Blog

Kencur (Kaempferia galanga L.)

Nama Tumbuhan Kencur (Kaempferia galanga L.) Taksonomi Kingdom : Plantae  Divisi : Spermatophyta  Kelas : Monocotyledonae  Ordo : Zingiberales  Famili : Zingiberaceae  Genus : Kaempferia L.  Spesies : Kaempferia galanga L.  (Sholeh dan Megantara, 2019.). Definisi Umum Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki khasiat obat yang hidup didaerah tropis dan subtropis. Kencur memiliki ukuran kurang lebih 20 cm yang tumbuh dalam rumpun. Kencur memiliki daun berwarna hijau berbentuk tunggal yang pinggir daunnya berwarna merah kecoklatan. Bentuk dari daun kencur menjorong untuk ukurannya daun kencur memiliki panjang 7-15 cm, lebar 2-8 cm, dengan ujung daun runcing pangkai berkeluk dan tepi daun rata. Jumlah daun pada kencur tidak lebih dari 2-3 lembar. Rimpangnya memiliki ukuran yang pendek berbentuk seperti jari yang tumpul dengan warna coklat lalu pada bagian kulit rimpang kemcur memiliki warna coklat yang mengkilat, dengan bau khas yang dikeluarkan oleh rimpang kencur. Kemudian pada bagian dalam kencur memiliki warna putih dengan tekstur seperti daging yang tidak berserat (Haryudin dan Rostiana, 2016). Kandungan Kencur (Kaempferia galanga L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, tanin dan terdapat kandungan senyawa lain seperti etil p-metoksinamat (Izazi dan Kusuma, 2020). Khasiat Kencur (Kaempferia galanga L.) menunjukkan efek antiinflamasi yang signifikan dalam menghambat edema, antipiretik untuk menurunkan demam, serta analgesik alami untuk meredakan nyeri kepala, pegal, dan keseleo. Kencur juga berperan sebagai antitusif dan ekspektoran yang efektif mengatasi batuk berdahak, antidiare melalui formulasi tradisional dengan beras dan garam, serta antimikroba terhadap infeksi bakteri (Izazi dan Kusuma, 2020). Cara Pengolahan Kencur (Kaempferia galanga L.) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain:  (Febri dan Kusuma, 2020).  Daftar Pustaka Febriani, A., & Kusuma, I. M. (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban. Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian, 13(1), 46-54. https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524  Febriani, A., & Kusuma, I. M. (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban. Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian, 13(1), 46-54.   https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524 Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Kencur (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 19(2),109-116.https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167  Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Kencur (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 19(2),109-116. https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167  Izazi, F., & Kusuma, A. (2020). Hasil responden pengetahuan masyarakat terhadap cara pengolahan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan kencur (Kaemferia galanga) sebagai peningkatan imunitas selama COVID-19 dengan menggunakan kedekatan konsep program Leximancer. Journal Pharmasci, 5(2), 93-97.   https://doi.org/10.53342/pharmasci.v5i2.192 Soleh, S. M., & Megantara, S. (2019). Karakteristik morfologi tanaman kencur (kaempferia galanga l.) Dan aktivitas farmakologi. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.   https://doi.org/10.24198/jf.v17i2.22089

Kencur (Kaempferia galanga L.) Read More »

Asam Jawa (Tamarindus indica L.)

