Blog

BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis)

Nama Latin Hibiscus rosa sinensis Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo            : Malvales Famili          : Malvaceae Genus          : Hibiscus Spesies        : Hibiscus rosa sinensis. L (Soerjani, 1987) Definisi Umum  Hibiscus rosa-sinensis atau sering disebut dengan bunga kembang sepatu, banyak dijumpai di Indonesia. H. rosa-sinensis sering ditemui dengan variasi warna mahkota bunga yang beragam. Menurut penelitian dari Masnadi et al. (2019), di Hutan Taman Eden 100 yang terdapat di Kawasan Lumbang Rang, Desa Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir Sumatera Utara, keanekaragaman dari famili Malvaceae didominasi oleh Hibiscus sp. Tingginya bisa mencapai 10 meter pada daerah subtropik (biasanya 1-2,5 meter). Daunnya agak lebar, tipis, bagian pangkalnya agak meruncing, sedangkan tepi daunnya bergerigi kasar. Selain itu daunnya berwarna hijau bersinar dan bentuknya oval lebar. Bunga kembang sepatu tumbuh sendirian, letaknya pada ketiak daun, dan warnanya bervariasi merah muda sampai merah. Memiliki mahkota daun dengan tangkai benang sari yang banyak dan berwarna merah, 4-6 putiknya terletak di ujung benang sari. Kelopaknya membentuk garis sama panjang dengan mahkota  4. Kandungan  Bagian bunga, daun, dan akar kembang sepatu mengandung flavonoid. Daunnya mengandung saponin dan polifenol, akarnya mengandung tanin, saponin, skopoletin, cleomiscosin A, dan cleomiscosin C. Dan pula bunganya juga mengandung polifenol, yaitu senyawa yang menyebabkan rasa segar. Kembang sepatu dijadikan obat herbal selain tanaman obat keluarga lainnya karena kembang sepatu memiliki kandungan berbagai senyawa, yaitu tanin, alkaloid, flavonoid, taraxeryl acetat, polifenol, saponin, sianidin, glikosida, hibisetin, kuersetin, Caoksalat, dan perxidase. Senyawa inilah yang mampu melawan dan melemahkan organisme penyebab penyakit. (Efendi et al., 2021) Khasiat  Kembang sepatu dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, diantaranya sebagai pengobatan panas dalam, diabetes melitus, bronkitis, gangguan ginjal, haid tidak teratur, luka, sakit panas, demam, sariawan, batuk, gondok, dan sakit kepala. Olahan dari kembang sepatu dapat juga digunakan untuk menurunkan hipertensi, menurunkan kadar lemak, menurunkan berat badan, membasmi bakteri tubuh sebagai antiseptik serta mengandung senyawa yang dapat mencegah kanker.  Cara Pengolahan   Kembang sepatu dapat diolah menjadi sirup, teh dan pewarna alami,  Cara penyeduhannya yaitu bunga kembang dioven atau dikeringkan kemudian, cukup melarutkan satu sendok teh bunga hibiscus kering ke air mendidih selama tiga sampai lima menit sehingga siap dikonsumsi, sebagai pewarna makanan dengan cara bunga kembang sepatu direbus selama 15 menit dan untuk ekstraksi segar dengan cara diblender dan dapat direndam dengan mie sebagai pewarna makanan. Pembuatan sirup dengan cara panas dilakukan dengan merebus 20 gram bunga kembang sepatu selama 15 sampai 20 menit, kemudian rebusan disaring dan air rebusan diminum setelah dingin. Sedangkan pengolahan bunga kembang sepatu dengan cara dingin adalah dengan melumatkan bunga pada mortar dan di tambahkan setengah gelas air matang kemudian diangin-anginkan selama semalam dan rasa pahit dapat diberikan gula atau madu.  DAFTAR PUSTAKA  Efendi, A., Hasibuan, M., Sihombing, E., & Wulandari, T. (2021). Bunga Kembang Sepatu Dikreasikan Untuk Kesehatan. Seminar Nasional Karya Ilmiah Multidisiplin, 1(1), 129–135. https://journal.unilak.ac.id/index.php/senkim/article/view/7750.  Masnadi M, Manurung N dan Warsodirejo PP, 2019. Keanekaragaman Famili Malvaceae Di Hutan Taman Eden 100 Sebagai Bahan Perangkat Pembelajaran Biologi. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 2(2): 32-41.  https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/best/article/view/1816.  Lestari, 2021. Pemahaman Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) Sebagai Tanaman Obat Herbal. National Conference Of Islamic Natural Science Vol 2(1), 194-202 https://proceeding.iainkudus.ac.id/index.php/NCOINS/article/view/346.  Oktiarni, D., Ratnawati, D., & Sari, B. (2013). Pemanfaatan Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis Linn.) sebagai Pewarna Alami dan Pengawet Alami Pada Mie Basah. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 103–110. https://www.semanticscholar.org/paper/Pemanfaatan-Ekstrak-Bunga-Kembang-Sepatu-(Hibiscus-Oktiarni-Ratnawati/1d86a7f9a565c421dce181b76753349d6a8d04be. Murrukmihadi, M. (2019). Formulasi Sirup Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-sinensis L.) Varietas Warna Merah Muda dan Uji Aktivitas Mukolitiknya pada Mukus Saluran Pernapasan Sapi secara In Vitro. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, Vol. 4(1), pp. 17-22. https://jurnal.ugm.ac.id/majalahfarmaseutik/article/view/24077.   BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis) Latin Name Hibiscus rosa-sinensis Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Order : Malvales Family : Malvaceae Genus : Hibiscus Species : Hibiscus rosa-sinensis L. (Soerjani, 1987) General Definition Hibiscus rosa-sinensis, commonly known as the hibiscus flower, is widely found in Indonesia. H. rosa-sinensis is often found with a wide variety of flower petal colors. According to research by Masnadi et al. (2019), in the Eden 100 Forest located in the Lumbang Rang area, Sionggang Utara Village, Lumban Julu Subdistrict, Toba Samosir Regency, North Sumatra, the diversity of the Malvaceae family is dominated by Hibiscus sp. It can grow up to 10 meters tall in subtropical regions (typically 1–2.5 meters). The leaves are somewhat broad, thin, with a slightly tapered base, and the leaf margins are coarsely toothed. Additionally, the leaves are glossy green and have a broad oval shape. Hibiscus flowers grow singly, located in the leaf axils, and their colors vary from pink to red. They have a corolla with numerous red stamens, and 4–6 pistils are located at the tips of the stamens. The sepals form a line of equal length with the corolla 4. Compounds The flowers, leaves, and roots of the hibiscus plant contain flavonoids. The leaves contain saponins and polyphenols, while the roots contain tannins, saponins, scopoletin, cleomiscosin A, and cleomiscosin C. The flowers also contain polyphenols, which are compounds that give them a fresh taste. Hibiscus is used as a herbal medicine alongside other medicinal plants because it contains various compounds, including tannins, alkaloids, flavonoids, taraxeryl acetate, polyphenols, saponins, cyanidin, glycosides, hibiscetin, quercetin, calcium oxalate, and peroxidase. These compounds are capable of combating and weakening disease-causing organisms. (Efendi et al., 2021) Benefits Hibiscus flowers can be used for health purposes, including as a treatment for internal heat, diabetes mellitus, bronchitis, kidney disorders, irregular menstruation, wounds, fever, canker sores, cough, goiter, and headaches. Hibiscus preparations can also be used to lower blood pressure, reduce fat levels, aid weight loss, eliminate bacteria as an antiseptic, and contain compounds that may help prevent cancer. Preparation Methods Hibiscus flowers can be processed into syrup, tea, and natural food coloring. To prepare the tea, the hibiscus flowers are oven-dried or air-dried; simply steep one teaspoon of dried hibiscus flowers

