Blog

Dandang Gendis

Nama Tumbuhan Dandang gendis (Clinacanthus nuntas) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae   Divisi : Spermatofita  Kelas : Dikotilrdoneae  Ordo : Solanales  Famili : Acanthaceae  Genus : Clinacanthus  Spesies : Clinacanthus nuntas   Definisi Umum Dandang gendis adalah tanaman herbal yang banyak ditemukan di wilayah Asia. Tanaman dandang gendis memiliki banyak manfaat, pada beberapa negara di Asia Tenggara dandang gendis digunakan untuk menangkal bisa ular atau gigitan serangga. Dandang gendis juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan, bagian tanaman yang digunakan yaitu pada bagian daunnya (Pragustine et al.,2022). Dandang gendis merupakan tanaman semak belukar berbentuk perdu, memiliki batang tegak dengan tinggi sekitar 2,5 m, beruas dan berwarna hijau. Memiliki daun tunggal dan berhadapan satu sama lain, memiliki panjang daun 8-12 cm dan lebar 4-6 cm. Memiliki bunga yang tumbuh di ketiak daun dan ujung batang (Permadi, 2013). Kandungan Daun dandang gendis mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, triterpen, saponin, dan flavonoid (Klau dan Hesturini, 2021). Khasiat Dandang gendis dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan, daun dandang gendis memiliki khasiat sebagai obat diare, disentri, radang usus, dan buang air besar berlendir. Daub dandang gendis juga memiliki sifat farmakologi seperti antioksidan, antikanker, antiinflamasi, analgesik, meningkatkan sistem imun, antibakteri, antivirus, dan antibisa (Andasari dan Mustofa, 2020). Cara Pengolahan Cara pengolahan tanaman dandang gendis untuk pengobatan yaitu dengan melakukan proses perebusan pada bagian daun tanaman (Seran et al., 2023). Daftar Pustaka Andasari, S. D., & Mustofa, C. H. (2020). Standarisasi Spesifik Dan Non Spesifik Ekstrak Etil Asetat Daun Dandang Gendis (Clinacanthus Nutans). MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(2), 70-75. https://ejournal.umkla.ac.id/index.php/motor/article/view/176/135  Klau, M. H. C., & Hesturini, R. J. (2021). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans (Burm F) Lindau) Terhadap Daya Analgetik Dan Gambaran Makroskopis Lambung Mencit. Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, 4(1), 6-12. https://doi.org/10.52216/jfsi.v4i1.59  Permadi, I. G. W. D. (2013). Keanekaragaman tanaman obat sebagai larvasida dalam upaya pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 5(1), 12-16. https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3470/3067  Pragustine, Y., Astoeti, T. E., Amtha, R., & Roeslan, M. O. (2022). Pemberdayaan Ibu-Ibu Majlis Al Muttaqien dalam Budidaya Tanaman Dandang Gendis sebagai Larutan Kumur untuk Kesehatan Rongga Mulut. Jurnal Abdimas Kesehatan Terpadu, 1(1). https://doi.org/10.25105/jakt.v1i1.13921  Seran, G. Y. T., Seran, L., & Nau, G. W. (2023). Studi Etnofarmakognosi Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat Untuk Mengobati Penyakit Pada Manusia Di Kelurahan Manutapen Kecamatan Alak Kota Kupang. JBIOEDRA: Jurnal Pendidikan Biologi, 1(3), Yuliana-Tei. https://journal.unwira.ac.id/index.php/JBIOEDRA/article/view/2249/845 

Dandang Gendis Read More »

Kunyit (Curcuma domestica Val)

Nama Tumbuhan Kunyit (Curcuma domestica Val) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae   Divisi : Spermatophyta  Kelas : Monocotyledonae  Ordo : Zingiberales  Famili : Zingiberaceae  Genus : Curcuma  Spesies : Curcuma domestica Val  (Kusbianto dan Purwaningrum, 2018) Definisi Umum Kunyit (Curcuma longa L.) adalah tanaman herba tahunan dari famili Zingiberaceae yang dikenal luas sebagai rempah dan bahan tradisional. Kulit rimpang kunyit berwarna jingga kecokelatan, sementara bagian dalam rimpangnya memiliki warna merah jingga hingga jingga kekuningan. Rimpang induk memiliki rasa pahit dan getir, sedangkan rimpang muda cenderung berasa sedikit manis dengan aroma yang khas (Handayani et al., 2023). Tanaman kunyit mampu berkembang di berbagai wilayah, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian antara 0 hingga 240 meter di atas permukaan laut. ketinggian sekitar 45 meter di atas permukaan laut merupakan kondisi ideal bagi pertumbuhan maksimal kunyit. Tanah yang gembur sangat mendukung kesuburan tanaman ini, dengan jenis tanah yang paling sesuai meliputi latosol, alluvial, dan regosol (Shapna et al., 2023). Kandungan Kunyit memiliki senyawa berkhasiat obat yang dikenal sebagai kurkuminoid, meliputi kurkumin, desmetoksikurkumin sekitar 10%, serta bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1–5%. Selain itu, kunyit juga mengandung berbagai zat bermanfaat lainnya, seperti minyak atsiri yang tersusun atas keton seskuiterpen, turmeron, tumeon 60%, zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol, dan sineil (Kusbianto dan Purwaningrum, 2018). Khasiat Rimpang kunyit berkhasiat sebagai obat tradisional yang dapat digunakan untuk mengobati luka, bersifat antibakteri, mengurangi pergerakan usus, menghilangkan bau badan, menurunkan demam, meredakan diare, serta berbagai pengobatan lainnya (Prabowo et al., 2019). Cara Pengolahan Untuk membuat minuman herbal dari kunyit, diperlukan bahan-bahan berupa ½ kg kunyit segar, ¼ bagian gula jawa, ½ kg asam jawa, 2 liter air, dan seujung sendok teh garam. Langkah pertama adalah mengupas kulit kunyit, mencucinya hingga bersih, lalu menghaluskannya dengan cara diparut atau diblender. Setelah itu, air perasan kunyit direbus bersama asam jawa, gula jawa, dan garam hingga campuran benar-benar mendidih, sambil terus diaduk agar merata. Jika sudah mendidih, rebusan tersebut diangkat dan didinginkan sebelum disajikan (Ismawati et al., 2020). Daftar Pustaka Kusbianto, D., & Purwaningrum, Y. (2018). Pemanfaatan Kandungan Metabolit Sekunder pada Tanaman Kunyit dalam Mendukung Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Jurnal Kultivasi, 17(1), 554-549. https://doi.org/10.24198/kultivasi.v17i1.15669  Shapna, N., Rahmawati, Y., Munggali, U., & Iemaaniah, Z. M. (2023). Pendampingan Penanaman Tanaman Kunyit (curcuma domestica val) Menggunakan Polybag di Desa Sukadana Lombok Tengah. Jurnal Siar Ilmuwan Tani, 4(2), 268-273. https://doi.org/10.29303/jsit.v4i2.119  Prabowo, H., Cahya, I. A. P. D., Arisanti, C. I. S., & Samirana, P. O. (2019). Standardisasi spesifik dan non-spesifik simplisia dan ekstrak etanol 96% rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.). Jurnal Farmasi Udayana, 8(1), 29-35. https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p05  Handayani, D., Halimatushadyah, E., & Krismayadi, K. (2023). Standarisasi mutu simplisia rimpang kunyit dan ekstrak etanol rimpang kunyit (Curcuma longa Linn). Pharmacy Genius, 2(1), 43-59. https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1.173  Ismawati, S. M., Pratiwi, V., Partono, M., & Abdi, M. J. (2020). Sosialisasi Pembuatan Jamu Kunyit Sebagai Obat Tradisional Masyarakat Di Desa Belimbing Baru, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar. Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi), 2(2), 235-246. https://doi.org/10.20527/padaringan.v2i2.2153 

