naturindofresh

Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Nama Latin Manilkara kauki Dub. Taksonomi Kingdom     : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Divisi          : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Sub kelas     : Dilleniidae Ordo            : Ebenales Famili         : Sapotaceae Genus          : Manilkara Spesies        : Manilkara kauki (Sugati dan Johny, 1991) Definisi Umum Sawo kecik (Manilkara kauki Dubard) merupakan tanaman buah tahunan yang termasuk ke dalam famili Sapotaceae. Tanaman ini dikenal sebagai salah satu tanaman tropis yang tumbuh baik di daerah dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian sedang. Di Indonesia, sawo kecik banyak ditemukan di wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, serta beberapa daerah pesisir lainnya. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh, penghias pekarangan, dan tanaman pelindung karena memiliki tajuk yang rindang dan pertumbuhan yang cukup kuat. Sawo kecik memiliki batang berkayu dengan percabangan simpodial dan dapat tumbuh mencapai tinggi sekitar 25 meter. Daunnya berbentuk bulat telur dengan permukaan bawah daun berwarna lebih pucat dan halus. Buah sawo kecik berbentuk bulat telur atau bulat telur terbalik dengan ukuran relatif kecil. Kulit buah tipis dan mudah dikupas, sedangkan daging buah berwarna kekuningan hingga kecokelatan dengan rasa manis sedikit sepat ketika matang. Selain dimanfaatkan sebagai tanaman buah, kayu sawo kecik juga memiliki nilai ekonomi karena dapat digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan, furnitur, hingga alat musik tradisional. Tanaman ini juga sering dijadikan batang bawah dalam proses okulasi atau penyambungan tanaman sawo manila karena memiliki sistem perakaran yang kuat dan tahan terhadap kondisi lahan kurang subur. Kandungan Buah sawo kecik mengandung berbagai zat gizi dan senyawa yang bermanfaat bagi tubuh, antara lain: Kandungan tersebut berperan dalam membantu menjaga kesehatan tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan sistem pencernaan, serta membantu menjaga kesehatan kulit dan mata. Khasiat Buah dan bagian tanaman sawo kecik diketahui memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan maupun kebutuhan lainnya, antara lain: Cara Pengolahan Sawo kecik umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar setelah buah matang sempurna. Selain dimakan langsung, buah sawo kecik juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, antara lain: Selain buahnya, kayu sawo kecik juga dapat diolah menjadi bahan kerajinan dan perabot rumah tangga karena memiliki tekstur yang kuat dan tahan lama. Daftar Pustaka Sugati, S., dan Johny. 1991. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sawo Kecik. Jakarta: Pusat Penelitian Tanaman Hortikultura. Berkebun.co.id. 2026. “Sawo Kecik: Morfologi, Klasifikasi, Manfaat dan Kandungan Gizinya.” Tersedia pada: Berkebun.co.id. Diakses pada 7 Mei 2026. Organisasi.org. 2026. “Kandungan Gizi Buah Sawo Kecik.” Diakses pada 7 Mei 2026.

Sawo Kecik (Manilkara kauki) Read More »

Sawo Bludru (Chrysophyllum caimito L.)

Nama Latin Chrysophyllum caimito Taksonomi Kindom       : Plantae Divisi          : Spermatophyta Kelas           : Dicotyledonae Ordo            : Ericates Famili         : Sapotaceae Genus          : Chrysophyllum Spesies        : Chrysophyllum caimito (Agroteknologi, 2016) Definisi Umum Sawo bludru (Chrysophyllum caimito L.) merupakan tanaman buah tropis yang termasuk dalam famili Sapotaceae. Tanaman ini dikenal juga dengan nama star apple karena pola daging buahnya menyerupai bentuk bintang ketika dipotong melintang. Sawo bludru berasal dari wilayah Amerika Tengah dan Hindia Barat, kemudian menyebar ke berbagai negara tropis termasuk Indonesia. Tanaman ini banyak dibudidayakan di pekarangan rumah maupun kebun karena buahnya memiliki rasa manis dan tekstur yang lembut. Pohon sawo bludru dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 10–20 meter dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Daunnya berbentuk lonjong dengan permukaan atas berwarna hijau mengkilap, sedangkan bagian bawah daun berwarna cokelat keemasan menyerupai beludru. Buahnya berbentuk bulat dengan kulit berwarna hijau atau ungu saat matang. Daging buah berwarna putih hingga ungu muda, memiliki rasa manis dan mengandung getah (latex) (Juwita dan Jessy, 2013). Kandungan Beberapa kandungan yang terdapat pada tanaman sawo bludru antara lain: (Nugraha, 2015; Natasha dan Mufti, 2017). Khasiat Tanaman sawo bludru memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, antara lain: (Nurhayati dan Yuliani, 2015). Cara Pengolahan Buah sawo bludru dapat diolah menjadi berbagai produk pangan maupun digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Beberapa cara pengolahannya antara lain: Daftar Pustaka Agroteknologi. 2016. Klasifikasi Tanaman Sawo. Fakultas Pertanian. Juwita, R. dan Jessy, C. 2013. “Morfologi dan Pemanfaatan Tanaman Sawo.” Jurnal Biologi Tropis. Natasha, D. dan Mufti, A. 2017. “Kandungan Senyawa Aktif pada Tanaman Sawo.” Jurnal Farmasi Herbal Indonesia. Nugraha, A. 2015. “Kandungan Gizi dan Manfaat Buah Sawo bagi Kesehatan.” Jurnal Gizi dan Pangan. Nurhayati, S. dan Yuliani, R. 2015. “Pemanfaatan Tanaman Sawo sebagai Obat Tradisional.” Jurnal Kesehatan Tradisional Indonesia.

