May 2026

Srikaya ( Annona squamosa)

Nama Latin Annona squamosa Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Sub Divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Ordo: Ranunculales Familia: Annonaceae Genus: Annona Spesies: Annona squamosa L. (Depkes RI, 2001)  Definisi Umum Tanaman srikaya (Annona squamosa) merupakan tanaman tropis dari famili Annonaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman buah yang memiliki nilai gizi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Secara morfologi, tanaman ini berupa pohon kecil dengan buah berbentuk bulat bersegmen dan memiliki biji berwarna hitam. Selain buahnya, bagian lain seperti daun, biji, dan kulit batang juga memiliki potensi sebagai bahan obat karena mengandung senyawa bioaktif. Kandungan Tanaman srikaya mengandung berbagai senyawa kimia aktif yang termasuk dalam metabolit sekunder. Kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini antara lain alkaloid (seperti annonain), flavonoid, saponin, serta senyawa acetogenin yang dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi. Senyawa acetogenin merupakan komponen khas dari famili Annonaceae yang memiliki potensi sebagai agen sitotoksik atau antikanker. Selain itu, kandungan senyawa lainnya juga berperan sebagai antioksidan dan antibakteri.  Khasiat Tanaman srikaya memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun diteliti secara ilmiah. Daun srikaya digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, luka, kudis, dan penyakit kulit lainnya. Selain itu, ekstrak tanaman ini juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antivirus, serta berpotensi sebagai antikanker karena adanya senyawa acetogenin. Khasiat pada biji yaitu dapat mematangkan bisul , membasmi kutu kepala. Tanaman ini juga diketahui memiliki efek imunostimulan yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh Cara Pengolahan Pengolahan tanaman srikaya dapat dilakukan secara tradisional maupun modern. Secara tradisional, daun srikaya biasanya direbus untuk dijadikan ramuan herbal atau ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mengobati luka dan penyakit kulit. Sementara itu, dalam pengolahan modern, bagian tanaman seperti daun dan biji diekstraksi menggunakan pelarut (misalnya etanol) melalui metode maserasi untuk memperoleh senyawa aktif. Hasil ekstraksi kemudian dapat digunakan untuk penelitian farmakologi atau dikembangkan menjadi produk obat herbal. Daftar Pustaka Putra, I. G. I. P. (2015). Uji aktivitas antikanker ekstrak etanol biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap beberapa sel kanker manusia secara in vitro. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/9292/ Haskito, A. E. P. (2011). Efek pemberian ekstrak daun srikaya (Annona squamosa L.) terhadap sistem imun. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/84303/ Partogi, T. (1992). Isolasi dan identifikasi flavonoid dari daun srikaya. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/9942/

Srikaya ( Annona squamosa) Read More »

Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.)

Nama Latin Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Genus: Erythrina Spesies: Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. (Plantamor.com) Definisi Umum Dadap serep (Erythrina variegata) merupakan tanaman berpohon yang tumbuh liar di hutan, kebun, dan tanah lapang. Genus Erythrina berasal dari kata Yunani “erythros” yang berarti “merah” yang merujuk pada bunga. Spesies variegata memiliki arti berwarna tidak teratur yang merujuk pada daun (Singh & Kumar, 2020). Tanaman Dadap serep tumbuh baik pada daerah yang setengah kering dan lembab dengan curah hujan 800-1500 mm/tahun (Tamir & Temesgen, 2015). Kandungan Dadap serep (Erythrina variegata) teridentifikasi mengandung komponen dari golongan alkaloid, flavonoid, triterpenoid, tannin, polifenol, dan saponin. Berbagai kandungan komponen tersebut, tentunya kaya akan aktivitas antioksidan (Hemmalakshmi et al., 2016). Selain itu, ada aktivitas antiinflamasi (Reddy et al., 2015) serta aktivitas antibakteri. Khasiat Antioksidan yang terkandung di dalam dadap serep antioksidan berperan dalam menyeimbangkan kadar ROS (Reactive Oxygen Species) dan mempertahankan kondisi terhadap kerusakan jaringan luka (Hemmalakshmi et al., 2016). Selain itu, aktivitas antiinflamasi di dalam dadap serep berperan dalam menghambat aktivitas enzim lipooksiginase dan siklooksiginase (Reddy et al., 2015) serta aktivitas antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri maupun mikroorganisme (Mohammed et al., 2023), sehingga memiliki potensi sebagai obat dalam membantu penyembuhan luka. . Berbagai bagian tanaman ini telah digunakan sebagai obat untuk menurunkan nyeri, demam, kolesterol, asam urat, batuk, dan melancarkan ASI. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Santhiya et al., 2016) Cara Pengolahan Dadap serep bisa langsug didunakan dengan cara daunnya ditempelkan ke dahi untuk menurunkan demam. Selain itu, daun dadap serep juga dapat diolah menjadi obat tradisional dengan beberapa cara. Salah satunya dijadikan sebagai minuman tradisional obat. Cara pembuatannya relatif mudah diawali dengan pencucian daun dadap serep hingga bersih, dilanjutkan dengan melakukan perebusan, lalu daun yang sudah direbus disaring yang kemudian air rebusan dadap serep dapat dikonsumsi sebagai obat. Daftar Pustaka Rohmah N. 2024. Potensi Kandungan Fitokimia Tanaman Dadap Serep (Erythrina variegata) sebagai Antibakteri, Antiinflamasi, dan Antioksidan:A Narrative Review. Skripsi Program Studi Farmasi. Universitas Muhammadiyah Magelang. Fensynthia G. 2025. Daun Daadap Serep, Inilah Manfaat dan Tips Aman Menggunakannya. Artikel. Alodokter. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.) Read More »