Kunyit (Curcuma domestica Val) Read More »

Daun Mint (Mentha Cordifolia)

Nama Tumbuhan Daun Mint (Mentha Cordifolia) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae   Divisi : Magnoliophyta   Kelas : Magnoliopsida   Ordo : Lamiales  Famili : Lamiaceae  Genus : Mentha  Spesies : Mentha Cordifolia  (USDA, 2009) Definisi Umum Daun mint (Mentha piperita L.) adalah salah satu jenis tanaman herbal dari keluarga Lamiaceae yang dikenal dengan aroma segar dan rasa khasnya yang menyejukkan (Pratiwi et al., 2019). Tanaman ini berasal dari wilayah Eropa dan Asia Barat, namun kini telah tersebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk kawasan tropis dan subtropis seperti Indonesia. Mint umumnya tumbuh baik di daerah dengan iklim sejuk hingga hangat, pada tanah yang gembur, subur, dan memiliki drainase baik, serta membutuhkan paparan sinar matahari yang cukup (Yousefian et al., 2023). Secara morfologis, Mentha cordifolia memiliki batang tegak atau merambat dengan ruas yang jelas, daun berbentuk lonjong hingga oval dengan tepi bergerigi halus, serta di pangkalnya dengan daun puber dan berurat tebal, dan permukaan daun berwarna hijau dengan tekstur sedikit berbulu. Bunganya berwarna ungu pucat atau keputihan yang tersusun dalam bentuk tandan di ujung batang (Salehi et al., 2018).  Kandungan Daun mint mengandung senyawa aktif seperti mentol, menton, dan flavonoid yang dapat membantu mengurangi peradangan (Purwaeni et al., 2025). Aroma wangi daun mint disebabkan kandungan minyak atsiri berupa minyak mentol. Daun mint juga mengandung vitamin C, provitamin A, fosfor, zat besi, kalsium, potassium, serat, klorofil dan fitonutrien (Setiawan et al., 2019).  Khasiat Daun mint memiliki khasiat untuk mengobati batuk, flu, demam, mabuk perjalanan, gangguan gastrointestinal, asma, kejang otot, dan antiinflamasi (Chamnanthongpiwan et al., 2021). Selain itu, daun mint juga dapat untuk mengendalikan diabetes dan obesitas. Selain itu juga dapat digunakan untuk efek antialergi, efek antijamur dan antibakteri, efek antidiabetik, efek antikarsinogenik, dan pereda nyeri (Saqib et al., 2022).  Cara Pengolahan Pengolahan daun mint secara tradisional dapat dibuat menjadi teh daun mint. Daun mint segar dicuci bersih, lalu dikeringkan (bisa dengan dijemur atau menggunakan oven dengan suhu terkontrol), lalu bisa dihaluskan menjadi bubuk atau langsung diseduh dengan air panas untuk membuat teh daun mint (Sucianti et al., 2021).  Daftar Pustaka Chamnanthongpiwan, P., Palanuvej, C., & Ruangrungsi, N. (2021). Pharmacognostic Specification Of Mentha Cordifolia Leaf And Stem With Special Reference To Rosmarinic Acid Contents. Interprofessional Journal of Health Sciences, 19(1), 33-44. https://li05.tci-thaijo.org/index.php/IJHS/article/view/45.  Pratiwi, P. Y., Mardiyaningsih, A., & Widarti, E. (2019). Perbedaan kualitas tanaman mint (Mentha spicata L) hidroponik dan konvensional berdasarkan morfologi tanaman, profil kromatogram, dan kadar minyak atsiri. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 1(2), 148-156. https://doi.org/10.33759/jrki.v1i2.18.   Purwaeni, P., Aliansy, D., Jaojah, S., Aulia, R. N., Meilasari, R. N., Pertiwi, D. Y., & Carla, N. C. (2025). Formulasi dan Evaluasi Sediaan Harmoni Dada: Inovasi Minyak Perawatan Payudara Berkhasiat pada Ibu Menyusui dari Minyak Atsiri Daun Mint (Mentha piperita). Generics: Journal of Research in Pharmacy, 5(1), 99-109.  https://doi.org/10.14710/genres.v5i1.25570.   Salehi, B., Stojanović-Radić, Z., Matejić, J., Sharopov, F., Antolak, H., Kręgiel, D., … & Sharifi-Rad, J. (2018). Plants of genus Mentha: From farm to food factory. Plants, 7(3), 70. https://doi.org/10.3390/plants7030070.  Saqib, S., Ullah, F., Naeem, M., Younas, M., Ayaz, A., Ali, S., & Zaman, W. (2022). Mentha: Nutritional and health attributes to treat various ailments including cardiovascular diseases. Molecules, 27(19), 6728. https://doi.org/10.3390/molecules27196728.   Setiawan, A., Kunarto, B., & Sani, E. Y. (2019). Ekstraksi daun peppermint (Mentha piperita L.) menggunakan metode microwave assisted extraction terhadap total fenolik, tanin, flavonoid dan aktivitas antioksidan. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 1(1), 1-9. https://repository.usm.ac.id/files/journalmhs/D.131.14.0008-20190305012656.pdf.   Sucianti, A., Yusa, N. M., & Sughita, I. M. (2021). Pengaruh suhu pengeringan terhadap aktivitas antioksidan dan karakteristik teh celup herbal daun mint (Mentha piperita L.). Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan (ITEPA), 10(3), 378-388. https://doi.org/10.24843/itepa.2021.v10.i03.p06.  Yousefian, S., Esmaeili, F., & Lohrasebi, T. (2023). A comprehensive review of the key characteristics of the Genus Mentha, Natural compounds and Biotechnological approaches for the production of secondary metabolites. Iranian Journal of Biotechnology, 21(4), e3605. https://doi.org/10.30498/ijb.2023.380485.3605.  Mint Leaves (Mentha Cordifolia) Plant Name Mint Leaves (Mentha cordifolia) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Lamiales Family: Lamiaceae Genus: Mentha Species: Mentha Cordifolia (USDA, 2009) General Definition Peppermint (Mentha piperita L.) is a type of herbaceous plant in the Lamiaceae family known for its fresh aroma and distinctive, refreshing flavor (Pratiwi et al., 2019). This plant is native to Europe and Western Asia, but has now spread widely to various parts of the world, including tropical and subtropical regions such as Indonesia. Mint generally grows well in areas with cool to warm climates, in loose, fertile soil with good drainage, and requires sufficient sunlight (Yousefian et al., 2023). Morphologically, Mentha cordifolia has erect or trailing stems with distinct nodes, leaves that are oblong to oval with finely serrated edges, and at the base, the leaves are pubescent and thick-veined, with a green surface and a slightly hairy texture. The flowers are pale purple or whitish, arranged in clusters at the tips of the stems (Salehi et al., 2018). Composition Mint leaves contain active compounds such as menthol, menthone, and flavonoids that can help reduce inflammation (Purwaeni et al., 2025). The fragrant aroma of mint leaves is due to their essential oil content, specifically menthol. Mint leaves also contain vitamin C, provitamin A, phosphorus, iron, calcium, potassium, fiber, chlorophyll, and phytonutrients (Setiawan et al., 2019). Benefits Mint leaves are beneficial for treating coughs, the flu, fever, motion sickness, gastrointestinal disorders, asthma, muscle spasms, and have anti-inflammatory properties (Chamnanthongpiwan et al., 2021). Additionally, mint leaves can help manage diabetes and obesity. They can also be used for their anti-allergic, antifungal, and antibacterial effects, as well as their antidiabetic, anticarcinogenic, and pain-relieving properties (Saqib et al., 2022). Processing Methods Traditionally, mint leaves can be processed into mint tea. Fresh mint leaves are washed thoroughly, then dried (either by sun-drying or using a controlled-temperature oven), and can then be ground into a powder or brewed directly with hot water to make mint tea (Sucianti et al., 2021). References Chamnanthongpiwan, P., Palanuvej, C., & Ruangrungsi, N. (2021). Pharmacognostic Specification of Mentha cordifolia Leaves and Stems with Special Reference to Rosmarinic Acid Content. Interprofessional Journal of Health Sciences, 19(1), 33-44. https://li05.tci-thaijo.org/index.php/IJHS/article/view/45. Pratiwi, P. Y., Mardiyaningsih, A., & Widarti, E. (2019).