BUNGA SEPATU (Hibiscus Rosa Sinensis) Read More »

Alang-Alang (Imperata cylindrica)

Nama Latin Imperata cylindrica Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Ordo : Poales Kelas : Liliopsida Famili : Poaceace Genus : Imperata Spesies : Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (ITIS, n.d.) Definisi Umum Alang-alang merupakan tanaman liar yang terkenal sebagai tanaman pengganggu pertanian akibat dari sifatnya yang mudah tumbuh dan cepat berkembang biak secara terus menerus terutama di tanah yang subur. Tumbuhan ini berkembang biak melalui biji yang mudah terbawa angin, alang-alang juga memperluas koloninya dengan cepat melalui rimpang yang sanggup menembus lapisan tanah secara efisien. Meskipun termasuk dalam kategori tanaman pengganggu pertanian, alang-alang juga termasuk tanaman obat. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, Alang-alang mengandung sejumlah unsur-unsur kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Unsur-unsur ini banyak terdapat pada bagian akar.  (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023). Kandungan Di dalam akar tanaman alang-alang (Imperata cylindrica) memiliki kandungan aktif utama yaitu Alkaloid, Karbohidrat, Fitosferol, Tannin, Saponin, Flafonoid, dan Protein/asam amino (Maryati et al., 2021). Khasiat Cara Pengolahan Akar dari tanaman alang-alang dapat diolah menjadi minuman herbal dengan cara sebagai berikut: Daftar Pustaka Afriannisa, A., Azhirakeisha, S. M., Rahma, L. H., & Aisyah, R. (2025). Pemanfaatan akar alang-alang sebagai alternatif herbal dan bahan fungsional berkelanjutan. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(2), 112–120. https://www.journal.stkipsubang.ac.id/index.php/didaktik/article/view/6085/3696 Fatah, A., Damayanti, S. E., Pratiwi, D. S., Taufik, Y., Ghaffar, R. M., Nurkanti, M., & Hasanah, N. (2024). Diversifikasi produk akar alang-alang, pakcoy, daun stevia dan mint hasil pertanian Desa Ciputri. Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS), 5(1). Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Imperata cylindrica (TSN 783590). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=783590 Loilatu, B., Rumra, M. Y., & Subhan, S. (2023). Pemanfaatan tumbuhan alang-alang (Imperata cylindrica L.) sebagai obat tradisional oleh masyarakat Desa Selasi Kabupaten Buru Selatan. HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1(2), 117–128. Maryati, M., Sulistyowati, E., & Widyaningrum, I. (2021). Efek antihiperlipidemia alang-alang (Imperata cylindrica) dan senyawa aktifnya: Review sistematik. Jurnal Bio Komplementer Medicine, 8(1). https://jim.unisma.ac.id/index.php/jbm/article/viewFile/13984/10749 Alang-Alang (Imperata cylindrica) Latin Name Imperata cylindrica Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Order: Poales Class: Liliopsida Family: Poaceae Genus: Imperata Species: Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (ITIS, n.d.) General Definition Imperata cylindrica is a wild plant known as an agricultural weed due to its ability to grow easily and reproduce rapidly and continuously, especially in fertile soil. This plant reproduces via seeds that are easily carried by the wind; it also rapidly expands its colony through rhizomes capable of efficiently penetrating soil layers. Although classified as an agricultural weed, alang-alang is also considered a medicinal plant. According to several studies, alang-alang contains various beneficial chemical compounds for health. These compounds are primarily found in the roots. (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023). Composition The roots of the alang-alang plant (Imperata cylindrica) contain the following primary active compounds: alkaloids, carbohydrates, phytosterols, tannins, saponins, flavonoids, and proteins/amino acids (Maryati et al., 2021). Benefits Relieves Internal Heat: Alang-alang root is widely used to alleviate symptoms of internal heat. Diuretic and Kidney Health: Alang-alang has a strong diuretic effect, helping to promote urination and maintain healthy kidney function. Its flavonoid content is believed to play a role in dissolving calcium in kidney stones. Anti-inflammatory and Antibacterial: The presence of phenols, alkaloids, and terpenoids provides natural antiseptic, antibacterial, and anti-inflammatory properties that help reduce inflammation and combat infections. Relieving Digestive Disorders: It can help alleviate inflammation in the digestive tract, including gastritis and excess stomach acid. Potential Antihypertensive Effects: Its diuretic properties may also help in managing hypertension (high blood pressure). (Afriannisa et al., 2025; Loilatu et al., 2023; Fatah et al., 2024) Preparation Method The roots of the alang-alang plant can be processed into a herbal drink as follows: Wash the alang-alang roots thoroughly, Cut the alang-alang roots into small pieces, Then boil the alang-alang roots until the extract is released, Add sugar and mint leaves to taste, Strain the boiled alang-alang roots, Cool the mixture, and pour it into a container or bottle, The alang-alang root infusion is ready to drink. (Fatah et al., 2024). Preparation Method The roots of the alang-alang plant can be processed into an herbal drink as follows: Wash the alang-alang roots thoroughly, Cut the alang-alang roots into small pieces, Then boil the alang-alang roots until the juice is released, Add sugar and mint leaves to taste, Strain the boiled alang-alang root mixture, Let the decoction cool, and package it in a container or bottle, The alang-alang root decoction is ready to consume. (Fatah et al., 2024). References Afriannisa, A., Azhirakeisha, S. M., Rahma, L. H., & Aisyah, R. (2025). Utilization of elephant grass roots as an alternative herbal remedy and sustainable functional ingredient. Didaktik: Scientific Journal of PGSD STKIP Subang, 11(2), 112–120. https://www.journal.stkipsubang.ac.id/index.php/didaktik/article/view/6085/3696 Fatah, A., Damayanti, S. E., Pratiwi, D. S., Taufik, Y., Ghaffar, R. M., Nurkanti, M., & Hasanah, N. (2024). Product diversification of elephant grass roots, pak choi, stevia leaves, and mint from agricultural production in Ciputri Village. National Conference on Community Service (KOPEMAS), 5(1). Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Imperata cylindrica (TSN 783590). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=783590 Loilatu, B., Rumra, M. Y., & Subhan, S. (2023). The use of elephant grass (Imperata cylindrica L.) as a traditional medicine by the community of Selasi Village, South Buru Regency. HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1(2), 117–128. Maryati, M., Sulistyowati, E., & Widyaningrum, I. (2021). The antihyperlipidemic effects of alang-alang (Imperata cylindrica) and its active compounds: A systematic review. Journal of Complementary Medicine, 8(1). https://jim.unisma.ac.id/index.php/jbm/article/viewFile/13984/10749

Alang-Alang (Imperata cylindrica) Read More »

Kunjungan PT. Naturindo Fresh Bersama Disperindagkop Mengunjungi Mitra UMKM di Kulon Progo

