Koleksi Tanaman Obat

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl)

Nama Latin Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malvales Famili : Thymelaeaceae Genus : Phaleria Spesies : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl (Meiyanti, 2022) Definisi Umum Phaleria macrocarpa yang dikenal dengan nama mahkota dewa merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Thymelaeaceae dan cukup populer di Indonesia sebagai tanaman obat. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di wilayah Pulau New Guinea. Mahkota dewa merupakan tanaman yang memiliki bagian lengkap seperti batang, daun, bunga, dan buah. Tinggi tanaman ini bervariasi, mulai dari sekitar 1 meter hingga mencapai 18 meter, dengan panjang akar kurang lebih 1 meter. Kulit batangnya berwarna coklat kehijauan, sedangkan bagian kayunya berwarna putih. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk meruncing, dengan ukuran panjang sekitar 7–10 cm dan lebar 3–5 cm. Bunganya memiliki 2–4 kelopak dengan warna yang bervariasi, mulai dari hijau hingga merah marun. Buah mahkota dewa berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi merah saat telah matang. Setiap buah biasanya mengandung 1–2 biji yang berwarna coklat, berbentuk lonjong, dan memiliki tipe anatrop. Tanaman ini sering digunakan dalam pengobatan herbal karena mengandung berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Kandungan Manfaat tanaman mahkota dewa sebagai obat berkaitan erat dengan kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalamnya. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif seperti mineral, vitamin C, vitamin E, alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin. Khasiat Senyawa alkaloid berperan dalam proses detoksifikasi dengan cara membantu menetralkan racun di dalam tubuh. Saponin memiliki aktivitas sebagai antibakteri dan antivirus, serta dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas, sedangkan polifenol berperan sebagai antihistamin. Selain itu, tanaman mahkota dewa juga dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, batu ginjal, dan diare. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai minuman teh fungsional serta sebagai suplemen alami untuk membantu meningkatkan stamina tubuh. Cara Pengolahan a. Ambil buah mahkota dewa yang matang b. Cuci bersih dan iris tipis c. Rebus sekitar 3-5 irisan dengan 2-3 gelas air d. Rebus hingga tersisa kurang lebih 1 gelas e. saring dan minum setelah dingin DAFTAR PUSTAKA Kurang, R. Y., & Malaipada, N. A. (2021). Uji fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Sebatik, 25(2), 767-772. Santoso, F. J. P., & Rangka, F. M. (2025). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Pro-Life, 12(2), 143-156. Kalusalingam, A., Kamal, K., Khan, A., Menon, B., Tan, C. S., Narayanan, V., … & Ming, L. C. (2024). Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. in Ethnopharmacology: Pharmacognosy, Safety, and Drug Development Perspectives. Progress In Microbes & Molecular Biology, 7(1). Meiyanti,  Margo E., Merijanti L., Chudri J., Yohana (2022). Efek Hipoglikemik dan Antioksidan Phaleria macrocarpa (Sheff.) Boerl. Buku 978-623-285-781-0. Yayasan Barcode. Makassar.

MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) Read More »

Asparagus (Asparagus officinalis)

Nama Latin Asparagus Officinalis Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi      : Magnoliophyta (Angiospermae) Kelas      : Liliopsida (Monokotil) Ordo       : Asparagales Famili     : Asparagaceae Genus     : Asparagus Spesies   : Asparagus officinalis L (Putri, 2024) Definisi Umum Asparagus (Asparagus officinalis L.) merupakan tanaman herba tahunan yang berasal dari wilayah Mediterania dan Asia Kecil dan dimanfaatkan bagian batang mudanya sebagai bahan pangan. Tanaman ini dikenal memiliki nilai gizi tinggi karena rendah kalori, kaya serat, serta mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti vitamin, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat bagi kesehatan (He et al., 2024). Asparagus memiliki sistem perakaran rimpang yang bersifat permanen sehingga mampu menghasilkan tunas secara berulang dalam satu periode tanam yang panjang. Pertumbuhan asparagus sangat berkaitan dengan proses pemanjangan sel batang yang dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis, metabolisme gula, serta keseimbangan hormon tanaman, yang secara langsung memengaruhi kualitas tunas dan hasil produksi. Karakteristik tersebut menjadikan asparagus sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan prospek pengembangan yang baik, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar pangan segar dan olahan Kandungan Tanaman asparagus (Asparagus officinalis L.) memiliki berbagai kandungan gizi dan senyawa alami yang bermanfaat, baik bagi pertumbuhan tanaman maupun bagi kesehatan manusia. Bagian batang asparagus, terutama tunas mudanya, merupakan bagian yang paling sering dikonsumsi karena mengandung kadar air yang tinggi, kaya serat, dan rendah kalori, sehingga baik untuk kesehatan pencernaan serta membantu menjaga berat badan. Batang asparagus juga kaya akan vitamin seperti vitamin A, C, E, K, serta vitamin B kompleks, terutama asam folat, yang berperan penting dalam proses metabolisme dan pembentukan sel darah merah. Selain itu, asparagus mengandung mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang, fungsi otot, serta keseimbangan cairan tubuh. Menurut Shahrajabian et al. (2020), asparagus mengandung berbagai senyawa fitokimia, antara lain flavonoid, polifenol, dan saponin, yang memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi melindungi tubuh dari stres oksidatif. Sementara itu, bagian akar asparagus yang berbentuk rimpang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan berupa karbohidrat kompleks seperti fruktan dan inulin. Senyawa inulin dikenal berperan sebagai prebiotik yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan (Shahrajabian et al., 2020). Dengan kandungan tersebut, asparagus tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tetapi juga berperan sebagai sayuran fungsional yang mendukung kesehatan tubuh secara alami. Khasiat Kandungan serat pada asparagus membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan berpotensi menurunkan risiko kanker usus besar, karena konsumsi serat yang cukup dapat melindungi usus dari gangguan kesehatan. Asparagus tergolong rendah kalori, mengandung banyak air, dan kaya serat, sehingga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung program pengendalian berat badan. Kandungan asam amino asparagine pada asparagus membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan dan garam, sehingga dapat mencegah infeksi saluran kemih dan menjaga fungsi kandung kemih. Vitamin E yang terkandung dalam asparagus berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan vitamin B6 dan asam folat pada asparagus dipercaya berperan dalam menjaga suasana hati dan mendukung fungsi saraf. Asparagus memiliki indeks glikemik rendah serta mengandung karbohidrat kompleks dan serat, sehingga membantu mencegah lonjakan gula darah dan menjaga kestabilannya. Cara Pengolahan Asparagus banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk sayuran segar maupun olahan. Tunas muda asparagus dapat direbus, dikukus, ditumis, atau dipanggang, serta digunakan sebagai campuran sup, salad, pasta, dan omelet. Selain itu, asparagus juga diolah menjadi produk kaleng, acar, dan asparagus beku untuk memperpanjang masa simpan. Kandungan serat yang tinggi dan kalori yang rendah menjadikan asparagus cocok dikonsumsi sebagai menu diet dan pangan fungsional (Shahrajabian et al., 2020). Selain sebagai bahan pangan, asparagus juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Bagian akar atau rimpang asparagus secara tradisional digunakan sebagai ramuan herbal yang berfungsi sebagai diuretik alami untuk membantu melancarkan buang air kecil dan menjaga kesehatan saluran kemih. Pemanfaatan ini umumnya dilakukan dengan cara merebus akar atau rimpang asparagus dalam air, kemudian air rebusannya diminum sebagai ramuan herbal. Selain direbus, akar asparagus juga dapat dikeringkan dan dihaluskan menjadi serbuk, kemudian diseduh dengan air hangat atau dicampurkan ke dalam minuman herbal lain untuk memudahkan konsumsi. Kandungan inulin pada asparagus berperan sebagai prebiotik yang mendukung kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa bioaktif seperti saponin dan flavonoid berpotensi membantu proses detoksifikasi tubuh dengan mengeluarkan kelebihan cairan dan zat sisa metabolisme melalui urin (Shahrajabian et al., 2020). Asparagus dapat diolah lebih lanjut melalui proses ekstraksi untuk menghasilkan ekstrak cair atau serbuk yang digunakan dalam produk suplemen kesehatan. Ekstrak asparagus diketahui mengandung senyawa antioksidan dan fitokimia yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh, sehingga banyak dikembangkan dalam produk pangan fungsional, kapsul herbal, dan minuman kesehatan (Shahrajabian et al., 2020). Kandungan antioksidan dalam asparagus, seperti polifenol dan flavonoid, dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit untuk membantu melindungi sel kulit dari radikal bebas dan memperlambat proses penuaan dini. Oleh karena itu, asparagus berpotensi digunakan sebagai bahan alami dalam industri kosmetik. Daftar Pustaka Gibson, G. R., Hutkins, R., Sanders, M. E., Prescott, S. L., Reimer, R. A., Salminen, S. J., Scott, K., Stanton, C., Swanson, K. S., Cani, P. D., Verbeke, K., & Reid, G. (2017). The International Scientific Association For Probiotics and Prebiotics (ISAPP) Consensus Statement On The Definition And Scope Of Prebiotics. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 14, 491–502. He, M., Chen, P., Li, M., Lei, F., Lu, W., Jiang, C., & Zheng, Y. (2024). Physiological And Transcriptome Analysis Of Changes In Endogenous Hormone And Sugar Content During The Formation Of Tender Asparagus Stems. BMC Plant Biology, 24(1), 581. Putri, N. I., Dwiputri, N. T., & Supriyatna, A. (2024). Inventarisasi Tiga Jenis Famili Tumbuhan Berberda di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Polygon: Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(4), 49-58. Shahrajabian, M. H., Sun, W., & Cheng, Q. (2020). A Review Of Asparagus (Asparagus officinalis L.) And Its Nutritional And Medicinal Values. Notulae Scientia Biologicae, 12(4), 801–812. Slavin, J. L. (2013). Dietary Fiber And Body Weight. Nutrition, 29(1), 14–18. Willett, W. C., & Stampfer, M. J. (2013). Current Evidence On Healthy Hating. Annual Review of Public Health, 34, 77–95. Asparagus (asparagus officinalis)Latin Name Asparagus Officinalis Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta (Angiosperms) Class: Liliopsida (Monocots) Order: Asparagales Family: Asparagaceae Genus: Asparagus Species: Asparagus officinalis

