naturindofresh

Putri Malu (Mimosa Pudica L)

Nama Latin Mimosa pudica L. Taksonomi Kingdom : Plantae  Divisi : Magnoliophyta  Kelas : Magnoliopsid Ordo : Fabales  Famili : Fabaceae  Genus : Mimosa  Spesies : Mimosa pudica, Linn  (Syahid, 2009)  Definisi Umum Putri malu adalah tanaman semak kecil yang dikenal karena daunnya yang akan menutup secara cepat bila disentuh atau digoyangkan — fenomena ini disebut seismonasti. Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka seperti pinggir jalan, ladang, dan kebun. Meskipun sering dianggap gulma, Mimosa pudica memiliki berbagai manfaat pengobatan tradisional. Kandungan Beberapa senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman Mimosa pudica antara lain: Alkaloid, Flavonoid, Tanin,Saponin, Mimosin (senyawa khas putri malu), Steroid dan terpenoid, Asam amino dan glikosida Khasiat Secara tradisional, Mimosa pudica digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti: Cara Pengolahan Metode rebusan atau teh adalah salah satu cara paling umum untuk mengonsumsi daun putri malu secara internal. Pengolahan ini relatif mudah dan dapat dilakukan di rumah. Rebusan ini bertujuan untuk mengekstrak senyawa aktif yang terkandung dalam daun. DAFTAR PUSTAKAJournal of Pharmacognosy and Phytochemistry (2018). Phytochemical and pharmacological review of Mimosa pudica L. Rahmawati, D., & Sari, P. (2020). Potensi ekstrak daun Mimosa pudica sebagai antibakteri alami. Jurnal Biologi Tropis, 20(2), 115–123. Kumar, V., Singh, R., & Sharma, A. (2020). Phytochemical and pharmacological properties of Mimosa pudica: A review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 61(1), 45–52. Putra, I. G. N. A., & Dewi, N. L. P. (2020). Uji aktivitas antiinflamasi tanaman putri malu (Mimosa pudica L.). Jurnal Farmasi Udayana, 9(1), 30–36. Hasanah, U., & Lestari, T. (2020). Pemanfaatan tanaman putri malu sebagai obat tradisional di masyarakat. Jurnal Kesehatan Herbal Indonesia, 5(2), 78–85.Patil, S., & Patil, R. (2020). Evaluation of antioxidant activity of Mimosa pudica leaves. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 13(4), 120–124.

Putri Malu (Mimosa Pudica L) Read More »

Beluntas (Pluchea indica (L.) Less.)

