naturindofresh

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.)

Nama Latin Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb. Taksonomi Kingdom : PlantaeSubkingdom : TracheobiontaDivisi : MagnoliophytaKelas : LiliopsidaOrdo : AsparagalesFamili : AsparagaceaeSubfamili : NolinoideaeGenus : Dracaena Definisi Umum Tanaman suji (Dracaena angustifolia) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami hijau pada makanan tradisional karena kandungan klorofilnya yang tinggi. Selain itu, suji juga digunakan sebagai tanaman obat tradisional karena memiliki berbagai senyawa bioaktif. Dalam sistem klasifikasi modern seperti APG III, tanaman ini termasuk dalam famili Asparagaceae. Kandungan Daun suji mengandung beberapa senyawa aktif, antara lain: Klorofil → sebagai pewarna alami dan antioksidanFlavonoid → berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasiSaponin → berperan dalam meningkatkan sistem imunTanin → memiliki efek antiseptik dan astringen Khasiat Tanaman suji memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional, di antaranya: Membantu sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebasMeredakan peradangan ringanMembantu menurunkan demamMelancarkan sistem pencernaanMembantu meredakan batuk dan iritasi tenggorokanMempercepat penyembuhan luka ringanDigunakan sebagai pewarna makanan alami yang aman Cara Pengolahan 1. Rebusan (Dekok) Digunakan untuk demam dan gangguan pencernaan. Langkah: Ambil 10–15 gram daun suji segarCuci hingga bersihRebus dengan 2 gelas airDidihkan selama ±15 menitSaring dan minum selagi hangat Aturan pakai:1–2 kali sehari 2. Perasan Daun (Pewarna alami & kesehatan) Digunakan sebagai pewarna makanan sekaligus menjaga kesehatan. Langkah: Ambil beberapa lembar daun sujiHaluskan dengan sedikit airSaring untuk diambil airnyaGunakan sebagai campuran makanan atau diminum 3. Campuran Ramuan Herbal Untuk meningkatkan manfaat kesehatan. Contoh: Daun suji + jahe → membantu menghangatkan tubuhDaun suji + madu → meredakan batukDaun suji + kunyit → membantu antiinflamasi 4. Penggunaan Luar (Topikal) Untuk luka ringan atau iritasi kulit. Langkah: Haluskan daun suji segarTempelkan pada bagian lukaBalut dengan kain bersih Daftar Pustaka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2019. Pedoman Penggunaan Obat Tradisional. Jakarta: BPOM RI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2020. Informasi Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: LIPI Press. World Health Organization, 2007. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants. Geneva: WHO Press. Journal of Ethnopharmacology, n.d. Studi terkait tanaman herbal tropis.Wikipedia, n.d. Daun suji. Tersedia pada: https://id.wikipedia.org/wiki/Daun_suji

Suji Hijau (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) Read More »

Kamboja (Plumeria sp.)

Nama Latin Plumeria sp. Taksonomi Kingdom : PlantaeDivisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledonae)Ordo : GentianalesFamili : ApocynaceaeGenus : Plumeria (Adrian ,2008) Definisi Umum Kamboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria yang umumnya berupa pohon kecil atau semak, berbatang sukulen (berair), dan memiliki getah putih. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah namun telah beradaptasi luas di daerah tropis, sering ditanam sebagai tanaman hias, peneduh, atau di area pemakaman. Bunganya harum, terdiri dari lima kelopak dengan warna putih, kuning, merah muda, hingga merah. Kandungan Tanaman kamboja (Plumeria acuminate, W.T.Ait) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (!967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Ait mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996). Khasiat Tanaman kamboja digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai: Cara Pengolahan Daftar Pustaka Center for Collaborative Research on Pharmacy (CCRF) UGM. (2008). Kamboja (Plumeria acuminata). Dalimartha, S., dr., 1999, Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, hal 62-63, Penebar Swadata, Jakarta. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. (2021). Klasifikasi dan Manfaat Tanaman Kamboja. Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (2025). Bunga Kamboja (Plumeria sp.). Jurnal Ilmiah Stigma (Unipasby). (n.d.). Pengaruh Ekstrak Etil Asetat Getah Kamboja (Plumeria sp.). Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), Departemen Kesehatan RI, Jakarta, page 452-453 Tampubolon, A.S., 1967, Obat Asli Indonesia, 214-215, Dian Rakjat, Jakarta