Kulon Progo, Agustus 2025 – PT. Naturindo Fresh berkesempatan melakukan kolaborasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kabupaten Kulon Progo untuk melakukan kunjungan pada beberapa kelompok wanita tani di daerah Kulon Progo. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengembangkan kemandirian bahan baku lokal serta pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh tim PT. Naturindo Fresh bersama Disperindagkop Kabupaten Kulon Progo kunjungan dilakukan pada empat lokasi, yaitu KWT Soka Hargowilis Kokap, KWT Gunungrejo Hargorejo Kokap, Dusun Kretek Glagah Temon, serta UMKM Cerme di Panjatan. Kunjungan dilakukan untuk menjalin kerja sama secara langsung dengan petani dalam pengembangan bahan baku sediaan obat bahan alam yang berkualitas. Dengan tersedianya bahan baku lokal yang berkualitas maka dapat menunjang adanya pengembangan produk – produk lokal berbasis hasil pertanian yang berkualitas baik dan terjaga dalam menunjang terbentuknya kemandirian dan penguatan ekonomi lokal. Dilakukannya kegiatan ini diharapkan dapat berdampak bagi penguatan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan petani daerah, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang ada di Kulon Progo.

Kunjungan PT. Naturindo Fresh Bersama Disperindagkop Mengunjungi Mitra UMKM di Kulon Progo Read More »

Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth)

Nama Tumbuhan Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Lamiales Famili : Lamiaceae Genus : Coleus Spesies : Coleus Aromaticus Benth (Safithri, 2017) Definisi Umum Daun jinten merupakan tanaman yang sering dipergunakan sebagai bumbu masakan yang berasal dari benua Afrika dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan pada berbagai negara seperti Asia,Afrika dan Amerika (Wadikar dan Patki, 2016). Daun jinten memiliki nama lain yaitu daun bangun-bangun atau torbangun, Oregano, Five season herb, Broad-leaf thyme, Patharchur, dan Indian borage (Rahmawati et al., 2021). Tanaman daun jinten memiliki ciri dengan daun berselang seling, tepi daun bergerigi, daun berbulu dan berwarna hijau (Nasution, 2017). Selain itu, batangnya bulat, berdaging dan berambut, berwarna hijau hingga merah muda, dan memiliki karakter aromatis. Akarnya berwarna coklat dan memiliki aroma. Bunganya berwarna ungu, dengan panjang 3-4 mm, bertangkai pendek, dalam rumpun panjang ramping yang tegak (Hullatti & Bhattacharjee, 2011). Kandungan Daun jinten mengandung senyawa penting atau metabolit sekunder seperti flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, steroid dan saponin (Sujamol et al., 2020). Tanaman ini terkenal akan rasa dan aroma mirip dengan oregano yang khas, menunjukkan variasi kandungan senyawa volatilnya seperti karvakrol, thymol, terpinen dan caryophyllene (Verma et al., 2012). Khasiat Daun jinten memiliki aktivitas biokimia sebagai memiliki kemampuan untuk menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat molekul yang sangat reaktif dan radikal bebas. (Silalahi dan Astuti, 2023). Daun jinten juga memiliki aktifitas biokimia lainnya seperti antimikrobial, antifungal, antiinflamasi, antibakterial, antidiabetes, antidiuretik, anxiolytic activity, antineoplastic, penyembuhan luka, penyakit pernapasan, antiurolithiatic, analgesik, artritis reumatoid, dan antiplatelet aggregation activity (Kumar et al., 2020). Khasiat daun jinten diantaranya juga dapat untuk mengobati batuk, infeksi tenggorokan, dan hidung tersumbat (Ramadahan, 2016). Selain itu, daun jinten juga dapat untuk memperlancar asi pada ibu menyusui (Oktiningrum dan Harjanti, 2023). Cara Pengolahan Pengolahan daun jinten secara tradisional dapat menggunakan beberapa cara, yaitu rebusan daun jinten sebagai teh dan kompres daun jinten. Perebusan daun jinten diawali mencuci daun segar, lalu direbus dan diminum hangat, atau dapat juga ditambahkan dengan madu (Satheesh et al., 2022). Kompres daun jinten yaitu dengan menumbuk daun jinten hingga menjadi pasta, lalu tempelkan pada kulit yang luka (Filipe et al., 2025). Selain itu, daun jinten juga dapat diolah sebagai simplisia daun jinten dengan daun dikeringkan, atau dapat juga sebagai lalapan atau bumbu masakan. Daftar Pustaka Filipe, M.S., Bangay, G., Brauning, F. Z., Ogungbemiro, F. O., Palma, B. B., Díaz-Lanza, A. M., … & Rijo, P. (2025). Plectranthus amboinicus: A Systematic Review of Traditional Uses, Phytochemical Properties, and Therapeutic Applications. Pharmaceuticals, 18(5), 707. https://doi.org/10.3390/ph18050707. Hullatti, K.K. and Bhattacharjee, P. (2011). Pharmacognostical evaluation of different parts of Coleus amboinicus lour., Lamiaceae. Pharmacognosy Journal, 3(24): 39–44. https://doi.org/10.5530/pj.2011.24.8. Kumar, P., Sangam, Kumar, N. (2020). Plectranthus amboinicus: a review on its pharmacological and, pharmacognostical studies. American journal of physiology, biochemistry and pharmacology, 10(2), 55–62. https://www.ajpbp.com/abstract/plectranthus-amboinicus-a-review-on-its-pharmacological-and-pharmacognosticalc-studies-48022.html. Nasution. N, Luthfi A. M. Siregar, E. S. Bayu. (2017). Karakteristik Pertumbuhan Vegetatif dari Beberapa Aksesi Tanaman Bangun-Bangun (Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng). Jurnal Agroekoteknologi, 5(1): 26-32. https://doi.org/10.32734/ja.v5i1.2286. Oktiningrum, M., & Harjanti, A. I. (2023). Literatur Review: Pemanfaatan Bahan Alam Guna Memperlancar ASI pada Ibu Menyusui. In Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo. 2(1), 138-146. https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/442. Rahmawati, R., Astuti, P., & Wahyuono, S. (2021). Profil Fitokimia dan Multipotensi dari Coleus amboinicus (Lour.). JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research, 6(2), 158-188. https://doi.org/10.20961/jpscr.v6i2.47436. Ramadhan, G. C. (2016). Uji daya analgetik ekstrak etanol daun jinten (Coleus amboinicus L.) pada mencit dengan metode rangsang kimia. Indonesian Journal on Medical Science, 3(2), 31-37. https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2926772&val=25832&title=UJI%20DAYA%20ANALGETIK%20EKSTRAK%20ETANOL%20DAUN%20JINTEN%20Coleus%20amboinicus%20L%20PADA%20MENCIT%20DENGAN%20METODE%20RANGSANG%20KIMIA. Satheesh, V., Kaur, J., Jarial, S., Ghosh, P., Sharma, K., Patni, M., … & Bhadariya, V. (2022). Indian borage: A comprehensive review on the nutritional profile and diverse pharmacological significance. The Pharma Innovation Journal, 11(6), 42-51. https://www.thepharmajournal.com/archives/?year=2022&vol=11&issue=6&ArticleId=13535. Silalahi, M. (2018). Plectranthus amboinicus (lour.) Spreng sebagai bahan pangan dan obat serta bioaktivitasnya. Jurnal Dinamika Pendidikan, 11(2), 123-138. http://repository.uki.ac.id/id/eprint/452. Sujamol, M. S., Roy, J., & James, K. M. (2021). Phytochemical screening and antimicrobial activity of Coleus aromaticus leaf extract. Materials Today: Proceedings, 41, 596-599. https://doi.org/10.1016/j.matpr.2020.05.255. Verma, R.S, Padalia, R.C.,and Chauhan, A. (2012). Essential oil composition of coleus aromaticus benth. from uttarakhand. Journal of Essential Oil-Bearing Plants, 15(2): 174–179. https://doi.org/10.1080/0972060X.2012.10644033. Wadikar, D.D., and Patki, P.E. (2016). Coleus aromaticus: a therapeutic herb with multiple potentials. J Food Sci Technol. 53(7): 2895-2901. https://doi.org/10.1007/s13197-016-2292-y. Cumin Leaves (Coleus Aromaticus Benth) Coriander Leaves (Coleus Aromaticus Benth) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Lamiales Family: Lamiaceae Genus: Coleus Species: Coleus Aromaticus Benth (Safithri, 2017) General Definition Cumin leaves are a plant commonly used as a culinary spice that originates from the African continent and is utilized as a food ingredient in various countries across Asia, Africa, and the Americas (Wadikar and Patki, 2016). Oregano is also known by other names, including bangun-bangun or torbangun, Oregano, Five season herb, Broad-leaf thyme, Patharchur, and Indian borage (Rahmawati et al., 2021). The oregano plant is characterized by alternate leaves, serrated leaf margins, hairy leaves, and a green color (Nasution, 2017). Additionally, the stem is round, fleshy, and hairy, ranging in color from green to pink, and possesses an aromatic quality. The roots are brown and aromatic. The flowers are purple, 3–4 mm long, with short stalks, arranged in slender, upright clusters (Hullatti & Bhattacharjee, 2011). Composition Cumin leaves contain important compounds or secondary metabolites such as flavonoids, phenols, alkaloids, tannins, steroids, and saponins (Sujamol et al., 2020). This plant is known for its distinctive flavor and aroma, similar to oregano, indicating variations in its volatile compound content, such as carvacrol, thymol, terpinene, and caryophyllene (Verma et al., 2012). Benefits Cumin leaves possess biochemical activity, specifically the ability to inhibit oxidative reactions by binding to highly reactive molecules and free radicals (Silalahi and Astuti, 2023). Cumin leaves also possess other biochemical activities, including antimicrobial, antifungal, anti-inflammatory, antibacterial, antidiabetic, antidiuretic, anxiolytic, antineoplastic, wound-healing, respiratory disease-relieving, antiurolithiatic, analgesic, rheumatoid arthritis-relieving, and antiplatelet aggregation activities (Kumar et al., 2020). The benefits of fennel leaves also include treating coughs, throat infections, and nasal congestion (Ramadahan, 2016). Additionally, fennel leaves can help increase breast milk production in breastfeeding