Nama Latin Tamarindus indica L. Taksonomi Kindong: Plantae Divisi: Tracheophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Genus: Tamarindus Spesies: Tamarindus indica L. (ITIS, n.d.) Definisi Umum Asam jawa merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Afrika, dan banyak dibudidayakan di negara tropis termasuk Indonesia. Asam jawa termasuk dalam subfamili Caesalpiniaceae dari famili Fabaceae, memiliki struktur kromosom 2n = 24 (Kanupriya et al., 2024). Batang pohon asam yang cukup keras dapat tumbuh menjadi besar dan daunnya rindang. Pohon Asam jawa bertangkai panjang, sekitar 117 cm dan bersirip genap, tipe daunnya majemuk dengan panjang mencapai 15 cm dan memiliki 8-18 anak daun dengan panjang anak daun 1-3,5 cm. Bunganya berwarna kuning kemerah-merahan dan buah polongnya berwarna coklat dan tentu saja berasa khas asam. Biasanya di dalam buah polong buah juga terdapat biji berkisar 2-5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman (Sindriyani, 2024). Asam jawa adalah pohon yang tumbuh lambat, selalu hijau dengan banyak kegunaan yang telah dinaturalisasi di daerah tropis subtropis dan semi-kering di seluruh dunia. Hampir setiap bagian pohon (daging buah, biji, bunga, daun, kayu, kulit kayu) memiliki kegunaan khusus, termasuk konsumsi manusia dan hewan, perdagangan, konstruksi, kayu bakar, obat tradisional, dan pemrosesan industri (Dorni et al., 2017). Kandungan Asam Jawa (Tamarindus indica L.) mempunyai kandungan flavonoid, tanin, alkaloid, anthocyanin, dan asam sitrat (Saadah et al., 2017). Daun asam Jawa diketahui mengandung berbagai golongan diantaranya terpenoid, fenol, flavonoid, dan asam asam organik (Megawasti et al., 2021).  Buah asam jawa mengandung flavonoid, tanin, glikosida, dan saponin. Kandungan lainnya adalah kalium, fosfor, magnesium, kalsium, besi, natrium, dan seng. Selain itu, asam jawa juga mengandung vitamin C, vitamin B, vitamin A dan vitamin K (Lisa et al., 2025). Khasiat Asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk masakan atau bumbu masakan. Selain itu, daging asam jawa dapat memudahkan buang air besar dan melancarkan peredaran darah (Lissa et al., 2023). Asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki khasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan dapat membantu mengendalikan kadar gula darah serta kolesterol. Kandungan senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin dalam asam jawa berkontribusi pada aktivitas farmakologinya, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk membuktikan efektivitasnya pada manusia dalam skala besar (Sindriyani, 2024). Cara pengolahan Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain: Daftar Pustaka Dorni AC, Amalraj A, Gopi S, Varma K, Anjana SN. (2017). Kosmetika baru dari tumbuhan—Tinjauan yang dipandu industri. Jurnal penelitian terapan tumbuhan obat dan aromatik, 7:1–26. https://doi.org/10.1016/j.jarmap.2017.05.003 Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Tamarindus indica L. (TSN 26980). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=26980 Kanupriya C, Karunakaran G, Singh P, Venugopalan R, Samant D, Prakash K. (2024). Keragaman Fenotipik Tamarindus indica L. yang berasal dari berbagai asal di India. Sistem Agroforestri, 98(2):477–90. https://doi.org/10.1016/j.jarmap.2017.05.003 Lissa, L., Hamidah, I., Rizqiah, K. M., & Munfarijah, M. (2023). Pemanfaatan Asam Jawa (Tamarindus indica) Untuk Menghasilkan Produk Olahan Minuman Dan Manisan di Desa Krangkeng. Abdi Wiralodra: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 114-124. https://doi.org/10.31943/abdi.v5i1.64 Megawasti, M., Sukmawati, S., & Aminah, A. (2021). Uji aktivitas antioksidan fraksi etil asetat daun asam jawa (Tamarindus indica L) dengan metode DPPH (1, 1 Diphenyl-2-Picrylhydrazil). Wal’afiat Hospital Journal, 2(2), 95-102. https://doi.org/10.33096/whj.v2i2.77 Saadah, A. A., Setyarini, D. I., & Mardiyanti, T. (2017). Asam Jawa (Tamarindus Indica L) Dan Intensitas Nyeri Dismenorea Primer Pada Remaja Putri. Jurnal Keperawatan Terapan, 3(2), 57-63. https://doi.org/10.31290/jkt.v(3)i(2)y(2017).page:57-63 Sindriyani, L. S. (2024). Artikel review: Studi fitokimia dan farmakologi asam jawa (Tamarindus indica L.). Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, 9(1), 15-21. https://ejournal.stifibp.ac.id/index.php/jibf/article/view/129/111 Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Latin Name Tamarindus indica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Fabales Family: Fabaceae Genus: Tamarindus Species: Tamarindus indica L. (ITIS, n.d.) General Definition Tamarind is a plant native to Africa and is widely cultivated in tropical countries, including Indonesia. It belongs to the subfamily Caesalpiniaceae within the family Fabaceae and has a chromosome structure of 2n = 24 (Kanupriya et al., 2024). The tree’s sturdy trunk can grow quite large, and its foliage is dense. The tamarind tree has long petioles, approximately 117 cm long, and even-pinnate leaves. The leaves are compound, reaching up to 15 cm in length, and consist of 8–18 leaflets, each 1–3.5 cm long. The flowers are yellowish-pink, and the pods are brown and, of course, have a distinct sour taste. Typically, the pods contain 2–5 flat, dark brown seeds (Sindriyani, 2024). The Java tamarind is a slow-growing, evergreen tree with numerous uses that has been naturalized in tropical, subtropical, and semi-arid regions worldwide. Nearly every part of the tree (flesh, seeds, flowers, leaves, wood, and bark) has a specific use, including for human and animal consumption, trade, construction, firewood, traditional medicine, and industrial processing (Dorni et al., 2017). Composition Tamarind (Tamarindus indica L.) contains flavonoids, tannins, alkaloids, anthocyanins, and citric acid (Saadah et al., 2017). Tamarind leaves are known to contain various compounds, including terpenoids, phenols, flavonoids, and organic acids (Megawasti et al., 2021). Tamarind fruit contains flavonoids, tannins, glycosides, and saponins. Other components include potassium, phosphorus, magnesium, calcium, iron, sodium, and zinc. Additionally, tamarind is a source of vitamin C, B vitamins, vitamin A, and vitamin K (Lisa et al., 2025). Benefits Tamarind (Tamarindus indica L.) has many benefits, including use in cooking or as a seasoning. Furthermore, tamarind pulp can facilitate bowel movements and improve blood circulation (Lissa et al., 2023). Tamarind (Tamarindus indica L.) possesses antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory properties and can help regulate blood sugar levels and cholesterol. Compounds such as flavonoids, tannins, and saponins in tamarind contribute to its pharmacological activity, although further research is still needed to prove its effectiveness in humans on a large scale (Sindriyani, 2024). Methods of Preparation Tamarind (Tamarindus indica L.) can be processed into several forms of preparations for medicinal use, including: A liquid preparation/ready-to-drink solution made by washing and drying tamarind leaves, then brewing them like herbal tea; the mixture is then strained and consumed warm, either on its own or with added honey or brown sugar to improve the taste. A ready-to-drink solution made by picking fresh tamarind flowers, then boiling or steeping them as a traditional remedy

Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Read More »

Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.)

Nama Tanaman Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.) Taksonomi Tanaman Definisi Umum Lengkuas adalah tanaman rimpang tropis yang banyak digunakan sebagai rempah dalam masakan dan juga dikenal secara luas sebagai tanaman obat. Tanaman ini memiliki batang semu, daun memanjang, dan akar rimpang beraroma tajam. Senyawa aktif utama dalam lengkuas meliputi galangin, eugenol, dan flavonoid, yang memberikan berbagai manfaat farmakologis (Nursyahra & Zikra, 2023) Kandungan Lengkuas merupakan salah satu tanaman yang sudah dikenal memiliki kandungan senyawa aktif dengan berbagai aktivitas dan diketahui dapat digunakan sebagai antijamur dan antibakteri. Rimpang lengkuas juga mengandung golongan senyawa aktif diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, fenol saponin, tanin dan terpenoid. Salah satu senyawa aktif yang berpotensi menjadi agen antibakteri adalah terpenoid ( Sangdaji et al. 2021) Khasiat Cara Pengolahan Secara Tradisional Rebusan rimpang lengkuas Infusa Herbal Lengkuas bubuk Minyak Atsiri Lengkuas Daftar Pustaka

Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.) Read More »

Sereh Dapur (Cymbopogon citratus)

Nama Tanaman Sereh Dapur (Cymbopogon citratus) Taksonomi Definisi Umum Taksonomi Sereh dapur adalah tumbuhan rumput tropis aromatik yang dikenal luas sebagai bumbu dapur dan tanaman herbal. Aroma khasnya berasal dari kandungan sitral dalam minyak atsiri. Tanaman ini juga dikenal dengan sebutan lemongrass dan memiliki khasiat farmakologis sebagai antimikroba, antiinflamasi, dan peluruh keringat. (Silalahi, 2020) Khasiat Cymbopogon citratus memiliki sejumlah manfaat farmakologis yang telah dibuktikan secara ilmiah: Cara Pengolahan Secara Tradisional Beberapa bentuk pengolahan tradisional tanaman sereh dapur: a. Teh Serai b. Minyak Sereh (Aromaterapi) c. Rebusan Serai d. Sabun Herbal Ekstrak Sereh 6. Daftar Pustaka

Sereh Dapur (Cymbopogon citratus) Read More »

Lidah Buaya (Aloe vera)

