naturindofresh

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo

Yogyakarta, July 18, 2024 – Taman Jamu Naturindo recently hosted a special private visit for a Japanese couple and their family. This educational trip was part of their week-long journey through Yogyakarta and Bali. The family chose a VIP private tour to gain a deeper, personalized understanding of Indonesia’s herbal heritage. Traditional Attire and Educational Plant Tour The experience began with an authentic cultural immersion. The guests enjoyed a themed photo session wearing “Mbok Jamu” attire, the traditional costume of Indonesian herbal sellers. Following the session, the family took an educational tour of the medicinal plant showcase. During this tour, they explored: The couple showed great enthusiasm, asking deep questions about the biodiversity and traditional uses of the plants they encountered. Hands-on Jamu Workshop at Joglo Pancanaka A highlight of the visit was the traditional Jamu crafting workshop at the Joglo Pancanaka pavilion. Guided by Naturindo’s expert herbalists, the guests learned the art of making “ready-to-drink” herbal beverages. In this interactive session, the family: This hands-on experience provided a profound connection to the local culture. It allowed the guests to see the transition of Jamu from a traditional philosophy into a modern wellness practice. A Meaningful Cultural Exchange This private visit was a meaningful way for the Japanese guests to understand the dynamics of the Indonesian herbal industry. They left with more than just information; they took home cherished memories and a newfound passion for Indonesian herbal traditions. For Taman Jamu Naturindo, hosting international guests is an honor. It serves as a vital opportunity to promote the preservation of Jamu as a global educational asset.

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo Read More »

Temasek Polytechnic Singapore Visits Taman Jamu Naturindo for Global Studies Overseas Study Trip

Kulon Progo, November 9, 2025 — Taman Jamu Naturindo recently welcomed an international delegation from Temasek Polytechnic (TP) Singapore. This visit is part of an official collaboration with Universitas Islam Indonesia (UII) under the Global Studies Overseas Study Trip (GSOST) program. Around 35 participants, including students and faculty members, traveled from Singapore to Yogyakarta International Airport (YIA). This 2025 visit marks the second consecutive year of the successful partnership, following their initial trip in 2024. Strengthening Academic and Cultural Ties The GSOST program serves as a bridge between UII and its international partners. Through this initiative, students explore Indonesia’s rich cultural heritage. Specifically, they focus on Jamu, a traditional health legacy that has evolved into a sophisticated modern industry. Educational Experience at Taman Jamu Naturindo During their visit to Taman Jamu Naturindo, the students engaged in several educational activities: Bridging Tradition and Modern Standards This program aims to broaden the international perspectives of Temasek Polytechnic students. By observing how traditional medicine integrates with modern industrial standards, students gain a unique insight into the global herbal industry. Furthermore, this visit proves that Indonesian herbal products are gaining significant international recognition. It also strengthens the educational network between Singapore and Indonesia. A Hub for International Learning Naturindo continues to support the preservation of Jamu while serving as a global learning hub. This synergy enhances the world’s understanding of Indonesia’s natural resources. Ultimately, it fosters international collaboration in the field of herbal-based healthcare.

Temasek Polytechnic Singapore Visits Taman Jamu Naturindo for Global Studies Overseas Study Trip Read More »

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris)