TERONG (Solanum melongena L.)

Nama Latin Solanum melongena L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Solanum Spesies : Solanum melongena L.                                                                (Sahetapy, 2012) Definisi Umum Tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan tanaman hortikultura dari daerah tropis yang diduga berasal dari Asia, khususnya India dan Myanmar, serta telah menyebar luas ke berbagai wilayah tropis dan subtropis dunia. Tanaman ini termasuk dalam famili Solanaceae dan mampu tumbuh dengan baik hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Secara sistematika, terong tergolong ke dalam divisi Spermatophytae, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Tubiflorae, genus Solanum, dan spesies Solanum melongena L. (Andria, 2022). Kandungan Terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan sayuran dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Dalam 100 gram terong ungu terkandung sekitar kalori 25 kkal, karbohidrat 5,5 g, lemak 1,1 g, kalsium 15 mg, fosfor 37 mg, zat besi 0,4 mg, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, serta kadar air yang tinggi ±92,7% (Rukmanasari, 2010). Selain itu, terong juga kaya akan serat, mineral seperti magnesium dan kalium, serta senyawa bioaktif seperti antosianin dan nasunin yang berperan sebagai antioksidan (Foodreference, 2010). Kandungan fenolik pada terong diketahui mampu menangkap radikal bebas sehingga berpotensi melindungi sel dari kerusakan oksidatif (Tiwari et al., 2009) Khasiat Cara Pengolahan Terong dapat diolah dengan berbagai cara sederhana, tergantung kebutuhan konsumsi: Pengolahan yang minim minyak seperti kukus atau rebus lebih disarankan agar kandungan nutrisi, terutama antioksidan, tetap terjaga. Daftar Pustaka Andria, N. A. (2022). Pertumbuhan dan produksi tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) dengan pemberian plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan kompos tandan kosong kelapa sawit (Skripsi). Universitas Medan Area. https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/18911 Foodreference.com. (2010). Eggplant (aubergine) nutrition facts. https://www.foodreference.com/html/art-eggplant.html Tiwari, A., Sharma, M., & Pandey, G. (2009). Evaluation of antioxidant activity of eggplant (Solanum melongena L.). Persid, R., & Verma, S. (2014). Nutritional and antioxidant properties of eggplant (Solanum melongena L.). Rukmanasari. (2010). Kandungan gizi terong ungu. (Laporan/skripsi tidak dipublikasikan).

TERONG (Solanum melongena L.) Read More »

Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.)