Daun Mint (Mentha Cordifolia) Read More »

Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl)

Nama Tumbuhan Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Magnoliophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Piperales  Famili : Piperaceae  Genus : Piper  Spesies : Piper retrofractum Vahl  (Cronquist, 1981) Definisi Umum Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang banyak digunakan di Indonesia serta telah terbukti memiliki efek analgesik yang terdapat pada ekstrak etanol yang terdapat di dalamnya. Cabe jawa secara empiris digunakan oleh masyarakat sebagai analgetik, antipiretik, mencegah mulas, stimulansia, sakit gigi, dan lain lain (Muslichah, 2011). Cabe jawa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia pada daerah dengan ketinggian 1-600 m dari permukaan air laut dengan suhu udara 20-30°C. Tanaman cabe jawa dapat tumbuh di tanah lempung berpasir dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik (Evizal, 2013). Tanaman cabe jawa merupakan tanaman perdu dengan tinggi tanaman 0,5-7 m. Akarnya berbentuk bulat dan berwarna cokelat. Batang berbentuk bulat, bersulur, beruas, memiliki akar udara, bertekstur halus, berwarna hijau dengan jarak antar ruas 2-5 cm. Daun tanaman cabe jawa merupakan daun tunggal dengan letak berseling dengan ujung daunnya runcing. Buahnya berbentuk bulat dengan warna buah muda hijau dan buah masak merah (Yuliana, 2023).  Kandungan Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam cabe jawa berupa senyawa alkaloid, polifenol, dan flavonoid yang memiliki beragam aktivitas farmakologis termasuk sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba (Hadi dan Febriani, 2025).  Khasiat Cabe jawa memiliki berbagai manfaat farmakologis bagi kesehatan. Secara tradisional, cabe jawa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pengobatan untuk berbagai penyakit seperti flu, demam, dan masuk angin. Cabe jawa juga dapat dimanfaatkan untuk mengobati tekanan darah rendah, influenza, sesak nafas, sakit kepala, kolera, bronkitis menahun hingga lemah sahwat (Alrosyidi, 2025).   Cara Pengolahan Cara pengolahan cabe jawa dapat dilakukan dengan, buah cabe jawa kering atau segar direbus dengan air, kemudian disaring dan diminum hangat untuk meredakan demam, perut kembung, lambung mulas, muntah, serta gangguan pencernaan lainnya (Faranayuda et al., 2021).   Daftar Pustaka Alrosyidi, A. F. (2024, December). Pengaruh Variasi Pelarut Terhadap Profil Fitokimia Ekstrak Buah Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl) Dengan Metode Ultrasonik. In Seminar Nasional Dunia Kesehatan (SENADA) (Vol. 3, pp. 238-246). https://prosiding.uim.ac.id/index.php/senada/article/view/458  Evizal, R. (2013). Status fitofarmaka dan perkembangan agroteknologi cabe jawa (Piper Retrofractum Vahl.). Jurnal Agrotropika, 18(1), 34-40. https://repository.lppm.unila.ac.id/18903/  Faramayuda, F., Arifin, S. Z., & Syam, A. K. (2021). Piper retrofractum Vahl.: traditional uses, phytochemical and pharmacological activities. Perspektif Rev Penelit Tanam Ind, 20(1), 26-34. http://dx.doi.org/10.21082/psp.v20n1.2021.26-34  Hadi, S., & Febriani, N. R. (2025). Aktivitas ekstrak Piper retrofractum Vahl menggunakan MAE sebagai penangkap radikal DPPH. JFARM-Jurnal Farmasi, 3(1), 21-26. https://doi.org/10.58794/jfarm.v3i1.1275  Muslichah, S. (2011). Potensi afrodisiak kandungan aktif buah cabe jawa (Piper retrofractum Vahl) pada tikus jantan galur wistar. JURNAL AGROTEKNOLOGI, 5(02), 11-20. https://jagt.jurnal.unej.ac.id/index.php/JAGT/article/view/2573  Yuliana, L. (2023). Studi morfologi genus Piper dan variasinya. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 3(1), 11-19. https://doi.org/10.36312/bjkb.v3i1.155  Javanese Chili (Piper retrofractum Vahl) Plant Name Javanese chili (Piper retrofractum Vahl) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Piperales Family: Piperaceae Genus: Piper Species: Piper retrofractum Vahl (Cronquist, 1981) General Definition Javanese pepper (Piper retrofractum Vahl) is a type of medicinal plant widely used in Indonesia and has been shown to possess analgesic effects found in its ethanol extract. Javanese pepper is empirically used by the community as an analgesic, antipyretic, for preventing heartburn, as a stimulant, for toothaches, and for other purposes (Muslichah, 2011). Javanese pepper grows throughout Indonesia in areas at elevations of 1–600 m above sea level with air temperatures of 20–30°C. The Javanese pepper plant thrives in sandy loam soil with a loose texture and good drainage (Evizal, 2013). It is a shrubby plant with a height of 0.5–7 m. The roots are round and brown. The stem is round, twining, jointed, has aerial roots, has a smooth texture, is green in color, with a distance of 2–5 cm between nodes. The leaves of the Java chili plant are simple, arranged alternately, with pointed tips. The fruit is round, green when unripe and red when ripe (Yuliana, 2023). Composition The active compounds found in Javanese chili include alkaloids, polyphenols, and flavonoids, which possess a variety of pharmacological activities, including antioxidant, anti-inflammatory, and antimicrobial properties (Hadi and Febriani, 2025). Benefits Javanese chili offers various pharmacological benefits for health. Traditionally, it has been used by communities as a remedy for various ailments such as the flu, fever, and the common cold. Javanese chili can also be used to treat low blood pressure, influenza, shortness of breath, headaches, cholera, chronic bronchitis, and low libido (Alrosyidi, 2025). Preparation