naturindofresh

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata)

Nama Ilmiah Kalanchoe pinnata Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : MagnoliophytaKelas : MagnoliopsidaOrdo : SaxifragalesFamili : CrassulaceaeGenus : KalanchoeSeksi : BryophyllumSpesies : Kalanchoe pinnata (Sumber: USDA Plants Database; Plants of the World Online) Definisi Umum Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L). Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) merupakan tanaman dengan ciri-ciri daunnya yang tebal dan berair (Amiyati, 2015). Daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, peluruh dahak, radang dan luka bakar (Purwitasari, 2017).  Uji fitokimia daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) positif mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid, tanin, saponin, dan steroid (Almeida, 2006). Menurut Yantih, (2011), Isolasi dan karakterisasi senyawa ekstrak etanol daun cocor bebek, hasil FTIR menunjukkan senyawa flavonoid, tanin, dan saponin memiliki intensitas yang kuat di daerah 3550cm⁻¹-3200cm⁻¹. Kandungan senyawa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L) diduga memiliki kemiripan yang sama dengan ekstrak rimpang kencur yang memiliki aktivitas antiinflamasi dengan persen inhibisi sebesar 51,27%.  Senyawa flavonoid diduga berperan penting pada aktivitas antiinflamasi dengan cara menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat (Hasanah, 2011). Daun cocor bebek merupakan spesies Crassulaceae yang kaya akan senyawa fenolik yaitu kuersetin dan merupakan flavonoid utama daun cocor bebek sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi (Costa, 2008).  Kandungan Daun cocor bebek mengandung senyawa flavonoid, senyawa tanin dan senyawa saponin. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Kandungan flavonoid ini bersifat polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil ataupun mengikat gula, oleh karena itu flavonoid umumnya larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, dan butanol. Flavonoid dapat digunakan sebagai antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel terhadap efek kerusakan oleh oksigen reaktif. Flavonoid juga dapat mempengaruhi kenaikan jumlah trombosit dan memiliki bioaktivitas sebagai anti kanker, antivirus, anti bakteri, anti peradangan dan anti alergi (Fitriyah, 2013). Flavonoid juga dapat mempengaruhi kecepatan proses inflamasi pada penyembuhan luka dan dapat melindungi luka dari radikal bebas, flavonoid telah disintesis oleh tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba sehingga tidak mengherankan jika senyawa flavonoid efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme. Tanin bersifat antiseptik pada permukaan luka bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan sebagai penangkal infeksi pada kulit, mukosa, dan infeksi pada luka (Elis, 2013). Tanin juga memiliki efek menangkal radikal bebas, oksigenasi, meningkatkan kontraksi luka, meningkatkan pembentukan pembuluh darah, dan jumlah fibroblas (Pratiwi, 2018). Saponin merupakan salah satu kelas senyawa glikosida, steroid, triterpenoid struktur dan spesifitas yang memiliki solusi koloid bentuk dalam air dan berbusa seperti sabun. Ada menggambarkan sekelompok senyawa kompleks dan molekul besar yang memiliki banyak manfaat. Saponin dapat ditemukan pada akar dan daun tanaman juga sebagai antimikroba seperti virus antibakteri dan antiviral, kehadiran saponin ditandai dengan keberadaan dari solusi koloid yang stabil fungsi sebagai pembersih dan mampu merangsang pembentukan kolagen, suatu protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka lebih baik (Putri, 2015).  Saponin dapat diklasifikasikan sebagai steroid, triterpenoid atau alkaloid tergantung pada sifat aglikon, dan bagian aglikon dari saponin disebut sebagai sapogenin yang umumnya oligosakarida. Steroid saponin hormon dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok dengan reseptor yang mengikat mereka glikortikoid, kortikoids, mineral, androgen, estrogen, prostagen, vitamin D, dan erathormon. Steroid dalam studi klinis modern telah mendukung peran mereka sebagai anti inflamasi dan analgesik agen (Pratiwi, 2018). Khasiat Secara tradisional, Kalanchoe pinnata digunakan dalam pengobatan herbal karena memiliki aktivitas farmakologis seperti: Cara Pengolahan a. Untuk luka dan bisulDaun segar dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Gunakan 2–3 kali sehari. b. Untuk luka bakar ringanAmbil daun segar, haluskan, lalu oleskan langsung pada area luka. Lakukan secara rutin sampai kondisi membaik. c. Untuk batukRebus 2–3 lembar daun dalam 1 gelas air selama 10–15 menit. Saring dan minum 1–2 kali sehari. d. Untuk radang atau bengkakDaun ditumbuk dan digunakan sebagai kompres pada bagian tubuh yang meradang. e. Sebagai antiinflamasi internalEkstrak daun dapat dikonsumsi dalam bentuk rebusan dengan dosis terbatas (konsultasi dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang). Daftar Pustaka Almeida, A. P. (2006). Phytochemical and pharmacological studies of Kalanchoe pinnata. Journal of Ethnopharmacology. Amiyati. (2015). Pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam pengobatan tradisional. Jakarta: Penebar Swadaya. Costa, S. S. (2008). Flavonoids and phenolic compounds of Kalanchoe pinnata. Phytochemistry Reviews. Elis, R. (2013). Peran tanin dalam penyembuhan luka. Jurnal Farmasi Indonesia. Fitriyah, N. (2013). Aktivitas antioksidan flavonoid pada tanaman obat. Jurnal Biologi. Hasanah, U. (2011). Mekanisme flavonoid sebagai antiinflamasi. Jurnal Kedokteran. Pratiwi, D. (2018). Efektivitas senyawa tanin dan saponin dalam penyembuhan luka. Jurnal Ilmu Farmasi. Purwitasari, E. (2017). Studi etnobotani tanaman obat di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press. Putri, A. (2015). Saponin sebagai agen penyembuhan luka. Jurnal Kimia Farmasi. Yantih. (2011). Isolasi dan karakterisasi senyawa aktif daun cocor bebek menggunakan FTIR. Skripsi.

Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata) Read More »

Mata Ayam (Ardisia crenata)

Nama Latin Ardisia crenata Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Primulases Famili : Primulaceae Genus : Ardisia Spesies :Ardisia Crenata Sims (Chatan, W., Promprom, W., & Munglue, P. 2024). Definisi Mata ayam (Ardisia Crenata) merupakan tanaman semak dengan tinggi sekitar 1-2 meter yang memiliki daun hijau mengilap dengan tepi bergerigi serta buah kecil berwarna merah terang. Tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman hias dan juga sebagai tanaman obat dalam pengobatan tradisional di beberapa negara asia. Kandungan Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Mata ayam (Ardisia Crenata) ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti bergenin, triterpenoid saponin, flavonoid, serta senyawa fenolik lain yang memiliki aktivitas biologis penting. Khasiat Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Mata ayam (Ardisia Crenata) ini memiliki berbagai aktivitas farmakologis seperti aktivitas antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasi. Beberapa senyawa yang diisolasi dari tanaman ini mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen serta berpotensi dikembangkan sebagai obat herbal modern. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman mata ayam dapat dilakukan dengan pembuatan simplisia dari daun atau akar tanaman. Daun dicuci bersih, dipotong kecil, kemudian dikeringkan di tempat teduh sehingga menjadi simplisia kering. Simplisia tersebut dapat digunakan sebagai bahan ramuan herbal atau bahan penelitian farmasi. Daftar Pustaka Zhao, C., Wang, C., Zhou, Y., Hu, T., Zhang, Y., Lv, X., Li, J., & Zhou, Y. (2024). Discovery of Potential Anti Microbial Molecules and Spectrum Correlation Effect of Ardisia crenata Sims via HPLC Fingerprints and Molecular Docking. Molecules, 29(5), 1178. Saxena, P., Singh, N., & Singh, S. (2022). Ardisia crenata: A New Source of Health■Promoting Phytopharmaceuticals and Chemicals. Journal of Pharmaceutical Negative Results, 13(S10), 4907–4914. Khuder, J. K., & Mohammed, A. A. (2025). Isolation Endophytic Bacteria from Leaf Glands and Seeds of Ardisia crenata Plant and its Molecular Detection. Egyptian Journal of Veterinary Sciences, 56(6), 1265–1270. Wu, D. H., et al. (2024). Ardisia Crispae Radix et Rhizoma: A review of botany, traditional uses, phytochemistry, pharmacology, and toxicology. Journal of Ethnopharmacology. Peng, D., et al. (2024). Comparative chloroplast genome analysis of Ardisia species and their evolutionary relationships. BMC Plant Biology Chatan, W., Promprom, W., & Munglue, P. (2024). Ardisia crenata subsp. mukdahanensis, a new subspecies of Primulaceae from Thailand.

Mata Ayam (Ardisia crenata) Read More »

ZODIA (Evodia suaveolens)

Nama Latin Evodia suaveolens Scheff Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Spermatophyta Kelas           : Dicotyledonae Ordo            : Rutales Famili         : Rutaceae Genus         : Evodia Spesies        : Evodia suaveolens (Handayani, 2019) Definisi Umum Tanaman zodia (Evodia suaveolens) merupakan tanaman aromatik yang dikenal sebagai tanaman pengusir nyamuk alami. Tanaman ini menghasilkan aroma khas dari minyak atsiri yang terdapat pada daun dan bagian tanaman lainnya. Aroma tersebut tidak disukai oleh serangga, terutama nyamuk, sehingga tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai repellent alami di lingkungan rumah. Secara tradisional masyarakat Papua menggunakan daun zodia dengan cara menggosokkan daun pada kulit atau menanamnya di sekitar rumah untuk menghindari gigitan nyamuk. Senyawa aktif utama yang terkandung dalam daun zodia antara lain linalool, α-pinene, evodiamine, dan rutaecarpine yang berperan sebagai zat penolak serangga. Khasiat a. Sebagai Pengusir Nyamuk Alami Daun zodia mengandung minyak atsiri seperti linalool dan α-pinene yang mampu mengusir nyamuk dengan cara mengganggu sistem sensorik pada serangga. b.     Sebagai Insektisida Nabati Ekstrak daun zodia dapat digunakan sebagai insektisida alami untuk mengendalikan nyamuk seperti Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD). c.     Sumber Antioksidan Alami Selain sebagai repellent, ekstrak daun zodia juga memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. d.     Aman dan Ramah Lingkungan Penggunaan bahan alami dari tanaman zodia relatif lebih aman dibandingkan insektisida sintetis serta tidak mencemari lingkungan. Cara Pengelolaan Tanaman a. Budidaya Tanaman Tanaman zodia dapat ditanam pada tanah yang subur dengan drainase baik dan memerlukan sinar matahari yang cukup. Penyiraman dilakukan secara teratur namun tidak berlebihan. b.     Pemanfaatan Tanaman dapat ditanam di sekitar rumah, diletakkan dalam pot di dalam ruangan, atau daunnya digosokkan langsung pada kulit sebagai repellent alami. c.     Pengolahan Produk Daun zodia dapat diolah menjadi minyak atsiri melalui proses distilasi uap, lotion anti nyamuk, atau produk penolak serangga berbahan alami. Daftar Pustaka Agustina, A., Kurniawan, B., & Yusran, M. (2019). Efektivitas Tanaman Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Insektisida Nabati Nyamuk Aedes aegypti. https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/download/282/256 Handayani, T., & Lestari, P. (2019). Karakterisasi morfologi dan klasifikasi tanaman zodia (Evodia suaveolens) sebagai tanaman pengusir nyamuk. Jurnal Biologi Tropis, 19(2), 123–130. Sudiarti, M., Ahyant, M., & Yushananta, P. (2021). Efektivitas Daun Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Repellent Nyamuk Aedes aegypti. https://ejurnal.poltekkestjk.ac.id/index.php/JKESLING/article/download/Made%20Sudiarti%2C%20Mei%20Ahyant%2C%20Prayudhy%20Yushananta/1218/9374 Lestari, F. D., & Simaremare, E. S. (2017). Uji Potensi Minyak Atsiri Daun Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Insektisida Nyamuk. https://media.neliti.com/media/publications/161209-ID-none.pdf Minarti, dkk. (2022). Pemanfaatan Tanaman Zodia (Evodia suaveolens) sebagai Tanaman Pengusir Nyamuk. https://ojs.ukb.ac.id/index.php/josh/article/download/501/359/ ZODIA (Evodia suaveolens) Latin Name Evodia suaveolens Scheff Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rutales Famili : Rutaceae Genus : Evodia Spesies : Evodia suaveolens (Handayani, 2019) General Description The zodia plant (Evodia suaveolens) is an aromatic plant known as a natural mosquito repellent. This plant produces a distinctive aroma from the essential oils found in its leaves and other plant parts. The aroma is disliked by insects, especially mosquitoes, making the plant commonly used as a natural repellent in residential environments. Traditionally, the people of Papua use zodia leaves by rubbing them onto the skin or planting them around their homes to avoid mosquito bites. The main active compounds contained in zodia leaves include linalool, α-pinene, evodiamine, and rutaecarpine, which function as insect-repellent substances. Benefits a. As a Natural Mosquito Repellent Zodia leaves contain essential oils such as linalool and α-pinene, which are capable of repelling mosquitoes by disrupting the sensory system of insects. b. As a Botanical Insecticide Zodia leaf extract can be used as a natural insecticide to control mosquitoes such as Aedes aegypti, which is the vector responsible for transmitting dengue fever. c. As a Natural Source of Antioxidants In addition to its role as a repellent, zodia leaf extract also has potential as a natural source of antioxidants. d. Safe and Environmentally Friendly The use of natural materials derived from the zodia plant is relatively safer than synthetic insecticides and does not cause environmental pollution. Plant Management Methods a. Plant Cultivation Zodia plants can be planted in fertile, well-drained soil and require adequate sunlight. Watering should be done regularly, but not excessively. b. Utilization Plants can be planted around the house, placed in pots indoors, or the leaves can be rubbed directly on the skin as a natural repellent. c. Product Processing Zodia leaves can be processed into essential oil through steam distillation, mosquito repellent lotion, or natural insect repellent products. References Agustina, A., Kurniawan, B., & Yusran, M. (2019). Effectiveness of Zodia Plant (Evodia suaveolens) as a Botanical Insecticide Against Aedes aegypti Mosquitoes. Retrieved from https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/download/282/256 Handayani, T., & Lestari, P. (2019). Morphological Characterization and Classification of Zodia Plant (Evodia suaveolens) as a Mosquito-Repellent Plant. Jurnal Biologi Tropis, 19(2), 123–130. Sudiarti, M., Ahyant, M., & Yushananta, P. (2021). Effectiveness of Zodia Leaves (Evodia suaveolens) as a Repellent Against Aedes aegypti Mosquitoes. Retrieved from https://ejurnal.poltekkestjk.ac.id/index.php/JKESLING/article/download/Made%20Sudiarti%2C%20Mei%20Ahyant%2C%20Prayudhy%20Yushananta/1218/9374 Lestari, F. D., & Simaremare, E. S. (2017). Potential Test of Zodia Leaf (Evodia suaveolens) Essential Oil as a Mosquito Insecticide. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/161209-ID-none.pdf Minarti, et al. (2022). Utilization of Zodia Plant (Evodia suaveolens) as a Mosquito-Repellent Plant. Retrieved from https://ojs.ukb.ac.id/index.php/josh/article/download/501/359/359