Nama Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera) Taksonomi Tanaman Definisi Umum Lidah buaya adalah tanaman sukulen yang berasal dari wilayah tropis dan telah lama dikenal sebagai tanaman obat. Daunnya tebal dan berdaging dengan gel bening di bagian dalam yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti aloin, aloesin, dan acemannan. Tanaman ini telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional maupun industri farmasi dan kosmetik karena sifat antiinflamasi, antimikroba, dan penyembuh lukanya.(Pandey et al., 2013) Khasiat Cara Pengolahan Secara Tradisional Topikal untuk luka bakar dan luka sayat: Minuman herbal untuk penurun gula darah: Teh lidah buaya: Daftar Pustaka

Lidah Buaya (Aloe vera) Read More »

Kemenko PMK Lakukan Kunjungan ke PT Naturindo Fresh

Kulon Progo, 24 Juli 2025 — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan kunjungan kerja dalam rangka monitoring dan evaluasi kebijakan pengembangan obat bahan alam di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan kemandirian penyediaan sediaan farmasi nasional berbasis potensi lokal. Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Bappeda Kulon Progo ini dihadiri oleh berbagai instansi, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM, Dinas Kebudayaan, BPOM Kulon Progo, serta DPD GP Jamu Yogyakarta. Diskusi berfokus pada kebijakan pengembangan obat bahan alam, ketersediaan vaksin dan alat kesehatan, serta inovasi pelayanan dan riset lokal yang mendukung program kesehatan nasional. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke UKOT PT. Naturindo Fresh di Dusun Secang, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih. UKOT ini merupakan salah satu unit kesehatan yang mengembangkan dan memproduksi obat bahan alam secara modern dan higienis. Para peserta kunjungan mendapat gambaran nyata tentang proses produksi yang mengutamakan kualitas dan keamanan, sesuai standar nasional. Kulon Progo dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan obat herbal dan kampung jamu. Kekayaan sumber daya alam, budaya pengobatan tradisional yang kuat, serta dukungan dari institusi pendidikan dan industri kreatif menjadikan wilayah ini strategis dalam upaya mewujudkan kemandirian farmasi nasional. Melalui kegiatan ini, Kemenko PMK berharap akan tercipta sinergi lebih kuat antara pemangku kepentingan pusat dan daerah dalam mendukung pemanfaatan obat bahan alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Kemenko PMK Lakukan Kunjungan ke PT Naturindo Fresh Read More »

Naturindo Group Raih Penghargaan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 dari Pemkab Kulon Progo

PT Naturindo Fresh dan PT Naturindo Surya Niaga, dua perusahaan unggulan dalam Naturindo Group, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Penganugerahan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, keduanya berhasil meraih penghargaan atas komitmen tinggi dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan berkelanjutan. 🏅 PT Naturindo Fresh meraih peringkat ke-4 dalam kategori Perusahaan Menengah🏅 PT Naturindo Surya Niaga menempati peringkat ke-7 dalam kategori Perusahaan Besar Pengakuan Atas Komitmen dan Kepatuhan Ketenagakerjaan Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap konsistensi Naturindo Group dalam menerapkan standar tinggi tata kelola perusahaan, keselamatan kerja, serta kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan. Ini membuktikan bahwa Naturindo tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada pembangunan budaya kerja yang etis, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan. Maklon Herbal Terpercaya di Kulon Progo Sebagai salah satu perusahaan herbal terpercaya di Kulon Progo, Naturindo Group dikenal sebagai pelopor layanan One-Stop Maklon produk herbal yang profesional dan terintegrasi. Prosesnya mencakup: Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan prinsip jamu modern halal dan berkualitas, sesuai standar nasional dan internasional. Membangun Lingkungan Kerja yang Inklusif dan Produktif Lebih dari sekadar pencapaian formal, penghargaan ini mencerminkan kekuatan budaya kerja positif yang dibangun di Naturindo: integritas, kolaborasi, dan dedikasi. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim — mulai dari jajaran manajemen hingga karyawan di lini produksi — yang bersama-sama membentuk sistem kerja yang adil, sehat, dan produktif. Kontribusi Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi Lokal Naturindo Group percaya bahwa lingkungan kerja yang layak adalah fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dengan terus berinovasi dan menjaga kualitas, perusahaan berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi kesehatan masyarakat melalui produk herbal berkualitas, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi lokal Kulon Progo dan Indonesia secara keseluruhan. Selamat untuk seluruh tim Naturindo! Teruslah tumbuh, menginspirasi, dan membawa manfaat untuk masyarakat luas. 🌿✨