Daun Jinten (Coleus Aromaticus Benth) Read More »

Brotowali (Tinospora crispa)

Nama Tumbuhan Brotowali (Tinospora crispa) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Ranunculales Famili : Menispermaceae Genus : Tinospora Spesies : Tinospora crispa L. (Kresnady, 2003) Definisi Umum Brotowali termasuk jenis tanaman perdu yang tumbuh memanjang dengan tinggi mencapai sekitar 2,5 meter, dan cenderung berkembang baik di lingkungan yang panas. Batangnya berukuran kira-kira sebesar jari kelingking, memiliki permukaan berbintil rapat, dan dikenal dengan rasa yang sangat pahit. Daunnya bertangkai tunggal, berbentuk menyerupai jantung atau agak oval dengan ujung yang meruncing. Bunganya berukuran kecil, berwarna hijau muda, tersusun dalam tandan semu. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui metode stek (Margarethy et al., 2019). Brotowali merupakan tanaman liar yang dapat ditemukan tumbuh di hutan, ladang, atau dibudidayakan di dekat pagar, dan oleh masyarakat pedesaan dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang umum dimanfaatkan adalah batang dan daunnya. Kandungan Tanaman brotowali diketahui memiliki beragam senyawa kimia yang bermanfaat untuk membantu mengatasi berbagai jenis penyakit. Senyawa-senyawa aktif tersebut tersebar di seluruh bagian tanaman, mulai dari akar, batang, hingga daunnya. Bagian daun dan batang brotowali mengandung senyawa seperti alkaloid, saponin, dan tannin. Secara khusus, batang brotowali mengandung sekitar 2,22% alkaloid, serta senyawa lain seperti barberin, zat pahit, kolumbin, glikosida, dan pikokarotin (Firdaus et al., 2021). Khasiat Batang tanaman brotowali kerap digunakan sebagai bahan alami untuk membantu meredakan berbagai gangguan kesehatan seperti rematik, demam, penyakit kuning, batuk, dan infeksi cacing. Sementara itu, bagian daunnya dimanfaatkan secara tradisional untuk membersihkan luka pada kulit serta mengatasi rasa gatal (Maylina, 2019). Cara Pengolahan Brotowali memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, salah satunya digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan tradisional untuk meredakan reumatik. Cara pengolahannya cukup sederhana: ambil seukuran satu jari batang brotowali, cuci bersih, potong kecil-kecil, lalu rebus dengan tiga gelas air hingga airnya berkurang menjadi sekitar satu setengah gelas. Setelah disaring, tambahkan madu untuk mengurangi rasa pahit. Ramuan ini diminum tiga kali sehari, masing-masing sebanyak setengah gelas (Nisfiyanti, 2012). Daftar Pustaka Firdaus, M., Nazaruddin, N., & Cicilia, S. (2021). Efek Lama Perebusan terhadap Aktivitas Antioksidan Air Rebusan Batang Brotowali (Tinospora crispa L.). Journal of Food and Agricultural Product, 1(2), 71-81. https://doi.org/10.32585/jfap.v1i2.2076 Margarethy, I., Yahya, Y., & Salim, M. (2019). Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases, 5(2), 40-48. https://www.researchgate.net/publication/339407675_Kearifan_lokal_dalam_pemanfaatan_tumbuhan_untuk_mengatasi_malaria_oleh_pengobat_tradisional_di_Sumatera_Selatan Maylina, A. (2019). Studi Katalitik Herbal Pemanfaatan Tanaman Brotowali (Tinospora cordifolia) Sebagai Obat Penurun Kadar Glukosa Darah (Diabetes Mellitus). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689-1699. https://www.researchgate.net/publication/333128275_Studi_Katalitik_Herbal_Pemanfaatan_Tanaman_Brotowali_Tinospora_Cordifolia_sebagai_Obat_Penurun_Kadar_Glukosa_Darah_Diabetes_Mellitus Nisfiyanti, Y. (2012). Sistem Pengobatan Tradisional (Studi Kasus di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu). Patanjala, 4(1), 125-136. https://www.researchgate.net/publication/323787130_SISTEM_PENGOBATAN_TRADISIONAL_Studi_Kasus_di_Desa_Juntinyuat_Kecamatan_Juntinyuat_Kabupaten_Indramayu

Brotowali (Tinospora crispa) Read More »

ANDONG (Cordyline fruticosa L.)

