naturindofresh

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl)

Nama Latin Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malvales Famili : Thymelaeaceae Genus : Phaleria Spesies : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl (Meiyanti, 2022) Definisi Umum Phaleria macrocarpa yang dikenal dengan nama mahkota dewa merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Thymelaeaceae dan cukup populer di Indonesia sebagai tanaman obat. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di wilayah Pulau New Guinea. Mahkota dewa merupakan tanaman yang memiliki bagian lengkap seperti batang, daun, bunga, dan buah. Tinggi tanaman ini bervariasi, mulai dari sekitar 1 meter hingga mencapai 18 meter, dengan panjang akar kurang lebih 1 meter. Kulit batangnya berwarna coklat kehijauan, sedangkan bagian kayunya berwarna putih. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk meruncing, dengan ukuran panjang sekitar 7–10 cm dan lebar 3–5 cm. Bunganya memiliki 2–4 kelopak dengan warna yang bervariasi, mulai dari hijau hingga merah marun. Buah mahkota dewa berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi merah saat telah matang. Setiap buah biasanya mengandung 1–2 biji yang berwarna coklat, berbentuk lonjong, dan memiliki tipe anatrop. Tanaman ini sering digunakan dalam pengobatan herbal karena mengandung berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Kandungan Manfaat tanaman mahkota dewa sebagai obat berkaitan erat dengan kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalamnya. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif seperti mineral, vitamin C, vitamin E, alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin. Khasiat Senyawa alkaloid berperan dalam proses detoksifikasi dengan cara membantu menetralkan racun di dalam tubuh. Saponin memiliki aktivitas sebagai antibakteri dan antivirus, serta dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas, sedangkan polifenol berperan sebagai antihistamin. Selain itu, tanaman mahkota dewa juga dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, batu ginjal, dan diare. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai minuman teh fungsional serta sebagai suplemen alami untuk membantu meningkatkan stamina tubuh. Cara Pengolahan a. Ambil buah mahkota dewa yang matang b. Cuci bersih dan iris tipis c. Rebus sekitar 3-5 irisan dengan 2-3 gelas air d. Rebus hingga tersisa kurang lebih 1 gelas e. saring dan minum setelah dingin DAFTAR PUSTAKA Kurang, R. Y., & Malaipada, N. A. (2021). Uji fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Sebatik, 25(2), 767-772. Santoso, F. J. P., & Rangka, F. M. (2025). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Pro-Life, 12(2), 143-156. Kalusalingam, A., Kamal, K., Khan, A., Menon, B., Tan, C. S., Narayanan, V., … & Ming, L. C. (2024). Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. in Ethnopharmacology: Pharmacognosy, Safety, and Drug Development Perspectives. Progress In Microbes & Molecular Biology, 7(1). Meiyanti,  Margo E., Merijanti L., Chudri J., Yohana (2022). Efek Hipoglikemik dan Antioksidan Phaleria macrocarpa (Sheff.) Boerl. Buku 978-623-285-781-0. Yayasan Barcode. Makassar.

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) Read More »

Asparagus (Asparagus officinalis)

Nama Latin Asparagus Officinalis Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi      : Magnoliophyta (Angiospermae) Kelas      : Liliopsida (Monokotil) Ordo       : Asparagales Famili     : Asparagaceae Genus     : Asparagus Spesies   : Asparagus officinalis L (Putri, 2024) Definisi Umum Asparagus (Asparagus officinalis L.) merupakan tanaman herba tahunan yang berasal dari wilayah Mediterania dan Asia Kecil dan dimanfaatkan bagian batang mudanya sebagai bahan pangan. Tanaman ini dikenal memiliki nilai gizi tinggi karena rendah kalori, kaya serat, serta mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti vitamin, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat bagi kesehatan (He et al., 2024). Asparagus memiliki sistem perakaran rimpang yang bersifat permanen sehingga mampu menghasilkan tunas secara berulang dalam satu periode tanam yang panjang. Pertumbuhan asparagus sangat berkaitan dengan proses pemanjangan sel batang yang dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis, metabolisme gula, serta keseimbangan hormon tanaman, yang secara langsung memengaruhi kualitas tunas dan hasil produksi. Karakteristik tersebut menjadikan asparagus sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan prospek pengembangan yang baik, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar pangan segar dan olahan Kandungan Tanaman asparagus (Asparagus officinalis L.) memiliki berbagai kandungan gizi dan senyawa alami yang bermanfaat, baik bagi pertumbuhan tanaman maupun bagi kesehatan manusia. Bagian batang asparagus, terutama tunas mudanya, merupakan bagian yang paling sering dikonsumsi karena mengandung kadar air yang tinggi, kaya serat, dan rendah kalori, sehingga baik untuk kesehatan pencernaan serta membantu menjaga berat badan. Batang asparagus juga kaya akan vitamin seperti vitamin A, C, E, K, serta vitamin B kompleks, terutama asam folat, yang berperan penting dalam proses metabolisme dan pembentukan sel darah merah. Selain itu, asparagus mengandung mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang, fungsi otot, serta keseimbangan cairan tubuh. Menurut Shahrajabian et al. (2020), asparagus mengandung berbagai senyawa fitokimia, antara lain flavonoid, polifenol, dan saponin, yang memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi melindungi tubuh dari stres oksidatif. Sementara itu, bagian akar asparagus yang berbentuk rimpang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan berupa karbohidrat kompleks seperti fruktan dan inulin. Senyawa inulin dikenal berperan sebagai prebiotik yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan (Shahrajabian et al., 2020). Dengan kandungan tersebut, asparagus tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tetapi juga berperan sebagai sayuran fungsional yang mendukung kesehatan tubuh secara alami. Khasiat Kandungan serat pada asparagus membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan berpotensi menurunkan risiko kanker usus besar, karena konsumsi serat yang cukup dapat melindungi usus dari gangguan kesehatan. Asparagus tergolong rendah kalori, mengandung banyak air, dan kaya serat, sehingga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung program pengendalian berat badan. Kandungan asam amino asparagine pada asparagus membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan dan garam, sehingga dapat mencegah infeksi saluran kemih dan menjaga fungsi kandung kemih. Vitamin E yang terkandung dalam asparagus berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan vitamin B6 dan asam folat pada asparagus dipercaya berperan dalam menjaga suasana hati dan mendukung fungsi saraf. Asparagus memiliki indeks glikemik rendah serta mengandung karbohidrat kompleks dan serat, sehingga membantu mencegah lonjakan gula darah dan menjaga kestabilannya. Cara Pengolahan Asparagus banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk sayuran segar maupun olahan. Tunas muda asparagus dapat direbus, dikukus, ditumis, atau dipanggang, serta digunakan sebagai campuran sup, salad, pasta, dan omelet. Selain itu, asparagus juga diolah menjadi produk kaleng, acar, dan asparagus beku untuk memperpanjang masa simpan. Kandungan serat yang tinggi dan kalori yang rendah menjadikan asparagus cocok dikonsumsi sebagai menu diet dan pangan fungsional (Shahrajabian et al., 2020). Selain sebagai bahan pangan, asparagus juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Bagian akar atau rimpang asparagus secara tradisional digunakan sebagai ramuan herbal yang berfungsi sebagai diuretik alami untuk membantu melancarkan buang air kecil dan menjaga kesehatan saluran kemih. Pemanfaatan ini umumnya dilakukan dengan cara merebus akar atau rimpang asparagus dalam air, kemudian air rebusannya diminum sebagai ramuan herbal. Selain direbus, akar asparagus juga dapat dikeringkan dan dihaluskan menjadi serbuk, kemudian diseduh dengan air hangat atau dicampurkan ke dalam minuman herbal lain untuk memudahkan konsumsi. Kandungan inulin pada asparagus berperan sebagai prebiotik yang mendukung kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa bioaktif seperti saponin dan flavonoid berpotensi membantu proses detoksifikasi tubuh dengan mengeluarkan kelebihan cairan dan zat sisa metabolisme melalui urin (Shahrajabian et al., 2020). Asparagus dapat diolah lebih lanjut melalui proses ekstraksi untuk menghasilkan ekstrak cair atau serbuk yang digunakan dalam produk suplemen kesehatan. Ekstrak asparagus diketahui mengandung senyawa antioksidan dan fitokimia yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh, sehingga banyak dikembangkan dalam produk pangan fungsional, kapsul herbal, dan minuman kesehatan (Shahrajabian et al., 2020). Kandungan antioksidan dalam asparagus, seperti polifenol dan flavonoid, dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit untuk membantu melindungi sel kulit dari radikal bebas dan memperlambat proses penuaan dini. Oleh karena itu, asparagus berpotensi digunakan sebagai bahan alami dalam industri kosmetik. Daftar Pustaka Gibson, G. R., Hutkins, R., Sanders, M. E., Prescott, S. L., Reimer, R. A., Salminen, S. J., Scott, K., Stanton, C., Swanson, K. S., Cani, P. D., Verbeke, K., & Reid, G. (2017). The International Scientific Association For Probiotics and Prebiotics (ISAPP) Consensus Statement On The Definition And Scope Of Prebiotics. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 14, 491–502. He, M., Chen, P., Li, M., Lei, F., Lu, W., Jiang, C., & Zheng, Y. (2024). Physiological And Transcriptome Analysis Of Changes In Endogenous Hormone And Sugar Content During The Formation Of Tender Asparagus Stems. BMC Plant Biology, 24(1), 581. Putri, N. I., Dwiputri, N. T., & Supriyatna, A. (2024). Inventarisasi Tiga Jenis Famili Tumbuhan Berberda di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Polygon: Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(4), 49-58. Shahrajabian, M. H., Sun, W., & Cheng, Q. (2020). A Review Of Asparagus (Asparagus officinalis L.) And Its Nutritional And Medicinal Values. Notulae Scientia Biologicae, 12(4), 801–812. Slavin, J. L. (2013). Dietary Fiber And Body Weight. Nutrition, 29(1), 14–18. Willett, W. C., & Stampfer, M. J. (2013). Current Evidence On Healthy Hating. Annual Review of Public Health, 34, 77–95. Asparagus (asparagus officinalis)Latin Name Asparagus Officinalis Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta (Angiosperms) Class: Liliopsida (Monocots) Order: Asparagales Family: Asparagaceae Genus: Asparagus Species: Asparagus officinalis