Sawo Bludru (Chrysophyllum caimito L.) Read More »

Karet Kebo (Ficus elastica)

Nama Latin Ficus elastica Taksonomi Kingdom   : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo      : Rosales Famili   : Moraceae Genus    : Ficus Spesies  : Ficuselastica Roxb. (ex Hornem, 1819) Definisi Umum Ficus elastica atau karet kebo merupakan tanaman dari famili Moraceae yang banyak ditemukan di daerah tropis. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman hias sekaligus tanaman obat tradisional. Bagian yang sering dimanfaatkan meliputi daun, batang, akar, biji, hingga getahnya. Secara tradisional, masyarakat menggunakan tanaman ini untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan seperti rematik, diare, hipertensi, nyeri, dan gangguan peredaran darah. Selain itu, tanaman karet kebo juga dikenal memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai antioksidan dan bahan pengobatan alami. Kandungan Daun karet kebo mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini antara lain: •   Flavonoid •   Saponin •   Polifenol •   Tanin •   Lateks pada getah tanaman Berdasarkan penelitian, kandungan flavonoid tertinggi diperoleh pada ekstrak etanol 96%, sehingga pelarut polar dianggap lebih efektif dalam menarik senyawa aktif dari daun karet kebo. Flavonoid sendiri dikenal sebagai senyawa antioksidan yang mampu membantu menangkal radikal bebas dan melindungi sel tubuh dari kerusakan. Khasiat Tanaman karet kebo telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena memiliki berbagai manfaat kesehatan. Beberapa khasiat yang diketahui antara lain: •   Membantu meredakan batuk darah •   Melancarkan peredaran darah •   Membantu melancarkan air seni (diuretik) •   Mengurangi rasa nyeri dan peradangan •   Membantu mengatasi rematik dan pegal •   Digunakan untuk pengobatan luka karena memiliki sifat astringen •   Membantu mengatasi gangguan kulit dan alergi •   Berpotensi sebagai antioksidan alami karena kandungan flavonoidnya •   Membantu menjaga kesehatan hati dan mengurangi stres oksidatif Selain itu, rebusan akar udara tanaman karet kebo juga secara tradisional digunakan untuk membantu mempercepat penyembuhan luka dan sayatan ringan. Cara Pengolahan Pengolahan daun karet kebo dapat dilakukan secara sederhana maupun melalui proses ekstraksi. Pada penelitian, daun karet kebo diolah menggunakan metode ekstraksi bertingkat dengan beberapa jenis pelarut. Tahapan pengolahannya meliputi: •   Daun karet kebo dicuci bersih lalu dikeringkan. •   Daun yang telah kering dihaluskan menjadi simplisia. •   Simplisia ditimbang kemudian direndam menggunakan pelarut seperti n-heksan, etil asetat, dan etanol 96%. •   Proses ekstraksi dilakukan menggunakan sonikator untuk membantu penarikan senyawa aktif. •   Filtrat hasil ekstraksi disaring lalu diuapkan menggunakan waterbath hingga diperoleh ekstrak kental. Secara tradisional, masyarakat juga memanfaatkan daun karet kebo dengan cara direbus, kemudian air rebusannya diminum seperlunya untuk membantu meredakan keluhan tertentu. Daftar Pustaka Adi, T. L. 2006. Tanaman Obat dan Jus Untuk Asam Urat dan Rematik. Arsyad, A. S., Nurrochmad, A., & Fakhrudin, N. 2023. Phytochemistry, Traditional Uses, and Pharmacological Activities of Ficus elastica Roxb. ex Hornem: A Review. Journal of HerbMed Pharmacology, 12(1), 41–53. Arifin, B., & Ibrahim, S. 2018. Struktur, Bioaktivitas dan Antioksidan Flavonoid. Jurnal Zarah, 6(1). Handayani, S., Kurniawati, I., & Abdul Rasyid, F. 2020. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Karet Kebo (Ficus elastica) dengan Metode DPPH. Jurnal Farmasi Galenika, 6(1), 141–150. Suhaenah, A., Tahir, M., & Evatiara, N. 2024. Perbandingan Kadar Flavonoid Ekstrak Daun Karet Kebo (Ficus elastica) Hasil Ekstraksi Bertingkat Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Makassar Pharmaceutical Science Journal, 2(3), 438–449.

