naturindofresh

BLIGO (Benincasa hispida)

Nama Latin Benincasa hispida Taksonomi Kingdom : Plantae – Plants Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants Superdivision : Spermatophyta – Seed plants Division : Magnoliopsida – Flowering plants Class : Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass : Dillenidae Order : Violales Family : Cucurbitaceae – Cucumber family Genus : Benincasa Savi – benincasa Species : Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd                    (USDA, 2009 dalam Zaini et al., 2011; Lim, 2012) Definisi Umum Tanaman bligo (Benincasa hispida) merupakan salah satu tanaman dari famili Cucurbitaceae yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, serta dikenal dengan berbagai nama seperti kundur atau labu lilin. Buahnya berukuran besar dengan ciri khas kulit yang pada saat matang dilapisi serbuk putih menyerupai lilin, sehingga sering disebut wax gourd. Meskipun rasanya tidak manis, bligo memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, dan mineral yang memberikan berbagai manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, serta antimikroba. Selain bagian daging buah, kulit bligo juga berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pengolahan pangan (Hakiki et al., 2021). Kandungan Bligo (Benincasa hispida) mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, mineral, dan asam uronat. Selain itu, juga terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, dan beta-sitosterol. Pada bagian kulitnya, teridentifikasi sekitar 36 senyawa, dengan senyawa dominan antara lain adenosin, polidatin, morasin C, dan kushenol S yang termasuk golongan fenolik dan flavonoid berpotensi sebagai antioksidan (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Khasiat Cara Pengolahan Daftar Pustaka Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Aktivitas Antioksidan dan Screening Fitokimia Kulit Bligo (Benincasa hispida). ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9. BLIGO (Benincasa hispida) Latin Name Benincasa hispida Taxonomy Kingdom: Plantae – Plants Subkingdom: Tracheobionta – Vascular plants Superdivision: Spermatophyta – Seed plants Division: Magnoliopsida – Flowering plants Class: Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass: Dillenidae Order: Violales Family: Cucurbitaceae – Cucumber family Genus: Benincasa Savi – benincasa Species: Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. – waxgourd (USDA, 2009 in Zaini et al., 2011; Lim, 2012) General Definition The bligo plant (Benincasa hispida) is a member of the Cucurbitaceae family that thrives in tropical and subtropical regions and is known by various names, such as kundur or wax gourd. Its fruit is large, characterized by a skin that, when ripe, is coated with a white powder resembling wax, hence the common name wax gourd. Although it is not sweet, bligo contains active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, and minerals that offer various benefits, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, and antimicrobial properties. In addition to the fruit flesh, the bligo skin also has the potential to contain bioactive compounds that can be further utilized in the fields of health and food processing (Hakiki et al., 2021). Composition Bligo (Benincasa hispida) contains various active compounds such as flavonoids, glycosides, carotenoids, vitamins, minerals, and uronic acids. In addition, it also contains secondary metabolites such as alkaloids, saponins, and beta-sitosterol. In the bark, approximately 36 compounds have been identified, with the dominant compounds including adenosine, polydatin, morasin C, and kushenol S, which belong to the phenolic and flavonoid groups and have potential as antioxidants (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Benefits Antioxidant (neutralizes free radicals) Anti-inflammatory (reduces inflammation) Antidiabetic (helps control blood sugar) Antimicrobial (inhibits the growth of microorganisms) Diuretic (promotes urine production) Helps with digestive disorders such as diarrhea and stomach ulcers Preparation Methods Fresh fruit: Peel, wash, then process into juice, soup, or boil for immediate consumption. Bligo juice: Blend the fruit pulp with water; honey may be added to improve the taste. Raw materials (peel/flesh): dried (approx. 5 days), then ground into powder for use as an extract or in herbal mixtures. Extract: Bligo powder is soaked or heated with a solvent such as ethanol, then filtered to obtain the extract. References Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Antioxidant Activity and Phytochemical Screening of Bligo (Benincasa hispida) Peel. ALCHEMY Journal of Chemical Research, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9.

BLIGO (Benincasa hispida) Read More »

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.)

Nama Latin Cymbopogon nardus L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Ordo : Graminales Family : Panicodiae Genus :Cymbopogon Spesies : Cymbopogon Nardus L. (Arifin, 2014 dalam Qurniasi. E., 2020) Definisi Umum Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Kebanyakan serai ditanam untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Tanaman serai banyak ditemukan di daerah jawa yaitu pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl. Tanaman serai dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah. Daerah Jawa mengenal serai dengan nama sereh atau sere. Daerah Sumatera dikenal dengan nama serai, sorai atau sanger-sanger. Kalimantan mengenal nama serai dengan nama belangkak, senggalau atau salai. Nusa Tenggara mengenal serai dengan nama see, nau sina atau bu muke. Sulawesi mengenal nama serai dengan nama tonti atau sare sedangkan di Maluku dikenal dengan nama hisa atau isa (Armando, 2010). Kandungan Secara umum kandungan serai terdiri kariofilen bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antitumor, dan dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal bersifat antiseptik dan antimikrobia. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi. Sitronelal dan kandungan mircen. Salah satu kandungan utama dari serai adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkandung di dalam serai sebanyak 0,7%. Khasiat Sitronelal yang terkandung dalam tanaman ini dapat pula digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, serta mengobati peradangan usus. Mircen berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai antispasma. Selain itu, kandungan minyak atsiri dari serai memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki aktivitas antioksidan. Cara Pengolahan penyulingan dengan air (water distillation) ya it u dengan cara bahan kontak langsung dengan air mendid ih. Sist e m penyulinga n ini baik juga digunakan untuk bahan berbentuk tepung dan bunga-bungaan mudah menggumpal jika terkena panas tetapi tidak cocok untuk bahan-bahan yang larut air. Unt uk minyak atsiri akan terdekomposisi pada suhu yang tinggi, penambahan air dapat menurunkan titik didihnya. Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Daftar Pustaka Armando dan Rochim. 2010. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Cetakan I: Penebar Swadaya. Jakarta. Qurniasi E. 2020. Laporan Wawancra Praktikum Budidaya Tanaman Hortikultura Biofarmaka ”Serai Wangi” (Cymbopogon nardus L.). Laporan Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indriasari C., et.al. 2023. Pelatihan Pembuatan Minyak Esensial Sereh (Cymbopogon nardus) menggunakan Teknologi Sederhana. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Read More »

