naturindofresh

DAUN SIRSAK (Annona muricata L.)

 Nama Latin Annona muricata L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Genus : Annona Spesies : Anona muricata L. (ITIS, n.d.) Definis Umum Annona muricata atau yang biasa dikenal sebagai tanaman sirsak merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur di indonedia dan termasuk kedalam tanaman tahunan. Tanaman ini merupakan tanaman yang tersebar didaerah tropis dan subtropis (Qomaliyah, 2022). Tanaman sirsak memiliki tinggi pohon sekitar 5-8 meter, batang kayunya berwarna coklat dan bercabang. Daun sirsak berbentuk lanset dengan ujung runcing, tepi daunnya rata, berwarna hijau dan bagian atasnya mengkilap dan bagian bawah daunnya kasar. Bunga tanaman sirsak terletak tunggal dibatang kayu dan memiliki warna kuning keputihan. Buahnya berukuran sedang sampai besar, dengan permukaan yang bertekstur dan berwarna hijau jika belum matang dan hijau kekuningan jika buah sudah matang. Sedangkan daging buahnya berwarna putih, berserat, memiliki banyak kandungan air dan memiliki biji yang keras berawarna hitam (Rasyidah et al., 2022). Selain daging buahnya yang dapat dikonsumsi secara langsung, daun sirsak juga dapat digunakan sebagai bahan pegebotan. Beberapa daerah di indonesia menggunakan daun sirsak untuk mengobati penyakit diabetes dan sebagai pengobatan kanker (Qomaliyah, 2022). Penggunaan tanaman sirsak sebagai bahan obat saat ini sudah mulai sering digunakan oleh masyarakat luas. Penelitian mengenai pemanfaatan kandungan tanaman sirsak juga sudah mulai banyak dilakukan. Melalui beberapa metode analisis fitokimia, ekstrak tanaman sirsak diidentifikasi memiliki banyak kandungan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif dari penyembuhan suatu penyakit. Kandungan Kandungan senyawa metabolit sekunder dari daun sirsak yang memiliki potensi bioaktivitas yaitu acetogenin, sedangkan senyawa lainnya seperti alkaloid, fenol, flavonoid, terpenoid dan steroid (Tiara et al., 2025). Khasiat Khasiat dari tanaman sirsak terutama daunnya dapat digunakan sebagai bahan pengobatan untuk hipertensi, diabetes, kanker serta batuk. Salah satu khasiat yang paling besar diidentifikasi yaitu melalu aktivitas antioksidannya, dimana aktivitas antioksidan dapat menghambat radikal bebas yang dapat memicu perkembangan penyekait degenaratif seperti kanker, penyakit kardiovaskuler, alzheimer, dan diabetes (Rasyidah et al., 2022). Kandugan acetogenin dari daun sirsak berpotensi sebagai antikanker (Silalahi, 2020) dan dibuktikan dari hasil beberapa penelitian bahwasanya kandungan tersebut dapat menghambat secara signifikan dari invasi sel kanker pada usus besar dan mempu menurunkan ukuran prostat pada sel kanker prostat (Qomaliyah, 2022). Khasiat lainnya yang dilaporkan yaitu efektif menurunkan kadar gula darah dengan mekanisme menghambat enzim e-amylase dan a-glukosidase, serta meningkatkan aktivitas glukokinase sehingga dapat mengontrol kadar glukosa darah (Ayuningtiyas et al., 2022). Cara Pengolahan Pengggunaan daun sirsak sebagai bahan pengobatan dalam kalangan masyarakat tentunya harus diolah atau dibuat dengan cara yang praktis dan efisien. Adapun cara pengolahannya yaitu dapat melalui perebusan dengan menggunakan metode infusa, berikut merupakan cara pengolahannya (Nikeherpianto et al., 2025) : a.       Didihkan 5 gelas air (ukuran gelas belimbing). b.      Masukkan 7-10 lembar daun sirsak dalam keadaan bersih. c.  Tunggu selama kurang lebih 15 menit. Pastikan menggunakan alat yang berbahan tanah liat, stainless steel, ataupun kaca. Hindari menggunakan alat yang berbahan dari aluminium, besi, tembaga ataupun kuningan. d.      Daiamkan hingga hangat. e.       Saring dan bagi menjadi 2 gelas. f.        Minum sehari 2 kali sebanyak 1 gelas sesudah makan. DAFTAR PUSTAKA Ayuningtiyas, RR., et al. (2022). Efektivitas Pemberian Air Rebusan Daun Sirsak (Annona muricata Linn) Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Populasi Sehat. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 4 (2), 475. https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/view/917 Nikeherpianti, L., et al. (2025). Pemberdayaan Masyarakat Desa Rambu Kongga Melalui Pemanfaatan Rebusan Daun Sirsak untuk Pengendalian Hipertensi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 8 (2). https://journal.matappa.ac.id/index.php/matappa/article/view/4262 Rasyidah., et al. (2019). Studi Etnobotani dan Aktivitas Farmakologi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.). KLOROFIL. 3 (2), 10-14. https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/klorofil/article/view/7825 Tiara, NP., et al. (2025). Analisis Ekstrak Metanol Daun Sirsak (Annona Muricata Linn.) Terhadap Sel Kanker Prostat. Jurnal Ilmu Tanaman, Sains dan Teknologi Pertanian. 2 (1), 118-129. https://journal.asritani.or.id/index.php/Mikroba/article/view/255. Qomaliyah, EN. (2022). Farmakologi dan Potensi Bioaktivitas Daun dan Buah Sirsak (Annona muricata). BIOCITY Jourbal of Pharmacy Biocience and Clinical Community. 1 (1), 39-58. https://journal.universitasbumigora.ac.id/index.php/biocity/article/view/2488 SOURSOP LEAVES (Annona muricata L.) Latin Name Annona muricata L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Magnoliales Family: Annonaceae Genus: Annona Species: Anona muricata L. (ITIS, n.d.) General Definition Annona muricata, commonly known as the soursop, is a perennial plant that thrives in Indonesia. It is found in tropical and subtropical regions (Qomaliyah, 2022). The soursop tree grows approximately 5-8 meters tall, with a brown, woody trunk that branches. The leaves are lanceolate with pointed tips, have flat, green edges, and are shiny on top and rough on the underside. Soursop flowers are solitary on the woody trunk and are whitish-yellow. The fruit is medium to large in size, with a textured surface that is green when unripe and yellowish-green when ripe. The flesh is white, fibrous, and contains a high water content, with hard, black seeds (Rasyidah et al., 2022). Besides being edible, soursop leaves can also be used as a botanical ingredient. Several regions in Indonesia use soursop leaves to treat diabetes and cancer (Qomaliyah, 2022). The use of soursop as a medicinal ingredient is now increasingly common among the general public. Research into the utilization of soursop plant compounds has also been extensively conducted. Through several phytochemical analysis methods, soursop plant extracts have been identified as containing numerous compounds that can be used as active ingredients in treating various diseases. Content The secondary metabolite compounds found in soursop leaves that have potential bioactivity are acetogenins, while other compounds include alkaloids, phenols, flavonoids, terpenoids, and steroids (Tiara et al., 2025). Benefits The benefits of the soursop plant, especially its leaves, can be used as a treatment for hypertension, diabetes, cancer, and coughs. One of the most significant benefits identified is its antioxidant activity, which can inhibit free radicals that can trigger the development of degenerative diseases such as cancer, cardiovascular disease, Alzheimer’s disease, and diabetes (Rasyidah et al., 2022). The acetogenin content in soursop leaves has potential anticancer properties (Silalahi, 2020), and several studies have shown that this compound can significantly inhibit the invasion of colon cancer cells and reduce prostate size in prostate cancer cells (Qomaliyah, 2022). Other reported benefits include effectively lowering blood sugar levels by inhibiting the enzymes e-amylase and a-glucosidase, as well

DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) Read More »

Bengle (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr.)

