May 2026

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.)

Nama Latin Cymbopogon nardus L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Ordo : Graminales Family : Panicodiae Genus :Cymbopogon Spesies : Cymbopogon Nardus L. (Arifin, 2014 dalam Qurniasi. E., 2020) Definisi Umum Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Kebanyakan serai ditanam untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Tanaman serai banyak ditemukan di daerah jawa yaitu pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl. Tanaman serai dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah. Daerah Jawa mengenal serai dengan nama sereh atau sere. Daerah Sumatera dikenal dengan nama serai, sorai atau sanger-sanger. Kalimantan mengenal nama serai dengan nama belangkak, senggalau atau salai. Nusa Tenggara mengenal serai dengan nama see, nau sina atau bu muke. Sulawesi mengenal nama serai dengan nama tonti atau sare sedangkan di Maluku dikenal dengan nama hisa atau isa (Armando, 2010). Kandungan Secara umum kandungan serai terdiri kariofilen bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antitumor, dan dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal bersifat antiseptik dan antimikrobia. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi. Sitronelal dan kandungan mircen. Salah satu kandungan utama dari serai adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkandung di dalam serai sebanyak 0,7%. Khasiat Sitronelal yang terkandung dalam tanaman ini dapat pula digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, serta mengobati peradangan usus. Mircen berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai antispasma. Selain itu, kandungan minyak atsiri dari serai memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki aktivitas antioksidan. Cara Pengolahan penyulingan dengan air (water distillation) ya it u dengan cara bahan kontak langsung dengan air mendid ih. Sist e m penyulinga n ini baik juga digunakan untuk bahan berbentuk tepung dan bunga-bungaan mudah menggumpal jika terkena panas tetapi tidak cocok untuk bahan-bahan yang larut air. Unt uk minyak atsiri akan terdekomposisi pada suhu yang tinggi, penambahan air dapat menurunkan titik didihnya. Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Daftar Pustaka Armando dan Rochim. 2010. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Cetakan I: Penebar Swadaya. Jakarta. Qurniasi E. 2020. Laporan Wawancra Praktikum Budidaya Tanaman Hortikultura Biofarmaka ”Serai Wangi” (Cymbopogon nardus L.). Laporan Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indriasari C., et.al. 2023. Pelatihan Pembuatan Minyak Esensial Sereh (Cymbopogon nardus) menggunakan Teknologi Sederhana. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Read More »

EKOR KUCING (Acalypha hispida)

Nama Latin Acalypha hispida Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Acalypha Spesies: Acalypha hispida Burm.f. (Kevin Caesar, 2015) Definisi Umum Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida) merupakan tanaman hias sekaligus tanaman herbal dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman ini dikenal dengan ciri khas bunga berbentuk menjuntai menyerupai ekor kucing berwarna merah. Selain sebagai tanaman ornamental, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai senyawa aktif yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini umumnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan kondisi tanah yang subur dan cukup sinar matahari, serta sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu penyembuhan luka, peradangan, dan infeksi. Kandungan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama tanaman ini meliputi senyawa fenolik dan turunannya seperti flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta saponin dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida, steroid, phlobatanin, dan hydroxyanthraquinon yang berkontribusi terhadap efek farmakologis seperti antiinflamasi dan penyembuhan luka. Senyawa khas lainnya seperti acalyphin, minyak atsiri, asam galat, dan corilagin turut mendukung aktivitas antioksidan dan antimikroba pada tanaman ini. Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, tanaman ekor kucing memiliki potensi sebagai bahan alami dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan produk kesehatan (Socfindo Conservation, n.d.).  Khasiat Khasiat daun dapat mengobati lidah berdarah akibat keracunan , mengobati lepia putih. berikut adalah yang lebih lengkap: 1. Anti-inflamasi (anti peradangan) 2. Mempercepat penyembuhan luka 3. Antibakteri & antimikroba 4. Mengatasi gangguan pencernaan 5. Menghentikan perdarahan 6. Antioksidan 7. Mengurangi nyeri dan pembengkakan Cara Pengolahan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) yang telah melalui proses pengolahan, seperti pengeringan dan ekstraksi, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk herbal. Secara tradisional, daun tanaman ini sering diolah menjadi rebusan untuk diminum sebagai obat herbal guna membantu mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, daun segar juga dapat ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mempercepat penyembuhan luka atau mengatasi infeksi kulit ringan. Dalam pengembangan modern, ekstrak tanaman ekor kucing dapat diformulasikan menjadi produk seperti salep, krim, atau gel sebagai obat topikal, serta berpotensi dikembangkan dalam bentuk suplemen herbal atau produk kesehatan lainnya. Pemanfaatan ini didasarkan pada kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026).  Daftar Pustaka STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Ketahui 17 manfaat tanaman ekor kucing ampuh obati luka – E-Jurnal. Diakses dari: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/  Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Tanaman ekor kucing. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_ekor_kucing Bay, W. W., Hermanu, L. S., & Sinansari, R. (2020). Standarisasi simplisia daun ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) dari tiga daerah berbeda. Journal of Pharmacy Science and Practice.Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/161402-ID-none.pdf Socfindo Conservation. (n.d.). Acalypha hispida Burm.f. Diakses dari: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/179 CAT’S TAIL (Acalypha hispida) Latin nameAcalypha hispida TaxonomyKingdom: PlantaeSubkingdom: TracheobiontaSuperdivision: SpermatophytaDivision: MagnoliophytaClass: MagnoliopsidaSubclass: RosidaeOrder: EuphorbialesFamily: EuphorbiaceaeGenus: AcalyphaSpecies: Acalypha hispida Burm.f.(Kevin Caesar, 2015) General DefinitionThe cat’s tail plant (Acalypha hispida) is an ornamental and herbal plant from the Euphorbiaceae family, native to tropical regions. This plant is known for its characteristic red, drooping flowers resembling a cat’s tail. Besides being an ornamental plant, this plant is also used in traditional medicine due to its various active compounds with health benefits.This plant generally grows well in tropical climates with fertile soil and adequate sunlight, and is often used in traditional medicine to help heal wounds, inflammation, and infections. ContentThe cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) is known to contain various phytochemical compounds that play a role in its biological activities. The main components of this plant include phenolic compounds and their derivatives, such as flavonoids, which function as antioxidants, as well as saponins and alkaloids, which have antibacterial activity. Furthermore, this plant also contains glycosides, steroids, phlobatanin, and hydroxyanthraquinone, which contribute to pharmacological effects such as anti-inflammatory and wound healing. Other unique compounds, such as acalyphin, essential oils, gallic acid, and corilagin, also support the antioxidant and antimicrobial activities of this plant. Due to these various components, the cat’s tail plant has potential as a natural ingredient in traditional medicine and health product development (Socfindo Conservation, n.d.). Benefits The efficacy of the leaves can treat bleeding tongue due to poisoning, treat white lepia. Here are the more complete ones: 1. Anti-inflammatory (anti-inflammatory) Helps reduce inflammation in the body Suitable for wounds, irritations, or inflammation of the intestines 2. Accelerates wound healing The leaves can be pounded and glued to the wound Helps speed up the skin’s recovery process 3. Antibacterial & antimicrobial The content of active compounds is able to fight disease-causing bacteria Supports healing of mild infections 4. Overcoming indigestion Traditionally used for dysentery, inflammation of the intestine, and worms 5. Stop bleeding Flower decoction can help stop light bleeding 6. Antioxidants Protects the body from free radicals Potentially maintaining healthy body cells 7. Reduces pain and swelling Effective for joint pain or mild swelling With regards to anti-inflammatory effects Processing Method The cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) that has undergone processing, such as drying and extraction, can be utilized in various forms of herbal products. Traditionally, the leaves of this plant are often boiled to make a decoction to be consumed as an herbal remedy to help relieve inflammation, digestive disorders, and boost the immune system. Additionally, fresh leaves can be crushed and used as a topical medicine to speed up wound healing or treat mild skin infections. In modern development, cat’s tail plant extracts can be formulated into products such as ointments, creams, or gels as topical medicine, and have the potential to be developed into herbal supplements or other health products. This utilization is based on the content of active compounds such as flavonoids, saponins, and phenolics, which have antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory activities (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026). References STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Know 17 benefits of cat’s tail plant that effectively heals wounds – E-Journal. Accessed from: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/ Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Cat’s