Nama Latin Pluchea indica (L.) Less. Taksonomi Kingdom      : Planta Divisi.       :Angiospermae / Magnoliophytag Kelas         :Dicotyledonae / Magnoliopsida Ordo         :Asterales Famili           :Asteraceae Genus           :Pluchea Spesies         :Pluchea indica (L.) Less. (Susetyarini et al., 2019)    Definisi Umum Beluntas (Pluchea indica) merupakan tanaman semak atau perdu aromatik yang tumbuh di lingkungan tropis dan pesisir. tanaman ini sering tumbuh di habitat terbuka, termasuk pinggiran lahan dan wilayah pesisir. Ciri botani penting meliputi:          •      Bentuk tanaman: semak bercabang.          •      Daun: beraroma bila diremas, bergerigi, permukaan daun agak tebal.          •      Peranan tradisional dan modern: digunakan sebagai tanaman obat, makanan fungsional (teh beluntas) dan penelitian farmakologi terfokus pada aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan efek pada metabolisme lipid. Sering digunakan sebagai obat tradisional. Khasiatnya berasal dari berbagai senyawa aktif alami seperti flavonoid, fenol, terpenoid, tanin, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini memiliki efek yang berbeda terhadap tubuh, tergantung pada cara pengolahannya.  Khasiat 1. Khasiat Antibakteri dan Anti-infeksi Beluntas mengandung beberapa senyawa penting seperti:          •      Flavonoid (misalnya kaempferol dan quercetin): mampu merusak dinding sel bakteri.          •      Terpenoid dan fenol: bekerja dengan menonaktifkan enzim bakteri.          •      Tanin dan alkaloid: dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan jamur. Menurut penelitian oleh Suarez et al. (2024) di BioResearch Journal, kombinasi senyawa ini mampu membunuh bakteri E. coli dan Staphylococcus aureus dengan sangat baik.  2. Menurunkan Kolesterol dan Lemak Tubuh Daun beluntas kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid, yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu mengatur metabolisme lemak dalam tubuh. Menurut penelitian Nguyen et al. (2022) dari BMC Complementary Medicine and Therapies, ekstrak daun beluntas (dosis 100–300 mg/kg) dapat:          •      Menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL dan trigliserida),          •      Meningkatkan kolesterol baik (HDL),          •      Menghambat pembentukan lemak baru di hati. Senyawa aktif seperti caffeoylquinic acid dan flavonoid bekerja dengan cara menghambat gen yang memicu pembentukan lemak, serta mempercepat proses pembakaran lemak di dalam tubuh.  3. Antioksidan dan Anti-peradangan Selain dua khasiat utama di atas, beluntas juga memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi (anti-radang) yang sangat baik. Menurut Lim et al. (2023) di Journal of Natural Antioxidants, ekstrak daun beluntas memiliki kemampuan menangkal radikal bebas karena kandungan flavonoid, vitamin C, dan tanin yang tinggi. 4. sebagai Pereda Sakit Gigi (Analgesik Alami)  Beluntas mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin, yang bekerja sebagai analgesik alami (pereda nyeri).          •      Flavonoid berfungsi menghambat enzim cyclooxygenase (COX) yang memproduksi prostaglandin zat yang menimbulkan rasa nyeri dan peradangan.          •      Tanin berperan sebagai astringen, yaitu zat yang mengerutkan jaringan dan membantu mengurangi pembengkakan pada gusi atau bagian gigi yang sakit.          •      Alkaloid berpotensi mempengaruhi sistem saraf perifer, sehingga dapat mengurangi sensasi nyeri secara langsung. Menurut Ratnawati, Sa’adah, & Suhartono (2023) dalam MEDALI Jurnal, ekstrak daun beluntas memiliki efek antibakteri dan analgesik yang signifikan terhadap Porphyromonas gingivalis, yaitu bakteri utama penyebab nyeri gusi dan abses gigi. Penelitian Hikmawanti et al. (2024) juga menjelaskan bahwa senyawa flavonoid dan minyak atsiri dalam beluntas bekerja pada reseptor nyeri dan memiliki aktivitas anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi rasa sakit. 5. Penghilang Bau Mulut (Antibakteri Oral Alami)  Bau mulut biasanya disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerob di rongga mulut seperti Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis, dan Fusobacterium nucleatum. Beluntas mengandung minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan saponin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Menurut Alvionida, Sulistyani, & Sugihartini (2021) dalam Pharmaciana, gel ekstrak daun beluntas 15% menunjukkan daya hambat tinggi terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans  dua bakteri yang sering ditemukan pada gigi berlubang dan mulut berbau. Penelitian Sulistyani et al. (2023) juga memperkuat bahwa kombinasi daun beluntas dengan daun kersen meningkatkan daya hambat terhadap bakteri penyebab plak gigi. Selain itu, flavonoid dan minyak atsiri di dalam daun beluntas memberikan aroma segar alami, serta bekerja sebagai deodoran biologis yang menetralkan senyawa sulfur (penyebab bau mulut).  Cara Pengolahan 1. Direbus (Infusa atau Teh Herbal Beluntas)  Cara paling umum untuk mendapatkan khasiat daun beluntas adalah dengan merebusnya menjadi teh herbal. Daun beluntas segar dicuci bersih, dikeringkan di tempat teduh, lalu direbus sebanyak 5–10 lembar dalam 300 ml air selama 10–15 menit hingga mendidih. Air rebusan ini kemudian disaring dan diminum selagi hangat. Proses perebusan berfungsi melarutkan senyawa aktif seperti flavonoid dan fenolik, yang berperan sebagai antioksidan, antiradang, dan penurun kolesterol. Menurut Chowdhury et al. (2021), ekstrak air daun beluntas terbukti membantu menurunkan kadar lemak darah pada hewan uji dengan diet tinggi lemak, sementara Hikmawanti et al. (2024) menjelaskan bahwa senyawa bioaktif dalam beluntas mendukung efek antiinfektif alami.  2. Dijadikan Obat Kumur Herbal  Daun beluntas juga dapat digunakan sebagai obat kumur alami untuk mengatasi bau mulut dan nyeri gigi ringan. Rebus 7–10 lembar daun beluntas segar dalam 300 ml air hingga tersisa setengahnya (±150 ml). Setelah dingin, air rebusan digunakan untuk berkumur selama sekitar 30 detik, dua hingga tiga kali sehari. Senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid dalam daun beluntas berfungsi sebagai antibakteri alami yang dapat menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan peradangan gusi. Penelitian oleh Ratnawati et al. (2023) dan Sulistyani et al. (2023) menunjukkan bahwa ekstrak beluntas efektif menghambat pertumbuhan bakteri mulut seperti Porphyromonas gingivalis dan Staphylococcus aureus.  3. Diekstrak (Gel atau Larutan Topikal)  Selain digunakan secara oral, daun beluntas juga dapat diolah menjadi gel atau larutan oles herbal melalui proses ekstraksi etanol. Ekstrak etanol 10–20% dari daun beluntas dicampurkan dengan bahan dasar seperti carbopol atau HPMC untuk dijadikan gel topikal. Sediaan ini bermanfaat untuk meredakan nyeri gusi, mengatasi luka kecil, atau infeksi kulit ringan. Kandungan flavonoid dan minyak atsiri dalam ekstrak memberikan efek antibakteri, antiinflamasi, dan analgesik. Alvionida et al. (2021) serta Sulistyani et al. (2023) melaporkan bahwa kombinasi gel ekstrak daun beluntas menunjukkan aktivitas antibakteri kuat terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. 4. Dijadikan Infus Dingin  Metode sederhana lain adalah membuat infus dingin beluntas, yaitu dengan merendam daun segar dalam air matang dan menyimpannya di lemari es selama 6–8 jam.

Beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) Read More »

Cendana (Santalum album)