ZODIA (Evodia suaveolens) Read More »

KUPING GAJAH (Anthurium crystallinum)

Nama Latin Anthurium crystallinum Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Arecidae Ordo : Arales Famili : Araceae Genus : Anthurium Spesies : Anthurium crystallinum (Bernal, R., Gradstein, R.S. & Celis, M. (eds.), 2016) Definisi Umum Tanaman kuping gajah (Anthurium sp.) merupakan tanaman hias yang memiliki sistem perakaran serabut dengan jumlah akar yang relatif banyak. Akar, baik yang masih muda maupun yang telah tua, umumnya berwarna putih hingga kecokelatan. Sebagai akar serabut, sistem perakaran tanaman ini menyebar ke berbagai arah dan dalam beberapa kondisi dapat muncul ke permukaan media tanam. Batang tanaman kuping gajah bersifat lunak (herbaceous), mengandung jaringan berair dengan getah yang relatif kental, sehingga teksturnya mudah patah. Batang tidak mengalami lignifikasi (tidak berkayu), namun pada permukaannya masih tampak ruas-ruas (nodus) yang cukup jelas. Daun Anthurium memiliki variasi bentuk yang beragam, antara lain lonjong, berbentuk jantung (cordate), meruncing, hingga memanjang. Ujung daun cenderung tipis dan meruncing, dengan ukuran yang semakin mengecil ke arah ujung. Tekstur daun relatif kaku namun tidak tajam. Ciri khas lain adalah adanya tulang daun yang menonjol dan kontras, umumnya berwarna putih, sehingga memberikan perbedaan yang jelas dengan warna helaian daun yang hijau hingga keunguan. Panjang daun bervariasi, berkisar antara 10–30 cm, dengan permukaan yang mengkilap sehingga menambah nilai estetika tanaman.Bunga tanaman kuping gajah termasuk tipe berumah satu (monoecious), di mana organ reproduksi jantan dan betina terdapat dalam satu struktur bunga yang sama. Bunga tersusun atas tangkai, seludang (spathe), dan tongkol (spadix), yang secara visual tampak menyatu. Meskipun demikian, struktur reproduksi jantan dan betina memiliki morfologi yang berbeda. Organ jantan ditandai dengan keberadaan benang sari, sedangkan organ betina ditandai dengan adanya bagian yang berlendir sebagai indikasi reseptivitas stigma. Pada tanaman ini, putik tidak tampak terpisah karena melekat pada tongkol. Buah Anthurium menunjukkan perbedaan warna antara fase muda dan matang. Buah yang belum matang berwarna hijau, sedangkan buah yang telah matang berwarna merah. Biji melekat pada tongkol selama perkembangan, namun akan terlepas secara alami ketika telah mencapai kematangan fisiologis. Biji tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif Kandungan Senyawa aktif dalam tumbuhan ini, seperti flavonoid, saponin, dan glikosida, diyakini berperan dalam menghambat jalur inflamasi di dalam tubuh. Mekanisme ini dapat membantu mengurangi pembengkakan, kemerahan, dan nyeri yang terkait dengan berbagai kondisi peradangan. Khasiat Tanaman kuping gajah memiliki berbagai potensi farmakologis berdasarkan kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Tanaman ini diketahui memiliki aktivitas anti-inflamasi yang mampu menekan respons peradangan, sehingga berpotensi mengurangi pembengkakan dan nyeri. Selain itu, aktivitas antioksidannya berperan dalam menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Ekstrak tanaman ini juga menunjukkan potensi antimikroba terhadap bakteri dan jamur patogen, serta dapat mempercepat penyembuhan luka melalui stimulasi regenerasi jaringan dan pembentukan kolagen. Efek analgesik yang dimiliki turut berkontribusi dalam meredakan nyeri, khususnya yang berkaitan dengan inflamasi. Penelitian awal juga mengindikasikan potensi antikanker melalui mekanisme induksi apoptosis pada sel kanker, serta aktivitas imunomodulator yang dapat meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Dalam penggunaan tradisional, tanaman ini dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan kulit, rematik, demam, dan masalah pencernaan. Selain itu, terdapat indikasi efek diuretik, antidiabetes, dan hepatoprotektif, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut. Umbinya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi setelah pengolahan yang tepat untuk menghilangkan senyawa toksik. Secara keseluruhan memiliki prospek sebagai sumber bahan alami dalam pengembangan obat dan produk kesehatan, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan dosis yang tepat dalam aplikasi klinis. Tanaman kuping gajah memiliki berbagai potensi farmakologis berdasarkan kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Tanaman ini diketahui memiliki aktivitas anti-inflamasi yang mampu menekan respons peradangan, sehingga berpotensi mengurangi pembengkakan dan nyeri. Selain itu, aktivitas antioksidannya berperan dalam menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Ekstrak tanaman ini juga menunjukkan potensi antimikroba terhadap bakteri dan jamur patogen, serta dapat mempercepat penyembuhan luka melalui stimulasi regenerasi jaringan dan pembentukan kolagen. Efek analgesik yang dimiliki turut berkontribusi dalam meredakan nyeri, khususnya yang berkaitan dengan inflamasi. Penelitian awal juga mengindikasikan potensi antikanker melalui mekanisme induksi apoptosis pada sel kanker, serta aktivitas imunomodulator yang dapat meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Dalam penggunaan tradisional, tanaman ini dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan kulit, rematik, demam, dan masalah pencernaan. Selain itu, terdapat indikasi efek diuretik, antidiabetes, dan hepatoprotektif, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut. Umbinya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi setelah pengolahan yang tepat untuk menghilangkan senyawa toksik. Cara Pengolahan Resep sederhana mengatasi radang tenggorokan : 10 g daun segar kuping gajah dicuci lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, saring, airnya diminum sekaligus. Daftar Pustaka Chang, C. L., Lin, C. S., & Lai, G. H. (2014). Cytotoxic effects of Alocasia macrorrhizos on human cancer cell lines. Food and Chemical Toxicology, 72, 211–218. Devi, P. S., Kumar, M. S., & Das, S. (2018). Antioxidant activity of Alocasia macrorrhizos extracts. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 8(1), 1–6. Gupta, R., Sharma, A., & Singh, P. (2016). Antimicrobial activity of Alocasia macrorrhizos against selected pathogens. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 37(2), 45–50. Kumar, V., Patel, R., & Singh, S. (2019). Evaluation of analgesic activity of Alocasia macrorrhizos leaf extract in experimental models. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences, 81(4), 678–683. Sharma, N., Singh, R., & Kumar, A. (2015). Anti-inflammatory activity of Alocasia macrorrhizos in animal models. Journal of Ethnopharmacology, 168, 1–7. Singh, D., Verma, S., & Yadav, P. (2017). Wound healing potential of Alocasia macrorrhizos extract in rats. Journal of Wound Care, 26(5), 250–256.Widiyastuti, Y., Rahmawati, N., & Sari, D. (2020). Immunomodulatory activity of Alocasia macrorrhizos extract. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 5(2), 89–95.