Nama Latin Bambusa vulgaris Taksonomi Kingdom      : Plantae Divisi           : Spermatophyta Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Poales Famili           : Gramineae Genus           : Bambusa Spesies         : Bambusa vulgaris (Sarmila et al., 2022) Definisi Umum Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Khasiat Bambu kuning terdeteksi positif senyawa saponin, flavon dan tannin. Saponin bermanfaat sebagai peptisida, insektisida, moluskasida, fungisida dan penggunaan pada industri untuk foaming. Ekstrak daun Bambusa vulgaris memiliki efek hepatoprotektor dan pemulihan fungsi ginjal. Ekstrak daun B. vulgaris berpotensi menjadi produk antimalaria alami yang menjanjikan tanpa efek samping pada penggunaan, terutama bila diberikan dalam kisaran dosis 100 – 200 mg/kg berat badan. Tanin digunakan sebagai astringen, melawan diare, sebagai diuretik, melawan lambung dan tumor duodenum, dan sebagai antiinflamasi, antiseptik, antioksidan dan hemostatik obat-obatan (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoid pada bambu kuning dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih. Nanopartikel emas ekstrak daun bambu kuning memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 0,907 cm (Prasetya et al., 2020). Selain itu, ekstrak etanol daun bambu Bambusa vulgaris juga memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Salmonella typhi (Ulfa et al., 2015). Cara Pengolahan Rebung berpotensi menjadi produk olahan tepung yang mengandung serat tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, tepung rebung dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Namun kandungan serat yang tinggi menyulitkan rebung untuk dibuat menjadi tepung secara langsung. Untuk itu, rebung perlu diberi perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan ada beberapa macam, seperti blansing, fermentasi pikel dan perendaman dengan Na- Metabisulfit, fermentasi alami atau spontan. Perlakuan pendahuluan yang digunakan dalam pengolahan rebung menjadi tepung adalah fermentasi alami atau spontan karena perlakuan tersebut tidak menggunakan bahan kimia (Rachmadi, 2011). Proses pembuatan tepung rebung adalah mengambil rebung yang sudah difermentasi, kemudian rebung dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven dengan suhu 60 ̊C selama ± 14 jam hingga kering (rebung mudah dipatahkan). Lalu rebung digiling atau diblender hingga halus dan kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Prabasini et al., 2013). DAFTAR PUSTAKA Prabasini H, Ishartani D, Rahadian D. 2013. Kajian sifat kimia dan fisik tepung labu kuning (Cucurbita moschata) dengan perlakuan blanching dan perendaman natrium metabisulfite (Na2S2O5). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 93-102. Prasetya A, A., Prima A. P., Amalia, H., dan Yandi S., 2020. Biosintesis Nano Herbal Ekstrak Daun Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) Dengan Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Mahasiswa Khazanah Vol. 11(1) Hal: 1-6. Universitas Islam Indonesia. Rachmadi, 2011. Gangguan Ginjal Akut. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.  Sarmila, Nirawati, & Nuriman, A. (2022). Eksplorasi Jenis Bambu (Bambusa, Sp.) Berdasarkan Ciri Morfologi Kabupaten Maros. Jurnal Eboni, 4(1), 9–15. Sujarwanta, A., & Zen, S. (2020). Identifikasi Jenis dan Potensi Bambu (Bambusa sp.) sebagai Senyawa Antimalaria. BIOEDUKASI, 11(2), 131-151. Ulfa, M., Apridamayanti, P., & Sari, R. (2015). Penentuan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bambu (Bambusa vulgaris) terhadap Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1).

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris) Read More »

Bougenvile (Bougainvillea glabra Choisy)

Nama Latin Bougainvillea glabra Choisy Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta SubDivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Sub Kelas : Apetalae/Monochlamydeae Ordo : Caryophyllales Familia : Nyctaginaceae Genus : Bougainvillea Spesies : Bougainvillea glabra Choisy Definisi Umum Tanaman bunga kertas (Bougainvillea) merupakan jenis tanaman yang paling banyak dijumpai di pekarangan rumah sebagai tanamanhias. Tanaman ini juga dijumpai dalam bentuk semak berbatang keras dan tumbuh dengan baik di daerah tropis. Bunga kertas ini karena memiliki varian warna yang beranekaragam baik daun seludang maupun daunnya, menjadikan tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Karakter morfologi yang mudah dikenali dari tanaman ini yaitu semak hingga pohon kecil yang berbatang keras, memiliki seludang bunga yang beraneka ragam,bercabang banyak, dan terdapat modifikasi duri pada batang dan cabangnya (Umaternate H, dkk 2022). Kandungan Bunga kertas memiliki sifat anti inflamasi, antimaag, antidiabetes, antidiare, dan antibakteri (Saadprai et al., 2025) dengan kandungan senyawanya berupa flavonoid, glikosida, fenol, alkaloid, saponin, steroid, tanin dan terpenoid (Kalaiyarasan dkk, 2022). Khasiat Tanaman bunga kertas (Bougainvillea glabra) memiliki beberapa khasiat dan kegunaan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai penyembuh luka, analgesik, insektisida, anti-inflamasi, anti diare, antimaag, antimikroba dan anti-diabetes. Tanaman ini juga dilaporkan digunakan sebagai agen hepatoprotektif dan antibakteri. Di Panama, bunga ini digunakan untuk pengobatan hipotensi sementara di India tanaman ini digunakan untuk pengobatan berbagai gangguan termasuk diare, batuk, radang tenggorokan, masalah pembuluh darah, keputihan, dan hepatitis (Saleem et al., 2021). Cara Pengolahan Untuk pengolahan bugenvil yang bisa diminum sebagai obat tradisional antidiabetes, cara yang umum digunakan adalah dengan membuat teh bunga bugenvil (Kirana, 2023). Metode pengolahannya sederhana dan sesuai untuk dikonsumsi langsung: Daftar pustaka Kirana,  febi anindya. (2023). Resep Teh Bunga Bougenville. Fimela.com Saadprai, C., Chaichana, C., Swainson, N., Tangjittipokin, W., & Chukiatsiri, S. (2025). Evaluation of anti-diabetic effects of ethanolic extract of Bougainvillea glabra. Biocatalysis and Agricultural Biotechnology, 67, 103617. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.bcab.2025.103617 Saleem, H., Usman, A., Mahomoodally, M. F., & Ahemad, N. (2021). Bougainvillea glabra (choisy): A comprehensive review on botany, traditional uses, phytochemistry, pharmacology and toxicity. Journal of Ethnopharmacology, 266, 113356. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.113356 Umaternate, hendra. Munawar, suslina. Soamole, R. (2022). Karakteristik Morfologi Bunga Kertas (Bougenville). Jurnal JBES: Journal Of Biology Education And Sciencee, 2(2). V. Kalaiyarasan, C. Kalaiselvi, C. Jothimanivannan, M. Sakthivel, S. S., & Varma, J. T. S. (2022). Pharmacological activities of bougainvillea glabra. World Journal of Pharmaceutical Research, 11(13), 1023–1029.