Method To prepare Javanese chili, dry or fresh Javanese chili peppers are boiled in water, then strained and consumed warm to relieve fever, bloating, heartburn, vomiting, and other digestive disorders (Faranayuda et al., 2021). References Alrosyidi, A. F. (December 2024). The Effect of Solvent Variations on the Phytochemical Profile of Java Chili (Piper retrofractum Vahl) Fruit Extract Using the Ultrasonic Method. In National Health Seminar (SENADA) (Vol. 3, pp. 238–246). https://prosiding.uim.ac.id/index.php/senada/article/view/458 Evizal, R. (2013). The status of phytopharmaceuticals and the development of agrotechnology for Javanese chili (Piper Retrofractum Vahl.). Jurnal Agrotropika, 18(1), 34-40. https://repository.lppm.unila.ac.id/18903/ Faramayuda, F., Arifin, S. Z., & Syam, A. K. (2021). Piper retrofractum Vahl.: traditional uses, phytochemical and pharmacological activities. Perspektif Rev Penelit Tanam Ind, 20(1), 26-34. http://dx.doi.org/10.21082/psp.v20n1.2021.26-34 Hadi, S., & Febriani, N. R. (2025). Antioxidant activity of Piper retrofractum Vahl extract using DPPH radical scavenging assay. JFARM-Journal of Pharmacy, 3(1), 21-26. https://doi.org/10.58794/jfarm.v3i1.1275 Muslichah, S. (2011). Aphrodisiac potential of active compounds in Java pepper (Piper retrofractum Vahl) fruit in male Wistar rats. JOURNAL OF AGROTECHNOLOGY, 5(02), 11-20. https://jagt.jurnal.unej.ac.id/index.php/JAGT/article/view/2573 Yuliana, L. (2023). A morphological study of the genus Piper and its varieties. Biocaster: Journal of Biological Studies, 3(1), 11-19. https://doi.org/10.36312/bjkb.v3i1.155

Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl) Read More »

Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Nama Tumbuhan Jambu Biji (Psidium guajava L.) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Psidium Spesies : Psidium guajava L. (Rahma et al., 2023).  Definisi Umum Psidium guajava L. merupakan tanaman perdu atau pohon kecil berkayu dengan tinggi 2–10 m, bercabang rapat, serta memiliki kulit batang licin yang mudah terkelupas. Daun jambu biji merupakan daun tunggal yang mengeluarkan aroma khas ketika diremas. Susunannya berhadapan secara bersilangan, dengan tipe pertulangan menyirip. Bentuk daun yang paling umum dijumpai adalah lonjong (Wahyuni et al., 2022). Buahnya termasuk tipe buni, berdaging lunak, berkulit tipis, dan memiliki permukaan yang bervariasi dari halus hingga sedikit kasar sesuai varietasnya. Jambu biji umumnya tumbuh di wilayah beriklim tropis dengan kisaran suhu antara 15ºC hingga 45ºC, namun suhu ideal untuk pertumbuhan optimal berada di rentang 23ºC hingga 28ºC (Prabowo et al., 2024). Psidium guajava L. menyukai tanah liat berpasir, paparan sinar matahari penuh, serta cukup toleran terhadap musim kemarau singkat. Kandungan Daun jambu biji (Psidium guajava L.) memiliki kandungan metabolit sekunder yang meliputi flavonoid, tanin, monoterpenoid polifenol, seskuiterpen, alkaloid, kuinon, dan saponin, serta mengandung vitamin B1, B2, B3, B6, dan vitamin C (Sari et al., 2022). Khasiat Tanaman daun jambu biji (Psidium guajava L.) diketahui memiliki berbagai manfaat farmakologis. Secara tradisional, bagian daun dari tanaman ini digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengatasi diare, sariawan, luka, gangguan menstruasi, gastritis (maag), batuk, influenza, demam berdarah, serta berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah (Abdulkadir et al., 2024). Cara Pengolahan Proses pengolahan daun jambu biji tergolong sederhana, yaitu dengan mengambil beberapa lembar daun, kemudian ditumbuk dan ditambahkan air matang secukupnya. Setelah itu, campuran tersebut disaring untuk memperoleh sari atau ekstraknya. Untuk pengobatan yang dilakukan secara rutin, ramuan ini dapat dikonsumsi sebanyak tiga kali dalam sehari (Rahayu et al., 2021). Daftar Pustaka Abdulkadir, W. S., Djuwarno, E. N., & Damiti, S. A. (2024). Uji Efektivitas Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) dalam Menurunkan Kadar Gula Darah Mencit (Mus musculus). Journal Syifa Sciences And Clinical Research, 6(1). https://doi.org/10.37311/jsscr.v6i1.21376  Prabowo, R. U., Fitriani, R., Nurlailin, N., Haq, M. S., Fahmi, D. N., Andini, F., … & RA, B. G. (2024). Akselerasi Produksi Jambu Biji (Psidium Guajava L.) guna Menyongsong Keunggulan Kompetitif Komoditas Hortikultura di Kalimantan Tengah. CERMIN: Jurnal Penelitian, 8(1), 1-12. https://doi.org/10.36841/cermin_unars.v8i1.2886  Rahma, A. M., Zahra, A., & Supriatna, A. (2023). Inventarisasi Tumbuhan Famili Myrtaceae Di Kampung Andir, Rt. 01/Rw. 08, Desa Rancamulya, Sumedang. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman, 2(1), 53-64. https://doi.org/10.55606/jurrit.v2i1.1436  Sari, F., Yustinah, Y., Fithriyah, N. H., & Susanty, S. (2022). Pengaruh Waktu Ekstraksi terhadap Kadar Flavonoid Ekstrak Daun Jambu Biji Merah (Psidium guajava L) dengan metode Ekstraksi Ultrasonik. Prosiding Semnastek. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek/article/view/14678/7779  Wahyuni, S., Afidah, M. A., & Suryanti, S. (2022). Studi Morfologi Organ Vegetatif dan Generatif Varietas Jambu Biji (Psidium guajava L.). Bio-Lectura: Jurnal Pendidikan Biologi, 9(1), 103-113. https://doi.org/10.31849/bl.v9i1.9824  Rahayu. A., Pramushinta, I. A. K., & Sari, D. P. (2021). Pembuatan Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Diare Pada Anak: Pembuatan Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Diare Pada Anak. Jurnal Abadimas Adi Buana, 5(01), 1-4. https://doi.org/10.36456/abadimas.v5.i01.a2703 