Asparagus (Asparagus officinalis) Read More »

Dewandaru (Eugenia uniflora L.)

Nama Latin  Eugenia uniflora L Taksonomi Kingdom: Plantae   Divisi: Spermatophyta                                  Sub Divisi: Angiospermae                                             Ordo: Myrtales                                        Famili: Myrtaceae                            Genus: Eugenia                                      Spesies: Eugenia uniflora (Sinaga ,2025) Definisi Umum Dewandaru merupakan salah satu jenis koleksi tumbuhan di Kebun Raya Purwodadi Tumbuhan yang termasuk dalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae) dengan nama ilmiah Eugenia uniflora L. Mengutip data The Plant List (2013), tumbuhan ini memiliki 46 nama sinonim. Berdasarkan Verheij & Coronel (1992), habitus tumbuhan ini berupa semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 7 meter. Cabang menyebar, ramping, dan terkadang melekuk. Permukaan batang halus dan kulit batang mengelupas. Daun tunggal berbentuk bulat telur sungsang, bagian pangkal membulat atau sedikit terbilah, ujung meruncing dan tumpul, permukaan halus, mengkilat. Warna daun cokelat kemerahan saat masih muda dan berubah menjadi hijau gelap ketika tua. Saat musim dingin atau kering, daun akan berwarna merah. Bunga wangi, terdiri atas 1-4 bunga yang menyatu di ketiak daun, berwarna putih krem, dan berdiameter sekitar 1 cm. Kelopak bunga berbentuk tabung dengan 8 rusuk dan 4 lekukan. Mahkota bunga berwarna putih dan panjang 7-11 mm. Jumlah benang sari sekitar 50-60 helai. Buah menggantung, berbentuk bulat pipih dan terdapat 7-8 rusuk seperti lampion. Buah berwarna hijau saat masih muda dan akan berubah menjadi oranye, hingga merah terang atau gelap keunguan. Kulit buah tipis, daging buah oranye hingga merah, berair dan sedikit lengket, rasa masam hingga manis. Biji berbentuk pipih dan umumnya berjumlah 1 butir dengan ukuran besar atau 2-3 butir dengan ukuran kecil. Kandungan Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) menjelaskan bahwa ekstrak hidroalkoholik daun dewandaru dapat mengurangi kadar enzim xanthine-oxidase yang memicu terbentuknya asam urat. Santos et al. (2015) menyebutkan bahwa ekstrak daun E. uniflora mengandung minyak esensial yang terdiri atas atractylone (16,90%), curzerene (19,70%), selina-1,3,7-trien-8-one (17,80%), dan furanodiene (9,60%). Pada ekstrak daun yang masih muda terkandung senyawa sesquiterpene jenis germacrone sebesar 35,59%. Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa dewandaru juga memiliki kemampuan antimikroba. Sobeh et al. (2016) telah melakukan penelitian tentang kemampuan antimikroba ekstrak minyak esensial dewandaru. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, dan bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, serta fungi Candida parapsilosis dan C. albicans. Buah dewandaru juga kaya akan antioksidan. Berdasarkan hasil analisa Bagetti et al. (2011), antioksidan tertinggi terdapat pada buah dewandaru yang masih berwarna oranye karena kaya akan karotenoid. Di samping itu, biji dewandarujuga kaya antioksidan karena kandungan senyawa fenolik yang sangat tinggi (Luzia et al., 2010). Khasiat Hasil observasi Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) Cara Pengolahan Daun dicuci, dikeringkan pada suhu ruang, dan digiling dengan mixer. Rebusan air panas: 10 g sampel bubuk dilarutkan dalam 100 ml air suling, dididihkan selama satu setengah jam, lalu disaring. Rebusan disimpan pada suhu 4°C untuk penggunaan selanjutnya. Daftar Pustaka Daniel, G., & Kumari, S. K. (2019). Free radical scavenging activity of aqueous (hot) extract of Eugenia uniflora (L.) leaves. Journal of Plant Biochemistry & Physiology, 7(1), 1–4. Rencana, E. (2020). Dewandaru (Eugenia uniflora L.). Warta Kebun Raya, 18(1), 1–10.(PDF) Dewandaru (Eugenia uniflora L.), Buah Legendaris yang Sarat Mitologi di Pegunungan Kawi https://share.google/YkEGx7MTY3X8uKXAh Sinaga, 2025. Identifikasi Tumbuhan Famili Myrtaceae di Kawasan Jalan Sukarela Timur, Desa Lau Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan. Alacrity : Jurnal Of education  https://doi.org/10.52121/alacrity.v5i1.539 Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Latin NameEugenia uniflora L.TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaSubdivision: AngiospermaeOrder: MyrtalesFamily: MyrtaceaeGenus: EugeniaSpecies: Eugenia uniflora (Sinaga, 2025) General DefinitionDewandaru is one of the plant collections at the Purwodadi Botanical Gardens. It belongs to the guava family (Myrtaceae) and has the scientific name Eugenia uniflora L. According to The Plant List (2013), this plant has 46 synonyms. According to Verheij & Coronel (1992), this plant has a shrub or tree habit, reaching a height of 7 meters. The branches are spreading, slender, and sometimes curved. The stem surface is smooth, and the bark peels. The single leaves are obovate, with a rounded or slightly lobed base, a pointed and blunt tip, and a smooth, shiny surface. The leaves are reddish-brown when young and turn dark green as they mature. During winter or dry seasons, the leaves turn red. The fragrant flowers, consisting of 1-4 flowers fused in the leaf axils, are creamy white, and approximately 1 cm in diameter. The calyx is tubular with 8 ribs and 4 grooves. The corolla is white and 7-11 mm long. The stamens number around 50-60. The fruit is hanging, round and flat, with 7-8 ribs like a lantern. The fruit is green when young and eventually changes to orange, then bright red or dark purple. The skin is thin, and the flesh is orange to red, juicy and slightly sticky, with a sour to sweet taste. The seeds are flat and generally number one large seed or two or three small seeds. ContentOgunwande et al. (2005) and Amorim et al. (2009) explained that hydroalcoholic extract of dewandaru leaves can reduce levels of the xanthine oxidase enzyme, which triggers uric acid formation. Santos et al. (2015) stated that E. uniflora leaf extract contains essential oils consisting of atractylone (16.90%), curzerene (19.70%), selina-1,3,7-triene-8-one (17.80%), and furanodiene (9.60%). Young leaf extract contains 35.59% of the sesquiterpene compound germacrone. Several other studies have shown that dewandaru also has antimicrobial properties. Sobeh et al. (2016) conducted research on the antimicrobial properties of dewandaru essential oil extract. The results of the study showed that there was an inhibitory effect on the growth of gram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, and gram-negative bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, and fungi Candida parapsilosis and C. albicans. Dewandaru fruit is also rich in antioxidants. Based on the analysis results of Bagetti et al. (2011), the highest antioxidants are found in dewandaru fruit that is still orange because it is rich in carotenoids. In addition, dewandaru seeds are also rich in antioxidants because they contain very high phenolic compounds (Luzia et al., 2010). Benefits1. diarrhea2. fever3. hypertension4. rheumatism5. worm infestation6. bronchitis7. cough.Observations by Ogunwande et al. (2005) and Amorim

Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Read More »

Mimba (Azadirachta indica)

Nama Latin Azadirachta indica Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Sapindales   Familiki: Meliaceae Genus: Azadirachta Spesies: Azadirachta indica A. Juss (Uzzaman, 2020) Definisi Umum Mimba merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak manfaat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan pertanian. Hal ini dapat dilihat dari pemberian nama latin dari tanaman ini yang memiliki makna kebebasan dari segala penyakit (Lestari et al., 2025). Tanaman ini berasal dari wilayah India dan Myanmar yang keberadaanya telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu pada wilayah tersebut. Berbagai manfaat yang dapat diberikan oleh tanaman ini, membuat tanaman ini mulai tersebar di Indonesia pada tahun 1.500 dengan pulau Jawa sebagai daerah utama pembudidayaan tanaman ini.Mimba sama seperti tanaman lainnya, memerlukan kondisi lingkungan yang tepat untuk menunjang pertumbuhan. Kondisi lingkungan yang tepat dapat menunjang produktivitas tanaman, serta meningkatkan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam tanaman (Okyranida et al., 2024). Umumnya mimba dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 1-800 mdpl, lahan kering, curah hujan 450-750 mm/tahun, suhu 25-28°C, Ph 5,9-7, dan intensitas cahaya 100% (Wahyudiarto et al., 2023). Pohon mimba merupakan tanaman yang sebagian besar bagiannya dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan baik daun, batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya pohon mimba memiliki batang dengan tinggi mencapai 2-5 meter dengan tekstur yang kasar, berkayu, dan kulitnya tebal. Akar dari pohon ini berjenis akar tunggang, berbentuk silindris, dan berwarna coklat. Pohon mimba juga memiliki bunga yang tersusun sepanjang ranting secara aksilar dan berwarna putih dengan benang sari berbentuk silindris, putik lonjong, dan kelopak bunga berwarna hijau. Buah mimba berbentuk bulat lonjong dengan ukuran maksimal 2 cm yang berwarna kuning hingga hijau apabila matang. Bagian terakhir pohon mimba adalah daun mimba yang berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi, daun lancip, pangkal daun runcing, dan susunan tulang daun menyirip serta lebar sekitar 2 cm (Javandira et al., 2025). Kandungan Mimba memiliki berbagai macam senyawa-senyawa penting yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, anti-inflamasi, dan antivirus. Menurut Utami et al., (2024) senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian-bagian tanaman mimba seperti batang, daun, maupun biji adalah sebagai berikut. a. Promeliasin b.      Limonoid c.       Gedunin d.      Vilasinin e.       C-Sekomeliasin f.       Flavonoid, g.      Sitosterol h.      Hiperosida i.        Nimbolida j.        Quercetin k.      Quercitrin Khasiat Senyawa-senyawa yang terkandung dalam mimba ini memberikan berbagai khasiat. Menurut Utami et al., (2024) beberapa khasiat tersebut adalah dapat memberikan kesehatan kulit, kesehatan mulut, melindungi ginjal, anti kanker, diabetes, antiparasit, antijamur, dan antibakteri. Cara Pengolahan Pengolahan daun mimba, umumnya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode sehingga menghasilkan berbagai macam produk akhir sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Salah satu pengolahan daun mimba yang dapat dengan mudah dilakukan adalah dengan mengolah daun mimba menjadi teh herbal. Berdasarkan Alfira et al., (2023) metode yang dapat dilakukan untuk menghasilkan the herbal ini adalah dengan cara mengambil daun mimba yang ada pada pucuk hingga daun ketiga pada setiap ranting, untuk kemudian disortasi. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah mengkukus daun mimba selama 90 detik dengan suhu 100°C, lalu didinginkan selama 5 menit dalam suhu ruang. Daun mimba yang telah dingin kemudian dioven dengan suhu pengeringan 50°C dalam waktu 4 jam. Daun mimba yang telah kering dapat dihancurkan dengan menggunakan blender dan diayak hingga mendapatkan bubuknya. Bubuk yang dihasilkan ini kemudian dapat diseduh dan dikonsumsi. Daftar Pustaka Alfira, K., Yusarini, N. L. A., & Puspawati, G. A. K. (2023). Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik The Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss). Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan, 12(2), 293-308. https://doi.org/10.24843/itepa.2023.v12.i02.p06. Javandira, C., Suryana, I. M., Dewi, N. L. K. A., & Sarno, P. J. (2025). Potensi Daun Mimba sebagai Rodentisida Nabati dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar. Universitas Mahasaraswati Denpasar. https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/pilar/article/view/11276 Lestari, N. W., Safutri, W., & Safitri, O. S. (2025). Narrative Riview: Potensi Terapeutik dan Fitokimia Daun Mimba (Azadirachta indica) dalam Pengobatan Tradisional. Jurnal Farmasi, 4(1), 51-58. DOI: https://orcid.org/0009-0002-1284-924X Okyranida, I. Y., Widia, C., Rayhan, A. S., Salsabila, D., & Seramaidra, C. I. (2024). Intensitas Cahaya dan Suhu Lingkungan terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Nutrisi Microgreen. Prosiding Seminar Nasional Sains 2024. Universitas Indraprasta PGRI. https://proceeding.unindra.ac.id/index.php/sinasis/article/view/7932 Utami, Y. P., Imrawati, Jariah, A., Mustarin, R., Bone, M., & Bachri, N. (2024). Penetapan Sifat Fisikokimia Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadiractha indica A. Juss) : Penelitian Eksperimen Berskala Laboratorium. Health Information : Jurnal Penelitian, 16(3), 355-365. https://doi.org/10.36990/hijp.v16i3.1298 Wahyudiarto, A. D., Yuniastuti, T., & Joegijantoro, R. (2023). Efektivitas Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica juss) Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca domestica) di Lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Koesnadi Bondowoso. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2988-2995. https://doi.org/10.31004/jkt.v4i3.16511

Mimba (Azadirachta indica) Read More »

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum)

