Blog

Talok/kersen (Muntingia calabura L.)

Nama Latin Muntingia calabura L. Taksonomi Kingdom : Plantae (tumbuhan) Sub kingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Super divisi : Spermatophyta (berbiji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub kelas : Dilleniidae Bangsa : Malvales (Culumniferae) Suku : Elaeocarpaceae Marga : Muntingia Jenis : Muntingia calabura L. (Shiddiqua, et al. 2010) Deskripsi Umum Kersen/ceri/talok/baleci dapat tumbuh di daerah tropis dan banyak dijumpai oleh masyarakat karena sifat pertumbuhannya tidak memerlukan perlakuan khusus dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik, Kersen (Muntingia calabura L.) dapat berbunga dan berbuah setiap tahun. Keadaan musim berbunga dan berbuah hampir terus menerus tidak menentu (Kosasih dkk, 2013). Kersen atau talok (Muntingia calabura L.) merupakan tumbuhan tropis yang tersebar di berbagai dataran tropis. Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah yang tandus dan toleran terhadap asam dan basa. Buah yang matang memiliki rasa yang manis dan dimakan dalam kondisi segar. Tanaman kersen memiliki pertumbuhan yang cepat dan proporsinya ramping. Tanaman ini asli dari Benua Amerika dan banyak dibudidayakan di Asia. Kandungan Penelitian Khusnawati dan Sulistyowati (2014), daun kersen memiliki kesamaan beberapa kandungan zat gizi seperti daun teh (Camellia sinensis L.) yaitu karbohidrat, vitamin C, kafein dan polifenol. Khasiat Selain memiliki banyak manfaat, daun kersen juga memiliki beberapa efek samping yang dapat mengganggu kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan secara berlebihan. Untuk rebusan daun kersen yang memiliki zat inflamasi dan antibiotik kuat dapat berubah berbahaya bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Cara Pengolahan Teh Herbal (Rebusan): Daftar Pustaka Arum, Y. P., Supartono, & Sudarmin. (2012). Isolasi dan Uji Daya Antimikroba Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.). Jurnal MIPA, 35(2), 165-174. Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura. (n.d.). Informasi Singkat Benih Kersen/Talok (Muntingia calabura L.). Biofarma. (2026). 8 Manfaat Buah Kersen yang Jarang Diketahui untuk Kesehatan Tubuh. Halodoc. (2026). Kerennya Daun Talok Kersen: Kontrol Gula Darah Alami. Krishnaveni, M., & Dhanalakshmi, R. (2014). Penelitian terkait fitokimia Muntingia calabura.

Talok/kersen (Muntingia calabura L.) Read More »

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.)

Nama Latin Malpighia coccigera L.  Taksonomi Kerajaan: Plantae (Plantarum) Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Bangsa (Ordo): Polygalales Suku (Famili): Malpighiaceae Marga (Genus): Malpighia Jenis (Spesies): Malpighia coccigera L.  Kew Science (2024) Deskripsi Umum Tanaman M. coccigera L. mempunyai nama lain yaitu daun serut, bunga mutiara, kelingkit dan daun selaput. Selain itu juga memiliki nama asing yaitu mirten lurus. Tanaman kelingkit berasal dari India Barat yang beriklim sub-tropis, dan banyak ditemukan di Malaysia dan China. Di Indonesia tumbuh di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa berada di dataran tinggi Kandungan Tanaman kelingkit mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menanggulangi produksi radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel yang hebat. Flavonoid dapat menghambat produksi radikal bebas, menghambat produksi enteroksin, dan meningkatkan imunitas tubuh. Khasiat M. coccigera L. merupakan tanaman tradisional yang mempunyai aktivitas farmakologi yaitu sebagai antibakteri, antioksidan, mencegah pembekuan darah, antikanker, antidiabetes, antidiare, sebagai obat batuk, dan memiliki aktivitas sitotoksik Cara Pengolahan Pengolahan tanaman klingit Taiwan umumnya menggunakan bagian daun atau bunga. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum dalam jumlah terbatas sebagai ramuan herbal. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Tanaman ini juga dapat dikeringkan dan diseduh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Pathare, Y. S., Hastak, V. S. dan Bajaj, A. N. (2013). Polymers Used For Fast Disintegrating Oral Films: A review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 21(1), pp. 169–178. 20 Saucedo V.A., Abarca N.A., Ocampo, H.A.G., Reyes, J.A.A., Valdez, L.S.G., Gonzalez, A.L., Alvarado, E.A.D., Ricario R.T. Phytochemical Characterization And Antioxidant Properties Of The Wild Edible Acerola Malpighia umbellata rose’, CYTA – Journal of Food. Taylor & Francis, 16:1(2018):698–706. 21 Betta, F.D., Nehring, P., Seraglio, S.K.T., Schulz, M., Valese, A.C. H., Gonzaga, L.V., Fett, R., Costa, A..O. Phenolic Compounds Determined by LC-MS/MS and In Vitro Antioxidant Capacity of Brazilian Fruits in Two Edible Ripening Stages. Plant Foods for Human Nutrition. 73:4(2018): 302- 307 22 Bala, R. dan Sharma, S. Formulation Optimization and Evaluation Of Fast Dissolving Film Of Aprepitant By Using Design Of Experiment. Bulletin of Faculty of Pharmacy, Cairo University. Elsevier B.V. 56:2(2018):159–168.

