Blog

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

PISANG (Mussa Paradisiaca)

Nama Latin Mussa Paradisiaca Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophta Class: Liliopsida Famili: Musaceae  Genus: Musa  Spesies: Musa paradisiacal L.  (Devi Mayawi et al, 2024) Definisi umum Tanaman pisang (Musa paradisiaca) merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki batang semu, daun lebar, serta menghasilkan buah yang kaya akan nutrisi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, hampir seluruh bagian tanaman pisang seperti buah, daun, batang, dan bonggol dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan makanan, obat tradisional, maupun bahan industri. Kandungan Tanaman pisang mengandung berbagai senyawa penting, terutama pada buah dan bagian lainnya. Kandungan utama meliputi karbohidrat (termasuk pati dan pati resisten), serat pangan, serta senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Kandungan pati resisten pada pisang diketahui berperan penting dalam kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa fitokimia tersebut berkontribusi terhadap aktivitas biologis tanaman.  Khasiat Tanaman pisang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan serat dan pati resisten membantu menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan. Selain itu, beberapa bagian tanaman pisang juga memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, penyembuhan luka, dan berpotensi sebagai antidiabetes. Pemanfaatan ini menjadikan tanaman pisang tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai tanaman obat tradisional. Khasiat Tunas : mengobati kanker perut , pendarahan usus besar, Khasiat Batang : mencegah pendarahaan sehabis , melahirkan , merapatkan vagina, dan Khasiat Buah : mengobati sakit kuning , ambeien. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pisang dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, buah pisang dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai produk makanan seperti pisang rebus, goreng, atau olahan lainnya. Daun pisang sering digunakan sebagai pembungkus makanan, sedangkan bagian batang dan bonggol dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional atau pakan ternak. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman pisang dapat diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif menggunakan metode seperti maserasi dengan pelarut tertentu, kemudian digunakan dalam produk pangan, farmasi, maupun kosmetik.  Daftar Pustaka Musita, N. (2012). Kajian kandungan dan karakteristik pati resisten dari berbagai varietas pisang. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/view/55 Wenas, D. M. (2020). Kajian ulasan aktivitas farmakologi dari limbah pisang ambon dan pisang kepok. Sainstech Farma.https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/801 Ekayanti, N. L. F., et al. (2023). Pemanfaatan tanaman pisang sebagai sediaan kosmetik. Usadha Journal.https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/6217 Ulmillah, A., et al. (2024). Pemanfaatan tanaman pisang dalam bidang pangan dan budaya. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan.https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/mipa/article/view/7915 Andriansyah. (2024). Potensi kandungan batang pisang sebagai antidiabetik. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716

PISANG (Mussa Paradisiaca) Read More »

JATI (Tectona grandis)

Nama Latin Tectona grandis Taksonomi Divisi : Spermatophyta  Kelas : Angiospermae  Sub Kelas : Dicotyledoneae  Ordo : Verbenaceae  Famili : Verbenaceae  Genus : Tectona  Spesies : Tectona grandis Linn. f  Sumarna (2011)  Definisi Umum Tanaman jati (Tectona grandis) merupakan tanaman berkayu keras yang banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi yang tahan terhadap hama dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan furniture, tanaman jati juga memiliki potensi sebagai tanaman obat karena bagian daun, kulit, dan akar mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan Tanaman jati mengandung berbagai senyawa kimia aktif, terutama pada bagian daun. Kandungan tersebut meliputi senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, asam kafeat, dan asam salisilat yang berperan sebagai antioksidan. Selain itu, daun jati juga mengandung flavonoid, tanin, antosianin, alkaloid, steroid, serta glikosida yang termasuk dalam golongan metabolit sekunder. Kandungan antosianin pada daun jati juga memberikan warna merah alami yang sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Khasiat Tanaman jati memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun ilmiah. Daun jati diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, dan antijamur yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti luka, radang, hipertensi, diabetes, serta gangguan pencernaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak jati memiliki aktivitas farmakologis seperti analgesik, antipiretik, dan penyembuhan luka.  Cara Pengolahan Pengolahan tanaman jati umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengambilan bagian tanaman seperti daun, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air, kemudian bahan dikeringkan digiling menjadi simplisia. Untuk mendapatkan senyawa aktif, dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol dengan metode maserasi atau sokletasi. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang siap digunakan untuk penelitian atau formulasi produk. Selain itu, secara tradisional daun jati juga dapat direbus untuk digunakan sebagai obat herbal atau dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Daftar Pustaka Astiti, N. P. A. (2017). Analisis kandungan fenolik ekstrak daun jati (Tectona grandis L.) dengan waktu dekomposisi yang berbeda. Metamorfosa: Journal of Biological Sciences.https://ojs.unud.ac.id/index.php/metamorfosa/article/view/29886 Diningrat, D. S., & Sipayung, G. A. (2024). Profil senyawa bioaktif dan potensi antimikroba ekstrak tanaman jati. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi. https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/biocons/article/view/2120 Basuki, D. R., et al. (2025). Penetapan kadar tanin ekstrak daun jati. Jurnal Pharma Bhakta. https://www.jurnalpharmabhakta.iik.ac.id/index.php/jpb/article/view/136 Rani, Y. D. (2023). Formulasi ekstrak daun jati sebagai pewarna alami. Jurnal Farmasi Medistra.https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JFM/article/view/1319 Fauzi, M. A., et al. (2020). Variasi morfologi tanaman jati di Asia Tenggara. Biota.https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2946

