May 2026

Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.)

Nama Latin Polianthes tuberosa L. Taksonomi Kingdom: PlantaeSubkingdom: TracheobiontaDivisi: MagnoliophytaKelas: LiliopsidaOrdo: AsparagalesFamili: AsparagaceaeSubfamili: AgavoideaeGenus: Polianthes POWO (2024) Definisi Umum Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa) adalah tanaman hias hijau abadi dari suku Agavaceae yang dikenal karena aromanya yang wangi, kuat, dan mekar pada malam hari. Tanaman berumbi ini populer sebagai bunga potong, bahan parfum/minyak atsiri, dan hiasan. Kandungan Bunga sedap malam mengandung berbagai jenis antioksidan. Di antaranya vitamin C, polifenol, antosianin, karotenoid dan flavonoid. Bunga sedap malam juga mengandung sedikit gula, sehingga aman bagi pengidap diabetes. Khasiat Berbagai macam kandungan tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan tubuh. Manfaatnya yakni mengobati bisul di kulit, mencegah anemia, meningkatkan fungsi jaringan tubuh serta mengusir radikal bebas. Cara Pengolahan – Ambil bunga (bisa ditambah akar), lalu cuci hingga bersih. – Rebus atau tumbuk sesuai kebutuhan: untuk diminum direbus dan disaring, sedangkan untuk pemakaian luar ditumbuk hingga halus. – Gunakan secara rutin, baik diminum (untuk kesehatan tubuh) atau ditempel (untuk masalah kulit). Daftar Pustaka Health Benefit Times. 2022. Know the Essence of Tuberose. (diakses 2022). International Plant Names Index. 2024. International Plant Names Index (IPNI). Tersedia pada: http://www.ipni.org(diakses 2024). Organic Facts. 2022. 8 Amazing Benefits of Tuberose. (diakses 2026). Royal Botanic Gardens, Kew. 2024. Plants of the World Online. Tersedia pada: https://powo.science.kew.org/(diakses 2024). United States Department of Agriculture – NRCS. 2024. Plant Profile. Tersedia pada: https://plants.usda.gov/(diakses 2024). Wijayanti, S., Kurnia, T. I. D., Ardiyansyah, F., As’ari, H., & Malis, E. 2024. Respon Morfologis dan Fisiologis Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) dengan Paparan Retardant. Jurnal Biosense, 7(1): 94–103

Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) Read More »

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.)

Nama Latin Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb. Taksonomi Kingdom : PlantaeSubkingdom : TracheobiontaDivisi : MagnoliophytaKelas : LiliopsidaOrdo : AsparagalesFamili : AsparagaceaeSubfamili : NolinoideaeGenus : Dracaena Definisi Umum Tanaman suji (Dracaena angustifolia) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami hijau pada makanan tradisional karena kandungan klorofilnya yang tinggi. Selain itu, suji juga digunakan sebagai tanaman obat tradisional karena memiliki berbagai senyawa bioaktif. Dalam sistem klasifikasi modern seperti APG III, tanaman ini termasuk dalam famili Asparagaceae. Kandungan Daun suji mengandung beberapa senyawa aktif, antara lain: Klorofil → sebagai pewarna alami dan antioksidanFlavonoid → berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasiSaponin → berperan dalam meningkatkan sistem imunTanin → memiliki efek antiseptik dan astringen Khasiat Tanaman suji memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional, di antaranya: Membantu sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebasMeredakan peradangan ringanMembantu menurunkan demamMelancarkan sistem pencernaanMembantu meredakan batuk dan iritasi tenggorokanMempercepat penyembuhan luka ringanDigunakan sebagai pewarna makanan alami yang aman Cara Pengolahan 1. Rebusan (Dekok) Digunakan untuk demam dan gangguan pencernaan. Langkah: Ambil 10–15 gram daun suji segarCuci hingga bersihRebus dengan 2 gelas airDidihkan selama ±15 menitSaring dan minum selagi hangat Aturan pakai:1–2 kali sehari 2. Perasan Daun (Pewarna alami & kesehatan) Digunakan sebagai pewarna makanan sekaligus menjaga kesehatan. Langkah: Ambil beberapa lembar daun sujiHaluskan dengan sedikit airSaring untuk diambil airnyaGunakan sebagai campuran makanan atau diminum 3. Campuran Ramuan Herbal Untuk meningkatkan manfaat kesehatan. Contoh: Daun suji + jahe → membantu menghangatkan tubuhDaun suji + madu → meredakan batukDaun suji + kunyit → membantu antiinflamasi 4. Penggunaan Luar (Topikal) Untuk luka ringan atau iritasi kulit. Langkah: Haluskan daun suji segarTempelkan pada bagian lukaBalut dengan kain bersih Daftar Pustaka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2019. Pedoman Penggunaan Obat Tradisional. Jakarta: BPOM RI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2020. Informasi Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: LIPI Press. World Health Organization, 2007. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants. Geneva: WHO Press. Journal of Ethnopharmacology, n.d. Studi terkait tanaman herbal tropis.Wikipedia, n.d. Daun suji. Tersedia pada: https://id.wikipedia.org/wiki/Daun_suji

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) Read More »

Kamboja (Plumeria sp.)