EKOR KUCING (Acalypha hispida) Read More »

Bidara Upas

Nama latin Merremia mammosa Chois  Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan)  Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)  Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)  Divisio : Magnoliophyta (berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub-kelas : Asteridae  Ordo : Solanales  Familia : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)  Genus : Merremia  Spesies : Merremia mammosa Chois (Anonim, 2007) Deskripsi umum Decalobanthus mammosus atau Bidara Upas merupakan salah satu tanaman dari keluarga Convolvulaceae yang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari wilayah India, Pulau Andaman, dan Indo-Cina. Di Indonesia bidara upas ini dibudidayakan di Pulau Jawa, Bali, Maluku, dan Madura sebagai tanaman obat dan sumber makanan (bagian umbinya). Spesies ini adalah salah satu spesies langka dan termasuk dalam kriteria langka berdasarkan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003). Di wilayah Indonesia dan Malaysia, spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang secara empiris berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bidara upas juga merupakan bahan herbal yang banyak dijual sebagai jamu gendong dan digunakan dalam industri kecil obat tradisional. Selain itu, bidara upas juga telah digunakan masyarakat sebagai sumber serat, dimana batangnya dapat menghasilkan serat yang sangat halus dan kuat, dengan kilau satin, yang dapat dibuat menjadi kain. Kandungan Zat oxydase (getahnya), flavonoid, kuinon, senyawa fenolik, triterpenoid dan steroid.  Khasiat Menurunkan demam, mengobati gangguan pernafasan, pencernaan, luka akibat gigitan ular atau luka bakar, diabetes, batuk, suara serak, difteri, radang tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang usus buntu, tifus, sembelit, buang air besar darah dan lendir, muntah darah, kusta, melanoma, sifilis (lues), batu kantung kemih atau kencing batu, digunakan dalam terapi pengobatan kanker, mengatasi keracunan makanan, menghilangkan bengkak, memperlancar ASi (penggunaan eksternal), bersifat sebagai pencahar dan penyejuk. Memiliki aktivitas sebagai antinflamasi, analgetik (menghilangkan rasa sakit), antidot (menetralkan racun). Cara pengolahan Untuk diabetes,  Daftar pustaka Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Perbanyakan Vegetatif Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) Kebun Raya Bogor. Berita Biologi, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati 16(2), Agustus 2017. Herbal Medicine. 2014. Diabetes mellitus use Merremia mammosa. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. 07-09-2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceeding of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters. Bidara Upas Latin name Merremia mammosa Chois Taxonomy Kingdom: Plantae (plants) Subkingdom: Tracheobionta (vascular plants) Superdivision: Spermatophyta (seed-bearing plants) Division: Magnoliophyta (flowering plants) Class: Magnoliopsida (dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Solanales Family: Convolvulaceae (morning glory family) Genus: Merremia Species: Merremia mammosa Chois (Anonymous, 2007) General Description Decalobanthus mammosus, also known as Bidara Upas, is a plant in the Convolvulaceae family that is not native to Indonesia but originates from India, the Andaman Islands, and Indochina. In Indonesia, Bidara Upas is cultivated on the islands of Java, Bali, Maluku, and Madura as a medicinal plant and a food source (its tuber). This species is classified as rare and meets the criteria for rarity under the Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan issued by the National Development Planning Agency (2003). In Indonesia and Malaysia, this species is widely used as a medicinal plant with empirically proven efficacy for treating various ailments. Bidara upas is also a herbal ingredient widely sold as a traditional herbal remedy and used in small-scale traditional medicine industries. Additionally, bidara upas has been used by communities as a source of fiber, as its stems produce very fine and strong fibers with a satin sheen, which can be made into fabric. Composition Oxidase (latex), flavonoids, quinones, phenolic compounds, triterpenoids, and steroids. Benefits Reduces fever, treats respiratory and digestive disorders, snake bites or burns, diabetes, cough, hoarseness, diphtheria, sore throat, pneumonia, appendicitis, typhoid, constipation, bloody and mucus-filled stools, vomiting blood, leprosy, melanoma, syphilis (lues), bladder stones, used in cancer therapy, treating food poisoning, reducing swelling, promoting breast milk flow (external use), and acting as a laxative and cooling agent. It possesses anti-inflammatory, analgesic (pain-relieving), and antidotal (toxin-neutralizing) properties. Preparation For diabetes, Take 100 g of bidara upas root and wash it thoroughly. Grate it, then squeeze out the juice using a piece of cloth. Drink it every morning, half an hour before eating. References Cahyaningsih R., Hidayat S., Hidayat E. 2017. Vegetative Propagation of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f) at the Bogor Botanical Garden. Berita Biologi, Journal of Biological Sciences 16(2), August 2017. Herbal Medicine. 2014. Use of Merremia mammosa for Diabetes Mellitus. https://www.herbs-medicine.com/2016/01/17-benefits-merremia-mammosa-for-health.html. September 7, 2022. Sadiyah E. R., Yuliawati K. M., Aniq L. Phytochemical Study of Bidara Upas (Merremia mammosa (Lour.) Hallier f.) Leaf. Proceedings of “The International Conference on Herbal Medicine Industrialization as Complementary Therapy in Natural Disasters”

Bidara Upas Read More »