Bougenvile (Bougainvillea glabra Choisy) Read More »

Kemukus (Piper cubeba)

Nama Latin Piper cubebea Taksonomi Kingdom                : Plantae Divisi                      : Magnoliophyta (Spermatophyta) Kelas                      : Magnoliopsida Ordo                       : Piperales Famili                 : Piperaceae Genus                 : Piper Spesies                    : Piper cubeba Definisi Umum Kemukus (Piper cubeba.) merupakan komoditas perkebunan yang belum banyak dikembangkan dan dikebunkan secara intensif. Secara ekonomi, komoditas kemukus termasuk dalam komoditas rempah yang banyak diserap oleh industry obat ataupun jamu nasional. kemukus merupakan salah satu penyusun jamu yang digunakan untuk mengobati penyakit asma atau masalah gangguan pernafasan, dan ekstrak n-heksana dan alkohol dari buah kemukus mampu mengurangi kontraksi trakea marmot terisolasi yang disebabkan oleh pemberian metakolina (Wahyono, 2005). Tanaman ini banyak terdapat di pulau Jawa, Sumatra dan sebagian Kalimantan selatan yang kemudian menyebar ke Malaysia dan Srilanka (Lim, 2012). Kemukus sudah lama dimanfaatkan untuk pengobatan terutama oleh masyarakat jawa seperti yang tertulis pada naskah pengobatan kuno yaitu buku Serat Primbon Jampi Jawi yang diterbitkan tahun 1928 oleh keraton Surakarta Hadiningrat (Makmun et al., 2014). Kandungan Buah kemukus mengandung berbagai senyawa bioaktif penting yang berkontribusi terhadap aktivitas farmakologisnya. Analisis GC–MS terhadap minyak atsiri buah kemukus menunjukkan bahwa senyawa dominan adalah methyleugenol (41,31%), eugenol (33,95%), serta komponen seskuiterpen seperti (E)-caryophyllene (5,65%), p-cymene-8-ol (3,50%), dan 1,8-cineole (2,94%) (Alminderej et al., 2020). Selain itu, studi lain menemukan lebih dari 91 senyawa volatil dalam ekstrak etanol dan diklorometana buah kemukus, dengan kelompok senyawa utama berupa fenolik (rutin, katekin, asam galat, asam ferulat), flavonoid, lignan (cubebin, hinokinin, yatein, isoyatein), serta asam lemak seperti palmitat dan laurat (Drissi et al., 2022). Kandungan lignan merupakan karakteristik kimia utama dari buah kemukus; senyawa seperti cubebin, hinokinin, dan yatein dilaporkan sebagai konstituen bioaktif utama yang berperan dalam aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan sitotoksik (Dwita et al., 2022). Selain lignan, ekstrak air dan etanol buah kemukus juga mengandung flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid, yang diketahui berperan sebagai antioksidan alami (PNR Journal, 2023). Khasiat Buah kemukus mempunyai khasiat sebagai obat untuk terapi sesak napas, menghilangkan bau mulut, peluruh dahak, peluruh air seni, kencing bernanah, penyakit gula dan penghangat badan (Purwanto, 2022). Buah kemukus (Piper cubeba L.f.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari ekstrak buah kemukus memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC₅₀ sebesar 50,359 µg/mL serta kadar fenolik tinggi (32,57 mg GAE/g), yang menunjukkan kemampuannya menangkal radikal bebas (Anwar K., 2024). Minyak atsirinya juga mengandung methyleugenol (41,31%) dan eugenol (33,95%) yang berperan dalam aktivitas antioksidan dan proteksi sel saraf terhadap stres oksidatif (Farmacia Journal, 2020). Selain itu, ekstrak etanol buah kemukus memperlihatkan aktivitas antibakteri signifikan terhadap Staphylococcus aureus dan S. epidermidis dengan nilai MIC 1,25 mg/mL, mendukung penggunaannya untuk infeksi kulit dan saluran kemih (Putri, 2023). Cara Pengolahan Tahapan pengolahan tanaman kemukus : a.     Sortasi dan Pencucian Proses pengolahan dimulai dengan pemilihan buah kemukus matang yang berwarna cokelat kehitaman dan beraroma khas. Buah kemudian dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan debu dan kotoran (Fitriana & Ramadhan, 2021). b.     