naturindofresh

Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)

Nama Latin Excoecaria cochinchinensis Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Excoecaria Spesies: Excoecaria cochinchinensis Lour. (Plantamor.com) Definisi Umum Sambang darah dengan nama lokal daun remek daging (Jateng), ki sambaing memiliki ciri Tanaman tegak tanaman hingga 200 centimeter dengan percabangan banyak dan getah berwarna putih. Bentuk daun berhelai lancip, dengan tangkai bercabang kayu. Warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap. Kandungan Sambang darah dengan nama lokal daun remek daging (Jateng), ki sambaing memiliki ciri Tanaman tegak tanaman hingga 200 centimeter dengan percabangan banyak dan getah berwarna putih. Bentuk daun berhelai lancip, dengan tangkai bercabang kayu. Warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap. Khasiat Obat disentri, muntah dan batuk darah, pendarahan setelah melahirkan ataupun keguguran, obat penyakit kulit. Cara Pengolahan Berikut cara pengolahan sambang darah untuk obat: Pemanfaatan Dalam (Diminum/Rebusan) diolah dengan cara rebus 10-15 lembar daun segar atau cuci bersih ranting kering sepanjang satu jari, rebus dalam 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Air rebusan daunnya dapat dikonsumsi setiap pagi dan sore hari. Pemanfaatan Luar (Obat Oles) dapat diolah dengan cara Giling atau tumbuk daun segar sampai halus, lalu lumurkan pada bagian tubuh yang terluka atau gatal. Selanjutnya dapat diolah dengan melalui proses pengeringan dimana daun sambang darah bisa dikeringkan terlebih dahulu untuk digunakan sebagai bahan teh herbal atau rebusan. Daftar Pustaka Aminah, dkk. 2022. Formulasi Sediaan Serbuk Perona Pipi Ekstrak Daun Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis) sebagai Pewarna Alami. Jurnal Farmasi. Vol 5(1).

Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis) Read More »

Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.)

Nama Latin Pimpinella pruatjan Molk. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Pimpinela Spesies: Pimpinella pruatjan Molk. (Plantamor.com) Definisi Umum Purwoceng merupakan tumbuhan menahun dari famili Apiaceae (suku adas-adasan). Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Pimpinella pruatjan ini berasal dari bioma pegunungan tropis di wilayah Jawa. Di Indonesia purwoceng memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya purwaceng (Jawa), atau antanan gunung (Sunda). Nama ilmiah Pimpinella pruatjan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1851. Kandungan Purwoceng mengandung beberapa zat kimia seperti steroid, minyak atsiri, furanocoumarin, vitamin dan flavonoid pada bagian daun dan akarnya. Khasiat Purwoceng juga mengandung flavonoid yang berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas dan vitamin E yang dterdapat pada tajuk tanaman. Bergapten yang berfungsi sebagai peningkatan vitalitas tubuh manusia. Purwoceng juga mempunyai khasiat sebagai obat analgetik atau menghilangkan rasa sakit, antipiretika sebagai menurunkan panas, obat cacing, antifungi, antibakteri dan anti kanker. Cara Pengolahan Untuk keperluan obat tradisional purwaceng yang diambil adalah pohon beserta akarnya lalu dicuci bersih. Sesudah itu dijemur hingga kering. Pohon purwaceng yang sudah kering akar dan batangnya akan terpisah dari daunnya. Daun purwaceng inilah yang kemudian dimasak hingga menyerupai teh. Penyajiannya juga seperti menyeduh teh. Daftar Pustaka Hmad.F.A., dkk. 2024. Manfaat Zat Aktif Purwoceng (Pinpinella pruatjan) sebagai Afrodisiak, Antioksidan, Pemacu Organogenesis, dan Antibakteri. Jurnal Syifa’ Medika. Vol 14(2).

Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) Read More »

Pule (Alstonia scholaris L.)

