Nama Latin
Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Verbenaceae
Genus : Stachytarpheta
Spesies : Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl
Global Biodiversity Information Facility (GBIF) (2024)
Deskripsi Umum
Ngokilo merupakan tanaman herba atau semak kecil yang banyak tumbuh liar di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini biasanya ditemukan di tepi jalan, kebun, maupun lahan terbuka. Tingginya berkisar antara 30–100 cm dengan batang yang ramping dan bercabang.
Daunnya berbentuk lonjong hingga lanset, berwarna hijau, dengan tepi bergerigi dan permukaan agak kasar. Bunga ngokilo tersusun dalam bentuk bulir memanjang dengan warna ungu kebiruan yang khas. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang cukup subur dengan paparan sinar matahari penuh hingga setengah teduh.
Ngokilo dikenal sebagai tanaman liar, namun memiliki potensi sebagai tanaman obat karena kandungan senyawa aktif di dalamnya.
Kandungan Kimia
Tanaman ngokilo mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta iridoid glikosida. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan tersebut mendukung berbagai aktivitas farmakologis tanaman.
Khasiat
Dalam pengobatan tradisional, ngokilo dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan, serta antibakteri yang berperan dalam melawan infeksi. Ngokilo juga digunakan sebagai obat penurun demam dan peluruh air seni (diuretik).
Selain itu, tanaman ini dipercaya membantu mengatasi gangguan pencernaan, luka ringan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya juga berperan dalam menangkal radikal bebas.
Cara Pengolahan
Pengolahan ngokilo sebagai obat tradisional umumnya menggunakan bagian daun. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum untuk membantu mengatasi demam atau gangguan kesehatan lainnya.
Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Daun juga dapat dikeringkan, lalu diseduh seperti teh sebagai minuman herbal.
Daftar Pustaka
Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.
Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