Nama Latin Polianthes tuberosa L. Taksonomi Kingdom: PlantaeSubkingdom: TracheobiontaDivisi: MagnoliophytaKelas: LiliopsidaOrdo: AsparagalesFamili: AsparagaceaeSubfamili: AgavoideaeGenus: Polianthes POWO (2024) Definisi Umum Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa) adalah tanaman hias hijau abadi dari suku Agavaceae yang dikenal karena aromanya yang wangi, kuat, dan mekar pada malam hari. Tanaman berumbi ini populer sebagai bunga potong, bahan parfum/minyak atsiri, dan hiasan. Kandungan Bunga sedap malam mengandung berbagai jenis antioksidan. Di antaranya vitamin C, polifenol, antosianin, karotenoid dan flavonoid. Bunga sedap malam juga mengandung sedikit gula, sehingga aman bagi pengidap diabetes. Khasiat Berbagai macam kandungan tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan tubuh. Manfaatnya yakni mengobati bisul di kulit, mencegah anemia, meningkatkan fungsi jaringan tubuh serta mengusir radikal bebas. Cara Pengolahan – Ambil bunga (bisa ditambah akar), lalu cuci hingga bersih. – Rebus atau tumbuk sesuai kebutuhan: untuk diminum direbus dan disaring, sedangkan untuk pemakaian luar ditumbuk hingga halus. – Gunakan secara rutin, baik diminum (untuk kesehatan tubuh) atau ditempel (untuk masalah kulit). Daftar Pustaka Health Benefit Times. 2022. Know the Essence of Tuberose. (diakses 2022). International Plant Names Index. 2024. International Plant Names Index (IPNI). Tersedia pada: http://www.ipni.org(diakses 2024). Organic Facts. 2022. 8 Amazing Benefits of Tuberose. (diakses 2026). Royal Botanic Gardens, Kew. 2024. Plants of the World Online. Tersedia pada: https://powo.science.kew.org/(diakses 2024). United States Department of Agriculture – NRCS. 2024. Plant Profile. Tersedia pada: https://plants.usda.gov/(diakses 2024). Wijayanti, S., Kurnia, T. I. D., Ardiyansyah, F., As’ari, H., & Malis, E. 2024. Respon Morfologis dan Fisiologis Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) dengan Paparan Retardant. Jurnal Biosense, 7(1): 94–103

Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) Read More »

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.)

Nama Latin Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb. Taksonomi Kingdom : PlantaeSubkingdom : TracheobiontaDivisi : MagnoliophytaKelas : LiliopsidaOrdo : AsparagalesFamili : AsparagaceaeSubfamili : NolinoideaeGenus : Dracaena Definisi Umum Tanaman suji (Dracaena angustifolia) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami hijau pada makanan tradisional karena kandungan klorofilnya yang tinggi. Selain itu, suji juga digunakan sebagai tanaman obat tradisional karena memiliki berbagai senyawa bioaktif. Dalam sistem klasifikasi modern seperti APG III, tanaman ini termasuk dalam famili Asparagaceae. Kandungan Daun suji mengandung beberapa senyawa aktif, antara lain: Klorofil → sebagai pewarna alami dan antioksidanFlavonoid → berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasiSaponin → berperan dalam meningkatkan sistem imunTanin → memiliki efek antiseptik dan astringen Khasiat Tanaman suji memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional, di antaranya: Membantu sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebasMeredakan peradangan ringanMembantu menurunkan demamMelancarkan sistem pencernaanMembantu meredakan batuk dan iritasi tenggorokanMempercepat penyembuhan luka ringanDigunakan sebagai pewarna makanan alami yang aman Cara Pengolahan 1. Rebusan (Dekok) Digunakan untuk demam dan gangguan pencernaan. Langkah: Ambil 10–15 gram daun suji segarCuci hingga bersihRebus dengan 2 gelas airDidihkan selama ±15 menitSaring dan minum selagi hangat Aturan pakai:1–2 kali sehari 2. Perasan Daun (Pewarna alami & kesehatan) Digunakan sebagai pewarna makanan sekaligus menjaga kesehatan. Langkah: Ambil beberapa lembar daun sujiHaluskan dengan sedikit airSaring untuk diambil airnyaGunakan sebagai campuran makanan atau diminum 3. Campuran Ramuan Herbal Untuk meningkatkan manfaat kesehatan. Contoh: Daun suji + jahe → membantu menghangatkan tubuhDaun suji + madu → meredakan batukDaun suji + kunyit → membantu antiinflamasi 4. Penggunaan Luar (Topikal) Untuk luka ringan atau iritasi kulit. Langkah: Haluskan daun suji segarTempelkan pada bagian lukaBalut dengan kain bersih Daftar Pustaka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2019. Pedoman Penggunaan Obat Tradisional. Jakarta: BPOM RI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2020. Informasi Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: LIPI Press. World Health Organization, 2007. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants. Geneva: WHO Press. Journal of Ethnopharmacology, n.d. Studi terkait tanaman herbal tropis.Wikipedia, n.d. Daun suji. Tersedia pada: https://id.wikipedia.org/wiki/Daun_suji

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) Read More »

Kamboja (Plumeria sp.)