Nama Latin Alstonia scholaris (L.) Taksonomi Menurut Wattimena (2022) kedudukan taksonomi tanaman pule adalah sebagai berikut: Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Classis : Dicotyledoneae Sub classis : Sympetalae Ordos : Contortae (Apocynales) Familia : Apocynaceae Genus : Alstonia Spesies : Alstonia scholaris (L.) Definisi Umum Pule merupakan tanaman budidaya yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Pule memiliki nama daerah, Sumatera: Pulai, kayu gabus (Melayu), Jawa: Lame (Sunda), pule (Jawa), polau (Madura), Maluku: Kaliti, reareangou, baringao, kita raringau, wariangou, deddeangou (Alf. Minahasa), rite (Ambon), tewer (banda), hange (Ternate), Kalimantan: Hanjalutung, Irian: Aliag, Indonesia: Pule (Depkes RI, 1980). Pule (Alstonia scholaris L.) adalah pohon cemara besar yang ditopang, tingginya mencapai 6-10m, memiliki tekstur kulit kayu kasar berwarna abu-abu putih, bagian dalam kekuningan danmengeluarkan getah pahitsaat terluka (Khyade dkk., 2014). Kandungan Tanaman pule memiliki kandungan senyawa saponin, flavonoid, alkaloid, tanin, polifenol, terpenoid, dan steroid. Khasiat Tanaman pule ini dapat dimanfaatkan sebagai obat penurun kolesterol dan anti kanker, sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, dan agregasi trombosit. Cara Pengolahan Tanaman pule dapat diolah menjadi obat tradisional dengan cara direbus untuk diambil air rebusannya ataupun dikeringkan menjadi bentuk seperti teh yang kemudian dapat diseduh untuk diminum. Daftar Pustaka DESI PALUPI, NIKEN (2023) PARAMETER NON SPESIFIK SIMPLISIA SERBUK DAUN PULE (Alstonia scholaris L.). Diploma thesis, POLITEKNIK KESEHATAN PUTRA INDONESIA MALANG.

Pule (Alstonia scholaris L.) Read More »

Jarak Pagar (Jatropha curcas)

Nama Latin Jatropha curcas Taksonomi Tanaman jarak pagarmenpunyai nama latin Jatropha curcas (Henning, 2005). Klasifikasinya adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisio : Spermatophyta Divisio : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae) Subkelas : Rosidae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Jatropha Spesies : Jatropha curcas L. (Heyne, 1987 dalam Sarimole E, dkk. 2014) Definisi Umum Jarak (Jatropha curcas L.) yang sering disebut jarak pagar termasuk ke dalam famili Euphorbiaceae. Di Indonesia terdapat berbagai jenis tanaman jarak, antara lain jarak kepyar (Ricinus communis L.), jarak ulung (J. gossypifoli L.), jarak Bali (J. podagrica H.), dan jarak pagar (J. curcas L.). Pohon jarak dapat tumbuh pada semua jenis tanah, di lahan yang tidak digenangi air, merupakan tempat yang cocok bagi tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal (Zainal, 2007). Jarak pagar merupakan tanaman asli Amerika Latin yang kemudian menyebar luas di daerah kering, semi kering, sub-tropik, dan tropik di seluruh dunia (Heller, 1996). Tanaman jarak pagar mulai banyak ditanam di Indonesia sejak masa penjajahan Jepang sebagai bahan bakar kendaraan perang. Tanaman jarak pagar banyak ditanam masyarakat sebagai pagar pekarangan dan cocok untuk reboisasi hutan (Nurcholis & Sumarsih, 2007). Kandungan mengandung minyak, senyawa fenol, flavonid, saponin, dan senyawa alkaloid. Bagian-bagian umum digunakan yaitu daun, buah, biji, dan getah. Khasiat Jenis penyakit yang dapat disembuhkan adalah keputihan, radang telinga, sakit gigi, sariawan, perut kembung-masuk angin, sembelit, jamur, gatal-gatal, bengkak, luka, pendarahan, rematik, batuk, serta bermanfaat pula sebagai peluruh dahak. Getah : sebagai pengobatan keputihan (khusus pada bayi), radang telinga, dan sakit gigi. Daun : mengatasi perut kembung, sembelit, rematik, gatal kaki, dan cacaing kerami pada anak-anak. Biji : mengatasi Jamur, gatal, infeksi luka, bengkak, luka, pendarahan, batuk dan peluruh dahak. Cara Pengolahan Tanaman jarak pagar dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Tanaman tersebut dapat diolah dengan cara ditumbuh menjadi pasta, direbus, ataupun diambil getahnya untuk obat luar. Daftar Pustaka Sarimole E., Martosupono M., Semangun H., C. Mangimbulude J. 2014. Manfaat Jarak Pagar (Jatropha curcas) sebagai Obat Tradisional. Prosiding Seminar Nasional Raja Ampat. Riani. 2018. Perbandingan Efektivitas Daun Jarak + Minyak Kayu Putih dengan Daun Jarak Pagar Tanpa Minyak Kayu Putih pda Bayi 0-2 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang Kota Tahun 2017/2018. Jurnal Ners. Vol 2(2).