Asparagus (Asparagus officinalis) Read More »

Dewandaru (Eugenia uniflora L.)

Nama Latin  Eugenia uniflora L Taksonomi Kingdom: Plantae   Divisi: Spermatophyta                                  Sub Divisi: Angiospermae                                             Ordo: Myrtales                                        Famili: Myrtaceae                            Genus: Eugenia                                      Spesies: Eugenia uniflora (Sinaga ,2025) Definisi Umum Dewandaru merupakan salah satu jenis koleksi tumbuhan di Kebun Raya Purwodadi Tumbuhan yang termasuk dalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae) dengan nama ilmiah Eugenia uniflora L. Mengutip data The Plant List (2013), tumbuhan ini memiliki 46 nama sinonim. Berdasarkan Verheij & Coronel (1992), habitus tumbuhan ini berupa semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 7 meter. Cabang menyebar, ramping, dan terkadang melekuk. Permukaan batang halus dan kulit batang mengelupas. Daun tunggal berbentuk bulat telur sungsang, bagian pangkal membulat atau sedikit terbilah, ujung meruncing dan tumpul, permukaan halus, mengkilat. Warna daun cokelat kemerahan saat masih muda dan berubah menjadi hijau gelap ketika tua. Saat musim dingin atau kering, daun akan berwarna merah. Bunga wangi, terdiri atas 1-4 bunga yang menyatu di ketiak daun, berwarna putih krem, dan berdiameter sekitar 1 cm. Kelopak bunga berbentuk tabung dengan 8 rusuk dan 4 lekukan. Mahkota bunga berwarna putih dan panjang 7-11 mm. Jumlah benang sari sekitar 50-60 helai. Buah menggantung, berbentuk bulat pipih dan terdapat 7-8 rusuk seperti lampion. Buah berwarna hijau saat masih muda dan akan berubah menjadi oranye, hingga merah terang atau gelap keunguan. Kulit buah tipis, daging buah oranye hingga merah, berair dan sedikit lengket, rasa masam hingga manis. Biji berbentuk pipih dan umumnya berjumlah 1 butir dengan ukuran besar atau 2-3 butir dengan ukuran kecil. Kandungan Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) menjelaskan bahwa ekstrak hidroalkoholik daun dewandaru dapat mengurangi kadar enzim xanthine-oxidase yang memicu terbentuknya asam urat. Santos et al. (2015) menyebutkan bahwa ekstrak daun E. uniflora mengandung minyak esensial yang terdiri atas atractylone (16,90%), curzerene (19,70%), selina-1,3,7-trien-8-one (17,80%), dan furanodiene (9,60%). Pada ekstrak daun yang masih muda terkandung senyawa sesquiterpene jenis germacrone sebesar 35,59%. Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa dewandaru juga memiliki kemampuan antimikroba. Sobeh et al. (2016) telah melakukan penelitian tentang kemampuan antimikroba ekstrak minyak esensial dewandaru. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, dan bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, serta fungi Candida parapsilosis dan C. albicans. Buah dewandaru juga kaya akan antioksidan. Berdasarkan hasil analisa Bagetti et al. (2011), antioksidan tertinggi terdapat pada buah dewandaru yang masih berwarna oranye karena kaya akan karotenoid. Di samping itu, biji dewandarujuga kaya antioksidan karena kandungan senyawa fenolik yang sangat tinggi (Luzia et al., 2010). Khasiat Hasil observasi Ogunwande et al. (2005) dan Amorim et al. (2009) Cara Pengolahan Daun dicuci, dikeringkan pada suhu ruang, dan digiling dengan mixer. Rebusan air panas: 10 g sampel bubuk dilarutkan dalam 100 ml air suling, dididihkan selama satu setengah jam, lalu disaring. Rebusan disimpan pada suhu 4°C untuk penggunaan selanjutnya. Daftar Pustaka Daniel, G., & Kumari, S. K. (2019). Free radical scavenging activity of aqueous (hot) extract of Eugenia uniflora (L.) leaves. Journal of Plant Biochemistry & Physiology, 7(1), 1–4. Rencana, E. (2020). Dewandaru (Eugenia uniflora L.). Warta Kebun Raya, 18(1), 1–10.(PDF) Dewandaru (Eugenia uniflora L.), Buah Legendaris yang Sarat Mitologi di Pegunungan Kawi https://share.google/YkEGx7MTY3X8uKXAh Sinaga, 2025. Identifikasi Tumbuhan Famili Myrtaceae di Kawasan Jalan Sukarela Timur, Desa Lau Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan. Alacrity : Jurnal Of education  https://doi.org/10.52121/alacrity.v5i1.539 Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Latin NameEugenia uniflora L.TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaSubdivision: AngiospermaeOrder: MyrtalesFamily: MyrtaceaeGenus: EugeniaSpecies: Eugenia uniflora (Sinaga, 2025) General DefinitionDewandaru is one of the plant collections at the Purwodadi Botanical Gardens. It belongs to the guava family (Myrtaceae) and has the scientific name Eugenia uniflora L. According to The Plant List (2013), this plant has 46 synonyms. According to Verheij & Coronel (1992), this plant has a shrub or tree habit, reaching a height of 7 meters. The branches are spreading, slender, and sometimes curved. The stem surface is smooth, and the bark peels. The single leaves are obovate, with a rounded or slightly lobed base, a pointed and blunt tip, and a smooth, shiny surface. The leaves are reddish-brown when young and turn dark green as they mature. During winter or dry seasons, the leaves turn red. The fragrant flowers, consisting of 1-4 flowers fused in the leaf axils, are creamy white, and approximately 1 cm in diameter. The calyx is tubular with 8 ribs and 4 grooves. The corolla is white and 7-11 mm long. The stamens number around 50-60. The fruit is hanging, round and flat, with 7-8 ribs like a lantern. The fruit is green when young and eventually changes to orange, then bright red or dark purple. The skin is thin, and the flesh is orange to red, juicy and slightly sticky, with a sour to sweet taste. The seeds are flat and generally number one large seed or two or three small seeds. ContentOgunwande et al. (2005) and Amorim et al. (2009) explained that hydroalcoholic extract of dewandaru leaves can reduce levels of the xanthine oxidase enzyme, which triggers uric acid formation. Santos et al. (2015) stated that E. uniflora leaf extract contains essential oils consisting of atractylone (16.90%), curzerene (19.70%), selina-1,3,7-triene-8-one (17.80%), and furanodiene (9.60%). Young leaf extract contains 35.59% of the sesquiterpene compound germacrone. Several other studies have shown that dewandaru also has antimicrobial properties. Sobeh et al. (2016) conducted research on the antimicrobial properties of dewandaru essential oil extract. The results of the study showed that there was an inhibitory effect on the growth of gram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, and gram-negative bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, and fungi Candida parapsilosis and C. albicans. Dewandaru fruit is also rich in antioxidants. Based on the analysis results of Bagetti et al. (2011), the highest antioxidants are found in dewandaru fruit that is still orange because it is rich in carotenoids. In addition, dewandaru seeds are also rich in antioxidants because they contain very high phenolic compounds (Luzia et al., 2010). Benefits1. diarrhea2. fever3. hypertension4. rheumatism5. worm infestation6. bronchitis7. cough.Observations by Ogunwande et al. (2005) and Amorim

Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Read More »

Daun Sendok (Plantago major L.)

Nama Latin (Plantago major L) Taksonomi Kingdom     : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisio : Spermatophyta Divisio        : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Subkelas      : Asteridae Ordo            : Lamiales Famili         : Plantaginaceae Genus          : Plantago Spesies        : Plantago major L. (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1999) Definisi Umum Plantago major L. atau sering disebut dengan daun sendok merupakan tanaman yang tergolong tanaman perdu gulman didaerah perkebunan atau tumbuhan liar yang terdapat di lading dan halaman berumput yang agak lembab, ditanam di pot juga sebagai tanaman obat. Daun sendok berasal dari dataran rendah hingga ketinggian antara 3.300mdpl. Tinggi dari tanaman ini bervariasi antara 30-200 cm, bentuk batangnya bulat dan silinder, juga permukaan batang yang agak licin dengan arah tumbuh batang tegak lurus ke atas, batang tergolong batang rumput yang tidak keras dan bergetah putih (Indriani et al., 2023). Daun yang berbentuk oval yang saling berimpitan, memiliki Panjang daun antara 5-20 cm dan lebar daun antara 4-9 cm, terdapat 5-9 jari-jari daun yang terlihat jelas, daunnya memiliki ujung yang lancip. Termasuk daun yang tunggal, susunan roset akar bertangkai, bentuk bulat telur terbalik sampai lanset melebar atau sudip, helaian tepinya yang bergerigi kasar atau tidak beraturan, memiliki permukaan yang licin dan tegak berambut. Tanaman ini memiliki biji yang berukuran sangat kecil berbentuk bulat telur juga memiliki rasa pahit, tanaman yang berbunga yang berdiri dan memangjang dengan ukuran kurang lebih 5-15 cm diatas batang (Irawan & Cahyanto, 2024). Kandungan Kandungan flavonoid, alkaloid, tannin, asam fenolik, iridoid glikosida serta polisakarida yang ada dalam daun sendok tersebut berperan sebagai antioksidan alami, antiinflamasi, dan pelindung sel, sehingga mendukung berbagai aktivitas farmakologis daun sendok (Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto 2023). Khasiat Daun sendok memiliki khasiat untuk menjaga Kesehatan yakni untuk antiinflamasi yang membantu meredakan peradangan pada sendi yang mengalami asam urat. Kandungan antidiuretic yang meningkatkan produksi urin sehingga membantu mengeluarkan asam urat melalui urin. Kandungan antioksidan yang juga dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan Cara Pengolahan a. Persiapan bahan (daun sendok) 1) Pilih daun yang sehat dan bersih (bebas kotoran) 2) Cuci dengan air mengalir untuk menghilangkan debu/kotoran 3) Keringkan daun di oven pada suhu rendah (40-500 C) 4) Blender atau haluskan daun kering menjadi simplisia dengan proses maserasi b. Proses maserasi 1) Serbuk daun direndam dalam rtanol 96% selama kurang lebih 3 hari 2) Campuran disaring untuk memisahkan larutan ekstrak dari sisa simplisia 3) Ekstrak di- evaporasi hingga menjadi ekstrak kental c. Proses pembuatan sirup dari ekstrak daun sendok sebagai ekspektoran 1) Cuci bersih daun sendok dari kotoran atau debu 2) Iris kecil-kecil daun sendok yang segar 3) Rebus air sekitar 250-300 ml hingga mendidih 4) Masukkan daun sendok ke air yang mendidih 5) Rebus sekitar 5-10 menit (untuk membantu ekstraksi senyawa aktif) 6) Matikan api kompor, tunggi 5 menit agar terserap 7) Saring ke dalam cangkir 8) Teh siap  diminum atau di hidangkan. Daftar Pustaka Angelin, V., & Sukadana, W. (2021). UTILIZATION AND PROCESSING OF PLANTAGO MAJOR HERBAL PLANTS INTO HERBAL TEA PRODUCTS IN PEDUNGAN AREAS. Jurnal Qardhul Hasan; Media Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(3), 143–149. Indriani, N. P., Mustafa, H. K., Susilawati, I., Mansyur, Khairuni, L., & Islami, R. (2023). Plantago di padang penggembalaan sebagai pakan dan penghasil metabolit sekunder. JNTTIP Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Dan Ilmu Pakan, 5(2), 74–81. Irawan, F. R., & Cahyanto, T. (2024). Pemanfaatan Daun Sendok ( Plantago Major L .) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA Nusantara : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://e-journal.nalanda.ac.id/index.php/usd/article/view/636/598 Fadhila Rahma Irawan, & Tri Cahyanto. (2023). Pemanfaatan Daun Sendok (Plantago Major L.) Untuk Pengobatan Asam Urat Masyarakat Jalan Tirtasari 1 Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu. USADA NUSANTARA : Jurnal Kesehatan Tradisional, 2(1), 143–150. https://doi.org/10.47861/usd.v2i1.636 Spoon Leaf (Plantago major L.) Latin Name (Plantago major L) Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Asteridae Order: Lamiales Family: Plantaginaceae Genus: Plantago Species: Plantago major L. (Syamsuhidayat and Hutapea, 1999) General Definition Plantago major L., often called broadleaf plantain, is a plant classified as a shrubby herb found in plantations or a wild plant that can be found in fields and grassy yards that are somewhat moist, and it can also be grown in pots as a medicinal plant. Broadleaf plantain originates from lowlands up to an altitude of 3,300 meters above sea level. The height of this plant varies between 30-200 cm, with stems that are round and cylindrical, also having a somewhat smooth surface with upright growth, and the stem is classified as a grass-like stem that is not hard and contains white sap (Indriani et al., 2023). The leaves are oval-shaped and closely overlapping, with a length ranging from 5-20 cm and a width between 4-9 cm, with 5-9 clearly visible leaf veins, and the leaves have pointed tips. Includes single leaves, a rosette arrangement of stalked roots, shapes ranging from inverted egg-shaped to broad lanceolate or spatula-shaped, with leaf margins that are coarsely or irregularly toothed, having a smooth and erect hairy surface. This plant has very small seeds that are egg-shaped and also have a bitter taste, and flowering plants that stand upright and elongate, with a size of approximately 5-15 cm above the stem (Irawan & Cahyanto, 2024). Content The content of flavonoids, alkaloids, tannins, phenolic acids, iridoid glycosides, and polysaccharides in the spoon leaf acts as natural antioxidants, anti-inflammatory agents, and cell protectors, thereby supporting various pharmacological activities of the spoon leaf (Fadhila Rahma Irawan & Tri Cahyanto 2023). Benefits The spoon leaf has benefits for maintaining health, including anti-inflammatory properties that help relieve inflammation in joints affected by uric acid. Its antidiuretic content increases urine production, thereby helping to expel uric acid through urine. Its antioxidant content can also protect body cells from damage. Processing Method a. Preparation of ingredients (spoon leaves) 1) Choose healthy and clean leaves (free from dirt) 2) Wash under running water to remove dust/dirt 3) Dry the leaves in an oven at