Klingit Taiwan (Malpighia coccigera L.) Read More »

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.)

Nama Latin Canna edulis Ker Gawl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi               : MagnoliophytaKelas               : LiliopsidaOrdo                : ZingiberalesFamili              : CannaceaeGenus              : CannaSpesies            : Canna edulis Ker Gawl. Plants of the World Online oleh Royal Botanic Gardens, Kew (2024) Deskripsi Umum Ganyong merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini memiliki rimpang (umbi batang) yang berkembang di dalam tanah dan menjadi bagian utama yang dimanfaatkan. Tinggi tanaman dapat mencapai 1–2 meter dengan batang semu yang tegak dan lunak. Daunnya lebar, berbentuk lonjong memanjang, berwarna hijau hingga kemerahan, dengan tulang daun yang jelas. Bunganya berwarna mencolok, umumnya merah, oranye, atau kuning, dan tersusun dalam tandan. Ganyong dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah, terutama tanah gembur dan cukup lembap. Tanaman ini juga cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang subur, sehingga sering dijadikan tanaman alternatif sumber pangan. Kandungan Kimia Rimpang ganyong mengandung berbagai zat yang bermanfaat, terutama karbohidrat dalam bentuk pati (amilum) dengan kadar yang cukup tinggi. Selain itu, ganyong juga mengandung serat, protein dalam jumlah kecil, serta mineral seperti kalsium dan fosfor. Kandungan lainnya meliputi vitamin, terutama vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Khasiat Ganyong dikenal sebagai tanaman pangan sekaligus tanaman obat. Kandungan patinya yang tinggi menjadikan ganyong sebagai sumber energi alternatif pengganti beras atau tepung. Selain itu, ganyong memiliki sifat mudah dicerna sehingga baik untuk penderita gangguan pencernaan. Secara tradisional, ganyong juga digunakan untuk membantu mengatasi diare, memperbaiki fungsi pencernaan, serta menjaga kesehatan tubuh. Kandungan seratnya membantu melancarkan sistem pencernaan, sedangkan antioksidannya berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ganyong umumnya difokuskan pada bagian rimpangnya. Rimpang dapat direbus atau dikukus hingga matang, kemudian dikonsumsi langsung sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, rimpang juga dapat diolah menjadi tepung ganyong dengan cara dikupas, dicuci, diparut, kemudian diperas dan diendapkan untuk diambil patinya, lalu dikeringkan. Tepung ganyong dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk makanan seperti kue, bubur, atau makanan tradisional lainnya. Selain itu, ganyong juga dapat diolah menjadi keripik atau olahan pangan lain sesuai kebutuhan. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Rukmana, R. (2000). Ganyong: Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius. Canna (Canna edulis Ker Gawl.) Latin Name Canna edulis Ker Gawl. Taxonomy Kingdom: PlantaeDivision: MagnoliophytaClass: LiliopsidaOrder: ZingiberalesFamily: CannaceaeGenus: CannaSpecies: Canna edulis Ker Gawl. Plants of the World Online by Royal Botanic Gardens, Kew (2024) General Description Canna is a perennial herb that grows widely in tropical regions. This plant has rhizomes (stem tubers) that develop underground and are the main part used. The plant can reach 1–2 meters in height with erect, soft pseudostems. The leaves are broad, elongated-oval, green to reddish in color, with distinct veins. Its flowers are strikingly colored, generally red, orange, or yellow, and are arranged in clusters. Canna can grow well in various types of soil, especially loose and moderately moist soil. This plant is also quite resistant to less fertile environmental conditions, so it is often used as an alternative food source. Chemical Content Canna rhizomes contain various beneficial substances, especially carbohydrates in the form of starch (starch) at fairly high levels. In addition, canna also contains fiber, small amounts of protein, and minerals such as calcium and phosphorus. Other nutrients include vitamins, especially vitamin C, and phenolic compounds that act as antioxidants. Benefits Canna is known as both a food crop and a medicinal plant. Its high starch content makes it an alternative energy source to replace rice or flour. Furthermore, canna is easily digested, making it good for people with digestive disorders. Traditionally, canna is also used to help treat diarrhea, improve digestive function, and maintain body health. Its fiber content helps smooth the digestive system, while its antioxidants play a role in warding off free radicals. Processing Methods Ganyong processing generally focuses on the rhizome. The rhizome can be boiled or steamed until cooked, then consumed directly as a source of carbohydrates. Additionally, the rhizome can be processed into ganyong flour by peeling, washing, grating, squeezing, and settling to extract the starch, which is then dried. Ganyong flour can be used as a base ingredient in various food products such as cakes, porridge, or other traditional dishes. Furthermore, ganyong can be processed into chips or other food products as needed. Bibliography Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants. Jakarta: Trubus Agriwidya.Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia. Jakarta: Sarana Wana Jaya Foundation.Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2017). Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia.Tjitrosoepomo, G. (2010). Plant Taxonomy. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Rukmana, R. (2000). Ganyong: Cultivation and Post-Harvest. Yogyakarta: Kanisius.

