May 2026

BINTARO (Cerbera manghas/odollam)

Nama Latin Cerbera manghas/odollam Taksonomi Kingdom  : Plantae  Sub kingdom  : Tracheobionta  Super devisi  : Spermatophyta  Divisi   : Magnoliophyta  Kelas   : Magnoliopsida  sub kelas  : Asteridae  Ordo   : Gentianales  Famili : Apocynaceae   Genus  : Cerbera  Spesies  : Cerbera manghas Boiteau, Pierre L.                                                                        (Zailani; 2015)  Definisi Umum Tanaman bintaro (Cerbera odollam) merupakan tumbuhan dari famili Apocynaceae yang dikenal sebagai tanaman pantai dan memiliki kandungan senyawa toksik seperti cerberin. Secara umum, bintaro dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang bersifat racun bagi organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan penelitian, ekstrak daun bintaro memiliki sifat antifedan (penolak makan) dan racun perut yang efektif dalam mengendalikan hama, khususnya ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata), dengan tingkat mortalitas tinggi serta mampu menghambat perkembangan larva menjadi pupa dan imago, sehingga berpotensi besar sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dibanding pestisida kimia sintetis. Kandungan Daun bintaro (Cerbera odollam) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, fenol, serta racun cerberin yang bersifat toksik dan berfungsi sebagai penolak makan serta penghambat pertumbuhan hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Khasiat Cara Pengolahan Cara pengolahan daun bintaro (Cerbera odollam) sebagai pestisida nabati cukup sederhana, yaitu daun segar ditumbuk halus lalu direndam dalam pelarut (misalnya air atau aseton) selama ±48 jam, kemudian disaring untuk diambil ekstraknya. Hasil ekstrak dapat dipanaskan hingga menjadi lebih kental, lalu sebelum digunakan dicampur air dan bahan perekat (seperti tween) agar mudah menempel pada daun tanaman. Larutan ini selanjutnya diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman yang terserang hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Daftar Pusstaka Asikin, S., & Akhsan, N. (2020). Efektivitas Ekstrak Daun Tumbuhan Bintaro (Cerbera odollam), Bayam Jepang (Amaranthus viridis) dan Paku Perak (Niprolepis hirsutula) Terhadap Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavartata). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 2(2), 111–117. Utami, S., Syaufina, L., & Haneda, N. F. (2010). Daya racun ekstrak kasar daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap larva Spodoptera litura. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 15(2), 96–100. Rohimatun, S., & Sondang. (2011). Bintaro (Cerbera manghas) sebagai pestisida nabati. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 17(1), 1–6. 

BINTARO (Cerbera manghas/odollam) Read More »