Nama Latin Plumeria sp. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae)Ordo : GentianalesFamili : ApocynaceaeGenus : Plumeria (Adrian ,2008) Definisi Umum Kamboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria yang umumnya berupa pohon kecil atau semak, berbatang sukulen (berair), dan memiliki getah putih. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah namun telah beradaptasi luas di daerah tropis, sering ditanam sebagai tanaman hias, peneduh, atau di area pemakaman. Bunganya harum, terdiri dari lima kelopak dengan warna putih, kuning, merah muda, hingga merah. Kandungan Tanaman kamboja (Plumeria acuminate, W.T.Ait) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (!967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Ait mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996). Khasiat Tanaman kamboja digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai: Cara Pengolahan Daftar Pustaka Center for Collaborative Research on Pharmacy (CCRF) UGM. (2008). Kamboja (Plumeria acuminata). Dalimartha, S., dr., 1999, Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, hal 62-63, Penebar Swadata, Jakarta. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. (2021). Klasifikasi dan Manfaat Tanaman Kamboja. Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (2025). Bunga Kamboja (Plumeria sp.). Jurnal Ilmiah Stigma (Unipasby). (n.d.). Pengaruh Ekstrak Etil Asetat Getah Kamboja (Plumeria sp.). Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), Departemen Kesehatan RI, Jakarta, page 452-453 Tampubolon, A.S., 1967, Obat Asli Indonesia, 214-215, Dian Rakjat, Jakarta

Kamboja (Plumeria sp.) Read More »

KELAPA (Cocos nucifera)

Nama Latin Cocos nucifera Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta  Kelas; Liliopsida Sub Kelas: Arecidae Ordo; Palmales Famili: Palmae Genus: Cocos   Spesies: Cocos nucifera L Rukmana dan Yudirachman (2016)  Definisi Umum Kelapa (Cocos nucifera ) merupakan tanaman perkebunan dari famili Arecaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dikenal sebagai “tree of life” karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Kandungan Buah kelapa mengandung berbagai zat gizi dan senyawa penting, antara lain: Khasiat   Kelapa memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari, antara lain: Cara Pengolahan Cara Pengolahan kelapa dapat di jadikan santan dan kelapa parut dengan cara yaitu daging kelapa dan diperas untuk menghasilkan santan sebagai bahan pangan, lalu dapat dijadikan minyak kelapa melalui proses fermentasi atau pemanasan untuk menghasilkan minyak kelapa murni. Selain itu, dapat dikonsumsi langsung sebagai minuman segar atau diolah menjadi produk minuman.  Daftar Pustaka Salsabila, A et al. 2022. Nilai Manfaat Ekonomi Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.) di Pasar Tradisional Kemiri Muka di Kota Depok, Jawa Barat. Prosiding SEMNAS BIO 2022 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses dari: https://share.google/1tAvMdRcKuuftD6VX  Fauzana, N., et al. (2021). Kajian etnobotani kelapa (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/semnasfarmasi22/article/view/48536 Universitas Udayana. (2013). Eksplorasi aktivitas farmakologi kelapa muda (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/wsnf/article/view/1214

KELAPA (Cocos nucifera) Read More »

BINTARO (Cerbera manghas/odollam)