JATI (Tectona grandis) Read More »

Brojo Lintang

Nama latin Belamcanda chinensis (L.) DC Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Belamcanda Spesies : Belamcanda chinensis (L.) DC. (Syahrin, 2023)\ Definisi Umum Brojo lintang berasal dari Asia Timur, menyebar di daerah Jepang, India, dan Indo-China, dan Amerika Utara. Brojo lintang sering dijadikan tanaman hias pada pekarangan rumah. Namun tanaman ini ternyata memiliki beberapa khasiat dan berguna untuk kesehatan. Telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati gangguan paru-paru dan hati, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan. Jamaka, Sulinga (Sunda), Semprit, Wordi (Jawa), Karimenga kulo, Katna, Ketep, Ketew, Kiris (Minahasa).  Semak, herba, tinggi 0,6-1,0m. Daun berumput, seperti tali, tersusun kipas pipih pada batang pendek tegak. Bunganya berwarna kuning jingga bertitik merah, menggulung rapat setelah diserbuki. Buah polong kering, matang dari hijau menjadi coklat, dibelah hingga terlihat kelompok biji. Biji berwarna hitam, beracun jika tertelan. Ideal sebagai tanaman penutup tanah yang berbunga bebas dan mencolok di perbatasan bunga dengan tanah lembab dan memiliki drainase yang baik. Mampu mekar di tempat teduh parsial. Rimpang berwarna coklat pucat. Perbanyak dengan pembagian bola akar atau biji.  Kandungan Flavonoid, terpenoid, quinones, senyawa fenolik, ketones, glikosida skekanin, belamkandin, dan iridin. Khasiat Antiinflamasi, antipiretik, ekspektoran, sakit perut dan purgatif, mengobati asma, bau mulut, batuk, masalah pencernaan, radang amandel, penurun panas, mencegah kerusakan hati. Daun untuk mengobati sembelit, sakit pinggang, sakit tenggorokan, asma, batuk dan penyakit kulit. Akar untuk mengobati radang amandel, pembengkakan limfah/hati dan demam nifas. Bunga dan daun untuk menurunkan demam. Cara Pengolahan Hepatitis Penurun demam Daftar Pustaka CABI. (2020). Invasive Species Compendium. Iris domestica(blackberry lily). https://www.cabi.org/isc/datasheet/62815878. 21-10-2020. Fern, Ken. (2014). Useful Tropical Plants. Iris domestica. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Bixa+orellana. 21-10-2020. Stuart Xchange. (2015). Philippine Medicinal Plants. Abaniko. http://www.stuartxchange.com/Abaniko.html. 21-10-2020.

Brojo Lintang Read More »

BLIGO (Benincasa hispida)