Jarak Pagar (Jatropha curcas) Read More »

Jarak wulung (Jatropha gossypifolia L.)

Nama Latin Jatropha gossypifolia L Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil) Ordo: Malpighiales (beberapa sumber menyebut Euphorbiales) Famili: Euphorbiaceae Genus: Jatropha Spesies: Jatropha gossypifolia L. (Indonetwork.id) Definisi Umum Jarak wulung atau jarak merah (Jatropha gossypifolia L.) adalah tanaman perdu berkhasiat obat dari famili Euphorbiaceae yang sering tumbuh liar di daerah tropis, dikenal dengan daun berwarna ungu kemerahan saat muda dan tangkai berbulu. Tanaman ini kaya manfaat sebagai obat tradisional (kulit, daun, getah) dan penyerap polutan. Meskipun jarak ulung dapat berbahaya jika tidak digunakan dengan benar, karena bijinya beracun, banyak orang menggunakan bagian tertentu dari tanaman ini untuk tujuan medis, seperti daun dan akar. Kandungan Jarak wulung mengandung sifat laktassif, antipiretik, analgesik, antiinflamasi, antiseptik, dan vasodilatasi yang dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Khasiat Daun dan akar jarak wulung dapat mengatasi sembelit, perut kembung, dan diare, menurunkan demam, meredakan nyeri dan peradangan serta menyembuhkan luka dan permasalahan kulit. Selain itu, jarak ulung juga dapat mengurangi tekanan darah dan mengatasi gangguan pernafasan. Cara Pengolahan Jarak wulung dapat diolah menjadi obat tradisional dengn cara merebus daunnya untuk diaambil air rebusannya, dijadikan minyak, serta daunnya digunakan langsung untuk kompres. Daftar Pustaka [PUSKESMAS]. 2025. Manfaat Jarak Ulung untuk Kesehatan. Artikel Kesehatan. Puskesmas meninting.

Jarak wulung (Jatropha gossypifolia L.) Read More »

Prasman (Eupatorium triplinerve Vahl.)

Nama Latin Eupatorium triplinerve Vahl. Taksonomi Kingdom : Plantae Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub kelas : Asteridae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Eupatorium Spesies : Eupatorium triplinerve Vahl Definisi Umum Tanaman prasman adalah taaman yang ditemukan tumbuh liar di daerah Amazon. Tanaman ini telah lama dibawa ke Jawa, tumbuh liar di daerah berbukit dan pegunungan rendah sampai dengan ketinggian 1600 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh baik di tempat terbuka maupun di tempat terlindung. Sering di tanam sebagai tanaman obat maupun penutup tanah pada perkebunan karet atau teh untuk mencegah erosi. Kandungan Ekstrak daun prasman dapat bekerja sebagai antiulcer karena memiliki aktivitas radical scavenging (antioksidan). (Manigandan, 2013). Terdapat juga kandungan senyawa-senyawa yang berkhasiat sebagai antibakteri seperti flavonoid, saponin dan alkaloid. (Wangkanusa et al, 2016). Khasiat Prasman dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan diare kronis, sariawan, haid tidak teratur, busung air, dan demam. Cara Pengolahan Pengolahan daun prasman untuk dijadikan ramuan obat tradisional sangatlah praktis, hanya dengan merebus daun prasman untuk diambil air rebusannya ataupun daunnya bisa dikeringkan yang kemudian nantinya dapat diseduh seperti teh. Daftar Pustaka Arifiani. R. A., dan Fadila. F. N. 2018. Tugas Akhir Botani Farmasi II Review Simplisia Terstandar dan Pemanfaatan Tanaman Prasman (Eupatorium triplinerve Vahl.). Tugas Akhir Botani Farmasi II. Fakultas Farmasi. Universitas Airlangga.

Prasman (Eupatorium triplinerve Vahl.) Read More »

Pohon Yodium (Jatropha multifida L.)