Nama Latin Santalum album Taksonomi Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatomatopyta Sub Divisi : Angiospermaye Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Monochlamideae Famili : Santalaceae Genus : Santalum Spesies : Santalim album L (Timba, 2021). Definisi Umum Cendana (Santalum album). Merupakan tumbuhan hutan penghasil kayu di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilki nilai ekonomi yang besar dan merupakan tipe spesies endemik. Cendana termasuk juga pohon yang perkecambahan benihnya relatif lamban yang disebabkan oleh ketebalan kulitnya yang menghambat masuknya air secara imbibisi sehingga proses perkeca mbahannya membutuhkan waktu yang relatif lama. Cendana (Santalum album) merupakan tumbuhan hutan penghasil kayu di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) (Gowatri et al., 2024). Secara morfologis bunga Cendana (Santalum album L.) tumbuh pada ujung ranting dan pada ketiak daun serta merupakan bunga majemuk yang berbentuk malai. Tangkai malai mempunyai panjang sekitar 4-6 cm, dan panjang tangkai bunga mekar sekitar 2-6 mm. warna bunga awalnya kuning kemudian berubah merah gelak kecoklat – kecoklatan (Timba, 2021). Kandungan Metabolit sekunder Metabolit kimia Khasiat Cendana  ini  sebagai  obat penyakit diabates mellitus yang sudah parah   karena dalam pengobatan kayu Cendana digunakan dan diolah  seperti  bedak (Ilham Maumar, 2021). Minyak cendana didapatkan dari batang dan akar pohon cendana yang sering  digunakan  juga sebagai :  Cara Pengolahan Destilasi pada minyak atsiri cendana dilakukan dengan memasukkan sampel ke dalam Erlenmeyer dengan masing-masing 500 g sampel per perlakuan. Destilasi dilakukan selama 6 jam hingga aquades yang digunakan sebagai pelarut hampir habis menguap menyisakan bahan di dalam Erlenmeyer. Setelah 6 jam perlakuan destilasi, hasil destilasi didiamkan semalaman atau sekitar 8 jam dengan tujuan pengendapan. Minyak atsiri yang terkandung akan naik dan mengambang ke permukaan air. Setelah pengendapan dilakukan, hasil dari destilasi di ambil 20 ml cairan teratas menggunakan pipet tetes (Zaki et al., 2025). Daftar Pustaka Anfida, A. N., Sukarya, I. G. A., & Saputri, M. J. (n.d.). Pengaruh Pemberian Ekstrak Kayu Cendana ( Santalum Album Linn ) Terhadap Eosinofil Pada Permukaan Kuit Mencit ( Mus Muculus ) Alergi The Effec Of Sandalwood Extract (Santalum Album Linn) Towards Eosinophiles on Allergic Mice (Mus Musculus) Skin Surface. Gowatri, M., Carvalo, B., Seran, W., & Mau, A. E. (2024). Komposisi Media Tanam Terhadap Perkecambah  Benih ( Effects of the Interaction of Bubble Plants and the Media Composition of PlantsAgainst the Growth of Sandalwood Seeds ( Santalum album Linn )). 06(01). Ilham Maumar, N. L. (2021). Eksplorasi Potensi Tumbuhan Berkhasiat Obat Diabetes Mellitus Pada Suku Dayak Bakumpai Barito Selatan Sebagai Penysun Atlas Tanaman Berkhasiat Obat. 2(1), 18–30. Ratnasari, D., Septiani, D., & Rahmawati, D. S. (2023). Formulasi Dan Pengujian Nilai Spf Losion Ekstrak Etanol Batang Cendana ( Santalum Album L .). 3, 7816–7834. Timba, S. K. (2021). Kajian Lingkungan Biotik dan Abiotik Cendana ( Santalum album L .) Dalam Kawasan Hutan Kemasyarakatan. 1670–1679. Zaki, G. I., Bimantio, M. P., Studi, P., Hasil, T., & Pertanian, F. T. (2025). Pembuatan Minyak Atisiri Cendana Gunung Kidul dengan Metode Destilasi Sederhana dengan Faktor Pengeringan Bahan. 3, 1239–1249.

Cendana (Santalum album) Read More »

Daun Salam (Syzygium Polyanthum)

Nama Latin Syzygium Polyanthum Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan) Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (dikotil) Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Syzygium Spesies : Syzygium polyanthum (Wight) Walp.  World Flora Online. (2023) Definisi Umum Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) adalah tanaman yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Daunnya sering digunakan sebagai bumbu masakan untuk menambah aroma, rasa, warna, serta memperkaya cita rasa makanan. Selain itu, daun salam juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Penggunaan tanaman ini baik sebagai bumbu dapur maupun obat, umumnya berkaitan dengan kandungan metabolit sekundernya, terutama minyak atsiri atau essential oil. Daun salam berwarna hijau ketika masih dalam keadaan segar, disebabkan kandungan klorofil yang merupakan pigmen utama yang terdapat dalam membran tilakoid. Klorofil memiliki fungsi sebagai molekul yang berperan penting dalam fotosintesis. Selain itu juga mengandung karotenoid yang merupakan pigmen pemberi warna kuning sampai jingga. Kandungan Berbagai kandungan senyawa bioaktif terkandung di daun salam, antara lain flavonoid, saponin, triterpenoid, polifenol, alkaloid, tanin dan minyak atsiri. Dimana tanin, flavonoid dan minyak atsiri bermanfaat sebagai antibakteri, sedangkan flavonoid mampu menghambat kadar kolesterol (Giri, 2008. Kusumaningrum dkk., 2013. Rahayuningsih, 201. Wiryawan, 2017). Khasiat Daun salam berkhasiat sebagai obat sakit perut, menghentikan buang air besar yang berlebihan, mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah, radang lambung, gatal gatal dan diabetes (Wartini, dkk. 2007. Widyawati et al, 2012. Patel, et al., 2012. Harismah, 2017). Cara Pengolahan Pengolahan daun salam sebagai bahan herbal dilakukan melalui beberapa tahapan agar kandungan zat aktifnya tetap terjaga. Tahap awal dimulai dari pemilihan bahan, yaitu daun yang masih segar atau daun kering yang berkualitas baik. Setelah itu, daun disortir untuk memisahkan dari kotoran atau bahan asing, kemudian dicuci menggunakan air mengalir hingga bersih. Selanjutnya, daun dapat dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang teduh atau menggunakan oven dengan suhu yang disesuaikan. Proses pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga bahan lebih tahan lama dan tidak mudah rusak.  Dalam pengolahannya, daun salam umumnya digunakan dengan metode perebusan (infusa). Perebusan dilakukan menggunakan wadah yang tidak mudah bereaksi seperti kaca, tanah liat, atau bahan email. Air dipanaskan hingga mendidih dengan suhu sekitar 96–98°C, kemudian daun salam dimasukkan dan direbus selama kurang lebih 15–20 menit. Adapun bahan yang digunakan biasanya sekitar 10 gram daun kering atau 30 gram daun segar.  Selain perebusan, daun salam juga dapat diolah dalam bentuk serbuk agar lebih praktis digunakan dan memiliki daya simpan lebih lama. Penyimpanan bahan herbal sebaiknya dilakukan dalam wadah tertutup rapat agar terhindar dari kelembaban dan kontaminasi. Dengan tahapan pengolahan yang tepat, kandungan senyawa aktif dalam daun salam dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pengobatan tradisional (Nurtanti & Sulistyaningsih, 2022). Daftar Pustaka World Flora Online. (2023). Syzygium polyanthum (Wight) Walp. http://www.worldfloraonline.org/taxon/wfo-0000388157  Nurtanti, S., & Sulistiyoningsih. (2022). Efektivitas rebusan daun salam terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Jurnal Keperawatan GSH, 11(2), 34–35.  https://ejournal.gsh.ac.id/index.php/jik/article/view  Widyawati, P. S., Wijaya, C. H., Hardjosworo, P. S., & Sajuthi, D. (2012). Pengaruh ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) terhadap profil lipid. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 23(1). https://journal.ipb.ac.id/index.php/jtip/article/view  Harismah, K., & Chusniatun. (2016). Pemanfaatan daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai obat herbal. Jurnal Kesehatan.  https://publikasiilmiah.ums.ac.id/ 

Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Read More »

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata)

Nama Ilmiah Kalanchoe pinnata Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : MagnoliophytaKelas : MagnoliopsidaOrdo : SaxifragalesFamili : CrassulaceaeGenus : KalanchoeSeksi : BryophyllumSpesies : Kalanchoe pinnata (Sumber: USDA Plants Database; Plants of the World Online) Definisi Umum Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L). Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) merupakan tanaman dengan ciri-ciri daunnya yang tebal dan berair (Amiyati, 2015). Daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, peluruh dahak, radang dan luka bakar (Purwitasari, 2017).  Uji fitokimia daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) positif mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid, tanin, saponin, dan steroid (Almeida, 2006). Menurut Yantih, (2011), Isolasi dan karakterisasi senyawa ekstrak etanol daun cocor bebek, hasil FTIR menunjukkan senyawa flavonoid, tanin, dan saponin memiliki intensitas yang kuat di daerah 3550cm⁻¹-3200cm⁻¹. Kandungan senyawa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) diduga memiliki kemiripan yang sama dengan ekstrak rimpang kencur yang memiliki aktivitas antiinflamasi dengan persen inhibisi sebesar 51,27%.  Senyawa flavonoid diduga berperan penting pada aktivitas antiinflamasi dengan cara menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat (Hasanah, 2011). Daun cocor bebek merupakan spesies Crassulaceae yang kaya akan senyawa fenolik yaitu kuersetin dan merupakan flavonoid utama daun cocor bebek sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi (Costa, 2008).  Kandungan Daun cocor bebek mengandung senyawa flavonoid, senyawa tanin dan senyawa saponin. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Kandungan flavonoid ini bersifat polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil ataupun mengikat gula, oleh karena itu flavonoid umumnya larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, dan butanol. Flavonoid dapat digunakan sebagai antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel terhadap efek kerusakan oleh oksigen reaktif. Flavonoid juga dapat mempengaruhi kenaikan jumlah trombosit dan memiliki bioaktivitas sebagai anti kanker, antivirus, anti bakteri, anti peradangan dan anti alergi (Fitriyah, 2013). Flavonoid juga dapat mempengaruhi kecepatan proses inflamasi pada penyembuhan luka dan dapat melindungi luka dari radikal bebas, flavonoid telah disintesis oleh tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba sehingga tidak mengherankan jika senyawa flavonoid efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme. Tanin bersifat antiseptik pada permukaan luka bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan sebagai penangkal infeksi pada kulit, mukosa, dan infeksi pada luka (Elis, 2013). Tanin juga memiliki efek menangkal radikal bebas, oksigenasi, meningkatkan kontraksi luka, meningkatkan pembentukan pembuluh darah, dan jumlah fibroblas (Pratiwi, 2018). Saponin merupakan salah satu kelas senyawa glikosida, steroid, triterpenoid struktur dan spesifitas yang memiliki solusi koloid bentuk dalam air dan berbusa seperti sabun. Ada menggambarkan sekelompok senyawa kompleks dan molekul besar yang memiliki banyak manfaat. Saponin dapat ditemukan pada akar dan daun tanaman juga sebagai antimikroba seperti virus antibakteri dan antiviral, kehadiran saponin ditandai dengan keberadaan dari solusi koloid yang stabil fungsi sebagai pembersih dan mampu merangsang pembentukan kolagen, suatu protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka lebih baik (Putri, 2015).  Saponin dapat diklasifikasikan sebagai steroid, triterpenoid atau alkaloid tergantung pada sifat aglikon, dan bagian aglikon dari saponin disebut sebagai sapogenin yang umumnya oligosakarida. Steroid saponin hormon dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok dengan reseptor yang mengikat mereka glikortikoid, kortikoids, mineral, androgen, estrogen, prostagen, vitamin D, dan erathormon. Steroid dalam studi klinis modern telah mendukung peran mereka sebagai anti inflamasi dan analgesik agen (Pratiwi, 2018). Khasiat Secara tradisional, Kalanchoe pinnata digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti: Cara Pengolahan a. Untuk luka dan bisulDaun segar dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Gunakan 2–3 kali sehari. b. Untuk luka bakar ringanAmbil daun segar, haluskan, lalu oleskan langsung pada area luka. Lakukan secara rutin sampai kondisi membaik. c. Untuk batukRebus 2–3 lembar daun dalam 1 gelas air selama 10–15 menit. Saring dan minum 1–2 kali sehari. d. Untuk radang atau bengkakDaun ditumbuk dan digunakan sebagai kompres pada bagian tubuh yang meradang. e. Sebagai antiinflamasi internalEkstrak daun dapat dikonsumsi dalam bentuk rebusan dengan dosis terbatas (konsultasi dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang). Daftar Pustaka Almeida, A. P. (2006). Phytochemical and pharmacological studies of Kalanchoe pinnata. Journal of Ethnopharmacology. Amiyati. (2015). Pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam pengobatan tradisional. Jakarta: Penebar Swadaya. Costa, S. S. (2008). Flavonoids and phenolic compounds of Kalanchoe pinnata. Phytochemistry Reviews. Elis, R. (2013). Peran tanin dalam penyembuhan luka. Jurnal Farmasi Indonesia. Fitriyah, N. (2013). Aktivitas antioksidan flavonoid pada tanaman obat. Jurnal Biologi. Hasanah, U. (2011). Mekanisme flavonoid sebagai antiinflamasi. Jurnal Kedokteran. Pratiwi, D. (2018). Efektivitas senyawa tanin dan saponin dalam penyembuhan luka. Jurnal Ilmu Farmasi. Purwitasari, E. (2017). Studi etnobotani tanaman obat di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press. Putri, A. (2015). Saponin sebagai agen penyembuhan luka. Jurnal Kimia Farmasi. Yantih. (2011). Isolasi dan karakterisasi senyawa aktif daun cocor bebek menggunakan FTIR. Skripsi.