Jambu Biji (Psidium guajava L.) Read More »

Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Nama Tumbuhan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Oxalidales Famili : Oxsalidaceae  Genus : Averrhoa  Spesies : Averrhoa bilimbi L.  (Dinas Lingkungan Hidup., 2023) Definisi Umum Belimbing wuluh adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan subur di daerah Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Myanmar, dan Malaysia yang merupakan daerah tropis. Belimbing wuluh dapat dimanfaatkan dalam pengobatan maupun bahan masakan sebagai penyedap, bagian dari tanaman belimbing wuluh yang dapat dimanfaatkan sebagai obat yaitu pada buah dan daun. Buah belimbig wuluh berbenntuk lonjong dengan panjang 4-6 cm dengan karakteristik memiliki kulit mengkilat berwarna hijau hingga kuning (Insan et al., 2019).   Kandungan Daun pada tanaman belimbing wuluh mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, saponin, tanin, asam format, sulfur, kalsium oksalat, dan kalium sitrat (Wijayanti dan Safitri, 2018). Buah belimbing wuluh menganduung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, triterpen saponin, terpenoid dan minyak atsiri dengan kandungan utaman yaitu flavonoid (Fajriah et al., 2017). Khasiat Khasiat daun belimbing wuluh dapat digunakan dalam mengobati sakit perut, reumatik, gondongan, dan sebagai penurun panas. Buah belimbing wuluh dapat dimanfaatkan untuk mengobati batuk rejan, jerawat, tekanan darah tinggi, gusi berdarah, sariawan, gigi berlubang, gangguan dan radang fungsi pencernaan (Aseptianova dan Yuliany, 2020).  Cara Pengolahan Cara pengolahan buah belimbing wuluh sebagai obat batuk yaitu dengan mengambil 30 gram buah dan dicuci bersih dengan air mengalir, buah belimbing wuluh direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih dan berubah kecoklatan selama kurang lebih 15 menit dan kemudian dikonsumsi 2 kali sehari jika sudah dingin (Nurlela dan Harfika, 2019).  Daftar Pustaka Aseptianova, A., & Yuliany, E. H. (2020). Penyuluhan manfaat belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai tanaman kesehatan di Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang. Abdihaz: Jurnal Ilmiah Pengabdian pada Masyarakat, 2(2), 52-56. https://doi.org/10.32663/abdihaz.v2i2.910  Fajriyah, Y. D. N., Wahyuni, D., & Murdiyah, S. (2017). Pengaruh kombucha sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Bioedukasi, 13(2). https://bioedukasi.jurnal.unej.ac.id/index.php/BIOED/article/download/4525/3345  Insan, R. R., Faridah, A., Yulastri, A., & Holinesti, R. (2019). Using belimbing wuluh (averhoa blimbi l.) as a functional food processing product. Jurnal Pendidikan Tata Boga Dan Teknologi, 1(1), 47-55. https://doi.org/10.2403/80sr7.00 Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Averrhoa bilimbi L. (TSN 506370). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506370 Nurlela, L., & Harfika, M. (2019). Air rebusan belimbing wuluh sebagai antitussive dan expectorant pada ISPA. Jurnal Ilmiah Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya Vol. 14 No. 2 October 2019, 14(2), 50-60. https://repository.stikeshangtuah-sby.ac.id/id/eprint/135   Wijayanti, T. R. A., & Safitri, R. (2018). Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi nifas. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6(3), 277-285. https://doi.org/10.33366/cr.v6i3.999 

Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Read More »

Secang (Cesalpinia Sappan L.)