Ganyong (Canna edulis Ker Gawl.) Read More »

Jeringau (Acorus calamus L.)

Nama Latin Acorus calamus L. Taksonomi (IPNI, 2024) Definisi Umum Tanaman jeringau dikenal dengan nama ilmiah Acorus calamus, merupakan tanaman herba tahunan yang termasuk dalam famili Acoraceae. Tanaman ini biasanya tumbuh di daerah berair atau rawa-rawa, seperti tepi sungai, kolam, dan lahan basah lainnya. Kandungan Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah rimpangnya (akar tinggal), yang mengandung berbagai senyawa aktif seperti minyak atsiri, flavonoid, dan saponin. Khasiat Tanaman jeringau sering digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama sebagai obat gangguan pencernaan, penenang ringan, dan antiinflamasi. Cara Pengolahan Rimpang jeringau dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diiris tipis dan dikeringkan (bisa dijemur atau menggunakan oven suhu rendah). Setelah kering, irisan rimpang diseduh dengan air panas hingga menghasilkan teh herbal yang siap diminum. Rimpang jeringau kering dihaluskan, kemudian diekstraksi menggunakan pelarut seperti air atau alkohol. Hasil ekstraksi disaring dan dapat diolah menjadi bentuk cair atau dikeringkan menjadi serbuk untuk kapsul. Rimpang jeringau disuling menggunakan metode destilasi uap untuk menghasilkan minyak atsiri. Minyak ini dapat dimanfaatkan untuk aromaterapi atau penggunaan luar sebagai relaksasi. Daftar Pustaka Dalimartha, S.. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Puspa Swara. Drugs.com. 2025. Calamus. Diakses pada 2025. Hariana, A.. 2013. 262 Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. International Plant Names Index. 2024. International Plant Names Index. Dipublikasikan secara online di http://www.ipni.org, oleh Royal Botanic Gardens, Kew; Harvard University Herbaria & Libraries; dan Australian National Herbarium. MDPI. 2025. Green Synthesis of TiO2 Nanoparticles Using Acorus calamus Leaf Extract and Evaluating Its Photocatalytic and in Vitro Antimicrobial Activity. Diakses pada 2025. United States Department of Agriculture. 2025. Sweet Flag (Acorus americanus). Diakses pada 2025. Verywell Mind. 2025. Aromatherapy Scents for Stress Relief. Diakses pada 2025.

Jeringau (Acorus calamus L.) Read More »

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.)