Karet Kebo (Ficus elastica) Read More »

Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme (Lodd.) Bl.)

Nama Latin Typhonium flagelliforme (Lodd.) Bl. Taksonomi (Harfia, M., 2006) Definisi Umum Keladi tikus adalah tanaman herba kecil yang tumbuh di daerah lembap dan teduh. Tanaman ini dikenal luas sebagai tanaman obat tradisional di Asia Tenggara, terutama karena potensi farmakologinya sebagai antikanker. Kandungan Kandungan senyawa aktif pada keladi tikus meliputi: Khasiat Berdasarkan berbagai penelitian, keladi tikus memiliki efek: Cara Pengolahan Bagian tanaman yang digunakan: Cara pengolahan tradisional: Daftar Pustaka CCRC Universitas Gadjah Mada. (2011). Ensiklopedia Tanaman Obat Antikanker: Keladi Tikus. Harfia, M., 2006, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol 50% Umbi Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme (Lood) Bl) terhadap Sel Kanker Payudara (MCF-7 Cell line) secara In-Vitro, Puslitbang Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme (Lodd.) Bl.) Read More »

Randu (Ceiba pentandra L.)

Nama Latin Ceiba pentandra (L.) Gaertn. Taksonomi Kingdom                 : Plantae Subkingdom            : Trachobionta Divisi                      : Magnoliophyta Kelas                       : Magnoliopsida Famili                     : Malveles Genus                      : Ceiba Spesies                    : Ceiba pentandra (L.) Gaertn.                                                                        ( Heyne, 1987 ) Definisi Umum Tanaman randu atau kapuk randu (Ceiba pentandra L.) merupakan tanaman tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini dikenal karena menghasilkan serat kapuk pada buahnya yang sering dimanfaatkan sebagai bahan pengisi bantal dan kasur. Selain itu, hampir seluruh bagian tanaman randu seperti daun, batang, kulit batang, buah, dan bijinya juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Masyarakat sejak lama menggunakan tanaman ini untuk membantu mengatasi berbagai penyakit luar maupun dalam, seperti luka, demam, diare, batuk, hipertensi, dan infeksi akibat mikroorganisme. Kandungan Tanaman randu mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berperan penting bagi kesehatan. Daunnya diketahui mengandung alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, polifenol, damar pahit, serta beberapa senyawa lain seperti steroid dan glikosida. Selain itu, daun randu juga memiliki kandungan vitamin C dan vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan alami untuk membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Kandungan alkaloid pada daun randu berfungsi sebagai antimikroba karena mampu merusak dinding sel mikroorganisme. Saponin dapat meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga mikroba menjadi mudah rusak, sedangkan tanin berperan dalam menghambat aktivitas enzim dan pertumbuhan bakteri maupun jamur. Khasiat Tanaman randu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daun randu diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antijamur sehingga dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa dan jamur Candida albicans. Selain itu, daun randu juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk membantu mengatasi batuk, diare, demam, sakit kepala, dan membantu mempercepat penyembuhan luka. Kulit batang randu juga diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik, antibakteri, antijamur, hingga antikanker. Kandungan antioksidan pada daun randu membantu tubuh melawan radikal bebas sehingga baik untuk menjaga kesehatan tubuh secara umum. Selain manfaat kesehatan, pohon randu yang rimbun juga membantu menghasilkan oksigen dan menjaga kualitas udara lingkungan. Cara Pengolahan Pengolahan daun randu umumnya dilakukan dengan cara pengeringan dan ekstraksi. Daun segar dipilih terlebih dahulu, kemudian dicuci hingga bersih dan dipotong kecil-kecil. Setelah itu daun dikeringkan pada suhu ruang sampai menjadi simplisia kering. Daun yang sudah kering kemudian dihaluskan menjadi serbuk menggunakan blender. Serbuk daun randu selanjutnya dapat diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% melalui metode maserasi selama beberapa hari. Hasil maserasi kemudian disaring untuk memisahkan filtrat dan ampasnya. Filtrat yang diperoleh diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga menjadi ekstrak kental. Ekstrak inilah yang kemudian digunakan untuk pengujian aktivitas antimikroba atau dimanfaatkan sebagai bahan herbal tradisional. Selain dalam bentuk ekstrak, masyarakat juga sering mengolah daun randu secara sederhana dengan merebus daun segar untuk dijadikan air rebusan herbal. Daftar Pustaka Jurnal Klorofil: Jurnal Ilmu Biologi dan Terapan Misriani, Manalu, K., & Nasution, R. A. 2023. Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Randu (Ceiba pentandra L.) terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan Candida albicans. Klorofil: Jurnal Ilmu Biologi dan Terapan, 7(1). Potensi Kapuk Randu (Ceiba pentandra Gaertn.) dalam Penyediaan Obat Herbal Pratiwi, R. H. 2014. Potensi Kapuk Randu (Ceiba pentandra Gaertn.) dalam Penyediaan Obat Herbal. Widya Kesehatan dan Lingkungan, 1(1). Comparative Evaluation of Ceiba pentandra Ethanolic Leaf Extract Oseni, L. A. 2012. Comparative Evaluation of Ceiba pentandra Ethanolic Leaf Extract, Stem Bark Extract and the Combination Thereof for In Vitro Bacterial Growth Inhibition. Journal of Natural Sciences Research, 2(5).