Cincau

Nama latin (Cyclea barbata L. Miers) Taksonomi Regnum : Plantae  Diviso : Spermatophyta Sub diviso : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Sub Classis : Dialypetalae Ordo : Ranales Familia : Menispermaceae Genus : Cyclea Spesies : Cyclea barbata L. Miers  (Tjitrosoepomo, 2013) Definisi Umum Tanaman ini dikenal dengan nama camcao (Jawa), camcauh (Sunda), juju, kepleng, krotok, tarawalu, tahulu (Melayu). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk tanaman rambat dari famili sirawan-sirawanan (Menispermaceae), sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuh subur di tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,5, di lingkungan yang teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman ini berkembang subur di dataran di bawah ketinggian ± 800 meter di atas permukaan laut. Cara pengembangbiakan tanaman ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akarnya (Permanasari, 2015). Secara umum, cincau hijau merupakan tanaman yang digemari masyarakat untuk kepentingan konsumsi dengan proses pengolahan secara mudah yaitu dengan daunnya yang diremas dan dicampur dengan air matang. Air campuran itu akan berwarna hijau dan setelah disaring dibiarkan mengendap akan menghasilkan lapisan agar-agar berwarna hijau (Nurlela, 2015). Kandungan Secara umum kandungan daun cincau hijau adalah karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015). Farida & Vanoria, (2008) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa daun cincau hijau memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Menurut Islamiah(2021) Daun cincau hijau mengandung flavonoid, yang merupakan antioksidan yang mampu melindungi mukosa lambung. Menyeimbangkan faktor agresif (seperti pepsin dan asam lambung) dengan faktor defensif (seperti bikarbonat, mukus, prostaglandin, resistensi mukosa, dan aliran darah) adalah mekanisme utamanya. Selain itu, daun cincau hijau dapat dimasak atau dikeringkan, dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk membantu mengatasi masalah lambung. Khasiat Daun cincau hijau telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti peradangan, nyeri lambung, demam, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Daun cincau mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menyembuhkan tukak lambung dan mempunyai sifat anti bakteri (Islamiah & Sukohar, 2017). Cara Pengolahan Pembersihan: Cuci bersih daun cincau hijau organik, siram air panas agar layu dan higienis, lalu buang air rendamannya.Ekstraksi: Remas-remas daun dengan air matang atau air hangat secara perlahan hingga air berwarna hijau tua dan terasa kental.Penyaringan: Saring hasil remasan menggunakan kain furing atau saringan rapat agar ampas tidak terbawa.Pembekuan: Diamkan air hasil saringan di suhu ruang selama 3-5 jam atau simpan di kulkas hingga memadat.Penyajian: Sajikan dengan air gula merah, madu, atau susu rendah lemak sebagai opsi lebih sehat Daftar Pustaka Redha, A. (2013). Flavonoid: struktur, sifat antioksidatif dan peranannya dalam sistem biologi. Nurlela, N. (2015). Teknik Budidaya dan Perbanyakan Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Skala Rumah Tangga. Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian , 3(2), 168–174. Farida, R., & Vanoria, V. (2008). Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr). Jurnal Kimia VALENSI , 18(2), 64–69. Sinta, M. (2017). Efek Ekstrak Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar dan Inflamasi pada Hewan Uji. Jurnal Kedokteran Brawijaya , 29(2), 112–118.

Cincau Read More »

PISANG (Mussa spp)

Nama Latin Mussa spp Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophta Class: Liliopsida Famili: Musaceae  Genus: Musa  Spesies: Musa paradisiacal L.  (Devi Mayawi et al, 2024) Definisi umum Tanaman pisang (Musa paradisiaca L.) merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki batang semu, daun lebar, serta menghasilkan buah yang kaya akan nutrisi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, hampir seluruh bagian tanaman pisang seperti buah, daun, batang, dan bonggol dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan makanan, obat tradisional, maupun bahan industri. Kandungan Tanaman pisang mengandung berbagai senyawa penting, terutama pada buah dan bagian lainnya. Kandungan utama meliputi karbohidrat (termasuk pati dan pati resisten), serat pangan, serta senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Kandungan pati resisten pada pisang diketahui berperan penting dalam kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa fitokimia tersebut berkontribusi terhadap aktivitas biologis tanaman. Khasiat Tanaman pisang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan serat dan pati resisten membantu menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan. Selain itu, beberapa bagian tanaman pisang juga memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, penyembuhan luka, dan berpotensi sebagai antidiabetes. Pemanfaatan ini menjadikan tanaman pisang tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai tanaman obat tradisional. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pisang dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, buah pisang dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai produk makanan seperti pisang rebus, goreng, atau olahan lainnya. Daun pisang sering digunakan sebagai pembungkus makanan, sedangkan bagian batang dan bonggol dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional atau pakan ternak. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman pisang dapat diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif menggunakan metode seperti maserasi dengan pelarut tertentu, kemudian digunakan dalam produk pangan, farmasi, maupun kosmetik. Daftar Pustaka Musita, N. (2012). Kajian kandungan dan karakteristik pati resisten dari berbagai varietas pisang. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/view/55 Wenas, D. M. (2020). Kajian ulasan aktivitas farmakologi dari limbah pisang ambon dan pisang kepok. Sainstech Farma.https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/801 Ekayanti, N. L. F., et al. (2023). Pemanfaatan tanaman pisang sebagai sediaan kosmetik. Usadha Journal.https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/6217 Ulmillah, A., et al. (2024). Pemanfaatan tanaman pisang dalam bidang pangan dan budaya. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan.https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/mipa/article/view/7915 Andriansyah. (2024). Potensi kandungan batang pisang sebagai antidiabetik. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716

PISANG (Mussa spp) Read More »

JATI (Tectona grandis Linn.f.)