Kamboja (Plumeria sp.) Read More »

KELAPA (Cocos nucifera)

Nama Latin Cocos nucifera Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta  Kelas; Liliopsida Sub Kelas: Arecidae Ordo; Palmales Famili: Palmae Genus: Cocos   Spesies: Cocos nucifera L Rukmana dan Yudirachman (2016)  Definisi Umum Kelapa (Cocos nucifera ) merupakan tanaman perkebunan dari famili Arecaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dikenal sebagai “tree of life” karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Kandungan Buah kelapa mengandung berbagai zat gizi dan senyawa penting, antara lain: Khasiat   Kelapa memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari, antara lain: Cara Pengolahan Cara Pengolahan kelapa dapat di jadikan santan dan kelapa parut dengan cara yaitu daging kelapa dan diperas untuk menghasilkan santan sebagai bahan pangan, lalu dapat dijadikan minyak kelapa melalui proses fermentasi atau pemanasan untuk menghasilkan minyak kelapa murni. Selain itu, dapat dikonsumsi langsung sebagai minuman segar atau diolah menjadi produk minuman.  Daftar Pustaka Salsabila, A et al. 2022. Nilai Manfaat Ekonomi Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.) di Pasar Tradisional Kemiri Muka di Kota Depok, Jawa Barat. Prosiding SEMNAS BIO 2022 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses dari: https://share.google/1tAvMdRcKuuftD6VX  Fauzana, N., et al. (2021). Kajian etnobotani kelapa (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/semnasfarmasi22/article/view/48536 Universitas Udayana. (2013). Eksplorasi aktivitas farmakologi kelapa muda (Cocos nucifera L.). Diakses dari: https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/wsnf/article/view/1214

KELAPA (Cocos nucifera) Read More »

BINTARO (Cerbera manghas/odollam)

Nama Latin Cerbera manghas/odollam Taksonomi Kingdom  : Plantae  Sub kingdom  : Tracheobionta  Super devisi  : Spermatophyta  Divisi   : Magnoliophyta  Kelas   : Magnoliopsida  sub kelas  : Asteridae  Ordo   : Gentianales  Famili : Apocynaceae   Genus  : Cerbera  Spesies  : Cerbera manghas Boiteau, Pierre L.                                                                        (Zailani; 2015)  Definisi Umum Tanaman bintaro (Cerbera odollam) merupakan tumbuhan dari famili Apocynaceae yang dikenal sebagai tanaman pantai dan memiliki kandungan senyawa toksik seperti cerberin. Secara umum, bintaro dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang bersifat racun bagi organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan penelitian, ekstrak daun bintaro memiliki sifat antifedan (penolak makan) dan racun perut yang efektif dalam mengendalikan hama, khususnya ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata), dengan tingkat mortalitas tinggi serta mampu menghambat perkembangan larva menjadi pupa dan imago, sehingga berpotensi besar sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dibanding pestisida kimia sintetis. Kandungan Daun bintaro (Cerbera odollam) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, fenol, serta racun cerberin yang bersifat toksik dan berfungsi sebagai penolak makan serta penghambat pertumbuhan hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Khasiat Cara Pengolahan Cara pengolahan daun bintaro (Cerbera odollam) sebagai pestisida nabati cukup sederhana, yaitu daun segar ditumbuk halus lalu direndam dalam pelarut (misalnya air atau aseton) selama ±48 jam, kemudian disaring untuk diambil ekstraknya. Hasil ekstrak dapat dipanaskan hingga menjadi lebih kental, lalu sebelum digunakan dicampur air dan bahan perekat (seperti tween) agar mudah menempel pada daun tanaman. Larutan ini selanjutnya diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman yang terserang hama seperti ulat krop kubis (Crocidolomia pavartata). Daftar Pusstaka Asikin, S., & Akhsan, N. (2020). Efektivitas Ekstrak Daun Tumbuhan Bintaro (Cerbera odollam), Bayam Jepang (Amaranthus viridis) dan Paku Perak (Niprolepis hirsutula) Terhadap Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavartata). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 2(2), 111–117. Utami, S., Syaufina, L., & Haneda, N. F. (2010). Daya racun ekstrak kasar daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap larva Spodoptera litura. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 15(2), 96–100. Rohimatun, S., & Sondang. (2011). Bintaro (Cerbera manghas) sebagai pestisida nabati. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 17(1), 1–6. 

