naturindofresh

TEMU HITAM ( Curcuma Aeruginosa )

 Nama Latin Curcume aeruginosa Roxb Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Tracheophyta Kelas           : Liliopsida Ordo            : Zingiberales Famili          : Zingiberaceae Genus          : Curcuma Spesies        : Curcume Aeruginosa Roxb  (Dina, 2016)  Definisi Umum  Temu hitam memiliki nama lokal temu erang (Sumatra), koneng hideung (Jawa Barat), temu ireng (Jawa Tengah dan Jawa Timur), temu ireng (Madura), dan temu lotong (Sulawesi dan Nusa Tenggara). Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara besar-besaran di negara Asia lainnya seperti Malaysia, Kamboja, dan Myanmar. Di Indonesia rimpang temu hitam telah digunakan sebagai bahan baku jamu gendong dengan nama ramuan cabe puyang . Temu hitam atau dalam bahasa latin disebut Curcuma aeruginosa Roxb. Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) adalah salah satu rempah asli Indonesia Yang biasa digunakan sebagai bahan campuran obat atau jamu. Rimpang temu hitam merupakan salah satu keluarga dari Zingiberaceae. Tanaman ini secara empiris tumbuh pada ketinggian 1.150 m di atas permukaan laut, tumbuh baik pada tanah subur yang terairi baik (Kemenkes RI, 2011). Salah satu manfaat dari rimpang temu hitam yang sudah diteliti sebelumnya yaitu sebagai obat demam berdarah (Moektiwardoyo et al., 2012). Temu hitam adalah terna yang tingginya dapat mencapai 2 m. Batangnya semu, dan tersusun atas kumpulan pelepah daun yang basah dan berwarna hijau. Daunnya berwarna merah lembayung kecoklatan yang berwarna lebih gelap pada sepanjang tulang daunnya. Daunnya tunggal, panjang, dan terdiri atas 2-9 helai. Helaiannya berbentuk bundar memanjang sampai lanset, ujung dan pangkalnya runcing, berwarna hijau tua pada kiri-kanan tulang daun. Panjang daun 31–84 cm, dengan lebar 10–18 cm. Kandungan  Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) termasuk ke dalam famili Zingiberaceae yang mengandung beberapa senyawa, seperti minyak atsiri, tanin, curikumol, kurkumenol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumolactone, germakron, dan curcumin. a, ß, g-elemene, linderazulene, demethyoxy kurkumin, bisdemethoxy kurkumin dan zat pembawa rasa pahit. Kurkumin merupakan senyawa yang peka terhadap lingkungan terutama karena pengaruh ph dan suhu, cahaya serta radikal-radikal. Senyawa turunan kurkumin disebut kurkuminoid, yang hanya terdapat dua macam, yaitu desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin. Sebagai penambah nafsu makan, kurkumin memperbaiki kelainan pada kantong empedu dengan memperlancar pengeluaran cairan empedu dan pankreas dan sebagai hepatotoksik, sehingga terjadi peningkatan aktifitas pencernaan, serta berkemampuan merangsang perjalanan sistem hormone metabolisme dan fisiologi tubuh, Sebagai skrining awal untuk mendeteksi kemampuan ekstrak rimpang temu hitam sebagai antikanker maka dilakukan uji toksisitas. Toksisitas diartikan sebagai potensi dari suatu senyawa kimia untuk dapat menyebabkan kerusakan ketika senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh manusia (Zulfiah et al., 2020).  Khasiat   Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) memiliki rasa pahit. Tumbuhan ini memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, dikarenakan dalam temu hitam mengandung minyak atsiri yang berpotensi menurunkan lemak, sehingga dapat menambah nafsu makan (Adiant dkk, 2020). Selain itu, kandungan kurkumin yang terdapat di temu hitam dapat menyebabkan relaksasi usus di saluran cerna, sehingga membantu mencerna makanan dan menyerap bahan makanan dengan cara meningkatkan kinerja lambung yang menyebabkan lambung terasa kosong, kemudian akan mengirimkan sinyal ke otak yang berdampak terhadap peningkatan atau menimbulkan rasa lapar, serta Herbal Rimpang  temu  ireng  (Curcuma  aeruginosa)  memiliki  kandungan antioksidan yang tinggi, membantu menurunkan tekanan darah dengan mencegah penumpukan Reactive  Oxygen  Species(ROS),  yang  merupakan  faktor  penyebab  hipertensi (Sari  & Supratman, 2022).  Cara Pengolahan   Olahan temu hitam meliputi jamu herbal yang diminum langsung, teh bubuk temu hitam yang diseduh dengan air hangat, serta racikan obat oles untuk penyakit kulit seperti ruam dan kudis dengan tambahan minyak kelapa. temu hitam juga dapat digunakan sebagai bumbu alami dalam masakan. Kunyit hitam sebanyak 9 gram dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal pada tanaman yang kemudian dilakukan pengovenan pada suhu 50°C selama 24 jam yang bertujuan untuk mengurangi kadar air tanaman hingga kurang dari 10% untuk terhindar dari pertumbuhan jamur. temu hitam yang telah dikeringkan, digiling dan diayak. Sehingga dapat digunakan sebagai bahan masakan dan jamu temu hitam. DAFTAR PUSTAKA  Adiant, M., Pramesti Ella, R. dan Puruhito Frederik, E. (2020). Combination therapy of massage and temu ireng. Journal of Vocational Health Studies, 4(1):1–4. https://e-journal.unair.ac.id/JVHS/article/view/21086.  Kementrian Kesehatan RI. (2011).100 Top Tanaman Obat Indonesia. Balai Besar Litbang: Kementrian Kesehatan RI Moektiwardoyo, M., Tjitraresmi, A., Susilawati, Y., Iskandar, Y., Halimah, E. & Zahrianti,D. (2012).The Potential of Dewa Leaves (Gymura pseudochina (L) D.C) and Temu Ireng Rhizomes (Curcuma aeruginosa Roxb.) as Medicinal Herbs for Dengue Fever Treatment, Procedia Chemistry.3 (2): 134- 141. https://doi.org/10.1016/j.proche.2014.12.017 Sari,  A.  P.,  &  Supratman,  U.  (2022).  Phytochemistry  and  Biological  Activities  of  Curcuma aeruginosa (Roxb.). Indonesian Journal of Chemistry, 22(2), 576–598. https://doi.org/10.22146/ijc.70101 Setiadi, A., Khumaida, N., Ardie, W., & Sintho, D. 2017. Keragaman Beberapa Aksesi Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) Berdasarkan Karakter Morfologi. Indonesian Journal of Agronomy, 45 (1): 71–78. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalagronomi/article/view/13773.  Juhadi & Fathoni. (2024). Pengaruh Pemberian Rimpang Temu Ireng (Curcuma Aeruginosa) Terhadap Tekanan Darah Hipertensi, Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia. vol. 2 (1). https://journal.larpainstitute.com/index.php/jkti/article/view/86/56.  Zulfiah, Megawati, Herman, Lau, S. H. A, Hasyim, M. F, Murniati, Roosevelt, A, Kadang, Y, Izza, N, Patandung, G. (2020). uji Toksisitas Ekstrak Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) Terhadap Larva Udang (Artemia salina Leach) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Jurnal Farmasi Sandi Karsa, 6(1), 44–49. DOI: 10.36060/jfs.v6i1.67.  Black Curcuma (Curcuma Aeruginosa) Latin Name Curcume aeruginosa Roxb Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Liliopsida Order: Zingiberales Family: Zingiberaceae Genus: Curcuma Species: Curcume aeruginosa Roxb (Dina, 2016) General Definition Black turmeric is locally known as temu erang (Sumatra), koneng hideung (West Java), temu ireng (Central and East Java), temu ireng (Madura), and temu lotong (Sulawesi and Nusa Tenggara). This plant is well-known and widely cultivated in other Asian countries such as Malaysia, Cambodia, and Myanmar. In Indonesia, the rhizome of black turmeric is used as a raw ingredient in a herbal drink called “cabe puyang” (chilli puyang). Black turmeric, or Curcuma aeruginosa Roxb. in Latin, is a native Indonesian spice commonly used as an ingredient in herbal medicines. The rhizome of black turmeric belongs to the Zingiberaceae family. This plant empirically grows at an altitude of 1,150 m above sea level, growing well in fertile, well-watered soil (Ministry of