Nama Latin Cerbera manghas/odollam Taksonomi Kingdom  : Plantae  Sub kingdom  : Tracheobionta  Super devisi  : Spermatophyta  Divisi   : Magnoliophyta  Kelas   : Magnoliopsida  sub kelas  : Asteridae  Ordo   : Gentianales  Famili : Apocynaceae   Genus  : Cerbera  Spesies  : Cerbera manghas Boiteau, Pierre L.                                                                        (Zailani; 2015)  Definisi Umum Tanaman bintaro (Cerbera odollam) merupakan tumbuhan dari famili Apocynaceae yang dikenal sebagai tanaman pantai dan memiliki kandungan senyawa toksik seperti cerberin. Secara umum, bintaro dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang bersifat racun bagi organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan penelitian, ekstrak daun bintaro memiliki sifat antifedan (penolak makan) dan racun perut yang efektif dalam mengendalikan hama, khususnya ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata), dengan tingkat mortalitas tinggi serta mampu menghambat perkembangan larva menjadi pupa dan imago, sehingga berpotensi besar sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dibanding pestisida kimia sintetis. Kandungan Daun bintaro (Cerbera odollam) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, fenol, serta racun cerberin yang bersifat toksik dan berfungsi sebagai penolak makan serta penghambat pertumbuhan hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Khasiat Cara Pengolahan Cara pengolahan daun bintaro (Cerbera odollam) sebagai pestisida nabati cukup sederhana, yaitu daun segar ditumbuk halus lalu direndam dalam pelarut (misalnya air atau aseton) selama ±48 jam, kemudian disaring untuk diambil ekstraknya. Hasil ekstrak dapat dipanaskan hingga menjadi lebih kental, lalu sebelum digunakan dicampur air dan bahan perekat (seperti tween) agar mudah menempel pada daun tanaman. Larutan ini selanjutnya diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman yang terserang hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Daftar Pusstaka Asikin, S., & Akhsan, N. (2020). Efektivitas Ekstrak Daun Tumbuhan Bintaro (Cerbera odollam), Bayam Jepang (Amaranthus viridis) dan Paku Perak (Niprolepis hirsutula) Terhadap Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavartata). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 2(2), 111–117. Utami, S., Syaufina, L., & Haneda, N. F. (2010). Daya racun ekstrak kasar daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap larva Spodoptera litura. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 15(2), 96–100. Rohimatun, S., & Sondang. (2011). Bintaro (Cerbera manghas) sebagai pestisida nabati. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 17(1), 1–6. 

BINTARO (Cerbera manghas/odollam) Read More »

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

PISANG (Mussa Paradisiaca)

Nama Latin Mussa Paradisiaca Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophta Class: Liliopsida Famili: Musaceae  Genus: Musa  Spesies: Musa paradisiacal L.  (Devi Mayawi et al, 2024) Definisi umum Tanaman pisang (Musa paradisiaca) merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki batang semu, daun lebar, serta menghasilkan buah yang kaya akan nutrisi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, hampir seluruh bagian tanaman pisang seperti buah, daun, batang, dan bonggol dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan makanan, obat tradisional, maupun bahan industri. Kandungan Tanaman pisang mengandung berbagai senyawa penting, terutama pada buah dan bagian lainnya. Kandungan utama meliputi karbohidrat (termasuk pati dan pati resisten), serat pangan, serta senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Kandungan pati resisten pada pisang diketahui berperan penting dalam kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa fitokimia tersebut berkontribusi terhadap aktivitas biologis tanaman.  Khasiat Tanaman pisang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan serat dan pati resisten membantu menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan. Selain itu, beberapa bagian tanaman pisang juga memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, penyembuhan luka, dan berpotensi sebagai antidiabetes. Pemanfaatan ini menjadikan tanaman pisang tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai tanaman obat tradisional. Khasiat Tunas : mengobati kanker perut , pendarahan usus besar, Khasiat Batang : mencegah pendarahaan sehabis , melahirkan , merapatkan vagina, dan Khasiat Buah : mengobati sakit kuning , ambeien. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pisang dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, buah pisang dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai produk makanan seperti pisang rebus, goreng, atau olahan lainnya. Daun pisang sering digunakan sebagai pembungkus makanan, sedangkan bagian batang dan bonggol dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional atau pakan ternak. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman pisang dapat diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif menggunakan metode seperti maserasi dengan pelarut tertentu, kemudian digunakan dalam produk pangan, farmasi, maupun kosmetik.  Daftar Pustaka Musita, N. (2012). Kajian kandungan dan karakteristik pati resisten dari berbagai varietas pisang. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/view/55 Wenas, D. M. (2020). Kajian ulasan aktivitas farmakologi dari limbah pisang ambon dan pisang kepok. Sainstech Farma.https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/801 Ekayanti, N. L. F., et al. (2023). Pemanfaatan tanaman pisang sebagai sediaan kosmetik. Usadha Journal.https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/6217 Ulmillah, A., et al. (2024). Pemanfaatan tanaman pisang dalam bidang pangan dan budaya. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan.https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/mipa/article/view/7915 Andriansyah. (2024). Potensi kandungan batang pisang sebagai antidiabetik. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716

PISANG (Mussa Paradisiaca) Read More »

JATI (Tectona grandis)