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata) Read More »

Mata Ayam (Ardisia crenata)

Nama Latin Ardisia crenata Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Primulases Famili : Primulaceae Genus : Ardisia Spesies :Ardisia Crenata Sims (Chatan, W., Promprom, W., & Munglue, P. 2024). Definisi Mata ayam (Ardisia Crenata) merupakan tanaman semak dengan tinggi sekitar 1-2 meter yang memiliki daun hijau mengilap dengan tepi bergerigi serta buah kecil berwarna merah terang. Tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman hias dan juga sebagai tanaman obat dalam pengobatan tradisional di beberapa negara asia. Kandungan Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Mata ayam (Ardisia Crenata) ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti bergenin, triterpenoid saponin, flavonoid, serta senyawa fenolik lain yang memiliki aktivitas biologis penting. Khasiat Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Mata ayam (Ardisia Crenata) ini memiliki berbagai aktivitas farmakologis seperti aktivitas antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasi. Beberapa senyawa yang diisolasi dari tanaman ini mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen serta berpotensi dikembangkan sebagai obat herbal modern. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman mata ayam dapat dilakukan dengan pembuatan simplisia dari daun atau akar tanaman. Daun dicuci bersih, dipotong kecil, kemudian dikeringkan di tempat teduh sehingga menjadi simplisia kering. Simplisia tersebut dapat digunakan sebagai bahan ramuan herbal atau bahan penelitian farmasi. Daftar Pustaka Zhao, C., Wang, C., Zhou, Y., Hu, T., Zhang, Y., Lv, X., Li, J., & Zhou, Y. (2024). Discovery of Potential Anti Microbial Molecules and Spectrum Correlation Effect of Ardisia crenata Sims via HPLC Fingerprints and Molecular Docking. Molecules, 29(5), 1178. Saxena, P., Singh, N., & Singh, S. (2022). Ardisia crenata: A New Source of Health■Promoting Phytopharmaceuticals and Chemicals. Journal of Pharmaceutical Negative Results, 13(S10), 4907–4914. Khuder, J. K., & Mohammed, A. A. (2025). Isolation Endophytic Bacteria from Leaf Glands and Seeds of Ardisia crenata Plant and its Molecular Detection. Egyptian Journal of Veterinary Sciences, 56(6), 1265–1270. Wu, D. H., et al. (2024). Ardisia Crispae Radix et Rhizoma: A review of botany, traditional uses, phytochemistry, pharmacology, and toxicology. Journal of Ethnopharmacology. Peng, D., et al. (2024). Comparative chloroplast genome analysis of Ardisia species and their evolutionary relationships. BMC Plant Biology Chatan, W., Promprom, W., & Munglue, P. (2024). Ardisia crenata subsp. mukdahanensis, a new subspecies of Primulaceae from Thailand.