Pengeringan Setelah pencucian, buah dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga di bawah 10%. Pengeringan dapat dilakukan dengan oven bersuhu rendah atau sistem pengering surya hibrida. Metode pengeringan oven 45°C selama 10–12 jam memberikan kadar minyak dan aroma tertinggi, sementara pengering surya hibrida meningkatkan efisiensi energi hingga 15% (Hidayat et al., 2023) c.     Perajangan dan Penghalusan Buah kemukus kering dirajang atau dihaluskan untuk memperbesar luas permukaan kontak bahan terhadap pelarut atau uap saat ekstraksi minyak. Perlakuan penghalusan meningkatkan efisiensi ekstraksi karena mempercepat keluarnya minyak atsiri dari jaringan buah (Suhartini et al., 2020) d.     Ekstraksi Minyak Atsiri Proses ekstraksi dilakukan dengan metode distilasi uap-air (steam distillation) atau ekstraksi pelarut. Distilasi uap-air pada suhu 100°C selama 4–5 jam menghasilkan rendemen 2,3–2,8%, sedangkan penggunaan pelarut etanol 96% memberikan rendemen lebih tinggi (3,1%) (Nugraha et al., 2022). e.     Penyaringan dan Penyimpanan Minyak Minyak yang dihasilkan kemudian disaring dan disimpan dalam botol kaca gelap untuk menjaga kestabilan senyawa volatil seperti sabinene dan piperin. Minyak kemukus harus disimpan dalam wadah gelap pada suhu ruang agar tidak mengalami oksidasi dan penurunan kualitas (Suhartini et al., 2020.). Daftar Pustaka Alminderej, F., Bakari, A., & others. (2020). Antioxidant activities of a new chemotype of Piper cubeba L. Plants, 9(11), 1534. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33182768/ Anwar K. Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Etil Asetat Buah Kemukus (Piper cubeba L.) — Jurnal/Prosiding 2024 (laporan nilai IC₅₀, fenolik & flavonoid). Drissi, B. E., et al. (2022). Cubeb (Piper cubeba L.): nutritional value, phytochemical, and dermacosmeceutical potential of water extract and essential oil. Frontiers in Nutrition, 9, 1048520. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnut.2022.1048520/full Dwita, L. P., Iwo, M. I., Mauludin, R., & Elfahmi. (2022). Neuroprotective potential of lignan-rich fraction of Piper cubeba. Borneo Journal of Pharmacy, 6(3), 215–223. Farmacia Journal. (2020). Brain Antioxidant Properties of Piper cubeba L. Extracts and Essential Oil. Farmacia, 68(6), 1158–1164. https://farmaciajournal.com/issue-articles/brain-antioxidant-properties-of-piper-cubeba-l-extracts-and-essential-oil/ Fitriani, L., & Ramadhan, M. (2021). Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kualitas Simplisia Buah Kemukus di Jawa Barat. Jurnal Agroindustri Indonesia, 9(2), 112–120. Hidayat, F., Suryadi, A., & Yuliani, D. (2023). Pengembangan Teknologi Pascapanen Kemukus Menggunakan Pengering Surya Hibrida. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropika dan Biosistem, 11(1), 66–73. Lim, T.K., (2012). Piper cubeba, dalam: Lim, T.K. (Editor), Edible Medicinal And NonMedicinal Plants: Volume 4, Fruits. Springer Netherlands, Dordrecht, hal. 311–321. Makmun, M.T. al, Widodo, S.E., dan Sunarto, (2014). Construing Traditional Javanese Herbal Medicine of Headache: Transliterating, Translating, and Interpreting Serat Primbon Jampi Jawi. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 134: 238–245. Nugraha, A., Prasetyo, R., & Widodo, H. (2022). Optimasi Distilasi Uap-Air untuk Peningkatan Rendemen Minyak Atsiri Kemukus (Piper cubeba L.f.). Jurnal Rekayasa Proses, 18(3), 77–84. PNR Journal. (2023). Qualitative & quantitative estimation of phytochemicals from Piper cubeba. Pharma Nature Reviews Journal, 12(5), 9087. https://www.pnrjournal.com/index.php/home/article/view/9087 Purwanto. Introduksi Teknik Sambung Tanaman Kemukus (Piper Cubeba l.) Dengan Tanaman Malada Untuk Menghasilkan