TEMU HITAM ( Curcuma Aeruginosa ) Read More »

Alpukat (Persea americana Mill.)

Nama latin Persea americana Mill. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus    : Persea Spesies   : Persea americana Mill. (ITIS, n.d.) Definisi Umum  Alpukat (Persea Gratissima) tumbuh subur di daerah sub tropis maupun tropis seperti Indonesia. Tanaman alpukat seringt dikonsumsi dalam bentuk buah, bagian daun dan biji alpukat juga memiliki khasiat yang baik untuk kesehatan. Tanaman alpukat tumbuh tegak dengan tinggi 9–18 m dengan diameter batang berkisar antara 30 hingga 60 cm. Bentuk daunnya bisa bermacam-macam, antara lain lanset, elips, lonjong, bulat telur, atau lonjong dan bisa berselang-seling. Warna daun hijau tua, mengkilap di permukaan atas, dan keputihan di bagian bawah. Panjang daun berkisar antara 7,5–40 cm dan bentuk buah seperti buah pir, sering berleher, lonjong atau hampir bulat dengan panjang 7,5–33 cm dan lebarnya bisa mencapai 15 cm. Kulit buahnya berwarna kuning kehijauan, hijau tua, ungu kemerahan atau ungu sangat tua hingga hampir hitam. Ketebalan kulit mencapai 6 mm, lentur atau berbutir dan rapuh. Secara umum, daging buah alpukat seluruhnya berwarna pucat hingga kuning pekat. Buah alpukat berbiji tunggal, berbentuk pipih, bulat, kerucut atau bulat telur, keras, berwarna gading, dengan panjang 5–6,4 cm, dilapisi oleh kulit berwarna coklat, tipis, sering menempel pada rongga daging (Sebayang et al., 2024). Kandungan Alpukat diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, dan sterol yang berfungsi sebagai antioksian. juga memiliki kandungan nutrisi, antara lain yaitu lemak, mineral (kalsium, magnesium, potassium, fosfor), vitamin C, E, K, dan B kompleks seperti piridoksin, riboflavin, niasin, biotin, dan tiamin. Senyawa bioaktif utama yang terkandung dalam daging buah alpukat dan limbahnya (kulit, biji, dan daun) adalah polifenol diikuti oleh karotenoid, tokoferol, dan sterol. Pada daging buah, kulit, biji, dan daun banyak mengandung polifenol, sedangkan karotenoid dan tokoferol terutama terdapat pada daging buah alpukat. Senyawa bioaktif tersebut mendapatkan perhatian besar karena potensinya untuk mencegah dan mengendalikan berbagai penyakit. Dari penelitian-penelitian terdahulu telah banyak diuji manfaat ekstrak daging buah, biji, daun dan kulit dalam bidang kesehatan, diantaranya yaitu memiliki aktivitas sebagai antikanker, antihiperglikemik, antibakteri, antihipertensi, anti kejang, antiinflamasi, analgesik, dan batu ginjal. Oleh karena itu, ampas dan limbah alpukat merupakan sumber senyawa bioaktif potensial yang cocok untuk aplikasi makanan atau nutraceutical (Sebayang et al., 2024). Khasiat Secara garis besar alpukat memiliki beberapa manfaat yaitu menjaga berat badan, memelihara kesehatan jantung, menjaga kesehatan mata, mencegah dan mengatasi sembelit, mengontrol tekanan darah, mengurangi risiko terjadinya kanker, mencegah radang sendi, menurunkan risiko gangguan metabolik, dan mencegah cacat lahir pada janin. Buah dan daun alpukat memiliki khasiat untuk menurunkan kadar kolesterol total serta memiliki efek dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan biji alpukat digunakan sebagai obat di Nigeria dalam mengobati orang yang bertekanan darah tinggi. Alpukat banyak digemari selain dagingnya yang enak, alpukat juga bermanfaat pada dunia pengobatan. Buah alpukat kaya akan nutrisi dan juga zat antioksidan. Buah alpukat juga menjadi satu-satunya buah yang mengandung lemak mono-unsaturated. Biji buah alpukat mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid, triterpenoid, tanin, flavonoid, dan saponin. Pada bidang industri biji buah alpukat digunakan dalam industri pakaian sedangkan untuk pengobatan biji alpukat dapat mengobati sakit gigi, hipertensi, dan diabetes mellitus. Buah alpukat segar mempunyai nilai gizi yang tinggi. Jumlah vitamin A tergantung pada warna buahnya. Daging buah dengan warna kuning lebih banyak vitamin A-nya daripada daging buah yang berwarna pucat (Hartati et al., 2022). Cara Pengolahan Alpukat dapat diolah menjadi beberapa bentuk: Untuk membuat minuman dari biji alpukat, pilihlah biji alpukat yang masih bagus dan dapat digunakan, lalu siapkan jahe dengan perbandingan 2:1. Kupas kulit biji alpukat dan jahe, kemudian cuci hingga bersih, lalu iris tipis keduanya. Setelah itu, siapkan wajan dan peralatan untuk menyangrai, kemudian sangrai biji alpukat dan jahe yang sudah diiris secara merata hingga berwarna hitam dan mengeluarkan aroma kopi. Setelah selesai, diamkan sejenak lalu giling perlahan hingga halus, kemudian saring hasil gilingan sampai diperoleh bubuk halus. Untuk penyajian, masukkan dua sendok makan bubuk olahan biji alpukat ke dalam gelas, tambahkan gula sesuai selera, lalu seduh dengan air mendidih sambil diaduk hingga merata, dan minuman pun siap disajikan serta dinikmati (Pangestu et al., 2022). Daftar Pustaka: Hartati, S., Yunus, A., Nandariyah, E. Y., Pujiasmanto, B., Purwanto, E., Samanhudi, S., … Dirgahayu, P. (2022). Diversifikasi Tanaman Pekarangan Dengan Tanaman Alpukat untuk Meningkatkan Gizi Keluarga. Jurnal SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat), 11(2), 161–166. https://doi.org/10.20961/semar.v11i2.61199.  Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Persea americana Mill. (TSN 18154). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=18154 Pangestu, M. B. A., Rizkyah, S. A., Fidhayanti, A. R., Isnaini, S. A., Roidah, I. S., & Diana, L. (2022). Pengembangan limbah biji alpukat sebagai inovasi produk minuman kesehatan (Studi kasus KWT Mekar Sentosa). KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(3), 87–90. e-ISSN 2798-1827. Diakses dari https://jurnalfkip.samawa-university.ac.id/KARYA_JPM/article/download/167/147 Rustanti, E., Puspita, E., Puspita, S., & Rohmani, S. (2021). Pemanfaatan tanaman herbal daun alpukat dan pemeriksaan kolesterol darah pada lansia. Jurnal Bhakti Civitas Akademika, IV(1). Retrieved from https://e-journal.lppmdianhusada.ac.id/index.php/jbca/article/view/132/125 Sebayang, S., Rayendra, R., Wientarsih, I., & Priosoeryanto, B. P. (2024). Potensi Tanaman Alpukat (Persea americana Mill) dalam Bidang Dermatologi. Jurnal Veteriner dan Biomedis, 2(2), 79–85. https://doi.org/10.29244/Jvetbiomed.2.2.79-85.  Alpukat (Persea americana Mill.) Latin name Persea americana Mill. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Laurales Family: Lauraceae Genus: Persea Species: Persea americana Mill. (ITIS, n.d.) General Definition Avocados (Persea Gratissima) thrive in subtropical and tropical regions such as Indonesia. Avocado plants are often consumed as fruit, and the leaves and seeds also possess beneficial health properties. The avocado tree grows upright, reaching a height of 9–18 m with a trunk diameter ranging from 30 to 60 cm. The leaves come in various shapes, including lanceolate, elliptical, oblong, ovate, or elongated, and may be arranged alternately. The leaves are dark green, glossy on the upper surface, and whitish on the underside. Leaf length ranges from 7.5–40 cm, and the fruit is pear-shaped, often with a neck, oblong, or nearly round, measuring 7.5–33 cm in length and up to 15 cm in width. The fruit skin is yellowish-green, dark green, reddish-purple, or very dark purple to nearly black. The skin is up to 6 mm thick, flexible or grainy,