EKOR KUCING (Acalypha hispida)

Nama Latin Acalypha hispida Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Acalypha Spesies: Acalypha hispida Burm.f. (Kevin Caesar, 2015) Definisi Umum Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida) merupakan tanaman hias sekaligus tanaman herbal dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman ini dikenal dengan ciri khas bunga berbentuk menjuntai menyerupai ekor kucing berwarna merah. Selain sebagai tanaman ornamental, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai senyawa aktif yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini umumnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan kondisi tanah yang subur dan cukup sinar matahari, serta sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu penyembuhan luka, peradangan, dan infeksi. Kandungan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama tanaman ini meliputi senyawa fenolik dan turunannya seperti flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta saponin dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida, steroid, phlobatanin, dan hydroxyanthraquinon yang berkontribusi terhadap efek farmakologis seperti antiinflamasi dan penyembuhan luka. Senyawa khas lainnya seperti acalyphin, minyak atsiri, asam galat, dan corilagin turut mendukung aktivitas antioksidan dan antimikroba pada tanaman ini. Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, tanaman ekor kucing memiliki potensi sebagai bahan alami dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan produk kesehatan (Socfindo Conservation, n.d.).  Khasiat Khasiat daun dapat mengobati lidah berdarah akibat keracunan , mengobati lepia putih. berikut adalah yang lebih lengkap: 1. Anti-inflamasi (anti peradangan) 2. Mempercepat penyembuhan luka 3. Antibakteri & antimikroba 4. Mengatasi gangguan pencernaan 5. Menghentikan perdarahan 6. Antioksidan 7. Mengurangi nyeri dan pembengkakan Cara Pengolahan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) yang telah melalui proses pengolahan, seperti pengeringan dan ekstraksi, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk herbal. Secara tradisional, daun tanaman ini sering diolah menjadi rebusan untuk diminum sebagai obat herbal guna membantu mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, daun segar juga dapat ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mempercepat penyembuhan luka atau mengatasi infeksi kulit ringan. Dalam pengembangan modern, ekstrak tanaman ekor kucing dapat diformulasikan menjadi produk seperti salep, krim, atau gel sebagai obat topikal, serta berpotensi dikembangkan dalam bentuk suplemen herbal atau produk kesehatan lainnya. Pemanfaatan ini didasarkan pada kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026).  Daftar Pustaka STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Ketahui 17 manfaat tanaman ekor kucing ampuh obati luka – E-Jurnal. Diakses dari: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/  Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Tanaman ekor kucing. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_ekor_kucing Bay, W. W., Hermanu, L. S., & Sinansari, R. (2020). Standarisasi simplisia daun ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) dari tiga daerah berbeda. Journal of Pharmacy Science and Practice.Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/161402-ID-none.pdf Socfindo Conservation. (n.d.). Acalypha hispida Burm.f. Diakses dari: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/179 CAT’S TAIL (Acalypha hispida) Latin nameAcalypha hispida TaxonomyKingdom: PlantaeSubkingdom: TracheobiontaSuperdivision: SpermatophytaDivision: MagnoliophytaClass: MagnoliopsidaSubclass: RosidaeOrder: EuphorbialesFamily: EuphorbiaceaeGenus: AcalyphaSpecies: Acalypha hispida Burm.f.(Kevin Caesar, 2015) General DefinitionThe cat’s tail plant (Acalypha hispida) is an ornamental and herbal plant from the Euphorbiaceae family, native to tropical regions. This plant is known for its characteristic red, drooping flowers resembling a cat’s tail. Besides being an ornamental plant, this plant is also used in traditional medicine due to its various active compounds with health benefits.This plant generally grows well in tropical climates with fertile soil and adequate sunlight, and is often used in traditional medicine to help heal wounds, inflammation, and infections. ContentThe cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) is known to contain various phytochemical compounds that play a role in its biological activities. The main components of this plant include phenolic compounds and their derivatives, such as flavonoids, which function as antioxidants, as well as saponins and alkaloids, which have antibacterial activity. Furthermore, this plant also contains glycosides, steroids, phlobatanin, and hydroxyanthraquinone, which contribute to pharmacological effects such as anti-inflammatory and wound healing. Other unique compounds, such as acalyphin, essential oils, gallic acid, and corilagin, also support the antioxidant and antimicrobial activities of this plant. Due to these various components, the cat’s tail plant has potential as a natural ingredient in traditional medicine and health product development (Socfindo Conservation, n.d.). Benefits The efficacy of the leaves can treat bleeding tongue due to poisoning, treat white lepia. Here are the more complete ones: 1. Anti-inflammatory (anti-inflammatory) Helps reduce inflammation in the body Suitable for wounds, irritations, or inflammation of the intestines 2. Accelerates wound healing The leaves can be pounded and glued to the wound Helps speed up the skin’s recovery process 3. Antibacterial & antimicrobial The content of active compounds is able to fight disease-causing bacteria Supports healing of mild infections 4. Overcoming indigestion Traditionally used for dysentery, inflammation of the intestine, and worms 5. Stop bleeding Flower decoction can help stop light bleeding 6. Antioxidants Protects the body from free radicals Potentially maintaining healthy body cells 7. Reduces pain and swelling Effective for joint pain or mild swelling With regards to anti-inflammatory effects Processing Method The cat’s tail plant (Acalypha hispida Burm.f.) that has undergone processing, such as drying and extraction, can be utilized in various forms of herbal products. Traditionally, the leaves of this plant are often boiled to make a decoction to be consumed as an herbal remedy to help relieve inflammation, digestive disorders, and boost the immune system. Additionally, fresh leaves can be crushed and used as a topical medicine to speed up wound healing or treat mild skin infections. In modern development, cat’s tail plant extracts can be formulated into products such as ointments, creams, or gels as topical medicine, and have the potential to be developed into herbal supplements or other health products. This utilization is based on the content of active compounds such as flavonoids, saponins, and phenolics, which have antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory activities (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026). References STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Know 17 benefits of cat’s tail plant that effectively heals wounds – E-Journal. Accessed from: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/ Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Cat’s

EKOR KUCING (Acalypha hispida) Read More »

Alamanda (Allamanda cathartica L.)