Nama Latin Jatropha multifida L. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Jatropha                           Spesies: Jatropha multifida L. (Plantamor.com) Definisi Jarak tintir attau pohon yodium merupakan tumbuhan berbentuk perdu atau pohon dari famili Euphorbiaceae (suku kastuba-kastubaan). Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Jatropha multifida ini berasal dari bioma beriklim tropis kering di wilayah Meksiko, Karibia. Di Indonesia jarak tintir memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya jarak cina (Jawa), atau jarak gurita (Sunda). Nama ilmiah Jatropha multifida pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum tahun 1753. Pohon yodium (Jatropha multifida L.) atau jarak tintir adalah tanaman perdu dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari Meksiko dan Karibia, dikenal luas sebagai tanaman obat antiseptik luka luar. Tanaman ini berciri getah putih, daun menjari, dan bunga merah cerah, sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati luka sayat, gores, atau infeksi kulit ringan. Kandungan Terdapat beberapa senyawa yang terkandung pada tanaman pohon yodium. Senyawa aktif tanaman ini antara lain tanin, saponin, flavonoid dan fenol. Khasiat Getah dan daun : luka baka, pengobatan infeksi luka pada kulit atau lidah bayi. Biji dan Minyak : obat pencahar, mengobati kerusakan gigi dan mengobati luka berdarah. Cara Pengolahan Pohon yodium merupakan tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Cara pengolahannya pun untuk bagian getah tanaman dapat digunakan dengan diteteskan langsung pada bagia yang terluka, sedangkan untuk bagian daun dapat digunakan dengan cara dilakukan perebusan terlebih dahulu ataupun dihaluskan untuk dijadikan obat oles. Daftar Pustaka Aryantini. D., Sari. E. A., Nanda. D. 2021. Karakter Spesifik Ekstrak Daun Yodium (Japtropha multifida L.) dari Tiga Lokasi Tempat Tumbuh di Jawa Timur. Journal of Pharmacy Science and Technology. Vol 2(2).

Pohon Yodium (Jatropha multifida L.) Read More »

Kwalot (Brucea javanica (L.) Merr.)

Nama Latin Brucea javanica (L.) Merr. Taksonomi (POWO, 2024) Definisi Umum Kwalot merupakan tanaman perdu atau semak yang banyak tumbuh di wilayah tropis Asia, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki daun majemuk dan buah kecil berwarna hitam saat matang. Dalam pengobatan tradisional, biji dan bagian lain tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai bahan herbal karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Tanaman ini dikenal pahit dan telah lama digunakan dalam ramuan tradisional di beberapa daerah. Kandungan Kwalot mengandung berbagai senyawa aktif seperti alkaloid, quassinoid, flavonoid, triterpenoid, dan saponin. Kandungan quassinoid merupakan senyawa utama yang banyak diteliti karena memiliki aktivitas biologis tertentu. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa fenolik dan antioksidan alami yang berperan dalam aktivitas farmakologisnya. Khasiat Secara tradisional, kwalot dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tubuh dan membantu meredakan beberapa gangguan kesehatan ringan. Tanaman ini dipercaya memiliki aktivitas antimikroba, membantu mengurangi peradangan, serta membantu melindungi tubuh dari radikal bebas berkat kandungan antioksidannya. Selain itu, tanaman ini juga dipercaya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, membantu menurunkan kadar gula darah dan kolesterol, membantu mengatasi anemia, menjaga kesehatan mata dan kulit, serta membantu memperlancar produksi ASI. Dalam pengobatan tradisional tertentu, bijinya digunakan sebagai ramuan herbal pendukung kesehatan karena kandungan senyawa aktif di dalamnya. Cara Pengolahan Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2006). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Puspa Swara. Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB Press. IPNI (2024). International Plant Names Index. Published on the Internet. The Royal Botanic Gardens, Kew, Harvard University Herbaria & Libraries, and Australian National Herbarium. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. POWO (2024). Plants of the World Online. Facilitated by the Royal Botanic Gardens, Kew.