BINTARO (Cerbera manghas/odollam) Read More »

PISANG (Mussa Paradisiaca)

Nama Latin Mussa Paradisiaca Taksonomi Kingdom: Plantae Devisi: Spermatophta Class: Liliopsida Famili: Musaceae  Genus: Musa  Spesies: Musa paradisiacal L.  (Devi Mayawi et al, 2024) Definisi umum Tanaman pisang (Musa paradisiaca) merupakan tanaman herba tahunan yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki batang semu, daun lebar, serta menghasilkan buah yang kaya akan nutrisi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, hampir seluruh bagian tanaman pisang seperti buah, daun, batang, dan bonggol dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan makanan, obat tradisional, maupun bahan industri. Kandungan Tanaman pisang mengandung berbagai senyawa penting, terutama pada buah dan bagian lainnya. Kandungan utama meliputi karbohidrat (termasuk pati dan pati resisten), serat pangan, serta senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Kandungan pati resisten pada pisang diketahui berperan penting dalam kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa fitokimia tersebut berkontribusi terhadap aktivitas biologis tanaman.  Khasiat Tanaman pisang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan serat dan pati resisten membantu menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan. Selain itu, beberapa bagian tanaman pisang juga memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, penyembuhan luka, dan berpotensi sebagai antidiabetes. Pemanfaatan ini menjadikan tanaman pisang tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai tanaman obat tradisional. Khasiat Tunas : mengobati kanker perut , pendarahan usus besar, Khasiat Batang : mencegah pendarahaan sehabis , melahirkan , merapatkan vagina, dan Khasiat Buah : mengobati sakit kuning , ambeien. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pisang dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, buah pisang dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai produk makanan seperti pisang rebus, goreng, atau olahan lainnya. Daun pisang sering digunakan sebagai pembungkus makanan, sedangkan bagian batang dan bonggol dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional atau pakan ternak. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman pisang dapat diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif menggunakan metode seperti maserasi dengan pelarut tertentu, kemudian digunakan dalam produk pangan, farmasi, maupun kosmetik.  Daftar Pustaka Musita, N. (2012). Kajian kandungan dan karakteristik pati resisten dari berbagai varietas pisang. Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/view/55 Wenas, D. M. (2020). Kajian ulasan aktivitas farmakologi dari limbah pisang ambon dan pisang kepok. Sainstech Farma.https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/801 Ekayanti, N. L. F., et al. (2023). Pemanfaatan tanaman pisang sebagai sediaan kosmetik. Usadha Journal.https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/6217 Ulmillah, A., et al. (2024). Pemanfaatan tanaman pisang dalam bidang pangan dan budaya. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan.https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/mipa/article/view/7915 Andriansyah. (2024). Potensi kandungan batang pisang sebagai antidiabetik. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716

PISANG (Mussa Paradisiaca) Read More »

JATI (Tectona grandis)

Nama Latin Tectona grandis Taksonomi Divisi : Spermatophyta  Kelas : Angiospermae  Sub Kelas : Dicotyledoneae  Ordo : Verbenaceae  Famili : Verbenaceae  Genus : Tectona  Spesies : Tectona grandis Linn. f  Sumarna (2011)  Definisi Umum Tanaman jati (Tectona grandis) merupakan tanaman berkayu keras yang banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi yang tahan terhadap hama dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan furniture, tanaman jati juga memiliki potensi sebagai tanaman obat karena bagian daun, kulit, dan akar mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan Tanaman jati mengandung berbagai senyawa kimia aktif, terutama pada bagian daun. Kandungan tersebut meliputi senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, asam kafeat, dan asam salisilat yang berperan sebagai antioksidan. Selain itu, daun jati juga mengandung flavonoid, tanin, antosianin, alkaloid, steroid, serta glikosida yang termasuk dalam golongan metabolit sekunder. Kandungan antosianin pada daun jati juga memberikan warna merah alami yang sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Khasiat Tanaman jati memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun ilmiah. Daun jati diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, dan antijamur yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti luka, radang, hipertensi, diabetes, serta gangguan pencernaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak jati memiliki aktivitas farmakologis seperti analgesik, antipiretik, dan penyembuhan luka.  Cara Pengolahan Pengolahan tanaman jati umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengambilan bagian tanaman seperti daun, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air, kemudian bahan dikeringkan digiling menjadi simplisia. Untuk mendapatkan senyawa aktif, dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol dengan metode maserasi atau sokletasi. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang siap digunakan untuk penelitian atau formulasi produk. Selain itu, secara tradisional daun jati juga dapat direbus untuk digunakan sebagai obat herbal atau dimanfaatkan sebagai pewarna alami.  Daftar Pustaka Astiti, N. P. A. (2017). Analisis kandungan fenolik ekstrak daun jati (Tectona grandis L.) dengan waktu dekomposisi yang berbeda. Metamorfosa: Journal of Biological Sciences.https://ojs.unud.ac.id/index.php/metamorfosa/article/view/29886 Diningrat, D. S., & Sipayung, G. A. (2024). Profil senyawa bioaktif dan potensi antimikroba ekstrak tanaman jati. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi. https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/biocons/article/view/2120 Basuki, D. R., et al. (2025). Penetapan kadar tanin ekstrak daun jati. Jurnal Pharma Bhakta. https://www.jurnalpharmabhakta.iik.ac.id/index.php/jpb/article/view/136 Rani, Y. D. (2023). Formulasi ekstrak daun jati sebagai pewarna alami. Jurnal Farmasi Medistra.https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JFM/article/view/1319 Fauzi, M. A., et al. (2020). Variasi morfologi tanaman jati di Asia Tenggara. Biota.https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2946