Bunga Pagoda

Nama Latin Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus : Clerodendron  Spesies : Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet  (Kurnianingsih, 2010) Deskripsi umum Bunga pagoda berasal dari China kemudian menyebar ke seluruh dunia. Umumnya ditanam di taman, pinggir jalan, pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Disebut bunga pagoda karena memiliki bentuk bunga yang unik bersusun seperti pagoda. Selain indah dan dijadikan tanaman hias, pagoda juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tanaman daun bunga pagoda umumnya merupakan salah satu tanaman hias yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tanaman ini merupakan tanaman perdu meranggas, tinggi 1-3 m, batangnya dipenuhi rambut halus. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur melebar, pangkal daun berbentuk jantung, daun tua bercangap menjari, panjangnya dapat mencapai 30 cm, bunganya majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk piramida dan keluar dari ujung tangkai, buahnya berbentuk bulat. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan biji. Bunga pagoda ini merupakan tanaman obat yang berkhasiat untuk berbagai macam penyakit pada manusia. Rasa daunnya manis, asam, agak kelat, dan bersifat netral  Kandungan Alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, zat samak, saponin, polifenol, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Khasiat Mengobati asam urat, mengobati wasir berdarah, mengobati luka, peluruh air seni, menyembuhkan bengkak, antiradang, menghancurkan darah beku, mengatasi insomnia. Cara pengolahan  Untuk penyakit yang proses penyembuhannya menggunakan akar, digunakan sebanyak 30 sampai 90 gram akar lalu digodok atau dijadikan bubuk, lalu diseduh dan diminum. Sedangkan penyakit yang disembuhkan dengan daunnya, pemakaiannya cukup dengan melumatkan beberapa daun segar yang kemudian dibubuhkan pada tempat yang sakit. Dan untuk memanfaatkan bunganya, digunakan bunga yang sudah dikeringkan, talu disajikan dalam bentuk serbuk. Atau bisa dengan merebusnya dan diminum setelah dingin. Untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal- gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan banga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit seperti keputihan Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes Pagoda Flower Latin Name Clerodendrum japonicum [Thunb.]Sweet . Taxonomy Kingdom: Plantae (Plants) Subkingdom: Tracheobionta (Vascular Plants) Superdivision: Spermatophyta (Seed-bearing Plants) Division: Magnoliophyta (Flowering Plants) Class: Magnoliopsida (Dicotyledons) Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Verbenaceae Genus: Clerodendron Species: Clerodendrum japonicum [Thunb.] Sweet (Kurnianingsih, 2010) General Description The pagoda flower originates from China and has since spread throughout the world. It is commonly grown in gardens, along roadsides, and in home yards as an ornamental plant. It is called the pagoda flower because its blossoms have a unique, tiered shape resembling a pagoda. In addition to being beautiful and used as an ornamental plant, the pagoda flower also offers health benefits. The pagoda flower is generally one of the most common ornamental plants grown in home yards. This plant is a deciduous shrub, 1–3 m tall, with stems covered in fine hairs. The leaves are simple, petiolate, and arranged oppositely. The leaf blades are broadly ovate, with a heart-shaped base; mature leaves are deeply lobed, and can reach up to 30 cm in length. The flowers are red, composed of small florets clustered into a pyramid shape and emerging from the tip of the stem; the fruit is round. The pagoda flower can be propagated by seed. The pagoda flower is a medicinal plant effective for treating various human ailments. The leaves have a sweet, sour, and slightly astringent taste and possess cooling properties. Components Alkaloids, flavonoids, steroids, terpenoids, tannins, saponins, polyphenols, syringaresinol, medioresinol, martinoside, cytocalasin, dehydrovomifoliol, butylitaconic acid, loliolide. Benefits Treats gout, treats bleeding hemorrhoids, heals wounds, promotes urination, reduces swelling, anti-inflammatory, dissolves blood clots, treats insomnia. Preparation Method For ailments treated with the root, use 30 to 90 grams of the root, which is then boiled or ground into a powder, brewed, and consumed. For ailments treated with the leaves, simply crush a few fresh leaves and apply them to the affected area. To use the flowers, dried flowers are used, often in powder form. Alternatively, they can be boiled and consumed once cooled. This is effective for washing bleeding wounds, bleeding hemorrhoids, and itching (pruritus). Additionally, fresh flowers can be finely ground and applied to the affected area, such as for vaginal discharge. Daftar Pustaka Lasmani, Naqnngune. 2013. Gorontalo. Pengaruh Filtrat Daun Tanaman bunga Pagoda (Clerodendrum squamatum Vahl) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. Universitas Negeri Gorontalo.  Fern, Ken. (2019). Useful Tropical Plants. Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Clerodendrum+japonicum 31.08.2020 Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia Volume II. 2012. Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Kurdi A. 2010. Tanaman herbal Indonesia. Badan Litbang Depkes

Bunga Pagoda Read More »

Alamanda (Allamanda cathartica L.)