Alpukat (Persea americana Mill.) Read More »

Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.)

Nama latin Capsicum frutescens L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo     : Solanales Famili   : Solanaceace Genus    : Capsicum L. Spesies   : Capsicum frutencens L. (Wisnujati dan Siswati, 2021) Definisi Umum  Cabai rawit (Capsicum frutescens L) merupakan tanaman dari benua Amerika. Tanaman ini sangat cocok ditanam di daerah tropis terutama sekitar garis khatulistiwa. Cabai rawit dapat ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0 – 500 mdpl untuk ketinggian hingga 1000 mdpl masih bisa tumbuh baik untuk lebih dari itu maka produktivitas tanamannya berkurang. Berikut ciri-ciri yang dimiliki buah cabai rawit yang masih muda yaitu memiliki warna putih, kuning, atau hijau muda dan bunganya memiliki warna putih kehijauan. Secara umum, dalam satu ruas ada kuntum bunga, akan tetapi terkadang mempunyai kuntum bunga lebih dari satu pada satu ruas. Pada tangkainya terdapat bunga tegak saat anthesis tetapi bunganya mengarah ke bawah, sedangkan tangkai daunnya pendek. Pada daging buah secara umum bertekstur lunak, dengan terdapat kapsaisin yaitu tingkat kepedasannya atau kadar pedasnya tinggi, sehingga rasa buah cabai rawit terasa pedas (Wisnujati dan Siswati, 2021). Kandungan Cabai rawit atau Capsicum frutescens L. adalah salah satu komoditas sayuran penting yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Cabai rawit mengandung senyawa kapsaisin, karotenoid, asam askorbat, minyak atsiri, resin dan flavonoid (Sofiarani dan Ambarwati, 2020). Khasiat Cabai rawit merupakan tanaman hortikultura dari famili nightshade yang bernilai ekonomis tinggi. Selain itu, cabai rawit merupakan sayuran dan buah yang memiliki banyak manfaat (Febriansyah, dkk., 2024). Tanaman ini mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya yaitu sebagai bumbu masak, bahan campuran industri makanan, dan sebagai bahan kosmetik. Buah, bagian batang, daun dan akar cabai dapat digunakan sebagai obat-obatan (Elfi, dkk., 2022). Beberapa penelitian menunjukan bahwa daun cabai rawit (Capsicum frutescens L.) mengandung senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi dan antioksidan. Senyawa tersebut diantaranya flavonoid, dan tanin. Daun cabai rawit digunakan secara tradisional untuk pengobatan infeksi pada kulit, disentri dan diare. Khasiat lainnya adalah sebagai antibakteri antiinflamasi, antihistamine dan bahan anti-HIV (Azmi, dkk., 2023). Penelitian tentang efektivitas ekstrak daun cabai rawit sebagai antifungi, bahwa daun cabai rawit mengandung saponin, alkaloid, terpenoid, kuinon dan flavonoid. Senyawa saponin dan flavonoid pada daun cabai rawit memiliki peranan untuk memacu pertumbuhan rambut, (Musdalipah dan Karmilah, 2018). Masyarakat Kabupaten Sikka menggunakan cabai sebagai bumbu dapur, akan tetapi sebagian kecil dari masyarakat di kabupaten Sikka menggunakan tanaman cabai sebagai obat tradisional yang dipercaya mampu menyembuhkan bisul (Elfi, dkk., 2022). Cara Pengolahan Daun Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dapat diolah secara tradisional sebagai obat-obatan alami diantaranya: Daftar Pustaka: Azmi, C., Manik, F., Rahayu, A., Saadah, I. R., Hutabarat, R. B., Barus, S., … & Gaswanto, R. (2023). The potential and the quality of several open pollinated chili varieties seed production. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1230, No. 1, p. 012186). IOP Publishing. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1230/1/012186/meta Elfi, T. N., Bare, Y., & Bunga, Y. N. (2022). Etnobotani Tanaman Capsicum annum L. Di Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka. Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 3(2), 28-35. https://doi.org/10.55241/spibio.v3i2.62 Febriansyah, F., Haris, A., & Gani, M. S. (2024). Pola tanam tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dengan kacang panjang (Vigna sinensis L.) terhadap populasi dan intensitas serangan hama. AGrotek MAS Jurnal Indonesia: Jurnal Ilmu Pertanian, 5(1), 91-99.  https://doi.org/10.33096/agrotekmas.v5i1.501 Sofiarani, F. N., dan Ambarwati, E. (2020). Pertumbuhan dan hasil cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada berbagai komposisi media tanam dalam skala pot. Vegetalika, 9(1), 292-304.  https://doi.org/10.22146/veg.44996 Musdalipah, M., & Karmilah, K. (2018). Efektivitas ekstrak daun cabai rawit (Capsicum frutescens L.) sebagai penumbuh rambut terhadap hewan uji kelinci (Oryctolagus cuniculus). Riset Informasi Kesehatan, 7(1), 83-88. https://doi.org/10.30644/rik.v7i1.137 Wisnujati, N. S., dan Siswati, E. (2021). Analisis produksi dan produktivitas cabai rawit (Capsicum frutescens L) di Indonesia. Jurnal Ilmiah Sosio Agribis, 21(1).  http://dx.doi.org/10.30742/jisa21120211345  Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Scientific name Capsicum frutescens L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Solanales Family: Solanaceae Genus: Capsicum L. Species: Capsicum frutescens L. (Wisnujati and Siswati, 2021) General Definition Bird’s eye chili (Capsicum frutescens L) is a plant native to the Americas. This plant is well-suited for cultivation in tropical regions, particularly near the equator. Bird’s eye chili can be grown in lowland areas at elevations of 0–500 meters above sea level; it can still thrive at elevations up to 1,000 meters, but productivity decreases at higher altitudes. The following are the characteristics of young bird’s eye chili fruits: they are white, yellow, or light green in color, and their flowers are greenish-white. Generally, there is one flower per node, though occasionally more than one flower may be present on a single node. The flowers stand upright on the stem during anthesis but droop downward, while the leaf stalks are short. The fruit flesh generally has a soft texture and contains capsaicin, which indicates a high level of heat or spiciness, so the bird’s eye chili has a spicy taste (Wisnujati and Siswati, 2021). Contents Bird’s eye chili, or Capsicum frutescens L., is one of the major vegetable crops widely cultivated in Indonesia. Bird’s eye chili contains capsaicin, carotenoids, ascorbic acid, essential oils, resins, and flavonoids (Sofiarani and Ambarwati, 2020). Benefits Bird’s eye chili is a horticultural plant from the nightshade family with high economic value. Additionally, bird’s eye chili is a vegetable and fruit with numerous benefits (Febriansyah et al., 2024). This plant offers many benefits, particularly from its fruit, which is used as a cooking spice, an ingredient in the food industry, and a component in cosmetics. The fruit, stem, leaves, and roots of chili peppers can be used as medicinal ingredients (Elfi et al., 2022). Several studies have shown that the leaves of bird’s eye chili (Capsicum frutescens L.) contain compounds with pharmacological and antioxidant activities. These compounds include flavonoids and tannins. Bird’s eye chili leaves are traditionally used to treat skin infections, dysentery, and diarrhea. Other benefits include antibacterial, anti-inflammatory, antihistamine, and anti-HIV properties (Azmi et al., 2023). Research on the antifungal efficacy of bird’s eye chili leaf extract indicates that bird’s eye chili leaves contain saponins, alkaloids, terpenoids, quinones, and flavonoids. The

Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.) Read More »

Mawar (Rosa Damascena)

Nama Latin Rosa domascena Mill., Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Magnoliophyta Kelas            : Magnoliopsida Ordo             : Rosales  Famili           : Rosaceae Genus           : Rosa  Spesies        : Rosa domascena  (Vania Ulfa et al , 2023) Definisi Umum Tanaman bunga mawar merah (Rosa damascena) memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap berbagai jenis iklim, sehingga dapat tumbuh di wilayah subtropis atau dingin maupun wilayah beriklim tropis atau panas seperti di Indonesia. Idealnya tanaman ini dibudidaya di daerah Indonesia yang ada di ketinggian 560-1400 mdpl. Menurut data Badan Pusat Statistik (2017), hasil produksi bunga mawar terbanyak ke-2 di Indonesia untuk kategori bunga hias yaitu 184.455.598 tangkaipada tahun 2017, lokasi pesebaran mawar antara lain: Kota Batu Malang, Bogor, Cianjur, Semarang, Pasuruan,dan Mojokerto. Tanaman bunga mawar termasuk jenis koloni belukar dengan tinggi 1-2 meter, batang berkayu dan berduri, daun tanaman ini termasuk jenis daun majemuk yang terdiri dari 5-7 lembar, berbentuk bulat telur dengan bagian tepi bergerigi rapat berukuran 5-7 cm, permukaan daun ditutupi rambut halus. Tanaman ini berbunga cukup banyak dalam 1 periode pertumbuhan dan bersifat soliter, bunga mawar spesies ini umumnya berwarna merah, pink keunguan dengan diameter rata-rata 7 cm dan terdiri dari 22-35 kelopak dalam satu mahkota. Kelopak bunga berukuran 2-3 cm berbentuk bulat lonjong seperti buah pir yang biasanya dilapisi oleh kelenjar tangkai dan rambut halus. Kandungan Ekstrak bunga mawar merah (Rosa damascena) mengandung tannin, geraniol, nerol, citronellol, dan flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Flavonoid merupakan agen antibakteri yang melawan berbagai mikroorganisme patogen. Kelopak mawar merah (Rosa damascena) mengandung zat aktif yang terkandung dalam ekstrak mawar merah yang berfungsi sebagai antiseptik dan antifungi diantaranya zat tanin dan sitronellol. Zat tanin merupakan senyawa kompleks yang memiliki bentuk campuran polifenol. Senyawa fenol yang ada pada tanin mempunyai khasiat adstrigensia, antiseptik, antifungi, dan pemberi warna. Mawar merah (Rosa damascena) mengandung muurolene, isomenthone, α- himachalene, linalool, α-pinene, phenethyl alcohol, citronellyl formate, β- citronellol, citronellol asetat, geraniol, geranyl asetat, nerol, n-hexyl asetat, α- myrcene, eugenol, dan neroli alkohol yang dapat berkhasiat sebagai aromaterapi. Khasiat Sebagai antiseptik (limonene membantu penyembuhan luka dan luka bakar pada permukaan kulit), memiliki efek vasokonstriksi pada kapiler, sehingga berguna dalam mengurangi kemerahan yang disebabkan oleh pembesaran pembuluh dan kapiler, dapat menyejukkan kulit yang terluka, membantu membersihkan dan mensterilkan luka ringan dan kulit yang lecet, serta mengurangi edema dan rasa sakit (efek analgesik). Ekstrak kelopak mawar merah mempunyai daya 8 hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak kelopak mawar merah terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans adalah pada konsentrasi 100% dengan luas hambat sebesar 1,65. Cara Pengolahan Tanaman mawar dapat diolah menjadi beberapa sediaan seperti pembuatan sabun padat bunga mawar, pembuatan lilin aromatherapy, pembuatan garam mandi bunga mawar, pembuatan air mawar sebagai toner cleanser, pembuatan hand senitizer bunga mawar.  DAFTAR PUSTAKA Anjarsari, I. R. D., Murgayanti., & Suminar, E. (2022). Pemanfaatan Bunga Mawar untuk Konsumsi di Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, 11(2), 172-175. https://doi.org/10.24198/dharmakarya.v11i2.33491 Komala, O., Utami, N. F., & Rosdiana, S. M. (2020). Efek Aromaterapi Minyak Atsiri Mawar (Rosa damascena MILL.) dan Kulit Jeruk Limau (Citrus amblycarpa) terhadap Jumlah Mikroba Udara Ruangan Berpendingin. Berita Biologi: Jurnal Ilmu-ilmu Hayati, 19(2), 215-222. https://doi.org/10.14203/beritabiologi.v19i2.3697 Stefani, S. W., Mursyanti, E., Pelatihan Pengolahan Produk dari Bunga  Mawar pada Masyarakat di Kawasan Sapuangin, Merapi, Klaten https://doi.org/10.24002/jai.v3i6.8082