JATI (Tectona grandis) Read More »

BLIGO (Benincasa hispida)

Nama Latin Benincasa hispida Taksonomi Kingdom : Plantae – Plants Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants Superdivision : Spermatophyta – Seed plants Division : Magnoliopsida – Flowering plants Class : Magnoliopsida – Dicotyledons Subclass : Dillenidae Order : Violales Family : Cucurbitaceae – Cucumber family Genus : Benincasa Savi – benincasa Species : Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. –   waxgourd                    (USDA, 2009 dalam Zaini et al., 2011; Lim, 2012) Definisi Umum Tanaman bligo (Benincasa hispida) merupakan salah satu tanaman dari famili Cucurbitaceae yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, serta dikenal dengan berbagai nama seperti kundur atau labu lilin. Buahnya berukuran besar dengan ciri khas kulit yang pada saat matang dilapisi serbuk putih menyerupai lilin, sehingga sering disebut wax gourd. Meskipun rasanya tidak manis, bligo memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, dan mineral yang memberikan berbagai manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, serta antimikroba. Selain bagian daging buah, kulit bligo juga berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pengolahan pangan (Hakiki et al., 2021). Kandungan Bligo (Benincasa hispida) mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, glikosida, karoten, vitamin, mineral, dan asam uronat. Selain itu, juga terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, dan beta-sitosterol. Pada bagian kulitnya, teridentifikasi sekitar 36 senyawa, dengan senyawa dominan antara lain adenosin, polidatin, morasin C, dan kushenol S yang termasuk golongan fenolik dan flavonoid berpotensi sebagai antioksidan (Hakiki et al., 2021; Babu et al., 2003; Zaini et al., 2011). Khasiat Cara Pengolahan Daftar Pustaka Babu, S. C., Ilavarasan, R., Sahib Thambi Refai, M. A. C., Themeemul-Ansari, L. H., & Anil Kumar, D. (2003). Preliminary Pharmacological Screening of Benincasa hispida Cogn. Journal of Natural Remedies, 3, 143–147. Hakiki, D. N., Fauziyyah, A., & Wijanarti, S. (2021). Aktivitas Antioksidan dan Screening Fitokimia Kulit Bligo (Benincasa hispida). ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, 17(1), 27–36. https://doi.org/10.20961/alchemy.17.1.38675.27-36 Muley, B., Dhongade, H., Upadhyay, A., & Pandey, A. (2012). Phytochemical Screening and Anthelmintic Potential of Fruit Peels of Benincasa hispida (Cucurbitaceae). International Journal of Herbal Drug Research, 1, 5–9.

BLIGO (Benincasa hispida) Read More »

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.)