Nama Latin Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr. Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Viridiplantae Infrakingdom : Streptophyta Superdivisi : Embryophyta Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Spermatophytina Kelas : Magnoliopsida Subordo : Lilianae Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber Spesies : Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr. (Marina Silalahi. (2018) Definisi Umum Bengle (Zingiber montanum) merupakan tumbuhan   herba,   dengan tinggi  43  cm  dan  memiliki  akar serabut. Batang berbentuk bulat (teres), diameter 1  cm,  panjang  ruas  40  cm,  berwarna  hijau, permukaan  batang  licin  (leavis),  tegak  ke arah atas,  dan  percabangan  simpodial. Daun  berupa  helaian saja, panjang 17 cm, lebar helaian  4   cm,   bangun   lanset   (lanceolatus), pangkal runcing, tepi rata (truncates), dan ujung meruncing  (acutus),  permukaan  licin  (leavis), tipe  tunggal,  warna  hijau  pucat  sampai  gelap, berambut halus, jarang,    dan pertulangan menyirip. Rimpang  bercabang-cabang,   aroma kuat,   bertunas,   warna   kulit kuning,  warna  belahan  daging  kuning (Sasmaini, 2024). Kandungan Rimpang bengle (Zingiber cassumunar) merupakan tanaman dengan kandungan minyak atsiri, flavonoid dan kurkumin yang berkhasiat sebagai obat tradisional dan memiliki aktivitas antioksidan. Dikenal sebagai kurkuminoid, rimpang bengle mengandung minyak atsiri, saponin, tannin, triterpenoid, vitamin E, vitamin C, β-karoten, flavonoid, dan polifenol dengan sifat antioksidan. Konsentrasi optimal dari minyak atsiri rimpang bangle (Z. montanum) terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans adalah 50%. Implikasi penelitian adalah minyak atsiri rimpang bengle (Z. montanum) dapat direkomendasikan sebagai bahan alternatif antijamur dalam bidang kedokteran gigi (Rosadi et al., 2024). Rimpang bengle (Z. montanum) mengandung senyawa metabolit sekunder fenolik dan flavonoid, yang diperkirakan memiliki aktivitas penangkal radikal bebas atau tabir surya (Lailiyah et al., 2024). Cara pengolahan Untuk cara pengolahan tumbuhan suku Zingiberaceae yang paling umum dilakukan yaitu direbus dan diparut, sedangkan untuk cara pengolahan yang paling sedikit yaitu dibakar. Untuk cara pengolahan direbus ada 6 spesies tumbuhan yaitu bengle, jahe merah, kencur, kunyit, lengkuas merah dan temulawak, untuk cara diparut ada 5 spesies yaitu bengle, kencur, kunyit, lengkuas merah dan temulawak dan untuk cara pengolahan dibakar ada 1 spesies yaitu jahe merah merah. Bengle (Z. montanum) dapat dimanfaatkan menjadi beberapa macam olahan, antara lain: 1.      Diolah menjadi minuman perpaduan antara dringo, bengle, jahe, kunyit, kencur, temulawak secukupnya, bersihkan lalu dikupas dan diiris kecil-kecil, kemudian direbus dan tambahkan asam jawa, gula merah, garam, merica bolong, madu dan air perasan jeruk nipis (Hastiana et al., 2023). Penelitian Rahmawati et al. (2021) melaporkan bahwa pengolahan tumbuhan paling sering digunakan adalah dengan cara direbus karena akan membunuh bakteri yang melekat pada tumbuhan tersebut. Proses pengolahan tumbuhan obat dengan cara direbus bertujuan untuk melarutkan zat aktif ke dalam air (Leksikowati et al., 2020). 2.      Rimpang bengle (Z. montanum) dihaluskan, lalu disaring dan ditambahkan madu bermanfaat untuk mengobati demam (Nopiyanti, 2025). 3.      Rimpang bengle (Z. montanum) dirajang (ukuran sedang), direbus, kemudian ditambahkan daun sirih bermanfaat untuk obat cacingan (Nopiyanti, 2025). 4.      Rimpang bengle (Z. montanum) dipercaya memiliki kemampuan spiritual untuk melindungi  bayi  dan  ibu hamil  dari  gangguan  makhluk  halus,  karena memiliki   aroma   menyengat yang diyakini dapat  mengusir  makhluk  gaib dan aura negatif. Rimpang ini dihaluskan dengan bawang putih kemudian dibalurkan di kening, punggung, dan telapak kaki bayi (Nopiyanti, 2025). Daftar Pustaka Han, A.-R., Kim, H., Piao, D., Jung, C.-H., Dan Seo, E.K., 2021. Phytochemicals and Bioactivities Of Zingiber Cassumunar Roxb. Molecules, 26: 2377. https://doi.org/10.3390/molecules26082377 Hastiana, Y., Nawawi, S., Azizah, S., Biologi, P., Palembang, U. M., & Obat, T. (2023). Pemanfaatan Tumbuhan Suku Zingiberaceae di Desa Sidorejo Kecamatan Muara Padang Kabupaten Banyuasin. Journal of Biology Education, Science, and Technology, 6(1), 288-294. https://doi.org/10.14421/biomedich.2024.131.73-82 Integrated Taxonomic Information System (ITIS). (2025). Integrated Taxonomic Information System: Zingiber montanum. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2025 pada https://www.itis.gov/ Lailiyah, M., Saputra, S. A., & Aryantini, D. (2024). Uji Aktifitas Antioksidan, flavonoid Total dan Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Bangle (Zingiber cassumunar). Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 4(3). https://doi.org/10.37311/ijpe.v4i3.28181 Leksikowati, S. S., Oktaviani, I., Ariyanti, Y., Akhmad, A. D., & Rahayu, Y. (2020). Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Suku Lampung Di Kabupaten Lampung Barat. Jurnal Biologica Samudra, 2(1), 35–53. https://doi.org/10.33059/jbs.v2i1.2297  Nopiyanti, T., Santhyami, S., Noli, Z. A., & Idris, M. (2025). Tanaman Obat Tradisional Dusun Dlingo Kecamatan Geyer Grobogan, Jawa Tengah. Jurnal Biosilampari: Jurnal Biologi, 7(2), 115-126. https://doi.org/10.62112/biosilampari.v7i2.173 Rahmawati, F. N., Harmida, & Aminasih, N. (2021). Pemanfaatan Tumbuhan Obat Zingiberaceae Pada Suku Rawas Di Desa Jajaran Baru I Kecamatan Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas. Sribios, 2(1), 23–28. https://doi.org/10.24233/SRIBIOS.2.1.2021.212 Rosadi, F. I., Imran, I., Nadya, P. C., Abdillah, I., & Elliana, M. (2024). Uji efektivitas minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber montanum) terhadap pertumbuhan Candida albicans: eksperimental murni. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 36(1), 57-64. https://doi.org/10.24198/jkg.v36i1.52295  Sasmaini, D., Lestari, W., Hapida, Y., & Nurokhman, A. (2024). Identification of the Zingiberaceae Family in Banuayu Village, South Kikim District, Lahat Regency, South Sumatra. Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 664-674. https://doi.org/10.29303/jbt.v24i2.6844