Nama Latin (Graptophyllum pictum) Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo         : Scorpulariales Famili          : Acanthaceae Genus          : Graptophylum Spesies        : Graptophyllum pictum (L.) Griff  (Griff et al., 2021)  Definisi Umum Graptophyllum pictum yang juga dikenal sebagai ‘Daun Ungu’, ‘handeuleum’, dan ‘tulak’ di Indonesia merupakan tumbuhan asal Papua Nugini yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae (Goswami et al., 2021). Daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 1,5-3 m dan tidak berambut. Terdapat lendir pada kulit dan daunnya. Daunnya tunggal, bertangkai pendek dan terletak berhadapan bersilangan. Panjang daun kira-kira 8-20 cm dengan lebar 3-13 cm, bentuk bulat telur hingga lanset dengan tepi bergelombang dan ujung pangkal runcing. Nama lokal dari Graptophyllum pictum yaitu pudding hitam, daun wungu (Wibowo et al., 2021). Kandungan Daun ungu ini terdapat kandungan fenolik dalam daun ungu seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid (Dewi et al., 2023) Khasiat Tanaman daun ungu memiliki berbagai aktivitas farmakologi diantaranya yaitu antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, analgesik, photoprotective, imunomodulator, nefroprotektif, antihemoroid, dan antibakteri (Griff et al., 2021). Daun ungu dimanfaatkan sebagai obat diuretik (batang atau daunnya), bunganya untuk melancarkan haid, dan daunnya digunakan dalam pengobatan antiinflamasi, pengobatan sembelit, ambeien, antireumatik, pengobatan bisul, dan berperan sebagai pencahar ringan. Penyembuhan dilakukan dengan meminum rebusan daun ungu sekali dalam sehari dan dilakukan setiap pagi secara rutin (Dewi et al., 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahan daun ungu yang paling umum didokumentasikan dalam literatur pengobatan tradisional adalah melalui metode perebusan atau dekokta (Sartika & Indradi, 2021). Untuk penggunaan internal, daun segar direbus dengan air hingga volumenya menyusut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang larut air (Meilani et al., 2023). Sedangkan untuk penggunaan eksternal seperti mengobati bisul, daun ungu dapat diolah dengan cara ditumbuk halus dan ditempelkan langsung pada area yang sakit sebagai tapal (Safitri, 2021). Daftar Isi Dewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Edukasi Pembuatan Seduhan Daun Ungu untuk Atasi Wasir Di Desa Maku Kecamatan Dolo, KabupatenSigi,SulawesiTengah.2(2),16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770 Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative literature review on Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8 (9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10 Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Daun Ungu Plants Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531 Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization Of Ethanol Extract Of Wungu Leaf (Graptophyllum Pictum (L) Griff) Growing In The Pamah Deli Old Area As An Anti-Inflammatory. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1 (2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260 Safitri, S. (2021). Pengaruh Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus aureus). Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 8 (1), 25–33. https://doi.org/10.63763/ijsp.v1i2.20 Sartika, I., & Indradi, S. (2021). Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Indonesian Journal of Biological Pharmacy, 1 (2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531.g16953 Wibowo, D., Ismayadi, P., & Wati, D. (2021). Tanaman Obat Desa Air Selimang, kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahyang,Bengukulu, Indonesia. Bengkulu:Deepublish.https://pustaka.uniraya.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4230 Purple Leaf (Graptophyllum pictum) Latin name(Graptophyllum pictum)TaxonomyKingdom : PlantaeDivision : MagnoliophytaClass : MagnoliopsidaOrder : ScorpularialesFamily : AcanthaceaeGenus : GraptophylumSpecies : Graptophyllum pictum (L.) Griff (Griff et al., 2021) General DefinitionGraptophyllum pictum, also known as ‘Purple Leaf’, ‘handeuleum’, and ‘tulak’ in Indonesia, is a plant native to Papua New Guinea and belongs to the Acanthaceae family (Goswami et al., 2021). Purple Leaf (Graptophyllum pictum L. Griff) is a hairless, shrubby plant growing 1.5-3 m tall. It has a slime on its skin and leaves. The leaves are single, short-stemmed, and arranged oppositely. The leaves are approximately 8-20 cm long and 3-13 cm wide, ovate to lanceolate in shape with wavy edges and a pointed base. Local names for Graptophyllum pictum include black pudding and purple leaves (Wibowo et al., 2021). ContentPurple leaves contain phenolic compounds such as alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids (Dewi et al., 2023).BenefitsThe purple leaf plant has various pharmacological activities, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, analgesic, photoprotective, immunomodulatory, nephroprotective, antihemorrhoidal, and antibacterial properties (Griff et al., 2021). Purple leaves are used as a diuretic (either the stem or the leaves), the flowers are used to regulate menstruation, and the leaves are used as an anti-inflammatory, to treat constipation and hemorrhoids, as an antirheumatic, to treat boils, and as a mild laxative. Healing is achieved by drinking a decoction of purple leaves once daily, regularly every morning (Dewi et al., 2023). Processing MethodsThe most common method of processing purple leaves documented in traditional medicine literature is through boiling or decoction (Sartika & Indradi, 2021). For internal use, fresh leaves are boiled in water until their volume reduces to extract the water-soluble active compounds (Meilani et al., 2023). For external use, such as treating boils, purple leaves can be finely ground and applied directly to the affected area as a poultice (Safitri, 2021). Table of ContentsDewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Education on Making Purple Leaf Infusion to Treat Hemorrhoids in Maku Village, Dolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi. 2(2), 16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative Literature Review on the Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8(9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Purple Leaf Plants. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization of Ethanol Extract of Purple Leaf (Graptophyllum Pictum (L.) Griff) Growing in the Pamah Deli Old Area as an Anti-Inflammatory Agent. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1(2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260Safitri, S. (2021). The Effect of Purple Leaf Extract (Graptophyllum pictum L.) on the

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum) Read More »

DAUN DEWA (Gynura divaricata)