Kemukus (Piper cubeba) Read More »

Jintan Hitam (Nigella sativa L.)

Nama Latin Nigella sativa L.  Taksonomi Kingdom    : Plantae Division      : Magnoliophyta Class           : Magnoliosida Ordo           : Ranunculales Famili         : Ranunculaceae Genus         : Nigella Spesies        : Nigella sativa L. (ITIS, 2025) Definisi Umum Jintan hitam (Nigella sativa L.) adalah tanaman herbal dari famili Ranunculaceae yang memiliki ciri morfologi khas, yaitu tanaman herba berukuran 20–30 cm dengan batang tegak, bercabang halus, dan berwarna hijau pucat. Daunnya berwarna hijau, berbentuk menyirip dengan helaian yang sangat tipis dan terbelah seperti jarum, sehingga tampak menyerupai rambut halus. Morfologi daunnya berbentuk filiform (seperti benang) dan tersusun berselang-seling di sepanjang batang, memberikan tampilan tanaman yang tampak “ringan” dan berlapis-lapis (Lusti et al., 2024). Bunganya berwarna putih hingga kebiruan, memiliki 5–10 kelopak, dan muncul secara soliter pada ujung batang. Setelah penyerbukan, tanaman membentuk buah kapsul beruang banyak yang di dalamnya berisi biji-biji kecil berwarna hitam pekat, berbentuk segitiga, dan bertekstur keras. Kapsul buah jintan hitam terdiri dari 3–7 ruang (lokulus), masing-masing berisi puluhan biji yang menjadi bagian utama tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional dan farmasi karena kandungan metabolit sekundernya. Secara keseluruhan, kombinasi bentuk daun yang filiform, bunga soliter bercorolla putih kebiruan, dan biji hitam bersegi menjadi ciri utama yang membedakan Nigella sativa dari spesies lain (Imelda et al., 2024).  Kandungan Biji jintan hitam mengandung berbagai metabolit sekunder yang penting, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik (Lusti et al., 2024). Selain itu, minyak esensial dari jintan hitam kaya akan senyawa bioaktif seperti thymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, α-hederin, dan t-anethole, yang memiliki efek antioksidan, antibakteri, antikanker, serta imunomodulator kuat (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Kandungan asam lemak seperti asam linoleat, oleat, dan palmitat juga berperan penting dalam efek antiinflamasi dan antikolesterol. Kombinasi metabolit lipofilik dan hidrofilik ini membuat jintan hitam efektif dalam berbagai aplikasi farmasi maupun kesehatan (Salma et al., 2025). Khasiat Aktivitas Antioksidan Jintan hitam memiliki aktivitas antioksidan kuat karena kandungan thymoquinone, flavonoid, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan ekstrak jintan hitam dari berbagai pelarut memiliki nilai IC₅₀ pada rentang 18,42–40,85 ppm yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat (Lusti et al., 2024). Aktivitas Antibakteri Ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakterinya dipengaruhi oleh senyawa bioaktif thymoquinone, thymohydroquinone, carvacrol, dan timol yang bekerja merusak membran sel bakteri (Salma et al., 2025). Aktivitas Antiinflamasi & Imunomodulator Jintan hitam dapat menurunkan inflamasi dengan menghambat produksi ROS dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan katalase. Selain itu, jintan hitam terbukti meningkatkan respon imun tubuh, termasuk peningkatan fagositosis dan jumlah leukosit, sehingga berperan sebagai imunostimulan alami (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Cara Pengolahan Potensi jintan hitam sebagai agen antibakteri terhadap bakteri patogen, dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Salma et al., 2025): a. Bersihkan biji jintan hitam dari kotoran dan benda asing, kemudian keringkan hingga kadar air rendah untuk mencegah pertumbuhan jamur. b. Haluskan biji menggunakan blender atau grinder hingga menjadi serbuk simplisia agar proses ekstraksi lebih optimal. c. Rendam serbuk dalam etanol 95% (atau etanol polar lainnya sesuai jurnal) dengan perbandingan pelarut yang memadai. d. Lakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi atau perendaman selama beberapa hari sambil sesekali diaduk agar senyawa aktif (thymoquinone, carvacrol, p-cymene) larut sempurna. e. Saring larutan untuk memisahkan filtrat (ekstrak) dari ampas. f.  Kentalkan ekstrak menggunakan evaporator atau penangas air untuk menguapkan sisa pelarut hingga diperoleh ekstrak pekat. g. Simpan ekstrak dalam wadah gelap dan kedap udara untuk menjaga stabilitas senyawa aktif, terutama thymoquinone.  Daftar Pustaka Imelda, D., Maharani, P., & Mardiana, P. (2024). Seminar Nasional TREnD Pemanfaatan Minyak Jintan Hitam ( Nigella Sativa ) Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada Minuman Herbal. Seminar Nasional TREnD, 4, 12–18. Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Single report for TSN 506592. Retrieved November 15, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592 Lusti, N. F., Pratiwi, N., Musaidah, S., Audina, R. I., & Atwiyandani, I. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol , Etil Asetat , dan N-heksana Jintan Hitam ( Nigella sativa ) dengan Variasi Pelarut dan Waktu Maserasi. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 7(16), 703–714. Muahiddah, N., & Diniariwisan, D. (2024). Jurnal Biologi Tropis The Potential of Black Cumin ( Nigella sativa ) as an Immunostimulant in Aquaculture ( Review ). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 301 – 308 DOI: Salma, A., Prajawanti, K. N., Aristia, B. F., & Nisyak, K. (2025). Potensi Jintan Hitam ( Nigella sativa ) sebagai Agen Antibakteri terhadap Bakteri Patogen Klinis. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum Dan Farmasi, 3(3), 146–155.

Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Read More »

Seledri ( Apium graveolens )

Nama latin Apium graveolens TaksonomiKingdom                : Plantae Sub Kingdom        : Tracheobionta Divisi                       : Spermatophyta Subdivisi                : Angiospermae Kelas                       : Dicotyledonae Ordo                       : Apiales Famili                     : Apiaceae Genus                     : Apium L Spesies : Apium graveolens L. Definisi Umum Seledri ( Apium graveolens L. ) adalah jenis sayuran yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk masakan dan juga memiliki sifat pengobatan. Tanaman seledri, yang merupakan tanaman musiman, sangat sensitif terhadap kondisi air yang berlebihan atau kekurangan dapat menganggu pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal Puput (2012); Rizky et al. (2018). Kandungan Seledri (Apium graveolens L) merupakan tumbuhan yang serat dannutrisi bermanfaat bagi Kesehatan, namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, seledri umumnya hanya di gunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan. Padahal, tanpa disadari tanaman ini bisa dimanfaatkan lebih optima, seperti minyak astiri yang terkandung didalamnya (Patricia et al., 2019). Secara keseluruhan, selerdi memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiplatelet, dan antiproliferatif,. Dari segi tradisional, seledri Apium graveolens L berguna untuk mengatasi rematik/asam urat, hipertensi, demam, nyari pinggang, konstipasi, sesak nafas, gangguan mata, stroke/lumpuh, serta diabetes (Handayani & Widowati, 2020).). Khasiat Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin sebanyak 1%, apiin, minyak atsiri sekitar 0,033%, apigenin, kolin, vitamin A, B, C, serta zat pahit asparagin (Clements et al., 2020). Di antara komponen seledri yang bersifat antibakteri adalah flavonoid, saponin, dan tanin (Majidah et al., 2014). Cara pengolahan Pembuatan Jus Seledri Segar (Tujuan : Konsumsi Segar atau Bahan Fungsional) Daftar Pustaka Handayani, L., & Widowati, L. (2020). Analisis Lanjut Pemanfaatan Empiris Ramuan Seledri (Apium graveolens L) oleh Penyehat Tradisional. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 10, 31 41. https://doi.org/DOI :10.22435/jki.v10i1.1718l Majidah, D., Fatmawati, D. W. A., Gunadi, A., Gigi, K., Jember, U., Gigi, F. K., Jember, U., Gigi, F. K., & Jember, U. (2014). Daya Antibakteri Ekstrak Daun Seledri ( Apium graveolens L .) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai Alternatif Obat Kumur. Puput, S. (2012). Pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.) pada beberapa jenis media tanam dan dosis pupuk organik cair. Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas IBA. Patricia, A. D., Jumaeri, & Mahatmanti, F. W. (2019). Uji Daya Antibakteri Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Seledri ( Apium graveolens ). J. Chem. Sci, 8(1), 29–33. Rizky, A., Pratama, Y., Sumiya, W., & Yamika, D. (2018). Pengaruh komposisi media dan jumlah air terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri (Apium graveolens L.). Jurnal Produksi Tanaman, 6(8), 1613–1619. Rudy S. et al., Impact of Drying Process on Grindability and Physicochemical Properties of Celery, Foods (MDPI), 2024

Seledri ( Apium graveolens ) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix Dc. Sinonim : Citrus paeda Miq. Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah. Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)

