Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.)

Nama Latin

Isotoma longiflora (L.) C.

Taksonomi

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Asterales

Famili : Campanulaceae

Genus : Isotoma

Spesies : Isotoma longiflora L.C. pers

Plantamor (2008)

Definisi Umum

Kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don), yang juga dikenal dengan sinonim Isotoma longiflora, merupakan tanaman herba berumur panjang yang termasuk dalam famili Campanulaceae dan secara alami tumbuh di wilayah tropis yang lembap, terutama di Asia Tenggara (Burhan, 2024). Tanaman ini dikenal sebagai spesies ruderal karena kemampuannya beradaptasi pada lingkungan terganggu dan mampu tumbuh tanpa perawatan khusus di area terbuka, pinggir parit, pematang sawah, maupun dekat permukiman (Ibrahim et al., 2025). Secara etnobotani, kitolod telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman herbal yang dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan mata, pernapasan, serta sebagai agen antiinflamasi dan antiseptik alami (Andi Permana et al., 2025). Namun, keberadaan senyawa alkaloid berpotensi toksik dalam jaringan tanaman membuat penggunaannya memerlukan kehati-hatian, terutama jika digunakan secara oral atau kontak langsung pada jaringan sensitif seperti mata (Ibrahim et al., 2025). Dengan demikian, kitolod dipandang sebagai tanaman yang memiliki nilai farmakologi potensial, tetapi masih memerlukan validasi ilmiah lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan batas dosis penggunaannya (Burhan, 2024).

Secara morfologis, kitolod merupakan tanaman herba berbatang lunak yang umumnya memiliki tinggi antara 30 hingga 60 cm, dengan struktur batang hijau, sedikit berair, dan mudah patah jika ditekan (Burhan, 2024). Daunnya tersusun secara spiral dan berbentuk lanset memanjang, dengan ujung meruncing dan tepi yang dapat bergerigi atau sedikit melekuk, berukuran antara 5–17 cm pada tanaman dewasa (Ibrahim et al., 2025). Ciri khas utama tanaman ini terletak pada bunganya yang berbentuk terompet ramping dengan mahkota putih menyerupai bintang, tumbuh soliter pada ketiak daun melalui tangkai panjang, sehingga mudah dikenali dibanding tanaman liar lainnya (Andi Permana et al., 2025). Buah tanaman berbentuk kapsul kecil yang akan merekah ketika matang dan mengandung banyak biji berukuran sangat halus yang membantu distribusi alami melalui angin atau air (Ibrahim et al., 2025). Seluruh bagian tanaman mengandung getah putih yang lengket dan dilaporkan bersifat iritatif, sehingga kontak langsung dengan mata atau luka terbuka perlu dihindari (Burhan, 2024).

Kandungan

Kitolod mengandung berbagai metabolit sekunder yang berperan penting dalam aktivitas biologisnya, terutama dari kelompok:

  1. alkaloid
  2. flavonoid
  3. fenolik
  4. terpenoid
  5. steroid
  6. saponin
  7. tanin

(Burhan, 2024).  

Khasiat

  Menurut literatur dan laporan etnobotani, Kitolod digunakan secara tradisional maupun dalam penelitian ilmiah untuk berbagai tujuan, antara lain: 

  1. Masalah mata: sering disebut “daun katarak” karena dipercaya membantu mengatasi katarak, iritasi mata, belekan, glaukoma. Antiinflamasi, antibakteri, antijamur: ekstrak daun/bunga digunakan untuk mengatasi luka, infeksi kulit, bisul, sakit gigi, radang tenggorokan, dan infeksi.
  2. Aktivitas antikanker / sitotoksik: beberapa riset menunjukkan potensi antikanker dari ekstrak Kitolod.
  3. Antioxidant: berkat kandungan flavonoid dan senyawa fenolik.
  4. Masalah pernapasan / asma / bronkitis: dalam pengobatan tradisional, Kitolod kadang dipakai untuk membantu pernapasan, batuk, asma.

Cara Pengolahan

Berdasarkan literatur:

  • Kitolod tumbuh liar di lingkungan lembap seperti pinggir sungai, saluran air, pematang sawah, area lembap. pH tanah ideal sekitar 5,8–7.
  • Perbanyakan dapat dilakukan melalui biji, anakan, atau stek. Untuk biji: buah tua dikeringkan, biji dipisahkan, kemudian dijemur hingga kering untuk disemai.
  • Bagian tanaman yang umum digunakan: daun dan bunga dapat dimanfaatkan segar (ditumbuk, perasan), atau dijadikan seduhan/rebusan.
  • Karena sifat toksiknya getah putih beracun pengolahan harus dilakukan dengan sangat hati-hati; dosis, cara sterilisasi, dan tujuan harus jelas.

 (Lena Enjelina, 2021)

Daftar Pustaka

Ibrahim, A., Bulan, A. S., Ramadhan, M. R., Bone, M., Rashif, H. R., Rusman, A., Arifuddin, M., Junaidin, J., & Rijai, L. (2025). Secondary metabolites and cytotoxicity of Kitolod leaf extract (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) against shrimp larvae (Artemia salina Leach). Jurnal Riseta Naturafarm, 2(1), 33–42.

Burhan, A. (2024). Phytochemical profiling of Hippobroma longiflora leaf extract. Egyptian Journal of Chemistry.

Andi Permana, S. D. A., Nisa Nur Azizah, T. R., Selviani E. S., Intan N. L. I., Alisya N. A., & Sehrama A. W. (2025). Fitokimia dan farmakologi tumbuhan Kitolod (Isotoma longiflora Presi). Buana Farma.

“DNA Barcoding Analysis Kitolod (Hippobroma longiflora) from Riau Based on matK Gene.” (2025)

Lena Enjelina. (2021). Monografi Tumbuhan Kitolid. https://www.scribd.com/document/524876548/MONOGRAFI-2

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top