KUPING GAJAH (Anthurium crystallinum) Read More »

Lavender (Lavandula angustifolia)

Nama Latin Lavandula angustifolia Taksonomi Divisi : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Sub Class : Asteridae  Ordo : Lamiales  Famili : Lamiaceae  Genus : Lavandula Spesies : Lavandula angustifolia Chaix Passalacqua et al. (2017) Definisi Umum Lavandula angustifolia merupakan tanaman dengan tinggi 1 – 2 m dan perawakannya seperti rumput dan sering disebut sebagai rumput raksasa. Susunan bunganya mengumpul di tengah dengan jumlah 6 – 8 bunga pada setiap gerombolannya. Bunga berwarna ungu kecil-kecil dengan panjang 2 – 8 cm dengan kebiruan di ujung daun dan mengeluarkan aroma wangi. Daunnya berukuran 2 – 6 cm dan lebar 4 – 6 mm, bertulang sejajar, tangkai daunnya pendek dan berwarna hijau dan tumbuh diujung batang bunga. Batangnya berwarna coklat abu-abu atau coklat gelap dengan kulit kayunya mempunyai pola memanjang sesuai dengan batang kayunya.  Khasiat Tanaman lavender (Lavandula angustifolia) memiliki banyak manfaat, berikut adalah berbagai macam manfaat yang dimilikinya: Cara Pengolahan Penggunaan Tanaman Lavender sebagai Minyak Aromaterapi diperoleh dari bagian tanaman seperti bunga melalui proses penyulingan. Metode ini menjadi cara utama untuk memisahkan kandungan minyak dari bahan tanaman. Jenis teknik yang digunakan biasanya disesuaikan dengan ketersediaan alat dan skala produksi. Untuk hasil yang lebih baik, alat penyuling sebaiknya berbahan stainless steel agar minyak yang dihasilkan tetap jernih dan tidak terkontaminasi. Sebelum proses penyulingan, bunga lavender dipotong kecil agar kelenjar minyak lebih mudah terbuka. Setelah itu, bahan dikeringkan di tempat teduh selama kurang lebih dua hari. Pengeringan tidak dianjurkan di bawah sinar matahari langsung karena dapat menyebabkan minyak menguap dan kualitasnya menurun. Secara umum, terdapat tiga teknik penyulingan minyak lavender: Pada metode ini, bahan dimasukkan langsung ke dalam air dan dipanaskan. Uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga menjadi cairan campuran air dan minyak, lalu dipisahkan. Teknik ini sederhana dan murah, tetapi kualitas minyak yang dihasilkan cenderung lebih rendah. Bahan tidak bersentuhan langsung dengan air, melainkan terkena uap panas dari air mendidih. Uap membawa minyak menuju kondensor, lalu dipisahkan. Cara ini menghasilkan minyak dengan kualitas lebih baik dan sering digunakan oleh petani. Teknik ini umumnya digunakan dalam skala industri. Uap dihasilkan dari ketel terpisah dan dialirkan ke bahan. Hasil minyak yang diperoleh lebih murni dan berkualitas tinggi, meskipun membutuhkan biaya dan peralatan yang lebih besar. Pemilihan metode penyulingan sangat memengaruhi kualitas dan jumlah minyak esensial yang dihasilkan. Semakin baik teknik dan peralatannya, semakin tinggi pula mutu minyak lavender yang diperoleh. Daftar Pustaka Sari, Puspita, et al. (2020). Penanaman Bunga Lavender Untuk Pencegahan Malaria Pada ibu Hamil Tahun 2020. TRIDARMA: Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM)  Isnaeni. (2022). Makalah Lavender. Scribd Manfaat dan Pembuatan Minyak Lavender | PDF | Kesehatan Holistik

Lavender (Lavandula angustifolia) Read More »

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl)

Nama Latin Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malvales Famili : Thymelaeaceae Genus : Phaleria Spesies : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl (Meiyanti, 2022) Definisi Umum Phaleria macrocarpa yang dikenal dengan nama mahkota dewa merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Thymelaeaceae dan cukup populer di Indonesia sebagai tanaman obat. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di wilayah Pulau New Guinea. Mahkota dewa merupakan tanaman yang memiliki bagian lengkap seperti batang, daun, bunga, dan buah. Tinggi tanaman ini bervariasi, mulai dari sekitar 1 meter hingga mencapai 18 meter, dengan panjang akar kurang lebih 1 meter. Kulit batangnya berwarna coklat kehijauan, sedangkan bagian kayunya berwarna putih. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk meruncing, dengan ukuran panjang sekitar 7–10 cm dan lebar 3–5 cm. Bunganya memiliki 2–4 kelopak dengan warna yang bervariasi, mulai dari hijau hingga merah marun. Buah mahkota dewa berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi merah saat telah matang. Setiap buah biasanya mengandung 1–2 biji yang berwarna coklat, berbentuk lonjong, dan memiliki tipe anatrop. Tanaman ini sering digunakan dalam pengobatan herbal karena mengandung berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Kandungan Manfaat tanaman mahkota dewa sebagai obat berkaitan erat dengan kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalamnya. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif seperti mineral, vitamin C, vitamin E, alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin. Khasiat Senyawa alkaloid berperan dalam proses detoksifikasi dengan cara membantu menetralkan racun di dalam tubuh. Saponin memiliki aktivitas sebagai antibakteri dan antivirus, serta dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas, sedangkan polifenol berperan sebagai antihistamin. Selain itu, tanaman mahkota dewa juga dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, batu ginjal, dan diare. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai minuman teh fungsional serta sebagai suplemen alami untuk membantu meningkatkan stamina tubuh. Cara Pengolahan a. Ambil buah mahkota dewa yang matang b. Cuci bersih dan iris tipis c. Rebus sekitar 3-5 irisan dengan 2-3 gelas air d. Rebus hingga tersisa kurang lebih 1 gelas e. saring dan minum setelah dingin DAFTAR PUSTAKA Kurang, R. Y., & Malaipada, N. A. (2021). Uji fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Sebatik, 25(2), 767-772. Santoso, F. J. P., & Rangka, F. M. (2025). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Pro-Life, 12(2), 143-156. Kalusalingam, A., Kamal, K., Khan, A., Menon, B., Tan, C. S., Narayanan, V., … & Ming, L. C. (2024). Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. in Ethnopharmacology: Pharmacognosy, Safety, and Drug Development Perspectives. Progress In Microbes & Molecular Biology, 7(1). Meiyanti,  Margo E., Merijanti L., Chudri J., Yohana (2022). Efek Hipoglikemik dan Antioksidan Phaleria macrocarpa (Sheff.) Boerl. Buku 978-623-285-781-0. Yayasan Barcode. Makassar.