Mata Ayam (Ardisia crenata) Read More »

ZODIA (Evodia suaveolens)

Nama Latin Evodia suaveolens Scheff Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rutales Famili : Rutaceae Genus : Evodia Spesies : Evodia suaveolens (Handayani, 2019) Definisi Umum Tanaman zodia (Evodia suaveolens) merupakan tanaman aromatik yang dikenal sebagai tanaman pengusir nyamuk alami. Tanaman ini menghasilkan aroma khas dari minyak atsiri yang terdapat pada daun dan bagian tanaman lainnya. Aroma tersebut tidak disukai oleh serangga, terutama nyamuk, sehingga tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai repellent alami di lingkungan rumah. Secara tradisional masyarakat Papua menggunakan daun zodia dengan cara menggosokkan daun pada kulit atau menanamnya di sekitar rumah untuk menghindari gigitan nyamuk. Senyawa aktif utama yang terkandung dalam daun zodia antara lain linalool, α-pinene, evodiamine, dan rutaecarpine yang berperan sebagai zat penolak serangga. Khasiat a. Sebagai Pengusir Nyamuk Alami Daun zodia mengandung minyak atsiri seperti linalool dan α-pinene yang mampu mengusir nyamuk dengan cara mengganggu sistem sensorik pada serangga. b.     Sebagai Insektisida Nabati Ekstrak daun zodia dapat digunakan sebagai insektisida alami untuk mengendalikan nyamuk seperti Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD). c.     Sumber Antioksidan Alami Selain sebagai repellent, ekstrak daun zodia juga memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. d.     Aman dan Ramah Lingkungan Penggunaan bahan alami dari tanaman zodia relatif lebih aman dibandingkan insektisida sintetis serta tidak mencemari lingkungan. Cara Pengelolaan Tanaman a. Budidaya Tanaman Tanaman zodia dapat ditanam pada tanah yang subur dengan drainase baik dan memerlukan sinar matahari yang cukup. Penyiraman dilakukan secara teratur namun tidak berlebihan. b.     Pemanfaatan Tanaman dapat ditanam di sekitar rumah, diletakkan dalam pot di dalam ruangan, atau daunnya digosokkan langsung pada kulit sebagai repellent alami. c.     Pengolahan Produk Daun zodia dapat diolah menjadi minyak atsiri melalui proses distilasi uap, lotion anti nyamuk, atau produk penolak serangga berbahan alami. Daftar Pustaka Agustina, A., Kurniawan, B., & Yusran, M. (2019). Efektivitas Tanaman Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Insektisida Nabati Nyamuk Aedes aegypti. https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/download/282/256 Handayani, T., & Lestari, P. (2019). Karakterisasi morfologi dan klasifikasi tanaman zodia (Evodia suaveolens) sebagai tanaman pengusir nyamuk. Jurnal Biologi Tropis, 19(2), 123–130. Sudiarti, M., Ahyant, M., & Yushananta, P. (2021). Efektivitas Daun Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Repellent Nyamuk Aedes aegypti. https://ejurnal.poltekkestjk.ac.id/index.php/JKESLING/article/download/Made%20Sudiarti%2C%20Mei%20Ahyant%2C%20Prayudhy%20Yushananta/1218/9374 Lestari, F. D., & Simaremare, E. S. (2017). Uji Potensi Minyak Atsiri Daun Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Insektisida Nyamuk. https://media.neliti.com/media/publications/161209-ID-none.pdf Minarti, dkk. (2022). Pemanfaatan Tanaman Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Tanaman Pengusir Nyamuk. https://ojs.ukb.ac.id/index.php/josh/article/download/501/359/

ZODIA (Evodia suaveolens) Read More »

KUPING GAJAH (Anthurium crystallinum)