Nama Latin Allamanda cathartica L. Taksonomi Kingdom : Plantaee Divisi : Basidiomycota Kelas : Magnoliopsida Ordo : Apocynales Famili : Apocynaceae Genus : Allamanda Spesies : Allamanda cathartica (Anggita, 2019) Definisi Umum Tanaman alamanda (Allamanda cathartica) merupakan salah satu genus dari famili Apocynaceae yang berasal dari Brazil Amerika Serikat. Alamanda mempunyai nama daerah Lame areuy (sunda) dan bunga akar kuning (melayu). Tanaman hias ini selain dirumah pribadi, tanaman hias juga dibutuhkan diperkantoran/instansi, hotel, pertokohan dan lain-lain (Haryati, 2010). Kandungan Tanaman alamanda mengandung senyawa-senyawa di dalamnya yang memiliki banyak manfaat dan khasiat. Beberapa senyawa yang terkandung di dalam tanman alamanda adalah sebagai berikut : 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloid 4. Flavonoid 5. Tanin 6. Saponin 7. Fenol 8. Steroid Khasiat Kandungan yang terdapat di dalam tanaman alamanda memiliki khasiat sebagai alternatif obat kontrasepsi sintetik. Selain itu, tanaman alamanda juga berpotensi besar sebagai antijamur dan anti mikroba yang sering menyebabkan infeksi pada kulit dan kuku manusia. Tanaman alamnda juga berkhasiat sebagai pereda batuk, penawar racun, dan pereda demam. Cara Pengolahan Tanaman alamanda dapat diolah dengan beberapa cara yaitu : 1. Daun Daun tanaman alamanda yang masih segar dapat dicuci bersih dan direbus dengan satu gelas air selama kurang lebih 15 menit, lalu disaring untuk dapat diminum airnya sebagai penawar racun. Selain itu, daun tanaman alamanda dapat ditumbuk hingga halus yang kemudian hasilnya dapat digunakan sebagai obat luar. 2. Getah batang Getah batang tanaman alamanda dapat diambil untuk dijadikan obat luar seperti salep. Daftar Pustaka Anggita. 2019. Taksonomi dan Morfologi Bunga Alamanda. Artikel Dokumen Scribd. Gunawan. B.,Fajriaty. I.,Untari. E.K. 2019. Analisis Senyaw pada Ekstrak Etanol Daun Alamanda (Allamanda cathartica) sebagai Antifertilitas. Jurnal Farmasi Kalbar. Vol 4(1) Haryati.  2010.  Prospek  Agribisnis  Tanaman  Hias  dalam  Pot  (POTOLANT). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. Vol 3(2) Mahyuni. S.,Komala O.,Fadilah N. 2025. Perbandingan Aktivitas Ekstrak Microwave Assisted Extraction dan Refluks Daun Alamanda (Allamanda cathartica L.) terhadaap Jamur Trychophyton rubrum. Jurnal Farmasi, Kesehatan dan Sains (FASKES). Vol. 03(01). Wati. N.,Rahmawati. L.,Sampirlan. 2021. Penggunaan Metode Stek untuk Perbanyakan Tanaman Alamanda (Allamanda chatartica). Jurnal Biologi Kenanga. V717.803. Alamanda (Allamanda cathartica L.) Scientific Name Allamanda cathartica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Basidiomycota Class: Magnoliopsida Order: Apocynales Family: Apocynaceae Genus: Allamanda Species: Allamanda cathartica (Anggita, 2019) General Definition The alamanda plant (Allamanda cathartica) is a genus in the Apocynaceae family native to Brazil and the United States. Allamanda is known locally as Lame areuy (Sundanese) and bunga akar kuning (Malay). This ornamental plant is not only popular in private homes but is also widely used in offices, government agencies, hotels, retail spaces, and other settings (Haryati, 2010). Components The alamanda plant contains compounds that offer numerous benefits and medicinal properties. Some of the compounds found in the alamanda plant are as follows: 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloids 4. Flavonoids 5. Tannins 6. Saponins 7. Phenols 8. Steroids Benefits The compounds found in the alamanda plant serve as a natural alternative to synthetic contraceptives. Additionally, the alamanda plant holds significant potential as an antifungal and antimicrobial agent against pathogens that commonly cause skin and nail infections in humans. The alamanda plant also acts as a cough suppressant, an antidote, and a fever reducer. Methods of Processing The alamanda plant can be processed in several ways, namely: 1. Leaves Fresh alamanda leaves can be washed thoroughly and boiled in one cup of water for approximately 15 minutes, then strained so the liquid can be drunk as an antidote. Additionally, alamanda leaves can be ground into a fine paste, which can then be used as a topical remedy. 2. Stem Sap The sap from the alamanda plant’s stem can be collected to make topical remedies such as ointments. References Anggita. 2019. Taxonomy and Morphology of the Alamanda Flower. Scribd Document Article. Gunawan, B., Fajriaty, I., & Untari. E.K. 2019. Analysis of Compounds in Ethanol Extracts of Alamanda Leaves (Allamanda cathartica) as an Antifertility Agent. West Kalimantan Pharmacy Journal. Vol. 4(1) Haryati. 2010. Prospects for the Agribusiness of Potted Ornamental Plants (POTOLANT). Scientific Journal of Agribusiness and Fisheries. Vol. 3(2) Mahyuni, S., Komala, O., & Fadilah, N. 2025. Comparison of the Activity of Microwave-Assisted Extraction and Reflux Extracts of Allamanda (Allamanda cathartica L.) Leaves against the Fungus Trichophyton rubrum. Journal of Pharmacy, Health, and Science (FASKES). Vol. 03(01). Wati, N., Rahmawati, L., & Sampirlan. 2021. Use of the Cutting Method for Propagating Allamanda (Allamanda cathartica) Plants. Kenanga Biology Journal. V717.803.

Alamanda (Allamanda cathartica L.) Read More »