Nama Latin Tectona grandis Linn.f. Taksonomi Divisi : Spermatophyta  Kelas : Angiospermae  Sub Kelas : Dicotyledoneae  Ordo : Verbenaceae  Famili : Verbenaceae  Genus : Tectona  Spesies : Tectona grandis Linn. f  Sumarna (2011)  Definisi Umum Tanaman jati (Tectona grandis L.f.) merupakan tanaman berkayu keras yang banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi yang tahan terhadap hama dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan furniture, tanaman jati juga memiliki potensi sebagai tanaman obat karena bagian daun, kulit, dan akar mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan Tanaman jati mengandung berbagai senyawa kimia aktif, terutama pada bagian daun. Kandungan tersebut meliputi senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, asam kafeat, dan asam salisilat yang berperan sebagai antioksidan. Selain itu, daun jati juga mengandung flavonoid, tanin, antosianin, alkaloid, steroid, serta glikosida yang termasuk dalam golongan metabolit sekunder. Kandungan antosianin pada daun jati juga memberikan warna merah alami yang sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Khasiat Tanaman jati memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun ilmiah. Daun jati diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, dan antijamur yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti luka, radang, hipertensi, diabetes, serta gangguan pencernaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak jati memiliki aktivitas farmakologis seperti analgesik, antipiretik, dan penyembuhan luka. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman jati umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengambilan bagian tanaman seperti daun, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air, kemudian bahan dikeringkan digiling menjadi simplisia. Untuk mendapatkan senyawa aktif, dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol dengan metode maserasi atau sokletasi. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang siap digunakan untuk penelitian atau formulasi produk. Selain itu, secara tradisional daun jati juga dapat direbus untuk digunakan sebagai obat herbal atau dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Daftar Pustaka Astiti, N. P. A. (2017). Analisis kandungan fenolik ekstrak daun jati (Tectona grandis L.) dengan waktu dekomposisi yang berbeda. Metamorfosa: Journal of Biological Sciences.https://ojs.unud.ac.id/index.php/metamorfosa/article/view/29886 Diningrat, D. S., & Sipayung, G. A. (2024). Profil senyawa bioaktif dan potensi antimikroba ekstrak tanaman jati. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi. https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/biocons/article/view/2120 Basuki, D. R., et al. (2025). Penetapan kadar tanin ekstrak daun jati. Jurnal Pharma Bhakta. https://www.jurnalpharmabhakta.iik.ac.id/index.php/jpb/article/view/136 Rani, Y. D. (2023). Formulasi ekstrak daun jati sebagai pewarna alami. Jurnal Farmasi Medistra.https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JFM/article/view/1319 Fauzi, M. A., et al. (2020). Variasi morfologi tanaman jati di Asia Tenggara. Biota.https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2946

JATI (Tectona grandis Linn.f.) Read More »

Brojo Lintang

Nama latin Belamcanda chinensis (L.) DC Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Belamcanda Spesies : Belamcanda chinensis (L.) DC. (Syahrin, 2023)\ Definisi Umum Brojo lintang berasal dari Asia Timur, menyebar di daerah Jepang, India, dan Indo-China, dan Amerika Utara. Brojo lintang sering dijadikan tanaman hias pada pekarangan rumah. Namun tanaman ini ternyata memiliki beberapa khasiat dan berguna untuk kesehatan. Telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati gangguan paru-paru dan hati, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan. Jamaka, Sulinga (Sunda), Semprit, Wordi (Jawa), Karimenga kulo, Katna, Ketep, Ketew, Kiris (Minahasa).  Semak, herba, tinggi 0,6-1,0m. Daun berumput, seperti tali, tersusun kipas pipih pada batang pendek tegak. Bunganya berwarna kuning jingga bertitik merah, menggulung rapat setelah diserbuki. Buah polong kering, matang dari hijau menjadi coklat, dibelah hingga terlihat kelompok biji. Biji berwarna hitam, beracun jika tertelan. Ideal sebagai tanaman penutup tanah yang berbunga bebas dan mencolok di perbatasan bunga dengan tanah lembab dan memiliki drainase yang baik. Mampu mekar di tempat teduh parsial. Rimpang berwarna coklat pucat. Perbanyak dengan pembagian bola akar atau biji.  Kandungan Flavonoid, terpenoid, quinones, senyawa fenolik, ketones, glikosida skekanin, belamkandin, dan iridin. Khasiat Antiinflamasi, antipiretik, ekspektoran, sakit perut dan purgatif, mengobati asma, bau mulut, batuk, masalah pencernaan, radang amandel, penurun panas, mencegah kerusakan hati. Daun untuk mengobati sembelit, sakit pinggang, sakit tenggorokan, asma, batuk dan penyakit kulit. Akar untuk mengobati radang amandel, pembengkakan limfah/hati dan demam nifas. Bunga dan daun untuk menurunkan demam. Cara Pengolahan Hepatitis Penurun demam Daftar Pustaka CABI. (2020). Invasive Species Compendium. Iris domestica(blackberry lily). https://www.cabi.org/isc/datasheet/62815878. 21-10-2020. Fern, Ken. (2014). Useful Tropical Plants. Iris domestica. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Bixa+orellana. 21-10-2020. Stuart Xchange. (2015). Philippine Medicinal Plants. Abaniko. http://www.stuartxchange.com/Abaniko.html. 21-10-2020.

