naturindofresh

Daun Kentut (Paederia foetida L)

Nama Latin Paederia foetida L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta (Angiospermae) Kelas : Magnoliopsida (Dikotil) Ordo : Gentianales Famili : Rubiaceae Genus : Paederia Spesies : Paederia foetida L.                                                       (Mabbeley, D. J. 1997) Definisi Umum Daun kentut (Paederia foetida) merupakan tanaman dari famili Rubiaceae yang banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional di Indonesia. Tanaman ini dikenal memiliki bau khas tidak sedap, terutama saat daunnya diremas, sehingga disebut “daun kentut”. Secara tradisional, tanaman ini digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti diare, perut kembung, serta berbagai masalah kesehatan lainnya (Surahmaida & Handrianto, 2018). Kandungan Berdasarkan hasil skrining fitokimia, daun dan batang Paederia foetida mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, yaitu: Selain itu, literatur juga menyebut adanya senyawa lain seperti: Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam aktivitas biologis tanaman (Surahmaida & Handrianto, 2018). Khasiat Daun kentut memiliki berbagai manfaat kesehatan, antara lain: Aktivitas ini berkaitan dengan kandungan metabolit sekundernya seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin yang memiliki efek farmakologis penting (Surahmaida & Handrianto, 2018). Cara Pengolahan Sebagai Obat Tradisional (Rebusan) :  Digunakan untuk diare, kembung, dan gangguan pencernaan. Daftar Pustaka Surahmaida, & Handrianto, P. (2018). Analisis kandungan kimia daun dan batang sembukan (Paederia foetida) dengan menggunakan 2 pelarut yang berbeda. Journal of Pharmacy and Science, 3(2).

Daun Kentut (Paederia foetida L) Read More »

Zigzag (Euphorbia tithymaloides L)

Nama Latin Pedilanthus/Euphorbia tithymaloides L. Taksonomi Kingdom : Plantae Subkingdom : Trachobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Pedilanthus Spesies : Pedilanthus tithymaloides                                                       (Furmawanthi, 2002) Definisi Umum Pedilanthus/Euphorbia tithymaloides L (Tanaman Zig-zag) merupakan tumbuhan sukulen yang tumbuh menyemak rapat. Akar Pedilanthus/Euphorbia tithymaloides L sistem perakarannya tunggang. Tanaman ini memiliki ciri khas yaitu tanaman bergetah. Ikatan pembuluh pada akarnya adalah radial, dimana letak xylem dan floem berselang seling. Di dalam batangnya terdapat cambium. Kandungan Tanaman euphorbia sig-sag (Euphorbia tithymaloides) mengandung senyawa aktif yang terdapat pada getahnya, yaitu: Getahnya berwarna putih seperti susu, bersifat asam dan sedikit beracun sehingga penggunaannya harus hati-hati (penggunaan luar). Khasiat Cara Pengolahan Tanaman ini umumnya digunakan sebagai obat luar, dengan cara: Karena bersifat agak beracun, tidak boleh berlebihan dan tidak untuk dikonsumsi. Daftar Pustaka Mulya Sari, J., Insanei Darise, O., & Noermilah, N. (2017). Anatomi Euphorbiaceae Euphorbia tirucalli L. (Pohon zig zag) (Laporan praktikum anatomi tumbuhan). Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Wikipedia. “Euphorbia”. https://id.wikipedia.org/wiki/Euphorbia (Diakses 10 Agustus 2022).

Zigzag (Euphorbia tithymaloides L) Read More »

PALA (Miristica Fragrans)

