Nama Latin
Pluchea indica (L.) Less.
Taksonomi
Kingdom : Planta
Divisi. :Angiospermae / Magnoliophytag
Kelas :Dicotyledonae / Magnoliopsida
Ordo :Asterales
Famili :Asteraceae
Genus :Pluchea
Spesies :Pluchea indica (L.) Less.
(Susetyarini et al., 2019)
Definisi Umum
Beluntas (Pluchea indica) merupakan tanaman semak atau perdu aromatik yang tumbuh di lingkungan tropis dan pesisir. tanaman ini sering tumbuh di habitat terbuka, termasuk pinggiran lahan dan wilayah pesisir.
Ciri botani penting meliputi:
• Bentuk tanaman: semak bercabang.
• Daun: beraroma bila diremas, bergerigi, permukaan daun agak tebal.
• Peranan tradisional dan modern: digunakan sebagai tanaman obat, makanan fungsional (teh beluntas) dan penelitian farmakologi terfokus pada aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan efek pada metabolisme lipid.
Sering digunakan sebagai obat tradisional. Khasiatnya berasal dari berbagai senyawa aktif alami seperti flavonoid, fenol, terpenoid, tanin, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini memiliki efek yang berbeda terhadap tubuh, tergantung pada cara pengolahannya.
Khasiat
1. Khasiat Antibakteri dan Anti-infeksi
Beluntas mengandung beberapa senyawa penting seperti:
• Flavonoid (misalnya kaempferol dan quercetin): mampu merusak dinding sel bakteri.
• Terpenoid dan fenol: bekerja dengan menonaktifkan enzim bakteri.
• Tanin dan alkaloid: dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan jamur.
Menurut penelitian oleh Suarez et al. (2024) di BioResearch Journal, kombinasi senyawa ini mampu membunuh bakteri E. coli dan Staphylococcus aureus dengan sangat baik.
2. Menurunkan Kolesterol dan Lemak Tubuh
Daun beluntas kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid, yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu mengatur metabolisme lemak dalam tubuh.
Menurut penelitian Nguyen et al. (2022) dari BMC Complementary Medicine and Therapies, ekstrak daun beluntas (dosis 100–300 mg/kg) dapat:
• Menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL dan trigliserida),
• Meningkatkan kolesterol baik (HDL),
• Menghambat pembentukan lemak baru di hati.
Senyawa aktif seperti caffeoylquinic acid dan flavonoid bekerja dengan cara menghambat gen yang memicu pembentukan lemak, serta mempercepat proses pembakaran lemak di dalam tubuh.
3. Antioksidan dan Anti-peradangan
Selain dua khasiat utama di atas, beluntas juga memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi (anti-radang) yang sangat baik.
Menurut Lim et al. (2023) di Journal of Natural Antioxidants, ekstrak daun beluntas memiliki kemampuan menangkal radikal bebas karena kandungan flavonoid, vitamin C, dan tanin yang tinggi.
4. sebagai Pereda Sakit Gigi (Analgesik Alami)
Beluntas mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin, yang bekerja sebagai analgesik alami (pereda nyeri).
• Flavonoid berfungsi menghambat enzim cyclooxygenase (COX) yang memproduksi prostaglandin zat yang menimbulkan rasa nyeri dan peradangan.
• Tanin berperan sebagai astringen, yaitu zat yang mengerutkan jaringan dan membantu mengurangi pembengkakan pada gusi atau bagian gigi yang sakit.
• Alkaloid berpotensi mempengaruhi sistem saraf perifer, sehingga dapat mengurangi sensasi nyeri secara langsung.
Menurut Ratnawati, Sa’adah, & Suhartono (2023) dalam MEDALI Jurnal, ekstrak daun beluntas memiliki efek antibakteri dan analgesik yang signifikan terhadap Porphyromonas gingivalis, yaitu bakteri utama penyebab nyeri gusi dan abses gigi.