Brojo Lintang Read More »

BLIGO (Benincasa hispida)

Nama Latin Benincasa hispida Taksonomi Kingdom : Plantae – Plants Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants Superdivision : Spermatophyta – Seed plants Division : Magnoliopsida – Flowering plants Class : Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass : Dillenidae Order : Violales Family : Cucurbitaceae – Cucumber family Genus : Benincasa Savi – benincasa Species : Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. –   waxgourd                    (USDA, 2009 dalam Zaini et al., 2011; Lim, 2012) Definisi Umum Tanaman bligo (Benincasa hispida) merupakan salah satu tanaman dari famili Cucurbitaceae yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, serta dikenal dengan berbagai nama seperti kundur atau labu lilin. Buahnya berukuran besar dengan ciri khas kulit yang pada saat matang dilapisi serbuk putih menyerupai lilin, sehingga sering disebut wax gourd. Meskipun rasanya tidak manis, bligo memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, dan mineral yang memberikan berbagai manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, serta antimikroba. Selain bagian daging buah, kulit bligo juga berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pengolahan pangan (Hakiki et al., 2021). Kandungan Bligo (Benincasa hispida) mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, mineral, dan asam uronat. Selain itu, juga terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, dan beta-sitosterol. Pada bagian kulitnya, teridentifikasi sekitar 36 senyawa, dengan senyawa dominan antara lain adenosin, polidatin, morasin C, dan kushenol S yang termasuk golongan fenolik dan flavonoid berpotensi sebagai antioksidan (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Khasiat Cara Pengolahan Daftar Pustaka Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Aktivitas Antioksidan dan Screening Fitokimia Kulit Bligo (Benincasa hispida). ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9.

BLIGO (Benincasa hispida) Read More »

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.)

Nama Latin Cymbopogon nardus L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Ordo : Graminales Family : Panicodiae Genus :Cymbopogon Spesies : Cymbopogon Nardus L. (Arifin, 2014 dalam Qurniasi. E., 2020) Definisi Umum Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Kebanyakan serai ditanam untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Tanaman serai banyak ditemukan di daerah jawa yaitu pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl. Tanaman serai dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah. Daerah Jawa mengenal serai dengan nama sereh atau sere. Daerah Sumatera dikenal dengan nama serai, sorai atau sanger-sanger. Kalimantan mengenal nama serai dengan nama belangkak, senggalau atau salai. Nusa Tenggara mengenal serai dengan nama see, nau sina atau bu muke. Sulawesi mengenal nama serai dengan nama tonti atau sare sedangkan di Maluku dikenal dengan nama hisa atau isa (Armando, 2010). Kandungan Secara umum kandungan serai terdiri kariofilen bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antitumor, dan dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal bersifat antiseptik dan antimikrobia. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi. Sitronelal dan kandungan mircen. Salah satu kandungan utama dari serai adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkandung di dalam serai sebanyak 0,7%. Khasiat Sitronelal yang terkandung dalam tanaman ini dapat pula digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, serta mengobati peradangan usus. Mircen berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai antispasma. Selain itu, kandungan minyak atsiri dari serai memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki aktivitas antioksidan. Cara Pengolahan penyulingan dengan air (water distillation) ya it u dengan cara bahan kontak langsung dengan air mendid ih. Sist e m penyulinga n ini baik juga digunakan untuk bahan berbentuk tepung dan bunga-bungaan mudah menggumpal jika terkena panas tetapi tidak cocok untuk bahan-bahan yang larut air. Unt uk minyak atsiri akan terdekomposisi pada suhu yang tinggi, penambahan air dapat menurunkan titik didihnya. Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Daftar Pustaka Armando dan Rochim. 2010. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Cetakan I: Penebar Swadaya. Jakarta. Qurniasi E. 2020. Laporan Wawancra Praktikum Budidaya Tanaman Hortikultura Biofarmaka ”Serai Wangi” (Cymbopogon nardus L.). Laporan Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indriasari C., et.al. 2023. Pelatihan Pembuatan Minyak Esensial Sereh (Cymbopogon nardus) menggunakan Teknologi Sederhana. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Read More »