Bengle (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr.) Read More »

SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav)

Nama Latin Piper crocatum Ruiz & Pav Taksonomi Kerajaan: Plantae Subkingdom: Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Superdivisi: Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Divis:i Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (dikotil) Subclass: Magnoliidae Ordo: Piperales Famili: Piperaceae Genus: Piper Spesies: Piper crocatum. Sudewo (2010) Definisi Umum Sirih  merah  merupakan  tanaman  asli  Peru , kemudian  menyebar  ke  beberapa  wilayah  di dunia, termasuk Indonesia. Sirih merah merupakan   tanaman   semak,   batang   bersulur   dan   beruas,  dengan  jarak  buku  antara  5-10  cm,  dan  pada  setiap  buku  tumbuh  bakal  akar.  Daun  bertangkai,  berbentuk  ellips,  acuminatus,  sub  acut  pada  basalnya  dengan  bagian  atas  meruncing,  tepi rata, mengkilap atau tidak berbulu. Panjang-nya 9-12 cm dan lebarnya 4-5 cm. Urat daun pinnatus  dari  separuh  bagian  bawah,  urat  daunnya  4-5 x 2, bullulatus-lacunosa. Petiolus, panjang 10 mm, spike panjang 90-110 mm, tebal 5 mm. Daun  bagian  atas  berwarna  hijau  tua,  dengan  daerah  sekitar  tulang  daun  keperakan,  dan  bagian  bawah  berwarna  ungu.  Daun  berlendir,  terasa pahit dengan bau kurang spesifik. Khasiat Daun sirih merah mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, steroid/terpenoid, antrakuinon dan fenol (Maslikah et al., 2019). Flavonoid berperan dalam anti inflamasi melalui penghambatan permeabilitas kapiler dan melakukan metabolisme asam arakidonat, serta sekresi enzim lisosom dari sel neutrofil dan sel endothelial. Potensi antiinflamasi juga terdapat pada senyawa saponin melalui penghambat pembentukan eksudat dan meningkatkan permeabilitas vascular (Fitriyani et al., 2011). Senyawa golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antiinflamasi salah satunya adalah Brazilin. Brazilin merupakan senyawa heterosiklik organik yang memiliki potensi proapotosis dan antiinflamasi. Cara Pengolahan Pilih daun sirih merah yang segar, tidak rusak, berwarna hijau keunguan. Cuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan debu dan kotoran. Rebus 3-5 lembar daun dalam kurang lebih 500 mL air bersih. Didihkan selama 10-15 menit hingga air tersisa setengahnya. Saring dan biarkan hangat. Minum 1-2 kali sehari Daftar Pustaka Fitriyani, A., Winarti, L., Muslichah, S., and Nuri. (2011). Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) pada Tikus Putih. Majalah Obat Tradisional, 16(1), 34–42 Maslikah, S. I., Amalia, A., and Afifah, S. (2019). Red betel apigenin compound (Piper crocatum Ruiz Pav.) as an anti-inflammatory rheumatoid arthritis agent through virtual screening. AIP Conference Proceedings, 080003. https://doi.org/10.1063/1.5115741

SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav) Read More »

TEBU (Saccharum Officinarium Linn)