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) Read More »

Asparagus (Asparagus officinalis)

Nama Latin Asparagus Officinalis Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi      : Magnoliophyta (Angiospermae) Kelas      : Liliopsida (Monokotil) Ordo       : Asparagales Famili     : Asparagaceae Genus     : Asparagus Spesies   : Asparagus officinalis L (Putri, 2024) Definisi Umum Asparagus (Asparagus officinalis L.) merupakan tanaman herba tahunan yang berasal dari wilayah Mediterania dan Asia Kecil dan dimanfaatkan bagian batang mudanya sebagai bahan pangan. Tanaman ini dikenal memiliki nilai gizi tinggi karena rendah kalori, kaya serat, serta mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti vitamin, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat bagi kesehatan (He et al., 2024). Asparagus memiliki sistem perakaran rimpang yang bersifat permanen sehingga mampu menghasilkan tunas secara berulang dalam satu periode tanam yang panjang. Pertumbuhan asparagus sangat berkaitan dengan proses pemanjangan sel batang yang dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis, metabolisme gula, serta keseimbangan hormon tanaman, yang secara langsung memengaruhi kualitas tunas dan hasil produksi. Karakteristik tersebut menjadikan asparagus sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan prospek pengembangan yang baik, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar pangan segar dan olahan Kandungan Tanaman asparagus (Asparagus officinalis L.) memiliki berbagai kandungan gizi dan senyawa alami yang bermanfaat, baik bagi pertumbuhan tanaman maupun bagi kesehatan manusia. Bagian batang asparagus, terutama tunas mudanya, merupakan bagian yang paling sering dikonsumsi karena mengandung kadar air yang tinggi, kaya serat, dan rendah kalori, sehingga baik untuk kesehatan pencernaan serta membantu menjaga berat badan. Batang asparagus juga kaya akan vitamin seperti vitamin A, C, E, K, serta vitamin B kompleks, terutama asam folat, yang berperan penting dalam proses metabolisme dan pembentukan sel darah merah. Selain itu, asparagus mengandung mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang, fungsi otot, serta keseimbangan cairan tubuh. Menurut Shahrajabian et al. (2020), asparagus mengandung berbagai senyawa fitokimia, antara lain flavonoid, polifenol, dan saponin, yang memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi melindungi tubuh dari stres oksidatif. Sementara itu, bagian akar asparagus yang berbentuk rimpang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan berupa karbohidrat kompleks seperti fruktan dan inulin. Senyawa inulin dikenal berperan sebagai prebiotik yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan (Shahrajabian et al., 2020). Dengan kandungan tersebut, asparagus tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tetapi juga berperan sebagai sayuran fungsional yang mendukung kesehatan tubuh secara alami. Khasiat Kandungan serat pada asparagus membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan berpotensi menurunkan risiko kanker usus besar, karena konsumsi serat yang cukup dapat melindungi usus dari gangguan kesehatan. Asparagus tergolong rendah kalori, mengandung banyak air, dan kaya serat, sehingga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung program pengendalian berat badan. Kandungan asam amino asparagine pada asparagus membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan dan garam, sehingga dapat mencegah infeksi saluran kemih dan menjaga fungsi kandung kemih. Vitamin E yang terkandung dalam asparagus berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan vitamin B6 dan asam folat pada asparagus dipercaya berperan dalam menjaga suasana hati dan mendukung fungsi saraf. Asparagus memiliki indeks glikemik rendah serta mengandung karbohidrat kompleks dan serat, sehingga membantu mencegah lonjakan gula darah dan menjaga kestabilannya. Cara Pengolahan Asparagus banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk sayuran segar maupun olahan. Tunas muda asparagus dapat direbus, dikukus, ditumis, atau dipanggang, serta digunakan sebagai campuran sup, salad, pasta, dan omelet. Selain itu, asparagus juga diolah menjadi produk kaleng, acar, dan asparagus beku untuk memperpanjang masa simpan. Kandungan serat yang tinggi dan kalori yang rendah menjadikan asparagus cocok dikonsumsi sebagai menu diet dan pangan fungsional (Shahrajabian et al., 2020). Selain sebagai bahan pangan, asparagus juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Bagian akar atau rimpang asparagus secara tradisional digunakan sebagai ramuan herbal yang berfungsi sebagai diuretik alami untuk membantu melancarkan buang air kecil dan menjaga kesehatan saluran kemih. Pemanfaatan ini umumnya dilakukan dengan cara merebus akar atau rimpang asparagus dalam air, kemudian air rebusannya diminum sebagai ramuan herbal. Selain direbus, akar asparagus juga dapat dikeringkan dan dihaluskan menjadi serbuk, kemudian diseduh dengan air hangat atau dicampurkan ke dalam minuman herbal lain untuk memudahkan konsumsi. Kandungan inulin pada asparagus berperan sebagai prebiotik yang mendukung kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa bioaktif seperti saponin dan flavonoid berpotensi membantu proses detoksifikasi tubuh dengan mengeluarkan kelebihan cairan dan zat sisa metabolisme melalui urin (Shahrajabian et al., 2020). Asparagus dapat diolah lebih lanjut melalui proses ekstraksi untuk menghasilkan ekstrak cair atau serbuk yang digunakan dalam produk suplemen kesehatan. Ekstrak asparagus diketahui mengandung senyawa antioksidan dan fitokimia yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh, sehingga banyak dikembangkan dalam produk pangan fungsional, kapsul herbal, dan minuman kesehatan (Shahrajabian et al., 2020). Kandungan antioksidan dalam asparagus, seperti polifenol dan flavonoid, dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit untuk membantu melindungi sel kulit dari radikal bebas dan memperlambat proses penuaan dini. Oleh karena itu, asparagus berpotensi digunakan sebagai bahan alami dalam industri kosmetik. Daftar Pustaka Gibson, G. R., Hutkins, R., Sanders, M. E., Prescott, S. L., Reimer, R. A., Salminen, S. J., Scott, K., Stanton, C., Swanson, K. S., Cani, P. D., Verbeke, K., & Reid, G. (2017). The International Scientific Association For Probiotics and Prebiotics (ISAPP) Consensus Statement On The Definition And Scope Of Prebiotics. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 14, 491–502. He, M., Chen, P., Li, M., Lei, F., Lu, W., Jiang, C., & Zheng, Y. (2024). Physiological And Transcriptome Analysis Of Changes In Endogenous Hormone And Sugar Content During The Formation Of Tender Asparagus Stems. BMC Plant Biology, 24(1), 581. Putri, N. I., Dwiputri, N. T., & Supriyatna, A. (2024). Inventarisasi Tiga Jenis Famili Tumbuhan Berberda di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Polygon: Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(4), 49-58. Shahrajabian, M. H., Sun, W., & Cheng, Q. (2020). A Review Of Asparagus (Asparagus officinalis L.) And Its Nutritional And Medicinal Values. Notulae Scientia Biologicae, 12(4), 801–812. Slavin, J. L. (2013). Dietary Fiber And Body Weight. Nutrition, 29(1), 14–18. Willett, W. C., & Stampfer, M. J. (2013). Current Evidence On Healthy Hating. Annual Review of Public Health, 34, 77–95. Asparagus (asparagus officinalis)Latin Name Asparagus Officinalis Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta (Angiosperms) Class: Liliopsida (Monocots) Order: Asparagales Family: Asparagaceae Genus: Asparagus Species: Asparagus officinalis