Nama Latin Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : LamialesFamili              : VerbenaceaeGenus              : StachytarphetaSpesies            : Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl Global Biodiversity Information Facility (GBIF) (2024) Deskripsi Umum Ngokilo merupakan tanaman herba atau semak kecil yang banyak tumbuh liar di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini biasanya ditemukan di tepi jalan, kebun, maupun lahan terbuka. Tingginya berkisar antara 30–100 cm dengan batang yang ramping dan bercabang. Daunnya berbentuk lonjong hingga lanset, berwarna hijau, dengan tepi bergerigi dan permukaan agak kasar. Bunga ngokilo tersusun dalam bentuk bulir memanjang dengan warna ungu kebiruan yang khas. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang cukup subur dengan paparan sinar matahari penuh hingga setengah teduh. Ngokilo dikenal sebagai tanaman liar, namun memiliki potensi sebagai tanaman obat karena kandungan senyawa aktif di dalamnya. Kandungan Kimia Tanaman ngokilo mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, serta iridoid glikosida. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan tersebut mendukung berbagai aktivitas farmakologis tanaman. Khasiat Dalam pengobatan tradisional, ngokilo dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan, serta antibakteri yang berperan dalam melawan infeksi. Ngokilo juga digunakan sebagai obat penurun demam dan peluruh air seni (diuretik). Selain itu, tanaman ini dipercaya membantu mengatasi gangguan pencernaan, luka ringan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya juga berperan dalam menangkal radikal bebas. Cara Pengolahan Pengolahan ngokilo sebagai obat tradisional umumnya menggunakan bagian daun. Daun segar dapat direbus dengan air hingga mendidih, kemudian air rebusannya disaring dan diminum untuk membantu mengatasi demam atau gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, daun dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau peradangan. Daun juga dapat dikeringkan, lalu diseduh seperti teh sebagai minuman herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ngokilo (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl.) Read More »

Waru (Hibiscus tiliaceus L.)

Nama Latin Hibiscus tiliaceus L. Taksonomi Kingdom         : PlantaeDivisi              : MagnoliophytaKelas               : MagnoliopsidaOrdo                : MalvalesFamili              : MalvaceaeGenus              : HibiscusSpesies            : Hibiscus tiliaceus L. Tjitrosoepomo (2010) Deskripsi Umum Tanaman waru merupakan tumbuhan berupa pohon yang banyak ditemukan di daerah tropis, khususnya wilayah pesisir. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 5–15 meter. Batangnya berkayu dengan percabangan yang cukup banyak serta memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan. Daun waru berbentuk bulat hingga menyerupai jantung (cordate), berwarna hijau, dan berpermukaan halus. Bunganya berwarna kuning cerah dengan bagian tengah berwarna merah keunguan. Bunga biasanya mekar pada pagi hari dan mengalami perubahan warna menjadi oranye atau kemerahan pada sore hari sebelum layu. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik pada tanah berpasir maupun tanah lembap serta memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti kadar garam (salinitas) yang tinggi. Kandungan Kimia Tanaman waru mengandung berbagai senyawa kimia yang berperan dalam aktivitas biologis, antara lain flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, polifenol, serta steroid atau triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan berkontribusi dalam menjaga kesehatan. Khasiat Tanaman waru telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Beberapa khasiat yang diketahui antara lain sebagai anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan, antibakteri untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai penurun demam, obat batuk alami, serta untuk menjaga kesehatan kulit seperti mengatasi bisul dan iritasi. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman waru sebagai obat tradisional dapat dilakukan dengan beberapa metode sederhana. Daun segar dapat direbus selama kurang lebih 10–15 menit, kemudian air rebusannya disaring dan diminum. Selain itu, daun juga dapat ditumbuk hingga halus dan digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka atau pembengkakan. Bagian daun maupun kulit batang juga dapat dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi serbuk untuk diseduh atau diolah lebih lanjut sebagai bahan herbal. Daftar Pustaka Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Waru (Hibiscus tiliaceus L.) Read More »

Awar-awar (Ficus septica Burm.f.)