Nama Latin Saccharum Officinarium Linn. Toksonomi Kingdom         : Plantae Divisi               : Tracheophyta Kelas               : Liliopsida Ordo                : Poales Famili              : Poaceae Genus              : Saccharum Spesies            : Saccharum Officinarium Linn    United States Department of Agriculture (2018)  Definisi Umum Tebu (Saccharum officinarum Linn) merupakan tanaman dari keluarga rumput-rumputan (Poaceae) yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia (Atmojo et al., 2024). Tanaman ini terutama dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam industri gula karena mengandung sukrosa dalam jumlah tinggi (Ridwan et al., 2022). Tebu memiliki batang yang tebal, beruas, dan mengandung cairan manis yang dapat langsung dikonsumsi (Rosales et al., 2024). Khasiat Tebu (Saccharum officinarum Linn) memiliki berbagai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, terutama dari airnya yang kaya akan senyawa bioaktif. Air tebu mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid, polifenol, dan asam fenolat yang berperan penting dalam menangkal radikal bebas dalam tubuh (Rosales & Bautista, 2024). Antioksidan ini membantu mengurangi risiko penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung, serta memperkuat sistem imun. Salah satu manfaat penting dari ekstrak tebu adalah kemampuannya dalam menurunkan kadar kolesterol. Penelitian yang dilakukan oleh Rosales dan Bautista (2024) pada tikus menunjukkan bahwa ekstrak daun tebu yang matang mampu menurunkan kadar kolesterol total dan LDL secara signifikan, sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL). Air tebu juga memiliki sifat diuretik alami, yang artinya dapat membantu memperlancar buang air kecil, sehingga mendukung fungsi ginjal dan proses detoksifikasi tubuh (Santoso et al., 2021). Selain itu, sari tebu dikenal menyegarkan tubuh dan membantu mengatasi dehidrasi, karena mengandung gula alami (sukrosa) dan elektrolit yang membantu mengembalikan energi secara cepat (Maghfiroh et al., 2020). Dalam studi lain, air tebu dimanfaatkan sebagai suplemen tambahan untuk meningkatkan kualitas madu lebah, menunjukkan bahwa kandungan nutrisinya cukup lengkap dan bermanfaat dalam sistem metabolisme (Maghfiroh et al., 2020). Beberapa masyarakat juga memanfaatkan air tebu sebagai obat tradisional untuk meredakan panas dalam dan meningkatkan daya tahan tubuh, meskipun perlu lebih banyak penelitian ilmiah untuk membuktikan klaim ini (Santoso et al., 2021). Kandungan Tebu mengandung berbagai zat bermanfaat, seperti gula alami (sukrosa), serat, air, vitamin (terutama vitamin B kompleks), serta mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium (Atmojo et al., 2024). Tebu juga mengandung senyawa bioaktif seperti asam fenolat, flavonoid, dan polifenol yang berperan sebagai antioksidan (Rosales et al., 2024). Kandungan nutrisi ini menjadikan air tebu berpotensi sebagai minuman kesehatan yang alami (Santoso et al., 2021). Cara Pengolahan Tebu dapat dikonsumsi langsung dengan cara dikunyah batangnya atau diambil airnya menggunakan mesin pemeras (Santoso et al., 2021).Air tebu bisa difermentasi menjadi bioetanol sebagai bahan bakar alternatif (Ridwan et al., 2022).Sari tebu juga dapat digunakan dalam pembuatan produk turunan seperti gula cair, gula merah, dan gula kristal (Atmojo et al., 2024).Selain itu, sari tebu telah diteliti sebagai pakan tambahan bagi lebah untuk meningkatkan kualitas madu (Maghfiroh et al., 2020). DAFTAR PUSTAKA Atmojo, H. W., Machmudi, M., Nursandi, F., & Puspitasari, A. R. (2024). Pengaruh Pemupukan Anorganik pada Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Varietas PSKA 942. Jurnal P3GI. Maghfiroh, R., Santoso, H., & Lisminingsih, R. D. (2020). Pengaruh Sari Tebu terhadap Kadar Gula Madu Apis mellifera. Biosaintropis, 7(1), 40–46. Ridwan, A. F., Purwono, & Widodo, W. D. (2022). Growth and Yield of Sugarcane First Ratoon on Residual of Filter Cake and Inorganic Fertilizer. Jurnal Agronomi Indonesia, 50(3), 245–253. Rosales, A. G., & Bautista, J. A. (2024). Hypocholesterolemic Effect of Mature Leaf Extract of Sugarcane in Induced Rats. ASEAN Journal of Science and Engineering, 4(1), 55–62. Santoso, H., Arifin, M., & Nurhaliza, L. (2021). Persepsi Mahasiswa Mengenai Manfaat Air Tebu sebagai Minuman Fungsional. ProLife: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 8(2), 113–119. Zumroh, A., Widodo, P. S., & Wibawa, G. (2023). Genetic Diversity, Heritability, and Productivity of New Sugarcane Clones. Jurnal Ilmiah Pertanian. CANE (Saccharum Officinarium Linn) Latin name Saccharum Officinarium Linn. Toxonomy Kingdom         : Plantae Division               : Tracheophyta Class               : Liliopsida Order                : Poales Family                : Poaceae Genus : Saccharum Species : Saccharum Officinarium Linn United States Department of Agriculture (2018) General Definition Sugarcane (Saccharum officinarum Linn.) is a plant from the grass family (Poaceae) that is widely cultivated in tropical and subtropical regions, including Indonesia (Atmojo et al., 2024). This plant is primarily used as a primary raw material in the sugar industry due to its high sucrose content (Ridwan et al., 2022). Sugarcane has a thick, segmented stem and contains a sweet liquid that can be consumed directly (Rosales et al., 2024). Benefits Sugarcane (Saccharum officinarum Linn.) has various health benefits, particularly its juice, which is rich in bioactive compounds. Sugarcane juice contains antioxidant compounds such as flavonoids, polyphenols, and phenolic acids, which play a vital role in combating free radicals in the body (Rosales & Bautista, 2024). These antioxidants help reduce the risk of chronic diseases like cancer and heart disease, as well as strengthen the immune system. One important benefit of sugarcane extract is its ability to lower cholesterol levels. Research conducted by Rosales and Bautista (2024) on mice showed that mature sugarcane leaf extract significantly reduced total and LDL cholesterol levels, while increasing good cholesterol (HDL). Sugarcane juice also has natural diuretic properties, meaning it can help facilitate urination, thus supporting kidney function and the body’s detoxification process (Santoso et al., 2021). Furthermore, sugarcane juice is known to refresh the body and help overcome dehydration, as it contains natural sugars (sucrose) and electrolytes that help restore energy quickly (Maghfiroh et al., 2020). In another study, sugarcane juice was used as an additional supplement to improve the quality of bee honey, indicating that its nutritional content is quite complete and beneficial in the metabolic system (Maghfiroh et al., 2020). Some communities also use sugarcane juice as a traditional medicine to relieve internal heat and increase immunity, although more scientific research is needed to prove these claims (Santoso et al., 2021). Content Sugarcane contains various beneficial substances, such as natural sugar (sucrose), fiber, water, vitamins (especially vitamin B complex), and minerals such as calcium, potassium, and magnesium (Atmojo et al., 2024). Sugarcane also contains bioactive compounds such as phenolic acids, flavonoids, and polyphenols,

TEBU (Saccharum Officinarium Linn) Read More »

Daun Salam (Syzygium polyanthum)

Nama Latin Daun Salam (Syzygium polyanthum) Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan) Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (dikotil) Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Syzygium Spesies : Syzygium polyanthum (Wight) Walp.  Definisi Umum Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) adalah tanaman yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Daunnya sering digunakan sebagai bumbu masakan untuk menambah aroma, rasa, warna, serta memperkaya cita rasa makanan. Selain itu, daun salam juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Penggunaan tanaman ini  baik sebagai bumbu dapur maupun obat, umumnya berkaitan dengan kandungan metabolit sekundernya, terutama minyak atsiri atau essential oil. Daun salam berwarna hijau ketika masih dalam keadaan segar, disebabkan kandungan klorofil yang merupakan pigmen utama yang terdapat dalam membran tilakoid. Klorofil memiliki fungsi sebagai molekul yang berperan penting dalam fotosintesis. Selain itu juga mengandung karotenoid yang merupakan pigmen pemberi warna kuning sampai jingga.  Kandungan Berbagai kandungan senyawa bioaktif terkandung di daun salam, antara lain flavonoid, saponin, triterpenoid, polifenol, alkaloid, tanin dan minyak atsiri. Dimana tanin, flavonoid dan minyak atsiri bermanfaat sebagai antibakteri, sedangkan flavonoid mampu menghambat kadar kolesterol (Giri,2008; Kusumaningrum dkk., 2013; Rahayuningsih, 2014; Wiryawan, 2017). Khasiat Daun salam berkhasiat sebagai obat sakit perut, menghentikan buang air besar yang berlebihan, mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah, radang lambung, gatal gatal dan diabetes (Wartini, dkk. 2007; Widyawati et al, 2012; Patel, et al., 2012; Harismah, 2017). Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA World Flora Online. (2023). Syzygium polyanthum (Wight) Walp. Retrieved from http://www.worldfloraonline.org. Khafid, A., Nurchayati, Y., & Suedy, S. W. A. (2021). Kandungan klorofil dan karotenoid daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) pada umur yang berbeda. Buletin Anatomi dan Fisiologi, 6(1), 74-80. Rahman, M. K., Fachriyah, E., & Kusrini, D. (2023). Ekstraksi Daun Salam Berbasis Natural Deep Eutectic Solvent dan Pemanfaatannya sebagai Antioksidan. Green Sphere: Journal of Environmental Chemistry, 2(2), 7-12. Pulungan, D. R. A., Syahfitri, D., Adelia, D., & Salsabila, R. F. (2024). Daun Salam (Syzygium polyanthum) Rempah Khas Indonesia dengan Berbagai Manfaat Farmakologi: Literature Review. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 4(3).