Nama Latin Benincasa hispida Taksonomi Kingdom : Plantae – Plants Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants Superdivision : Spermatophyta – Seed plants Division : Magnoliopsida – Flowering plants Class : Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass : Dillenidae Order : Violales Family : Cucurbitaceae – Cucumber family Genus : Benincasa Savi – benincasa Species : Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd                    (USDA, 2009 dalam Zaini et al., 2011; Lim, 2012) Definisi Umum Tanaman bligo (Benincasa hispida) merupakan salah satu tanaman dari famili Cucurbitaceae yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, serta dikenal dengan berbagai nama seperti kundur atau labu lilin. Buahnya berukuran besar dengan ciri khas kulit yang pada saat matang dilapisi serbuk putih menyerupai lilin, sehingga sering disebut wax gourd. Meskipun rasanya tidak manis, bligo memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, dan mineral yang memberikan berbagai manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, serta antimikroba. Selain bagian daging buah, kulit bligo juga berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pengolahan pangan (Hakiki et al., 2021). Kandungan Bligo (Benincasa hispida) mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, mineral, dan asam uronat. Selain itu, juga terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, dan beta-sitosterol. Pada bagian kulitnya, teridentifikasi sekitar 36 senyawa, dengan senyawa dominan antara lain adenosin, polidatin, morasin C, dan kushenol S yang termasuk golongan fenolik dan flavonoid berpotensi sebagai antioksidan (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Khasiat Cara Pengolahan Daftar Pustaka Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Aktivitas Antioksidan dan Screening Fitokimia Kulit Bligo (Benincasa hispida). ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9. BLIGO (Benincasa hispida) Latin Name Benincasa hispida Taxonomy Kingdom: Plantae – Plants Subkingdom: Tracheobionta – Vascular plants Superdivision: Spermatophyta – Seed plants Division: Magnoliopsida – Flowering plants Class: Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass: Dillenidae Order: Violales Family: Cucurbitaceae – Cucumber family Genus: Benincasa Savi – benincasa Species: Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd (USDA, 2009 in Zaini et al., 2011; Lim, 2012) General Definition The bligo plant (Benincasa hispida) is a member of the Cucurbitaceae family that thrives in tropical and subtropical regions and is known by various names, such as kundur or wax gourd. Its fruit is large, characterized by a skin that, when ripe, is coated with a white powder resembling wax, hence the common name wax gourd. Although it is not sweet, bligo contains active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, and minerals that offer various benefits, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, and antimicrobial properties. In addition to the fruit flesh, the bligo skin also has the potential to contain bioactive compounds that can be further utilized in the fields of health and food processing (Hakiki et al., 2021). Composition Bligo (Benincasa hispida) contains various active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, minerals, and uronic acids. In addition, it also contains secondary metabolites such as alkaloids, saponins, and beta-sitosterol. In the bark, approximately 36 compounds have been identified, with the dominant compounds including adenosine, polydatin, morasin C, and kushenol S, which belong to the phenolic and flavonoid groups and have potential as antioxidants (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Benefits Antioxidant (neutralizes free radicals) Anti-inflammatory (reduces inflammation) Antidiabetic (helps control blood sugar) Antimicrobial (inhibits the growth of microorganisms) Diuretic (promotes urine production) Helps with digestive disorders such as diarrhea and stomach ulcers Preparation Methods Fresh fruit: Peel, wash, then process into juice, soup, or boil for immediate consumption. Bligo juice: Blend the fruit pulp with water; honey may be added to improve the taste. Raw materials (peel/flesh): dried (approx. 