Nama Latin (Gynura divaricata) Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Sub-divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledoneae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Gynura Spesies: Gynura procumbes (Lour.) Merr atauG. Sarmentosa BL. (IPNI, 2024) Definisi Umum  Tanaman daun dewa (Gynura divaricate) merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Indonesia, tanaman daun dewa juga sering disebut sebagai tanaman tapak dewa yang tergolong dalam famili Asteraceae. Daun dewa dikenal karena memiliki banyak khasiat karena mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder (Aprilliani et al., 2021). Kandungan senyawa metabolit sekundernya inilah yang membuat daun dewa seringkali dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat produk maupun obat herbal yang dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti kanker, demam, hipertensi, diabetes, dan penyakit kulit. Selain itu, daun dewa juga biasanya digunakan dalam mengatasi ruam pada wajah dan pengobatan penyakit ginjal (Meisinca et al., 2024).  Kandungan      Berdasarkan dari penelitian  yang telah dilakukan oleh Gultom & Siagian (2021) dan Apriliani et al. (2021), daun dewa diketahui memiliki kandungan berupa fitokimia seperti terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polisakarida, asam fenolik, steroid, dan minyak atsiri. Khasiat      Menurut Commas et al. (2021) dan Meisinca et al. (2024), daun dewa sering dimanfaatkan sebagai obat herbal karena memiliki khasiat yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit seperti kanker, demam, hipertensi, diabetes, penyakit kulit, penyakit ginjal, dan ruam pada wajah. Cara Pengolahan Proses pengolahan daun dewa sebagai obat herbal sangat bervariasi, meliputi metode yang diterapkan secara sederhana hingga skala industri. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari website Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul (2024), rangkaian pengolahan daun dewa secara sederhana untuk menghilangkan panas, menurunkan gula darah, dan membersihkan racun dalam tubuh adalah sebagai berikut:      Disisi lain, proses pengolahan daun dewa di skala industri memiliki rangkaian pengolahan yang lebih kompleks. Pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa aktif pada daun dewa dengan kadar yang lebih tinggi. Berdasarkan dari penelitian Rosa et al. (2022), proses ekstraksi daun dewa melalui metode maserasi menjadi metode yang mampu memperoleh kadar senyawa fenolat paling tinggi dibandingkan dengan metode blender maupun metode shaker. Rangkaian pengolahan daun dewa melalui metode maserasi menurut Rosa et al. (2022) adalah sebagai berikut: Daftar Pustaka AR PUSTAKA Apriliani, A., Fhatonah, N., & Ashari, N. (2021). Uji Efektivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol 70% Daun Dewa. Jurnal Farmagazine, 8(2), 52–58. Commas, D. R., Munir, M., & Yadi. (2021). Uji Aktivitas Antifungal Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura Pseudochina (Lour.) DC.) Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans dengan Metode Kirby Bauer. Mulawarman Dental Journal, 1(2), 67–75. Gultom, R. P. J., & Siagian, H. S. (2021). Uji Aktivitas Analgetik Fraksi Aktif Ekstrak Metanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.) Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus). Jurnal Farmasi Higea, 13(2), 92. Meisinca, D. N., Riga, R., Silvani, M. A., Oktria, W., Nasra, E., Kurniawati, D., Dewita, F. O., Doni, D. D. R., & Khairiyah, G. (2024). Analisis Aktivitas Antioksidan Jamur Endofitik DDP yang Berkolonisasi dengan Daun Dewa (Gynura Segetum) Dengan Metode DPPH (2,2-Defenil-1-Pikrilhirazil). Jurnal Farmamedika, 9(2), 150-157. Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul. (2024). Tanaman Daun Dewa. Diambil dari https://desagrogol.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/2306-Tanaman-Daun-Dewa Rosa, R., Widya, N., Novrita, S., & Elvina R. (2022). Effecr of Extraction Modification on Total Phenolic Compound Level in Dewa Leaf. Indonesian Journal of Pharmaceutical Research, 1(1), 1-5. DAUN DEWA (Gynura divaricata) Latin Name(Gynura divaricata)TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaSubdivision: AngiospermaeClass: DicotyledoneaeOrder: AsteralesFamily: AsteraceaeGenus: GynuraSpecies: Gynura procumbes (Lour.) Merr or G. Sarmentosa BL.(IPNI, 2024) General DefinitionThe Gynura divaricate plant (Gynura divaricata) is a type of herbal plant native to Indonesia, Malaysia, and Thailand. In Indonesia, the Gynura divaricate plant is also often referred to as the tapak dewa plant, which belongs to the Asteraceae family. Gynura divaricata is known for its numerous benefits due to its content of various secondary metabolite compounds (Aprilliani et al., 2021). These secondary metabolite compounds make Gynura divaricate often used as a base ingredient in medicinal products and herbal remedies to treat various health problems such as cancer, fever, hypertension, diabetes, and skin diseases. Gynura divaricata is also commonly used to treat facial rashes and kidney disease (Meisinca et al., 2024). ContentBased on research conducted by Gultom & Siagian (2021) and Apriliani et al. (2021), the god leaf is known to contain phytochemicals such as terpenoids, flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, polysaccharides, phenolic acids, steroids, and essential oils.BenefitsAccording to Commas et al. (2021) and Meisinca et al. (2024), the god leaf is often used as a herbal remedy because it has properties that can treat various diseases such as cancer, fever, hypertension, diabetes, skin diseases, kidney disease, and facial rashes. Processing MethodThe process of processing gynura leaves as herbal medicine varies widely, ranging from simple methods to industrial-scale methods. Based on information obtained from the Gunungkidul Regency Government website (2024), a simple process for processing gynura leaves to reduce fever, lower blood sugar, and cleanse toxins from the body is as follows:1. Prepare 10-15 grams of gynura leaves.2. Wash the gynura leaves thoroughly under running water until clean.3. Boil the gynura leaves with 3 (three) glasses of water.4. Let it boil until the water is reduced by half.5. Strain the boiled gynura leaves.6. The boiled gynura leaves are now ready to drink. On the other hand, the industrial-scale processing of ginkgo biloba leaves involves a more complex sequence. This process aims to obtain higher levels of active compounds in ginkgo biloba leaves. Based on research by Rosa et al. (2022), the maceration method of extracting ginkgo biloba leaves yields the highest levels of phenolic compounds compared to the blender or shaker method. According to Rosa et al., the maceration process for ginkgo biloba leaves is as follows: (2022) is as follows: 1. Prepare sufficient gynura leaves.2. Wash the gynura leaves thoroughly under running water until clean.3. Air-dry the gynura leaves until they reach a constant weight.4. Crush the dried gynura leaves using a grinder.5. Weigh 5 grams of the ground gynura leaves.6. Soak the gynura leaves in 50 mL of 70% ethanol for 6 hours in a dark maceration container, stirring occasionally.7. The macerate is separated, and the process is repeated until the final extract is phenolic-negative using the same type and amount of solvent.8. Collect the previously separated macerate.9. Evaporate the macerate using a

DAUN DEWA (Gynura divaricata) Read More »

Daun Sendok (Plantago major L.)

Nama Latin (Plantago major L) Taksonomi Kingdom     : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisio : Spermatophyta Divisio        : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Subkelas      : Asteridae Ordo            : Lamiales Famili         : Plantaginaceae Genus          : Plantago Spesies        : Plantago major L. (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1999) Definisi Umum Plantago major L. atau sering disebut dengan daun sendok merupakan tanaman yang tergolong tanaman perdu gulman didaerah perkebunan atau tumbuhan liar yang terdapat di lading dan halaman berumput yang agak lembab, ditanam di pot juga sebagai tanaman obat. Daun sendok berasal dari dataran rendah hingga ketinggian antara 3.300mdpl. Tinggi dari tanaman ini bervariasi antara 30-200 cm, bentuk batangnya bulat dan silinder, juga permukaan batang yang agak licin dengan arah tumbuh batang tegak lurus ke atas, batang tergolong batang rumput yang tidak keras dan bergetah putih (Indriani et al., 2023). Daun yang berbentuk oval yang saling berimpitan, memiliki Panjang daun antara 5-20 cm dan lebar daun antara 4-9 cm, terdapat 5-9 jari-jari daun yang terlihat jelas, daunnya memiliki ujung yang lancip. Termasuk daun yang tunggal, susunan roset akar bertangkai, bentuk bulat telur terbalik sampai lanset melebar atau sudip, helaian tepinya yang bergerigi kasar atau tidak beraturan, memiliki permukaan yang licin dan tegak berambut. Tanaman ini memiliki biji yang berukuran sangat kecil berbentuk bulat telur juga memiliki rasa pahit, tanaman yang berbunga yang berdiri dan memangjang dengan ukuran kurang lebih 5-15 cm diatas batang (Irawan & Cahyanto, 2024). Kandungan Kandungan flavonoid, alkaloid, tannin, asam fenolik, iridoid glikosida serta polisakarida yang ada dalam daun sendok tersebut berperan sebagai antioksidan alami, antiinflamasi, dan pelindung sel, sehingga mendukung berbagai aktivitas farmakologis daun sendok (Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto 2023). Khasiat Daun sendok memiliki khasiat untuk menjaga Kesehatan yakni untuk antiinflamasi yang membantu meredakan peradangan pada sendi yang mengalami asam urat. Kandungan antidiuretic yang meningkatkan produksi urin sehingga membantu mengeluarkan asam urat melalui urin. Kandungan antioksidan yang juga dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan Cara Pengolahan a. Persiapan bahan (daun sendok) 1) Pilih daun yang sehat dan bersih (bebas kotoran) 2) Cuci dengan air mengalir untuk menghilangkan debu/kotoran 3) Keringkan daun di oven pada suhu rendah (40-500 C) 4) Blender atau haluskan daun kering menjadi simplisia dengan proses maserasi b. Proses maserasi 1) Serbuk daun direndam dalam rtanol 96% selama kurang lebih 3 hari 2) Campuran disaring untuk memisahkan larutan ekstrak dari sisa simplisia 3) Ekstrak di- evaporasi hingga menjadi ekstrak kental c. Proses pembuatan sirup dari ekstrak daun sendok sebagai ekspektoran 1) Cuci bersih daun sendok dari kotoran atau debu 2) Iris kecil-kecil daun sendok yang segar 3) Rebus air sekitar 250-300 ml hingga mendidih 4) Masukkan daun sendok ke air yang mendidih 5) Rebus sekitar 5-10 menit (untuk membantu ekstraksi senyawa aktif) 6) Matikan api kompor, tunggi 5 menit agar terserap 7) Saring ke dalam cangkir 8) Teh siap  diminum atau di hidangkan. Daftar Pustaka Angelin, V., & Sukadana, W. (2021). UTILIZATION AND PROCESSING OF PLANTAGO MAJOR HERBAL PLANTS INTO HERBAL TEA PRODUCTS IN PEDUNGAN AREAS. Jurnal Qardhul Hasan; Media Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(3), 143–149. Indriani, N. P., Mustafa, H. K., Susilawati, I., Mansyur, Khairuni, L., & Islami, R. (2023). Plantago di padang penggembalaan sebagai pakan dan penghasil metabolit sekunder. JNTTIP Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Dan Ilmu Pakan, 5(2), 74–81. Irawan, F. R., & Cahyanto, T. (2024). Pemanfaatan Daun Sendok ( Plantago Major L .) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA Nusantara : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://e-journal.nalanda.ac.id/index.php/usd/article/view/636/598 Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto. (2023). Pemanfaatan Daun Sendok (Plantago Major L.) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA NUSANTARA : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://doi.org/10.47861/usd.v2i1.636 Spoon Leaf (Plantago major L.) Latin Name (Plantago major L) Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Plantaginaceae Genus: Plantago Species: Plantago major L. (Syamsuhidayat and Hutapea, 1999) General Definition Plantago major L., often called broadleaf plantain, is a plant classified as a shrubby herb found in plantations or a wild plant that can be found in fields and grassy yards that are somewhat moist, and it can also be grown in pots as a medicinal plant. Broadleaf plantain originates from lowlands up to an altitude of 3,300 meters above sea level. The height of this plant varies between 30-200 cm, with stems that are round and cylindrical, also having a somewhat smooth surface with upright growth, and the stem is classified as a grass-like stem that is not hard and contains white sap (Indriani et al., 2023). The leaves are oval-shaped and closely overlapping, with a length ranging from 5-20 cm and a width between 4-9 cm, with 5-9 clearly visible leaf veins, and the leaves have pointed tips. Includes single leaves, a rosette arrangement of stalked roots, shapes ranging from inverted egg-shaped to broad lanceolate or spatula-shaped, with leaf margins that are coarsely or irregularly toothed, having a smooth and erect hairy surface. This plant has very small seeds that are egg-shaped and also have a bitter taste, and flowering plants that stand upright and elongate, with a size of approximately 5-15 cm above the stem (Irawan & Cahyanto, 2024). Content The content of flavonoids, alkaloids, tannins, phenolic acids, iridoid glycosides, and polysaccharides in the spoon leaf acts as natural antioxidants, anti-inflammatory agents, and cell protectors, thereby supporting various pharmacological activities of the spoon leaf (Fadhila Rahma Irawan & Tri Cahyanto 2023). Benefits The spoon leaf has benefits for maintaining health, including anti-inflammatory properties that help relieve inflammation in joints affected by uric acid. Its antidiuretic content increases urine production, thereby helping to expel uric acid through urine. Its antioxidant content can also protect body cells from damage. Processing Method a. Preparation of ingredients (spoon leaves) 1) Choose healthy and clean leaves (free from dirt) 2) Wash under running water to remove dust/dirt 3) Dry the leaves in an oven at