Daun Salam (Syzygium polyanthum) Read More »

Meniran (Phyllanthus niruri L.)

Nama latin Phyllanthus niruri L. Taksonomi Kingdom: Plantae Divisio: Tracheophyta (tumbuhan berpembuluh) Subdivisio: Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) Kelas: Magnoliopsida (dikotil) Ordo: Malpighiales Famili: Phyllanthaceae (dulu termasuk Euphorbiaceae) Genus: Phyllanthus Spesies: Phyllanthus niruri L. (Sholeh dan Megantara, 2019.).    Definisi Umum Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah tanaman herba semusim yang termasuk dalam famili Phyllanthaceae. Tanaman ini tumbuh liar di daerah tropis dan subtropis, termasuk di Indonesia. Meniran dikenal luas dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti hepatoprotektif, diuretik, antimikroba, dan imunomodulator. Bagian tanaman yang digunakan sebagai simplisia umumnya adalah seluruh bagian herba, baik segar maupun kering. Tanaman ini memiliki ciri khas berupa batang ramping bercabang, daun kecil tersusun berseling menyerupai daun majemuk, dan buah kecil berbentuk bulat yang tumbuh di bawah daun, ciri yang menjadi asal nama “meniran” (dari kata “menyirip kecil seperti daun sirih”). (Santos, R. V., et al. (2019)). Khasiat Meniran merupakan salah satu tanaman obat yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini mengandung beragam senyawa aktif seperti lignan (phyllanthin dan hypophyllanthin), flavonoid, tanin, alkaloid, dan terpenoid yang berperan penting dalam memberikan efek farmakologisnya. Salah satu khasiat utama meniran adalah sebagai pelindung hati (hepatoprotektif). Ekstrak Phyllanthus niruri terbukti mampu mencegah kerusakan sel hati akibat paparan zat toksik seperti karbon tetraklorida (CCl₄) dan parasetamol dosis tinggi. Efek perlindungan ini disebabkan oleh kemampuan senyawa lignan yang bekerja sebagai antioksidan dan membantu menstabilkan membran sel hati, sehingga meniran sering digunakan sebagai bahan alami untuk menjaga fungsi hati (Santos et al., 2019). Selain itu, meniran juga memiliki efek diuretik, yaitu meningkatkan produksi dan pengeluaran urin. Efek ini bermanfaat dalam membantu mengeluarkan racun dari tubuh serta mencegah pembentukan batu ginjal. Penggunaan meniran sebagai pelancar urin telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional dan juga tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia Edisi II (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Khasiat lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas antimikroba dan antivirus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak meniran mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri serta mencegah replikasi virus, termasuk virus hepatitis B. Hal ini menjadikan meniran sebagai tanaman dengan potensi besar dalam mendukung terapi penyakit infeksi (Hariana, 2008). Selain itu, kandungan flavonoid dan tanin dalam meniran memberikan efek antioksidan yang kuat, membantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Senyawa-senyawa ini juga berperan sebagai imunomodulator, yaitu membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan aktivitas sel fagosit dan produksi interferon (Santos et al., 2019; Kementerian Kesehatan RI, 2017). Secara keseluruhan, meniran merupakan tanaman dengan khasiat yang luas dan mendukung berbagai fungsi tubuh, terutama dalam menjaga kesehatan hati, ginjal, dan sistem imun. Cara Pengolahan Simplisia Meniran diperoleh dari seluruh bagian tanaman herba yang telah mencapai umur cukup dan tumbuh secara sehat. Meniran dapat dipanen ketika tanaman berumur sekitar 1–2 bulan, saat batang dan daunnya masih segar namun sudah menghasilkan buah kecil di bagian bawah daun. Seluruh bagian tanaman, termasuk batang, daun, dan akar , dapat digunakan sebagai bahan obat (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Setelah dipanen, tanaman dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan tanah dan kotoran yang menempel, kemudian ditiriskan hingga tidak ada air yang tersisa. Proses pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh yang memiliki sirkulasi udara baik, atau menggunakan alat pengering pada suhu tidak lebih dari 50°C agar kandungan senyawa aktif seperti lignan dan flavonoid tidak rusak akibat panas berlebih (Hariana, 2008). Setelah kering, bahan simplisia dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat yang terlindung dari sinar matahari langsung dan kelembaban tinggi. Simplisia kering inilah yang kemudian menjadi bahan dasar pembuatan sediaan tradisional, seperti rebusan, ekstrak etanol, maupun serbuk untuk kapsul. Dalam penggunaan tradisional, air rebusan herba meniran biasanya dibuat dengan cara merebus sekitar 15–30 gram herba kering dalam 3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas, kemudian disaring dan diminum dua kali sehari. Sementara untuk keperluan penelitian atau pembuatan produk herbal terstandar, simplisia meniran sering diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% untuk memperoleh senyawa aktif seperti phyllanthin, hypophyllanthin, dan flavonoid (Santos et al., 2019). Proses pengolahan yang tepat sangat penting untuk menjaga kestabilan zat aktif dan efektivitas farmakologis dari simplisia meniran. Dengan perlakuan pascapanen yang baik, kualitas simplisia dapat dipertahankan sehingga memberikan khasiat maksimal bagi pengobatan tradisional maupun formulasi sediaan herbal modern. Daftar Pustaka: Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hariana, A. (2008). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.Santos, R. V., et al. (2019). “Pharmacological properties and therapeutic potential of Phyllanthus niruri: A review.” Journal of Pharmacy and Pharmacology, 71(12), 1731–1749. Santos, R. V., et al. (2019). “Pharmacological properties and therapeutic potential of Phyllanthus niruri: A review.” Journal of Pharmacy and Pharmacology, 71(12), 1731–1749.

Meniran (Phyllanthus niruri L.) Read More »

DANDANG GENDIS (Clinacanthus nuntas)