Nama Latin Allamanda cathartica L. Taksonomi Kingdom : Plantaee Divisi : Basidiomycota Kelas : Magnoliopsida Ordo : Apocynales Famili : Apocynaceae Genus : Allamanda Spesies : Allamanda cathartica (Anggita, 2019) Definisi Umum Tanaman alamanda (Allamanda cathartica) merupakan salah satu genus dari famili Apocynaceae yang berasal dari Brazil Amerika Serikat. Alamanda mempunyai nama daerah Lame areuy (sunda) dan bunga akar kuning (melayu). Tanaman hias ini selain dirumah pribadi, tanaman hias juga dibutuhkan diperkantoran/instansi, hotel, pertokohan dan lain-lain (Haryati, 2010). Kandungan Tanaman alamanda mengandung senyawa-senyawa di dalamnya yang memiliki banyak manfaat dan khasiat. Beberapa senyawa yang terkandung di dalam tanman alamanda adalah sebagai berikut : 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloid 4. Flavonoid 5. Tanin 6. Saponin 7. Fenol 8. Steroid Khasiat Kandungan yang terdapat di dalam tanaman alamanda memiliki khasiat sebagai alternatif obat kontrasepsi sintetik. Selain itu, tanaman alamanda juga berpotensi besar sebagai antijamur dan anti mikroba yang sering menyebabkan infeksi pada kulit dan kuku manusia. Tanaman alamnda juga berkhasiat sebagai pereda batuk, penawar racun, dan pereda demam. Cara Pengolahan Tanaman alamanda dapat diolah dengan beberapa cara yaitu : 1. Daun Daun tanaman alamanda yang masih segar dapat dicuci bersih dan direbus dengan satu gelas air selama kurang lebih 15 menit, lalu disaring untuk dapat diminum airnya sebagai penawar racun. Selain itu, daun tanaman alamanda dapat ditumbuk hingga halus yang kemudian hasilnya dapat digunakan sebagai obat luar. 2. Getah batang Getah batang tanaman alamanda dapat diambil untuk dijadikan obat luar seperti salep. Daftar Pustaka Anggita. 2019. Taksonomi dan Morfologi Bunga Alamanda. Artikel Dokumen Scribd. Gunawan. B.,Fajriaty. I.,Untari. E.K. 2019. Analisis Senyaw pada Ekstrak Etanol Daun Alamanda (Allamanda cathartica) sebagai Antifertilitas. Jurnal Farmasi Kalbar. Vol 4(1) Haryati.  2010.  Prospek  Agribisnis  Tanaman  Hias  dalam  Pot  (POTOLANT). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. Vol 3(2) Mahyuni. S.,Komala O.,Fadilah N. 2025. Perbandingan Aktivitas Ekstrak Microwave Assisted Extraction dan Refluks Daun Alamanda (Allamanda cathartica L.) terhadaap Jamur Trychophyton rubrum. Jurnal Farmasi, Kesehatan dan Sains (FASKES). Vol. 03(01). Wati. N.,Rahmawati. L.,Sampirlan. 2021. Penggunaan Metode Stek untuk Perbanyakan Tanaman Alamanda (Allamanda chatartica). Jurnal Biologi Kenanga. V717.803. Alamanda (Allamanda cathartica L.) Scientific Name Allamanda cathartica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Basidiomycota Class: Magnoliopsida Order: Apocynales Family: Apocynaceae Genus: Allamanda Species: Allamanda cathartica (Anggita, 2019) General Definition The alamanda plant (Allamanda cathartica) is a genus in the Apocynaceae family native to Brazil and the United States. Allamanda is known locally as Lame areuy (Sundanese) and bunga akar kuning (Malay). This ornamental plant is not only popular in private homes but is also widely used in offices, government agencies, hotels, retail spaces, and other settings (Haryati, 2010). Components The alamanda plant contains compounds that offer numerous benefits and medicinal properties. Some of the compounds found in the alamanda plant are as follows: 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloids 4. Flavonoids 5. Tannins 6. Saponins 7. Phenols 8. Steroids Benefits The compounds found in the alamanda plant serve as a natural alternative to synthetic contraceptives. Additionally, the alamanda plant holds significant potential as an antifungal and antimicrobial agent against pathogens that commonly cause skin and nail infections in humans. The alamanda plant also acts as a cough suppressant, an antidote, and a fever reducer. Methods of Processing The alamanda plant can be processed in several ways, namely: 1. Leaves Fresh alamanda leaves can be washed thoroughly and boiled in one cup of water for approximately 15 minutes, then strained so the liquid can be drunk as an antidote. Additionally, alamanda leaves can be ground into a fine paste, which can then be used as a topical remedy. 2. Stem Sap The sap from the alamanda plant’s stem can be collected to make topical remedies such as ointments. References Anggita. 2019. Taxonomy and Morphology of the Alamanda Flower. Scribd Document Article. Gunawan, B., Fajriaty, I., & Untari. E.K. 2019. Analysis of Compounds in Ethanol Extracts of Alamanda Leaves (Allamanda cathartica) as an Antifertility Agent. West Kalimantan Pharmacy Journal. Vol. 4(1) Haryati. 2010. Prospects for the Agribusiness of Potted Ornamental Plants (POTOLANT). Scientific Journal of Agribusiness and Fisheries. Vol. 3(2) Mahyuni, S., Komala, O., & Fadilah, N. 2025. Comparison of the Activity of Microwave-Assisted Extraction and Reflux Extracts of Allamanda (Allamanda cathartica L.) Leaves against the Fungus Trichophyton rubrum. Journal of Pharmacy, Health, and Science (FASKES). Vol. 03(01). Wati, N., Rahmawati, L., & Sampirlan. 2021. Use of the Cutting Method for Propagating Allamanda (Allamanda cathartica) Plants. Kenanga Biology Journal. V717.803.