Nama Tumbuhan Secang (Cesalpinia Sappan L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Magnoliophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Fabales  Famili : Fabaceae  Genus : Caesalpinia  Spesies : Caesalpinia sappan L.  (Fadliah, 2014) Definisi Umum Secang merupakan tanaman perdu atau pohon kecil yang dikenal luas karena kayunya yang mengandung pewarna merah alami. Secang berasal dari Asia Tenggara dan banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Secang dapat tumbuh secara alami di hutan sekunder, pinggir jalan, pegunungan berbatu, dan daerah semi-kering tropis. Secang dapat tumbuh pada ketinggian 500 – 1000 m dpl (Sari dan Suhartati, 2016). Secang merupakan tumbuhan yang memiliki ukuran tidak terlalu besar, dengan ukuran 5 hingga 10 meter (Sarjono dan Tukiran, 2021). Secang memiliki ciri morfologis berupa batang berkayu dengan duri, berbentuk bulat dan memiliki warna hijau kecokelatan. Daun secang majemuk, menyirip ganda, bentuk lonjong, pangkal romping, ujung bulat, tepi rata, dan berwarna hijau. Bunga secang berwarna kuning yang tersusun dalam malai, dan buah berbentuk polong pipih berisi 3–4 biji (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2011).  Kandungan Secang mengandung berbagai senyawa aktif, seperti senyawa fenol termasuk xanthone, kumarin, chalcones, flavonoid, dan brazilin (Palimbong et al., 2020). Brazilin merupakan senyawa utama yang terkandung dalam kayu secang (Puspadewi dan Sriwidodo, 2023)  Khasiat Khasiat utama yang terkandung dalam secang adalah sebagai antioksidan yang kuat. Kayu secang, terutama ekstraknya, menunjukkan kemampuan untuk menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel dan memicu berbagai penyakit degeneratif (Hadi et al., 2023). Selain itu, secang juga dikenal memiliki aktivitas antimikroba dan antijamur, serta sebagai antiinflamasi atau pereda peradangan, yang dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Kayu secang telah digunakan sebagai obat untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti masalah gastrointestinal, infeksi pernapasan, dan kondisi kulit. Studi juga menunjukkan bahwa kayu secang mungkin memiliki potensi antikarsinogenik karena memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker (Vij et al., 2023).  Cara Pengolahan Kayu secang biasa digunakan dengan cara diseduh untuk dibuat minuman yang biasanya untuk mengurangi berbagai penyakit (Supriani, 2019). Caranya dengan menyeduh kayu secang (baik dalam kondisi segar maupun kering) yang sudah bersih menggunakan air panas, kemudian tunggu hingga air berubah warna menjadi merah kecoklatan dan aromanya harum. Kayu secang juga biasanya digunakan dalam campuran berbagai minuman seperti wedang uwuh, bir pletok, dan minuman tradisional lainnya.  Daftar Pustaka Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2011). 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI; Jakarta. https://repository.kemkes.go.id/book/357.   Hadi, K., Setiami, C., Azizah, W., Hidayah, W., & Fatisa, Y. (2023). Kajian Aktivitas Antioksidan Dari Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.). Photon: Journal of Natural Sciences and Technology, 13(2), 48-59. https://doi.org/10.37859/jp.v13i2.4552.   Palimbong, S., Mangalik, G., & Mikasari, A. L. (2020). Pengaruh lama perebusan terhadap daya hambat radikal bebas, viskositas dan sensori sirup secang (Caesalpinia sappan L.). Teknologi Pangan: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian, 11(1), 7-15.  https://doi.org/10.35891/tp.v11i1.1786.   Puspitadewi, N., & Sriwidodo, S. (2023). Review Artikel: Aktivitas Dan Pemanfaatan Brazilin Dari Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dalam Sediaan Kosmetik. Farmaka, 21(1). https://doi.org/10.24198/farmaka.v21i1.37702.   Sari, R., & Suhartati, S. (2016). Secang (Caesalpinia sappan L.): Tumbuhan herbal kaya antioksidan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 13(1), 57-67. https://doi.org/10.20886/buleboni.5077.   Sarjono, A. K., & Tukiran, T. (2021). Potensi Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) Sebagai Antidiabetes Mellitus: A Review: The Potensial Of Extract Secang (Caesalpinia sappan L.) As Antidiabetic Mellitus. Unesa Journal of Chemistry, 10(3), 307-317. https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p307-317.   Supriani, A. (2019). Peranan minuman dari ekstrak jahecang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Jurnal SainHealth, 3(1), 30-39. https://doi.org/10.51804/jsh.v3i1.370.30-39.   Vij, T., Anil, P. P., Shams, R., Dash, K. K., Kalsi, R., Pandey, V. K., … & Shaikh, A. M. (2023). A Comprehensive Review On Bioactive Compounds Found In Caesalpinia sappan. Molecules, 28(17), 6247. https://doi.org/10.3390/molecules28176247.  

Secang (Cesalpinia Sappan L.) Read More »

Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa)

