Nama Latin
Syzygium Polyanthum
Taksonomi
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (dikotil)
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum (Wight) Walp.
World Flora Online. (2023)
Definisi Umum
Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) adalah tanaman yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Daunnya sering digunakan sebagai bumbu masakan untuk menambah aroma, rasa, warna, serta memperkaya cita rasa makanan. Selain itu, daun salam juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Penggunaan tanaman ini baik sebagai bumbu dapur maupun obat, umumnya berkaitan dengan kandungan metabolit sekundernya, terutama minyak atsiri atau essential oil. Daun salam berwarna hijau ketika masih dalam keadaan segar, disebabkan kandungan klorofil yang merupakan pigmen utama yang terdapat dalam membran tilakoid. Klorofil memiliki fungsi sebagai molekul yang berperan penting dalam fotosintesis. Selain itu juga mengandung karotenoid yang merupakan pigmen pemberi warna kuning sampai jingga.
Kandungan
Berbagai kandungan senyawa bioaktif terkandung di daun salam, antara lain flavonoid, saponin, triterpenoid, polifenol, alkaloid, tanin dan minyak atsiri. Dimana tanin, flavonoid dan minyak atsiri bermanfaat sebagai antibakteri, sedangkan flavonoid mampu menghambat kadar kolesterol (Giri, 2008. Kusumaningrum dkk., 2013. Rahayuningsih, 201. Wiryawan, 2017).
Khasiat
Daun salam berkhasiat sebagai obat sakit perut, menghentikan buang air besar yang berlebihan, mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah, radang lambung, gatal gatal dan diabetes (Wartini, dkk. 2007. Widyawati et al, 2012. Patel, et al., 2012. Harismah, 2017).
Cara Pengolahan
Pengolahan daun salam sebagai bahan herbal dilakukan melalui beberapa tahapan agar kandungan zat aktifnya tetap terjaga. Tahap awal dimulai dari pemilihan bahan, yaitu daun yang masih segar atau daun kering yang berkualitas baik. Setelah itu, daun disortir untuk memisahkan dari kotoran atau bahan asing, kemudian dicuci menggunakan air mengalir hingga bersih.
Selanjutnya, daun dapat dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang teduh atau menggunakan oven dengan suhu yang disesuaikan. Proses pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga bahan lebih tahan lama dan tidak mudah rusak.
Dalam pengolahannya, daun salam umumnya digunakan dengan metode perebusan (infusa). Perebusan dilakukan menggunakan wadah yang tidak mudah bereaksi seperti kaca, tanah liat, atau bahan email. Air dipanaskan hingga mendidih dengan suhu sekitar 96–98°C, kemudian daun salam dimasukkan dan direbus selama kurang lebih 15–20 menit. Adapun bahan yang digunakan biasanya sekitar 10 gram daun kering atau 30 gram daun segar.
Selain perebusan, daun salam juga dapat diolah dalam bentuk serbuk agar lebih praktis digunakan dan memiliki daya simpan lebih lama. Penyimpanan bahan herbal sebaiknya dilakukan dalam wadah tertutup rapat agar terhindar dari kelembaban dan kontaminasi. Dengan tahapan pengolahan yang tepat, kandungan senyawa aktif dalam daun salam dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pengobatan tradisional (Nurtanti & Sulistyaningsih, 2022).
Daftar Pustaka
World Flora Online. (2023). Syzygium polyanthum (Wight) Walp. http://www.worldfloraonline.org/taxon/wfo-0000388157
Nurtanti, S., & Sulistiyoningsih. (2022). Efektivitas rebusan daun salam terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Jurnal Keperawatan GSH, 11(2), 34–35. https://ejournal.gsh.ac.id/index.php/jik/article/view
Widyawati, P. S., Wijaya, C. H., Hardjosworo, P. S., & Sajuthi, D. (2012). Pengaruh ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) terhadap profil lipid. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 23(1). https://journal.ipb.ac.id/index.php/jtip/article/view
Harismah, K., & Chusniatun. (2016). Pemanfaatan daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai obat herbal. Jurnal Kesehatan. https://publikasiilmiah.ums.ac.id/