Nama Tumbuhan Andong (Cordyline fruticosa L.) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Asparagales Famili : Asparagaceae Genus : Cordyline Spesies : Cordyline fruticosa (L.) A. Chev (ITIS, n.d.) Definisi Umum Tanaman andong (Cordyline fruticosa (L.) A. Chev) merupakan tanaman hias yang sering ditemukan pada berbagai daerah di Indonesia. Tanaman andong dapat digunakan sebagai tanaman pagar dan dapat dimanfaatkan juga sebagai alternatif pengobatan. Tanaman andong berasal dari Asia Timur dan dapat tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 1.900 mdpl. Tanaman andong memiliki batang keras dan dapat mencapai tinggi 5 meter. Memiliki daun tunggal berwarna merah kecoklatan atau hijau tua dan tersusun dalam bentuk spiral, daunnya berbentuk panjang lanset dengan ujung dan pangkal daun runcing serta memiliki tulang daun menyirip. Tanaman ini memiliki perakaran serabut. Bagian dari tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah bagian daunnya (Prayitno et al., 2024). Kandungan Kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman andong yaitu saponin, tanin, flavonoida, polifenol, steroid, polisakarida, kalsium oksalat, dan zat besi (Wijaya et al., 2015). Andong merah juga mengandung alkaloid, glikosida jantung, kumarin, glikosida, dan senyawa fenolik (Prestisya et al., 2025). Khasiat Bagian tanaman andong yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah bunga, akar, dan daunnya. Akar tanaman andong berkhasiat mengobati air kemih berdarah, wasir berdarah, nyeri lambung, dan ulu hati. Daunnya berkhasiat sebagai obat sakit kepala, diare, disentri, TB paru, asma, sakit kulit, inflamasi mata, sakit punggung, rematik, dan encok (Wijaya et al., 2015). Cara Pengolahan Tanaman andong dapat digunakan untuk pengobatan luka bakar yaitu dengan menghaluskan daunnya dan membalutkannya pada bagian yang terluka (Prayitno et al., 2024). Cara lain yang dapat digunakan untuk mengkonsumsi tanaman andong sebagai obat yaitu dengan merebus daun segar atau bunga kering dengan tiga gelas air sampai air tersisa satu gelas, setelah dingin disaring dan dibagi tiga untuk diminum  pada pagi, siang dan malam (Usman et al., 2023). Daftar Pustaka Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Cordyline fruticosa (TSN 43183). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=43183 Prayitno, S., Edikamal, S., & Izza, N. (2024). Efektivitas Ekstrak Daun Andong Terhadap Kesembuhan Luka Bakar Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus). Media Farmasi, 20(2), 264-271. https://doi.org/10.36733/medicamento.v5i2.848 Prestisya, I. A., Kristanto, C., & Nur, F. M. (2025). Pemanfaatan Tanaman Andong Merah (Cordyline Fruticosa Linn.) dalam Formulasi Hydrogel Berbasis Starch-Gelatin Sebagai Kombinasi Polimer Alami Alternatif untuk Bentuk Sediaan Jamu: Utilization of Cordyline Fruticosa Linn. In Starch-Gelatin Hidrogel-Based Formulation as an Alternative Natural Polymer Combination for Jamu Dosage Form. Jurnal Sains dan Kesehatan, 6(2), 73-81. https://doi.org/10.30872/jsk.v6i2.630 Usman, Y. P. U., & Jariah, A. (2023). Skrining fitokimia dan uji sitotoksik ekstrak etanol daun andong merah (Cordyline fruticosa). Jurnal Katalisator, 8(1), 156-165. https://doi.org/10.62769/katalisator.v8i1.1704 Wijaya, L., Saleh, I., Theodorus, T., & Salni, S. (2015). Efek antiinflamasi fraksi daun andong (Cordyline Fruticosa L) pada tikus putih jantan (Rattus Norvegicus) galur spraque dawley. Biomedical Journal of Indonesia, 1(1), 16-24. https://core.ac.uk/download/pdf/267825323.pdf ANDONG (Cordyline fruticosa L.) Plant Name Andong (Cordyline fruticosa L.) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Asparagales Family: Asparagaceae Genus: Cordyline Species: Cordyline fruticosa (L.) A. Chev (ITIS, n.d.) General Definition The andong plant (Cordyline fruticosa (L.) A. Chev) is an ornamental plant commonly found in various regions of Indonesia. It can be used as a hedge plant and also serves as an alternative medicinal remedy. The andong plant is native to East Asia and can grow from lowlands up to an elevation of 1,900 meters above sea level. It has a hard stem and can reach a height of 5 meters. It features simple leaves that are reddish-brown or dark green, arranged in a spiral pattern; the leaves are lanceolate in shape with pointed tips and bases, and have pinnate venation. This plant has a fibrous root system. The part of the plant most commonly used for medicinal purposes is the leaves (Prayitno et al., 2024). Composition The bioactive compounds found in the andong plant include saponins, tannins, flavonoids, polyphenols, steroids, polysaccharides, calcium oxalate, and iron (Wijaya et al., 2015). Red andong also contains alkaloids, cardiac glycosides, coumarins, glycosides, and phenolic compounds (Prestisya et al., 2025). Method of Preparation The andong plant can be used to treat burns by grinding its leaves into a paste and applying it to the affected area (Prayitno et al., 2024). Another method for using the andong plant as a remedy involves boiling fresh leaves or dried flowers in three cups of water until the liquid is reduced to one cup; after cooling, strain the mixture and divide it into three portions to be consumed in the morning, afternoon, and evening (Usman et al., 2023). References Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Cordyline fruticosa (TSN 43183). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=43183 Prayitno, S., Edikamal, S., & Izza, N. (2024). The Effectiveness of Andong Leaf Extract on Burn Wound Healing in Rabbits (Oryctolagus cuniculus). Media Farmasi, 20(2), 264-271. https://doi.org/10.36733/medicamento.v5i2.848 Prestisya, I. A., Kristanto, C., & Nur, F. M. (2025). Utilization of Red Andong Plant (Cordyline Fruticosa Linn.) in Starch-Gelatin-Based Hydrogel Formulations as an Alternative Natural Polymer Combination for Jamu Dosage Forms: Utilization of Cordyline Fruticosa Linn. in Starch-Gelatin-Based Hydrogel Formulations as an Alternative Natural Polymer Combination for Jamu Dosage Forms. Journal of Science and Health, 6(2), 73-81. https://doi.org/10.30872/jsk.v6i2.630 Usman, Y. P. U., & Jariah, A. (2023). Phytochemical screening and cytotoxicity testing of ethanol extracts from red cordyline (Cordyline fruticosa) leaves. Jurnal Katalisator, 8(1), 156–165. https://doi.org/10.62769/katalisator.v8i1.1704 Wijaya, L., Saleh, I., Theodorus, T., & Salni, S. (2015). Anti-inflammatory effects of andong leaf fractions (Cordyline Fruticosa L) on male Sprague-Dawley strain white rats (Rattus Norvegicus). Biomedical Journal of Indonesia, 1(1), 16-24. https://core.ac.uk/download/pdf/267825323.pdf

ANDONG (Cordyline fruticosa L.) Read More »

Kemiri (Aleurite moluccana L.)