Nama latin Clinacanthus nuntas Taksonomi Kingdom   : Plantae Divisi    : Spermatofita Kelas     : Dikotilrdoneae Ordo      : Solanales Famili   : Acanthaceae Genus    : ClinacanthusSpesies  : Clinacanthus nuntas Khoo et al. (2018) Definisi umum Dandang gendis adalah tanaman herbal yang banyak ditemukan di wilayah Asia. Tanaman dandang gendis memiliki banyak manfaat, pada beberapa negara di Asia Tenggara dandang gendis digunakan untuk menangkal bisa ular atau gigitan serangga. Dandang gendis juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan, bagian tanaman yang digunakan yaitu pada bagian daunnya (Pragustine et al.,2022). Dandang gendis merupakan tanaman semak belukar berbentuk perdu, memiliki batang tegak dengan tinggi sekitar 2,5 m, beruas dan berwarna hijau. Memiliki daun tunggal dan berhadapan satu sama lain, memiliki panjang daun 8-12 cm dan lebar 4-6 cm. Memiliki bunga yang tumbuh di ketiak daun dan ujung batang (Permadi, 2013). Kandungan Daun dandang gendis mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, triterpen, saponin, dan flavonoid (Klau dan Hesturini, 2021). Khasiat Dandang gendis dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan, daun dandang gendis memiliki khasiat sebagai obat diare, disentri, radang usus, dan buang air besar berlendir. Daub dandang gendis juga memiliki sifat farmakologi seperti antioksidan, antikanker, antiinflamasi, analgesik, meningkatkan sistem imun, antibakteri, antivirus, dan antibisa (Andasari dan Mustofa, 2020). Cara pengolahan Cara pengolahan tanaman dandang gendis untuk pengobatan yaitu dengan melakukan proses perebusan pada bagian daun tanaman (Seran et al., 2023). Daftar pustaka Andasari, S. D., & Mustofa, C. H. (2020). Standarisasi Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etil Asetat Daun Dandang Gendis (Clinacanthus Nutans). MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(2), 70-75. https://ejournal.umkla.ac.id/index.php/motor/article/view/176/135 Klau, M. H. C., & Hesturini, R. J. (2021). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans (Burm F) Lindau) Terhadap Daya Analgetik dan Gambaran Makroskopis Lambung Mencit. Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, 4(1), 6-12. https://doi.org/10.52216/jfsi.v4i1.59 Permadi, I. G. W. D. (2013). Keanekaragaman tanaman obat sebagai larvasida dalam upaya pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 5(1), 12-16. https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3470/3067 Pragustine, Y., Astoeti, T. E., Amtha, R., & Roeslan, M. O. (2022). Pemberdayaan Ibu-Ibu Majlis Al Muttaqien dalam Budidaya Tanaman Dandang Gendis sebagai Larutan Kumur untuk Kesehatan Rongga Mulut. Jurnal Abdimas Kesehatan Terpadu, 1(1). https://doi.org/10.25105/jakt.v1i1.13921 Seran, G. Y. T., Seran, L., & Nau, G. W. (2023). Studi Etnofarmakognosi Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat Untuk Mengobati Penyakit Pada Manusia Di Kelurahan Manutapen Kecamatan Alak Kota Kupang. JBIOEDRA: Jurnal Pendidikan Biologi, 1(3), Yuliana-Tei. https://journal.unwira.ac.id/index.php/JBIOEDRA/article/view/2249/845

DANDANG GENDIS (Clinacanthus nuntas) Read More »

Key Flower (Boesenbergia Rotunda)

Nama Latin Boesenbergia rotunda Taksonomi Kingdom (Kerajaan) : Plantae Subkingdom: Tracheobionta  Divisi (Divisio): Magnoliophyta Kelas (Classis): Liliopsida Subkelas (Subclassis): Zingiberidae Ordo (Ordo): Zingiberidae Famili (Familia): Boesenbergia Genus: Boesenbergia Spesies: Boesenbergia rotunda (L) Mansf.  (Yvonne Jing Mei Liew. (2022) Definisi Umum Temu kunci adalah tanaman herbal dari suku Zingiberaceae (jahe-jahean) yang rimpangnya sering digunakan sebagai bumbu masak dan obat tradisional. Tanaman ini memiliki aroma khas dan rasa sedikit pedas serta pahit. Kandungan Mengandung minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, kurkumin, dan senyawa aktif seperti pinostrobin, panduratin A, serta boesenbergin. Khasiat Temu kunci (Boesenbergia rotunda) termasuk ke dalam famili Zingiberaceae dan merupakan salah satu tanaman yang telah digunakan sebagai rempah dan obat herbal secara turun-temurun. Sastrahidayat (2016) menyatakan bahwa temu kunci memiliki berbagai macam khasiat antara lain sebagai rempah bumbu masak, obat batuk, peluruh dahak, penambah nafsu makan, mengatasi gangguan pencernaan, dan obat sariawan. Berdasarkan penelitian Baharudin et al. (2015) dilaporkan bahwa terdapat 18 senyawa aktif kelompok minyak esensial yang terkandung dalam rimpang temu kunci yang berpotensi sebagai antibakteri. Dalam penelitiannya, Baharudin et al. (2015) membuktikan bahwa kandungan minyak esensial dari temu kunci dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, B. cereus, E. coli. Beberapa penelitian secara in vitro membuktikan bahwa B. rotunda memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), dan Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). Mekanisme kerja minyak esensial sebagai antibakteri yaitu dengan mengubah permeabilitas dan mengubah toleransi garam sel. Hal ini dibuktikan pada sel E. coli yang terpapar minyak esensial 0,22% mengalami kebocoran senyawa anorganik (ion kalium dan kalsium) dan senyawa organik (asam nukleat dan protein) (Chahyadi et al., 2014). Minyak esensial dapat menyebabkan apotosis sel dan terganggunya pembentukan dinding dan membran sel (Chen et al., 2020). Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Farmakope Herbal Indonesia (Edisi I). Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Hariana, A. (2006). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Jilid 1). Jakarta: Trubus Agriwidya. Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Tanaman Obat untuk Mengatasi Berbagai Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka. Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Aktivitas antibakteri ekstrak rimpang Boesenbergia rotunda. Jurnal Biologi Indonesia, 16(1), 45–52. Key Flower (Boesenbergia Rotunda) Latin Name Boesenbergia rotunda Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Division: Magnoliophyta Class: Liliopsida Subclass: Zingiberidae Order: Zingiberidae Family: Boesenbergia Genus: Boesenbergia Species: Boesenbergia rotunda (L.) Mansf. (Yvonne Jing Mei Liew. (2022) General Definition Temu kunci is an herbal plant from the Zingiberaceae (ginger) family whose rhizomes are often used as a cooking spice and traditional medicine. This plant has a distinctive aroma and a slightly spicy and bitter taste. Content Contains essential oils, flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, curcumin, and active compounds such as pinostrobin, panduratin A, and boesenbergin. Benefits Temu kunci (Boesenbergia rotunda) belongs to the Zingiberaceae family and is a plant that has been used as a spice and herbal medicine for generations. Sastrahidayat (2016) states that temu kunci has various benefits, including as a cooking spice, cough medicine, expectorant, appetite stimulant, digestive disorders, and mouth ulcer treatment. Research by Baharudin et al. (2015) reported that temu kunci rhizomes contain 18 active compounds belonging to the essential oil group, which have antibacterial potential. In their study, Baharudin et al. (2015) demonstrated that the essential oil content of temu kunci can inhibit the growth of S. aureus, B. cereus, and E. coli bacteria. Several in vitro studies have shown that B. rotunda has antibacterial activity against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), and Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). The mechanism of action of essential oils as antibacterials is by changing permeability and changing cell salt tolerance. This was proven in E. coli cells exposed to 0.22% essential oils experienced leakage of inorganic compounds (potassium and calcium ions) and organic compounds (nucleic acids and proteins) (Chahyadi et al., 2014). Essential oils can cause cell apoptosis and disrupt the formation of cell walls and membranes (Chen et al., 2020). Preparation Method BIBLIOGRAPHY Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2008). Indonesian Herbal Pharmacopoeia (Edition I). Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia Volume II. Jakarta: Forestry Research and Development Agency. Hariana, A. (2006). Medicinal Plants and Their Benefits. Jakarta: Penebar Swadaya. Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants (Volume 1). Jakarta: Trubus Agriwidya. Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Medicinal Plants for Treating Various Diseases. Jakarta: Agromedia Pustaka. Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Antibacterial activity of Boesenbergia rotunda rhizome extract. Indonesian Journal of Biology, 16(1), 45–52.