Nama Latin Ficus septica Burm.f. Taksonomi Definisi Umum Tanaman awar-awar (Ficus septica Burm.f.) merupakan tumbuhan perdu hingga pohon kecil yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia, terutama di lahan terbuka, pinggir hutan, dan daerah semak belukar. Tanaman ini memiliki ciri khas berupa daun lebar berwarna hijau, batang berkayu, serta menghasilkan getah putih yang cukup kental. Awar-awar dikenal sebagai tanaman pionir yang mampu tumbuh pada tanah kurang subur dan memiliki peran ekologis dalam proses suksesi vegetasi. Dalam pengobatan tradisional, berbagai bagian tanaman seperti daun, akar, dan getah dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit seperti infeksi kulit, peradangan, demam, dan gangguan pencernaan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa Ficus septica mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas farmakologis seperti antimikroba, antiinflamasi, dan sitotoksik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat herbal dan antikanker (Lansky & Paavilainen, 2011; Ragasa et al., 2014). Kandungan Kimia Tanaman awar-awar (Ficus septica Burm.f.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berperan penting dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama meliputi alkaloid, khususnya golongan phenanthroindolizidine alkaloids, yang diketahui memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu, tanaman ini juga mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba. Senyawa lain seperti terpenoid, steroid, serta senyawa fenolik juga ditemukan dalam ekstrak daun dan akar tanaman ini. Kandungan getahnya juga memiliki komponen bioaktif yang berperan dalam aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Kombinasi senyawa tersebut menjadikan Ficus septica memiliki potensi besar dalam pengembangan fitofarmaka, terutama dalam bidang terapi penyakit infeksi, peradangan, dan kanker (Ragasa et al., 2014; Lansky & Paavilainen, 2011). Khasiat dan Manfaat Tanaman awar-awar memiliki berbagai manfaat kesehatan, antara lain: Cara Pengolahan a. Rebusan Daun Digunakan untuk demam dan peradangan. b. Obat Luar c. Getah Tanaman d. Ramuan Tradisional Daftar Pustaka Lansky, E. P., & Paavilainen, H. M. (2011). Figs: The Genus Ficus. CRC Press. Ragasa, C. Y., et al. (2014). Bioactive compounds from Ficus septica. Journal of Natural Products. Tjitrosoepomo, G. (2013). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB Press. Departemen Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Awar-awar (Ficus septica Burm.f.) Read More »

Bawang Sebrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.)

Nama Latin Eleutherine palmifolia (L.) Merr. Taksonomi Definisi Umum Tanaman bawang sebrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) merupakan tanaman herba yang banyak tumbuh di wilayah tropis, khususnya di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatra. Tanaman ini dikenal dengan umbi berwarna merah khas yang menyerupai bawang merah, serta daun berbentuk pita memanjang. Bawang sebrang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat lokal sebagai obat untuk berbagai penyakit, seperti infeksi, diabetes, hipertensi, dan gangguan pencernaan. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah gembur dengan drainase baik dan paparan sinar matahari cukup. Secara etnobotani, bagian umbi merupakan bagian yang paling sering digunakan karena mengandung senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi, sehingga menjadikannya penting dalam pengembangan obat herbal modern (Insanu et al., 2014; Hidayah et al., 2020). Kandungan Kimia Tanaman bawang sebrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang memberikan aktivitas biologis yang luas. Umbi tanaman ini diketahui kaya akan senyawa naftokuinon seperti eleutherin, isoeleutherin, dan eleutherol yang berperan sebagai antimikroba dan antikanker. Selain itu, bawang sebrang juga mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Senyawa fenolik dan glikosida juga ditemukan dalam ekstrak tanaman ini, yang berkontribusi terhadap aktivitas farmakologisnya. Kombinasi senyawa tersebut menjadikan Eleutherine palmifolia memiliki potensi besar dalam pengembangan fitofarmaka, terutama sebagai agen antidiabetes, antihipertensi, dan imunomodulator (Insanu et al., 2014; Hidayah et al., 2020). Khasiat Tanaman bawang sebrang memiliki berbagai manfaat kesehatan, antara lain: Cara Pengolahan a. Rebusan Umbi Digunakan untuk diabetes dan hipertensi. b. Seduhan (Infus Herbal) c. Konsumsi Langsung (Olahan Pangan) d. Ekstrak Tradisional Daftar Pustaka

Bawang Sebrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) Read More »

Broco (Ageratum conyzoides L.)