Nama Latin Miristica Fragrans Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Magnoliidae Ordo: Magnoliales Famili: Myristicaceae Genus: Myristica Spesies: Myristica fragrans Houtt. (Plantamor, 2020) Definisi Umum Tanaman pala (Myristica fragrans) merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki peran penting dalam perdagangan rempah-rempah dunia. Di Indonesia, pala dikenal sebagai salah satu produk ekspor unggulan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Tanaman ini bahkan mendapat julukan “King of Spices” karena termasuk rempah tertua dan paling berpengaruh dalam perdagangan internasional. Selain itu, hampir seluruh bagian tanaman pala memiliki nilai jual, baik dalam bentuk kecambah, anakan, maupun biji, baik basah maupun kering. Namun demikian, harga biji pala di pasaran cenderung mengalami fluktuasi (Sudarmin et al., 2022; Deryanti et al., 2014). Kandungan Biji pala mengandung minyak atsiri dan memiliki sifat antioksidan, antimikroba, anti-flamasi, analgesik, serta berbagai aplikasi medis lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan utama dalam biji pala, termasuk miristisin, elemicin, safrole, eugenol, dan berbagai senyawa flavonoid serta fenolik, berkontribusi terhadap sifat farmakologisnya yang bermanfaat untuk mengatasi berbagai penyakit  Khasiat Tanaman pala, khususnya bagian bijinya, memiliki berbagai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan karena kandungan minyak atsiri dan senyawa aktif di dalamnya. Biji pala diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, dan analgesik yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh. Khasiat Biji yaitu Mengobati maag , menghentikan mual dan mules. Senyawa aktif seperti miristisin, elemisin, safrol, dan eugenol turut berkontribusi terhadap efek farmakologis tersebut. Selain itu, pala juga secara tradisional digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri perut, diare, mual, muntah, demam, serta membantu meredakan sakit kepala dan bau mulut. Pala juga berfungsi sebagai stimulan yang dapat meningkatkan nafsu makan serta membantu mengatasi perut kembung. Dalam beberapa penelitian, biji pala juga menunjukkan kemampuan dalam menurunkan tekanan darah, membantu proses detoksifikasi tubuh, serta memberikan efek relaksasi dan memperpanjang durasi tidur. Cara Pengolahan Cara pengolahan tanaman pala (Myristica fragrans Houtt.) dapat dilakukan secara sederhana maupun modern. Secara tradisional, biji pala dikeringkan lalu digunakan sebagai bumbu, diseduh menjadi minuman herbal, atau diolah menjadi sirup dan manisan. Sementara itu, secara modern biji pala diolah dengan cara dikeringkan kemudian diekstraksi, baik melalui penyulingan untuk menghasilkan minyak atsiri maupun dengan pelarut seperti etanol. Hasil ekstrak tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan produk kesehatan seperti minyak aromaterapi, balsem, atau krim.  Daftar Pustaka Amin, S., Sulaeman, M. I., & Megawati, M. (2025). Potensi minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans) untuk kesehatan. Indonesian Journal of Science, 1(6), 1382–1388.  Pareta, N. (2023). Potensi minyak atsiri biji pala dalam pengembangan bahan alam sebagai sumber obat. Majalah Info Sains.  Agaus, L. R., & V. (2019). Manfaat kesehatan tanaman pala (Myristica fragrans). Jurnal Kesehatan. 

PALA (Miristica Fragrans) Read More »

Ophiopogan (Ophiopogon japonicus (Thunb.) Ker Gawl.)

Nama Ilmiah Ophiopogon japonicus (Thunb.) Ker Gawl. Taksonomi Kingdom : PlantaeSubkingdom : TracheobiontaDivisi : MagnoliophytaKelas : LiliopsidaOrdo : AsparagalesFamili : AsparagaceaeSubfamili : NolinoideaeGenus : Ophiopogon Definisi Umum Ophiopogon atau Rumput kucai adalah genustumbuhan yang berasal dari daerah beriklim hangathingga Asia Timur, Tenggara, dan Selatan tropis.Meskipun berbentuk seperti rumput, tetapi merekatidak berkerabat dekat dengan rumput sejati (familiPoaceae). Penamaannya berasal dari kata dalambahasa Yunani yakni ophis (ὄφις, “ular”) dan pogon(πώγων, “jenggot”) yang kemungkinan merujukpada daun dan pertumbuhan berumbainya. Dalamsistem klasifikasi APG III genus ini ditempatkandalam famili Asparagaceae, subfamili Nolinoideae(sebelumnya famili Ruscaceae). Kandungan Tanaman ophiogon mengandung zat polisakarida, dan saponin Khasiat Ophiopogon japonicus memiliki efek menutrisi yin dan melembabkan paru-paru, bermanfaat bagilambung dan meningkatkan produksi cairan, membersihkan jantung dan menghilangkan masalah, dandapat digunakan untuk mengobati penyakit kardiovaskular, endokrin, dan sistem pernapasan . Studitelah menunjukkan bahwa ophiopogonin D mengatur jalur pensinyalan ACSL4/siklooksigenase 2(COX2), TFR1/FTH1 dan SLC7A11/GPX4 , meningkatkan kadar GSH-Px, mengurangi kandunganFe dan ROS , dan menghambat ekstrak air ferroptosis sel miokard menghambat ekspresi Rev-erbαdan Rev-erbβ, kemudian mengaktifkan jalur pensinyalan SLC7A11/HO-1 , meningkatkan kandunganGSH, dan akhirnya mencegah proses ferroptosis dan meringankan cedera ginjal memiliki efekregulasi pada beberapa molekul pensinyalan ferroptosis, yang dapat mengatur metabolisme zat besi ,peroksidasi lipid , dan menghambat perkembangan kematian zat besi. Oleh karena itu, diharapkandapat menjadi metode baru untuk mencegah ferroptosis pada sel intrinsik ginjal, dan menunda prosesDKD .Selain itu,Tanaman ophiogon berguna untuk menyembukan panas dalam, obat mendinginkan (astringen), meredakan iritasi, menjernihkan paru-paru dan tenggorokan, melembabkan saluran pencernaan, melancarkan buang air, menyembuhkan sakit batuk kering, mengobati paru-paru panas dan menyembuhkan luka. Cara Pengolahan 1. Rebusan (Dekok) Digunakan untuk batuk kering, panas dalam, paru-paru, dan pencernaan.Langkah: 1. Ambil ±10–15 gram umbi kering Ophiopogon japonicusCuci bersih 2. Rebus dengan ±2–3 gelas air 3. Didihkan selama 15–30 menit sampai air tersisa ±1 gelas 4. Saring, lalu diminum hangat Aturan pakai:Minum 1–2 kali sehari 2. Seduhan (Infus herbal) Lebih ringan, cocok untuk melembabkan tenggorokan dan panas dalam.Langkah: 1. Ambil ±5–10 gram umbi kering 2. Seduh dengan air panas 3. Diamkan 10–15 menit 4. Minum seperti teh 3. Campuran ramuan herbal Biasanya dikombinasikan dengan bahan lain untuk efek lebih kuat (terutama dalam pengobatan tradisional Tiongkok).Contoh campuran: – Ophiopogon japonicus + madu → untuk batuk kering & tenggorokan – Ophiopogon japonicus + jahe → untuk pencernaan – Ophiopogon japonicus + licorice (akar manis) → untuk paru-paru 4. Penggunaan luar (topikal) Untuk luka ringan atau iritasi kulit.Langkah: 1. Haluskan umbi segar 2. Tempelkan pada bagian luka/iritasi 3. Balut dengan kain bersih Daftar Pustaka Daftar Pustaka (Gabungan + Web + Jurnal)Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2019. Pedoman Penggunaan Obat Tradisional. Jakarta: BPOM RI. Chinese Pharmacopoeia Commission, 2020. Pharmacopoeia of the People’s Republic of China. Beijing: China Medical Science Press. Phytomedicine, 2023. Ophiopogon japonicus and its active compounds: A review of potential anticancer effects. International Journal of Biological Macromolecules, 2025. Biological activity of Ophiopogon japonicus polysaccharides. Carbohydrate Research, 2026. Polysaccharides of Ophiopogon japonicus and their bioactivities. Wikipedia, n.d. Ophiopogon. Tersedia pada: https:/