EKOR KUCING (Acalypha hispida Burm.f.)

Nama Latin Acalypha hispida Burm.f. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Acalypha Spesies: Acalypha hispida Burm.f. (Kevin Caesar, 2015) Definisi Umum Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) merupakan tanaman hias sekaligus tanaman herbal dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman ini dikenal dengan ciri khas bunga berbentuk menjuntai menyerupai ekor kucing berwarna merah. Selain sebagai tanaman ornamental, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai senyawa aktif yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini umumnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan kondisi tanah yang subur dan cukup sinar matahari, serta sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu penyembuhan luka, peradangan, dan infeksi. Kandungan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama tanaman ini meliputi senyawa fenolik dan turunannya seperti flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta saponin dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida, steroid, phlobatanin, dan hydroxyanthraquinon yang berkontribusi terhadap efek farmakologis seperti antiinflamasi dan penyembuhan luka. Senyawa khas lainnya seperti acalyphin, minyak atsiri, asam galat, dan corilagin turut mendukung aktivitas antioksidan dan antimikroba pada tanaman ini. Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, tanaman ekor kucing memiliki potensi sebagai bahan alami dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan produk kesehatan (Socfindo Conservation, n.d.). Khasiat 1. Anti-inflamasi (anti peradangan) 2. Mempercepat penyembuhan luka 3. Antibakteri & antimikroba 4. Mengatasi gangguan pencernaan 5. Menghentikan perdarahan 6. Antioksidan 7. Mengurangi nyeri dan pembengkakan Cara Pengolahan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) yang telah melalui proses pengolahan, seperti pengeringan dan ekstraksi, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk herbal. Secara tradisional, daun tanaman ini sering diolah menjadi rebusan untuk diminum sebagai obat herbal guna membantu mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, daun segar juga dapat ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mempercepat penyembuhan luka atau mengatasi infeksi kulit ringan. Dalam pengembangan modern, ekstrak tanaman ekor kucing dapat diformulasikan menjadi produk seperti salep, krim, atau gel sebagai obat topikal, serta berpotensi dikembangkan dalam bentuk suplemen herbal atau produk kesehatan lainnya. Pemanfaatan ini didasarkan pada kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026). Daftar Pustaka STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Ketahui 17 manfaat tanaman ekor kucing ampuh obati luka – E-Jurnal. Diakses dari: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/  Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Tanaman ekor kucing. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_ekor_kucing Bay, W. W., Hermanu, L. S., & Sinansari, R. (2020). Standarisasi simplisia daun ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) dari tiga daerah berbeda. Journal of Pharmacy Science and Practice.Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/161402-ID-none.pdf Socfindo Conservation. (n.d.). Acalypha hispida Burm.f. Diakses dari: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/179

EKOR KUCING (Acalypha hispida Burm.f.) Read More »