Randu (Ceiba pentandra L.) Read More »

Kecubung (Datura metel L.)

Nama Latin Datura metel L. Taksonomi (Sugara, 2008) Definisi Umum Datura metel atau kecubung adalah tumbuhan berbunga yang dikenal sebagai tanaman hias sekaligus tanaman beracun yang termasuk dalam famili Solanaceae. Secara umum, kecubung merupakan tanaman perdu yang memiliki bunga berbentuk terompet besar, biasanya berwarna putih, ungu, atau kuning. Tanaman ini tumbuh di daerah tropis dan sering ditemukan di pekarangan atau tumbuh liar. Kecubung juga dikenal karena kandungan senyawa alkaloid tropana seperti atropin, skopolamin, dan hiosiamin yang bersifat toksik. Karena itu, seluruh bagian tanaman ini beracun jika dikonsumsi secara berlebihan atau tidak tepat. Dalam beberapa tradisi, kecubung pernah digunakan sebagai tanaman obat atau ritual, tetapi penggunaannya sangat terbatas karena efek sampingnya yang dapat memengaruhi sistem saraf, menyebabkan halusinasi, hingga keracunan berat. Kandungan Kandungan senyawa di dalam tanaman kecubung antara lain alkaloid, zat lemak, steroid, fenol saponin, tannin, dan terpentin dengan bahan aktif, seperti atropine, hiostamin, scopolamin, hiosin, zat lemak, kalsium oksalat, metosdina, norhiosiamina, norskopolamina, kuskohigrina, nikotin, dan hyoscamine (Huong, 1990; Thomas, 2003). Tanaman kecubung mengandung zat alkaloid yang diketahui merupakan bahan yang dapat digunakan untuk membius dan juga dapat digunakan sebagai obat (Kartasapoetra, 1988). Alkaloid dalam tumbuhan kecubung terbanyak terdapat di dalam akar dan biji dengan kadar antara 0,4-0,9%, sedangkan dalam daun dan bunga hanya 0,2-0,3% (Sastrapradja, 1978). Menurut (Heyne, 1987), kandungan alkaloid tanaman kecubung dalam masing-masing organ bervariasi, pada daun muda 0,813 %, daun tua 0,038 % dan bunga 0,2 %. Khasiat Kecubung dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, diantaranya sebagai obat pada penderita asma, reumatik, sakit pinggang, pegal linu, eksim, bisul, sakit gigi, sakit perut bagian atas, bangkak (obat luar), ketobe (obat luar), sulit buang air besar (obat luar), terkilir (obat luar) (Ipteknet, 2005). Secara tradisional kecubung juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat kanker payudara. Cara Pengolahan Dalam pemanfaatan secara tradisional, kecubung biasanya diolah dalam bentuk sederhana, namun penggunaannya harus sangat hati-hati karena tanaman ini bersifat beracun. Beberapa cara pengolahan tradisional yang pernah dilakukan masyarakat antara lain: Karena kandungan alkaloid tropana (seperti atropin dan skopolamin), penggunaan kecubung secara internal (diminum) tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan efek samping serius seperti gangguan saraf, halusinasi, hingga keracunan. Daftar Pustaka Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya. Huong, N. (1990). Phytochemical Studies on Medicinal Plants. Vietnam: National Institute of Medicinal Materials. Ipteknet. (2005). Tanaman Obat Tradisional Indonesia: Kecubung (Datura metel L.). Jakarta: IPTEKnet. Kartasapoetra, G. (1988). Koleksi Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Bina Aksara. Sastrapradja, S. (1978). Beberapa Jenis Tumbuhan Obat Indonesia. Bogor: Lembaga Biologi Nasional LIPI. Sugara, R. (2008). Taksonomi Tumbuhan Berkhasiat Obat. Bandung: Pustaka Ilmu. Thomas, A. N. S. (2003). Tanaman Obat Tradisional 2. Yogyakarta: Kanisius.