5 days), then ground into powder for use as an extract or in herbal mixtures. Extract: Bligo powder is soaked or heated with a solvent such as ethanol, then filtered to obtain the extract. References Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Antioxidant Activity and Phytochemical Screening of Bligo (Benincasa hispida) Peel. ALCHEMY Journal of Chemical Research, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9.

BLIGO (Benincasa hispida) Read More »

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.)

Nama Latin Cymbopogon nardus L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Ordo : Graminales Family : Panicodiae Genus :Cymbopogon Spesies : Cymbopogon Nardus L. (Arifin, 2014 dalam Qurniasi. E., 2020) Definisi Umum Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Kebanyakan serai ditanam untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Tanaman serai banyak ditemukan di daerah jawa yaitu pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl. Tanaman serai dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah. Daerah Jawa mengenal serai dengan nama sereh atau sere. Daerah Sumatera dikenal dengan nama serai, sorai atau sanger-sanger. Kalimantan mengenal nama serai dengan nama belangkak, senggalau atau salai. Nusa Tenggara mengenal serai dengan nama see, nau sina atau bu muke. Sulawesi mengenal nama serai dengan nama tonti atau sare sedangkan di Maluku dikenal dengan nama hisa atau isa (Armando, 2010). Kandungan Secara umum kandungan serai terdiri kariofilen bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antitumor, dan dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal bersifat antiseptik dan antimikrobia. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi. Sitronelal dan kandungan mircen. Salah satu kandungan utama dari serai adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkandung di dalam serai sebanyak 0,7%. Khasiat Sitronelal yang terkandung dalam tanaman ini dapat pula digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, serta mengobati peradangan usus. Mircen berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai antispasma. Selain itu, kandungan minyak atsiri dari serai memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki aktivitas antioksidan. Cara Pengolahan penyulingan dengan air (water distillation) ya it u dengan cara bahan kontak langsung dengan air mendid ih. Sist e m penyulinga n ini baik juga digunakan untuk bahan berbentuk tepung dan bunga-bungaan mudah menggumpal jika terkena panas tetapi tidak cocok untuk bahan-bahan yang larut air. Unt uk minyak atsiri akan terdekomposisi pada suhu yang tinggi, penambahan air dapat menurunkan titik didihnya. Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Daftar Pustaka Armando dan Rochim. 2010. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Cetakan I: Penebar Swadaya. Jakarta. Qurniasi E. 2020. Laporan Wawancra Praktikum Budidaya Tanaman Hortikultura Biofarmaka ”Serai Wangi” (Cymbopogon nardus L.). Laporan Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indriasari C., et.al. 2023. Pelatihan Pembuatan Minyak Esensial Sereh (Cymbopogon nardus) menggunakan Teknologi Sederhana. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Read More »