Alamanda (Allamanda cathartica L.) Read More »

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb)

Nama Latin Ardisia elliptica Thunb Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Primulales Famili : Myrsinaceae R. Br. Genus : Ardisia Sw. Spesies : Ardisia elliptica Thunb.                                                                                   (USDA, t.t.) Definisi Umum Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) merupakan salah satu tumbuhan liar yang termasuk dalam famili Myrsinaceae dan umumnya tumbuh dalam bentuk perdu atau pohon kecil. Tanaman ini memiliki ciri morfologi berupa batang berkayu dengan tinggi dapat mencapai sekitar 5 meter, serta daun berbentuk lonjong memanjang dengan ukuran berkisar 8–20 cm dan berwarna hijau hingga kemerahan. Buah lempeni tumbuh berkelompok di sekitar percabangan daun, berukuran kecil, dan mengalami perubahan warna yang khas dari merah terang menjadi hitam saat matang. Karakteristik fisik tersebut menjadikan tanaman ini cukup mudah dikenali, meskipun sering kali kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Secara umum, tanaman lempeni memiliki potensi yang cukup besar baik dari segi kesehatan maupun pengembangan ekonomi. Buah dan daunnya diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta triterpena yang berperan sebagai antioksidan, antimikroba, dan berpotensi sebagai agen antidiabetes. Selain itu, tanaman ini relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan intensif, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai komoditas lokal berbasis agribisnis. Dengan pemanfaatan yang tepat, lempeni dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti minuman herbal, selai, maupun campuran produk pangan lainnya (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Kandungan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam bidang kesehatan. Bagian buah dan daun lempeni kaya akan senyawa seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antimikroba. Selain itu, daun lempeni juga mengandung senyawa triterpena, khususnya α-amyrin dan β-amyrin, yang dilaporkan memiliki potensi sebagai antiplatelet serta berperan dalam pengendalian kadar gula darah. Kandungan senyawa tersebut menjadikan tanaman lempeni berpotensi sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan produk herbal dan pangan fungsional. Secara keseluruhan, keberadaan senyawa-senyawa bioaktif ini menunjukkan bahwa lempeni tidak hanya bernilai sebagai tanaman liar, tetapi juga memiliki prospek yang cukup besar dalam pemanfaatan kesehatan dan industri (Karlingga et al., 2025; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Khasiat Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) memiliki beberapa khasiat utama bagi kesehatan, antara lain sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas, antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri, serta berpotensi sebagai antidiabetes dalam membantu menurunkan kadar gula darah. Selain itu, kandungan bioaktifnya juga memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat bagi tubuh (Karlingga et al., 2025; Agustini et al., 2023; Wibawa & Lugrayasa, 2020). Cara Pengolahan Tanaman lempeni (Ardisia elliptica Thunb.) dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, salah satunya minuman herbal dari daunnya. Proses pengolahannya dilakukan dengan mencuci bersih daun lempeni, kemudian direbus bersama bahan tambahan seperti kunyit, belimbing wuluh, dan gula hingga mendidih. Setelah itu, larutan didinginkan dan siap dikonsumsi. Selain itu, buah lempeni juga dapat diolah menjadi produk lain seperti selai dan campuran kopi melalui proses pengeringan dan pengolahan lanjutan, sehingga meningkatkan nilai tambah tanaman ini (Karlingga et al., 2025). Daftar Pustaka Karlingga, L. D., Rachman, L. J., Febriyanti, M. P., Alamsyah, M. F., Hidayatullah, M. N., Mundiroh, M., et al. (2025). Olahan tanaman lempeni sebagai produk alternatif unggulan untuk masa depan masyarakat Kemlagi, Mojokerto. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 268–284. https://doi.org/10.55506/arch.v4i2.163  Wibawa, I. P. A. H., & Lugrayasa, I. N. (2020). Studi potensi antioksidan dan antimikroba ekstrak buah lempeni (Ardisia elliptica Thunb.). Jurnal Widya Biologi, 11(2), 109–117.

LEMPENI (Ardisia elliptica Thunb) Read More »

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria))

Nama Latin Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi           : Spermathopyta Subdivisi     : Angiospermae Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Zingiberales Famili          : Zingiberaceae Genus          : Curcuma Spesies        : Curcuma zedoaria (BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN PAPUA T.A, 2022) Definisi Umum Kunyit putih (Curcuma zedoaria) termasuk ke dalam kelompok tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah dan mampu membentuk tunas serta akar baru pada setiap ruasnya. Kunir putih dicirikan oleh adanya batang semu yang lunak dan berada di dalam tanah dalam bentuk rimpang dengan warna hijau pucat. Daunnya berupa daun tunggal berbentuk lanset, yaitu lonjong dengan ujung runcing dan pangkal tumpul, serta memiliki tulang daun menyirip halus. Tanaman ini tergolong tanaman semak dengan tinggi mencapai ± 2 meter, permukaannya berbulu halus, dan berwarna hijau dengan garis-garis ungu. Bunga kunir putih tersusun secara majemuk, berbentuk tabung, muncul dari ketiak daun, dan tumbuh ke atas membentuk bongkol bunga yang berukuran besar (Sagita et al., 2022) Kandungan Kandungan utama yang terdapat pada rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang terdiri atas kurkumin sebagai komponen terbesar, desmetoksikurkumin sekitar 10%, serta bisdesmetoksikurkumin sebesar 1–5%. Kurkumin termasuk ke dalam golongan senyawa polifenol yang berperan penting dalam aktivitas biologis kunyit. Selain kurkuminoid, rimpang kunyit juga mengandung berbagai senyawa lain yang bermanfaat, antara lain minyak atsiri yang tersusun atas keton seskuiterpen, turmeron dan tumeon (±60%), zingiberen (±25%), serta senyawa lain seperti felandren, sabinen, borneol, dan sineol. Rimpang kunyit juga mengandung komponen nutrisi berupa lemak (1–3%), karbohidrat (±3%), protein (±30%), pati (±8%), vitamin C (45–55%), serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan kalsium, yang berkontribusi terhadap khasiatnya dalam membantu pengobatan berbagai penyakit (Sofiana Putri, 2023) Khasiat Cara Pengolahan Rimpang kunyit putih dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut: Daftar Pustaka Indryani, Chiuman, Wijaya, Lister, & Grandis. (2021). Antibacterial Effect of Curcuma zedoaria Extract on Bacillus cereus and Staphylococcus epidermidis. Jyothi, Prasanna, Sakarkar, Prabha, Ramaiah, & Srawan. (2023). Microencapsulation techniques, factors influencing encapsulation efficiency. Sagita, N. D., Sopyan, I., & Hadisaputri, Y. E. (2022). Kunir Putih (Curcuma zedoaria Rocs.): Formulasi, Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologi. Majalah Farmasetika, 7(3), 189. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v7i3.37711 Sofiana Putri, M. (2023). Curcuma zedoaria): Its Chemical Subtance and The Pharmacological Benefits. In J MAJORITY | (Vol. 3). Syed Abdul Rahman, Abdul Wahab, & Abd Malek. (2022). In vitro morphological assessment of apoptosis induced by antiproliferative constituents from the rhizomes of Curcuma zedoaria. Evidence-Based Complement Altern Med. Magdalena MM. Kunyit putih: herbal pengusir kanker dan tumor. 2014. Tersedia dari http://www.deherba.com (Diakses tanggal 24 Maret 2014). Hartati MS, Mubarika S, Bolhuis RLH, Nooter K, Oostrum RG, Boersma AWM, Wahyuono S. Sitotoksisitas rimpang temu mangga (Curcuma mangga) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria L) terhadap beberapa sel kanker manusia (in vitro) dengan metoda SRB. Berkala Ilmu Kedokteran. 2003; 35(4): 197–201. Hutapea JR. Inventaris tanaman obat Indonesia. Edisi ke–2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993.

