri pada sistem saraf perifer sebesar 44,80±1,46%, tanpa memberikan efek pada SSP. Kombinasi antara minyak atsiri dan kurkuminoid rimpang temulawak menunjukkan efek analgesik pada mencit, dengan tingkat penghambatan nyeri sebesar 42,16±2,53% pada SSP dan 67,56±0,59% pada sistem perifer. Campuran kedua senyawa tersebut efektif menghambat nyeri pada fase I (SSP) dan fase II (perifer), sedangkan minyak atsiri secara tunggal juga menunjukkan kemampuan menghambat nyeri pada kedua fase tersebut (Wicaksono et al., 2015).
- Aktivitas pada Bagian Sistem Pencernaan
Rimpang temulawak mengandung flavonoid, senyawa fenolik, dan kurkumin yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Antioksidan intraseluler seperti glutation berperan penting dalam melindungi mukosa lambung dari stres oksidatif yang timbul akibat proses fagositosis. Namun, jika antioksidan primer tidak bekerja secara optimal, maka radikal bebas dapat memicu kerusakan sel, stres oksidatif, dan pada akhirnya menyebabkan kematian sel (Syamsudin et al., 2019).Senyawa flavonoid, kurkumin, dan fenol berperan dalam menetralisir radikal bebas seperti anion superoksida (O₂·⁻), radikal hidroksil (OH·), peroksil (ROO·), dan alkoksi (RO·) yang dihasilkan dari aktivitas fagositosis. Flavonoid membantu menstabilkan membran sel, mengatur proses metabolisme yang meningkat, serta menghambat terjadinya peroksidasi lipid. Selain itu, flavonoid juga berfungsi merangsang sekresi prostaglandin pada mukosa lambung dan meningkatkan produksi mukus melalui aktivasi enzim COX-1 (Syamsudin et al., 2019).
Cara Pengolahan
- Direbus (Seduhan atau Ramuan Tradisional)
Cara: Rimpang temulawak segar dicuci bersih, diiris tipis-tipis. Kemudian rebus ±25–50 gram irisan temulawak dalam 3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas. Setelah itu, saring dan minum 1–2 kali sehari.
Manfaat: Membantu meningkatkan nafsu makan, menjaga fungsi hati dan pencernaan, dan mengurangi peradangan dan kelelahan.
- Dijadikan Serbuk atau Simplisia Kering
Cara: Pencucian: Rimpang temulawak segar dicuci bersih untuk menghilangkan tanah dan kotoran. Perajangan: Iris tipis-tipis (±0,5 cm) agar pengeringan merata. Pengeringan: Dijemur di bawah sinar matahari atau Dikeringkan dengan oven suhu 50–60°C hingga kadar air <10%. Penumbukan atau Penggilingan: Hasil kering digiling menjadi serbuk halus. Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat agar tidak lembab.
Manfaat: Dapat digunakan sebagai bahan jamu instan, kapsul herbal, atau campuran minuman sehat; serta kandungan kurkumin, xanthorrhizol, dan minyak atsiri tetap terjaga jika proses pengeringan tepat.
- Dibuat Menjadi Ekstrak atau Sari Temulawak
Cara: Rimpang diblender dengan air, kemudian disaring. Setelah itu, air hasil saringan direbus hingga mengental (dapat ditambahkan madu atau gula aren untuk rasa).
Manfaat: Membantu menurunkan kadar kolesterol dan menjaga fungsi hati serta berkhasiat sebagai antioksidan dan antimikroba.
- Dijadikan Minyak Atsiri
Cara: Rimpang temulawak disuling menggunakan alat destilasi uap untuk menghasilkan minyak atsiri. Kemudian hasilnya berupa minyak kuning keemasan dengan aroma khas.
Manfaat: Sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan antikanker dan dapat digunakan untuk aromaterapi atau bahan obat topikal.
- Dikonsumsi sebagai Jamu atau Minuman Kesehatan
Cara: Campurkan sari temulawak dengan bahan lain seperti asam jawa, madu, atau gula merah. Dapat diminum hangat atau dingin.
Manfaat: Menambah energi dan daya tahan tubuh serta membantu memperlancar pencernaan dan menurunkan kadar lemak darah.
- Diformulasikan Menjadi Suplemen atau Nanopartikel
Cara : Ekstrak temulawak diolah secara modern menjadi bentuk kapsul, tablet, atau nanopartikel untuk meningkatkan bioavailabilitas kurkumin.
Manfaat: Menunjukkan efek antiinflamasi, hepatoprotektif (melindungi hati), serta antidepresan dengan penyerapan lebih baik oleh tubuh.
Daftar Pustaka
Adila, R., & Agustien, A. (2013). Uji antimikroba curcuma spp. terhadap pertumbuhan candida albicans, staphylococcus aureus dan escherichia coli. Jurnal Biologi UNAND, 2(1).
Candra, A. A. (2013). Aktivitas hepatoprotektor temulawak pada ayam yang diinduksi pemberian parasetamol. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 13(2).
European Medicines Agency Science Medicines Health .2014. Assessment Report on Curcuma xanthorrhiza. EMA/HMPC/604598/2012. pp. 1-22.
Farida, Y. U. N. A. H. A. R. A., Rahmat, D. E. N. I., & Amanda, A. W. (2018). Uji aktivitas antiinflamasi nanopartikel ekstrak etanol rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dengan metode penghambatan denaturasi protein. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 16(2), 225-230.
Jantan, I., Saputri, F. C., Qaisar, M. N., & Buang, F. (2012). Correlation Between Chemical Composition of Curcuma Domestica and Curcuma Xanthorrhiza and Their Antioxidant Effect on Human Low‐Density Lipoprotein Oxidation. Evidence‐Based Complementary and Alternative Medicine, 2012(1), 438356.
Kawiji, K., Atmaka, W., & Nugraha, A. A. (2010). Kajian Kadar Kurkuminoid, Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan Oleoresin Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dengan Variasi Teknik Pengeringan dan Warna Kain Penutup. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 3(2), 102-110.
Maryani, H., & Kristiana, L. (2004). Tanaman Obat untuk Influenza. AgroMedia.
Mukti, L. S., & Hermady, U. (2020). Pharmacological activities of curcuma xanthorrhiza. Infokes, 10(1), 270-278.
Retnaningsih, A. (2015). Uji Daya Hambat Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) dan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza roxb) terhadap Bakteri Salmonella typhi. Holistik Jurnal Kesehatan, 9(3).
Romualdo, A., Wuryanti, W., & Suprihati, S. (2010). Uji Aktivitas Isolat L-Asparaginase Dari Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) Terhadap Sel Hela. Jurnal Kimia Sains Dan Aplikasi, 13(2), 41-45.
Sari, S. K., Chomsin, S. W., & Juswono, U. P. (2015). Pengaruh Radiasi Gamma Dan Ekstrak Temulawak Terhadap Kadar Sgpt Hepar Mencit (Mus Musculus). Jurnal Natural B, 3(2).
Syamsudin, R. A. M. R., Perdana, F., Mutiaz, F. S., Galuh, V., Rina, A. P. A., Cahyani, N. D., … & Khendri, F. (2019). Temulawak plant (Curcuma xanthorrhiza Roxb) as a traditional medicine. Jurnal Ilmiah Farmako Bahari, 10(1), 51-65.
Wicaksono, A. J., Yuniarti, N., & Pramono, S. (2015). Pengaruh Pemberian Kombinasi Minyak Atsiri Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb.) Dan Kurkuminoidnya Terhadap Efek Analgetik Pada Mencit. Traditional Medicine Journal, 20(1), 16-23.