EKOR KUCING (Acalypha hispida)

Nama Latin Acalypha hispida Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Acalypha Spesies: Acalypha hispida Burm.f. (Kevin Caesar, 2015) Definisi Umum Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida) merupakan tanaman hias sekaligus tanaman herbal dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman ini dikenal dengan ciri khas bunga berbentuk menjuntai menyerupai ekor kucing berwarna merah. Selain sebagai tanaman ornamental, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai senyawa aktif yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini umumnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan kondisi tanah yang subur dan cukup sinar matahari, serta sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu penyembuhan luka, peradangan, dan infeksi. Kandungan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama tanaman ini meliputi senyawa fenolik dan turunannya seperti flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta saponin dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida, steroid, phlobatanin, dan hydroxyanthraquinon yang berkontribusi terhadap efek farmakologis seperti antiinflamasi dan penyembuhan luka. Senyawa khas lainnya seperti acalyphin, minyak atsiri, asam galat, dan corilagin turut mendukung aktivitas antioksidan dan antimikroba pada tanaman ini. Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, tanaman ekor kucing memiliki potensi sebagai bahan alami dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan produk kesehatan (Socfindo Conservation, n.d.).  Khasiat Khasiat daun dapat mengobati lidah berdarah akibat keracunan , mengobati lepia putih. berikut adalah yang lebih lengkap: 1. Anti-inflamasi (anti peradangan) 2. Mempercepat penyembuhan luka 3. Antibakteri & antimikroba 4. Mengatasi gangguan pencernaan 5. Menghentikan perdarahan 6. Antioksidan 7. Mengurangi nyeri dan pembengkakan Cara Pengolahan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) yang telah melalui proses pengolahan, seperti pengeringan dan ekstraksi, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk herbal. Secara tradisional, daun tanaman ini sering diolah menjadi rebusan untuk diminum sebagai obat herbal guna membantu mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, daun segar juga dapat ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mempercepat penyembuhan luka atau mengatasi infeksi kulit ringan. Dalam pengembangan modern, ekstrak tanaman ekor kucing dapat diformulasikan menjadi produk seperti salep, krim, atau gel sebagai obat topikal, serta berpotensi dikembangkan dalam bentuk suplemen herbal atau produk kesehatan lainnya. Pemanfaatan ini didasarkan pada kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026).  Daftar Pustaka STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Ketahui 17 manfaat tanaman ekor kucing ampuh obati luka – E-Jurnal. Diakses dari: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/  Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Tanaman ekor kucing. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_ekor_kucing Bay, W. W., Hermanu, L. S., & Sinansari, R. (2020). Standarisasi simplisia daun ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) dari tiga daerah berbeda. Journal of Pharmacy Science and Practice.Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/161402-ID-none.pdf Socfindo Conservation. (n.d.). Acalypha hispida Burm.f. Diakses dari: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/179 CAT’S TAIL (Acalypha hispida) Latin nameAcalypha hispida TaxonomyKingdom: PlantaeSubkingdom: TracheobiontaSuperdivision: SpermatophytaDivision: MagnoliophytaClass: MagnoliopsidaSubclass: RosidaeOrder: EuphorbialesFamily: EuphorbiaceaeGenus: AcalyphaSpecies: Acalypha hispida Burm.f.(Kevin Caesar, 2015) General DefinitionThe cat’s tail plant (Acalypha hispida) is an ornamental and herbal plant from the Euphorbiaceae family, native to tropical regions. This plant is known for its characteristic red, drooping flowers resembling a cat’s tail. Besides being an ornamental plant, this plant is also used in traditional medicine due to its various active compounds with health benefits.This plant generally grows well in tropical climates with fertile soil and adequate sunlight, and is often used in traditional medicine to help heal wounds, inflammation, and infections. ContentThe cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) is known to contain various phytochemical compounds that play a role in its biological activities. The main components of this plant include phenolic compounds and their derivatives, such as flavonoids, which function as antioxidants, as well as saponins and alkaloids, which have antibacterial activity. Furthermore, this plant also contains glycosides, steroids, phlobatanin, and hydroxyanthraquinone, which contribute to pharmacological effects such as anti-inflammatory and wound healing. Other unique compounds, such as acalyphin, essential oils, gallic acid, and corilagin, also support the antioxidant and antimicrobial activities of this plant. Due to these various components, the cat’s tail plant has potential as a natural ingredient in traditional medicine and health product development (Socfindo Conservation, n.d.). Benefits The efficacy of the leaves can treat bleeding tongue due to poisoning, treat white lepia. Here are the more complete ones: 1. Anti-inflammatory (anti-inflammatory) Helps reduce inflammation in the body Suitable for wounds, irritations, or inflammation of the intestines 2. Accelerates wound healing The leaves can be pounded and glued to the wound Helps speed up the skin’s recovery process 3. Antibacterial & antimicrobial The content of active compounds is able to fight disease-causing bacteria Supports healing of mild infections 4. Overcoming indigestion Traditionally used for dysentery, inflammation of the intestine, and worms 5. Stop bleeding Flower decoction can help stop light bleeding 6. Antioxidants Protects the body from free radicals Potentially maintaining healthy body cells 7. Reduces pain and swelling Effective for joint pain or mild swelling With regards to anti-inflammatory effects Processing Method The cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) that has undergone processing, such as drying and extraction, can be utilized in various forms of herbal products. Traditionally, the leaves of this plant are often boiled to make a decoction to be consumed as an herbal remedy to help relieve inflammation, digestive disorders, and boost the immune system. Additionally, fresh leaves can be crushed and used as a topical medicine to speed up wound healing or treat mild skin infections. In modern development, cat’s tail plant extracts can be formulated into products such as ointments, creams, or gels as topical medicine, and have the potential to be developed into herbal supplements or other health products. This utilization is based on the content of active compounds such as flavonoids, saponins, and phenolics, which have antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory activities (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026). References STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Know 17 benefits of cat’s tail plant that effectively heals wounds – E-Journal. Accessed from: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/ Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Cat’s