Nama Tumbuhan Kemiri (Aleurite moluccana L.) Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Aleurites Spesies : Aleurite moluccana L. (Dibyo Pranowo, 2015) Definisi Umum Tanaman kemiri merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur pada daerah dengan tanah yang berpasir dan tanah yang kurang subur sekalipun. Tanaman kemiri berasal dari Kepulauan Hawaii, yang kemudian menyebar ke negara lain termasuk Indonesia dan pertama kali tumbuh di Maluku. Tanaman kemiri dapat ditemukan pada daerah dengan ketinggian 150-1000 mdpl (Arlene, 2013).  Kemiri dapat tumbuh optimal pada daerah beriklim agak kering hingga basah dengan curah hujan 1.500-2.500 mm/tahun, dengan suhu udara 24-30°C, dan kelembaban udara 71-88% (Taslim, 2016). Tanaman kemiri memiliki pohon besar dengan tinggi mencapai 25-40 m, beranting banyak, dan mempunyai tunas muda yang tertutup rapat oleh bulu yang berwarna putih keabu-abuan atau coklat. Daun muda berlekuk tiga atau lima, sedangkan daun tuanya berbentuk bulat dengan ujung daunnya meruncing. Bunga kemiri merupakan bunga majemuk berumah satu dengan warna putih dan bertangkai pendek. Buah kemiri memiliki kulit keras dengan diameter 5 cm dan di dalamnya terdapat satu atau dua biji yang diselubungi oleh tempurung yang keras dengan permukaan kasar dan beralur (Ketaran, 1986). Kandungan Kandungan senyawa aktif dalam tanaman kemiri berupa senyawa flavonoid, polifenol, vitamin, folat, protein, karbohidrat, tanin, alkaloid, saponin, steroid, dan terpenoid (Anaba dan Mayasari, 2021). Khasiat Tanaman kemiri memiliki banyak khasiat bagi tubuh, seperti membantu meningkatkan sistem pencernaan, meringankan infeksi jamur, mengurangi resiko penyakit jantung, mengatasi insomnia/susah tidur, menjaga kesehatan tulang dan sendi, dan lain-lain (Sutejo et al., 2023). Cara Pengolahan Kemiri telah banyak digunakan dalam pengobatan, salah satunya digunakan untuk membantu permasalahan pencernaan (sembelit). Bagian yang digunakan adalah bijinya, biji kemiri dibakar kemudian dioleskan di perut (Suarni et al., 2021). Daftar Pustaka Anaba, F., & Mayasari, N. L. P. I. (2021). Potensi Infusa Kemiri (Aleurites moluccana) sebagai Analgesik dan Stimulator Stamina. Acta VETERINARIA Indonesiana, 9(1), 14-20. https://doi:10.29244/avi.9.1.14-20 Arlene, A. (2013). Ekstraksi kemiri dengan metode soxhlet dan karakterisasi minyak kemiri. Jurnal Teknik Kimia USU, 2(2), 6-10. https://doi.org/10.32734/jtk.v2i2.1430 Ketaren, S. (1986) ‘Minyak dan Lemak Pangan’, edisi 1, Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta. Suarni, S., Syarifuddin, K. A., & Hafid, M. (2021). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kemiri (Aleurites moluccana) Dengan Metode DPPH (1, 1-Diphenyl-2-picrylhydrazil). Fito Medicine: Journal Pharmacy and Sciences, 13(1), 47-51. https://journal.unpacti.ac.id/index.php/FITO/article/view/417/238 Sutejo, A., & Fajri, R. (2023). Optimasi Kecepatan Putar dalam Peningkatan Mutu Biji Kemiri pada Mesin Pemecah Cangkang Biji Kemiri (Aleurites moluccana Willd.). Jurnal Agricultural Biosystem Engineering, 2(1), 48-66. https://doi.org/10.23960/jabe.v2i1.6751 Taslim, I. (2016). Analisis kesesuaian iklim untuk lahan perkebunan di Kabupaten Bone Bolango. Jurnal Bindhe ISSN, 2301, 5713. https://doi.org/10.31227/osf.io/3bsxq

Kemiri (Aleurite moluccana L.) Read More »

Binahong (Anredera cordifolia)

Nama Tumbuhan Binahong (Anredera cordifolia) Taksonomi Tumbuhan Kingdom  : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo     : Caryophyllales Famili   : Basellaceae Genus   : Anredera Spesies  : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis (ITIS, n.d.) Definisi Umum Binahong adalah tanaman yang tumbuh di dataran rendah maupun tinggi dan diduga berasal dari Australia dan menyebar ke Pulau Pasifik lainnya (Damayanti et al., 2022). Binahong memiliki habitat ditempat teduh dan agak lembab, dimana tingkat cahaya matahari tidak terlalu tinggi, pada kondisi lingkungan yang baik, binahong dapat tumbuh sampai 7 meter (Dadiono dan Andayani, 2022). Binahong merupakan tanaman merambat sukulen hingga ±5 m, berakar rhizoma lunak, batang silindris, berwarna hijau kemerahan, lunak, dan saling melilit. Daun tunggal berbentuk hati berwarna hijau cerah, tersusun berseling, bertepi rata, ujung runcing, pangkal berbentuk hati, serta permukaan halus dan tipis. Bunganya kecil, putih krem, harum, tumbuh di ketiak daun dalam malai (Salim et al., 2021). Kandungan Binahong mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid, saponin dan tanin (Fatonah et al., 2021). Selain itu, binahong juga memiliki kandungan vitamin C yang dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi, berperan dalam penyembuhan luka, dan juga sebagai antioksidan (Wijayanti et al., 2016). Khasiat Binahong mempunyai khasiat yang dapat untuk mengobati luka dalam, keputihan, mengobati sariawan, dan meningkatkan daya tahan tubuh (Putra et al., 2020). Selain itu binahong juga dapat untuk mengurangi rasa nyeri, migrain, peradangan pasca operasi dan peradangan tenggorokan, asam urat, rematik dan dapat menormalkan kembali kadar kolesterol dalam darah (Anggraini dan Ali, 2017). Cara Pengolahan Pengolahan daun binahong secara tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti direbus atau dioleskan pada luka. Perebusan daun binahong dimulai dengan pemetikan daun muda yang bersih, kemudian dicuci dan dikeringkan secara teduh untuk dijadikan serbuk atau teh herbal (Gusnimar et al., 2021). Jika untuk luka atau kompres, daun binahong yang segar ditumbuk terlebih dahulu atau dihancurkan lalu diaplikasikan langsung sebagai kompres pada luka (Situmorang et al., 2022). Daftar Pustaka Anggraini,D.I. & Ali, M.M., (2017). Uji aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun binahong (Anredera cordifolia (TEN) Steenis) secara in vitro, Jurnal Ilmiah Kesehatan,9(1):1-6. https://scispace.com/papers/uji-aktivitas-antikolesterol-ekstrak-etanol-daun-binahong-2bcr4kagn7. Dadiono, M. S., & Andayani, S. (2022). Potensi Tanaman Binahong (Anredera cordifolia) Sebagai Obat Alternatif Pada Bidang Akuakultur. Jurnal Perikanan Pantura (JPP), 5(1), 156-162. https://doi.org/10.30587/jpp.v5i1.3769. Damayanti, S. P., Mariani, R., & Nuari, D. A. (2022). Studi Literatur: Aktivitas Antibakteri Daun Binahong (Anredera cordifolia) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice), 9(1), 42-48. https://jurnal.ukwms.ac.id/index.php/JFST/article/view/3367/3011. Fatonah, R., & Mulyaningsih, S. (2021). Penentuan kadar total tanin dari ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia). Jurnal Life Science: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 3(2). https://repository.institutpendidikan.ac.id/id/eprint/1563/. Gusnimar, R., Veri, N., & Mutiah, C. (2021). Pengaruh Air Rebusan Daun Binahong Dalam Mempercepat Penyembuhan Luka Perineum Masa Nifas. Sel Jurnal Penelitian Kesehatan, 8(1), 15-23. https://doi.org/10.22435/sel.v8i1.4521. Putra, A.A.G.R.Y., Samirana, P.O.and Andhini, D.A.A., 2020, Isolasi dan karakterisasi senyawa flavonoid potensial antioksidan dari daun binahong (Anredera scandens (L.) Moq.), Jurnal Farmasi Udayana, 8(2): 90, https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i02.p05. Salim, A., Kristanto, D. F., Subianto, F., Sundah, J. E., Jamaica, P. A., Angelika, T., & Maulida, N. F. (2021). Phytochemical screening and therapeutic effects of Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Leaves. Indonesian Journal of Life Sciences| ISSN: 2656-0682 (online), 3(2), 43-55. https://doi.org/10.54250/ijls.v3i2.125. Situmorang, G. A., Yamamoto, Z., Ichwan, M., & Prayugo, B. (2022). Anredera cordifolia leaves extract accelerates the wound healing of normal and hyperglycemic rats. Pharmaciana, 12 (1), 39-48. http://dx.doi.org/10.12928/pharmaciana.v12i1.21218. Wijayanti, D., Setiatin, E. T., & Kurnianto, E. (2016). Efek ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) terhadap profil darah merah pada marmut (Cavia cobaya). Jurnal Sain Veteriner, 34(1), 75-83. https://doi.org/10.22146/jsv.22818.