Nama Latin Ageratum conyzoides L. Taksonomi Definisi Umum Tanaman broco (Ageratum conyzoides L.) merupakan tanaman herba liar yang banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini sering ditemukan di lahan terbuka, tepi jalan, kebun, dan area yang terganggu, serta dikenal sebagai gulma karena pertumbuhannya yang cepat. Broco memiliki ciri khas berupa daun berbentuk oval dengan tepi bergerigi, batang lunak berambut halus, serta bunga kecil berwarna ungu pucat hingga kebiruan yang tersusun dalam kelompok. Meskipun sering dianggap gulma, tanaman ini memiliki nilai etnobotani yang tinggi karena telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi luka, infeksi, demam, dan gangguan kulit. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa Ageratum conyzoides mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan aktivitas farmakologis seperti antiinflamasi, antimikroba, dan antioksidan, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat herbal (Okunade, 2002; Kamboj & Saluja, 2008). Kandungan Kimia Tanaman broco (Ageratum conyzoides L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama meliputi flavonoid seperti quercetin dan kaempferol yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Selain itu, tanaman ini juga mengandung alkaloid, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antimikroba dan antiinflamasi. Senyawa khas lain yang ditemukan adalah chromene derivatives seperti precocene I dan precocene II yang berperan dalam aktivitas insektisida dan biologis lainnya. Minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman ini juga memiliki komponen seperti β-caryophyllene dan limonene yang berkontribusi terhadap aktivitas farmakologisnya. Kombinasi senyawa tersebut menjadikan Ageratum conyzoides memiliki potensi besar dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan fitofarmaka modern (Okunade, 2002; Kamboj & Saluja, 2008). Khasiat dan Manfaat Tanaman broco memiliki berbagai manfaat kesehatan, antara lain: Cara Pengolahan a. Obat Luka (Pemakaian Luar) b. Rebusan Herbal Digunakan untuk demam dan peradangan. c. Ekstrak Tradisional d. Penggunaan sebagai Pestisida Daftar Pustaka Okunade, A. L. (2002). Ageratum conyzoides L. (Asteraceae). Fitoterapia. Kamboj, A., & Saluja, A. K. (2008). Ageratum conyzoides L.: A review on its phytochemical and pharmacological profile. International Journal of Green Pharmacy. Tjitrosoepomo, G. (2013). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: ITB Press Departemen Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Broco (Ageratum conyzoides L.) Read More »

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume)

Aerva sanguinolenta (L.) Blume Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Caryophyllidae Ordo : Caryophyllales Famili : Amaranthaceae Genus : Aerva Spesies : Aerva sanguinolenta (L.) Blume  (Backer and Bakhuizen van den Brink, 1965) Sambang colok adalah salah satu spesies tumbuhan berbentuk perdu kecil dari famili Amaranthaceae (suku bayam-bayaman) yang memiliki siklus hidup semusim (annual). Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim tropis basah. Nama ilmiah Aerva sanguinolenta pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1826. Sambang colok (Iresine herbstii) merupakan salah satu tanaman obat yang namanya kurang dikenal oleh masyarakat. Rebusan cabang-cabang muda sambang colok digunakan untuk mengobati haematuria dan nyeri haid. Daun sambang colok mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol disamping itu daunnya juga mengandung minyak atsiri. Tanaman yang umum ditanam sebagai tanaman hias ini mempunyai sifat diuretik, anti-inflamasi, dan antipiretik  Daun sambang colok dalam pengobatan biasa digunakan sebagai obat haid kurang teratur, obat untuk menghilangkan rasa nyeri haid, obat kencing kurang lancar, obat kencing nanah, obat kurang darah, obat keputihan, obat cacing dan obat radang rahim Cara Rebusan (Pemakaian Dalam) Ini adalah metode paling umum untuk mengobati penyakit dalam seperti nyeri haid atau kencing batu.Bahan: Ambil sekitar 15-30 gram daun sambang colok segar (atau 10-15 gram yang sudah kering). Proses: Cuci bersih daun sambang colok. Rebus dengan 3 gelas air (sekitar 600 ml) hingga tersisa 1,5 gelas.Penggunaan: Saring dan minum air rebusan tersebut. Umumnya diminum 2-3 kali sehari, pagi dan sore. Nurrosyidah, I. H., et al. (2020). Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Berbasis Pengetahuan Lokal di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. [Penelitian terkait penggunaan tanaman obat/sambang colok]. Warta Hortusmed Edisi 1 2020 (2020). B2P2TOOT Tawangmangu (terbit 18 September 2020)..Studi Pustaka/Kajian Metabolit (2026). Referensi terkait identifikasi morfologi dan metabolit sekunder (contoh: flavonoid total) yang mencakup tanaman sejenis. [Catatan: Berdasarkan data pencarian, studi komprehensif sering dirilis dalam jurnal penelitian pertanian terkait metabolit].

Sambang Colok (Aerva sanguinolenta (L.) Blume) Read More »

Scroll to Top