Kecubung (Datura metel L.) Read More »

Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.)

Nama Latin Sauropus androgynus (L.) Merr. Taksonomi (Santoso, 2013) Definisi Umum Daun katuk adalah daun yang berasal dari tanaman Sauropus androgynus, yaitu tumbuhan perdu dari famili Euphorbiaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Secara umum, daun katuk didefinisikan sebagai bahan pangan sekaligus tanaman obat yang memiliki daun kecil berbentuk oval, berwarna hijau, dan tersusun rapi pada batang. Daun ini sering dimanfaatkan sebagai sayuran serta dikenal memiliki kandungan gizi tinggi. Selain sebagai makanan, daun katuk juga dikenal dalam pengobatan tradisional. Kandungan Senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol 90% daun katuk yaitu berupa golongan senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, polifenol, glikosida, dan flavonoid. Khasiat Daun katuk memiliki khasiat sebagai antioksidan yang kuat, sebagai afrodisiaka, dan meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Serta memiliki daya hambat sebagai antibakteri, sebagai antikolesterol, dan antiobesitas. Cara Pengolahan Daftar Pustaka Andini, R. (2014). Uji efek afrodisiaka ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Skripsi. Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia. Mulyani, S., dkk. (2017). Aktivitas antibakteri ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 4(2), 45–52. Patonah, dkk. (2017). Uji aktivitas antiobesitas ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Gizi dan Pangan, 12(3), 123–130. Sa’roni, dkk. (2004). Effectiveness of Sauropus androgynus (L.) Merr. leaf extract in increasing breast milk production. Media Litbang Kesehatan, 14(3), 20–24. Santoso, B. (2013). Taksonomi dan morfologi tanaman obat Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya. Susanti, N., dkk. (2014). Analisis kandungan senyawa kimia ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Kimia Farmasi, 6(1), 1–7. Warditiani, N.K. (2015). Uji aktivitas antikolesterol ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Farmasi Udayana, 4(1), 30–36. Zahra, F., dkk. (2008). Aktivitas antioksidan ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 13(2), 67–72.

Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) Read More »

Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.)