EKOR KUCING (Acalypha hispida) Read More »

Bidara Upas

Nama latin Merremia mammosa Chois  Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan)  Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)  Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)  Divisio : Magnoliophyta (berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub-kelas : Asteridae  Ordo : Solanales  Familia : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)  Genus : Merremia  Spesies : Merremia mammosa Chois (Anonim, 2007) Deskripsi umum Decalobanthus mammosus atau Bidara Upas merupakan salah satu tanaman dari keluarga Convolvulaceae yang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari wilayah India, Pulau Andaman, dan Indo-Cina. Di Indonesia bidara upas ini dibudidayakan di Pulau Jawa, Bali, Maluku, dan Madura sebagai tanaman obat dan sumber makanan (bagian umbinya). Spesies ini adalah salah satu spesies langka dan termasuk dalam kriteria langka berdasarkan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003). Di wilayah Indonesia dan Malaysia, spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang secara empiris berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bidara upas juga merupakan bahan herbal yang banyak dijual sebagai jamu gendong dan digunakan dalam industri kecil obat tradisional. Selain itu, bidara upas juga telah digunakan masyarakat sebagai sumber serat, dimana batangnya dapat menghasilkan serat yang sangat halus dan kuat, dengan kilau satin, yang dapat dibuat menjadi kain. Kandungan Zat oxydase (getahnya), flavonoid, kuinon, senyawa fenolik, triterpenoid dan steroid.  Khasiat Menurunkan demam, mengobati gangguan pernafasan, pencernaan, luka akibat gigitan ular atau luka bakar, diabetes, batuk, suara serak, difteri, radang tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang usus buntu, tifus, sembelit, buang air besar darah dan lendir, muntah darah, kusta, melanoma, sifilis (lues), batu kantung kemih atau kencing batu, digunakan dalam terapi pengobatan kanker, mengatasi keracunan makanan, menghilangkan bengkak, memperlancar ASi (penggunaan eksternal), bersifat sebagai pencahar dan penyejuk. Memiliki aktivitas sebagai antinflamasi, analgetik (menghilangkan rasa sakit), antidot (menetralkan racun). Cara pengolahan Untuk diabetes,  Daftar pustaka Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Perbanyakan Vegetatif Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) Kebun Raya Bogor. Berita Biologi, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati 16(2), Agustus 2017. Herbal Medicine. 2014. Diabetes mellitus use Merremia mammosa. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. 07-09-2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceeding of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters. Bidara Upas Latin name Merremia mammosa Chois Taxonomy Kingdom: Plantae (plants) Subkingdom: Tracheobionta (vascular plants) Superdivision: Spermatophyta (seed-bearing plants) Division: Magnoliophyta (flowering plants) Class: Magnoliopsida (dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Solanales Family: Convolvulaceae (morning glory family) Genus: Merremia Species: Merremia mammosa Chois (Anonymous, 2007) General Description Decalobanthus mammosus, also known as Bidara Upas, is a plant in the Convolvulaceae family that is not native to Indonesia but originates from India, the Andaman Islands, and Indochina. In Indonesia, Bidara Upas is cultivated on the islands of Java, Bali, Maluku, and Madura as a medicinal plant and a food source (its tuber). This species is classified as rare and meets the criteria for rarity under the Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan issued by the National Development Planning Agency (2003). In Indonesia and Malaysia, this species is widely used as a medicinal plant with empirically proven efficacy for treating various ailments. Bidara upas is also a herbal ingredient widely sold as a traditional herbal remedy and used in small-scale traditional medicine industries. Additionally, bidara upas has been used by communities as a source of fiber, as its stems produce very fine and strong fibers with a satin sheen, which can be made into fabric. Composition Oxidase (latex), flavonoids, quinones, phenolic compounds, triterpenoids, and steroids. Benefits Reduces fever, treats respiratory and digestive disorders, snake bites or burns, diabetes, cough, hoarseness, diphtheria, sore throat, pneumonia, appendicitis, typhoid, constipation, bloody and mucus-filled stools, vomiting blood, leprosy, melanoma, syphilis (lues), bladder stones, used in cancer therapy, treating food poisoning, reducing swelling, promoting breast milk flow (external use), and acting as a laxative and cooling agent. It possesses anti-inflammatory, analgesic (pain-relieving), and antidotal (toxin-neutralizing) properties. Preparation For diabetes, Take 100 g of bidara upas root and wash it thoroughly. Grate it, then squeeze out the juice using a piece of cloth. Drink it every morning, half an hour before eating. References Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Vegetative Propagation of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) at the Bogor Botanical Garden. Berita Biologi, Journal of Biological Sciences 16(2), August 2017. Herbal Medicine. 2014. Use of Merremia mammosa for Diabetes Mellitus. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. September 7, 2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceedings of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters”

Bidara Upas Read More »