Daun Sendok (Plantago major L.) Read More »

Bunga Matahari (Helianthus annuus L.)

Nama Latin (Helianthus annuus L.) Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Helianthus Spesies : Helianthus annuus L. (Magang Alam Lindungi Hutan, 2023) Definisi Umum Bunga matahari memiliki nama botani Helianthus annuus L. termasuk ke dalam famili Asteraceae.(Dame et al., 2023). Bunga matahari merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang menyuplai 87% minyak nabati secara global dan merupakan penghasil minyak nabati terbesar kelima di dunia. Tanaman ini juga merupakan tanaman biji hibrida terbesar kedua di dunia oleh karena itu bunga matahari memiliki potensi yang besar untuk menjadi tanaman bernilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan baik dan optimal (Andarwulan et al., 2023). Kandungan Kandungan di dalam tanaman bunga matahari, yaitu : (Industry & Material, 2022). Khasiat Khasiat dalam tanaman bunga matahari, yaitu :  (Laaraj S at.al, 2025). Cara Pengolahan pengelolaan pembuatan sabun : a. Menyiapkan minyak biji bunga matahari sesuai formula. b. Menimbang NaOH sesuai kebutuhan. c. Melarutkan NaOH ke dalam air (bukan sebaliknya) hingga larut sempurna. d. Membiarkan larutan NaOH mendingin. e. Menuangkan larutan NaOH ke dalam minyak sambil diaduk merata. f. Mengaduk campuran hingga mencapai fase trace (mulai mengental). g. Menambahkan pewangi atau warna jika diperlukan. h. Menuang adonan ke dalam cetakan sabun. i. Mendiamkan sabun 24–48 jam hingga mengeras. j. Setelah mengeras, sabun dikeluarkan dari cetakan dan siap untuk dikeringkan. (Adilfi, 2024) Pengelolaan pembuatan kuaci : Daftar Pustaka Adilfi, E. S. (2024). Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada IMPLEMENTASI INOVASI TEKNOLOGI PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS INTERNET OF THINGS UNTUK RUANG DAN RAK PENGERING BIJI BUNGA MATAHARI Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 7(1), 105–116. Andarwulan, S., Rahayu, A., Mukti, A. W., & Hardani, P. T. (2023). Sosisalisasi Optimalisasi Pembudidayaan Bunga Matahari di Desa Pengalangan Kabupaten Gresik. 4(2), 344–353. Dame, T., Lie, A., Aisyah, S. I., & Syukur, M. (2023). Uji Keunggulan Genotipe Bunga Matahari Hasil Pemuliaan Tanaman IPB dalam Rangka Pelepasan Varietas. 14(200), 33–39. Dewi, I. N. (2024). Punya Banyak Tanaman Bunga Matahari? Yuk Buat kuaci. In Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/lain-lain/1112911/punya-banyak-tanaman-bunga-matahari-yuk-buat-kuaci Industry, B., & Material, R. (2022). Grouping the Morphological Characters of Sunflower as an Estimation of. 2(2017), 19–20.  Laaraj S , Hussain A  , Shahid E ,Bakhtawar F ,Zia M ,Najam A, Zulfiqar N , Sweilam S.H , Ed-Dra A, Elfazazi K. (2025). Manfaat gizi, farmasi, dan kesehatan biji bunga matahari ( Helianthus annuus L.): Tinjauan komprehensif aplikasi pangan. 5. https://doi.org/10.1016/j.foohum.2025.100641 Magang Alam Lindungi Hutan. (2023). Bunga Matahari: Morfologi, Jenis-Jenisnya, dan Cara Budidaya. In lindungihutan. https://lindungihutan.com/blog/mengenal-bunga-matahari-dan-fakta-uniknya/#:~:text=Tanaman ini memiliki bunga yang majemuk%2C terdapat,meter dengan batang bunganya selalu menghadap matahari Sunflower (Helianthus annuus L.)Latin Name Helianthus annuus L. TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaClass: AngiospermaeOrder: AsteralesFamily: AsteraceaeGenus: HelianthusSpecies: Helianthus annuus L. (Magang Alam Lindungi Hutan, 2023) General DefinitionThe sunflower has the botanical name Helianthus annuus L. and belongs to the family Asteraceae (Dame et al., 2023). Sunflower is a vegetable oil-producing plant, supplying 87% of vegetable oil worldwide, and it is the fifth largest vegetable oil producer in the world. It is also the second-largest hybrid seed crop in the world; therefore, sunflower has significant potential to become a high-value economic crop if managed properly and optimally (Andarwulan et al., 2023). ContentsThe components in sunflower plants include:– Linoleic acid– Oleic acid– Protein– Vitamin E– Phenolics– Flavonoids– Alkaloids (Industry & Material, 2022). Benefit The benefits of sunflowers include: (Laaraj S at.al, 2025). Processing Method Soap making: a. Prepare sunflower seed oil according to the formula. b. Weigh NaOH as needed. c. Dissolve NaOH in water (not vice versa) until completely dissolved. d. Allow the NaOH solution to cool. e. Pour the NaOH solution into the oil while stirring thoroughly. f. Stir the mixture until it reaches the trace phase (begins to thicken). g. Add fragrance or color if needed. h. Pour the mixture into soap molds. i. Let the soap sit for 24–48 hours until it hardens. j. Once hardened, the soap is removed from the mold and ready to dry. (Adilfi, 2024) Bibliography Adilfi, E. S. (2024). Proceedings of the Seminar on Research and Community Service Results: IMPLEMENTATION OF TECHNOLOGY INNOVATION IN THE DEVELOPMENT OF INTERNET OF THINGS-BASED PRODUCT FOR SUNFLOWER SEED DRYING ROOMS AND RACKS. Proceedings of the Seminar on Research and Community Service Results. 7(1), 105–116. Andarwulan, S., Rahayu, A., Mukti, A. W., & Hardani, P. T. (2023). Socialization of Sunflower Cultivation Optimization in Pengalangan Village, Gresik Regency. 4(2), 344–353. Dame, T., Lie, A., Aisyah, S. I., & Syukur, M. (2023). Testing the Superiority of Sunflower Genotypes Resulting from IPB Plant Breeding for Variety Release. 14(200), 33–39. Dewi, I. N. (2024). Have Lots of Sunflower Plants? Let’s Make Sunflower Seeds. In Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/lain-lain/1112911/punya-banyak-tanaman-bunga-matahari-yuk-buat-kuaci Industry, B., & Material, R. (2022). Grouping the Morphological Characters of Sunflower as an Estimation of. 2(2017), 19–20. Laaraj S, Hussain A, Shahid E, Bakhtawar F, Zia M, Najam A, Zulfiqar N, Sweilam S.H, Ed-Dra A, Elfazazi K. (2025). Nutritional, pharmaceutical, and health benefits of sunflower seeds (Helianthus annuus L.): A comprehensive review of food applications. 5. https://doi.org/10.1016/j.foohum.2025.100641 Nature Internship Protects the Forest. (2023). Sunflowers: Morphology, Types, and Cultivation Methods. In lindungihutan. https://lindungihutan.com/blog/mengenal-bunga-matahari-dan-fakta-uniknya/#:~:text=This plant has compound flowers, with the flower stem always facing the sun.

Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Read More »

Murbei (Morus alba L.)

Nama Latin Morus alba L. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : MagnoliophytaKelas : MagnoliopsidaOrdo : RosalesFamili : MoraceaeGenus : MorusSpesies : Morus alba (Sriset et al., 2016). Definisi Umum Murbei (Morus alba L.) adalah tanaman tropis yang dikenal sebagai “white mulberry” dan banyak dibudidayakan di Asia serta beberapa bagian dunia. Tanaman ini secara tradisional digunakan dalam pengobatan herbal dan pangan. Buahnya dimakan segar atau diolah, daun sering dibuat teh, serta bagian lain tanaman dipakai untuk berbagai manfaat kesehatan. Secara umum tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif yang berkontribusi pada aktivitas farmakologis seperti antioksidan dan anti-inflamasi (Sriset et al., 2016). Kandungan Murbei (Morus alba L.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam aktivitas farmakologisnya. Senyawa-senyawa tersebut meliputi alkaloid, flavonoid, stilbenoid seperti mulberroside A, senyawa fenolik, tanin, saponin, serta fitosterol. Keberadaan flavonoid dan senyawa fenolik berkontribusi besar terhadap aktivitas antioksidan, sedangkan stilbenoid dan alkaloid diketahui memiliki potensi anti-inflamasi, antibakteri, serta hipoglikemik. Kombinasi kandungan fitokimia ini menjadikan Morus alba sebagai tanaman yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan obat tradisional maupun fitofarmaka (Sriset et al., 2016). Khasiat Daun murbei diketahui memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antioksidan karena mengandung flavonoid dan senyawa fenolik yang mampu menangkal radikal bebas serta melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Selain itu, senyawa bioaktif seperti flavonoid dan stilbenoid pada murbei juga memiliki aktivitas anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan pada jaringan tubuh. Ekstrak murbei juga dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri patogen sehingga berpotensi digunakan sebagai agen antimikroba alami. Selain itu, murbei memiliki efek antidiabetes (hipoglikemik) dengan membantu menurunkan kadar glukosa darah melalui penghambatan enzim dalam metabolisme karbohidrat, serta berpotensi sebagai antihiperlipidemik yang dapat menurunkan kadar lipid darah seperti kolesterol dan trigliserida sehingga bermanfaat dalam pencegahan penyakit kardiovaskular (Sriset et al., 2016; Pamuladiman & Widiyastuti, 2021; Rhahmah, 2015; Salampe et al., 2025). Cara Pengolahan Daun murbei dapat diolah menjadi minuman herbal teh murbei dengan langkah sebagai berikut : a.      Pilih daun murbei segar, kemudian cuci bersih dengan air untuk menghilangkan debu dan kotoran. b.     Keringkan daun murbei terlebih dahulu, proses pengeringan penting agar teh memiliki daya simpan yang lebih baik dan mudah diseduh (misalnya bisa dikeringkan di tempat teduh atau oven/pengering). c.      Setelah daun kering, remukkan atau sobek kecil-kecil agar mudah keluar sari saat direbus/seduh. d.     Masukkan daun murbei kering yang telah disiapkan ke dalam panci atau teko, kemudian rebus dengan air panas sampai air berubah warna dan sari daun keluar. e.      Saring hasil rebusan untuk memisahkan ampas daun dari air teh. f.      Tambahkan gula atau madu secukupnya jika diinginkan untuk rasa manis. g.     Dinginkan hingga mencapai suhu yang nyaman untuk diminum atau nikmati teh murbei hangat/dingin sesuai selera. (Rhahmah, 2015) Daftar Pustaka Pamuladiman, A. R., & Widiyastuti, L. (2021). Formulasi dan Aktivitas Antibakteri Gel Ekstrak Daun Murbei ( Morus alba L .) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 19(1), 39–48. Rhahmah, A. (2015). Optimasi Pembuatan Teh Herbal Daun Murbei (Morus Alba) Annisa Rhahmah. 2(2). Salampe, M., Rahimah, S., Nur, S., Mamada, S. S., Biring, F. S., Keyzia, K., Matandung, F. N., Payung, D., Rahman, A. A., Wahyuddin, N., & Ivone P., V. (2025). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Murbei (Morus alba) Menggunakan Metode BCB, CUPRAC, dan FRAP. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 11(1), 149–157. https://doi.org/10.35311/jmpi.v11i1.723 Sriset, Y., Jarukamjorn, K., & Chatuphonprasert, W. (2016). Pharmacological Activities of Morus alba Linn .