Nama Latin Anthurium crystallinum Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Arecidae Ordo : Arales Famili : Araceae Genus : Anthurium Spesies : Anthurium crystallinum (Bernal, R., Gradstein, R.S. & Celis, M. (eds.), 2016) Definisi Umum Tanaman kuping gajah (Anthurium sp.) merupakan tanaman hias yang memiliki sistem perakaran serabut dengan jumlah akar yang relatif banyak. Akar, baik yang masih muda maupun yang telah tua, umumnya berwarna putih hingga kecokelatan. Sebagai akar serabut, sistem perakaran tanaman ini menyebar ke berbagai arah dan dalam beberapa kondisi dapat muncul ke permukaan media tanam. Batang tanaman kuping gajah bersifat lunak (herbaceous), mengandung jaringan berair dengan getah yang relatif kental, sehingga teksturnya mudah patah. Batang tidak mengalami lignifikasi (tidak berkayu), namun pada permukaannya masih tampak ruas-ruas (nodus) yang cukup jelas. Daun Anthurium memiliki variasi bentuk yang beragam, antara lain lonjong, berbentuk jantung (cordate), meruncing, hingga memanjang. Ujung daun cenderung tipis dan meruncing, dengan ukuran yang semakin mengecil ke arah ujung. Tekstur daun relatif kaku namun tidak tajam. Ciri khas lain adalah adanya tulang daun yang menonjol dan kontras, umumnya berwarna putih, sehingga memberikan perbedaan yang jelas dengan warna helaian daun yang hijau hingga keunguan. Panjang daun bervariasi, berkisar antara 10–30 cm, dengan permukaan yang mengkilap sehingga menambah nilai estetika tanaman.Bunga tanaman kuping gajah termasuk tipe berumah satu (monoecious), di mana organ reproduksi jantan dan betina terdapat dalam satu struktur bunga yang sama. Bunga tersusun atas tangkai, seludang (spathe), dan tongkol (spadix), yang secara visual tampak menyatu. Meskipun demikian, struktur reproduksi jantan dan betina memiliki morfologi yang berbeda. Organ jantan ditandai dengan keberadaan benang sari, sedangkan organ betina ditandai dengan adanya bagian yang berlendir sebagai indikasi reseptivitas stigma. Pada tanaman ini, putik tidak tampak terpisah karena melekat pada tongkol. Buah Anthurium menunjukkan perbedaan warna antara fase muda dan matang. Buah yang belum matang berwarna hijau, sedangkan buah yang telah matang berwarna merah. Biji melekat pada tongkol selama perkembangan, namun akan terlepas secara alami ketika telah mencapai kematangan fisiologis. Biji tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif Kandungan Senyawa aktif dalam tumbuhan ini, seperti flavonoid, saponin, dan glikosida, diyakini berperan dalam menghambat jalur inflamasi di dalam tubuh. Mekanisme ini dapat membantu mengurangi pembengkakan, kemerahan, dan nyeri yang terkait dengan berbagai kondisi peradangan. Khasiat Tanaman kuping gajah memiliki berbagai potensi farmakologis berdasarkan kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Tanaman ini diketahui memiliki aktivitas anti-inflamasi yang mampu menekan respons peradangan, sehingga berpotensi mengurangi pembengkakan dan nyeri. Selain itu, aktivitas antioksidannya berperan dalam menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Ekstrak tanaman ini juga menunjukkan potensi antimikroba terhadap bakteri dan jamur patogen, serta dapat mempercepat penyembuhan luka melalui stimulasi regenerasi jaringan dan pembentukan kolagen. Efek analgesik yang dimiliki turut berkontribusi dalam meredakan nyeri, khususnya yang berkaitan dengan inflamasi. Penelitian awal juga mengindikasikan potensi antikanker melalui mekanisme induksi apoptosis pada sel kanker, serta aktivitas imunomodulator yang dapat meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Dalam penggunaan tradisional, tanaman ini dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan kulit, rematik, demam, dan masalah pencernaan. Selain itu, terdapat indikasi efek diuretik, antidiabetes, dan hepatoprotektif, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut. Umbinya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi setelah pengolahan yang tepat untuk menghilangkan senyawa toksik. Secara keseluruhan memiliki prospek sebagai sumber bahan alami dalam pengembangan obat dan produk kesehatan, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan dosis yang tepat dalam aplikasi klinis. Tanaman kuping gajah memiliki berbagai potensi farmakologis berdasarkan kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Tanaman ini diketahui memiliki aktivitas anti-inflamasi yang mampu menekan respons peradangan, sehingga berpotensi mengurangi pembengkakan dan nyeri. Selain itu, aktivitas antioksidannya berperan dalam menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Ekstrak tanaman ini juga menunjukkan potensi antimikroba terhadap bakteri dan jamur patogen, serta dapat mempercepat penyembuhan luka melalui stimulasi regenerasi jaringan dan pembentukan kolagen. Efek analgesik yang dimiliki turut berkontribusi dalam meredakan nyeri, khususnya yang berkaitan dengan inflamasi. Penelitian awal juga mengindikasikan potensi antikanker melalui mekanisme induksi apoptosis pada sel kanker, serta aktivitas imunomodulator yang dapat meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Dalam penggunaan tradisional, tanaman ini dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan kulit, rematik, demam, dan masalah pencernaan. Selain itu, terdapat indikasi efek diuretik, antidiabetes, dan hepatoprotektif, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut. Umbinya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi setelah pengolahan yang tepat untuk menghilangkan senyawa toksik. Cara Pengolahan Resep sederhana mengatasi radang tenggorokan : 10 g daun segar kuping gajah dicuci lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, saring, airnya diminum sekaligus. Daftar Pustaka Chang, C. L., Lin, C. S., & Lai, G. H. (2014). Cytotoxic effects of Alocasia macrorrhizos on human cancer cell lines. Food and Chemical Toxicology, 72, 211–218. Devi, P. S., Kumar, M. S., & Das, S. (2018). Antioxidant activity of Alocasia macrorrhizos extracts. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 8(1), 1–6. Gupta, R., Sharma, A., & Singh, P. (2016). Antimicrobial activity of Alocasia macrorrhizos against selected pathogens. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 37(2), 45–50. Kumar, V., Patel, R., & Singh, S. (2019). Evaluation of analgesic activity of Alocasia macrorrhizos leaf extract in experimental models. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences, 81(4), 678–683. Sharma, N., Singh, R., & Kumar, A. (2015). Anti-inflammatory activity of Alocasia macrorrhizos in animal models. Journal of Ethnopharmacology, 168, 1–7. Singh, D., Verma, S., & Yadav, P. (2017). Wound healing potential of Alocasia macrorrhizos extract in rats. Journal of Wound Care, 26(5), 250–256.Widiyastuti, Y., Rahmawati, N., & Sari, D. (2020). Immunomodulatory activity of Alocasia macrorrhizos extract. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 5(2), 89–95.

KUPING GAJAH (Anthurium crystallinum) Read More »

Lavender (Lavandula angustifolia)