Mawar (Rosa Damascena) Read More »

Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose)

Nama latin Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Tracheophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo     : Caryophyllales Famili   : Cactaceae Genus    : Hylocereus monocanthus Spesies   : Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose (ITIS, n.d.) Definisi Umum Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) merupakan buah pitaya berbentuk bulat lonjong seperti nanas yang memiliki sirip warnah kulitnya merah dihiasi sulur atau sisik seperti naga. Buah ini termasuk dalam keluarga kaktus, yang batangnya berbentuk segitiga dan tumbuh memanjat. Batang tanaman ini mempunyai duri pendek dan tidak tajam. Bunganya seperti terompet putih bersih, terdiri atas sejumlah benang sari berwarna kuning. Buah naga ada empat jenis yaitu buah naga daging merah, buah naga daging putih, buah naga super merah dan buah naga daging kuning. Keempat jenis buah naga tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dan mempunyai ciri yang berbeda. Daging buah naga merah memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibanding jenis buah baga putih. Aktifitas antioksidan pada ekstrak daging buah naga merah (Hylocereus monacanthus) menghasilkan konsentrasi yang cukup tinggi sekitar 75,4%. Daging buah naga merah memiliki banyak kandungan antioksidan salah satunya fenol dan asam askorbat yang memiliki kekuatan untuk menangkap logam sehingga dapat menangkap ion besi penyebab timbulnya penyakit degeneratif (Panjuantiningrum, 2009). Khasiat Buah Naga (Hylocereus monacanthus) mengandung vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3 dan vitamin C, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, tiamin, niasin, pyridoxine, kobalamin, glukosa, fenol, betasianin, polifenol, karoten, fosfor, besi dan flavonoid yang beberapa diantaranya merupakan senyawa antioksidan. Kandungan buah flavonoid dalam buah naga merah dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Selain itu, kandungan isoflavon pada senyawa flavonoid dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung, diabetes ginjal dan osteoporosis (Nuari et al, 2017).  Cara Pengolahan Buah Naga (Hylocereus monacanthus) dapat dibuat dalam bentuk sediaan lotion. Tahap pertama timbang semua bahan dalam pembuatan lotio, yaitu ekstrak kulit buah naga (3%), asam stearat (2,5%), Na CMC (1%), paraffin cair (7%), gliserin (5%), trietanolamin (2%), asam benzoat (0,2%), alkohol (5%), parfum (q.s) dan aquades (ad 100). Lalu panaskan lumpang di atas water bath atau penangas air. tahap kedua masukan fase minyak terlebih dahulu dalam lumpang gerus sampai homogen, lalu tambahkan fase air sedikit demi sedikit gerus cepat ad homogen kemudian setelah itu masukan alkohol sedikit-demi sedikit lalu tambahkan ekstrak kulit buah naga (Hylocereus monacanthus) lalu gerus ad homogen. Tahap ketiga tambahkan parfum gerus ad homogen. Keluarkan dari lumpang masukan ke dalam wadah yang telah disediakan (Yanty dan Siska, 2017). Daftar Pustaka: Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). TSN 907283. ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=907283 Nuari, S., Anam, S., & Khumaidi, A. (2017). Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Etanol Buah Naga. Galenika Journal of Pharmacy, 2(2), 118–125.  Panjuantiningrum, F. (2009). Pengaruh Pemberian Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih yang Diinduksi Aloksan. Yanty, N. Y., dan Siska, A. V. (2017). Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Sebagai Antioksidan dalam Formulasi Sediaan Lotio. Jurnal Ilmiah Manuntung, 3(2), 166-172. Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) Scientific name Hylocereus monocanthus (Lem.) Britton & Rose Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Caryophyllales Family : Cactaceae Genus : Hylocereus monocanthus Species : Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose (ITIS, n.d.) General Definition Dragon Fruit (Hylocereus monocanthus (Lem.) Britton & Rose) is a pitaya fruit shaped like an elongated sphere, similar to a pineapple, with red-colored skin adorned with tendrils or scales resembling a dragon. This fruit belongs to the cactus family, characterized by triangular stems that grow as vines. The plant’s stems have short, blunt spines. Its flowers resemble pure white trumpets, consisting of several yellow stamens. There are four types of dragon fruit: red-fleshed dragon fruit, white-fleshed dragon fruit, super red dragon fruit, and yellow-fleshed dragon fruit. Each of these four types has its own advantages and distinct characteristics. Red dragon fruit flesh contains higher levels of antioxidants compared to white dragon fruit. The antioxidant activity in red dragon fruit pulp extract (Hylocereus monacanthus) yields a relatively high concentration of approximately 75.4%. Red dragon fruit pulp contains numerous antioxidants, including phenols and ascorbic acid, which possess the ability to bind to metals and thus capture iron ions—a cause of degenerative diseases (Panjuantiningrum, 2009). Health Benefits Dragon fruit (Hylocereus monacanthus) contains vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, and vitamin C, as well as protein, fat, carbohydrates, dietary fiber, thiamine, niacin, pyridoxine, cobalamin, glucose, phenols, betacyanin, polyphenols, carotenoids, phosphorus, iron, and flavonoids—some of which are antioxidant compounds. The flavonoid content in red dragon fruit can lower blood glucose levels. Additionally, the isoflavone content within the flavonoid compounds can reduce the risk of heart disease, kidney diabetes, and osteoporosis (Nuari et al., 2017). Processing Method Dragon fruit (Hylocereus monacanthus) can be formulated into a lotion. The first step is to weigh all ingredients for the lotion: dragon fruit peel extract (3%), stearic acid (2.5%), sodium carboxymethylcellulose (1%), liquid paraffin (7%), glycerin (5%), triethanolamine (2%), benzoic acid (0.2%), alcohol (5%), fragrance (q.s.), and distilled water (to 100). Then heat the mortar over a water bath. In the second step, add the oil phase first to the mortar and grind until homogeneous; then add the aqueous phase little by little, grinding quickly until homogeneous. After that, add the alcohol little by little, followed by the dragon fruit peel extract (Hylocereus monacanthus), and grind until homogeneous. In the third step, add the fragrance and blend until homogeneous. Remove from the blender and transfer to the prepared container (Yanty and Siska, 2017). References: Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). TSN 907283. ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=907283 Nuari, S., Anam, S., & Khumaidi, A. (2017). Isolation and Identification of Flavonoid Compounds from Dragon Fruit Ethanol Extract. Galenika Journal of Pharmacy, 2(2), 118–125. Panjuantiningrum, F. (2009). The Effect of Red Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) Administration on Blood Glucose Levels in Alloxan-Induced White Mice. Yanty, N. Y., and Siska, A. V. (2017). Red Dragon Fruit (Hylocereus Polyrhizus) Peel Extract as an Antioxidant in Lotion Formulations. Manuntung Scientific Journal, 3(2), 166–172.

Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) Read More »

Kayu Putih (Melaluca Leucadendron)

Nama latin Melaluca Leucadendron Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Spermatophyta Kelas     : Dicotyledonae Ordo     : Myrtales Famili   : Myrtaceace Genus    : Melaleuca Spesies   : Melaleuca leucadendron (Manek et al., 2023) Definisi Umum Kayu putih (Melaleuca leucadendron) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang terkenal di Indonesia. Bau minyak kayu putih yang menyegarkan sering digunakan sebagai pewangi maupun obat herbal. Kayu putih memiliki batang tunggal dengan struktur batang simpodial, batang berwarna putih kelabu, kulit batang berlapis-lapis. Batang pohonnya berukuran sedang. Daun kayu putih merupakan daun tunggal, kecil agak tebal, bertangkai pendek, warna hijau, duduk daun berseling, helaian daun berbentuk lonjong, tuang daun sejajar, ujung dan panagkal daun runcing dengan tepi daun rata. Apabila diremas atau dimemarkan mengeluarkan aroma minyak kayu putih. Bunga kayu putih termasuk bunga majemuk bentuknya seperti lonceng berwarna putih dengan kepala putik berwarna putih kekuningan. Buahnya disebut buah kapsul dan berwarna coklat (Manek et al., 2023). Khasiat Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti senyawa polifenol, 1,8 sineol,  flavonoid, alkaloid, tanin, dan steroid (Binugraheni et al., 2023). Kayu putih secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan seperti masuk angin, influenza, sakit perut, digigit serangga. Kayu putih jug memiliki sifat sebagai antibakteril dan antiinflamasi (Manek et al., 2023). Cara Pengolahan Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) dapat dibuat menjadi balsem kayu putih. Tahap pertama lakukan penimbangan bahan minyak kayu putih sebanyak 30 mL, ekstrak lengkuas 0,5 g, vaseline album 6,95 g, Tahap kedua panaskan vaseline album diatas waterbath dan tunggu hingga melebur. Jika sudah melebur masukan ke dalam lumpang. Tahap selanjutnya masukkan minyak kayu putih dan ekstrak lengkuas aduk hingga homogen. Tahap terakhir semua bahan yang sudah homogen dimasukkan ke dalam pot balsam diamkan hingga memadat kemudian tutup pot balsam (Ardiyansya et al., 2023). Daftar Pustaka: Ardiyansyah, M., Cedric, A., Ardita, S. D., Arifiani, E., Anindya, R., Hermina, P. K., … & Hermina, P. K. (2023). Formulasi dan evaluasi sediaan balsam dari kombinasi minyak kayu putih (Cajuputi Oil) dan Ekstra Lengkuas (Alpinia Galanga L). Indonesian Journal of Health Science, 3(2), 250-256. http://dx.doi.org/10.54957/ijhs.v3i2a.486.  Binugraheni, R., Ifandari, I., Mulyowati, T., Tri Oktafiyani, N., & Khoirunnisaa, T. (2023). Profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendra L.). Conference on Innovation in Health, Accounting and Management Sciences (CIHAMS), 2, 25-32. https://doi.org/10.31001/cihams.v2i.71.  Manek, L. M., Purba, M. P., Benu, Y., Wiru, N., Pola, B. D., & Leba, A. S. (2023). Morfologi Kayu Putih (Melaluca Cajuputi Subsp. Cajuputi) Dan Sifat Fisis Serta Rendemen Minyak Dari Dua Lokasi Yang Berbeda Di Kabupaten Timor Tengah Utara. In Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian (Vol. 6, No. 1, pp. 110-118). https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/259/194. 

Kayu Putih (Melaluca Leucadendron) Read More »

BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis)