Murbei (Morus alba L.) Read More »

NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsoniae Balf.F)

Nama Latin Clerodendrum thomsoniae Balf.F Taksonomi Kingdom Plantae Divisi  Streophyta Subclass Magnolidae Order Lamiales Familly Verbenaceae Genus  Clerodendrum Spesies Clerodendrum thomsoniae Balf. F (Halilah et.al 2017) Definisi Umum Nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae), yang dikenal sebagai tanaman merambat jantung berdarah atau bunga kantung, merupakan tanaman hias semi-herba yang tumbuh merambat dan memiliki nilai estetika tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan dalam industri florikultura. Secara morfologi, nona makan sirih memiliki batang lunak, pertumbuhan menjalar, serta daun yang rimbun, yang menjadikannya populer sebagai tanaman hias (Kar et.al 2024). Kandungan Daun Nona Makan Sirih mengandung berbagai metabolit sekunder bioaktif, antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan senyawa fenolik, yang diketahui berperan penting dalam aktivitas antibakteri dan farmakologis (Hadjar et.al 2023). Khasiat Daun nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae) digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, antara lain sebagai antimikroba, antihelmintik, antiinflamasi, antimalaria, antidiabetes, hepatoprotektif, serta untuk mengatasi gangguan pencernaan, hipertensi, demam tinggi, asma, dan berbagai keluhan kesehatan lainnya (Hadjar et.al 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahannya yaitu dengan mengambil segenggam daun segar (sekitar 10–15 gram), kemudian direbus dalam 2–3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas. Air rebusan tersebut selanjutnya disaring dan diminum dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, yang secara tradisional digunakan untuk membantu meredakan radang serta memperlancar sistem tubuh tertentu (Socfindo Conservation, 2026). Daftar Pustaka Hadjar, A., Fitriana, & Asmaliani, I. (2024). Isolation and identification endophyte fungi from daun nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae) as antibacterial against bacteria causing skin infection using TLC-bioautography. Journal Microbiology Science, 4(1), 107-119. https://jurnal.farmasi.umi.ac.id/index.php/microbiologyscience/article/download/1034/pdf Halilah, N. A., Febrina, L., & Ramadhan, A. M. (2017). Standarisasi ekstrak daun nona makan sirih (Clerodendrum x speciosum Dombrain). Proceeding of the 6th Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Samarinda, Indonesia, 36–40. https://prosiding.ff.unmul.ac.id/index.php/mpc/article/view/65/59 Kar, P., Oriola, A. O., & Oyedeji, A. O. (2024). In vitro antioxidant, anti-inflammatory, anti-cancer and in silico molecular docking studies of Clerodendrum thomsoniae. Journal of Phytology, 16, 200–215. https://doi.org/10.25081/jp.2024.v16.9015 Socfindo Conservation. (2026). Clerodendrum thomsoniae (Nona makan sirih) — Socfindo Conservation. Diakses 11 Februari 2026, dari https://www.socfindoconservation.co.id/plant/638

NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsoniae Balf.F) Read More »

Kemukus (Piper cubeba)