Nama Latin Cymbopogon nardus L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Ordo : Graminales Family : Panicodiae Genus :Cymbopogon Spesies : Cymbopogon Nardus L. (Arifin, 2014 dalam Qurniasi. E., 2020) Definisi Umum Serai wangi merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan dan sela-sela tumbuhan lain. Biasanya serai wangi ditanam sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Kebanyakan serai ditanam untuk menghasilkan minyak atsirinya secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus. Tanaman serai banyak ditemukan di daerah jawa yaitu pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 60-140 mdpl. Tanaman serai dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah. Daerah Jawa mengenal serai dengan nama sereh atau sere. Daerah Sumatera dikenal dengan nama serai, sorai atau sanger-sanger. Kalimantan mengenal nama serai dengan nama belangkak, senggalau atau salai. Nusa Tenggara mengenal serai dengan nama see, nau sina atau bu muke. Sulawesi mengenal nama serai dengan nama tonti atau sare sedangkan di Maluku dikenal dengan nama hisa atau isa (Armando, 2010). Kandungan Secara umum kandungan serai terdiri kariofilen bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antitumor, dan dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal bersifat antiseptik dan antimikrobia. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi. Sitronelal dan kandungan mircen. Salah satu kandungan utama dari serai adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkandung di dalam serai sebanyak 0,7%. Khasiat Sitronelal yang terkandung dalam tanaman ini dapat pula digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, serta mengobati peradangan usus. Mircen berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai antispasma. Selain itu, kandungan minyak atsiri dari serai memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki aktivitas antioksidan. Cara Pengolahan penyulingan dengan air (water distillation) ya it u dengan cara bahan kontak langsung dengan air mendid ih. Sist e m penyulinga n ini baik juga digunakan untuk bahan berbentuk tepung dan bunga-bungaan mudah menggumpal jika terkena panas tetapi tidak cocok untuk bahan-bahan yang larut air. Unt uk minyak atsiri akan terdekomposisi pada suhu yang tinggi, penambahan air dapat menurunkan titik didihnya. Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Daftar Pustaka Armando dan Rochim. 2010. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Cetakan I: Penebar Swadaya. Jakarta. Qurniasi E. 2020. Laporan Wawancra Praktikum Budidaya Tanaman Hortikultura Biofarmaka ”Serai Wangi” (Cymbopogon nardus L.). Laporan Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indriasari C., et.al. 2023. Pelatihan Pembuatan Minyak Esensial Sereh (Cymbopogon nardus) menggunakan Teknologi Sederhana. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Read More »

EKOR KUCING (Acalypha hispida)

Nama Latin Acalypha hispida Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Acalypha Spesies: Acalypha hispida Burm.f. (Kevin Caesar, 2015) Definisi Umum Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida) merupakan tanaman hias sekaligus tanaman herbal dari famili Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman ini dikenal dengan ciri khas bunga berbentuk menjuntai menyerupai ekor kucing berwarna merah. Selain sebagai tanaman ornamental, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai senyawa aktif yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini umumnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan kondisi tanah yang subur dan cukup sinar matahari, serta sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu penyembuhan luka, peradangan, dan infeksi. Kandungan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Kandungan utama tanaman ini meliputi senyawa fenolik dan turunannya seperti flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta saponin dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida, steroid, phlobatanin, dan hydroxyanthraquinon yang berkontribusi terhadap efek farmakologis seperti antiinflamasi dan penyembuhan luka. Senyawa khas lainnya seperti acalyphin, minyak atsiri, asam galat, dan corilagin turut mendukung aktivitas antioksidan dan antimikroba pada tanaman ini. Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, tanaman ekor kucing memiliki potensi sebagai bahan alami dalam pengobatan tradisional maupun pengembangan produk kesehatan (Socfindo Conservation, n.d.).  Khasiat Khasiat daun dapat mengobati lidah berdarah akibat keracunan , mengobati lepia putih. berikut adalah yang lebih lengkap: 1. Anti-inflamasi (anti peradangan) 2. Mempercepat penyembuhan luka 3. Antibakteri & antimikroba 4. Mengatasi gangguan pencernaan 5. Menghentikan perdarahan 6. Antioksidan 7. Mengurangi nyeri dan pembengkakan Cara Pengolahan Tanaman ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) yang telah melalui proses pengolahan, seperti pengeringan dan ekstraksi, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk herbal. Secara tradisional, daun tanaman ini sering diolah menjadi rebusan untuk diminum sebagai obat herbal guna membantu mengatasi peradangan, gangguan pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, daun segar juga dapat ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mempercepat penyembuhan luka atau mengatasi infeksi kulit ringan. Dalam pengembangan modern, ekstrak tanaman ekor kucing dapat diformulasikan menjadi produk seperti salep, krim, atau gel sebagai obat topikal, serta berpotensi dikembangkan dalam bentuk suplemen herbal atau produk kesehatan lainnya. Pemanfaatan ini didasarkan pada kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi (Onocha et al., 2011; Prajna et al., 2022; STKIP Muhammadiyah Barru, 2026).  Daftar Pustaka STKIP Muhammadiyah Barru. (2026). Ketahui 17 manfaat tanaman ekor kucing ampuh obati luka – E-Jurnal. Diakses dari: https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-17-manfaat-tanaman-ekor-kucing-ampuh-obati-luka-e-jurnal/  Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Tanaman ekor kucing. Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_ekor_kucing Bay, W. W., Hermanu, L. S., & Sinansari, R. (2020). Standarisasi simplisia daun ekor kucing (Acalypha hispida Burm.f.) dari tiga daerah berbeda. Journal of Pharmacy Science and Practice.Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/161402-ID-none.pdf Socfindo Conservation. (n.d.). Acalypha hispida Burm.f. Diakses dari: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/179

