Nama Latin
Sauropus androgynus (L.) Merr.
Taksonomi
- Kingdom : Euphorbiaceae
- Subkingdom : Phyllanthoideae, Phyllant
- Superdivision : Spermatophyta
- Division : Angiospermae
- Class : Dicotyledoneae
- Subclass : Rosidae
- Order : Euphor
- Family : Euphorbiaceae
- Genus : Sauropus
(Santoso, 2013)
Definisi Umum
Daun katuk adalah daun yang berasal dari tanaman Sauropus androgynus, yaitu tumbuhan perdu dari famili Euphorbiaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Secara umum, daun katuk didefinisikan sebagai bahan pangan sekaligus tanaman obat yang memiliki daun kecil berbentuk oval, berwarna hijau, dan tersusun rapi pada batang. Daun ini sering dimanfaatkan sebagai sayuran serta dikenal memiliki kandungan gizi tinggi. Selain sebagai makanan, daun katuk juga dikenal dalam pengobatan tradisional.
Kandungan
Senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol 90% daun
katuk yaitu berupa golongan senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin,
polifenol, glikosida, dan flavonoid.
Khasiat
Daun katuk memiliki khasiat sebagai antioksidan yang kuat, sebagai afrodisiaka, dan meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Serta memiliki daya hambat sebagai antibakteri, sebagai antikolesterol, dan antiobesitas.
Cara Pengolahan
- Sebagai Sayur (direbus/ditumis)
- Petik daun katuk yang masih muda.
- Cuci bersih dengan air mengalir.
- Rebus sebentar (±2–3 menit) atau tumis dengan bumbu (bawang putih, bawang merah).
- Bisa ditambahkan ke dalam sayur bening, sayur bobor, atau tumisan.
- Dibuat Rebusan (Air Herbal)
- Ambil segenggam daun katuk segar.
- Cuci bersih, lalu rebus dengan 2–3 gelas air.
- Rebus hingga tersisa sekitar 1 gelas.
- Saring dan minum airnya.
- Lalapan (dikukus ringan)
- Cuci daun katuk.
- Kukus sebentar agar lebih lunak.
- Sajikan sebagai lalapan dengan sambal.
- Dibuat Jus
- Cuci bersih daun katuk.
- Blender dengan air matang secukupnya.
- Bisa ditambahkan madu atau buah (misalnya apel) agar rasanya lebih enak.
- Saring sebelum diminum.
Daftar Pustaka
Andini, R. (2014). Uji efek afrodisiaka ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Skripsi. Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia.
Mulyani, S., dkk. (2017). Aktivitas antibakteri ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 4(2), 45–52.
Patonah, dkk. (2017). Uji aktivitas antiobesitas ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Gizi dan Pangan, 12(3), 123–130.
Sa’roni, dkk. (2004). Effectiveness of Sauropus androgynus (L.) Merr. leaf extract in increasing breast milk production. Media Litbang Kesehatan, 14(3), 20–24.
Santoso, B. (2013). Taksonomi dan morfologi tanaman obat Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya.
Susanti, N., dkk. (2014). Analisis kandungan senyawa kimia ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Kimia Farmasi, 6(1), 1–7.
Warditiani, N.K. (2015). Uji aktivitas antikolesterol ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Farmasi Udayana, 4(1), 30–36.
Zahra, F., dkk. (2008). Aktivitas antioksidan ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 13(2), 67–72.