Nama Latin Piper cubebea Taksonomi  Kingdom                : Plantae Divisi                      : Magnoliophyta (Spermatophyta) Kelas                      : Magnoliopsida Ordo                       : Piperales Famili                 : Piperaceae Genus                 : Piper Spesies                    : Piper cubeba (Roni Kisworo, 2015) Definisi Umum Kemukus (Piper cubeba.) merupakan komoditas perkebunan yang belum banyak dikembangkan dan dikebunkan secara intensif. Secara ekonomi, komoditas kemukus termasuk dalam komoditas rempah yang banyak diserap oleh industry obat ataupun jamu nasional. kemukus merupakan salah satu penyusun jamu yang digunakan untuk mengobati penyakit asma atau masalah gangguan pernafasan, dan ekstrak n-heksana dan alkohol dari buah kemukus mampu mengurangi kontraksi trakea marmot terisolasi yang disebabkan oleh pemberian metakolina (Wahyono, 2005). Tanaman ini banyak terdapat di pulau Jawa, Sumatra dan sebagian Kalimantan selatan yang kemudian menyebar ke Malaysia dan Srilanka (Lim, 2012). Kemukus sudah lama dimanfaatkan untuk pengobatan terutama oleh masyarakat jawa seperti yang tertulis pada naskah pengobatan kuno yaitu buku Serat Primbon Jampi Jawi yang diterbitkan tahun 1928 oleh keraton Surakarta Hadiningrat (Makmun et al., 2014). Kandungan Buah kemukus mengandung berbagai senyawa bioaktif penting yang berkontribusi terhadap aktivitas farmakologisnya. Analisis GC–MS terhadap minyak atsiri buah kemukus menunjukkan bahwa senyawa dominan adalah methyleugenol (41,31%), eugenol (33,95%), serta komponen seskuiterpen seperti (E)-caryophyllene (5,65%), p-cymene-8-ol (3,50%), dan 1,8-cineole (2,94%) (Alminderej et al., 2020). Selain itu, studi lain menemukan lebih dari 91 senyawa volatil dalam ekstrak etanol dan diklorometana buah kemukus, dengan kelompok senyawa utama berupa fenolik (rutin, katekin, asam galat, asam ferulat), flavonoid, lignan (cubebin, hinokinin, yatein, isoyatein), serta asam lemak seperti palmitat dan laurat (Drissi et al., 2022). Kandungan lignan merupakan karakteristik kimia utama dari buah kemukus; senyawa seperti cubebin, hinokinin, dan yatein dilaporkan sebagai konstituen bioaktif utama yang berperan dalam aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan sitotoksik (Dwita et al., 2022). Selain lignan, ekstrak air dan etanol buah kemukus juga mengandung flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid, yang diketahui berperan sebagai antioksidan alami (PNR Journal, 2023). Khasiat Buah kemukus mempunyai khasiat sebagai obat untuk terapi sesak napas, menghilangkan bau mulut, peluruh dahak, peluruh air seni, kencing bernanah, penyakit gula dan penghangat badan (Purwanto, 2022). Buah kemukus (Piper cubeba L.f.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari ekstrak buah kemukus memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC₅₀ sebesar 50,359 µg/mL serta kadar fenolik tinggi (32,57 mg GAE/g), yang menunjukkan kemampuannya menangkal radikal bebas (Anwar K., 2024). Minyak atsirinya juga mengandung methyleugenol (41,31%) dan eugenol (33,95%) yang berperan dalam aktivitas antioksidan dan proteksi sel saraf terhadap stres oksidatif (Farmacia Journal, 2020). Selain itu, ekstrak etanol buah kemukus memperlihatkan aktivitas antibakteri signifikan terhadap Staphylococcus aureus dan S. epidermidis dengan nilai MIC 1,25 mg/mL, mendukung penggunaannya untuk infeksi kulit dan saluran kemih (Putri, 2023). Cara Pengolahan Tahapan pengolahan tanaman kemukus : a.     Sortasi dan Pencucian Proses pengolahan dimulai dengan pemilihan buah kemukus matang yang berwarna cokelat kehitaman dan beraroma khas. Buah kemudian dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan debu dan kotoran (Fitriana & Ramadhan, 2021). b.     Pengeringan Setelah pencucian, buah dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga di bawah 10%. Pengeringan dapat dilakukan dengan oven bersuhu rendah atau sistem pengering surya hibrida. Metode pengeringan oven 45°C selama 10–12 jam memberikan kadar minyak dan aroma tertinggi, sementara pengering surya hibrida meningkatkan efisiensi energi hingga 15% (Hidayat et al., 2023) c.     Perajangan dan Penghalusan Buah kemukus kering dirajang atau dihaluskan untuk memperbesar luas permukaan kontak bahan terhadap pelarut atau uap saat ekstraksi minyak. Perlakuan penghalusan meningkatkan efisiensi ekstraksi karena mempercepat keluarnya minyak atsiri dari jaringan buah (Suhartini et al., 2020) d.     Ekstraksi Minyak Atsiri Proses ekstraksi dilakukan dengan metode distilasi uap-air (steam distillation) atau ekstraksi pelarut. Distilasi uap-air pada suhu 100°C selama 4–5 jam menghasilkan rendemen 2,3–2,8%, sedangkan penggunaan pelarut etanol 96% memberikan rendemen lebih tinggi (3,1%) (Nugraha et al., 2022). e.     Penyaringan dan Penyimpanan Minyak Minyak yang dihasilkan kemudian disaring dan disimpan dalam botol kaca gelap untuk menjaga kestabilan senyawa volatil seperti sabinene dan piperin. Minyak kemukus harus disimpan dalam wadah gelap pada suhu ruang agar tidak mengalami oksidasi dan penurunan kualitas (Suhartini et al., 2020.). Daftar Pustaka Alminderej, F., Bakari, A., & others. (2020). Antioxidant activities of a new chemotype of Piper cubeba L. Plants, 9(11), 1534. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33182768/ Anwar K. Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Etil Asetat Buah Kemukus (Piper cubeba L.) — Jurnal/Prosiding 2024 (laporan nilai IC₅₀, fenolik & flavonoid). Drissi, B. E., et al. (2022). Cubeb (Piper cubeba L.): nutritional value, phytochemical, and dermacosmeceutical potential of water extract and essential oil. Frontiers in Nutrition, 9, 1048520. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnut.2022.1048520/full Dwita, L. P., Iwo, M. I., Mauludin, R., & Elfahmi. (2022). Neuroprotective potential of lignan-rich fraction of Piper cubeba. Borneo Journal of Pharmacy, 6(3), 215–223. Farmacia Journal. (2020). Brain Antioxidant Properties of Piper cubeba L. Extracts and Essential Oil. Farmacia, 68(6), 1158–1164. https://farmaciajournal.com/issue-articles/brain-antioxidant-properties-of-piper-cubeba-l-extracts-and-essential-oil/ Fitriani, L., & Ramadhan, M. (2021). Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kualitas Simplisia Buah Kemukus di Jawa Barat. Jurnal Agroindustri Indonesia, 9(2), 112–120. Hidayat, F., Suryadi, A., & Yuliani, D. (2023). Pengembangan Teknologi Pascapanen Kemukus Menggunakan Pengering Surya Hibrida. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropika dan Biosistem, 11(1), 66–73. Lim, T.K., (2012). Piper cubeba, dalam: Lim, T.K. (Editor), Edible Medicinal And NonMedicinal Plants: Volume 4, Fruits. Springer Netherlands, Dordrecht, hal. 311–321. Makmun, M.T. al, Widodo, S.E., dan Sunarto, (2014). Construing Traditional Javanese Herbal Medicine of Headache: Transliterating, Translating, and Interpreting Serat Primbon Jampi Jawi. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 134: 238–245. Nugraha, A., Prasetyo, R., & Widodo, H. (2022). Optimasi Distilasi Uap-Air untuk Peningkatan Rendemen Minyak Atsiri Kemukus (Piper cubeba L.f.). Jurnal Rekayasa Proses, 18(3), 77–84. PNR Journal. (2023). Qualitative & quantitative estimation of phytochemicals from Piper cubeba. Pharma Nature Reviews Journal, 12(5), 9087. https://www.pnrjournal.com/index.php/home/article/view/9087 Purwanto. Introduksi Teknik Sambung Tanaman Kemukus (Piper Cubeba l.) Dengan Tanaman

Kemukus (Piper cubeba) Read More »

Jintan Hitam (Nigella sativa L.)