Kwalot (Brucea javanica (L.) Merr.) Read More »

Kitolod (Hippobroma longiflora)

Nama Latin Hippobroma longiflora. Taksonomi (IPNI, 2024) Definisi Umum Kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G.Don) merupakan tanaman herbal yang banyak tumbuh di daerah tropis dan sering ditemukan liar di pekarangan atau tepi jalan. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih berbentuk bintang dengan daun hijau memanjang bergerigi. Kitolod dikenal dalam pengobatan tradisional karena dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama untuk pengobatan luar. Namun, tanaman ini juga mengandung getah yang dapat bersifat iritatif sehingga penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati. Kandungan itolod mengandung berbagai senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan polifenol. Tanaman ini juga memiliki kandungan senyawa lobelin yang termasuk kelompok alkaloid dan diketahui memiliki aktivitas biologis tertentu. Selain itu, kitolod mengandung antioksidan alami yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Khasiat Kitolod secara tradisional digunakan untuk membantu meredakan iritasi ringan dan menjaga kesehatan mata, meskipun penggunaannya harus sangat berhati-hati. Selain itu, tanaman ini juga dipercaya membantu mengurangi peradangan, membantu meredakan nyeri ringan, serta dimanfaatkan sebagai obat luar tradisional untuk beberapa gangguan kulit. Kandungan flavonoid dan antioksidannya juga berpotensi membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Cara Pengolahan Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2006). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Puspa Swara. Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB Press. IPNI (2024). International Plant Names Index. Published on the Internet. The Royal Botanic Gardens, Kew, Harvard University Herbaria & Libraries, and Australian National Herbarium. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. POWO (2024). Plants of the World Online. Facilitated by the Royal Botanic Gardens, Kew.

Kitolod (Hippobroma longiflora) Read More »

Kelor (Moringa oleifera.)

Nama Latin Moringa oleifera. Taksonomi (POWO, 2024) Definisi Umum Kelor (Moringa oleifera Lam.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di wilayah Asia, termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman multiguna karena hampir seluruh bagian tanaman, seperti daun, biji, bunga, dan akarnya dapat dimanfaatkan. Daun kelor banyak digunakan sebagai bahan pangan dan obat tradisional karena kaya akan nutrisi serta senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, kelor juga sering dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan pakan ternak. Kandungan Daun kelor mengandung berbagai zat gizi dan senyawa aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Kelor kaya akan vitamin A, vitamin C, vitamin E, serta mineral seperti kalsium, kalium, dan zat besi. Selain itu, tanaman ini juga mengandung protein, flavonoid, saponin, tanin, dan antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Kandungan senyawa fenolik pada kelor juga berperan dalam berbagai aktivitas biologis tanaman ini. Khasiat elor dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Daun kelor dipercaya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, membantu memenuhi kebutuhan gizi, serta membantu menangkal radikal bebas berkat kandungan antioksidannya. Selain itu, kelor juga sering dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan mata, membantu meningkatkan produksi ASI, serta membantu menjaga kadar gula darah dan kolesterol tetap stabil. Dalam pengobatan tradisional, daun kelor juga digunakan untuk membantu meredakan peradangan dan menjaga kesehatan kulit. Cara Pengolahan Daun kelor biasanya dipanen dalam kondisi segar kemudian dicuci bersih sebelum diolah. Daun muda dapat dimasak sebagai sayur bening, ditumis, atau dicampurkan ke dalam makanan lain. Selain dikonsumsi segar, daun kelor juga sering dikeringkan lalu dihaluskan menjadi bubuk yang dapat dicampurkan ke dalam minuman atau makanan sebagai suplemen alami. Biji kelor dapat dimanfaatkan untuk minyak herbal, sedangkan bagian bunga terkadang diolah sebagai bahan pangan tradisional. Daftar Pustaka Anwar, F., Latif, S., Ashraf, M., & Gilani, A.H. (2007). Moringa oleifera: A Food Plant with Multiple Medicinal Uses. Phytotherapy Research. IPNI (2024). International Plant Names Index. Published on the Internet. The Royal Botanic Gardens, Kew, Harvard University Herbaria & Libraries, and Australian National Herbarium. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. Leone, A., Spada, A., Battezzati, A., et al. (2015). Cultivation, Genetic, Ethnopharmacology, Phytochemistry and Pharmacology of Moringa oleifera Leaves: An Overview. International Journal of Molecular Sciences. POWO (2024). Plants of the World Online. Facilitated by the Royal Botanic Gardens, Kew.

Kelor (Moringa oleifera.) Read More »

Scroll to Top