Nama Latin Plumeria sp. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae)Ordo : GentianalesFamili : ApocynaceaeGenus : Plumeria (Adrian ,2008) Definisi Umum Kamboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria yang umumnya berupa pohon kecil atau semak, berbatang sukulen (berair), dan memiliki getah putih. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah namun telah beradaptasi luas di daerah tropis, sering ditanam sebagai tanaman hias, peneduh, atau di area pemakaman. Bunganya harum, terdiri dari lima kelopak dengan warna putih, kuning, merah muda, hingga merah. Kandungan Tanaman kamboja (Plumeria acuminate, W.T.Ait) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (!967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Ait mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996). Khasiat Tanaman kamboja digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai: Cara Pengolahan Daftar Pustaka Center for Collaborative Research on Pharmacy (CCRF) UGM. (2008). Kamboja (Plumeria acuminata). Dalimartha, S., dr., 1999, Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, hal 62-63, Penebar Swadata, Jakarta. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. (2021). Klasifikasi dan Manfaat Tanaman Kamboja. Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (2025). Bunga Kamboja (Plumeria sp.). Jurnal Ilmiah Stigma (Unipasby). (n.d.). Pengaruh Ekstrak Etil Asetat Getah Kamboja (Plumeria sp.). Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), Departemen Kesehatan RI, Jakarta, page 452-453 Tampubolon, A.S., 1967, Obat Asli Indonesia, 214-215, Dian Rakjat, Jakarta

Kamboja (Plumeria sp.) Read More »

KELAPA (Cocos nucifera)

Nama Latin Cocos nucifera Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta  Kelas; Liliopsida Sub Kelas: Arecidae Ordo; Palmales Famili: Palmae Genus: Cocos   Spesies: Cocos nucifera L Rukmana dan Yudirachman (2016)  Definisi Umum Kelapa (Cocos nucifera ) merupakan tanaman perkebunan dari famili Arecaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dikenal sebagai “tree of life” karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Kandungan Buah kelapa mengandung berbagai zat gizi dan senyawa penting, antara lain: Khasiat   Kelapa memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari, antara lain: Cara Pengolahan Cara Pengolahan kelapa dapat di jadikan santan dan kelapa parut dengan cara yaitu daging kelapa dan diperas untuk menghasilkan santan sebagai bahan pangan, lalu dapat dijadikan minyak kelapa melalui proses fermentasi atau pemanasan untuk menghasilkan minyak kelapa murni. Selain itu, dapat dikonsumsi langsung sebagai minuman segar atau diolah menjadi produk minuman.  Daftar Pustaka Salsabila, A et al. 2022. Nilai Manfaat Ekonomi Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.) di Pasar Tradisional Kemiri Muka di Kota Depok, Jawa Barat. Prosiding SEMNAS BIO 2022 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses dari: https://share.google/1tAvMdRcKuuftD6VX  Fauzana, N., et al. (2021). Kajian etnobotani kelapa (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/semnasfarmasi22/article/view/48536 Universitas Udayana. (2013). Eksplorasi aktivitas farmakologi kelapa muda (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/wsnf/article/view/1214

KELAPA (Cocos nucifera) Read More »

BINTARO (Cerbera manghas/odollam)