EKOR KUCING (Acalypha hispida) Read More »

Alamanda (Allamanda cathartica L.)

Nama Latin Allamanda cathartica L. Taksonomi Kingdom : Plantaee Divisi : Basidiomycota Kelas : Magnoliopsida Ordo : Apocynales Famili : Apocynaceae Genus : Allamanda Spesies : Allamanda cathartica  (Anggita, 2019) Definisi Umum Tanaman alamanda (Allamanda cathartica) merupakan salah satu genus dari famili Apocynaceae yang berasal dari Brazil Amerika Serikat. Alamanda mempunyai nama daerah Lame areuy (sunda) dan bunga akar kuning (melayu). Tanaman hias ini selain dirumah pribadi, tanaman hias juga dibutuhkan diperkantoran/instansi, hotel, pertokohan dan lain-lain (Haryati, 2010). Kandungan Tanaman alamanda mengandung senyawa-senyawa di dalamnya yang memiliki banyak manfaat dan khasiat. Beberapa senyawa yang terkandung di dalam tanman alamanda adalah sebagai berikut : 1. Plumieride 2. B-sitosterol 3. Alkaloid 4. Flavonoid 5. Tanin 6. Saponin 7. Fenol 8. Steroid Khasiat Kandungan yang terdapat di dalam tanaman alamanda memiliki khasiat sebagai alternatif obat kontrasepsi sintetik. Selain itu, tanaman alamanda juga berpotensi besar sebagai antijamur dan anti mikroba yang sering menyebabkan infeksi pada kulit dan kuku manusia. Tanaman alamnda juga berkhasiat sebagai pereda batuk, penawar racun, dan pereda demam. Cara Pengolahan Tanaman alamanda dapat diolah dengan beberapa cara yaitu : 1. Daun Daun tanaman alamanda yang masih segar dapat dicuci bersih dan direbus dengan satu gelas air selama kurang lebih 15 menit, lalu disaring untuk dapat diminum airnya sebagai penawar racun. Selain itu, daun tanaman alamanda dapat ditumbuk hingga halus yang kemudian hasilnya dapat digunakan sebagai obat luar. 2. Getah batang Getah batang tanaman alamanda dapat diambil untuk dijadikan obat luar seperti salep. Daftar Pustaka Anggita. 2019. Taksonomi dan Morfologi Bunga Alamanda. Artikel Dokumen Scribd. Gunawan. B.,Fajriaty. I.,Untari. E.K. 2019. Analisis Senyaw pada Ekstrak Etanol Daun Alamanda (Allamanda cathartica) sebagai Antifertilitas. Jurnal Farmasi Kalbar. Vol 4(1) Haryati.  2010.  Prospek  Agribisnis  Tanaman  Hias  dalam  Pot  (POTOLANT). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. Vol 3(2) Mahyuni. S.,Komala O.,Fadilah N. 2025. Perbandingan Aktivitas Ekstrak Microwave Assisted Extraction dan Refluks Daun Alamanda (Allamanda cathartica L.) terhadaap Jamur Trychophyton rubrum. Jurnal Farmasi, Kesehatan dan Sains (FASKES). Vol. 03(01). Wati. N.,Rahmawati. L.,Sampirlan. 2021. Penggunaan Metode Stek untuk Perbanyakan Tanaman Alamanda (Allamanda chatartica). Jurnal Biologi Kenanga. V717.803.

Alamanda (Allamanda cathartica L.) Read More »

Scroll to Top