Key Flower (Boesenbergia Rotunda) Read More »

MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)

Nama Latin  Morinda citrifolia L. Taksonomi  Kingdom : Plantae  Subkingdom : Viridiplantae  Superdivision : Embryophyta  Divison : Magnoliophyta  Subdivision : Spermatophytina  Class : Magnoliopsida  Superorder : Asteranae  Order : Gentianales  Family : Rubiaceae  Genus : Morinda  Species : Morinda citrifolia L. NCBI (2019) Definisi Umum Mengkudu (Morinda citrifolia L.) merupakan tanaman obat yang cukup dikenal oleh masyarakat di Indonesia, mengkudu tergolong tanaman tropis yang evergreen, artinya selalu memiliki daun sepanjang tahun. Buahnya tidak mengenal musim. Mengkudu adalah pohon yang banyak manfaatnya, buahnya berwarna putih keruh berbentuk bulat sampai bulat telur, permukaannya berbenjol-benjol, berbiji banyak, daging buahnya yang masak lunak dan banyak mengandung air, rasanya agak masam, digunakan sebagai obat peluruh kencing dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi, daunnya digunakan sebagai obat sakit perut, akar dan kulit batangnya mengandung zat warna merah yang dalam pembatikan.Buah mengkudu dapat digunakan sebagai obat untuk penyembuhan penyakit darah tinggi, edema, sembelit, dan perut kembung. Buah yang masak dapat digunakan untuk radang tenggorokan dan penderita narkotika  (Sitorus et al., 2021). Buah mengkudu memiliki tangkai, berbentuk lonjong, dengan buahnya yang majemuk, panjangnya 5 hingga 10 cm, permukaannya tidak halus, dan berwarna hijau. Buah yang sudah matang berair dan berdaging, berwarna kuning muda atau kuning gelap, memiliki aroma yang kurang sedap, dan banyak mengandung biji berwarna hitam, sedangkan buah yang muda berwarna hijau tua dan keras (Nirawati, 2016). Kandungan  Buah mengkudu memiliki kandungan senyawa saponin, flavonoid, antrakuinon, triterpenoid alkaloid, dan saponin (Mudaliana et al., 2019), serta tanin (Sitorus et al., 2021). Khasiat Buah, biji, kulit, daun, dan bunga tanaman mengkudu mengandung mineral seperti kalium, zat besi, garam, dan kalsium serta vitamin A, C, tiamin, niasin, dan riboflavin (Abou Assi et al., 2017; Garnida & Hasnelly, 2018). Oleh sebab itu, buah mengkudu dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan bagi manusia, termasuk adanya berbagai bahan kimia yang mencakup sebagai antibakteri (Juariah et al., 2021), analgesik, hipotensi (Nagalingam et al., 2013), antivirus (Khoirunnisa & Sumiwi, 2019), antijamur, antitumor (Abou Assi et al., 2017), anti inflamasi dan antibiotik (Kaleem & Ahmad, 2018) serta sebagai pengobatan tradisional obat AIDS, radang sendi, batuk, diare, diabetes (Ali et al., 2016) dan antihipertensi (Sitorus et al., 2021) (Landari 2023 et al., 2023). Senyawa flavonoid rutin, luteolin dan quercetin dapat  menghambat aktivitas ACE serta aktivitas glutathione peroxidase dan Nitric Oxide (NO) meningkat pada sel endotel, yang berperan dalam sistem kardiovaskular, sehingga pembuluh darah mengalami relaksasi dan tekanan darah menjadi normal (Wigati et al., 2017).  Cara Pengolahan  Walaupun memiliki beribu khasiat, hanya sebagian kecil dari masyarakat yang memanfaatkan mengkudu. Penyebab kurangnya peminat mengkudu secara langsung adalah dikarenakan bau mengkudu yang tidak sedap. Asam decanoic dan asam dekanoat dalam buah mengkudu menyebabkan bau busuk dan tajam menyengat, terutama pada buah matang. Oleh karenanya diperlukan teknologi pengolahan buah mengkudu baik menjadi produk antara ataupun produk pangan jadi (Kurniati et al., 2018) Gunakan buah mengkudu kering yang sudah diiris-iris tipis. Ambil 3-4 iris buah kering. Rebus atau seduh dengan air mendidih selama ± 10-11 menit (Wang et al., 2021). Buah mengkudu dimaserasi dengan merendam simplisia kedalam pelarut etanol 96%, sampai terendam seluruhnya selama ±24 jam, kemudian disaring dengan kertas penyaring. Residu kembali dimaserasi lagi dengan cara yang sama, sampai 3 kali. Ekstrak hasil maserasi atau filtrat yang dihasilkan, ditampung menjadi satu dan diuapkan, untuk memisahkan pelarutnya. Penguapan dilakukan dengan menggunakan alat Rotary evaporator pada suhu 50°C, sampai pelarut habis menguap, sehingga didapatkan ekstrak kental buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Rohaya et al., 2023) Buah mengkudu matang dicuci bersih dan dipotong kecill. Hancurkan dengan blender tanpa menambahkan air. Diamkan hasil perasan dalam wadah tertutup selama 2–3 hari untuk fermentasi alami. Saring cairan yang dihasilkan dan simpan dalam botol bersih di tempat sejuk (Abou Assi et al., 2017). Buah mengkudu matang dicuci, dipotong kecil. Keringkan di oven suhu 40–50°C sampai kadar air rendah. Giling menjadi serbuk halus (simplisia kering). Serbuk ini dapat digunakan sebagai bahan baku sediaan herbal (teh, kapsul, atau ekstrak) (Garnida, Y., & Hasnelly, H. (2018). DAFTAR PUSTAKA Abou Assi, R., Darwis, Y., Abdulbaqi, I. M., Vuanghao, L., & Laghari, M. H. (2017). Morinda citrifolia (Noni): A comprehensive review on its industrial uses, pharmacological activities, and clinical trials. Arabian Journal of Chemistry, 10(5), 691–707. Garnida, Y., & Hasnelly, H. (2018). Pengembangan Simplisia dan Ekstrak Kering Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai Bahan Obat Herbal. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia, 6(1), 45–53. Kurniati, D. (2018). Teknologi budidaya dan pengolahan buah mengkudu kaya antioksidan sebagai alternatif sumber pangan fungsional. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(7), 519-521.  Landari, I. G. A. D., I Gusti, A. W. K., Ni, W. N. (2023). Profil Senyawa Flavonoid Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan Berbagai Metode Pengeringan. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas, Vol. 27 (1) : 7-16. Mudaliana, S., Retno, I., Febriyana, R. H., (2019). Perbandingan Sediaan Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) Segar Dan Hasil Fermentasi. 17 – 22. Nirawati, Cut. 2016. Uji Daya Hambat Ekstrak Daun dan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Sebagai Penunjang Praktikum Mata Kuliah Mikrobiologi. Skripsi. Rohaya, A., & Lolok, N. (2023). Uji Aktivitas Antihiperlipidemia Glikosida Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) Pada Hewan Uji Mencit (Mus Muscullus). Jurnal Pharmacia Mandala Waluya, 2(1), 36-42. Sitorus, P., Suharyanisa, S., Chandra, D., & Sitanggang, B. (2021). Karakterisasi dan Skrining Fitokimia serta Analisis Flavonoid dari Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L) secara Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Farmanesia, 8(2), 77–81. https://doi.org/10.51544/jf.v8i2.2793  Wang Q, Yang F, Jia D, Wu T. Polysaccharides and polyphenol in dried Morinda citrifolia fruit tea after different processing conditions: Optimization analysis using response surface methodology. PeerJ. 2021 May 26;9:e11507. PMID: 34123597; PMCID: PMC8164410. doi : 10.7717/peerj.11507  Wigati, D., Anwar, K., Sudarsono, & Nugroho, A. E. (2017). Hypotensive Activity of Ethanolic Extracts of Morinda citrifolia L. Leaves and Fruit in Dexamethasone-Induced Hypertensive Rat. Journal of Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 22(1), 107–113. https://doi.org/10.1177/2156587216653660 

MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) Read More »

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.)

Nama Latin Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. Taksonomi Kingdom      : Plantae Divisi           : Tracheophyta Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Poales Famili           : Gramineae Genus           : Bambusa Spesies         : Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. (Sarmila et al., 2022) Definisi Umum Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Khasiat Bambu kuning terdeteksi positif senyawa saponin, flavon dan tannin. Saponin bermanfaat sebagai peptisida, insektisida, moluskasida, fungisida dan penggunaan pada industri untuk foaming. Ekstrak daun Bambusa vulgaris memiliki efek hepatoprotektor dan pemulihan fungsi ginjal. Ekstrak daun B. vulgaris berpotensi menjadi produk antimalaria alami yang menjanjikan tanpa efek samping pada penggunaan, terutama bila diberikan dalam kisaran dosis 100 – 200 mg/kg berat badan. Tanin digunakan sebagai astringen, melawan diare, sebagai diuretik, melawan lambung dan tumor duodenum, dan sebagai antiinflamasi, antiseptik, antioksidan dan hemostatik obat-obatan (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoid pada bambu kuning dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih. Nanopartikel emas ekstrak daun bambu kuning memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 0,907 cm (Prasetya et al., 2020). Selain itu, ekstrak etanol daun bambu Bambusa vulgaris juga memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Salmonella typhi (Ulfa  et al., 2015). Cara Pengolahan Proses pembuatan tepung rebung adalah mengambil rebung yang sudah difermentasi, kemudian rebung dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven dengan suhu 60 ̊C selama ± 14 jam hingga kering (rebung mudah dipatahkan). Lalu rebung digiling atau diblender hingga halus dan kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Prabasini et al., 2013). Rebung berpotensi menjadi produk olahan tepung yang mengandung serat tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, tepung rebung dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Namun kandungan serat yang tinggi menyulitkan rebung untuk dibuat menjadi tepung secara langsung. Untuk itu, rebung perlu diberi perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan ada beberapa macam, seperti blansing, fermentasi pikel dan perendaman dengan Na- Metabisulfit, fermentasi alami atau spontan. Perlakuan pendahuluan yang digunakan dalam pengolahan rebung menjadi tepung adalah fermentasi alami atau spontan karena perlakuan tersebut tidak menggunakan bahan kimia (Rachmadi, 2011). DAFTAR PUSTAKA Prabasini H, Ishartani D, Rahadian D. 2013. Kajian sifat kimia dan fisik tepung labu kuning (Cucurbita moschata) dengan perlakuan blanching dan perendaman natrium metabisulfite (Na2S2O5). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 93-102. Prasetya A, A., Prima A. P., Amalia, H., dan Yandi S., 2020. Biosintesis Nano Herbal Ekstrak Daun Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) Dengan Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Mahasiswa Khazanah Vol. 11(1) Hal: 1-6. Universitas Islam Indonesia. Rachmadi, 2011. Gangguan Ginjal Akut. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.  Sarmila, Nirawati, & Nuriman, A. (2022). Eksplorasi Jenis Bambu (Bambusa, Sp.) Berdasarkan Ciri Morfologi Kabupaten Maros. Jurnal Eboni, 4(1), 9–15. Sujarwanta, A., & Zen, S. (2020). Identifikasi Jenis dan Potensi Bambu (Bambusa sp.) sebagai Senyawa Antimalaria. BIOEDUKASI, 11(2), 131-151. Ulfa, M., Apridamayanti, P., & Sari, R. (2015). Penentuan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bambu (Bambusa vulgaris) terhadap Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1). BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.) Latin Name Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Tracheophyta Class : Monocotyledonae Order : Poales Family : Gramineae Genus : Bambusa Species : Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. (Sarmila et al., 2022) General Definition Yellow bamboo is a native species originating from Cambodia, China, Laos, Myanmar, Thailand, and Vietnam. Today, yellow bamboo has spread and is cultivated in various countries, such as Bangladesh, Brazil, Colombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua New Guinea, Vanuatu, and Venezuela. Yellow bamboo can grow at elevations of 100–1,500 meters above sea level. This plant can grow up to 16 meters or taller, forming woody clumps, and is capable of producing creeping branches. Young yellow bamboo shoots are typically 15–30 cm long and are edible. Mature yellow bamboo stems have a diameter of 10–12 cm and are bright green or yellow in color. Yellow bamboo leaves are lance-shaped and pointed, with a length of 10–25 cm and a width of 1–3 cm. Each clump typically has 8–9 leaves. Yellow bamboo is a plant that rarely flowers. The yellow bamboo flower consists of small spikelets 15–20 mm long, each containing 6–10 flowers. Yellow bamboo can be utilized as food, livestock feed, fuel, timber, and in the pharmaceutical industry (Kew). Benefits Yellow bamboo has been found to contain saponins, flavonoids, and tannins. Saponins are useful as pepticides, insecticides, molluscicides, and fungicides, and are used in industry for foaming. Bambusa vulgaris leaf extract has hepatoprotective effects and aids in the recovery of kidney function. B. vulgaris leaf extract has the potential to be a promising natural antimalarial product with no side effects, particularly when administered at a dosage range of 100–200 mg/kg body weight. Tannins are used as astringents, to treat diarrhea, as diuretics, to combat stomach and duodenal tumors, and as anti-inflammatory, antiseptic, antioxidant, and hemostatic agents (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoids in

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.) Read More »

Scroll to Top