Nama Latin Cerbera manghas/odollam Taksonomi Kingdom  : Plantae  Sub kingdom  : Tracheobionta  Super devisi  : Spermatophyta  Divisi   : Magnoliophyta  Kelas   : Magnoliopsida  sub kelas  : Asteridae  Ordo   : Gentianales  Famili : Apocynaceae   Genus  : Cerbera  Spesies  : Cerbera manghas Boiteau, Pierre L.                                                                        (Zailani; 2015)  Definisi Umum Tanaman bintaro (Cerbera odollam) merupakan tumbuhan dari famili Apocynaceae yang dikenal sebagai tanaman pantai dan memiliki kandungan senyawa toksik seperti cerberin. Secara umum, bintaro dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang bersifat racun bagi organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan penelitian, ekstrak daun bintaro memiliki sifat antifedan (penolak makan) dan racun perut yang efektif dalam mengendalikan hama, khususnya ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata), dengan tingkat mortalitas tinggi serta mampu menghambat perkembangan larva menjadi pupa dan imago, sehingga berpotensi besar sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dibanding pestisida kimia sintetis. Kandungan Daun bintaro (Cerbera odollam) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, fenol, serta racun cerberin yang bersifat toksik dan berfungsi sebagai penolak makan serta penghambat pertumbuhan hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Khasiat Cara Pengolahan Cara pengolahan daun bintaro (Cerbera odollam) sebagai pestisida nabati cukup sederhana, yaitu daun segar ditumbuk halus lalu direndam dalam pelarut (misalnya air atau aseton) selama ±48 jam, kemudian disaring untuk diambil ekstraknya. Hasil ekstrak dapat dipanaskan hingga menjadi lebih kental, lalu sebelum digunakan dicampur air dan bahan perekat (seperti tween) agar mudah menempel pada daun tanaman. Larutan ini selanjutnya diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman yang terserang hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Daftar Pusstaka Asikin, S., & Akhsan, N. (2020). Efektivitas Ekstrak Daun Tumbuhan Bintaro (Cerbera odollam), Bayam Jepang (Amaranthus viridis) dan Paku Perak (Niprolepis hirsutula) Terhadap Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavartata). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 2(2), 111–117. Utami, S., Syaufina, L., & Haneda, N. F. (2010). Daya racun ekstrak kasar daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap larva Spodoptera litura. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 15(2), 96–100. Rohimatun, S., & Sondang. (2011). Bintaro (Cerbera manghas) sebagai pestisida nabati. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 17(1), 1–6. 

BINTARO (Cerbera manghas/odollam) Read More »

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

PISANG (Mussa Paradisiaca)

Nama Latin Mussa Paradisiaca Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophta Class: Liliopsida Famili: Musaceae  Genus: Musa  Spesies: Musa paradisiacal L.  (Devi Mayawi et al, 2024) Definisi umum Tanaman pisang (Musa paradisiaca) merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki batang semu, daun lebar, serta menghasilkan buah yang kaya akan nutrisi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, hampir seluruh bagian tanaman pisang seperti buah, daun, batang, dan bonggol dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan makanan, obat tradisional, maupun bahan industri. Kandungan Tanaman pisang mengandung berbagai senyawa penting, terutama pada buah dan bagian lainnya. Kandungan utama meliputi karbohidrat (termasuk pati dan pati resisten), serat pangan, serta senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Kandungan pati resisten pada pisang diketahui berperan penting dalam kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa fitokimia tersebut berkontribusi terhadap aktivitas biologis tanaman.  Khasiat Tanaman pisang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan serat dan pati resisten membantu menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan. Selain itu, beberapa bagian tanaman pisang juga memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, penyembuhan luka, dan berpotensi sebagai antidiabetes. Pemanfaatan ini menjadikan tanaman pisang tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai tanaman obat tradisional. Khasiat Tunas : mengobati kanker perut , pendarahan usus besar, Khasiat Batang : mencegah pendarahaan sehabis , melahirkan , merapatkan vagina, dan Khasiat Buah : mengobati sakit kuning , ambeien. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pisang dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, buah pisang dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai produk makanan seperti pisang rebus, goreng, atau olahan lainnya. Daun pisang sering digunakan sebagai pembungkus makanan, sedangkan bagian batang dan bonggol dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional atau pakan ternak. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman pisang dapat diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif menggunakan metode seperti maserasi dengan pelarut tertentu, kemudian digunakan dalam produk pangan, farmasi, maupun kosmetik.  Daftar Pustaka Musita, N. (2012). Kajian kandungan dan karakteristik pati resisten dari berbagai varietas pisang. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/view/55 Wenas, D. M. (2020). Kajian ulasan aktivitas farmakologi dari limbah pisang ambon dan pisang kepok. Sainstech Farma.https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/801 Ekayanti, N. L. F., et al. (2023). Pemanfaatan tanaman pisang sebagai sediaan kosmetik. Usadha Journal.https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/6217 Ulmillah, A., et al. (2024). Pemanfaatan tanaman pisang dalam bidang pangan dan budaya. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan.https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/mipa/article/view/7915 Andriansyah. (2024). Potensi kandungan batang pisang sebagai antidiabetik. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716

PISANG (Mussa Paradisiaca) Read More »

Scroll to Top