Nama Latin Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Taksonomi Kingdom : Plantae Devisi : Spermatophyta Class : Dicotylendonae Ordo : Solanales Family : Lamiaceae Genus : Coleus Spesies : Plectranthus scutellarioides (L) R. Br (Elfianis, 2021). Deskripsi Umum Tanaman iler memiliki banyak sinonim, seperti Coleus atropurpureus Benth, Coleus scutellarioides (L) Benth, Coleus blumei Benth, Solenostemon scutellarioides (L) Codd. Nama daerah di Indonesia dikenal dengan si gesing (Batak), jawer kotok (Sunda), kentangan (Jawa), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura) dan adang-adang (Padang) (Elfanis, 2021). Kandungan Daun iler memiliki berbagai kandungan senyawa kimia seperti minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan turunan fenolik/polifenol. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Mpila et al., (2012) yang menyatakan bahwa daun iler mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoid dan polifenol, begitu juga dengan beberapa penelitian setelahnya. Auliawan et al. (2014) melakukan penapisan fitokimia terhadap ekstrak daun iler menunjukkan bahwa hasil uji tabung positif terhadap keberadaan alkaloid, flavonoid, tannin dan saponin. Flavonoid adalah salah satu senyawa fenolik yang dapat memproteksi sel beta pankreas dari radikal bebas dengan bersifat sebagai antioksidan, selain itu flavonoid mampu menghambat enzim alfa glukosidase yang berfungsi memecah karbohidrat. Penghambatan enzim alfa glukosidase ini menyebabkan penundaan penyerapan glukosa sehingga mampu menurunkan kadar gula dalam darah (Fitrianto dan Priyo, 2010). Khasiat Antioksidan, Antibakteri, Imunomodulator, Antihistamin, Antihelmintik, Mukolitik Cara Pengolahan Obat Batuk dan Demam (Seduhan): Siapkan 5 lembar daun muda dan 15 cm batang atas tanaman iler, lalu cuci bersih. Rebus dengan 300 ml air hingga mendidih. Air rebusan diminum setelah hangat. Obat Batuk Berdahak dan Asma (Perasan): Ambil 7-10 lembar daun miana/iler, cuci bersih. Tumbuk halus daun tersebut Seduh dengan sedikit air panas, lalu saring. Tambahkan madu untuk mengurangi rasa pahit (opsional) lalu minum Daftar Pustaka Alzamani, L. M., Marbun, M. R., Purwanti, M. E., Salsabilla, R., & Rahmah, S. (2022). Ulkus Kronis : Mengenali Ulkus Dekubitus dan Ulkus Diabetikum. Jurnal Nasional Indonesia, 2(02), 272–286. American Diabetes Association. (2018). Standards of medical care in diabetes – 2021 abridged for primary care providers. Clinical Diabetes, 39(1), 14–43. https://doi.org/10.2337/cd21-as01 American Diabetes Association. (2022). Professional Practice Committee: Standards of Medical Care in Diabetes—2022. Diabetes Care, 45(January), S3. https://doi.org/10.2337/dc22-SPPC Anita, Basarang, M., Arisanti, D., Rahmawati, & Fatmawati, A. (2019). Analisis Daya Hambat Esktrak Etanol Daun Miana (Coleus atropurpureus) terhadap Staphylococcus aureus dan Vibrio Cholera. Seminar Nasional Sains, Teknologi, Dan Sosial Humaniora Uit 2019, 1(1), 1–9. Bela, Preyendiswara, A. (2021). Manfaat Dan Budidaya Daun Miana. Universitas Tarumanegara, Jakarta. Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.) Latin Name Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Spermatophyta Class: Dicotylendonae Order: Solanales Family: Lamiaceae Genus: Coleus Species: Plectranthus scutellarioides (L) R. Br (Elfianis, 2021). General Description Coleus plants have many synonyms, such as Coleus atropurpureus Benth, Coleus scutellarioides (L) Benth, Coleus blumei Benth, Solenostemon scutellarioides (L) Codd. Regional names in Indonesia include si gesing (Batak), jawer kotok (Sunda), kentangan (Javanese), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura), and adang-adang (Padang) (Elfanis, 2021). Iler leaves contain various chemical compounds such as essential oils, alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and phenolic/polyphenol derivatives. This is supported by research from Mpila et al., (2012) which stated that iler leaves contain essential oils, saponins, flavonoids, and polyphenols, and so do several subsequent studies. Auliawan et al. (2014) conducted a phytochemical screening on iler leaf extracts and showed that the test tube results were positive for the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. Flavonoids are one type of phenolic compound that can protect pancreatic beta cells from free radicals by acting as antioxidants. Additionally, flavonoids can inhibit the enzyme alpha-glucosidase, which functions to break down carbohydrates. This inhibition of the alpha-glucosidase enzyme delays glucose absorption, which can help lower blood sugar levels (Fitrianto and Priyo, 2010). Benefits Antioxidant, Antibacterial, Immunomodulator, Antihistamine, Antihelminthic, Mucolytic How to Prepare Cough and Fever Remedy (Infusion): Prepare 5 young leaves and 15 cm of the top stem of the iler plant, then wash thoroughly. Boil with 300 ml of water until it boils. Drink the decoction while warm. Remedy for Phlegmy Cough and Asthma (Juice): Take 7-10 leaves of miana/iler, wash thoroughly. Pound the leaves into a fine paste. Steep with a little hot water, then strain. Add honey to reduce the bitterness (optional), then drink. References Alzamani, L. M., Marbun, M. R., Purwanti, M. E., Salsabilla, R., & Rahmah, S. (2022). Chronic Ulcers: Recognizing Decubitus Ulcers and Diabetic Ulcers. Indonesian National Journal, 2(02), 272–286. American Diabetes Association. (2018). Standards of medical care in diabetes – 2021 abridged for primary care providers. Clinical Diabetes, 39(1), 14–43. https://doi.org/10.2337/cd21-as01 American Diabetes Association. (2022). Professional Practice Committee: Standards of Medical Care in Diabetes—2022. Diabetes Care, 45(January), S3. https://doi.org/10.2337/dc22-SPPC Anita, Basarang, M., Arisanti, D., Rahmawati, & Fatmawati, A. (2019). Analysis of the Inhibitory Effect of Ethanol Extract of Miana Leaves (Coleus atropurpureus) on Staphylococcus aureus and Vibrio Cholera. National Seminar on Science, Technology, and Social Humanities Uit 2019, 1(1), 1–9. Bela, Preyendiswara, A. (2021). Benefits and Cultivation of Miana Leaves. Tarumanagara University, Jakarta.

Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br.) Read More »

Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. )

Nama Latin Ruellia napifera Zoll. & Mor.  Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Scrophulariales Famili: Acanthaceae Genus: Ruellia Spesies: Ruellia napifera Zoll. & Mor. \ (A Rozak,2011) Deskripsi Umum Tumbuhan Gempur batu ini merupakan tumbuhan liar yang ada di hutan-hutan, diladang pada tanah agak lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl tumbuhan ini berhabitus semak. Tanaman daun gempur batu adalah salah satu tanaman yang telah lama dikenal sebagai tanaman herbal. Daun berbentuk tombak dan berakar, daun agak kasar terdapat banyak bulu halus di permukaannya, memiliki bunga berukuran kecil-kecil warna-nya putih. Kandungan Bagian  akar  diketahui mengandung  triterpenes  (lupeol),  fitosterol  (sitosterol,  stigmasterol,  dan kampesterol), 2,6-Dimetoksikuinon, dan akasetin, sedangkan pada daun dan bunga telah diisolasi senyawa apigenin-7-â-D-glukoronida. Dari tanaman ini telah pula diisolasi senyawa golongan flavonoid yaitu kirsimaritin, kirsimarin, kirsiol  4’-glikosida,  sorbifolin,  dan  pedalitin. Ruellia   brittoniana telah mengandung  senyawa  2-O-galaktopiranosil  gliserol  heksaasetat.  Tanaman Ruellia   patula mengandung  senyawa  lioniresinol-9-O-â-D-glukopiranosida dan 5,5-dimetoksi. Larisiresinol -9- O -â- glukopiranosida yang merupakan suatu lignan. Khasiat Tanaman gempur batu ini dapat menyembuhkan penyakitkencing batu, sebagai obat batu ginjal, melancarkan buang airkecil, mencegah sembelit, mengatasi sakit kuning, anti tumor, Untuk lebih jelasnyamengatasi wasir, anti tumor, mengobati maag, anti kolesterol, obat mengenai daun gempurdiare, gatal-gatal, baik untuk lambung. Cara Pengolahan Siapkan sekitar 7 lembar daun gempur batu, 30 gram daun semanggi, dan 7 lembar daun kembangbungang. Bersihkan semua daun tersebut dan rebus bersama-samadalam 800cc hingga tersisa setengahnya. Minumlah air rebusantersebut secara teratur 2 kali sehari. Daftar Pustaka Bahriyah, I., Hayati, A., & Zayadi, H. (2015). Etnobotani dan Penggunaan Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.  Departemen Kesehatan RI. (1986). Medical Herb Index in Indonesia. Ningsih, I. Y. (2016). Studi Etnofarmasi Penggunaan Tumbuhan Obat di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.  Putri Citrawati. (n.d.). Khasiat dan Perawatan Gempur Batu.  Repository UGM. (1991). Pengaruh Daun Gempur Watu (Borreria hispida, SCHUM) Terhadap Daya Larut Kalsium Batu Ginjal secara In Vitro. Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. ) Latin Name Ruellia napifera Zoll. & Mor. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Scrophulariales Family: Acanthaceae Genus: Ruellia Species: Ruellia napifera Zoll. & Mor. (A Rozak, 2011) General Description This Gempur Batu plant is a wild plant found in forests and fields on somewhat moist soil at lowlands up to an altitude of 500 m above sea level. The plant has a shrub habit. The leaves of the Gempur Batu plant are spear-shaped and rooted, somewhat coarse with many fine hairs on the surface, and it has small white flowers. Contents The root part is known to contain triterpenes (lupeol), phytosterols (sitosterol, stigmasterol, and campesterol), 2,6-Dimethoxyquinone, and acacetin, while the leaves and flowers have been found to contain apigenin-7-β-D-glucuronide. From this plant, flavonoid compounds such as cirsimaritin, cirsimarin, cirsiol 4’-glucoside, sorbifolin, and pedalitin have also been isolated. Ruellia brittoniana contains 2-O-galactopyranosyl glycerol hexaacetate. Ruellia patula contains lioniresinol-9-O-β-D-glucopyranoside and 5,5-dimethoxylariciresinol-9-O-β-D-glucopyranoside, which is a lignan. Benefits This gempur batu plant can help treat urinary stones and kidney stones, improve urination, prevent constipation, treat jaundice, acts as an anti-tumor, helps with hemorrhoids, treats stomach ulcers, has anti-cholesterol properties, and its leaves can be used for diarrhea, itching, and are good for the stomach. Bibliography Bahriyah, I., Hayati, A., & Zayadi, H. (2015). Ethnobotany and the Use of Medicinal Wild Plants in Guluk-Guluk District, Sumenep Regency, Madura. Indonesian Ministry of Health. (1986). Medical Herb Index in Indonesia. Ningsih, I. Y. (2016). Ethnopharmacology Study on the Use of Medicinal Plants in Guluk-Guluk District, Sumenep Regency, Madura. Putri Citrawati. (n.d.). Benefits and Care of Gempur Batu. UGM Repository. (1991). The Effect of Gempur Watu Leaves (Borreria hispida, SCHUM) on the Solubility of Kidney Stone Calcium In Vitro.