Bunga Pagoda

Nama Latin Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus : Clerodendron  Spesies : Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet  (Kurnianingsih, 2010) Deskripsi umum Bunga pagoda berasal dari China kemudian menyebar ke seluruh dunia. Umumnya ditanam di taman, pinggir jalan, pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Disebut bunga pagoda karena memiliki bentuk bunga yang unik bersusun seperti pagoda. Selain indah dan dijadikan tanaman hias, pagoda juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tanaman daun bunga pagoda umumnya merupakan salah satu tanaman hias yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tanaman ini merupakan tanaman perdu meranggas, tinggi 1-3 m, batangnya dipenuhi rambut halus. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur melebar, pangkal daun berbentuk jantung, daun tua bercangap menjari, panjangnya dapat mencapai 30 cm, bunganya majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk piramida dan keluar dari ujung tangkai, buahnya berbentuk bulat. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan biji. Bunga pagoda ini merupakan tanaman obat yang berkhasiat untuk berbagai macam penyakit pada manusia. Rasa daunnya manis, asam, agak kelat, dan bersifat netral  Kandungan Alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, zat samak, saponin, polifenol, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Khasiat Mengobati asam urat, mengobati wasir berdarah, mengobati luka, peluruh air seni, menyembuhkan bengkak, antiradang, menghancurkan darah beku, mengatasi insomnia. Cara pengolahan  Untuk penyakit yang proses penyembuhannya menggunakan akar, digunakan sebanyak 30 sampai 90 gram akar lalu digodok atau dijadikan bubuk, lalu diseduh dan diminum. Sedangkan penyakit yang disembuhkan dengan daunnya, pemakaiannya cukup dengan melumatkan beberapa daun segar yang kemudian dibubuhkan pada tempat yang sakit. Dan untuk memanfaatkan bunganya, digunakan bunga yang sudah dikeringkan, talu disajikan dalam bentuk serbuk. Atau bisa dengan merebusnya dan diminum setelah dingin. Untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal- gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan banga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti keputihan Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes Pagoda Flower Latin Name Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taxonomy Kingdom: Plantae (Plants) Subkingdom: Tracheobionta (Vascular Plants) Superdivision: Spermatophyta (Seed-bearing Plants) Division: Magnoliophyta (Flowering Plants) Class: Magnoliopsida (Dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Verbenaceae Genus: Clerodendron Species: Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet (Kurnianingsih, 2010) General Description The pagoda flower originates from China and has since spread throughout the world. It is commonly grown in gardens, along roadsides, and in home yards as an ornamental plant. It is called the pagoda flower because its blossoms have a unique, tiered shape resembling a pagoda. In addition to being beautiful and used as an ornamental plant, the pagoda flower also offers health benefits. The pagoda flower is generally one of the most common ornamental plants grown in home yards. This plant is a deciduous shrub, 1–3 m tall, with stems covered in fine hairs. The leaves are simple, petiolate, and arranged oppositely. The leaf blades are broadly ovate, with a heart-shaped base; mature leaves are deeply lobed, and can reach up to 30 cm in length. The flowers are red, composed of small florets clustered into a pyramid shape and emerging from the tip of the stem; the fruit is round. The pagoda flower can be propagated by seed. The pagoda flower is a medicinal plant effective for treating various human ailments. The leaves have a sweet, sour, and slightly astringent taste and possess cooling properties. Components Alkaloids, flavonoids, steroids, terpenoids, tannins, saponins, polyphenols, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Benefits Treats gout, treats bleeding hemorrhoids, heals wounds, promotes urination, reduces swelling, anti-inflammatory, dissolves blood clots, treats insomnia. Preparation Method For ailments treated with the root, use 30 to 90 grams of the root, which is then boiled or ground into a powder, brewed, and consumed. For ailments treated with the leaves, simply crush a few fresh leaves and apply them to the affected area. To use the flowers, dried flowers are used, often in powder form. Alternatively, they can be boiled and consumed once cooled. This is effective for washing bleeding wounds, bleeding hemorrhoids, and itching (pruritus). Additionally, fresh flowers can be finely ground and applied to the affected area, such as for vaginal discharge. Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes

Bunga Pagoda Read More »

Alamanda (Allamanda cathartica L.)