Bunga Pukul Empat

Nama latin Mirabilis jalapa L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Sub kingdom : Tracheobionta  Seb devision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Clas : Magnoliopsida Subclass : Caryophylidae Order : Caryophyllales Family : Nyctaginaceae  Genus : Mirabilis  Spesies : Mirabilis jalapa L.  (Ramesh et al., 2014)  Definisi umum Indonesia: kembang pukul empat. Sumatra: kempang pagi sore, kembang pukul empat, bunga waktu kecil. Jawa: kederat, segerat, tegerat. Nusatenggara: noja, koderat, bunga ledonosok, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga,bodoko sina, bunga teteapa, bunga-bunga paranggi, bunga-bunga parengki. Maluku: kupa, oras, cako, raha.Herba tahunan, tegak, tinggi 20-80 cm, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam orang sebagai tanaman hias  di pekarangan atau sebagai pembatas pagar rumah. Tumbuh di dataran rendah yang cukup mendapat sinar matahari maupun di daerah perbukitan. Termasuk suku kampah-kampahan, berbatang basah, daunnya berbentuk jantung, warna hijau tua, panjang 2-11 cm, lebar 7-8 cm, pangkal daun mambulat, ujung meruncing, tepi daun rata, letak berhadapan, mempunyai tangkai daun yang panjangnya 5-6 cm. Bunganya berbentuk terompet, dengan banyak macam warna antara lain: merah, putih, jingga, kuning, kombinasi/belang-belang. Mekar di waktu sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Buahnya keras warna hitam berbentuk telur dapat dibuat bedak. Kulit umbinya bewarna coklat kehitaman berbentuk bulat memanjang, panjang 7-9 cm dengan diameter 2-5 cm, isi umbi bewarna putih. Kandungan Akar mengandung betaxanthins. Buah mengandung zat tepung, lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), zat asam minyak (46,9%).  Khasiat Selain sebagai tanaman hias, tanaman pukul empat memiliki manfaat sebagai antioksidan dan aktivitas sitotoksisitas (Rumzhum et al., 2008), antiartritis, (Augustine et al., 2013), antispasmodik (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti inflamasi (Singh et al., 2010), efek hipoglikemia dan 9 hipolipidemik (Zhou et al., 2011), antibakteri (Devi, 2010). Aktivitas farmakologi pada berbagai ekstrak yang dilaporkan oleh Shaik et al. (2012), menunjukkan aktivitas antidiabetes, antioksidan, antimikroba, antifungal, antiviral, dan penyakit urinan. Cara pengolahan a. Acute arthritis: akar segar direbus lalu diminum, bila badan panas ditambah tahu. b. Bunga putih sebanyak 120 gram, direbus lalu minum.  c. Bisul:    1) Pada bisulnya dioleskan sedikit minyak kemiri. Daun kembang pukul empat dilayukan diatas api, kemudian dioleskan sedikit minyak kelapa, tengahnya dilubang dan letakkan diatas bisul. 2)   10 lembar kembang pukul empat dicuci kemudian dilumatkan ditambah air garam secukupnya, ditempelkan pada bisul dan sekelilingnya lalu dibalut. 3)   Akar segar dibuang kulitnya kemudian dilumatkan dan ditambah gula enau. Tempelkan pada bisulnya, sehari diganti 2 kali. d. Jerawat:Buahnya mengandung zat tepung, dibuat tepung bedak, tepung bedak ditambah air kemudian dioleskan. Daftar Pustaka Anggara MA. 2013. Aktivitas MAP (Mirabilis Antiviral protein) sebagai Pengendalian Penyakit Gemini Virus pada Tanaman Cabai. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi]. Ariantari N P, Ikawati Z, Sudjadi, Sismindari. 2010. Efek sitotoksik protein dari daun Mirabilis jalapa L. hasil pemurnian dengan kolom CM Sepharose CL6B terhadap kultur sel HeLa. Jurnal farmasi dan ilmu kesehatan. 1(1): 1-7. Asniwita, SH hidayat, G Suastika, S Sujiprihatin, S Susanto dan I Hayati. 2012. Eksplorasi isolat lemah Chili veinal mottle potyvirus pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera barat dan Jawa Barat. J.Hortikultura. 22(2): 181-186. Ayuni FFL dan Mulyanti D. 2015. Uji aktivitas antibakteri tepung biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan formulasinya dalam sediaan krim. Prosding Penelitian SPeSIA Unisba. 154-158 Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi sayuran di Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php. Diunduh 26 Desember 2018. Four O’Clock Flower Latin Name Mirabilis jalapa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Sebdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Caryophylidae Order: Caryophyllales Family: Nyctaginaceae Genus: Mirabilis Species: Mirabilis jalapa L. (Ramesh et al., 2014) General Definition Indonesia: four o’clock flower. Sumatra: morning and evening flower, four o’clock flower, small flower. Java: kederat, jauht, tegerat. Nusa Tenggara: noja, koderat, ledonosok flower, loro laka. Sulawesi: pukul ampa, turaga, bodoko sina, teteapa flower, paranggi flower, parengki flower. Maluku: kupa, oras, cako, raha. An erect, annual herb, 20-80 cm tall, native to South America, often planted as an ornamental plant in yards or as a fence border. It grows in lowlands with sufficient sunlight, as well as in hilly areas. It belongs to the kampah-kampahan family and has a moist stem. Its leaves are heart-shaped, dark green, 2-11 cm long and 7-8 cm wide. The leaf base is rounded, the tip is pointed, the leaf margins are even, opposite, and the petioles are 5-6 cm long. The flowers are trumpet-shaped and come in a variety of colors, including red, white, orange, yellow, and mixed/striped. They bloom in the afternoon and rebud in the morning before dawn. The fruit is hard, black, egg-shaped, and can be used as a powder. The tuber skin is blackish-brown and elongated, 7-9 cm long and 2-5 cm in diameter, with a white core. Contents The roots contain betaxanthins. The fruit contains starch, fat (4.3%), fatty acids (24.4%), and oil acids (46.9%). Benefits Besides being an ornamental plant, the four o’clock plant has antioxidant and cytotoxic properties (Rumzhum et al., 2008), antiarthritis (Augustine et al., 2013), antispasmodic (Aoki et al., 2008), antinociceptive (Walker et al., 2008), anti-inflammatory (Singh et al., 2010), hypoglycemic and hypolipidemic effects (Zhou et al., 2011), and antibacterial (Devi, 2010). The pharmacological activities of various extracts reported by Shaik et al. (2012) indicate antidiabetic, antioxidant, antimicrobial, antifungal, antiviral, and urinary tract infections activities. Processing Method a. Acute arthritis: Boil the fresh roots and drink. If you have a fever, add tofu. b. Boil 120 grams of white flowers and drink. c. Boil boils: 1) Rub a little candlenut oil on the boil. Wilt the four o’clock flower leaves over a fire, then apply a little coconut oil, make a hole in the center, and place it on the boil. 2) Wash 10 four o’clock flower leaves, crush them, add enough salt water, and apply to the boil and the surrounding area, then bandage. 3) Peel the fresh roots, crush them, and add palm sugar. Apply to the boil, changing the dressing twice a day. d. Acne:The fruit contains starch, which can be made into a powder, the powder mixed with water, and then applied. Bibliography Anggara MA. 2013.

Bunga Pukul Empat Read More »

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb)

Nama Latin Ardisia elliptica Thunb Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Primulales Famili : Myrsinaceae R. Br. Genus : Ardisia Sw. Spesies : Ardisia elliptica Thunb.                                                                                   (USDA, t.t.) Definisi Umum Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) merupakan salah satu tumbuhan liar yang termasuk dalam famili Myrsinaceae dan umumnya tumbuh dalam bentuk perdu atau pohon kecil. Tanaman ini memiliki ciri morfologi berupa batang berkayu dengan tinggi dapat mencapai sekitar 5 meter, serta daun berbentuk lonjong memanjang dengan ukuran berkisar 8–20 cm dan berwarna hijau hingga kemerahan. Buah lempeni tumbuh berkelompok di sekitar percabangan daun, berukuran kecil, dan mengalami perubahan warna yang khas dari merah terang menjadi hitam saat matang. Karakteristik fisik tersebut menjadikan tanaman ini cukup mudah dikenali, meskipun sering kali kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Secara umum, tanaman lempeni memiliki potensi yang cukup besar baik dari segi kesehatan maupun pengembangan ekonomi. Buah dan daunnya diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta triterpena yang berperan sebagai antioksidan, antimikroba, dan berpotensi sebagai agen antidiabetes. Selain itu, tanaman ini relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan intensif, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai komoditas lokal berbasis agribisnis. Dengan pemanfaatan yang tepat, lempeni dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti minuman herbal, selai, maupun campuran produk pangan lainnya (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Kandungan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam bidang kesehatan. Bagian buah dan daun lempeni kaya akan senyawa seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antimikroba. Selain itu, daun lempeni juga mengandung senyawa triterpena, khususnya α-amyrin dan β-amyrin, yang dilaporkan memiliki potensi sebagai antiplatelet serta berperan dalam pengendalian kadar gula darah. Kandungan senyawa tersebut menjadikan tanaman lempeni berpotensi sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan produk herbal dan pangan fungsional. Secara keseluruhan, keberadaan senyawa-senyawa bioaktif ini menunjukkan bahwa lempeni tidak hanya bernilai sebagai tanaman liar, tetapi juga memiliki prospek yang cukup besar dalam pemanfaatan kesehatan dan industri (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Khasiat Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) memiliki beberapa khasiat utama bagi kesehatan, antara lain sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas, antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri, serta berpotensi sebagai antidiabetes dalam membantu menurunkan kadar gula darah. Selain itu, kandungan bioaktifnya juga memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat bagi tubuh (Karlingga et al., 2025; Agustini et al., 2023; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Cara Pengolahan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, salah satunya minuman herbal dari daunnya. Proses pengolahannya dilakukan dengan mencuci bersih daun lempeni, kemudian direbus bersama bahan tambahan seperti kunyit, belimbing wuluh, dan gula hingga mendidih. Setelah itu, larutan didinginkan dan siap dikonsumsi. Selain itu, buah lempeni juga dapat diolah menjadi produk lain seperti selai dan campuran kopi melalui proses pengeringan dan pengolahan lanjutan, sehingga meningkatkan nilai tambah tanaman ini (Karlingga et al., 2025). Daftar Pustaka Karlingga, L. D., Rachman, L. J., Febriyanti, M. P., Alamsyah, M. F., Hidayatullah, M. N., Mundiroh, M., et al. (2025). Olahan tanaman lempeni sebagai produk alternatif unggulan untuk masa depan masyarakat Kemlagi, Mojokerto. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 268–284. https://doi.org/10.55506/arch.v4i2.163  Wibawa, I. P. A. H., & Lugrayasa, I. N. (2020). Studi potensi antioksidan dan antimikroba ekstrak buah lempeni (Ardisia elliptica Thunb.). Jurnal Widya Biologi, 11(2), 109–117.