Nama Latin Tectona grandis Taksonomi Divisi : Spermatophyta  Kelas : Angiospermae  Sub Kelas : Dicotyledoneae  Ordo : Verbenaceae  Famili : Verbenaceae  Genus : Tectona  Spesies : Tectona grandis Linn. f  Sumarna (2011)  Definisi Umum Tanaman jati (Tectona grandis) merupakan tanaman berkayu keras yang banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi yang tahan terhadap hama dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan furniture, tanaman jati juga memiliki potensi sebagai tanaman obat karena bagian daun, kulit, dan akar mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan Tanaman jati mengandung berbagai senyawa kimia aktif, terutama pada bagian daun. Kandungan tersebut meliputi senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, asam kafeat, dan asam salisilat yang berperan sebagai antioksidan. Selain itu, daun jati juga mengandung flavonoid, tanin, antosianin, alkaloid, steroid, serta glikosida yang termasuk dalam golongan metabolit sekunder. Kandungan antosianin pada daun jati juga memberikan warna merah alami yang sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Khasiat Tanaman jati memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun ilmiah. Daun jati diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, dan antijamur yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti luka, radang, hipertensi, diabetes, serta gangguan pencernaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak jati memiliki aktivitas farmakologis seperti analgesik, antipiretik, dan penyembuhan luka.  Cara Pengolahan Pengolahan tanaman jati umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengambilan bagian tanaman seperti daun, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air, kemudian bahan dikeringkan digiling menjadi simplisia. Untuk mendapatkan senyawa aktif, dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol dengan metode maserasi atau sokletasi. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang siap digunakan untuk penelitian atau formulasi produk. Selain itu, secara tradisional daun jati juga dapat direbus untuk digunakan sebagai obat herbal atau dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Daftar Pustaka Astiti, N. P. A. (2017). Analisis kandungan fenolik ekstrak daun jati (Tectona grandis L.) dengan waktu dekomposisi yang berbeda. Metamorfosa: Journal of Biological Sciences.https://ojs.unud.ac.id/index.php/metamorfosa/article/view/29886 Diningrat, D. S., & Sipayung, G. A. (2024). Profil senyawa bioaktif dan potensi antimikroba ekstrak tanaman jati. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi. https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/biocons/article/view/2120 Basuki, D. R., et al. (2025). Penetapan kadar tanin ekstrak daun jati. Jurnal Pharma Bhakta. https://www.jurnalpharmabhakta.iik.ac.id/index.php/jpb/article/view/136 Rani, Y. D. (2023). Formulasi ekstrak daun jati sebagai pewarna alami. Jurnal Farmasi Medistra.https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JFM/article/view/1319 Fauzi, M. A., et al. (2020). Variasi morfologi tanaman jati di Asia Tenggara. Biota.https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2946

JATI (Tectona grandis) Read More »

Brojo Lintang

Nama latin Belamcanda chinensis (L.) DC Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Belamcanda Spesies : Belamcanda chinensis (L.) DC. (Syahrin, 2023)\ Definisi Umum Brojo lintang berasal dari Asia Timur, menyebar di daerah Jepang, India, dan Indo-China, dan Amerika Utara. Brojo lintang sering dijadikan tanaman hias pada pekarangan rumah. Namun tanaman ini ternyata memiliki beberapa khasiat dan berguna untuk kesehatan. Telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati gangguan paru-paru dan hati, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan. Jamaka, Sulinga (Sunda), Semprit, Wordi (Jawa), Karimenga kulo, Katna, Ketep, Ketew, Kiris (Minahasa).  Semak, herba, tinggi 0,6-1,0m. Daun berumput, seperti tali, tersusun kipas pipih pada batang pendek tegak. Bunganya berwarna kuning jingga bertitik merah, menggulung rapat setelah diserbuki. Buah polong kering, matang dari hijau menjadi coklat, dibelah hingga terlihat kelompok biji. Biji berwarna hitam, beracun jika tertelan. Ideal sebagai tanaman penutup tanah yang berbunga bebas dan mencolok di perbatasan bunga dengan tanah lembab dan memiliki drainase yang baik. Mampu mekar di tempat teduh parsial. Rimpang berwarna coklat pucat. Perbanyak dengan pembagian bola akar atau biji.  Kandungan Flavonoid, terpenoid, quinones, senyawa fenolik, ketones, glikosida skekanin, belamkandin, dan iridin. Khasiat Antiinflamasi, antipiretik, ekspektoran, sakit perut dan purgatif, mengobati asma, bau mulut, batuk, masalah pencernaan, radang amandel, penurun panas, mencegah kerusakan hati. Daun untuk mengobati sembelit, sakit pinggang, sakit tenggorokan, asma, batuk dan penyakit kulit. Akar untuk mengobati radang amandel, pembengkakan limfah/hati dan demam nifas. Bunga dan daun untuk menurunkan demam. Cara Pengolahan Hepatitis Penurun demam Daftar Pustaka CABI. (2020). Invasive Species Compendium. Iris domestica(blackberry lily). https://www.cabi.org/isc/datasheet/62815878. 21-10-2020. Fern, Ken. (2014). Useful Tropical Plants. Iris domestica. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Bixa+orellana. 21-10-2020. Stuart Xchange. (2015). Philippine Medicinal Plants. Abaniko. http://www.stuartxchange.com/Abaniko.html. 21-10-2020.