Gempur Batu (Ruellia napifera Zoll. & Mor. ) Read More »

Karuk (Piper sarmentosum Roxb.)

Nama Latin Piper sarmentosum Roxb. Taksonomi (IPNI, 2024) Definisi Umum Daun karuk, atau dikenal juga sebagai Piper sarmentosum, adalah tanaman herbal yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Selain populer sebagai penyedap rasa dalam masakan, daun ini juga sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Kandungan Daun karuk kaya akan berbagai zat aktif dan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan, antara lain: Kandungan ini menjadikan daun karuk memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, serta antimikroba yang kuat. Khasiat Daun karuk memiliki berbagai manfaat kesehatan yang telah dikenal baik melalui penelitian maupun penggunaan tradisional. Tanaman ini dapat membantu meredakan gangguan pencernaan seperti perut kembung dan diare ringan karena kandungan senyawa aktifnya yang menenangkan saluran cerna. Selain itu, daun karuk juga bermanfaat dalam meredakan batuk dan pilek berkat sifat antimikroba dan antiinflamasinya, sehingga mampu melegakan tenggorokan serta membantu mengeluarkan dahak sebagai ekspektoran alami. Kandungan antioksidannya turut berperan dalam mempercepat penyembuhan luka ringan dengan mendukung regenerasi jaringan dan melindungi sel dari kerusakan. Rebusan daun karuk juga dikenal memiliki efek antipiretik alami yang dapat membantu menurunkan demam. Bahkan, beberapa studi awal menunjukkan potensi daun karuk dalam mencegah kanker, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat tersebut secara ilmiah. Cara Pengolahan Teh Daun Karuk 5–7 lembar daun karuk segar, 2 gelas air. Rebus daun karuk dalam air hingga mendidih. Saring dan minum selagi hangat. Kamu bisa menambahkan sedikit madu atau perasan lemon untuk meningkatkan rasa sekaligus manfaat kesehatannya. Daftar Pustaka IPNI. (2024). International Plant Names Index. Dipublikasikan secara online di http://www.ipni.org. The Royal Botanic Gardens, Kew; Harvard University Herbaria & Libraries; dan Australian National Herbarium. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pedoman Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Medical News Today. (2025). The Health Benefits of Piper sarmentosum. World Health Organization (WHO). (2025). Traditional Medicine.

Karuk (Piper sarmentosum Roxb.) Read More »

Scroll to Top