Nama Latin Nigella sativa L.  Taksonomi Kingdom    : Plantae Division      : Magnoliophyta Class           : Magnoliosida Ordo           : Ranunculales Famili         : Ranunculaceae Genus         : Nigella Spesies        : Nigella sativa L. (ITIS, 2025) Definisi Umum Jintan hitam (Nigella sativa L.) adalah tanaman herbal dari famili Ranunculaceae yang memiliki ciri morfologi khas, yaitu tanaman herba berukuran 20–30 cm dengan batang tegak, bercabang halus, dan berwarna hijau pucat. Daunnya berwarna hijau, berbentuk menyirip dengan helaian yang sangat tipis dan terbelah seperti jarum, sehingga tampak menyerupai rambut halus. Morfologi daunnya berbentuk filiform (seperti benang) dan tersusun berselang-seling di sepanjang batang, memberikan tampilan tanaman yang tampak “ringan” dan berlapis-lapis (Lusti et al., 2024). Bunganya berwarna putih hingga kebiruan, memiliki 5–10 kelopak, dan muncul secara soliter pada ujung batang. Setelah penyerbukan, tanaman membentuk buah kapsul beruang banyak yang di dalamnya berisi biji-biji kecil berwarna hitam pekat, berbentuk segitiga, dan bertekstur keras. Kapsul buah jintan hitam terdiri dari 3–7 ruang (lokulus), masing-masing berisi puluhan biji yang menjadi bagian utama tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional dan farmasi karena kandungan metabolit sekundernya. Secara keseluruhan, kombinasi bentuk daun yang filiform, bunga soliter bercorolla putih kebiruan, dan biji hitam bersegi menjadi ciri utama yang membedakan Nigella sativa dari spesies lain (Imelda et al., 2024).  Kandungan Biji jintan hitam mengandung berbagai metabolit sekunder yang penting, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik (Lusti et al., 2024). Selain itu, minyak esensial dari jintan hitam kaya akan senyawa bioaktif seperti thymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, α-hederin, dan t-anethole, yang memiliki efek antioksidan, antibakteri, antikanker, serta imunomodulator kuat (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Kandungan asam lemak seperti asam linoleat, oleat, dan palmitat juga berperan penting dalam efek antiinflamasi dan antikolesterol. Kombinasi metabolit lipofilik dan hidrofilik ini membuat jintan hitam efektif dalam berbagai aplikasi farmasi maupun kesehatan (Salma et al., 2025). Khasiat Aktivitas Antioksidan Jintan hitam memiliki aktivitas antioksidan kuat karena kandungan thymoquinone, flavonoid, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan ekstrak jintan hitam dari berbagai pelarut memiliki nilai IC₅₀ pada rentang 18,42–40,85 ppm yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat (Lusti et al., 2024). Aktivitas Antibakteri Ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakterinya dipengaruhi oleh senyawa bioaktif thymoquinone, thymohydroquinone, carvacrol, dan timol yang bekerja merusak membran sel bakteri (Salma et al., 2025). Aktivitas Antiinflamasi & Imunomodulator Jintan hitam dapat menurunkan inflamasi dengan menghambat produksi ROS dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan katalase. Selain itu, jintan hitam terbukti meningkatkan respon imun tubuh, termasuk peningkatan fagositosis dan jumlah leukosit, sehingga berperan sebagai imunostimulan alami (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Cara Pengolahan Potensi jintan hitam sebagai agen antibakteri terhadap bakteri patogen, dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Salma et al., 2025): a. Bersihkan biji jintan hitam dari kotoran dan benda asing, kemudian keringkan hingga kadar air rendah untuk mencegah pertumbuhan jamur. b. Haluskan biji menggunakan blender atau grinder hingga menjadi serbuk simplisia agar proses ekstraksi lebih optimal. c. Rendam serbuk dalam etanol 95% (atau etanol polar lainnya sesuai jurnal) dengan perbandingan pelarut yang memadai. d. Lakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi atau perendaman selama beberapa hari sambil sesekali diaduk agar senyawa aktif (thymoquinone, carvacrol, p-cymene) larut sempurna. e. Saring larutan untuk memisahkan filtrat (ekstrak) dari ampas. f.  Kentalkan ekstrak menggunakan evaporator atau penangas air untuk menguapkan sisa pelarut hingga diperoleh ekstrak pekat. g. Simpan ekstrak dalam wadah gelap dan kedap udara untuk menjaga stabilitas senyawa aktif, terutama thymoquinone.  Daftar Pustaka Imelda, D., Maharani, P., & Mardiana, P. (2024). Seminar Nasional TREnD Pemanfaatan Minyak Jintan Hitam ( Nigella Sativa ) Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada Minuman Herbal. Seminar Nasional TREnD, 4, 12–18. Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Single report for TSN 506592. Retrieved November 15, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592 Lusti, N. F., Pratiwi, N., Musaidah, S., Audina, R. I., & Atwiyandani, I. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol , Etil Asetat , dan N-heksana Jintan Hitam ( Nigella sativa ) dengan Variasi Pelarut dan Waktu Maserasi. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 7(16), 703–714. Muahiddah, N., & Diniariwisan, D. (2024). Jurnal Biologi Tropis The Potential of Black Cumin ( Nigella sativa ) as an Immunostimulant in Aquaculture ( Review ). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 301 – 308 DOI: Salma, A., Prajawanti, K. N., Aristia, B. F., & Nisyak, K. (2025). Potensi Jintan Hitam ( Nigella sativa ) sebagai Agen Antibakteri terhadap Bakteri Patogen Klinis. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum Dan Farmasi, 3(3), 146–155.

Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Read More »

Seledri ( Apium graveolens )

Nama latin Apium graveolens Taksonomi Kingdom                : Plantae Sub Kingdom        : Tracheobionta Divisi                       : Spermatophyta Subdivisi                : Angiospermae Kelas                       : Dicotyledonae Ordo                       : Apiales Famili                     : Apiaceae Genus                     : Apium L Spesies                    : Apium graveolens L. (Nugroho, 2012)  Definisi Umum Seledri ( Apium graveolens L. ) adalah jenis sayuran yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk masakan dan juga memiliki sifat pengobatan. Tanaman seledri, yang merupakan tanaman musiman, sangat sensitif terhadap kondisi air yang berlebihan atau kekurangan dapat menganggu pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal Puput (2012); Rizky et al. (2018).  Kandungan Seledri (Apium graveolens L) merupakan tumbuhan yang serat dannutrisi bermanfaat bagi Kesehatan, namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, seledri umumnya hanya di gunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan. Padahal, tanpa disadari tanaman ini bisa dimanfaatkan lebih optima, seperti minyak astiri yang terkandung didalamnya (Patricia et al., 2019). Secara keseluruhan, selerdi memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiplatelet, dan antiproliferatif,. Dari segi tradisional, seledri Apium graveolens L berguna untuk mengatasi rematik/asam urat, hipertensi, demam, nyari pinggang, konstipasi, sesak nafas, gangguan mata, stroke/lumpuh, serta diabetes (Handayani & Widowati, 2020).).  Khasiat Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin sebanyak 1%, apiin, minyak atsiri sekitar 0,033%, apigenin, kolin, vitamin A, B, C, serta zat pahit asparagin (Clements et al., 2020). Di antara komponen seledri yang bersifat antibakteri adalah flavonoid, saponin, dan tanin (Majidah et al., 2014).  Cara pengolahan Pembuatan Jus Seledri Segar (Tujuan : Konsumsi Segar atau Bahan Fungsional) Daftar Pustaka Handayani, L., & Widowati, L. (2020). Analisis Lanjut Pemanfaatan Empiris Ramuan Seledri (Apium graveolens L) oleh Penyehat Tradisional. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 10, 31 41. https://doi.org/DOI :10.22435/jki.v10i1.1718l Majidah, D., Fatmawati, D. W. A., Gunadi, A., Gigi, K., Jember, U., Gigi, F. K., Jember, U., Gigi, F. K., & Jember, U. (2014). Daya Antibakteri Ekstrak Daun Seledri ( Apium graveolens L .) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai Alternatif Obat Kumur. Puput, S. (2012). Pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.) pada beberapa jenis media tanam dan dosis pupuk organik cair. Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas IBA. Patricia, A. D., Jumaeri, & Mahatmanti, F. W. (2019). Uji Daya Antibakteri Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Seledri ( Apium graveolens ). J. Chem. Sci, 8(1), 29–33. Rizky, A., Pratama, Y., Sumiya, W., & Yamika, D. (2018). Pengaruh komposisi media dan jumlah air terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri (Apium graveolens L.). Jurnal Produksi Tanaman, 6(8), 1613–1619. Rudy S. et al., Impact of Drying Process on Grindability and Physicochemical Properties of Celery, Foods (MDPI), 2024

Seledri ( Apium graveolens ) Read More »

Scroll to Top