Brojo Lintang Read More »

BLIGO (Benincasa hispida)

Nama Latin Benincasa hispida Taksonomi Kingdom : Plantae – Plants Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants Superdivision : Spermatophyta – Seed plants Division : Magnoliopsida – Flowering plants Class : Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass : Dillenidae Order : Violales Family : Cucurbitaceae – Cucumber family Genus : Benincasa Savi – benincasa Species : Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd                    (USDA, 2009 dalam Zaini et al., 2011; Lim, 2012) Definisi Umum Tanaman bligo (Benincasa hispida) merupakan salah satu tanaman dari famili Cucurbitaceae yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, serta dikenal dengan berbagai nama seperti kundur atau labu lilin. Buahnya berukuran besar dengan ciri khas kulit yang pada saat matang dilapisi serbuk putih menyerupai lilin, sehingga sering disebut wax gourd. Meskipun rasanya tidak manis, bligo memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, dan mineral yang memberikan berbagai manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, serta antimikroba. Selain bagian daging buah, kulit bligo juga berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pengolahan pangan (Hakiki et al., 2021). Kandungan Bligo (Benincasa hispida) mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, mineral, dan asam uronat. Selain itu, juga terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, dan beta-sitosterol. Pada bagian kulitnya, teridentifikasi sekitar 36 senyawa, dengan senyawa dominan antara lain adenosin, polidatin, morasin C, dan kushenol S yang termasuk golongan fenolik dan flavonoid berpotensi sebagai antioksidan (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Khasiat Cara Pengolahan Daftar Pustaka Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Aktivitas Antioksidan dan Screening Fitokimia Kulit Bligo (Benincasa hispida). ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9. BLIGO (Benincasa hispida) Latin Name Benincasa hispida Taxonomy Kingdom: Plantae – Plants Subkingdom: Tracheobionta – Vascular plants Superdivision: Spermatophyta – Seed plants Division: Magnoliopsida – Flowering plants Class: Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass: Dillenidae Order: Violales Family: Cucurbitaceae – Cucumber family Genus: Benincasa Savi – benincasa Species: Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd (USDA, 2009 in Zaini et al., 2011; Lim, 2012) General Definition The bligo plant (Benincasa hispida) is a member of the Cucurbitaceae family that thrives in tropical and subtropical regions and is known by various names, such as kundur or wax gourd. Its fruit is large, characterized by a skin that, when ripe, is coated with a white powder resembling wax, hence the common name wax gourd. Although it is not sweet, bligo contains active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, and minerals that offer various benefits, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, and antimicrobial properties. In addition to the fruit flesh, the bligo skin also has the potential to contain bioactive compounds that can be further utilized in the fields of health and food processing (Hakiki et al., 2021). Composition Bligo (Benincasa hispida) contains various active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, minerals, and uronic acids. In addition, it also contains secondary metabolites such as alkaloids, saponins, and beta-sitosterol. In the bark, approximately 36 compounds have been identified, with the dominant compounds including adenosine, polydatin, morasin C, and kushenol S, which belong to the phenolic and flavonoid groups and have potential as antioxidants (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Benefits Antioxidant (neutralizes free radicals) Anti-inflammatory (reduces inflammation) Antidiabetic (helps control blood sugar) Antimicrobial (inhibits the growth of microorganisms) Diuretic (promotes urine production) Helps with digestive disorders such as diarrhea and stomach ulcers Preparation Methods Fresh fruit: Peel, wash, then process into juice, soup, or boil for immediate consumption. Bligo juice: Blend the fruit pulp with water; honey may be added to improve the taste. Raw materials (peel/flesh): dried (approx. 5 days), then ground into powder for use as an extract or in herbal mixtures. Extract: Bligo powder is soaked or heated with a solvent such as ethanol, then filtered to obtain the extract. References Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Antioxidant Activity and Phytochemical Screening of Bligo (Benincasa hispida) Peel. ALCHEMY Journal of Chemical Research, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9.

BLIGO (Benincasa hispida) Read More »

Scroll to Top