Nama Latin Hibiscus rosa sinensis Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo            : Malvales Famili          : Malvaceae Genus          : Hibiscus Spesies        : Hibiscus rosa sinensis. L (Soerjani, 1987) Definisi Umum  Hibiscus rosa-sinensis atau sering disebut dengan bunga kembang sepatu, banyak dijumpai di Indonesia. H. rosa-sinensis sering ditemui dengan variasi warna mahkota bunga yang beragam. Menurut penelitian dari Masnadi et al. (2019), di Hutan Taman Eden 100 yang terdapat di Kawasan Lumbang Rang, Desa Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir Sumatera Utara, keanekaragaman dari famili Malvaceae didominasi oleh Hibiscus sp. Tingginya bisa mencapai 10 meter pada daerah subtropik (biasanya 1-2,5 meter). Daunnya agak lebar, tipis, bagian pangkalnya agak meruncing, sedangkan tepi daunnya bergerigi kasar. Selain itu daunnya berwarna hijau bersinar dan bentuknya oval lebar. Bunga kembang sepatu tumbuh sendirian, letaknya pada ketiak daun, dan warnanya bervariasi merah muda sampai merah. Memiliki mahkota daun dengan tangkai benang sari yang banyak dan berwarna merah, 4-6 putiknya terletak di ujung benang sari. Kelopaknya membentuk garis sama panjang dengan mahkota  4. Kandungan  Bagian bunga, daun, dan akar kembang sepatu mengandung flavonoid. Daunnya mengandung saponin dan polifenol, akarnya mengandung tanin, saponin, skopoletin, cleomiscosin A, dan cleomiscosin C. Dan pula bunganya juga mengandung polifenol, yaitu senyawa yang menyebabkan rasa segar. Kembang sepatu dijadikan obat herbal selain tanaman obat keluarga lainnya karena kembang sepatu memiliki kandungan berbagai senyawa, yaitu tanin, alkaloid, flavonoid, taraxeryl acetat, polifenol, saponin, sianidin, glikosida, hibisetin, kuersetin, Caoksalat, dan perxidase. Senyawa inilah yang mampu melawan dan melemahkan organisme penyebab penyakit. (Efendi et al., 2021) Khasiat  Kembang sepatu dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, diantaranya sebagai pengobatan panas dalam, diabetes melitus, bronkitis, gangguan ginjal, haid tidak teratur, luka, sakit panas, demam, sariawan, batuk, gondok, dan sakit kepala. Olahan dari kembang sepatu dapat juga digunakan untuk menurunkan hipertensi, menurunkan kadar lemak, menurunkan berat badan, membasmi bakteri tubuh sebagai antiseptik serta mengandung senyawa yang dapat mencegah kanker.  Cara Pengolahan   Kembang sepatu dapat diolah menjadi sirup, teh dan pewarna alami,  Cara penyeduhannya yaitu bunga kembang dioven atau dikeringkan kemudian, cukup melarutkan satu sendok teh bunga hibiscus kering ke air mendidih selama tiga sampai lima menit sehingga siap dikonsumsi, sebagai pewarna makanan dengan cara bunga kembang sepatu direbus selama 15 menit dan untuk ekstraksi segar dengan cara diblender dan dapat direndam dengan mie sebagai pewarna makanan. Pembuatan sirup dengan cara panas dilakukan dengan merebus 20 gram bunga kembang sepatu selama 15 sampai 20 menit, kemudian rebusan disaring dan air rebusan diminum setelah dingin. Sedangkan pengolahan bunga kembang sepatu dengan cara dingin adalah dengan melumatkan bunga pada mortar dan di tambahkan setengah gelas air matang kemudian diangin-anginkan selama semalam dan rasa pahit dapat diberikan gula atau madu.  DAFTAR PUSTAKA  Efendi, A., Hasibuan, M., Sihombing, E., & Wulandari, T. (2021). Bunga Kembang Sepatu Dikreasikan Untuk Kesehatan. Seminar Nasional Karya Ilmiah Multidisiplin, 1(1), 129–135. https://journal.unilak.ac.id/index.php/senkim/article/view/7750.  Masnadi M, Manurung N dan Warsodirejo PP, 2019. Keanekaragaman Famili Malvaceae Di Hutan Taman Eden 100 Sebagai Bahan Perangkat Pembelajaran Biologi. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 2(2): 32-41.  https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/best/article/view/1816.  Lestari, 2021. Pemahaman Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) Sebagai Tanaman Obat Herbal. National Conference Of Islamic Natural Science Vol 2(1), 194-202 https://proceeding.iainkudus.ac.id/index.php/NCOINS/article/view/346.  Oktiarni, D., Ratnawati, D., & Sari, B. (2013). Pemanfaatan Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis Linn.) sebagai Pewarna Alami dan Pengawet Alami Pada Mie Basah. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 103–110. https://www.semanticscholar.org/paper/Pemanfaatan-Ekstrak-Bunga-Kembang-Sepatu-(Hibiscus-Oktiarni-Ratnawati/1d86a7f9a565c421dce181b76753349d6a8d04be. Murrukmihadi, M. (2019). Formulasi Sirup Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-sinensis L.) Varietas Warna Merah Muda dan Uji Aktivitas Mukolitiknya pada Mukus Saluran Pernapasan Sapi secara In Vitro. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, Vol. 4(1), pp. 17-22. https://jurnal.ugm.ac.id/majalahfarmaseutik/article/view/24077.   BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis) Latin Name Hibiscus rosa-sinensis Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Order : Malvales Family : Malvaceae Genus : Hibiscus Species : Hibiscus rosa-sinensis L. (Soerjani, 1987) General Definition Hibiscus rosa-sinensis, commonly known as the hibiscus flower, is widely found in Indonesia. H. rosa-sinensis is often found with a wide variety of flower petal colors. According to research by Masnadi et al. (2019), in the Eden 100 Forest located in the Lumbang Rang area, Sionggang Utara Village, Lumban Julu Subdistrict, Toba Samosir Regency, North Sumatra, the diversity of the Malvaceae family is dominated by Hibiscus sp. It can grow up to 10 meters tall in subtropical regions (typically 1–2.5 meters). The leaves are somewhat broad, thin, with a slightly tapered base, and the leaf margins are coarsely toothed. Additionally, the leaves are glossy green and have a broad oval shape. Hibiscus flowers grow singly, located in the leaf axils, and their colors vary from pink to red. They have a corolla with numerous red stamens, and 4–6 pistils are located at the tips of the stamens. The sepals form a line of equal length with the corolla 4. Compounds The flowers, leaves, and roots of the hibiscus plant contain flavonoids. The leaves contain saponins and polyphenols, while the roots contain tannins, saponins, scopoletin, cleomiscosin A, and cleomiscosin C. The flowers also contain polyphenols, which are compounds that give them a fresh taste. Hibiscus is used as a herbal medicine alongside other medicinal plants because it contains various compounds, including tannins, alkaloids, flavonoids, taraxeryl acetate, polyphenols, saponins, cyanidin, glycosides, hibiscetin, quercetin, calcium oxalate, and peroxidase. These compounds are capable of combating and weakening disease-causing organisms. (Efendi et al., 2021) Benefits Hibiscus flowers can be used for health purposes, including as a treatment for internal heat, diabetes mellitus, bronchitis, kidney disorders, irregular menstruation, wounds, fever, canker sores, cough, goiter, and headaches. Hibiscus preparations can also be used to lower blood pressure, reduce fat levels, aid weight loss, eliminate bacteria as an antiseptic, and contain compounds that may help prevent cancer. Preparation Methods Hibiscus flowers can be processed into syrup, tea, and natural food coloring. To prepare the tea, the hibiscus flowers are oven-dried or air-dried; simply steep one teaspoon of dried hibiscus flowers

BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis) Read More »

Alang-Alang (Imperata cylindrica)