Daun Sendok (Plantago major L.) Read More »

Bunga Matahari (Helianthus annuus L.)

Nama Latin (Helianthus annuus L.) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Helianthus Spesies : Helianthus annuus L. (Magang Alam Lindungi Hutan, 2023) Definisi Umum Bunga matahari memiliki nama botani Helianthus annuus L. termasuk ke dalam famili Asteraceae.(Dame et al., 2023). Bunga matahari merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang menyuplai 87% minyak nabati secara global dan merupakan penghasil minyak nabati terbesar kelima di dunia. Tanaman ini juga merupakan tanaman biji hibrida terbesar kedua di dunia oleh karena itu bunga matahari memiliki potensi yang besar untuk menjadi tanaman bernilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan baik dan optimal (Andarwulan et al., 2023). Kandungan Kandungan di dalam tanaman bunga matahari, yaitu : (Industry & Material, 2022). Khasiat Khasiat dalam tanaman bunga matahari, yaitu :  (Laaraj S at.al, 2025). Cara Pengolahan pengelolaan pembuatan sabun : a. Menyiapkan minyak biji bunga matahari sesuai formula. b. Menimbang NaOH sesuai kebutuhan. c. Melarutkan NaOH ke dalam air (bukan sebaliknya) hingga larut sempurna. d. Membiarkan larutan NaOH mendingin. e. Menuangkan larutan NaOH ke dalam minyak sambil diaduk merata. f. Mengaduk campuran hingga mencapai fase trace (mulai mengental). g. Menambahkan pewangi atau warna jika diperlukan. h. Menuang adonan ke dalam cetakan sabun. i. Mendiamkan sabun 24–48 jam hingga mengeras. j. Setelah mengeras, sabun dikeluarkan dari cetakan dan siap untuk dikeringkan. (Adilfi, 2024) Pengelolaan pembuatan kuaci : Daftar Pustaka Adilfi, E. S. (2024). Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada IMPLEMENTASI INOVASI TEKNOLOGI PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS INTERNET OF THINGS UNTUK RUANG DAN RAK PENGERING BIJI BUNGA MATAHARI Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 7(1), 105–116. Andarwulan, S., Rahayu, A., Mukti, A. W., & Hardani, P. T. (2023). Sosisalisasi Optimalisasi Pembudidayaan Bunga Matahari di Desa Pengalangan Kabupaten Gresik. 4(2), 344–353. Dame, T., Lie, A., Aisyah, S. I., & Syukur, M. (2023). Uji Keunggulan Genotipe Bunga Matahari Hasil Pemuliaan Tanaman IPB dalam Rangka Pelepasan Varietas. 14(200), 33–39. Dewi, I. N. (2024). Punya Banyak Tanaman Bunga Matahari? Yuk Buat kuaci. In Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/lain-lain/1112911/punya-banyak-tanaman-bunga-matahari-yuk-buat-kuaci Industry, B., & Material, R. (2022). Grouping the Morphological Characters of Sunflower as an Estimation of. 2(2017), 19–20.  Laaraj S , Hussain A  , Shahid E ,Bakhtawar F ,Zia M ,Najam A, Zulfiqar N , Sweilam S.H , Ed-Dra A, Elfazazi K. (2025). Manfaat gizi, farmasi, dan kesehatan biji bunga matahari ( Helianthus annuus L.): Tinjauan komprehensif aplikasi pangan. 5. https://doi.org/10.1016/j.foohum.2025.100641 Magang Alam Lindungi Hutan. (2023). Bunga Matahari: Morfologi, Jenis-Jenisnya, dan Cara Budidaya. In lindungihutan. https://lindungihutan.com/blog/mengenal-bunga-matahari-dan-fakta-uniknya/#:~:text=Tanaman ini memiliki bunga yang majemuk%2C terdapat,meter dengan batang bunganya selalu menghadap matahari Sunflower (Helianthus annuus L.)Latin Name Helianthus annuus L. TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaClass: AngiospermaeOrder: AsteralesFamily: AsteraceaeGenus: HelianthusSpecies: Helianthus annuus L. (Magang Alam Lindungi Hutan, 2023) General DefinitionThe sunflower has the botanical name Helianthus annuus L. and belongs to the family Asteraceae (Dame et al., 2023). Sunflower is a vegetable oil-producing plant, supplying 87% of vegetable oil worldwide, and it is the fifth largest vegetable oil producer in the world. It is also the second-largest hybrid seed crop in the world; therefore, sunflower has significant potential to become a high-value economic crop if managed properly and optimally (Andarwulan et al., 2023). ContentsThe components in sunflower plants include:– Linoleic acid– Oleic acid– Protein– Vitamin E– Phenolics– Flavonoids– Alkaloids (Industry & Material, 2022). Benefit The benefits of sunflowers include: (Laaraj S at.al, 2025). Processing Method Soap making: a. Prepare sunflower seed oil according to the formula. b. Weigh NaOH as needed. c. Dissolve NaOH in water (not vice versa) until completely dissolved. d. Allow the NaOH solution to cool. e. Pour the NaOH solution into the oil while stirring thoroughly. f. Stir the mixture until it reaches the trace phase (begins to thicken). g. Add fragrance or color if needed. h. Pour the mixture into soap molds. i. Let the soap sit for 24–48 hours until it hardens. j. Once hardened, the soap is removed from the mold and ready to dry. (Adilfi, 2024) Bibliography Adilfi, E. S. (2024). Proceedings of the Seminar on Research and Community Service Results: IMPLEMENTATION OF TECHNOLOGY INNOVATION IN THE DEVELOPMENT OF INTERNET OF THINGS-BASED PRODUCT FOR SUNFLOWER SEED DRYING ROOMS AND RACKS. Proceedings of the Seminar on Research and Community Service Results. 7(1), 105–116. Andarwulan, S., Rahayu, A., Mukti, A. W., & Hardani, P. T. (2023). Socialization of Sunflower Cultivation Optimization in Pengalangan Village, Gresik Regency. 4(2), 344–353. Dame, T., Lie, A., Aisyah, S. I., & Syukur, M. (2023). Testing the Superiority of Sunflower Genotypes Resulting from IPB Plant Breeding for Variety Release. 14(200), 33–39. Dewi, I. N. (2024). Have Lots of Sunflower Plants? Let’s Make Sunflower Seeds. In Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/lain-lain/1112911/punya-banyak-tanaman-bunga-matahari-yuk-buat-kuaci Industry, B., & Material, R. (2022). Grouping the Morphological Characters of Sunflower as an Estimation of. 2(2017), 19–20. Laaraj S, Hussain A, Shahid E, Bakhtawar F, Zia M, Najam A, Zulfiqar N, Sweilam S.H, Ed-Dra A, Elfazazi K. (2025). Nutritional, pharmaceutical, and health benefits of sunflower seeds (Helianthus annuus L.): A comprehensive review of food applications. 5. https://doi.org/10.1016/j.foohum.2025.100641 Nature Internship Protects the Forest. (2023). Sunflowers: Morphology, Types, and Cultivation Methods. In lindungihutan. https://lindungihutan.com/blog/mengenal-bunga-matahari-dan-fakta-uniknya/#:~:text=This plant has compound flowers, with the flower stem always facing the sun.

Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Read More »

Delima (Punica granatum L.)

Nama Latin (Punica granatum L.) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi      : Magnoliophyta Class       : Magnoliophyta Sub class : Rosidae Ordo        : Myrtales Family     : Lythraceae Genus      : Punica Spesies    : Punica granatum L. (Firdiana, E. R. (2021) Definisi Umum Delima (Punica granatum L.), sejak zaman kuno, telah menjadi tanaman yang dimanfaatkan oleh umat manusia; itu milik keluarga Punicaceae yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Namanya berasal dari bahasa Latin Malum granatum , yang berarti “apel granular” ( El Barnossi et al., 2021 ). Pohon itu memiliki batang yang bengkok dan berduri, daun hijau memanjang dengan permukaan halus dan kelopak berwarna oranye atau merah tua. Itu beradaptasi dengan sangat baik terhadap kondisi iklim yang bervariasi; buahnya berbentuk bulat dengan diameter 6-12 cm. Warna kulit delima bervariasi dari kuning, hijau, dan merah muda, yang pada gilirannya dapat berubah menjadi merah pekat dan ungu tua ( Holland et al., 2009 ). Menurut Fawole & Opara (2013) , bagian yang dapat dimakan terdiri dari 50% dari total berat dan 50% sisanya sesuai dengan kulitnya. Bagian yang dapat dimakan terdiri dari sari buah (78% b/b) dan biji (22% b/b). Kandungan Pada buah delima terdapat kandungan elagitanin asam ellagic (termasuk punicalagin), asam punicic, flavonoid, antosianidin, antosianin, flavonol dan flavon estrogenik. (Faradisa & Fakhruddin, 2021). Khasiat Delima telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti pengobatan diare, disentri, wasir, parasit usus, sakit tenggorokan, diabetes, epistaksis, dan gatal-gatal vagina dan diyakini tonik untuk jantung. Selain itu, baru-baru ini telah digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit termasuk diabetes, penyakit Alzheimer, kanker, arthritis, infertilitas pria, obesitas, dan gangguan kardiovaskular (Eghbali et al. 2021). Cara Pengolahan kulit dari buah delima dapat di olah menjadi teh herbal dengan cara sebagai berikut : Daftar Pustaka Mansur, S. A. (2022). Kandungan buah delima (Punica granatum L.) dalam Al-Qur’an dan implikasi ilmiah. Repository UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (https://repository.uin-malang.ac.id/14808/1/14808.pdf)  Resti, P. V., Utami, S., & Arsyad, M. (2020). Antioxidant Activity Potential of Red Pomegranate (Punica granatum L.) Peel as Herbal Tea. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 20(2), (https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/9788)  Valero-Mendoza, A. G., Meléndez-Rentería, N. P., Chávez-González, M. L., Flores-Gallegos, A. C., Wong-Paz, J. E., Govea-Salas, M., Zugasti-Cruz, A., & Ascacio-Valdés, J. A. (2023). The whole pomegranate (Punica granatum L.), biological properties and important findings: A review. Food Chemistry Advances, 2, 100153. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772753X22001411)  Pomegranate (Punica granatum L.) Latin Name (Punica granatum L.) Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Magnoliophyta Class : Magnoliophyta Subclass : Rosidae Order : Myrtales Family : Lythraceae Genus : Punica Species : Punica granatum L. (Firdiana, E. R. (2021)) General Definition Pomegranate (Punica granatum L.), since ancient times, has been a plant utilized by humans; it belongs to the Punicaceae family that grows in tropical and subtropical regions. Its name comes from the Latin Malum granatum, which means “granular apple” (El Barnossi et al., 2021). The tree has a crooked and thorny stem, elongated green leaves with a smooth surface, and orange or dark red petals. It adapts very well to varying climatic conditions; the fruit is round with a diameter of 6-12 cm. The pomegranate skin color ranges from yellow, green, and pink, which in turn can change to deep red and dark purple (Holland et al., 2009). According to Fawole & Opara (2013), the edible part makes up 50% of the total weight and the remaining 50% corresponds to the skin. The edible part consists of the juice (78% w/w) and seeds (22% w/w). Content Pomegranate contains ellagitannin, ellagic acid (including punicalagin), punicic acid, flavonoids, anthocyanidins, anthocyanins, flavonols, and estrogenic flavones. (Faradisa & Fakhruddin, 2021). Benefits Pomegranate has been widely used in traditional medicine for treating diarrhea, dysentery, hemorrhoids, intestinal parasites, sore throat, diabetes, epistaxis, and vaginal itching, and is believed to be a tonic for the heart. In addition, it has recently been used in the treatment of various diseases including diabetes, Alzheimer’s disease, cancer, arthritis, male infertility, obesity, and cardiovascular disorders (Eghbali et al. 2021). Processing Method The skin of the pomegranate fruit can be processed into herbal tea as follows: 2. Then cut into small pieces 3. Ground using a blender to obtain red pomegranate skin powder 4. Some of the obtained red pomegranate skin powder is brewed with boiling water at 100° C. References Mansur, S. A. (2022). Nutritional content of pomegranate fruit (Punica granatum L.) in the Qur’an and its scientific implications. Repository UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (https://repository.uin-malang.ac.id/14808/1/14808.pdf) Resti, P. V., Utami, S., & Arsyad, M. (2020). Antioxidant Activity Potential of Red Pomegranate (Punica granatum L.) Peel as Herbal Tea. Mutiara Medika: Journal of Medicine and Health, 20(2), (https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/9788) Valero-Mendoza, A. G., Meléndez-Rentería, N. P., Chávez-González, M. L., Flores-Gallegos, A. C., Wong-Paz, J. E., Govea-Salas, M., Zugasti-Cruz, A., & Ascacio-Valdés, J. A. (2023). The whole pomegranate (Punica granatum L.), biological properties and important findings: A review. Food Chemistry Advances, 2, 100153. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772753X22001411)

Delima (Punica granatum L.) Read More »

Ciplukan (Physalis angulata L.)