Nama Ilmiah Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa )  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Asparagales Famili : Iridaceae  Genus : Eleutherine  Spesies : Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. (Eggers et al., 2010; Judd et al., 2008). Definisi Umum Bawang dayak merupakan tanaman yang sudah terbukti secara empiris dalam megobati berbagai penyakit. Bagian tanaman bawang dayak yang digunakan dalam pengobatan yaitu pada umbinya. Bawang dayak merupakan tanaman khas Kalimantan yang berasal dari Amerika Tropis. Bawang dayak memiliki morfologi seperti daun tunggal berbentuk pita dan berwarna hijau, memiliki ujung dan pangkal daun runcing dengan tepi daun rata, bunga majemuk dalam tandan terletak diujung (terminalis) dan monochlasial, biseksual dan aktinomorf, memiliki akar serabut berwarna coklat muda (Sirhi et al., 2018).  Kandungan Bawang dayak mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat digunakan dalam pengobatan diantaranya triterpenoid naftokuinon dan senyawa turunannya seperti elacanicin, eleutherol, isoeleutherol, eleutherin, dan isoeleutherin (Sirhi et al., 2018). Umbi bawang dayak juga mengandung kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, kuinon, steroid, tanin, dan minyak atsiri (Puspadewi et al., 2013).  Khasiat Bawang dayak memiliki khasiat yang sudah terbuktibaik secara empiris maupun ilmiah, secara empiris bawang dayak berkhasiat mengobati luka, sakit kuning, batuk, sakit perut, disentri, kanker payudara, radang poros usis, obat bisul dan perangsang muntah, secara ilmiah khasiat bawang dayak melalui studi pre klinik memiliki potensi sebagai anti kanker (Muti’ah et al., 2020).  Cara Pengolahan Pengolahan bawang dayak sebagai obat secara tradisional dapat dilakukan dengan cara perebusan umbi dari bawang dayak yang dapat digunakan sebagai obat kanker, kolesterol, dna jantung (Alang, 2025). Cara pengolahan lain untuk umbi bawang dayak yaitu dapat melalui proses sehingga menghasilkan produk berupa simplisia, bubuk atau tepung, maupum bawang dayak instan (Aslamiah, 2016).  Daftar Pustaka Alang, H. (2025). Inventarisasi tumbuhan obat tradisional sebagai upaya swamedikasi oleh Suku Dayak di Mandor. Jurnal Esabi (Jurnal Edukasi dan Sains Biologi), 7(1), 35-46. https://doi.org/10.37301/esabi.v7i1.73.  Aslamiah, S. (2016). Ujicoba Hidriponik Tanaman Kencur dan Bawang Dayak: The Trial of Hydroponic on Kencur and Dayak’s Onion. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 3(1), 46-53. https://doi.org/10.33084/daun.v3i1.166   Muti’ah, R., Listiyana, A., Nafisa, B. B., & Suryadinata, A. (2020). Kajian efek ekstrak umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) sebagai antikanker. Journal of Islamic Pharmacy, 5(2), 14-25. https://doi.org/10.18860/jip.v5i2.9778  Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). Khasiat umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai herbal antimikroba kulit. Kartika: Jurnal Ilmiah Farmasi, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21  Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). Khasiat Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai Herbal Antimikroba Kulit. Jurnal Ilmiah Farmasi, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Sirhi, S., Astuti, S., & Esti, F. R. (2018). Iptek bagi budidaya dan ekstrak bawang dayak sebagai obat alternatif. JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia), 2(2), 1-7. https://doi.org/10.33366/japi.v2i2.804  Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) Scientific Name Dayak Onion (Eleutherine bulbosa) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Asparagales Family: Iridaceae Genus: Eleutherine Species: Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. (Eggers et al., 2010; Judd et al., 2008). General Definition Dayak onion is a plant that has been empirically proven to treat various diseases. The part of the Dayak onion plant used in medicine is its bulb. Dayak onion is a plant native to Kalimantan that originated in the Tropical Americas. Dayak onion has a morphology characterized by single, ribbon-shaped green leaves with pointed tips and bases and smooth leaf margins; its compound flowers are arranged in terminal, monochasial inflorescences; they are bisexual and actinomorphic; and it has light brown fibrous roots (Sirhi et al., 2018). Composition Dayak onion contains various bioactive compounds that can be used in medicine, including triterpenoid naphthoquinones and their derivatives such as elacanicin, eleutherol, isoeleutherol, eleutherin, and isoeleutherin (Sirhi et al., 2018). Dayak onion bulbs also contain secondary metabolites such as alkaloids, glycosides, flavonoids, phenolics, quinones, steroids, tannins, and essential oils (Puspadewi et al., 2013). Benefits Dayak onion has benefits that have been proven both empirically and scientifically. Empirically, Dayak onion is effective in treating wounds, jaundice, coughs, stomachaches, dysentery, breast cancer, appendicitis, treating boils, and inducing vomiting. Scientifically, preclinical studies have shown that Dayak onion has potential as an anticancer agent (Muti’ah et al., 2020). Preparation Methods Traditionally, Dayak onions are processed into medicine by boiling the bulbs, which can be used to treat cancer, high cholesterol, and heart conditions (Alang, 2025). Another method of processing Dayak onion bulbs involves a process that produces products such as crude drug, powder, or flour, as well as instant Dayak onion (Aslamiah, 2016). References Alang, H. (2025). Inventory of traditional medicinal plants as a form of self-medication among the Dayak people in Mandor. Jurnal Esabi (Journal of Education and Biological Sciences), 7(1), 35-46. https://doi.org/10.37301/esabi.v7i1.73. Aslamiah, S. (2016). The Trial of Hydroponic Cultivation of Kencur and Dayak Onion. Daun: Journal of Agricultural and Forestry Sciences, 3(1), 46-53. https://doi.org/10.33084/daun.v3i1.166 Muti’ah, R., Listiyana, A., Nafisa, B. B., & Suryadinata, A. (2020). Study on the anticancer effects of Dayak onion (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) bulb extract. Journal of Islamic Pharmacy, 5(2), 14-25. https://doi.org/10.18860/jip.v5i2.9778 Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). The efficacy of Dayak onion tuber (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) as a topical antimicrobial herbal remedy. Kartika: Journal of Pharmaceutical Sciences, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). The Efficacy of Dayak Onion Bulbs (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) as a Skin Antimicrobial Herb. Journal of Pharmaceutical Sciences, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Sirhi, S., Astuti, S., & Esti, F. R. (2018). Science and technology for the cultivation and extraction of Dayak onion as an alternative medicine. JAPI (Journal of Community Service Access Indonesia), 2(2), 1-7. https://doi.org/10.33366/japi.v2i2.804

Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) Read More »

Sirih Hijau (Piper betle L.)

Nama Tumbuhan Sirih Hijau (Piper betle L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Piperales  Famili : Piperaceae  Genus : Piper  Spesies : Piper betle L. (Pradhan, dkk., 2013) Definisi Umum Sirih hijau merupakan salah satu tanaman obat yang potensial dan diketahui secara empiris memiliki khasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit.  Tanaman sirih tumbuh di daerah Asia tropis hingga Afrika Timur dan menyebar hampit di seluruh wilayah Indonesia, Thailand, Malaysia, India, Sri Lanka dan Madagaskar (Sadiah et al., 2022). Sirih hijau dapat tumbuh optimal pada ketinggian 10-300 mdpl dan pada berbagai jenis tanah. Sirih hijau tidak tahan terhadap intensitas cahaya yang tinggi dan genangan air (Widiyastuti et al., 2013). Sirih hijau merupakan tanaman merambat dengan tinggi tanaman 0,5-8 m. Akar tanaman sirih hijau berbentuk bulat dan berwarna coklat kekuningan. Batangnya berbentuk bulatm bersulur, beruas, memiliki akar udara, bertekstur halus, berwarna coklat sampai warna kehijauan dengan jarak antar ruasnya 2,5-7 cm. Daun sirih hijau merupakan daun tunggal dengan tata letak berseling dengan ujung runcing, pangkalnya berlekuk, pertulangan daunnya melengkung, serta tepi daunnya rata. Bunga daun sirih hijau memiliki jenis majemuk dengan bentuk bulir, panjang bulir bunga jantan 0,5-2,5 cm dan panjang bulir bunga betina 1,5-7 cm. Buahnya berbentuk bulat, berwarna hijau, dan buah masaknya berwarna kuning kehijauan (Yuliana, 2023).  Kandungan Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman sirih hijau berupa senyawa fenol, flavonoid, kavikol, hidroksi kavikol, eugenol, kavibetol, karvakrol, dan safrol yang memberikan aktivitas antioksidan yang baik. Flavonoid merupakan kelompok dari fenol alami yang bali banyak ditemukan di semua tanaman hijau seperti sirih hijau (Suarantika et al., 2023).   Khasiat Tanaman sirih hijau memiliki banyak khasiat selain sebagai antibakteri, antara lain sebagai antiradang, penghilang gatal, pereda batuk, antiseptik, dan dapat digunakan untuk menghentikan pendarahan (Hermanto et al., 2023).   Cara Pengolahan Cara pengolahan atau peracikan daun sirih hijau tergantung dari jenis penyakit yang diobati, ada yang ditumbuk atau peras, diteteskan pada mata, direbus, dan dipanaskan. Cara mengolah daun sirih hijau sebelum dijadikan obat sangat bervariasi. Pengolahan sirih hijau tidak dimanfaatkan dalam satu jenis saja, namun ada juga yang dicampurkan dengan jenis tumbuhan lain, seperti garam, minyak, madu, balsem, dan cengkeh. Cara penggunaannya sesuai dengan jenis penyakit yang diobati (Hulu et al.,2022).  Daftar Pustaka Hermanto, L. O., Nibea, J., Sharon, K., & Rosa, D. (2023). Review artikel: Pemanfaatan tanaman sirih (Piper betle L) sebagai obat tradisional. Pharmaceutical Science Journal, 3(1), 33-42. http://dx.doi.org/10.52031/phrase.v3i1.502  Hulu, L. C., Fau, A., & Sarumaha, M. (2022). Pemanfaatan daun sirih hijau (Piper Betle L) sebagai obat tradisional di Kecamatan Lahusa. TUNAS: Jurnal Pendidikan Biologi, 3(1), 46-57.   https://doi.org/10.57094/tunas.v3i1.480 Sadiah, H. H., Cahyadi, A. I., & Windria, S. (2022). Kajian Daun Sirih Hijau (Piper betle L) Sebagai Antibakteri. Jurnal Sain Veteriner, 40(2), 128-138. https://jurnal.ugm.ac.id/jsv/article/view/58745  Suarantika, F., Patricia, V. M., & Rahma, H. (2023). Optimasi Proses Ekstraksi Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) yang Memiliki Aktivitas Antioksidan Berdasarkan Penggunaan secara Empiris. Jurnal Ilmiah Medicamento, 9(1), 16-21. https://doi.org/10.36733/medicamento.v9i1.5253  Widiyastuti, Y., Haryanti, S., & Subositi, D. (2013). Karakterisasi Morfologi Dan Kandungan Minyak Atsiri Beberapa Jenis Sirih (Piper sp.) Morphological characterization and volatile oil contain of various (Piper sp.). Jurnal Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 6(2), 86-93. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/toi/article/view/6567  Yuliana, L. (2023). Studi morfologi genus Piper dan variasinya. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 3(1), 11-19. https://e-journal.lp3kamandanu.com/index.php/biocaste 