Binahong (Anredera cordifolia) Read More »

Kayu Manis (Cinnamomum cassia Nees ex BI)

Nama Tumbuhan Kayu Manis (Cinnamomum cassia Nees ex BI) Klasifikasi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus : Cinnamomum Spesies : Cinnamomum burmanni (Kew Science – POWO, 2025) Definisi Umum Kayu manis (Cinnamomum burmanni) didefinisikan sebagai tanaman berkayu yang dasaarnya saebagai rempah-rempah. Tanaman kayu manis memiliki daun berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing. Kayu manis memiliki aroma yang tajam, hangat dan manis (Pagune et al., 2023). Kayu manis paling baik dibudidayakan di dataran rendah hutan hujan tropis dengan suhu rata-rata 29,8 ºC dan curah hujan 85-100 inchi. Tanaman kayu manis juga dapat ditanam pada berbagai jenis tanah dari dataran rendah sampai sedang pada ketinggian 0-600 mdpl (Suryani et al., 2017). Kandungan Kayu manis (C. burmannii) mengandung beragam senyawa polifenol dan minyak atsiri, terutama cinnamaldehyde yang mencapai 62–90% dari minyak atsiri kulit batang, yang berperan penting dalam aroma, rasa, serta efek terapeutik. Kayu manis mengandung senyawa bioaktif seperti asam vanilat, asam kafeat, asam galat, asam protokatekuat, asam p-kumarat, dan asam ferulat, serta komponen lain seperti cinnamate, asam sinamat, eugenol, dan procyanidins (Yuwanda et al., 2023). Khasiat Kayu manis (C. burmannii) memiliki berbagai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan berkat kandungan senyawa bioaktif seperti minyak atsiri, asam sinamat, sinamaldehida, tanin, flavonoid, triterpenoid, dan saponin. Senyawa-senyawa ini memberikan efek farmakologis, antara lain sebagai penurun gula darah, pengendali kolesterol, antipenggumpalan sel darah merah, serta pencegah aterosklerosis dan kanker melalui aktivitas antioksidan yang tinggi. Sinamaldehida diketahui dapat menurunkan risiko stroke, mengontrol diabetes melitus, serta memiliki sifat antimikroba terhadap Helicobacter pylori. Kayu manis juga dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai keluhan seperti rematik, diare, nyeri lambung, perut kembung, demam, hingga meningkatkan vitalitas. Selain itu, kandungan antibakteri, antijamur, dan antitumor membuatnya berpotensi sebagai bahan obat infeksi, termasuk penyakit mulut seperti angular cheilitis (Maslahah dan Nurhayati, 2023). Cara Pengolahan Cara pembuatan kayu manis untuk pengobatan, khususnya dalam mengurangi nyeri pada penderita gout artritis, dilakukan melalui proses sederhana yang memanfaatkan kulit kayu manis sebagai bahan utama. Kulit kayu manis yang telah dibersihkan digunakan dalam bentuk olahan tradisional, misalnya direbus untuk diambil sarinya atau diolah menjadi minuman herbal yang mudah dikonsumsi. Kegiatan ini biasanya diawali dengan penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat kayu manis, kandungan senyawa aktifnya, dan peranannya sebagai antiinflamasi, analgesik, serta antirematik. Setelah itu dilakukan demonstrasi langsung tentang teknik pengolahan, seperti memilih kulit kayu manis berkualitas, membersihkannya, lalu merebusnya dalam air bersih hingga menghasilkan ekstrak beraroma khas. Ekstrak ini dapat diminum secara rutin sebagai pengobatan nonfarmakologis untuk meredakan nyeri, peradangan, dan gejala lain akibat gout artritis, sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderita (Aprilla et al., 2023). Daftar Pustaka Aprilla, N., Syafriani, S., & Safitri, D. E. (2023). Pengolahan Kayu Manis Untuk Mengurangi Nyeri Pada Penderita Gout Artritis. Communnity Development Journal, 3(3), 1997-1999. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/view/7730/7274 Maslahah, N. N., & Nurhayati, H. (2023). Kandungan senyawa bioaktif dan kegunaan tanaman kayu manis (Cinnamomum burmannii). Warta BSIP Perkebunan, 1(3), 5-7. https://epublikasi.pertanian.go.id/berkala/wartabun/article/view/3458/3539 Pagune, J., Laboko, A. L., Anto, A., & Pou, M. (2023). Karakteristik Fisikokimia dan Hedonik Terhadap Pembuatan Minuman Herbal Binahong (Anredera cordifolia) dengan Penambahan Kayu Manis. Jurnal: Agricultural Review, 2(2), 48-59 https://doi.org/10.37195/arview.v2i2.652 Suryani, E., Nurmansyah, S. P., & Rostiana, O. (2017). Pertumbuhan, produktivitas dan kualitas lima belas aksesi kayumanis ceylon pada dataran sedang Solok Sumatera Barat. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 28(2), 105-112 https://dx.doi.org/10.21082/bullittro.v28n2.2017.105-112 Yuwanda, A., Adina, A. B., & Budiastuti, R. F. (2023). Kayu Manis (Cinnamomum burmannii (Nees and T. Nees) Blume): Review tentang Botani, Penggunaan Tradisional, Kandungan Senyawa Kimia, dan Farmakologi. Journal of Pharmacy and Halal Studies, 1(1), 17-22. https://doi.org/10.70608/3mk0s904