Bidara Upas

Nama latin Merremia mammosa Chois Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan)  Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)  Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)  Divisio : Magnoliophyta (berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub-kelas : Asteridae  Ordo : Solanales  Familia : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)  Genus : Merremia  Spesies : Merremia mammosa Chois (Anonim, 2007) Deskripsi umum Decalobanthus mammosus atau Bidara Upas merupakan salah satu tanaman dari keluarga Convolvulaceae yang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari wilayah India, Pulau Andaman, dan Indo-Cina. Di Indonesia bidara upas ini dibudidayakan di Pulau Jawa, Bali, Maluku, dan Madura sebagai tanaman obat dan sumber makanan (bagian umbinya). Spesies ini adalah salah satu spesies langka dan termasuk dalam kriteria langka berdasarkan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003). Di wilayah Indonesia dan Malaysia, spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang secara empiris berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bidara upas juga merupakan bahan herbal yang banyak dijual sebagai jamu gendong dan digunakan dalam industri kecil obat tradisional. Selain itu, bidara upas juga telah digunakan masyarakat sebagai sumber serat, dimana batangnya dapat menghasilkan serat yang sangat halus dan kuat, dengan kilau satin, yang dapat dibuat menjadi kain. Kandungan Zat oxydase (getahnya), flavonoid, kuinon, senyawa fenolik, triterpenoid dan steroid. Khasiat Menurunkan demam, mengobati gangguan pernafasan, pencernaan, luka akibat gigitan ular atau luka bakar, diabetes, batuk, suara serak, difteri, radang tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang usus buntu, tifus, sembelit, buang air besar darah dan lendir, muntah darah, kusta, melanoma, sifilis (lues), batu kantung kemih atau kencing batu, digunakan dalam terapi pengobatan kanker, mengatasi keracunan makanan, menghilangkan bengkak, memperlancar ASi (penggunaan eksternal), bersifat sebagai pencahar dan penyejuk. Memiliki aktivitas sebagai antinflamasi, analgetik (menghilangkan rasa sakit), antidot (menetralkan racun). Cara pengolahan Untuk diabetes,  Daftar pustaka Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Perbanyakan Vegetatif Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) Kebun Raya Bogor. Berita Biologi, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati 16(2), Agustus 2017. Herbal Medicine. 2014. Diabetes mellitus use Merremia mammosa. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. 07-09-2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceeding of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters.

Bidara Upas Read More »

Bunga Pagoda

Nama Latin Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus : Clerodendron  Spesies : Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet  (Kurnianingsih, 2010) Deskripsi umum Bunga pagoda berasal dari China kemudian menyebar ke seluruh dunia. Umumnya ditanam di taman, pinggir jalan, pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Disebut bunga pagoda karena memiliki bentuk bunga yang unik bersusun seperti pagoda. Selain indah dan dijadikan tanaman hias, pagoda juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tanaman daun bunga pagoda umumnya merupakan salah satu tanaman hias yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tanaman ini merupakan tanaman perdu meranggas, tinggi 1-3 m, batangnya dipenuhi rambut halus. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur melebar, pangkal daun berbentuk jantung, daun tua bercangap menjari, panjangnya dapat mencapai 30 cm, bunganya majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk piramida dan keluar dari ujung tangkai, buahnya berbentuk bulat. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan biji. Bunga pagoda ini merupakan tanaman obat yang berkhasiat untuk berbagai macam penyakit pada manusia. Rasa daunnya manis, asam, agak kelat, dan bersifat netral Kandungan Alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, zat samak, saponin, polifenol, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Khasiat Mengobati asam urat, mengobati wasir berdarah, mengobati luka, peluruh air seni, menyembuhkan bengkak, antiradang, menghancurkan darah beku, mengatasi insomnia. Cara pengolahan Untuk penyakit yang proses penyembuhannya menggunakan akar, digunakan sebanyak 30 sampai 90 gram akar lalu digodok atau dijadikan bubuk, lalu diseduh dan diminum. Sedangkan penyakit yang disembuhkan dengan daunnya, pemakaiannya cukup dengan melumatkan beberapa daun segar yang kemudian dibubuhkan pada tempat yang sakit. Dan untuk memanfaatkan bunganya, digunakan bunga yang sudah dikeringkan, talu disajikan dalam bentuk serbuk. Atau bisa dengan merebusnya dan diminum setelah dingin. Untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal- gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan banga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti keputihan Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes

Bunga Pagoda Read More »

Scroll to Top