Nama Latin Allamanda cathartica L. Taksonomi Kingdom : Plantaee Divisi : Basidiomycota Kelas : Magnoliopsida Ordo : Apocynales Famili : Apocynaceae Genus : Allamanda Spesies : Allamanda cathartica (Anggita, 2019) Definisi Umum Tanaman alamanda (Allamanda cathartica) merupakan salah satu genus dari famili Apocynaceae yang berasal dari Brazil Amerika Serikat. Alamanda mempunyai nama daerah Lame areuy (sunda) dan bunga akar kuning (melayu). Tanaman hias ini selain dirumah pribadi, tanaman hias juga dibutuhkan diperkantoran/instansi, hotel, pertokohan dan lain-lain (Haryati, 2010). Kandungan Tanaman alamanda mengandung senyawa-senyawa di dalamnya yang memiliki banyak manfaat dan khasiat. Beberapa senyawa yang terkandung di dalam tanman alamanda adalah sebagai berikut : 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloid 4. Flavonoid 5. Tanin 6. Saponin 7. Fenol 8. Steroid Khasiat Kandungan yang terdapat di dalam tanaman alamanda memiliki khasiat sebagai alternatif obat kontrasepsi sintetik. Selain itu, tanaman alamanda juga berpotensi besar sebagai antijamur dan anti mikroba yang sering menyebabkan infeksi pada kulit dan kuku manusia. Tanaman alamnda juga berkhasiat sebagai pereda batuk, penawar racun, dan pereda demam. Cara Pengolahan Tanaman alamanda dapat diolah dengan beberapa cara yaitu : 1. Daun Daun tanaman alamanda yang masih segar dapat dicuci bersih dan direbus dengan satu gelas air selama kurang lebih 15 menit, lalu disaring untuk dapat diminum airnya sebagai penawar racun. Selain itu, daun tanaman alamanda dapat ditumbuk hingga halus yang kemudian hasilnya dapat digunakan sebagai obat luar. 2. Getah batang Getah batang tanaman alamanda dapat diambil untuk dijadikan obat luar seperti salep. Daftar Pustaka Anggita. 2019. Taksonomi dan Morfologi Bunga Alamanda. Artikel Dokumen Scribd. Gunawan. B.,Fajriaty. I.,Untari. E.K. 2019. Analisis Senyaw pada Ekstrak Etanol Daun Alamanda (Allamanda cathartica) sebagai Antifertilitas. Jurnal Farmasi Kalbar. Vol 4(1) Haryati.  2010.  Prospek  Agribisnis  Tanaman  Hias  dalam  Pot  (POTOLANT). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. Vol 3(2) Mahyuni. S.,Komala O.,Fadilah N. 2025. Perbandingan Aktivitas Ekstrak Microwave Assisted Extraction dan Refluks Daun Alamanda (Allamanda cathartica L.) terhadaap Jamur Trychophyton rubrum. Jurnal Farmasi, Kesehatan dan Sains (FASKES). Vol. 03(01). Wati. N.,Rahmawati. L.,Sampirlan. 2021. Penggunaan Metode Stek untuk Perbanyakan Tanaman Alamanda (Allamanda chatartica). Jurnal Biologi Kenanga. V717.803. Alamanda (Allamanda cathartica L.) Scientific Name Allamanda cathartica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Basidiomycota Class: Magnoliopsida Order: Apocynales Family: Apocynaceae Genus: Allamanda Species: Allamanda cathartica (Anggita, 2019) General Definition The alamanda plant (Allamanda cathartica) is a genus in the Apocynaceae family native to Brazil and the United States. Allamanda is known locally as Lame areuy (Sundanese) and bunga akar kuning (Malay). This ornamental plant is not only popular in private homes but is also widely used in offices, government agencies, hotels, retail spaces, and other settings (Haryati, 2010). Components The alamanda plant contains compounds that offer numerous benefits and medicinal properties. Some of the compounds found in the alamanda plant are as follows: 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloids 4. Flavonoids 5. Tannins 6. Saponins 7. Phenols 8. Steroids Benefits The compounds found in the alamanda plant serve as a natural alternative to synthetic contraceptives. Additionally, the alamanda plant holds significant potential as an antifungal and antimicrobial agent against pathogens that commonly cause skin and nail infections in humans. The alamanda plant also acts as a cough suppressant, an antidote, and a fever reducer. Methods of Processing The alamanda plant can be processed in several ways, namely: 1. Leaves Fresh alamanda leaves can be washed thoroughly and boiled in one cup of water for approximately 15 minutes, then strained so the liquid can be drunk as an antidote. Additionally, alamanda leaves can be ground into a fine paste, which can then be used as a topical remedy. 2. Stem Sap The sap from the alamanda plant’s stem can be collected to make topical remedies such as ointments. References Anggita. 2019. Taxonomy and Morphology of the Alamanda Flower. Scribd Document Article. Gunawan, B., Fajriaty, I., & Untari. E.K. 2019. Analysis of Compounds in Ethanol Extracts of Alamanda Leaves (Allamanda cathartica) as an Antifertility Agent. West Kalimantan Pharmacy Journal. Vol. 4(1) Haryati. 2010. Prospects for the Agribusiness of Potted Ornamental Plants (POTOLANT). Scientific Journal of Agribusiness and Fisheries. Vol. 3(2) Mahyuni, S., Komala, O., & Fadilah, N. 2025. Comparison of the Activity of Microwave-Assisted Extraction and Reflux Extracts of Allamanda (Allamanda cathartica L.) Leaves against the Fungus Trichophyton rubrum. Journal of Pharmacy, Health, and Science (FASKES). Vol. 03(01). Wati, N., Rahmawati, L., & Sampirlan. 2021. Use of the Cutting Method for Propagating Allamanda (Allamanda cathartica) Plants. Kenanga Biology Journal. V717.803.

Alamanda (Allamanda cathartica L.) Read More »

Scroll to Top