Waru (Hibiscus tiliaceus L.)

Nama Latin

Hibiscus tiliaceus L.

Taksonomi

Kingdom         : Plantae
Divisi              : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Malvales
Famili              : Malvaceae
Genus              : Hibiscus
Spesies            : Hibiscus tiliaceus L.

Tjitrosoepomo (2010)

Deskripsi Umum

Tanaman waru merupakan tumbuhan berupa pohon yang banyak ditemukan di daerah tropis, khususnya wilayah pesisir. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 5–15 meter. Batangnya berkayu dengan percabangan yang cukup banyak serta memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan.

Daun waru berbentuk bulat hingga menyerupai jantung (cordate), berwarna hijau, dan berpermukaan halus. Bunganya berwarna kuning cerah dengan bagian tengah berwarna merah keunguan. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan mengalami perubahan warna menjadi oranye atau kemerahan pada sore hari sebelum layu.

Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik pada tanah berpasir maupun tanah lembap serta memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti kadar garam (salinitas) yang tinggi.

Kandungan Kimia

Tanaman waru mengandung berbagai senyawa kimia yang berperan dalam aktivitas biologis, antara lain flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polifenol, serta steroid atau triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan berkontribusi dalam menjaga kesehatan.

Khasiat

Tanaman waru telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Beberapa khasiat yang diketahui antara lain sebagai anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan, antibakteri untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai penurun demam, obat batuk alami, serta untuk menjaga kesehatan kulit seperti mengatasi bisul dan iritasi.

Cara Pengolahan

Pengolahan tanaman waru sebagai obat tradisional dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus selama kurang lebih 10–15 menit, kemudian air rebusannya disaring dan diminum. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau pembengkakan.

Bagian daun maupun kulit batang juga dapat dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi serbuk untuk diseduh atau diolah lebih lanjut sebagai bahan herbal.

Daftar Pustaka

Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top