Asparagus (Asparagus officinalis) Read More »

Dewandaru (Eugenia uniflora L.)

Nama Latin  Eugenia uniflora L Taksonomi Kingdom: Plantae   Divisi: Spermatophyta                                  Sub Divisi: Angiospermae                                             Ordo: Myrtales                                        Famili: Myrtaceae                            Genus: Eugenia                                      Spesies: Eugenia uniflora (Sinaga ,2025) Definisi Umum Dewandaru merupakan salah satu jenis koleksi tumbuhan di Kebun Raya Purwodadi Tumbuhan yang termasuk dalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae) dengan nama ilmiah Eugenia uniflora L. Mengutip data The Plant List (2013), tumbuhan ini memiliki 46 nama sinonim. Berdasarkan Verheij & Coronel (1992), habitus tumbuhan ini berupa semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 7 meter. Cabang menyebar, ramping, dan terkadang melekuk. Permukaan batang halus dan kulit batang mengelupas. Daun tunggal berbentuk bulat telur sungsang, bagian pangkal membulat atau sedikit terbilah, ujung meruncing dan tumpul, permukaan halus, mengkilat. Warna daun cokelat kemerahan saat masih muda dan berubah menjadi hijau gelap ketika tua. Saat musim dingin atau kering, daun akan berwarna merah. Bunga wangi, terdiri atas 1-4 bunga yang menyatu di ketiak daun, berwarna putih krem, dan berdiameter sekitar 1 cm. Kelopak bunga berbentuk tabung dengan 8 rusuk dan 4 lekukan. Mahkota bunga berwarna putih dan panjang 7-11 mm. Jumlah benang sari sekitar 50-60 helai. Buah menggantung, berbentuk bulat pipih dan terdapat 7-8 rusuk seperti lampion. Buah berwarna hijau saat masih muda dan akan berubah menjadi oranye, hingga merah terang atau gelap keunguan. Kulit buah tipis, daging buah oranye hingga merah, berair dan sedikit lengket, rasa masam hingga manis. Biji berbentuk pipih dan umumnya berjumlah 1 butir dengan ukuran besar atau 2-3 butir dengan ukuran kecil. Kandungan Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) menjelaskan bahwa ekstrak hidroalkoholik daun dewandaru dapat mengurangi kadar enzim xanthine-oxidase yang memicu terbentuknya asam urat. Santos et al. (2015) menyebutkan bahwa ekstrak daun E. uniflora mengandung minyak esensial yang terdiri atas atractylone (16,90%), curzerene (19,70%), selina-1,3,7-trien-8-one (17,80%), dan furanodiene (9,60%). Pada ekstrak daun yang masih muda terkandung senyawa sesquiterpene jenis germacrone sebesar 35,59%. Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa dewandaru juga memiliki kemampuan antimikroba. Sobeh et al. (2016) telah melakukan penelitian tentang kemampuan antimikroba ekstrak minyak esensial dewandaru. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, dan bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, serta fungi Candida parapsilosis dan C. albicans. Buah dewandaru juga kaya akan antioksidan. Berdasarkan hasil analisa Bagetti et al. (2011), antioksidan tertinggi terdapat pada buah dewandaru yang masih berwarna oranye karena kaya akan karotenoid. Di samping itu, biji dewandarujuga kaya antioksidan karena kandungan senyawa fenolik yang sangat tinggi (Luzia et al., 2010). Khasiat Hasil observasi Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) Cara Pengolahan Daun dicuci, dikeringkan pada suhu ruang, dan digiling dengan mixer. Rebusan air panas: 10 g sampel bubuk dilarutkan dalam 100 ml air suling, dididihkan selama satu setengah jam, lalu disaring. Rebusan disimpan pada suhu 4°C untuk penggunaan selanjutnya. Daftar Pustaka Daniel, G., & Kumari, S. K. (2019). Free radical scavenging activity of aqueous (hot) extract of Eugenia uniflora (L.) leaves. Journal of Plant Biochemistry & Physiology, 7(1), 1–4. Rencana, E. (2020). Dewandaru (Eugenia uniflora L.). Warta Kebun Raya, 18(1), 1–10.(PDF) Dewandaru (Eugenia uniflora L.), Buah Legendaris yang Sarat Mitologi di Pegunungan Kawi https://share.google/YkEGx7MTY3X8uKXAh Sinaga, 2025. Identifikasi Tumbuhan Famili Myrtaceae di Kawasan Jalan Sukarela Timur, Desa Lau Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan. Alacrity : Jurnal Of education  https://doi.org/10.52121/alacrity.v5i1.539 Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Latin NameEugenia uniflora L.TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaSubdivision: AngiospermaeOrder: MyrtalesFamily: MyrtaceaeGenus: EugeniaSpecies: Eugenia uniflora (Sinaga, 2025) General DefinitionDewandaru is one of the plant collections at the Purwodadi Botanical Gardens. It belongs to the guava family (Myrtaceae) and has the scientific name Eugenia uniflora L. According to The Plant List (2013), this plant has 46 synonyms. According to Verheij & Coronel (1992), this plant has a shrub or tree habit, reaching a height of 7 meters. The branches are spreading, slender, and sometimes curved. The stem surface is smooth, and the bark peels. The single leaves are obovate, with a rounded or slightly lobed base, a pointed and blunt tip, and a smooth, shiny surface. The leaves are reddish-brown when young and turn dark green as they mature. During winter or dry seasons, the leaves turn red. The fragrant flowers, consisting of 1-4 flowers fused in the leaf axils, are creamy white, and approximately 1 cm in diameter. The calyx is tubular with 8 ribs and 4 grooves. The corolla is white and 7-11 mm long. The stamens number around 50-60. The fruit is hanging, round and flat, with 7-8 ribs like a lantern. The fruit is green when young and eventually changes to orange, then bright red or dark purple. The skin is thin, and the flesh is orange to red, juicy and slightly sticky, with a sour to sweet taste. The seeds are flat and generally number one large seed or two or three small seeds. ContentOgunwande et al. (2005) and Amorim et al. (2009) explained that hydroalcoholic extract of dewandaru leaves can reduce levels of the xanthine oxidase enzyme, which triggers uric acid formation. Santos et al. (2015) stated that E. uniflora leaf extract contains essential oils consisting of atractylone (16.90%), curzerene (19.70%), selina-1,3,7-triene-8-one (17.80%), and furanodiene (9.60%). Young leaf extract contains 35.59% of the sesquiterpene compound germacrone. Several other studies have shown that dewandaru also has antimicrobial properties. Sobeh et al. (2016) conducted research on the antimicrobial properties of dewandaru essential oil extract. The results of the study showed that there was an inhibitory effect on the growth of gram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, and gram-negative bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, and fungi Candida parapsilosis and C. albicans. Dewandaru fruit is also rich in antioxidants. Based on the analysis results of Bagetti et al. (2011), the highest antioxidants are found in dewandaru fruit that is still orange because it is rich in carotenoids. In addition, dewandaru seeds are also rich in antioxidants because they contain very high phenolic compounds (Luzia et al., 2010). Benefits1. diarrhea2. fever3. hypertension4. rheumatism5. worm infestation6. bronchitis7. cough.Observations by Ogunwande et al. (2005) and Amorim

Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Read More »

Mimba (Azadirachta indica)

Nama Latin Azadirachta indica Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Sapindales   Familiki: Meliaceae Genus: Azadirachta Spesies: Azadirachta indica A. Juss (Uzzaman, 2020) Definisi Umum Mimba merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak manfaat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan pertanian. Hal ini dapat dilihat dari pemberian nama latin dari tanaman ini yang memiliki makna kebebasan dari segala penyakit (Lestari et al., 2025). Tanaman ini berasal dari wilayah India dan Myanmar yang keberadaanya telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun lalu pada wilayah tersebut. Berbagai manfaat yang dapat diberikan oleh tanaman ini, membuat tanaman ini mulai tersebar di Indonesia pada tahun 1.500 dengan pulau Jawa sebagai daerah utama pembudidayaan tanaman ini.Mimba sama seperti tanaman lainnya, memerlukan kondisi lingkungan yang tepat untuk menunjang pertumbuhan. Kondisi lingkungan yang tepat dapat menunjang produktivitas tanaman, serta meningkatkan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam tanaman (Okyranida et al., 2024). Umumnya mimba dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 1-800 mdpl, lahan kering, curah hujan 450-750 mm/tahun, suhu 25-28°C, Ph 5,9-7, dan intensitas cahaya 100% (Wahyudiarto et al., 2023). Pohon mimba merupakan tanaman yang sebagian besar bagiannya dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan baik daun, batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya pohon mimba memiliki batang dengan tinggi mencapai 2-5 meter dengan tekstur yang kasar, berkayu, dan kulitnya tebal. Akar dari pohon ini berjenis akar tunggang, berbentuk silindris, dan berwarna coklat. Pohon mimba juga memiliki bunga yang tersusun sepanjang ranting secara aksilar dan berwarna putih dengan benang sari berbentuk silindris, putik lonjong, dan kelopak bunga berwarna hijau. Buah mimba berbentuk bulat lonjong dengan ukuran maksimal 2 cm yang berwarna kuning hingga hijau apabila matang. Bagian terakhir pohon mimba adalah daun mimba yang berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi, daun lancip, pangkal daun runcing, dan susunan tulang daun menyirip serta lebar sekitar 2 cm (Javandira et al., 2025). Kandungan Mimba memiliki berbagai macam senyawa-senyawa penting yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, anti-inflamasi, dan antivirus. Menurut Utami et al., (2024) senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian-bagian tanaman mimba seperti batang, daun, maupun biji adalah sebagai berikut. a. Promeliasin b.      Limonoid c.       Gedunin d.      Vilasinin e.       C-Sekomeliasin f.       Flavonoid, g.      Sitosterol h.      Hiperosida i.        Nimbolida j.        Quercetin k.      Quercitrin Khasiat Senyawa-senyawa yang terkandung dalam mimba ini memberikan berbagai khasiat. Menurut Utami et al., (2024) beberapa khasiat tersebut adalah dapat memberikan kesehatan kulit, kesehatan mulut, melindungi ginjal, anti kanker, diabetes, antiparasit, antijamur, dan antibakteri. Cara Pengolahan Pengolahan daun mimba, umumnya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode sehingga menghasilkan berbagai macam produk akhir sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Salah satu pengolahan daun mimba yang dapat dengan mudah dilakukan adalah dengan mengolah daun mimba menjadi teh herbal. Berdasarkan Alfira et al., (2023) metode yang dapat dilakukan untuk menghasilkan the herbal ini adalah dengan cara mengambil daun mimba yang ada pada pucuk hingga daun ketiga pada setiap ranting, untuk kemudian disortasi. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah mengkukus daun mimba selama 90 detik dengan suhu 100°C, lalu didinginkan selama 5 menit dalam suhu ruang. Daun mimba yang telah dingin kemudian dioven dengan suhu pengeringan 50°C dalam waktu 4 jam. Daun mimba yang telah kering dapat dihancurkan dengan menggunakan blender dan diayak hingga mendapatkan bubuknya. Bubuk yang dihasilkan ini kemudian dapat diseduh dan dikonsumsi. Daftar Pustaka Alfira, K., Yusarini, N. L. A., & Puspawati, G. A. K. (2023). Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik The Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss). Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan, 12(2), 293-308. https://doi.org/10.24843/itepa.2023.v12.i02.p06. Javandira, C., Suryana, I. M., Dewi, N. L. K. A., & Sarno, P. J. (2025). Potensi Daun Mimba sebagai Rodentisida Nabati dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar. Universitas Mahasaraswati Denpasar. https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/pilar/article/view/11276 Lestari, N. W., Safutri, W., & Safitri, O. S. (2025). Narrative Riview: Potensi Terapeutik dan Fitokimia Daun Mimba (Azadirachta indica) dalam Pengobatan Tradisional. Jurnal Farmasi, 4(1), 51-58. DOI: https://orcid.org/0009-0002-1284-924X Okyranida, I. Y., Widia, C., Rayhan, A. S., Salsabila, D., & Seramaidra, C. I. (2024). Intensitas Cahaya dan Suhu Lingkungan terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Nutrisi Microgreen. Prosiding Seminar Nasional Sains 2024. Universitas Indraprasta PGRI. https://proceeding.unindra.ac.id/index.php/sinasis/article/view/7932 Utami, Y. P., Imrawati, Jariah, A., Mustarin, R., Bone, M., & Bachri, N. (2024). Penetapan Sifat Fisikokimia Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadiractha indica A. Juss) : Penelitian Eksperimen Berskala Laboratorium. Health Information : Jurnal Penelitian, 16(3), 355-365. https://doi.org/10.36990/hijp.v16i3.1298 Wahyudiarto, A. D., Yuniastuti, T., & Joegijantoro, R. (2023). Efektivitas Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica juss) Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca domestica) di Lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Koesnadi Bondowoso. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2988-2995. https://doi.org/10.31004/jkt.v4i3.16511