Nama Latin Physalis angulata L. Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophyta Sub devisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonnae Ordo: Solanes Famili: Solanaceae Genus: Physialis Spesies: Physalis angulata L. (Haiyul Fadhli dkk.,2023) Definisi Umum Ciplukan (Physalis angulata L.) adalah tumbuhan liar berupa herba/perdu yang tumbuh tahunan dengan tinggi 0,1–1 m, memiliki batang berongga, percabangan menggarpu, dan daun tunggal berbentuk bulat telur hingga memanjang. Buahnya bulat berwarna hijau saat muda lalu menjadi kuning saat matang dan terbungkus kelopak (Sarumaha dkk., 2023). Tanaman ini dapat tumbuh 0,5–1,8 m, memiliki biji sangat banyak, dan seluruh bagiannya (akar, batang, daun, buah) digunakan dalam pengobatan tradisional (Istiqomah, 2024). Kandungan Skrining fitokimia berbagai bagian tanaman ciplukan menunjukkan adanya Flavonoid, Fenolik, Tanin, Saponin, Steroid/Terpenoid, Physalin (khususnya Physalin F) dan Withanolide. (Farida dkk., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025). Khasiat (Fadhli dkk., 2023; Farida dkk., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025) Cara Pengolahan Seluruh bagian tanaman, mulai dari akar, batang, daun, hingga buah, dapat dimanfaatkan. Metode pengolahan yang paling umum dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat penderita hipertensi adalah dalam bentuk air rebusan, yang diminum secara rutin 1-2 kali sehari, atau disajikan sebagai seduhan(Laia, 2022). Untuk mengatasi diare, bagian yang digunakan adalah daun, yang diolah menjadi air rebusan Sementara untuk mengatasi masalah kesehatan umum seperti demam, alergi, dan panas dalam, selain rebusan, buah ciplukan juga sering dikonsumsi dalam keadaan segar. Secara umum, ciplukan menunjukkan aktivitas farmakologi seperti antidiabetik, antioksidan, antikanker, antiinflamasi, dan antidiare (Fadhli dkk., 2023). Daftar Pustaka Fadhli, H., Ruska, S. L., Furi, M., Suhery, W. N., Susanti, E., & Nasution, M. R. (2023). Ciplukan (Physalis angulata L.): Review Tanaman  Liar yang Berpotensi Sebagai Tanaman Obat. JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X, 15(2), 134–141. https://doi.org/10.35617/jfionline.v15i2.144 Farida, M., Azhari, S., Darsa, D. D., & Mahmudi, M. (2025). Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L) Dikawasan Manifestasi Geothermal Seulawah Agam. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 571–580. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v8i1.826 Istiqomah, N. N. (2024). Karakterisasi Morfologi Ciplukan (Physalis angulata L.). Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru. https://repository.uin-suska.ac.id/84010/1/FILE%20LENGKAP%20KECUALI%20HASIL%20PENELTIAN%20(ABB%20UIV).pdf Laia, I. S. (2022). Pemanfaatan Ciplukan (Physalis angulata) Sebagai Tanaman Obat Hipertensi di Desa Mohili Kecamatan Amandraya Kabupaten Nias Slatam. 1(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/faguru/article/download/675/652 Sarumaha, M., Harefa, D., Bago, A. S., Fau, A., Priatin, W., Duha, T. L., Zirahu, M., & Lase, H. W. (2023). Sosialisasi Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata L.) Sebagai Obat Tradisional. 2(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/HAGA Sih Prabandari, A., & Novita Sari, A. (2025). Fraksi kaya antioksidan ciplukan (physalis angulata) sebagai kandidat terapi komplementer diabetes melitus tipe 2: Literature Review. Avicenna : Journal of Health Research, 8(2), 109. http://dx.doi.org/10.36419/avicenna.v8i2.1607 Ciplukan (Physalis angulata L.) Latin Name Physalis angulata L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Spermatophyta Subdivision: Angiospermae Class: Dicotyledonnae Order: Solanales Family: Solanaceae Genus: Physalis Species: Physalis angulata L. (Haiyul Fadhli et al., 2023) General Definition Ciplukan (Physalis angulata L.) is a wild plant in the form of an herb/shrub that grows annually with a height of 0.1–1 m, has a hollow stem, forked branching, and simple leaves shaped from oval to elongated. Its fruit is round, green when young, then turns yellow when ripe and is covered by a calyx (Sarumaha et al., 2023). This plant can grow 0.5–1.8 m, has a very large number of seeds, and all parts (roots, stems, leaves, fruit) are used in traditional medicine (Istiqomah, 2024). Contents Phytochemical screening of various parts of the ciplukan plant shows the presence of Flavonoids, Phenolics, Tannins, Saponins, Steroids/Terpenoids, Physalin (especially Physalin F), and Withanolides. (Farida et al., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025). Benefits Reduces Internal Heat Antidiabetic High Antioxidant Anti-inflammatory and Antibacterial Treats Digestive Disorders Potential Anticancer (Fadhli et al., 2023; Farida et al., 2025; Sih Prabandari & Novita Sari, 2025) Processing Method All parts of the plant, from roots, stems, leaves, to fruits, can be utilized. The most common and widely consumed method by people with hypertension is in the form of boiled water, which is drunk routinely 1-2 times a day, or served as an infusion (Laia, 2022). To treat diarrhea, the part used is the leaves, which are processed into boiled water. Meanwhile, to address common health issues such as fever, allergies, and internal heat, besides boiling, the ciplukan fruit is also often consumed fresh. In general, ciplukan exhibits pharmacological activities such as antidiabetic, antioxidant, anticancer, anti-inflammatory, and antidiarrheal (Fadhli et al., 2023). References Fadhli, H., Ruska, S. L., Furi, M., Suhery, W. N., Susanti, E., & Nasution, M. R. (2023). Ciplukan (Physalis angulata L.): Review of a Wild Plant with Potential as a Medicinal Plant. JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X, 15(2), 134–141. https://doi.org/10.35617/jfionline.v15i2.144 Farida, M., Azhari, S., Darsa, D. D., & Mahmudi, M. (2025). Phytochemical Screening and Antioxidant Activity Test of Ethanol Extract of Ciplukan Leaves (Physalis angulata L) in the Seulawah Agam Geothermal Manifestation Area. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 571–580. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v8i1.826 Istiqomah, N. N. (2024). Morphological Characterization of Ciplukan (Physalis angulata L.). Agrotechnology Study Program, Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, Sultan Syarif Kasim State Islamic University of Riau Pekanbaru. https://repository.uin-suska.ac.id/84010/1/FILE%20LENGKAP%20KECUALI%20HASIL%20PENELTIAN%20(ABB%20UIV).pdf Laia, I. S. (2022). Utilization of Ciplukan (Physalis angulata) as a Hypertension Medicinal Plant in Mohili Village, Amandraya District, South Nias Regency. 1(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/faguru/article/download/675/652 Sarumaha, M., Harefa, D., Bago, A. S., Fau, A., Priatin, W., Duha, T. L., Zirahu, M., & Lase, H. W. (2023). Socialization of Ciplukan Plants (Physalis angulata L.) as Traditional Medicine. 2(2). https://jurnal.uniraya.ac.id/index.php/HAGA Sih Prabandari, A., & Novita Sari, A. (2025). Antioxidant-rich fraction of ciplukan (Physalis angulata) as a complementary therapy candidate for type 2 diabetes mellitus: Literature Review. Avicenna: Journal of Health Research, 8(2), 109. http://dx.doi.org/10.36419/avicenna.v8i2.1607

Ciplukan (Physalis angulata L.) Read More »

Scroll to Top