Kunyit Putih (Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria)) Read More »

Bunga Nusa Indah

Nama Latin Mussaenda frondosa L  Taksonomi Kingdom : Plantae  Phylum : Tracheoophyta  Class : Magnoliopsida  Order : Gentianules  Family : Rubiaceae Genus : Mussaenda  Species : Mussaenda frondosa L  (Setia et al., 2022) Definisi umum Tanaman nusa indah berasal dari Filipina, awalnya merupakan tanaman liar yang tumbuh disemak-semak di lereng perbukitan. Tanaman ini umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Selain cantik, Nusa Indah juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Tumbuhan liar ini memiliki cabang-cabang yang berbulu halus. Tangkai bunga dapat mencapai panjang 1,5 cm dengan pangkalnya yang lonjong dan berujung runcing. Daunnya memiliki panjang antara 6 hingga 10 cm, juga ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian bawah dan ujungnya yang runcing. Stipula tanaman ini memiliki panjang 3-4 mm, berbentuk lonjong, dan bercabang dua di 5 bagian puncaknya.Bunga tumbuhan ini tumbuh dalam bentuk majemuk di bagian terminal, membentuk cymes yang longgar dan memiliki tampilan tomentose linier dengan panjang antara 1 hingga 1,5 cm serta ditutupi rambut halus. Brakteolnya memiliki bentuk linier.Yang menarik, salah satu dari lima lobus kelopak bunga berkembang menjadi struktur yang menyerupai daun dengan ukuran 8-12 x 4,5 cm dan juga ditutupi rambut putih, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Panjang lobus tersebut berkisar 6-7 mm, berbentuk oval-lanset, dan terhubung dengan corolla yang memiliki panjang 2,5-3 cm, berbentuk corong dan melebar di bagian tengah, dengan warna yang menawan, baik oranye maupun kuning (Setia et al., 2022).  Kandungan Terdapat Fitokonstituen seperti quercetin, isoquercetin, hyperin, asam singapat, asam ferulat, dan stiglusida diisolasi menggunakan kromatografi arus balik tetes dari ekstrak metanol daun bunga Mussaenda frondosa L (Shanthi & Radha, 2020).  Khasiat Menyembuhkan influenza, demam, batuk, radang amandel, radang tenggorokan, koreng, luka, bisul, mencegah kanker payudara, mencegah dan mengatasi kanker payudara. Akar dari tanaman bunga Nusa Indah berguna untuk mengobati batuk dan aktivitas farmakologi yang telah dilaporkan yaitu sebagai diuretik, antipologis, antipiretik aktivitas dalam laringoparingitis, gastroenteritis akut, liver dan hepatitis (Rojin dkk., 2015). Kandungan senyawa kimia yang terdapat pada bunga Nusa Indah diantaranya adalah senyawa flavonoid, saponin, glikosida dan terpenoid (Eishwaraiah, 2011; Raju dan Rao, 2011). Senyawa terpenoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang dapat dijumpai pada bagian akar, batang, daun, buah maupun biji tanaman. Senyawa golongan terpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi yang menarik sebagai antiviral, antibakteri, antiinflamasi, sebagai inhibisi terhadap sintesis kolesterol dan antikanker (Mahato et al.,1997). Menurut Andini, dkk., (2014), senyawa golongan triterpenoid merupakan agen fitokimia yang dapat secara selektif membunuh sel kanker payudara dan mencegah rusaknya sel normal.  Cara pengolahan a. Untuk mencegah kanker payudara : Siapkan 15-30 g batang nusa indah kering atau 30-60 g yang segar, dan 30 g tapak dara. Rebus semua bahan dengan 600 ml air hingga mendidih dan air tersisa 300 ml. Saring dan dinginkan, minum ramuan. b. Untuk Influenza : Cuci bersih 12 g daun segar lalu rebus dengan 200 ml air bersih hingga mendidih (selama 5 menit). Saring dan dinginkan lalu minum sekaligus (sehari 2-3 kali). Daftar Pustaka Raju, N.J., and Rao, G.B., 2011, Anthelmintic Activities Of Antigonon Leptopus Hook and Mussaenda erythrophylla Lam., J. Pharm. Pharmaceut. Sci., 3 : 68-69.  Rojin, Sukanya S., dan Rajendra H., 2015, Hepatoprotective Effect Of Erythrophylla And Aegle Marmelos In Ethanol Induced Rat Hepatotoxicity Model, International Journal Of Applied Biology And Pharmaceutical Technology, 6 (3).  Tussanti, Iin, Andrew J., dan Kisdjamiatun, 2014, Sitotoksisitas In Vitro Ekstrak Etanolik Buah Parijoto (Medinilla Speciosa, Reinw.Ex Bl.) Terhadap Sel Kanker Payudara T47D, J. Gizi Indonesia, 2(2) : 53-58  Parwata IM. O.A.P.,Ratnayani K., dan Listya A. , 2010. Aktivitas Antiradical Bebas serta Kadar Beta Karoten pada Madu Randu (Ceiba Pentendra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L). Jurnal Kimia. 4:54-62.  Putra,B.A.A., Bogoriani, N.W., Diantariani, N.W., 2014. Ekstraksi Warna Alam dari Bonggol Tanaman Pisang (Musa Paradiasciaca L.) dengan Metode Maserasi, Refluks, dan Sokletasi. 8:113-199.  Rita, W.S., 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma Zedooria Berg.) (Roscoe). J.Kim 4:20-26. BEAUTIFUL NUSA FLOWERS LATIN NAME Mussaenda frondosa L. Taxonomy Kingdom: Plantae Phylum: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Gentianules Family: Rubiaceae Genus: Mussaenda Species: Mussaenda frondosa L. (Setia et al., 2022) General Definition The Nusa Indah plant originates from the Philippines and originally grows wild as a shrub on hillside slopes. This plant is generally cultivated as an ornamental. Besides its beauty, the Nusa Indah also offers health benefits. This wild plant has fine, hairy branches. The flower stalks can reach 1.5 cm in length with an oval base and pointed tips. The leaves are between 6 and 10 cm long and are covered with fine hairs on the underside and have pointed tips. The stipules of this plant are 3-4 mm long, oval, and bifurcated at five apex points. The flowers grow in terminally compound inflorescences, forming loose, linear-tomentose cymes, ranging from 1 to 1.5 cm long and covered with fine hairs. The bracteoles are linear. Interestingly, one of the five calyx lobes develops into a leaf-like structure measuring 8-12 x 4.5 cm and also covered with white hairs, creating a truly stunning sight. The lobes are 6-7 mm long, oval-lanceolate, and connected to a corolla that is 2.5-3 cm long, funnel-shaped and widening in the center, and has a captivating color, either orange or yellow (Setia et al., 2022). Content Phytoconstituents such as quercetin, isoquercetin, hyperin, singapic acid, ferulic acid, and stiglucide were isolated using countercurrent drop chromatography from the methanol extract of Mussaenda frondosa L. flower leaves (Shanthi & Radha, 2020). Benefits Treats influenza, fever, cough, tonsillitis, sore throat, scabs, wounds, boils, and prevents breast cancer. The roots of the Nusa Indah flower are useful for treating coughs, and its pharmacological activities have been reported as diuretic, antifungal, and antipyretic activities in laryngopharyngitis, acute gastroenteritis, liver disease, and hepatitis (Rojin et al., 2015). The chemical compounds found in the Nusa Indah flower include flavonoids, saponins, glycosides, and terpenoids (Eishwaraiah, 2011; Raju and Rao, 2011). Terpenoid compounds are secondary metabolites found in the roots, stems, leaves, fruits, and seeds of plants. Terpenoid compounds exhibit interesting pharmacological activities as antivirals, antibacterials, anti-inflammatories, inhibitors of cholesterol synthesis, and anticancer agents (Mahato et al., 1997). According to Andini et al., (2014), triterpenoid compounds are