Nama latin Pandanus amaryllifolius Roxb. Taksonomi Kingdom           : Plantae Divisi                 : Spermatophyta Class                  : Monocotyledoneae Ordo                  : Pandanales Familia              : Pandanaceae Genus                : Pandanus Spesies              : Pandanus amaryllifolius Roxb. (Mursyida et al., 2021). Definisi Umum Pandanus amaryllifolius Roxb yang sering disebut pandan wangi dalam bahasa sehari-hari pertama kali dideskripsikan oleh seorang ahli botani bernama William Roxburgh pada tahun 1832, yang kemudian direvisi oleh Benjamin C. Stone pada tahun 1978. P. amaryllifolius merupakan tumbuhan monokotil dengan akar tunggang dan daun yang memanjang dan tersusun secara roset (Putri dan Purba, 2022). Menurut Silalahi (2019), hingga kini, asal-usul P. amaryllifolius masih diperdebatkan, namun spesies ini diduga berasal dari Kepulauan Maluku, Indonesia, di mana satu-satunya spesimen berbunga diketahui. Selain di Indonesia, jenis pandan ini banyak dijumpai di wilayah Asia yang meliputi Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina dan kemungkinan besar banyak dibawa perantau Asia Tenggara untuk dibudidaya di negara-negara lainnya. Nama marga Pandanus sendiri berasal dari Bahasa Melayu pandan dan digunakanuntuk menamai seluruh anggota suku pandan-pandanan (Pandanaceae), sementara penunjuk spesies amaryllifolius merujuk pada kemiripan daunnya dengan marga tumbuhan Amaryllis. Di kawasan Flora Malesiana dan sekitarnya, P. amaryllifolius hanya ditemukan sebagai tanaman budidaya dan tidak pernah terlihat dalam perbungaan atau perbuahan (Stone, 1978), sehingga perbanyakannya biasa dilakukan dengan cara vegetatif. Menurut Dalimartha (2000), tanaman daun pandan  memiliki daun berwarna hijau, batang bulat tunggal atau bercabang dan tersusun secara spiral. Tanaman ini berakar gantung yang tumbuh menjalar dan dalam waktu singkat dapat dengan lebat merumpun. Mempunyai buah dan bunga, dimana buahnya menggantung, berbentuk seperti bola dengan diameter 4-7,5 cm, pada kulit buah terdapat rambut berwarna jingga. Daun pandan dapat mengeluarkan aroma khas jika diremas atau di iris-iris sehingga tanaman ini sering digunakan untuk bahan penyedap, pewangi dan pewarna pada masakan. Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) atau biasa disebut pandan saja adalah jenis tumbuhan monokotil dari famili Pandanaceae. Di Indonesia, kebanyakan daun pandan digunakan sebagai pewarna makanan, penyegar ruangan, pewangi makanan, obat-obatan dan juga sebagai bahan baku kerajinan tangan (Cheeptham dan Towers, 2002). Kandungan dan Khasiat Daun pandan memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol dan zat warna. Tanin memicu metabolisme gukosa dalam lemak, digunakan mencegah timbunan glukosa dan lemak di darah. Alkaloid meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan glukoneogeneis, mengakibatkan kebutuhan insulin dan kadar glukosa darah turun. Flavonoid akan menghambat GLUT 2 (Glucose Transpoter 2) mukosa usus yang menyebabkan kadar glukosa darah akan turun (Nastiandari, 2016). Menurut Astanti et al. (2022), daun pandan terbukti memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan metabolit sekunder pada daun pandan tersebut dapat digunakan sebagai antioksidan dan antibakteri pada sediaan masker peel off (Setiyanto et al., 2024). Daun pandan menghasilkan aroma yang berasal dari senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY) dan digunakan dalam industri makanan untuk meningkatkan aroma serta menjadikan makanan lebih awet. Selain itu ekstrak daun pandan memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit gangguan saluran pencernaan dan kerusakan makanan seperti Shigella dysentriae Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (Silalahi, 2018). Cara Pengolahan Teh Herbal Daun Pandan Daun pandan dipilih tidak terlalu tua dan tidak pula terlalu muda. Setelah daun pandan di ambil, selanjutnya dilakukan pencucian di air yang mengalir dan ditiriskan selama 10 menit. Selanjutnya daun pandan dilakukan pelayuan selama 18 jam pada suhu ruang ± 27 °C. Daun pandan diletakkan pada wadah dan disebar per lembaran agar tidak menimpa satu sama lainnya. Setelah layu, daun pandan wangi dirajang kecil-kecil kemudian dilakukan pengeringan pada suhu 70°C dengan lama pengeringan 150 menit. Setelah kering daun pandan dihaluskan sehingga menjadi serbuk halus. Untuk penyajian, serbuk daun pandan diseduh dengan air (Jumanio et al., 2023). Rebusan Daun Pandan Rebusan daun pandan kini semakin populer sebagai pilihan alami untuk menjaga kesehatan tubuh. Cara membuat rebusan daun pandan diawali dengan mencuci daun pandan hingga benar-benar bersih sebelum direbus untuk menghindari kotoran atau sisa pestisida. Gunakan 2-3 lembar daun pandan dalam 3 gelas air, kemudian rebus hingga tersisa sekitar 2 gelas. Batasi hingga 1–2 gelas per hari agar tubuh tidak mengalami efek samping seperti mual atau gangguan pencernaan. Jangan menjadikan rebusan pandan sebagai pengganti obat medis, terutama untuk penyakit kronis (Marianti, 2025). Pewarna Makanan Menyiapkan daun pandan yang sudah dibersihkan dipotong-potong dengan ukuran 2 cm. Daun pandan yang sudah dipotong-potong dimasukkan ke dalam blender beserta air secukupnya. Hidupkan blender hingga potongan daun pandan hancur dan menjadi jus daun pandan. Setelah cukup halus, jus pandan disaring hingga air daun pandan dan ampasnya dapat terpisah. Air daun pandan yang sudah terpisah dari ampas daun pandan dapat digunakan sebagai pewarna alami. Pewarna air daun pandan dapat dimasukkan ke dalam botol dan disimpan di lemari pendingin. Air daun pandan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai pewarna di beragam makanan seperti warna hijau pada kue, membuat nasi menjadi berwarna hijau hingga dicampur ke dalam agar-agar (Makarim, 2021). Masker Tradisional Daun Pandan Proses pembutan masker tradisional daun pandan wangi berupa bubuk. Pada proses pembuatan bubuk daun pandan wangi dengan pemilihan daun pandan wangi segar yang berwarna hujau, kemudian dicuci dengan air mengalir dan diiris. Selanjutnya irisan daun pandan diletakkan di atas loyang, lalu dikeringkan dengan pengeringan angin selama 10 hari. Setelah kering kemudian daun pandan dihaluskan dengan blender, disaring untuk memisahkan bagian yang kasar dan yang halus. Dari 1 kg daun pandan segar, setelah melalui proses pembuatan menjadi bubuk daun pandan menghasilkan 100 gram untuk dijadikan masker tradisional (Rahmi dan Minerva, 2021). Daftar Pustaka Astanti, M. D., Lestari, P. E., & Triwahyuni, I. E. 2022. Efektivitas Gel Esktrak Daun Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb.) Terhadap Penyembuhan Ulser Pada Tikus Wistar. Stomatognatic – Jurnal Kedokteran Gigi, 19(1), 7. Cheeptham, N., dan Towers, G. H. N. , 2022. Light-mediated Activities Of Some Thai Medicinal Plant Teas, Fototerapia, Vol. 73, Hlm. 651-662, 2002. Dalimartha, dr. S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. (E. Priyatini, Ed.). Jakarta: Trubus Agriwidya, anggota IKAPI. Jumanio, A.U., Junardi, Darmansyah, H. 2023. Analisis Kadar Air Teh Herbal Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Menggunakan Variasi Suhu. ournal of Food Security and Agroindustry (JFSA), Vol. 1 No. 3, pp 111-117, October 2023. Makarim, F.R. 2021. Cara Mengolah Daun Pandan dan Manfaatnya untuk Kesehatan.  https://www.halodoc.com/artikel/cara-mengolah-daun-pandan-dan-manfaatnya-untuk-kesehatan. Marianti. 2025. 7 Manfaat

Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Read More »

Daun Ungu (Graptophyllum pictum)

Nama Latin Graptophyllum pictum L. Griff Taksonomi Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo : Scorpulariales Famili          : Acanthaceae Genus : Graptophylum Spesies : Graptophyllum pictum (L.) Griff (Griff et al., 2021) Definisi Umum Graptophyllum pictum yang juga dikenal sebagai ‘Daun Ungu’, ‘handeuleum’, dan ‘tulak’ di Indonesia merupakan tumbuhan asal Papua Nugini yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae (Goswami et al., 2021). Daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 1,5-3 m dan tidak berambut. Terdapat lendir pada kulit dan daunnya. Daunnya tunggal, bertangkai pendek dan terletak berhadapan bersilangan. Panjang daun kira-kira 8-20 cm dengan lebar 3-13 cm, bentuk bulat telur hingga lanset dengan tepi bergelombang dan ujung pangkal runcing. Nama lokal dari Graptophyllum pictum yaitu pudding hitam, daun wungu (Wibowo et al., 2021). Kandungan Daun ungu ini terdapat kandungan fenolik dalam daun ungu seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid (Dewi et al., 2023). Khasiat Tanaman daun ungu memiliki berbagai aktivitas farmakologi diantaranya yaitu antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, analgesik, photoprotective, imunomodulator, nefroprotektif, antihemoroid, dan antibakteri (Griff et al., 2021). Daun ungu dimanfaatkan sebagai obat diuretik (batang atau daunnya), bunganya untuk melancarkan haid, dan daunnya digunakan dalam pengobatan antiinflamasi, pengobatan sembelit, ambeien, antireumatik, pengobatan bisul, dan berperan sebagai pencahar ringan. Penyembuhan dilakukan dengan meminum rebusan daun ungu sekali dalam sehari dan dilakukan setiap pagi secara rutin (Dewi et al., 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahan daun ungu yang paling umum didokumentasikan dalam literatur pengobatan tradisional adalah melalui metode perebusan atau dekokta (Sartika & Indradi, 2021). Untuk penggunaan internal, daun segar direbus dengan air hingga volumenya menyusut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang larut air (Meilani et al., 2023). Sedangkan untuk penggunaan eksternal seperti mengobati bisul, daun ungu dapat diolah dengan cara ditumbuk halus dan ditempelkan langsung pada area yang sakit sebagai tapal (Safitri, 2021). Daftar Pustaka Dewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Edukasi Pembuatan Seduhan Daun Ungu untuk Atasi Wasir Di Desa Maku Kecamatan Dolo, KabupatenSigi,SulawesiTengah.2(2),16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770 Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative literature review on Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8 (9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10 Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Daun Ungu Plants Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531 Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization Of Ethanol Extract Of Wungu Leaf (Graptophyllum Pictum (L) Griff) Growing In The Pamah Deli Old Area As An Anti-Inflammatory. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1 (2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260 Safitri, S. (2021). Pengaruh Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus aureus). Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 8 (1), 25–33. https://doi.org/10.63763/ijsp.v1i2.20 Sartika, I., & Indradi, S. (2021). Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Indonesian Journal of Biological Pharmacy, 1 (2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531.g16953 Wibowo, D., Ismayadi, P., & Wati, D. (2021). Tanaman Obat Desa Air Selimang, kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahyang,Bengukulu, Indonesia. Bengkulu:Deepublish.https://pustaka.uniraya.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4230

Daun Ungu (Graptophyllum pictum) Read More »

Scroll to Top