Naturindo Group Raih Penghargaan Sistem Tata Kelola Kerja Layak 2025 dari Pemkab Kulon Progo Read More »

Naturindo Fresh Audiensi dengan Puro Pakualaman: Memajukan Jamu sebagai Warisan Budaya

Senin (26/5), PT Naturindo Fresh, salah satu Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) di D.I. Yogyakarta, dengan bangga mengumumkan audiensi strategisnya dengan Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam di Puro Pakualaman. Pertemuan ini menjadi langkah penting bagi Naturindo Fresh, yang merupakan bagian dari Gabungan Pengusaha Jamu DIY (GP Jamu DIY), untuk memperkenalkan diri dan visinya dalam melestarikan serta mengembangkan jamu tradisional Indonesia. Inovasi Produk Herbal dan Wisata Kesehatan Unggulan Dalam audiensi tersebut, Naturindo Fresh mempresentasikan beragam produk jamu sebagai obat bahan alam, aneka minuman sehat berbahan dasar rempah, dan tanaman obat. Produk-produk ini ditekankan sebagai solusi alami untuk meningkatkan imunitas tubuh secara preventif dan promotif. Selain itu, Naturindo Fresh juga memperkenalkan inisiatif Wellness Tourism terintegrasi di Kabupaten Kulon Progo. Sebagai pelopor wisata kesehatan di DIY, Taman Jamu Naturindo dirancang sebagai wahana edukasi yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat jamu sebagai obat bahan alam, serta menikmati berbagai jenis terapi dan spa tradisional dalam satu kawasan. Dukungan Penuh dari Puro Pakualaman untuk Jamu Mendunia Sambutan hangat dari GKBRAA Paku Alam memberikan motivasi besar bagi Naturindo Fresh dan seluruh pelaku IKM di DIY. Beliau menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pengembangan budaya jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang diakui UNESCO. Dukungan ini tidak hanya terbatas pada pengenalan jamu di lingkungan DIY, tetapi juga mencakup upaya menghubungkan Naturindo Fresh dengan investor dalam dan luar negeri. Khususnya, GKBRAA Paku Alam siap membuka jaringan untuk pengembangan pasar luar negeri, dengan fokus utama pada Malaysia dan Arab Saudi. Naturindo Fresh berharap langkah kecil ini akan membawa dampak besar bagi masa depan jamu Indonesia, menjadikannya dikenal dan diapresiasi di kancah internasional. #NaturindoFresh#Pakualaman#GustiPutri#KolaborasiStrategis#ProdukHerbalIndonesia#BanggaProdukLokal#KesehatanAlami#SinergiUntukKemajuan#AudiensiBersama#HerbalUntukBangsa#UMKMBerdaya#GPJamuDIY#DewanJamuIndonesia

Naturindo Fresh Audiensi dengan Puro Pakualaman: Memajukan Jamu sebagai Warisan Budaya Read More »

Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus Blume Miq)

Nama Tumbuhan Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus Blume Miq) Taksonomi Tumbuhan (Marjoni M. R., 2017) Definisi Umum Kumis kucing adalah tumbuhan yang memiliki benang sari bunganya yang panjang dan menjulur dari dua sisi yang berbeda sehingga mirip dengan kumis kucing (Dillasamola et al., 2023). Persebaran Kumis kucing dapat ditemukan di Asia Tenggara, seperti di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Myamar (Septyani & Shinta, 2021). Nama daerah tanaman ini di Indonesi berbeda-beda penyebutannya di Sumatera dikenal dengan sebutan giri-giri marah, di Sunda dikenal dengan kumis ucing, di Madura dikenal dengan nama songkot koceng (Surahmaida & Umarudin, 2019). Kumis kucing merupakan tumbuhan habitus berupa semak, tahunan, tinggi 50-150 cm. Batang berkayu, segi empat, beruas, bercabang, coklat kehijauan. Daun tunggal, bulat telur, panjang 7-10 cm, lebar 8-50 cm, tepi bergerigi, ujung dan pangkal runcing, tipis, hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, di ujung ranting dan cabang, kelopak berlekatan, ujung terbagi empat, hijau, benang sari empat, kepala sari ungu, putik satu, putih, mahkota bentuk bibir, putih. Buah kotak, bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat. Biji kecil, masih muda hijau setelah tua hitam. Akar tunggang, putih kotor (Aspan & Sherley, 2008). Kandungan Senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman kumis kucing berupa  senyawa flavonoid, saponin, tanin dan steroid (Mutia et al., 2024). Fenol hidrokuinon, alkaloid, polifenol dan triterpenoid merupakan senyawa aktif lainnya yang terkadung dalam sembung (Nurcholis et al., 2022). Sinensetin, orthosiphol, kalium, minyak atsiri, orthosiphonin glikosida, sapofonin, dan mioinositol (Faramayuda et al., 2021). Khasiat Kumis kucing berkhasiat sebagai penurun asam urat, penurun tekanan darah, anti-inflamasi, penurun suhu tubuh, diabetes dan penghancur batu kandung kemih (Mutia et al., 2024). Selain itu, kumis kucing bisa digunakan sebagai antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi, dan antikanker (Nurcholis et al., 2022). Cara Pengolahan Pengolahan daun kumis kucing dengan cara merebus sebanyak 5 helai daun kumis kucing, dengan air 200 ml, didihkan hingga tersisa 100 ml. Setelah di angkat, dinginkan, lalu disaring, meminum sebanyak 2 kali sehari selama 7 hari berturut-turut dengan dosis masing-masing setengah gelas (Yasin et al., 2023). Daftar Pustaka

Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus Blume Miq) Read More »

Saga (Abrus precatorius Linn)

Nama Tumbuhan Saga (Abrus precatorius Linn) Taksonomi Tumbuhan Definisi Umum Saga pohon (Adenanthera pavonina Linn) adalah pohon yang buahnya menyerupai petai (tipe polong) dengan bijinya kecil berwarna merah. Saga pohon umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Tumbuhan ini juga mudah ditemui di pantai, hutan, kebun, atapun dengan sengaja ditanam pada perkarangan rumah. Masyarakat dahulu menggunakan biji saga sebagai penimbang emas karena beratnya yang selalu konstan. Selain itu, biji saga bersifat racun, oleh karena itu seringkali pemanfaatannya hanya sebagai hiasan saja (Pamungkas et al., 2017). Saga pohon besar yang berusia lebih dari 10 tahun tingginya dapat mencapai 25 meter, daun majemuk, berbentuk oval, berukuran kecil, tulang daun menyirip genap, jumlah anak daun bertangkai 2-6 pasang, helaian daun 6-12 pasang, panjang tangkai sekitar 25 cm, daun berwarna hijau muda atau merah kekuningan pada daerah pucuknya (Edi, 2022). Bentuk biji bulat telur, keras, panjangnya 6-7 mm dan tebalnya 4-5 mm, warnanya merah bernoda hitam. Akar tunggang dan berwarna coklat kotor.Tanaman ini tumbuh dengan ketinggian sekitar 300 – 1000 meter (Aspan & Sherley, 2008). Kandungan Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman saga adalah flavonoid, saponin, alkaloid, dan tanin yang dapat bersifat sebagai antibakteri (Shari, 2024). Selain itu, daun saga sebagai bahan alami juga mengandung glisirizin, vitamin A dan vitamin C serta senyawa yang aktif sebagai antioksidan dan antibakteri seperti, terpenoid dan steroid (Azhari et al., 2024). Terdapat juga kandungan berbahaya pada tumbuhan saga, yakni mengandung abrin yang bersifat toksik. Abrin merupakan senyawa beracun yang dapat menimbulkan efek apoptosis pada kultur sel leukimia dan menghambat sintesis protein pada sel eukariotik (Iriani et al., 2024). Khasiat Saga berkhasiat sebagai antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, dan bahkan dapat membantu mengobati beberapa jenis kanker. Selain itu, daun saga juga dikenal dapat membantu mengatasi sariawan, meredakan batuk dan sakit tenggorokan, serta menjaga kesehatan kulit (Alfian et al., 2024). Daun saga juga bermanfaat untuk pengobatan jerawat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan masker gel (Azhari et al., 2024). Cara Pengolahan Pemanfaatan tanaman saga bisa mengambil 5-6 daun lalu mencucinya hingga bersih dengan alir mengalir. Kemudian rebus daun saga dengan 1 gelas air (200 ml) hingga air berubah warna dan tersisa setengah gelas. Saring air rebusan dan minum selagi hangat dan bisa ditambahkan madu atau gula batu untuk rasa manis (Iriani et al., 2024). Daftar Pustaka

Saga (Abrus precatorius Linn) Read More »

Scroll to Top