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb) Read More »

Buah Tin

Nama latin Ficus carica L. Taksonomi Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophta Kelas : Magnoliospida Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus carica L. (Sobir dan Mega, 2013) Definisi umum Pohon Tin masuk kedalam kerabat pohon beringin dengan batang lunak berwarna abu-abu halus kecoklatan. Buah yang disebut dengan buah Tin adalah buah semu, yaitu bukan buah dalam pengartian biologi melainkan bagian bunga yang terdiri dari ratusan tangkai sari dan putik, ukurannya sebesar bola pingpong ada yang berbentuk lonjong dan ada yang bulat. Sekilas, buah Tin memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum, teksturnya empuk, rasanya keset, sedikit mengandung air dan berbiji kecil banyak. Buah Tin masih belum populer dikalangan masyarakat Indonesia sehingga keberadaanya belum banyak diketahui, oleh karena itu tanaman Tin masih menjadi tanaman yang langka yang mempunyai nilai jual tinggi (Sobir dan Mega, 2013).  Tanaman Tin dapat tumbuh pada suhu 21º – 27 º C dengan kondisi curah hujan sedang dengan kelembaban tinggi. Tanaman Tin membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk pertumbuhan, perkembangan tanaman, serta proses pematangan buah. Kondisi media tanam yang lembab dengan drainase yang baik merupakan jenis media yang disukai oleh tanaman Tin. Tanaman Tin juga bisa tumbuh dalam berbagai tanah mulai dari tanah pasir, tanah kaya akan kandungan lempung, tanah berliat berat maupun tanah yang mengandung kapur. Kandungan Buah tin mengandung sedikit air dan biji yang banyak. Selain itu, buah tin juga mengandung zat-zat yang mampu menghilangkan keasamaan bagi tubuh. Unsur-unsur zat yang terkandung di dalam buah tin, diantaranya yaitu karbohidrat, protein, minyak, yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), klorin, malic acid, dan nicotinic acid. Buah Tin (Ficus carica L.) juga disebutkan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an yang termuat dalam QS. At-Tin. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa Allah swt. menurunkan ayat tersebut pasti bermanfaat bagi umat-Nya, yang mana terbukti dengan buah tin yang memiliki segudang manfaat bagi manusia.  Khasiat a. Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan Buah tin diketahui dapat mengatasi sembelit, diare, kembung, kram perut, dan lain sebagainya. Di dalam buah tin terdapat kandungan serat yang berfungsi sebagai probiotik. Kandungan serat tersebut mendukung pertumbuhan bakteri baik yang berada di saluran pencernaan, sehingga meningkatan kesehatan pada sistem pencernaan b. Mencegah Terjadinya Penyakit Kronis Buah tin memiliki kandungan antioksidan, seperti asam fenolik dan flavonoid yang dapat mencegah terjadinya penyakit kronis, seperti diabetes, katarak, penyakit jantung, dan lain sebagainya. Kandungan antioksidan tersebut paling banyak ditemukan di kulit buah tin yang berwarna ungu gelap. c. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Penyakit hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Faktor penyebab munculnya hipertensi salah satunya yaitu ketidakseimbangnya kalium akibat terlalu banyak memakan makanan yang mengandung natrium dan makanan yang kekurangan kalium. Oleh karena itu, buah tin dapat digunakan sebagai obat penurun hipertensi karena merupakan buah yang kaya akan kalium. Kandungan serat yang tinggi dalam buah tersebut dapat membantu membuang kelebihan natrium dari sistem tubuh. d. Meningkatkan Kesehatan Tulang Buah tin merupakan buah yang kaya akan kalsium dan potasium yang baik. Mineral tersebut berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tulang, sehingga dapat mencegah pengeroposan tulang, seperti osteoporosis. e. Membantu Menstabilkan Berat Badan Secara alami, buah tin mengandung serat tinggi yang dikemas dalam bentuk vitamin dan mineral. Buah tin dapat menjadi makanan inklusi yang berguna untuk meningkatkan nutrisi dalam pola makan. Dengan begitu berat badan menjadi stabil dan dapat dikelola dengan baik. Cara pengolahan a. Teh/rebusan daun tin Meskipun bukan buahnya, daun tin sering diolah menjadi teh untuk menurunkan gula darah dan maag. Bahan: 1 sendok teh daun tin kering (cacah), 1 cangkir air panas. Cara: Seduh daun tin kering dengan air panas, diamkan selama 5-10 menit, lalu saring. Manfaat: Mengatasi sesak napas (asma), mengencerkan dahak, dan menurunkan tekanan darah b. Sirup buah tin Bahan: Buah tin, sedikit air, perasan lemon, madu (opsional). Cara: Blender buah tin hingga kental. Masukkan dalam panci, tambahkan sedikit air, rebus dengan api kecil. Aduk terus hingga konsistensi seperti sirup. Tambahkan perasan lemon untuk rasa segar. Cara Minum: Campurkan 1-2 sendok makan sirup buah tin ke dalam segelas air hangat Daftar Pustaka  Agustin, S. 2022. 4 Manfaat Buah Tin untuk Kesehatan. https://www.alodokter.com/intip- manfaat-buah-tin-untuk-kesehatan. Diakses pada 30 April 2022. Makarim, F.R. 2022. Catat, Ini Manfaat Buah Tin yang Sayang untuk Dilewatkan.https://www.halodoc.com/artikel/catat-ini-manfaat-buah-tin-yang-sayang-untuk- dilewatkan. Diakses pada 30 April 2022. Nugraha, W.F., dan Tri, M. 2020. Review Artikel : Etnofarmakologi Tanaman Tin (Ficus carica L.) (Kajian Tafsir Ilmi Tentang Buah Tin Dalam Al-Qur’an). Jurnal Farmagazine. 7(1): 58-65. Buah Tin Latin Name Ficus carica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophta Class: Magnoliospida Order: Rosales Family: Moraceae Genus: Ficus Species: Ficus carica L. (Sobir and Mega, 2013) General Definition The fig tree is a relative of the banyan tree, with a soft, smooth, gray-brownish stem. The fruit, called the fig, is a pseudofruit, meaning it is not a fruit in the biological sense but rather a flower part consisting of hundreds of pollen stalks and pistils. It is about the size of a ping-pong ball, some are oval, some are round. At first glance, the fig fruit has a taste and aroma similar to guava. It has a fragrant aroma, a soft, astringent texture, a little water content, and many small seeds. Figs are still relatively unknown among Indonesians, making them a rare crop with high market value (Sobir and Mega, 2013). Figs can grow in temperatures ranging from 21°C to 27°C, with moderate rainfall and high humidity. They require full sunlight throughout the day for growth, development, and fruit ripening. A moist, well-drained growing medium is preferred. Figs can grow in a variety of soils, from sandy soils to clay-rich soils, heavy clay soils, and even those containing lime. Contents Figs contain little water and many seeds. Furthermore, they contain substances that can reduce acidity in the body. These elements include carbohydrates, protein, oil, iodine, calcium, phosphorus, iron, magnesium, sulfur (phosphate), chlorine, malic acid, and nicotinic acid. Figs (Ficus carica L.) are also mentioned by Allah SWT. The verse in the Quran, Surah At-Tin, indicates that Allah SWT revealed this verse for the benefit of His people, as evidenced by the myriad