Bunga Nusa Indah Read More »

Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.)

Nama Latin Isotoma longiflora (L.) C. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Campanulaceae Genus : Isotoma Spesies : Isotoma longiflora L.C. pers Plantamor (2008) Definisi Umum Kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don), yang juga dikenal dengan sinonim Isotoma longiflora, merupakan tanaman herba berumur panjang yang termasuk dalam famili Campanulaceae dan secara alami tumbuh di wilayah tropis yang lembap, terutama di Asia Tenggara (Burhan, 2024). Tanaman ini dikenal sebagai spesies ruderal karena kemampuannya beradaptasi pada lingkungan terganggu dan mampu tumbuh tanpa perawatan khusus di area terbuka, pinggir parit, pematang sawah, maupun dekat permukiman (Ibrahim et al., 2025). Secara etnobotani, kitolod telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman herbal yang dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan mata, pernapasan, serta sebagai agen antiinflamasi dan antiseptik alami (Andi Permana et al., 2025). Namun, keberadaan senyawa alkaloid berpotensi toksik dalam jaringan tanaman membuat penggunaannya memerlukan kehati-hatian, terutama jika digunakan secara oral atau kontak langsung pada jaringan sensitif seperti mata (Ibrahim et al., 2025). Dengan demikian, kitolod dipandang sebagai tanaman yang memiliki nilai farmakologi potensial, tetapi masih memerlukan validasi ilmiah lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan batas dosis penggunaannya (Burhan, 2024). Secara morfologis, kitolod merupakan tanaman herba berbatang lunak yang umumnya memiliki tinggi antara 30 hingga 60 cm, dengan struktur batang hijau, sedikit berair, dan mudah patah jika ditekan (Burhan, 2024). Daunnya tersusun secara spiral dan berbentuk lanset memanjang, dengan ujung meruncing dan tepi yang dapat bergerigi atau sedikit melekuk, berukuran antara 5–17 cm pada tanaman dewasa (Ibrahim et al., 2025). Ciri khas utama tanaman ini terletak pada bunganya yang berbentuk terompet ramping dengan mahkota putih menyerupai bintang, tumbuh soliter pada ketiak daun melalui tangkai panjang, sehingga mudah dikenali dibanding tanaman liar lainnya (Andi Permana et al., 2025). Buah tanaman berbentuk kapsul kecil yang akan merekah ketika matang dan mengandung banyak biji berukuran sangat halus yang membantu distribusi alami melalui angin atau air (Ibrahim et al., 2025). Seluruh bagian tanaman mengandung getah putih yang lengket dan dilaporkan bersifat iritatif, sehingga kontak langsung dengan mata atau luka terbuka perlu dihindari (Burhan, 2024). Kandungan Kitolod mengandung berbagai metabolit sekunder yang berperan penting dalam aktivitas biologisnya, terutama dari kelompok: (Burhan, 2024).   Khasiat   Menurut literatur dan laporan etnobotani, Kitolod digunakan secara tradisional maupun dalam penelitian ilmiah untuk berbagai tujuan, antara lain:  Cara Pengolahan Berdasarkan literatur:  (Lena Enjelina, 2021) Daftar Pustaka Ibrahim, A., Bulan, A. S., Ramadhan, M. R., Bone, M., Rashif, H. R., Rusman, A., Arifuddin, M., Junaidin, J., & Rijai, L. (2025). Secondary metabolites and cytotoxicity of Kitolod leaf extract (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) against shrimp larvae (Artemia salina Leach). Jurnal Riseta Naturafarm, 2(1), 33–42. Burhan, A. (2024). Phytochemical profiling of Hippobroma longiflora leaf extract. Egyptian Journal of Chemistry. Andi Permana, S. D. A., Nisa Nur Azizah, T. R., Selviani E. S., Intan N. L. I., Alisya N. A., & Sehrama A. W. (2025). Fitokimia dan farmakologi tumbuhan Kitolod (Isotoma longiflora Presi). Buana Farma. “DNA Barcoding Analysis Kitolod (Hippobroma longiflora) from Riau Based on matK Gene.” (2025) Lena Enjelina. (2021). Monografi Tumbuhan Kitolid. https://www.scribd.com/document/524876548/MONOGRAFI-2

Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.) Read More »

Gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Nama Latin Talinum paniculatum Gaertn Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Spermatophyta Kelas           : Dicotyledonae Ordo            : Caryophyllales Famili          : Talinaceae Genus          : Talinum Spesies        : Talinum paniculatum Gaertn (Simpson (2006) dan van Steenis (2002) ) Definisi Umum Tanaman Gingseng Jawa adalah tanaman obat yang tumbuh liar di pekarangan dan kebun di Indonesia. Masyarakat lokal sering menyebutnya “som jawa” dan memanfaatkannya sebagai sayuran dan obat herbal tradisional karena khasiatnya yang beragam. Tanaman ini dikenal memiliki kandungan bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid, yang memberikan aktivitas farmakologis (Silalahi, 2022). Tanaman Gingseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) merupakan herba tropis tegak dengan akar tunggang menebal sebagai tempat cadangan makanan. Batangnya berair dan bercabang banyak, sedangkan daunnya tunggal, berbentuk elips hingga lonjong, licin, dan tersusun berselang-seling, yang menjadi bagian utama yang dimanfaatkan karena kandungan senyawa bioaktifnya. Bunga tersusun dalam malai kecil berwarna merah muda hingga ungu muda, dengan buah berupa kapsul kecil berisi biji hitam. Tanaman ini mudah dibudidayakan di daerah tropis dan memiliki kemampuan produksi biomassa daun yang tinggi (Lakitan et al., 2021; Silalahi, 2022). Kandungan Tanaman gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) mengandung berbagai senyawa bioaktif penting, antara lain flavonoid, senyawa fenolik, saponin, tanin, serta steroid atau triterpenoid, yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri (Oktaviani et al., 2024; Susilo et al., 2024). Selain itu, gingseng jawa juga mengandung chlorogenic acid dan quercetin yang memiliki aktivitas antiinflamasi, serta fitosterol seperti stigmasterol dan sitosterol yang mendukung aktivitas biologis tanaman ini (El-Baehaqi et al., 2022; Susilo et al., 2024). Khasiat Ekstrak daun dan akar gingseng jawa memiliki aktivitas antioksidan yang membantu menekan stres oksidatif dan menjaga kesehatan sel (Rachmawan et al., 2025; Susilo et al., 2024). Kandungan flavonoid, tanin, dan saponin pada daunnya juga menunjukkan aktivitas antibakteri, khususnya terhadap Shigella dysenteriae (Oktaviani et al., 2024). Selain itu, ekstrak akar gingseng jawa dilaporkan memiliki efek afrodisiak, sedangkan senyawa fenolik dan fitosterol berkontribusi terhadap aktivitas antiinflamasi dan tonik, sehingga mendukung pemanfaatannya sebagai tanaman obat untuk meningkatkan vitalitas tubuh (El-Baehaqi et al., 2022; Susilo et al., 2024). Cara Pengolahan Akar atau daun dicuci dengan air mengalir hingga bersih dari kotoran dan tanah sebelum diolah. Akar dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau suhu rendah hingga kadar air menurun dan bahan stabil. Simplisia diekstraksi menggunakan pelarut air dengan pemanasan untuk menarik senyawa aktif yang larut air. Ekstrak cair dikeringkan menggunakan spray drying hingga diperoleh ekstrak kering berbentuk serbuk. Serbuk ekstrak disimpan dalam wadah tertutup, terlindung dari cahaya dan kelembapan. Daun Ginseng Jawa disortasi, kemudian dicuci menggunakan air mengalir lalu ditiriskan. Daun ginseng jawa dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 55°C. Kemudian daun gigseng jawa digiling menjadi serbuk teh. Teh diseduh dengan air mendidih (suhu 90oC) sebanyak 121 ml dalam gelas, lalu ditutup selama 15 menit. Teh herbal siap disajikan (Fajriyah et al., 2024) Daftar Pustaka El-Baehaqi, S. F., A. D. Aminah, dan F. Firdayani. 2022. Analysis of potential compounds from Javanese Ginseng (Talinum paniculatum Gaertn.) and Moringa leaves as the anti-inflammation with molecular docking method. Acta Pharmaceutica Indonesia, 47 (2) : 16 – 27. DOI: https://doi.org/10.5614/api.v47i2.18974 Fajriyah, M., A. Nirmalawaty, D. A. Rosida, dan T. W. S. Panjaitan. 2024. Pembuatan teh herbal dengan bahan baku daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum), Rosella (Hibiscus sabdariffa) dan Serai (Cymbopogon citratus). Agroteksos, 34 (1) : 242 – 249. DOI: https://doi.org/10.29303/agroteksos.v34i1.1100 Lakitan, B., K. Kartika, L. I. Widuri, E. Siaga, dan L. N. Fadilah. 2021. Lesser-known ethnic leafy vegetables Talinum paniculatum grown at tropical ecosystem: Morphological traits and non-destructive estimation of total leaf area per branch. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 22, 4487 – 4495. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d22104 Oktaviani, R., F. Fitriyanti, dan P. K. Sari. 2024. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn) terhadap Shigella dysenteriae. Borneo Journal of Pharmascientech, 8 (1) : 25 – 33. DOI: https://doi.org/10.51817/bjp.v8i1.502 Rachmawan, R. L., S. Wahyuningsih, dan F. H. Suryani. 2025. Uji aktivitas ekstrak etanol 50% akar Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Jacq. (Gaertn)) sebagai inhibitor stres oksidatif. J. Buana Farma, 5 (3) : 386 – 393. DOI: https://doi.org/10.36805/jbf.v5i3.1391 Silalahi, M. 2022. Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn (Kajian pemanfaatannya sebagai bahan pangan dan bioaktivitasnya). Pro-Life: Jurnal Pendidikan Biologi, Biologi dan Ilmu Serumpun, 9 (1) : 289 – 299. DOI: https://doi.org/10.33541/pro-life.v9i1.3588 Susilo, S., F. N. Aini, dan E. D. Permanasari. 2024. Phytochemical constituents of leaves and roots ethanolic extract of Talinum paniculatum and their biological activities. Research Journal of Pharmacy and Technology, 17 (2) : 679 – 685. DOI: https://doi.org/10.52711/0974-360X.2024.00105

Gingseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Read More »

Kantil (Magnolia × alba)

Nama Latin Magnolia × alba Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Famili : Magnoliaceae Genus : Magnolia Spesies : Magnolia × alba (Indrokilo oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan periode 2019-2020) Definisi Umum Kantil putih (Magnolia × alba) adalah pohon berbunga yang banyak ditemukan di kawasan tropis Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Tiongkok. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih bersih dan sangat harum, sehingga sering digunakan dalam upacara adat, hiasan bunga, serta sebagai simbol budaya di beberapa daerah. Walaupun lebih dikenal sebagai tanaman hias, bagian bunganya juga memiliki sejarah pemanfaatan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan kesehatan ringan. Kandungan Tanaman kantil putih mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat berkontribusi pada aktivitas farmakologisnya: Khasiat  Beberapa khasiat tanaman kantil putih yang didukung oleh penelitian ilmiah dan penggunaan tradisional antara lain: Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak bunga Magnolia × alba memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, menunjukkan potensi sebagai bahan alami untuk menghambat pertumbuhan mikroba penyebab infeksi (Safrina, 2022). Kandungan flavonoid dalam ekstrak bunga menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki aktivitas antioksidan, yang berarti dapat membantu tubuh mengatasi stres oksidatif dan mendukung kesehatan secara umum Dalam praktik pengobatan tradisional, bunga kantil putih sering digunakan untuk meredakan batuk dan gangguan pernapasan ringan, serta sebagai bahan aromaterapi dan penenang karena aromanya yang khas. Tanaman ini juga digunakan untuk membantu meredakan demam, gangguan pencernaan ringan, serta sebagai diuretik ringan (peluruh kencing) (Oktaviana dkk., 2023). Cara Pengolahan Berikut beberapa cara pengolahan bagian tanaman kantil putih untuk pemanfaatan tradisional atau pengujian aktivitas biologis: Bunga kantil dapat direbus dengan air bersih untuk dijadikan teh herbal ringan. Penyajian ini sering digunakan secara tradisional sebagai minuman aroma terapi yang diyakini membantu meredakan batuk atau stres ringan. Dalam penelitian modern, bagian bunga diekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol untuk memperoleh konsentrasi flavonoid dan senyawa beraroma lain yang kemudian diuji aktivitasnya di laboratorium (Mastura dkk., 2024). Minyak esensial yang diperoleh dari bunga M. × alba juga digunakan dalam aromaterapi atau sebagai bagian dari formulasi minyak pijat untuk relaksasi karena aromanya yang menenangkan Daftar Pustaka Bawa, I. G. A. G. (2011). Aktivitas antioksidan dan antijamur senyawa atsiri bunga cempaka putih (Michelia alba). Jurnal Kimia, 5(1): 43–50. De Mel, S., Gruenler, J., Khoury, L., Heynes, A., Fazekas, J., Damaske, K., and Anderson, R. S. (2025). Green synthesis of silver nanoparticles using Magnolia alba leaf extracts and evaluating their antimicrobial, anticancer, antioxidant, and photocatalytic properties. Scientific Reports, 15 (1): 23709. Mastura, Amna, U., Niaci, S., and Pebiola, T. (2024). Determination of total flavonoids extract of white (Magnolia alba (DC.) Figlar) using spectrophotometry UV–Vis method. Journal of Carbazon, 2(1): 31–37. Oktaviana, N., Isnaini, N., Harnelly, E., Zulkarnain, Z., Muhammad, S., dan Misrahanum, M. (2023). Theoretical evaluation of Michelia species’ bioactive compounds and therapeutic potential: A literature review. Grimsa Journal of Science, Engineering and Technology, 1(2): 52–59. Safrina, S. (2022). Uji aktivitas antimikroba dan kandungan senyawa kimia bunga cempaka putih (Michelia alba DC.). Jurnal Ilmiah Guru Madrasah, 1(2): 83–96. Socfindo Conservation. (n.d.). Magnolia × alba (Kantil / cempaka putih). Socfindo Conservation. https://www.socfindoconservation.co.id/plant/919](https://www.socfindoconservation.co.id/plant/919)

Kantil (Magnolia × alba) Read More »

Scroll to Top