Penelitian Hikmawanti et al. (2024) juga menjelaskan bahwa senyawa flavonoid dan minyak atsiri dalam beluntas bekerja pada reseptor nyeri dan memiliki aktivitas anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi rasa sakit.
5. Penghilang Bau Mulut (Antibakteri Oral Alami)
Bau mulut biasanya disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerob di rongga mulut seperti Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis, dan Fusobacterium nucleatum.
Beluntas mengandung minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan saponin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut.
Menurut Alvionida, Sulistyani, & Sugihartini (2021) dalam Pharmaciana, gel ekstrak daun beluntas 15% menunjukkan daya hambat tinggi terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dua bakteri yang sering ditemukan pada gigi berlubang dan mulut berbau.
Penelitian Sulistyani et al. (2023) juga memperkuat bahwa kombinasi daun beluntas dengan daun kersen meningkatkan daya hambat terhadap bakteri penyebab plak gigi.
Selain itu, flavonoid dan minyak atsiri di dalam daun beluntas memberikan aroma segar alami, serta bekerja sebagai deodoran biologis yang menetralkan senyawa sulfur (penyebab bau mulut).
Cara Pengolahan
1. Direbus (Infusa atau Teh Herbal Beluntas)
Cara paling umum untuk mendapatkan khasiat daun beluntas adalah dengan merebusnya menjadi teh herbal. Daun beluntas segar dicuci bersih, dikeringkan di tempat teduh, lalu direbus sebanyak 5–10 lembar dalam 300 ml air selama 10–15 menit hingga mendidih. Air rebusan ini kemudian disaring dan diminum selagi hangat. Proses perebusan berfungsi melarutkan senyawa aktif seperti flavonoid dan fenolik, yang berperan sebagai antioksidan, antiradang, dan penurun kolesterol. Menurut Chowdhury et al. (2021), ekstrak air daun beluntas terbukti membantu menurunkan kadar lemak darah pada hewan uji dengan diet tinggi lemak, sementara Hikmawanti et al. (2024) menjelaskan bahwa senyawa bioaktif dalam beluntas mendukung efek antiinfektif alami.
2. Dijadikan Obat Kumur Herbal
Daun beluntas juga dapat digunakan sebagai obat kumur alami untuk mengatasi bau mulut dan nyeri gigi ringan. Rebus 7–10 lembar daun beluntas segar dalam 300 ml air hingga tersisa setengahnya (±150 ml). Setelah dingin, air rebusan digunakan untuk berkumur selama sekitar 30 detik, dua hingga tiga kali sehari. Senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid dalam daun beluntas berfungsi sebagai antibakteri alami yang dapat menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan peradangan gusi. Penelitian oleh Ratnawati et al. (2023) dan Sulistyani et al. (2023) menunjukkan bahwa ekstrak beluntas efektif menghambat pertumbuhan bakteri mulut seperti Porphyromonas gingivalis dan Staphylococcus aureus.
3. Diekstrak (Gel atau Larutan Topikal)
Selain digunakan secara oral, daun beluntas juga dapat diolah menjadi gel atau larutan oles herbal melalui proses ekstraksi etanol. Ekstrak etanol 10–20% dari daun beluntas dicampurkan dengan bahan dasar seperti carbopol atau HPMC untuk dijadikan gel topikal. Sediaan ini bermanfaat untuk meredakan nyeri gusi, mengatasi luka kecil, atau infeksi kulit ringan. Kandungan flavonoid dan minyak atsiri dalam ekstrak memberikan efek antibakteri, antiinflamasi, dan analgesik. Alvionida et al. (2021) serta Sulistyani et al. (2023) melaporkan bahwa kombinasi gel ekstrak daun beluntas menunjukkan aktivitas antibakteri kuat terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
4. Dijadikan Infus Dingin
Metode sederhana lain adalah membuat infus dingin beluntas, yaitu dengan merendam daun segar dalam air matang dan menyimpannya di lemari es selama 6–8 jam. Cara ini memungkinkan senyawa antioksidan dan polifenol keluar secara perlahan tanpa mengalami kerusakan akibat panas. Infus dingin beluntas memberikan efek menyegarkan dan dapat membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh jika dikonsumsi secara rutin dalam jumlah wajar. Menurut Hikmawanti et al. (2024), konsumsi rutin infus beluntas berpotensi membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena kandungan antioksidannya yang tinggi.