Buah Tin Read More »

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria))

Nama Latin Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi           : Spermathopyta Subdivisi     : Angiospermae Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Zingiberales Famili          : Zingiberaceae Genus          : Curcuma Spesies        : Curcuma zedoaria (BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN PAPUA T.A, 2022) Definisi Umum Kunyit putih (Curcuma zedoaria) termasuk ke dalam kelompok tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah dan mampu membentuk tunas serta akar baru pada setiap ruasnya. Kunir putih dicirikan oleh adanya batang semu yang lunak dan berada di dalam tanah dalam bentuk rimpang dengan warna hijau pucat. Daunnya berupa daun tunggal berbentuk lanset, yaitu lonjong dengan ujung runcing dan pangkal tumpul, serta memiliki tulang daun menyirip halus. Tanaman ini tergolong tanaman semak dengan tinggi mencapai ± 2 meter, permukaannya berbulu halus, dan berwarna hijau dengan garis-garis ungu. Bunga kunir putih tersusun secara majemuk, berbentuk tabung, muncul dari ketiak daun, dan tumbuh ke atas membentuk bongkol bunga yang berukuran besar (Sagita et al., 2022) Kandungan Kandungan utama yang terdapat pada rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang terdiri atas kurkumin sebagai komponen terbesar, desmetoksikurkumin sekitar 10%, serta bisdesmetoksikurkumin sebesar 1–5%. Kurkumin termasuk ke dalam golongan senyawa polifenol yang berperan penting dalam aktivitas biologis kunyit. Selain kurkuminoid, rimpang kunyit juga mengandung berbagai senyawa lain yang bermanfaat, antara lain minyak atsiri yang tersusun atas keton seskuiterpen, turmeron dan tumeon (±60%), zingiberen (±25%), serta senyawa lain seperti felandren, sabinen, borneol, dan sineol. Rimpang kunyit juga mengandung komponen nutrisi berupa lemak (1–3%), karbohidrat (±3%), protein (±30%), pati (±8%), vitamin C (45–55%), serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan kalsium, yang berkontribusi terhadap khasiatnya dalam membantu pengobatan berbagai penyakit (Sofiana Putri, 2023) Khasiat Cara Pengolahan Rimpang kunyit putih dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut: Daftar Pustaka Indryani, Chiuman, Wijaya, Lister, & Grandis. (2021). Antibacterial Effect of Curcuma zedoaria Extract on Bacillus cereus and Staphylococcus epidermidis. Jyothi, Prasanna, Sakarkar, Prabha, Ramaiah, & Srawan. (2023). Microencapsulation techniques, factors influencing encapsulation efficiency. Sagita, N. D., Sopyan, I., & Hadisaputri, Y. E. (2022). Kunir Putih (Curcuma zedoaria Rocs.): Formulasi, Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologi. Majalah Farmasetika, 7(3), 189. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v7i3.37711 Sofiana Putri, M. (2023). Curcuma zedoaria): Its Chemical Subtance and The Pharmacological Benefits. In J MAJORITY | (Vol. 3). Syed Abdul Rahman, Abdul Wahab, & Abd Malek. (2022). In vitro morphological assessment of apoptosis induced by antiproliferative constituents from the rhizomes of Curcuma zedoaria. Evidence-Based Complement Altern Med. Magdalena MM. Kunyit putih: herbal pengusir kanker dan tumor. 2014. Tersedia dari http://www.deherba.com (Diakses tanggal 24 Maret 2014). Hartati MS, Mubarika S, Bolhuis RLH, Nooter K, Oostrum RG, Boersma AWM, Wahyuono S. Sitotoksisitas rimpang temu mangga (Curcuma mangga) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria L) terhadap beberapa sel kanker manusia (in vitro) dengan metoda SRB. Berkala Ilmu Kedokteran. 2003; 35(4): 197–201. Hutapea JR. Inventaris tanaman obat Indonesia. Edisi ke–2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993.

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria)) Read More »