Nama Latin Lavandula angustifolia Taksonomi Divisi : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Sub Class : Asteridae  Ordo : Lamiales  Famili : Lamiaceae  Genus : Lavandula Spesies : Lavandula angustifolia Chaix Passalacqua et al. (2017) Definisi Umum Lavandula angustifolia merupakan tanaman dengan tinggi 1 – 2 m dan perawakannya seperti rumput dan sering disebut sebagai rumput raksasa. Susunan bunganya mengumpul di tengah dengan jumlah 6 – 8 bunga pada setiap gerombolannya. Bunga berwarna ungu kecil-kecil dengan panjang 2 – 8 cm dengan kebiruan di ujung daun dan mengeluarkan aroma wangi. Daunnya berukuran 2 – 6 cm dan lebar 4 – 6 mm, bertulang sejajar, tangkai daunnya pendek dan berwarna hijau dan tumbuh diujung batang bunga. Batangnya berwarna coklat abu-abu atau coklat gelap dengan kulit kayunya mempunyai pola memanjang sesuai dengan batang kayunya.  Khasiat Tanaman lavender (Lavandula angustifolia) memiliki banyak manfaat, berikut adalah berbagai macam manfaat yang dimilikinya: Cara Pengolahan Penggunaan Tanaman Lavender sebagai Minyak Aromaterapi diperoleh dari bagian tanaman seperti bunga melalui proses penyulingan. Metode ini menjadi cara utama untuk memisahkan kandungan minyak dari bahan tanaman. Jenis teknik yang digunakan biasanya disesuaikan dengan ketersediaan alat dan skala produksi. Untuk hasil yang lebih baik, alat penyuling sebaiknya berbahan stainless steel agar minyak yang dihasilkan tetap jernih dan tidak terkontaminasi. Sebelum proses penyulingan, bunga lavender dipotong kecil agar kelenjar minyak lebih mudah terbuka. Setelah itu, bahan dikeringkan di tempat teduh selama kurang lebih dua hari. Pengeringan tidak dianjurkan di bawah sinar matahari langsung karena dapat menyebabkan minyak menguap dan kualitasnya menurun. Secara umum, terdapat tiga teknik penyulingan minyak lavender: Pada metode ini, bahan dimasukkan langsung ke dalam air dan dipanaskan. Uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga menjadi cairan campuran air dan minyak, lalu dipisahkan. Teknik ini sederhana dan murah, tetapi kualitas minyak yang dihasilkan cenderung lebih rendah. Bahan tidak bersentuhan langsung dengan air, melainkan terkena uap panas dari air mendidih. Uap membawa minyak menuju kondensor, lalu dipisahkan. Cara ini menghasilkan minyak dengan kualitas lebih baik dan sering digunakan oleh petani. Teknik ini umumnya digunakan dalam skala industri. Uap dihasilkan dari ketel terpisah dan dialirkan ke bahan. Hasil minyak yang diperoleh lebih murni dan berkualitas tinggi, meskipun membutuhkan biaya dan peralatan yang lebih besar. Pemilihan metode penyulingan sangat memengaruhi kualitas dan jumlah minyak esensial yang dihasilkan. Semakin baik teknik dan peralatannya, semakin tinggi pula mutu minyak lavender yang diperoleh. Daftar Pustaka Sari, Puspita, et al. (2020). Penanaman Bunga Lavender Untuk Pencegahan Malaria Pada ibu Hamil Tahun 2020. TRIDARMA: Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM)  Isnaeni. (2022). Makalah Lavender. Scribd Manfaat dan Pembuatan Minyak Lavender | PDF | Kesehatan Holistik

Lavender (Lavandula angustifolia) Read More »

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl)

Nama Latin Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malvales Famili : Thymelaeaceae Genus : Phaleria Spesies : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl (Meiyanti, 2022) Definisi Umum Phaleria macrocarpa yang dikenal dengan nama mahkota dewa merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Thymelaeaceae dan cukup populer di Indonesia sebagai tanaman obat. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di wilayah Pulau New Guinea. Mahkota dewa merupakan tanaman yang memiliki bagian lengkap seperti batang, daun, bunga, dan buah. Tinggi tanaman ini bervariasi, mulai dari sekitar 1 meter hingga mencapai 18 meter, dengan panjang akar kurang lebih 1 meter. Kulit batangnya berwarna coklat kehijauan, sedangkan bagian kayunya berwarna putih. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk meruncing, dengan ukuran panjang sekitar 7–10 cm dan lebar 3–5 cm. Bunganya memiliki 2–4 kelopak dengan warna yang bervariasi, mulai dari hijau hingga merah marun. Buah mahkota dewa berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi merah saat telah matang. Setiap buah biasanya mengandung 1–2 biji yang berwarna coklat, berbentuk lonjong, dan memiliki tipe anatrop. Tanaman ini sering digunakan dalam pengobatan herbal karena mengandung berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Kandungan Manfaat tanaman mahkota dewa sebagai obat berkaitan erat dengan kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalamnya. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif seperti mineral, vitamin C, vitamin E, alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin. Khasiat Senyawa alkaloid berperan dalam proses detoksifikasi dengan cara membantu menetralkan racun di dalam tubuh. Saponin memiliki aktivitas sebagai antibakteri dan antivirus, serta dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas, sedangkan polifenol berperan sebagai antihistamin. Selain itu, tanaman mahkota dewa juga dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, batu ginjal, dan diare. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai minuman teh fungsional serta sebagai suplemen alami untuk membantu meningkatkan stamina tubuh. Cara Pengolahan a. Ambil buah mahkota dewa yang matang b. Cuci bersih dan iris tipis c. Rebus sekitar 3-5 irisan dengan 2-3 gelas air d. Rebus hingga tersisa kurang lebih 1 gelas e. saring dan minum setelah dingin DAFTAR PUSTAKA Kurang, R. Y., & Malaipada, N. A. (2021). Uji fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Sebatik, 25(2), 767-772. Santoso, F. J. P., & Rangka, F. M. (2025). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Pro-Life, 12(2), 143-156. Kalusalingam, A., Kamal, K., Khan, A., Menon, B., Tan, C. S., Narayanan, V., … & Ming, L. C. (2024). Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. in Ethnopharmacology: Pharmacognosy, Safety, and Drug Development Perspectives. Progress In Microbes & Molecular Biology, 7(1). Meiyanti,  Margo E., Merijanti L., Chudri J., Yohana (2022). Efek Hipoglikemik dan Antioksidan Phaleria macrocarpa (Sheff.) Boerl. Buku 978-623-285-781-0. Yayasan Barcode. Makassar.

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) Read More »

Scroll to Top