Sirih Hijau (Piper betle L.) Read More »

Jahe (Zingiber officinale Roscoe)

Nama Tumbuhan Jahe (Zingiber officinale Roscoe)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Zingiberales  Famili : Zingiberaceae    Genus : Zingiber  Spesies : Zingiber officinale Roscoe (rukmana, 2000) Definisi Umum  Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang tahunan yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman jahe memiliki sistem perakaran berupa akar serabut, dengan batang yang beruas dan tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah. Daunnya berbentuk panjang dengan susunan tulang daun sejajar, sementara rimpangnya berfungsi sebagai umbi penyimpan cadangan nutrisi (Lestari et al., 2024). Jahe sering dibudidayakan di pekarangan rumah maupun lahan pertanian pada daerah dengan ketinggian 0-1500 mdpl dengan ketinggian optimum pada 300-900 mdpl (Nana et al., 2021). Terdapat beberapa varietas jahe yang dikenal di Indonesia, seperti jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah, yang masing-masing memiliki ciri morfologi dan kegunaan berbeda. Jahe merupakan tanaman rimpang yang memiliki bentuk bercabang dan beraroma khas, serta digunakan secara luas dalam berbagai bentuk olahan tradisional maupun modern.  Kandungan  Senyawa aktif yang terkandung dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan paradol yang memiliki sifat anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, dan anti-platelet (Anggista et al., 2019).  Khasiat  Jahe (Zingiber officinale) memiliki beragam khasiat seperti mengatasi mual dan muntah, meyehatkan sistem pencernaan, menyehatkan otak, menyembuhkan migrain (Edy dan Ajo, 2020). Selain itu, jahe juga dapat mencegah dan mengobati kepala pusing, batuk, diabetes, penyakit jantung, sakit saat menstruasi, nyeri lambung (Rembet dan Wowor, 2024). Khasiat-khasiat ini menjadikan jahe sebagai bahan herbal potensial dalam pengembangan produk kesehatan dan terapi komplementer.  Cara Pengolahan  Jahe dapat diolah menajadi minumam herbal dengan bahan-bahan berupa 2 siung jahe, 1 batang sereh, 4 lembar daun jeruk, gula jawa secukupnya sesuai selera, dan 300 ml air. Proses pembuatannya dimulai dengan membakar jahe di atas kompor hingga mengeluarkan aroma harum, kemudian sereh digeprek. Setelah itu, air sebanyak 300 ml direbus dalam panci hingga mendidih. Setelah mendidih, semua bahan dimasukkan satu per satu ke dalam panci, dimulai dari jahe, sereh, daun jeruk, dan gula jawa. Aduk hingga merata dan biarkan selama kurang lebih 5–10 menit sampai air sedikit menyusut dan aroma khas muncul. Setelah selesai, kompor dimatikan dan jamu dituangkan ke dalam gelas, lalu didiamkan hingga suhunya cukup hangat untuk dikonsumsi (Wiboworini dan Shabrina, 2021).  Daftar Pustaka  Anggista, G., Pangestu, I. T., Handayani, D., Yulianto, M. E., & Astuti, S. K. (2019). Penentuan Faktor Berpengaruh Pada Ekstraksi Rimpang Jahe Menggunakan Extraktor Berpengaduk. Gema Teknologi, 20(3), 80-84.  https://doi.org/10.14710/gt.v20i3.24532 Edy, S., & Ajo, A. (2020). Pengolahan jahe instan sebagai minuman herbal di masa pandemik COVID-19. Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 2(03), 177-183.  https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/381/263 Lestari, I., Hakiki, N., Nurjanah, S., Jamil, T. K., & Sativa, N. (2024). Karakter Morfologi dan Hubungan Kekerabatan pada Tanaman Jahe (Zingiber officinale) di Kabupaten Garut. Jurnal Sumberdaya Hayati, 10(3), 150-156.  https://doi.org/10.29244/jsdh.10.3.150-156 Nana, N., Makiyah, Y. S., Susanti, E., Ramadhan, I. R., Bhinekas, R. Y., & Kanti, L. (2021). Budidaya dan Pengolahan Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum) Menggunakan Teknologi Bag Culture Pada Masa New Normal di Desa Darmaraja Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis. ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(1), 584-593.  https://doi.org/10.35568/abdimas.v4i1.1038 Rembet, I. Y., & Wowor, M. D. (2024). Manfaat jahe (Zingiber officinale Roscoe) untuk menurunkan kadar gula darah pada penyakit diabetes melitus tipe 2. Watson Journal Of Nursing, 2(2), 51-65.  https://e-journal.stikesgunungmaria.ac.id/index.php/wjn/article/view/86/67 Wiboworini, B., & Shabrina, A. (2021). Pembuatan Minuman Herbal Sederhana Dari Jahe Untuk Mendukung Imunitas Melawan Covid-19. Smart Society Empowerment Journal, 1(3), 108-112.  https://doi.org/10.20961/ssej.v1i3.56093

Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Read More »

Scroll to Top