Nama Latin Imperata cylindrica Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Ordo : Poales Kelas : Liliopsida Famili : Poaceace Genus : Imperata Spesies : Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (ITIS, n.d.) Definisi Umum Alang-alang merupakan tanaman liar yang terkenal sebagai tanaman pengganggu pertanian akibat dari sifatnya yang mudah tumbuh dan cepat berkembang biak secara terus menerus terutama di tanah yang subur. Tumbuhan ini berkembang biak melalui biji yang mudah terbawa angin, alang-alang juga memperluas koloninya dengan cepat melalui rimpang yang sanggup menembus lapisan tanah secara efisien. Meskipun termasuk dalam kategori tanaman pengganggu pertanian, alang-alang juga termasuk tanaman obat. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, Alang-alang mengandung sejumlah unsur-unsur kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Unsur-unsur ini banyak terdapat pada bagian akar.  (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023). Kandungan Di dalam akar tanaman alang-alang (Imperata cylindrica) memiliki kandungan aktif utama yaitu Alkaloid, Karbohidrat, Fitosferol, Tannin, Saponin, Flafonoid, dan Protein/asam amino (Maryati et al., 2021). Khasiat Cara Pengolahan Akar dari tanaman alang-alang dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut: Daftar Pustaka Afriannisa, A., Azhirakeisha, S. M., Rahma, L. H., & Aisyah, R. (2025). Pemanfaatan akar alang-alang sebagai alternatif herbal dan bahan fungsional berkelanjutan. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(2), 112–120. https://www.journal.stkipsubang.ac.id/index.php/didaktik/article/view/6085/3696 Fatah, A., Damayanti, S. E., Pratiwi, D. S., Taufik, Y., Ghaffar, R. M., Nurkanti, M., & Hasanah, N. (2024). Diversifikasi produk akar alang-alang, pakcoy, daun stevia dan mint hasil pertanian Desa Ciputri. Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS), 5(1). Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Imperata cylindrica (TSN 783590). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=783590 Loilatu, B., Rumra, M. Y., & Subhan, S. (2023). Pemanfaatan tumbuhan alang-alang (Imperata cylindrica L.) sebagai obat tradisional oleh masyarakat Desa Selasi Kabupaten Buru Selatan. HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1(2), 117–128. Maryati, M., Sulistyowati, E., & Widyaningrum, I. (2021). Efek antihiperlipidemia alang-alang (Imperata cylindrica) dan senyawa aktifnya: Review sistematik. Jurnal Bio Komplementer Medicine, 8(1). https://jim.unisma.ac.id/index.php/jbm/article/viewFile/13984/10749 Alang-Alang (Imperata cylindrica) Latin Name Imperata cylindrica Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Order: Poales Class: Liliopsida Family: Poaceae Genus: Imperata Species: Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (ITIS, n.d.) General Definition Imperata cylindrica is a wild plant known as an agricultural weed due to its ability to grow easily and reproduce rapidly and continuously, especially in fertile soil. This plant reproduces via seeds that are easily carried by the wind; it also rapidly expands its colony through rhizomes capable of efficiently penetrating soil layers. Although classified as an agricultural weed, alang-alang is also considered a medicinal plant. According to several studies, alang-alang contains various beneficial chemical compounds for health. These compounds are primarily found in the roots. (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023). Composition The roots of the alang-alang plant (Imperata cylindrica) contain the following primary active compounds: alkaloids, carbohydrates, phytosterols, tannins, saponins, flavonoids, and proteins/amino acids (Maryati et al., 2021). Benefits Relieves Internal Heat: Alang-alang root is widely used to alleviate symptoms of internal heat. Diuretic and Kidney Health: Alang-alang has a strong diuretic effect, helping to promote urination and maintain healthy kidney function. Its flavonoid content is believed to play a role in dissolving calcium in kidney stones. Anti-inflammatory and Antibacterial: The presence of phenols, alkaloids, and terpenoids provides natural antiseptic, antibacterial, and anti-inflammatory properties that help reduce inflammation and combat infections. Relieving Digestive Disorders: It can help alleviate inflammation in the digestive tract, including gastritis and excess stomach acid. Potential Antihypertensive Effects: Its diuretic properties may also help in managing hypertension (high blood pressure). (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023; Fatah et al., 2024) Preparation Method The roots of the alang-alang plant can be processed into a herbal drink as follows: Wash the alang-alang roots thoroughly, Cut the alang-alang roots into small pieces, Then boil the alang-alang roots until the extract is released, Add sugar and mint leaves to taste, Strain the boiled alang-alang roots, Cool the mixture, and pour it into a container or bottle, The alang-alang root infusion is ready to drink. (Fatah et al., 2024). Preparation Method The roots of the alang-alang plant can be processed into an herbal drink as follows: Wash the alang-alang roots thoroughly, Cut the alang-alang roots into small pieces, Then boil the alang-alang roots until the juice is released, Add sugar and mint leaves to taste, Strain the boiled alang-alang root mixture, Let the decoction cool, and package it in a container or bottle, The alang-alang root decoction is ready to consume. (Fatah et al., 2024). References Afriannisa, A., Azhirakeisha, S. M., Rahma, L. H., & Aisyah, R. (2025). Utilization of elephant grass roots as an alternative herbal remedy and sustainable functional ingredient. Didaktik: Scientific Journal of PGSD STKIP Subang, 11(2), 112–120. https://www.journal.stkipsubang.ac.id/index.php/didaktik/article/view/6085/3696 Fatah, A., Damayanti, S. E., Pratiwi, D. S., Taufik, Y., Ghaffar, R. M., Nurkanti, M., & Hasanah, N. (2024). Product diversification of elephant grass roots, pak choi, stevia leaves, and mint from agricultural production in Ciputri Village. National Conference on Community Service (KOPEMAS), 5(1). Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Imperata cylindrica (TSN 783590). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=783590 Loilatu, B., Rumra, M. Y., & Subhan, S. (2023). The use of elephant grass (Imperata cylindrica L.) as a traditional medicine by the community of Selasi Village, South Buru Regency. HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1(2), 117–128. Maryati, M., Sulistyowati, E., & Widyaningrum, I. (2021). The antihyperlipidemic effects of alang-alang (Imperata cylindrica) and its active compounds: A systematic review. Journal of Complementary Medicine, 8(1). https://jim.unisma.ac.id/index.php/jbm/article/viewFile/13984/10749

Alang-Alang (Imperata cylindrica) Read More »

Kemenko PMK Lakukan Kunjungan ke PT Naturindo Fresh

Kulon Progo, 24 Juli 2025 — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan kunjungan kerja dalam rangka monitoring dan evaluasi kebijakan pengembangan obat bahan alam di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan kemandirian penyediaan sediaan farmasi nasional berbasis potensi lokal. Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Bappeda Kulon Progo ini dihadiri oleh berbagai instansi, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM, Dinas Kebudayaan, BPOM Kulon Progo, serta DPD GP Jamu Yogyakarta. Diskusi berfokus pada kebijakan pengembangan obat bahan alam, ketersediaan vaksin dan alat kesehatan, serta inovasi pelayanan dan riset lokal yang mendukung program kesehatan nasional. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke UKOT PT. Naturindo Fresh di Dusun Secang, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih. UKOT ini merupakan salah satu unit kesehatan yang mengembangkan dan memproduksi obat bahan alam secara modern dan higienis. Para peserta kunjungan mendapat gambaran nyata tentang proses produksi yang mengutamakan kualitas dan keamanan, sesuai standar nasional. Kulon Progo dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan obat herbal dan kampung jamu. Kekayaan sumber daya alam, budaya pengobatan tradisional yang kuat, serta dukungan dari institusi pendidikan dan industri kreatif menjadikan wilayah ini strategis dalam upaya mewujudkan kemandirian farmasi nasional. Melalui kegiatan ini, Kemenko PMK berharap akan tercipta sinergi lebih kuat antara pemangku kepentingan pusat dan daerah dalam mendukung pemanfaatan obat bahan alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Kemenko PMK Lakukan Kunjungan ke PT Naturindo Fresh Read More »

Naturindo Group Raih Penghargaan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 dari Pemkab Kulon Progo

PT Naturindo Fresh dan PT Naturindo Surya Niaga, dua perusahaan unggulan dalam Naturindo Group, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Penganugerahan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, keduanya berhasil meraih penghargaan atas komitmen tinggi dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan berkelanjutan. 🏅 PT Naturindo Fresh meraih peringkat ke-4 dalam kategori Perusahaan Menengah🏅 PT Naturindo Surya Niaga menempati peringkat ke-7 dalam kategori Perusahaan Besar Pengakuan Atas Komitmen dan Kepatuhan Ketenagakerjaan Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap konsistensi Naturindo Group dalam menerapkan standar tinggi tata kelola perusahaan, keselamatan kerja, serta kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan. Ini membuktikan bahwa Naturindo tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada pembangunan budaya kerja yang etis, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan. Maklon Herbal Terpercaya di Kulon Progo Sebagai salah satu perusahaan herbal terpercaya di Kulon Progo, Naturindo Group dikenal sebagai pelopor layanan One-Stop Maklon produk herbal yang profesional dan terintegrasi. Prosesnya mencakup: Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan prinsip jamu modern halal dan berkualitas, sesuai standar nasional dan internasional. Membangun Lingkungan Kerja yang Inklusif dan Produktif Lebih dari sekadar pencapaian formal, penghargaan ini mencerminkan kekuatan budaya kerja positif yang dibangun di Naturindo: integritas, kolaborasi, dan dedikasi. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim — mulai dari jajaran manajemen hingga karyawan di lini produksi — yang bersama-sama membentuk sistem kerja yang adil, sehat, dan produktif. Kontribusi Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi Lokal Naturindo Group percaya bahwa lingkungan kerja yang layak adalah fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dengan terus berinovasi dan menjaga kualitas, perusahaan berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi kesehatan masyarakat melalui produk herbal berkualitas, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi lokal Kulon Progo dan Indonesia secara keseluruhan. Selamat untuk seluruh tim Naturindo! Teruslah tumbuh, menginspirasi, dan membawa manfaat untuk masyarakat luas. 🌿✨

Naturindo Group Raih Penghargaan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 dari Pemkab Kulon Progo Read More »

Scroll to Top