Kayu Manis (Cinnamomum cassia Nees ex BI) Read More »

Bugenvil (Bougenvillea spectabilis Wild)

Nama Tumbuhan Bugenvil (Bougenvillea spectabilis Wild) Taksonomi Tumbuhan Kingdom  : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas    : Magnoliopsida Ordo     : Caryophyllales Famili   : Nyctaginaceae Genus   : Bougenvillea Spesies: Bougenvillea spectabilis Wild. (Nurin Afrina, et al 2023) Definisi Umum Bougenville atau disebut sebagai “Bunga Kertas” merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak kita jumpai di wilayah tropis seperti Indonesia. Bunga ini dinamakan bunga kertas karena memiliki kelopak dengan tekstur yang mirip kertas (Fadillah et al., 2020). Tanaman bunga kertas merupakan tanaman yang sangat cocok ditanam di daerah yang panas karena tanaman bunga kertas tidak memerlukan banyak udara. Tanaman bunga kertas termasuk ke dalam tanaman bunga tropis. Tanah yang digunakan untuk budidaya tanaman bunga kertas adalah tanah yang agak kering (Hannia et al., 2021). Tanaman bunga kertas biasanya dapat tumbuh mencapai 1-15 meter. Tekstur batang yang keras dan memiliki percabangan yang banyak dan juga ditumbuhi duri tajam pada bagian batang dan cabangnya. Bentuk bunganya berukuran kecil dan menyerupai terompet terdiri dari kelopak dan di lapisi dengan selundang bunga (Umaternate et al., 2022). Kandungan Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman bougenville berupa alkaloid, saponin, flavonoid, fenol, glikosida, tanin, furanoid, dan sejumlah kecol glukosa (Simatupang et al., 2021). Khasiat Khasiat atau manfaat dari tanaman bunga kertas (bougenville) adalah bunga dan daun bunga kertas memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antiulcer, antidiabetes, antidiarrheal, dan antimikroba (Abarca, 2018). Cara Pengolahan Tumbuhan bugenvil secara tradisional dapat digunakan untuk mengobati bisul, hepatitis, dan keputihan dengan cara meminum air rebusan bunga bugenvil (Ambasalu et al., 2015). Daftar Pustaka Abarca-Vargas, R., & Petricevich, V.L. (2018). Bougainvilleagenus: A review on phytochemistry,pharmacology, and toxicology. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine https://doi.org/10.1155/2018/9070927 Ambasalu, T. G., Ardana, M., & Masruhim, M. A. (2015). Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis) terhadap tikus putih galur wistar. https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.31 Fadillah, M. R., Andika, B., & Saripurna, D. (2020). Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Dan Hama Penyerang Tanaman Bougenville Dengan Metode Teorema Bayes. Jurnal SAINTIKOM (Jurnal Sains Manajemen Informatika Dan Komputer), 19(1), 88-99. https://doi.org/10.53513/jis.v19i1.229 Hannia, D. J., Oktiansyah, R., Ekaprasetio, A., Putri, A., & Arief, A. (2021, September). Pengaruh Panjang Entres Tanaman Bunga Kertas (Bougainvillea spectabilis) dengan Metode Grafting di UPTD Balai Pengembangan dan Produksi Benih Tanaman Pangan. In Prosiding Seminar Nasional Biologi (Vol. 1, No. 1, pp. 79-87). https://doi.org/10.24036/prosemnasbio/vol1 Simatupang, R. A., Tombuku, J. L., Pareta, D. N., & Lengkey, Y. K. (2021). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bunga Bougenville Bougainvillea glabra Sebagai Antioksidan. Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutical), 4(1), 30-39. https://doi.org/10.55724/j.biofar.trop.v4i1.305Umaternate, H., Munawar, S., & Soamole, R. (2022). Karakteristik morfologi bunga kertas (Bougenville). JBES: Journal of Biology Education and Science, 2(2), 76-85. https://jurnal.stkipkieraha.ac.id/index.php/jbes Bugenvil (Bougenvillea spectabilis Wild) Plant Name Bougainvillea (Bougenvillea spectabilis Wild) Plant Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Order : Caryophyllales Family : Nyctaginaceae Genus : Bougenvillea Species: Bougenvillea spectabilis Wild. (Nurin Afrina, et al 2023) General Definition Bougainvillea, also known as the “Paper Flower,” is a type of plant commonly found in tropical regions such as Indonesia. It is called the paper flower because its petals have a texture similar to paper (Fadillah et al., 2020). The paper flower plant is highly suitable for cultivation in hot regions because it does not require much water. It is classified as a tropical flowering plant. The soil used for cultivating the paper flower plant should be slightly dry (Hannia et al., 2021). Paper flowers typically grow to a height of 1–15 meters. The stems are hard, heavily branched, and covered with sharp thorns on both the stems and branches. The flowers are small and trumpet-shaped, consisting of petals and covered with a calyx (Umaternate et al., 2022). Components The active compounds found in bougainvillea include alkaloids, saponins, flavonoids, phenols, glycosides, tannins, furanodis, and various glucose derivatives (Simatupang et al., 2021). Benefits The benefits of the bougainvillea plant include the fact that its flowers and leaves possess antioxidant, anti-inflammatory, anti-ulcer, antidiabetic, antidiarrheal, and antimicrobial properties (Abarca, 2018). Method of Preparation Traditionally, the bougainvillea plant can be used to treat boils, hepatitis, and vaginal discharge by drinking a decoction of bougainvillea flowers (Ambasalu et al., 2015). References Abarca-Vargas, R., & Petricevich, V.L. (2018). Bougainvillea genus: A review on phytochemistry, pharmacology, and toxicology. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicinehttps://doi.org/10.1155/2018/9070927 Ambasalu, T. G., Ardana, M., & Masruhim, M. A. (2015). Evaluation of the anti-inflammatory activity of Bougainvillea spectabilis flower ethanol extract in Wistar rats. https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.31 Fadillah, M. R., Andika, B., & Saripurna, D. (2020). Expert System for Diagnosing Diseases and Pests Affecting Bougainvillea Plants Using Bayes’ Theorem. Jurnal SAINTIKOM (Journal of Science, Management, Informatics, and Computer Science), 19(1), 88-99. https://doi.org/10.53513/jis.v19i1.229 Hannia, D. J., Oktiansyah, R., Ekaprasetio, A., Putri, A., & Arief, A. (September 2021). The Effect of Cutting Length on Paper Flower (Bougainvillea spectabilis) Plants Using the Grafting Method at the UPTD Center for the Development and Production of Food Crop Seeds. In Proceedings of the National Biology Seminar (Vol. 1, No. 1, pp. 79-87). https://doi.org/10.24036/prosemnasbio/vol1 Simatupang, R. A., Tombuku, J. L., Pareta, D. N., & Lengkey, Y. K. (2021). Antioxidant Activity Test of Bougainvillea glabra Flower Extract. Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutical), 4(1), 30–39. https://doi.org/10.55724/j.biofar.trop.v4i1.305Umaternate H., Munawar S., & Soamole R. (2022). Morphological characteristics of paper flowers (Bougainvillea). JBES: Journal of Biology Education and Science, 2(2), 76-85. https://jurnal.stkipkieraha.ac.id/index.php/jbes

Bugenvil (Bougenvillea spectabilis Wild) Read More »

Scroll to Top