Mimba (Azadirachta indica) Read More »

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum)

Nama Latin (Graptophyllum pictum) Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo         : Scorpulariales Famili          : Acanthaceae Genus          : Graptophylum Spesies        : Graptophyllum pictum (L.) Griff  (Griff et al., 2021)  Definisi Umum Graptophyllum pictum yang juga dikenal sebagai ‘Daun Ungu’, ‘handeuleum’, dan ‘tulak’ di Indonesia merupakan tumbuhan asal Papua Nugini yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae (Goswami et al., 2021). Daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 1,5-3 m dan tidak berambut. Terdapat lendir pada kulit dan daunnya. Daunnya tunggal, bertangkai pendek dan terletak berhadapan bersilangan. Panjang daun kira-kira 8-20 cm dengan lebar 3-13 cm, bentuk bulat telur hingga lanset dengan tepi bergelombang dan ujung pangkal runcing. Nama lokal dari Graptophyllum pictum yaitu pudding hitam, daun wungu (Wibowo et al., 2021). Kandungan Daun ungu ini terdapat kandungan fenolik dalam daun ungu seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid (Dewi et al., 2023) Khasiat Tanaman daun ungu memiliki berbagai aktivitas farmakologi diantaranya yaitu antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, analgesik, photoprotective, imunomodulator, nefroprotektif, antihemoroid, dan antibakteri (Griff et al., 2021). Daun ungu dimanfaatkan sebagai obat diuretik (batang atau daunnya), bunganya untuk melancarkan haid, dan daunnya digunakan dalam pengobatan antiinflamasi, pengobatan sembelit, ambeien, antireumatik, pengobatan bisul, dan berperan sebagai pencahar ringan. Penyembuhan dilakukan dengan meminum rebusan daun ungu sekali dalam sehari dan dilakukan setiap pagi secara rutin (Dewi et al., 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahan daun ungu yang paling umum didokumentasikan dalam literatur pengobatan tradisional adalah melalui metode perebusan atau dekokta (Sartika & Indradi, 2021). Untuk penggunaan internal, daun segar direbus dengan air hingga volumenya menyusut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang larut air (Meilani et al., 2023). Sedangkan untuk penggunaan eksternal seperti mengobati bisul, daun ungu dapat diolah dengan cara ditumbuk halus dan ditempelkan langsung pada area yang sakit sebagai tapal (Safitri, 2021). Daftar Isi Dewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Edukasi Pembuatan Seduhan Daun Ungu untuk Atasi Wasir Di Desa Maku Kecamatan Dolo, KabupatenSigi,SulawesiTengah.2(2),16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770 Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative literature review on Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8 (9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10 Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Daun Ungu Plants Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531 Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization Of Ethanol Extract Of Wungu Leaf (Graptophyllum Pictum (L) Griff) Growing In The Pamah Deli Old Area As An Anti-Inflammatory. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1 (2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260 Safitri, S. (2021). Pengaruh Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus aureus). Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 8 (1), 25–33. https://doi.org/10.63763/ijsp.v1i2.20 Sartika, I., & Indradi, S. (2021). Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Indonesian Journal of Biological Pharmacy, 1 (2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531.g16953 Wibowo, D., Ismayadi, P., & Wati, D. (2021). Tanaman Obat Desa Air Selimang, kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahyang,Bengukulu, Indonesia. Bengkulu:Deepublish.https://pustaka.uniraya.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4230 Purple Leaf (Graptophyllum pictum) Latin name(Graptophyllum pictum)TaxonomyKingdom : PlantaeDivision : MagnoliophytaClass : MagnoliopsidaOrder : ScorpularialesFamily : AcanthaceaeGenus : GraptophylumSpecies : Graptophyllum pictum (L.) Griff (Griff et al., 2021) General DefinitionGraptophyllum pictum, also known as ‘Purple Leaf’, ‘handeuleum’, and ‘tulak’ in Indonesia, is a plant native to Papua New Guinea and belongs to the Acanthaceae family (Goswami et al., 2021). Purple Leaf (Graptophyllum pictum L. Griff) is a hairless, shrubby plant growing 1.5-3 m tall. It has a slime on its skin and leaves. The leaves are single, short-stemmed, and arranged oppositely. The leaves are approximately 8-20 cm long and 3-13 cm wide, ovate to lanceolate in shape with wavy edges and a pointed base. Local names for Graptophyllum pictum include black pudding and purple leaves (Wibowo et al., 2021). ContentPurple leaves contain phenolic compounds such as alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids (Dewi et al., 2023).BenefitsThe purple leaf plant has various pharmacological activities, including antioxidant, anti-inflammatory, antidiabetic, analgesic, photoprotective, immunomodulatory, nephroprotective, antihemorrhoidal, and antibacterial properties (Griff et al., 2021). Purple leaves are used as a diuretic (either the stem or the leaves), the flowers are used to regulate menstruation, and the leaves are used as an anti-inflammatory, to treat constipation and hemorrhoids, as an antirheumatic, to treat boils, and as a mild laxative. Healing is achieved by drinking a decoction of purple leaves once daily, regularly every morning (Dewi et al., 2023). Processing MethodsThe most common method of processing purple leaves documented in traditional medicine literature is through boiling or decoction (Sartika & Indradi, 2021). For internal use, fresh leaves are boiled in water until their volume reduces to extract the water-soluble active compounds (Meilani et al., 2023). For external use, such as treating boils, purple leaves can be finely ground and applied directly to the affected area as a poultice (Safitri, 2021). Table of ContentsDewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Education on Making Purple Leaf Infusion to Treat Hemorrhoids in Maku Village, Dolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi. 2(2), 16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative Literature Review on the Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8(9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Purple Leaf Plants. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization of Ethanol Extract of Purple Leaf (Graptophyllum Pictum (L.) Griff) Growing in the Pamah Deli Old Area as an Anti-Inflammatory Agent. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1(2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260Safitri, S. (2021). The Effect of Purple Leaf Extract (Graptophyllum pictum L.) on the

Daun Ungu ( Graptophyllum pictum) Read More »

Scroll to Top