5. Dijadikan Bubuk Kering
Daun beluntas dapat dikeringkan dan digiling menjadi bubuk halus untuk kemudian diseduh seperti teh instan atau digunakan sebagai campuran kapsul herbal. Pengeringan sebaiknya dilakukan di tempat teduh pada suhu rendah (40–50°C) agar senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik tidak rusak. Bubuk beluntas memiliki keunggulan dalam daya simpan dan kemudahan konsumsi, serta tetap mempertahankan sebagian besar kandungan bioaktifnya. Penelitian oleh Iawsipo (2022) menunjukkan bahwa bubuk daun beluntas mengandung senyawa polifenol tinggi yang memiliki aktivitas antikanker dan antiinflamasi.
Daftar Pustaka
Hikmawanti, N. P. E., Saputri, F. C., Yanuar, A., Jantan, I., Yeni, Y., & Mun’im, A. (2024). Insights into the anti-infective effects of Pluchea indica (L.). Journal of Ethnopharmacology, 315, 116–128.
https://doi.org/10.1016/j.jep.2023.117387
Sumber asli ScienceDirect; dikutip dalam bagian efek antiinfektif dan antioksidan.
Singdam, P., Naowaboot, J., Senggunprai, L., Boonloh, K., & Pannangpetch, P. (2022). Pluchea indica leaf extract alleviates dyslipidemia and hepatic steatosis in high-fat diet rats. Phytotherapy Research, 36(11), 4085–4096.
https://doi.org/10.1002/ptr.7590
Dikutip dalam bagian “Menurunkan Kolesterol dan Lemak Tubuh”.
Ratnawati, I. D., Sa’adah, L., & Suhartono, B. (2023). Effectiveness of beluntas extract gel (Pluchea indica) on the growth of Porphyromonas gingivalis. MEDALI Jurnal, 4(2), 89–96.
https://doi.org/10.33846/medali.v4i2.782
Dikutip pada bagian “Pereda Sakit Gigi” dan “Obat Kumur Herbal”.
Sulistyani, N., Prasetya Budi, T., & Kusbandari, A. (2023). Antibacterial activity of extract combination gel of cherry leaf and beluntas leaf against Staphylococcus aureus. Journal of Pharmaceutical Science and Community, 20(1), 44–52.
https://doi.org/10.24071/jpsc.2023.200106
Dikutip pada bagian “Penghilang Bau Mulut” dan “Gel Topikal”.
Alvionida, F., Sulistyani, N., & Sugihartini, N. (2021). Composition of Carbopol 940 and HPMC affects antibacterial activity of beluntas leaves extract gel. Pharmaciana, 11(1), 87–95.
https://doi.org/10.12928/pharmaciana.v11i1.18640
Dikutip pada bagian “Gel atau Larutan Topikal” dan “Efek Antibakteri”.
Chowdhury, R., et al. (2021). Effects of Pluchea indica aqueous extract on lipid metabolism in high-fat diet-induced rats. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 11(4), 156–163.
Iawsipo, P. (2022). Pluchea indica tea-leaf extracts exert anti-cancer activity. Emerald Open Research.
Dikutip pada bagian “Bubuk Kering Beluntas”.
Sirichaiwetchakoon, K., Lowe, G. M., Kupittayanant, S., Churproong, S., & Eumkeb, G. (2020). Pluchea indica (L.) Less. tea ameliorates hyperglycemia, dyslipidemia, and obesity in high fat diet-fed mice. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine.
https://doi.org/10.1155/2020/8746137
Dikutip secara tidak langsung dalam bagian “Efek Metabolik dan Anti-lipid”.