Bunga Nusa Indah

Nama Latin Mussaenda frondosa L  Taksonomi Kingdom : Plantae  Phylum : Tracheoophyta  Class : Magnoliopsida  Order : Gentianules  Family : Rubiaceae Genus : Mussaenda  Species : Mussaenda frondosa L  (Setia et al., 2022) Definisi umum Tanaman nusa indah berasal dari Filipina, awalnya merupakan tanaman liar yang tumbuh disemak-semak di lereng perbukitan. Tanaman ini umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Selain cantik, Nusa Indah juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Tumbuhan liar ini memiliki cabang-cabang yang berbulu halus. Tangkai bunga dapat mencapai panjang 1,5 cm dengan pangkalnya yang lonjong dan berujung runcing. Daunnya memiliki panjang antara 6 hingga 10 cm, juga ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian bawah dan ujungnya yang runcing. Stipula tanaman ini memiliki panjang 3-4 mm, berbentuk lonjong, dan bercabang dua di 5 bagian puncaknya.Bunga tumbuhan ini tumbuh dalam bentuk majemuk di bagian terminal, membentuk cymes yang longgar dan memiliki tampilan tomentose linier dengan panjang antara 1 hingga 1,5 cm serta ditutupi rambut halus. Brakteolnya memiliki bentuk linier.Yang menarik, salah satu dari lima lobus kelopak bunga berkembang menjadi struktur yang menyerupai daun dengan ukuran 8-12 x 4,5 cm dan juga ditutupi rambut putih, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Panjang lobus tersebut berkisar 6-7 mm, berbentuk oval-lanset, dan terhubung dengan corolla yang memiliki panjang 2,5-3 cm, berbentuk corong dan melebar di bagian tengah, dengan warna yang menawan, baik oranye maupun kuning (Setia et al., 2022).  Kandungan Terdapat Fitokonstituen seperti quercetin, isoquercetin, hyperin, asam singapat, asam ferulat, dan stiglusida diisolasi menggunakan kromatografi arus balik tetes dari ekstrak metanol daun bunga Mussaenda frondosa L (Shanthi & Radha, 2020).  Khasiat Menyembuhkan influenza, demam, batuk, radang amandel, radang tenggorokan, koreng, luka, bisul, mencegah kanker payudara, mencegah dan mengatasi kanker payudara. Akar dari tanaman bunga Nusa Indah berguna untuk mengobati batuk dan aktivitas farmakologi yang telah dilaporkan yaitu sebagai diuretik, antipologis, antipiretik aktivitas dalam laringoparingitis, gastroenteritis akut, liver dan hepatitis (Rojin dkk., 2015). Kandungan senyawa kimia yang terdapat pada bunga Nusa Indah diantaranya adalah senyawa flavonoid, saponin, glikosida dan terpenoid (Eishwaraiah, 2011; Raju dan Rao, 2011). Senyawa terpenoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang dapat dijumpai pada bagian akar, batang, daun, buah maupun biji tanaman. Senyawa golongan terpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi yang menarik sebagai antiviral, antibakteri, antiinflamasi, sebagai inhibisi terhadap sintesis kolesterol dan antikanker (Mahato et al.,1997). Menurut Andini, dkk., (2014), senyawa golongan triterpenoid merupakan agen fitokimia yang dapat secara selektif membunuh sel kanker payudara dan mencegah rusaknya sel normal.  Cara pengolahan a. Untuk mencegah kanker payudara : Siapkan 15-30 g batang nusa indah kering atau 30-60 g yang segar, dan 30 g tapak dara. Rebus semua bahan dengan 600 ml air hingga mendidih dan air tersisa 300 ml. Saring dan dinginkan, minum ramuan. b. Untuk Influenza : Cuci bersih 12 g daun segar lalu rebus dengan 200 ml air bersih hingga mendidih (selama 5 menit). Saring dan dinginkan lalu minum sekaligus (sehari 2-3 kali). Daftar Pustaka Raju, N.J., and Rao, G.B., 2011, Anthelmintic Activities Of Antigonon Leptopus Hook and Mussaenda erythrophylla Lam., J. Pharm. Pharmaceut. Sci., 3 : 68-69.  Rojin, Sukanya S., dan Rajendra H., 2015, Hepatoprotective Effect Of Erythrophylla And Aegle Marmelos In Ethanol Induced Rat Hepatotoxicity Model, International Journal Of Applied Biology And Pharmaceutical Technology, 6 (3).  Tussanti, Iin, Andrew J., dan Kisdjamiatun, 2014, Sitotoksisitas In Vitro Ekstrak Etanolik Buah Parijoto (Medinilla Speciosa, Reinw.Ex Bl.) Terhadap Sel Kanker Payudara T47D, J. Gizi Indonesia, 2(2) : 53-58  Parwata IM. O.A.P.,Ratnayani K., dan Listya A. , 2010. Aktivitas Antiradical Bebas serta Kadar Beta Karoten pada Madu Randu (Ceiba Pentendra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L). Jurnal Kimia. 4:54-62.  Putra,B.A.A., Bogoriani, N.W., Diantariani, N.W., 2014. Ekstraksi Warna Alam dari Bonggol Tanaman Pisang (Musa Paradiasciaca L.) dengan Metode Maserasi, Refluks, dan Sokletasi. 8:113-199.  Rita, W.S., 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma Zedooria Berg.) (Roscoe). J.Kim 4:20-26. BEAUTIFUL NUSA FLOWERS LATIN NAME Mussaenda frondosa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Phylum: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Gentianules Family: Rubiaceae Genus: Mussaenda Species: Mussaenda frondosa L. (Setia et al., 2022) General Definition The Nusa Indah plant originates from the Philippines and originally grows wild as a shrub on hillside slopes. This plant is generally cultivated as an ornamental. Besides its beauty, the Nusa Indah also offers health benefits. This wild plant has fine, hairy branches. The flower stalks can reach 1.5 cm in length with an oval base and pointed tips. The leaves are between 6 and 10 cm long and are covered with fine hairs on the underside and have pointed tips. The stipules of this plant are 3-4 mm long, oval, and bifurcated at five apex points. The flowers grow in terminally compound inflorescences, forming loose, linear-tomentose cymes, ranging from 1 to 1.5 cm long and covered with fine hairs. The bracteoles are linear. Interestingly, one of the five calyx lobes develops into a leaf-like structure measuring 8-12 x 4.5 cm and also covered with white hairs, creating a truly stunning sight. The lobes are 6-7 mm long, oval-lanceolate, and connected to a corolla that is 2.5-3 cm long, funnel-shaped and widening in the center, and has a captivating color, either orange or yellow (Setia et al., 2022). Content Phytoconstituents such as quercetin, isoquercetin, hyperin, singapic acid, ferulic acid, and stiglucide were isolated using countercurrent drop chromatography from the methanol extract of Mussaenda frondosa L. flower leaves (Shanthi & Radha, 2020). Benefits Treats influenza, fever, cough, tonsillitis, sore throat, scabs, wounds, boils, and prevents breast cancer. The roots of the Nusa Indah flower are useful for treating coughs, and its pharmacological activities have been reported as diuretic, antifungal, and antipyretic activities in laryngopharyngitis, acute gastroenteritis, liver disease, and hepatitis (Rojin et al., 2015). The chemical compounds found in the Nusa Indah flower include flavonoids, saponins, glycosides, and terpenoids (Eishwaraiah, 2011; Raju and Rao, 2011). Terpenoid compounds are secondary metabolites found in the roots, stems, leaves, fruits, and seeds of plants. Terpenoid compounds exhibit interesting pharmacological activities as antivirals, antibacterials, anti-inflammatories, inhibitors of cholesterol synthesis, and anticancer agents (Mahato et al., 1997). According to Andini et al., (2014), triterpenoid compounds are

Bunga Nusa Indah Read More »

Scroll to Top