Ophiopogan (Ophiopogon japonicus (Thunb.) Ker Gawl.) Read More »

PATIKAN KEBO (Euphorbiahirta)

Nama Latin Euphorbiahirta Taksonomi Kerajaan: Plantae  Divis: Spermatophyta Subdivisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Euphorbia Species: Euphorbia hirta L. Rahmat (2020)  Definisi Umum Tanaman patikan kebo (Euphorbia hirta L.) merupakan tanaman gulma yang banyak tumbuh liar di sekitar pekarangan, pinggir jalan, dan lahan terbuka. Tanaman ini termasuk famili Euphorbiaceae dan telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional.  Kandungan patikan kebo mengandung senyawa metabolit sekunder seperti: Senyawa flavonoid dan fenolik berperan sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. Khasiat Tanaman ini memiliki berbagai manfaat, terutama: Dalam penelitian disebutkan bahwa ekstrak etanolnya memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Cara Pengolahan Cara pengolahan tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) dapat dilakukan secara tradisional maupun modern sesuai dengan tujuan penggunaannya. Secara tradisional, masyarakat biasanya memanfaatkan bagian batang tanaman yang mengandung getah putih (lateks). Batang dipotong sehingga mengeluarkan getah, kemudian getah tersebut dioleskan secara tipis pada bagian kulit yang mengalami luka atau gangguan seperti kutil dan infeksi ringan. Selain itu, batang tanaman juga dapat dicuci, dipotong kecil, lalu direbus dalam air selama beberapa menit untuk diambil air rebusannya sebagai ramuan herbal, meskipun penggunaannya harus sangat hati-hati. Pada beberapa praktik lain, batang segar ditumbuk hingga halus dan ditempelkan langsung pada bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan, terutama untuk luka atau peradangan ringan. Daftar Pustaka Sahertia, Y. S. (2019). Aktivitas antioksidan dan penentuan nilai SPF ekstrak patikan kebo (Euphorbia hirta L.) dalam sediaan krim tabir surya. Skripsi. Universitas Padjadjaran. Diakses dari: https://repository.unpad.ac.id/thesis/240310/2019/240310190007_2_3392.pdf Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI. Diakses dari: https://farmalkes.kemkes.go.id Hidayati, N., dkk. (2015).  Uji aktivitas antioksidan ekstrak herba patikan kebo (Euphorbia hirta L) Jurnal Farmasi Indonesia. Diakses melalui: https://scholar.google.com

PATIKAN KEBO (Euphorbiahirta) Read More »

PATAH TULANG (Euphorbia Tirucalli L.)

Nama Latin Euphorbia Trucalli L Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Malpighiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Euphorbia Spesies: Euphorbia tirucalli (ITIS, 2022). Definisi Umum Tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) merupakan tanaman perdu yang termasuk famili Euphorbiaceae, dikenal luas sebagai tanaman obat tradisional. Tanaman ini memiliki batang berbentuk silindris, berwarna hijau, dan mengandung getah putih (lateks) yang khas. Tanaman ini banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, terutama untuk pengobata  Kandungan Tanaman ini mengandung berbagai senyawa aktif, antara lain: Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam aktivitas biologis seperti antibakteri, antiinflamasi, dan penyembuhan luka. Khasiat Tanaman patah tulang memiliki beberapa manfaat, yaitu: Cara Pengolahan Dalam penelitian (metode ilmiah), pengolahan dilakukan dengan cara: Secara tradisional: Daftar Pustaka Pekei, A. Y. (2020).  Uji efektivitas ekstrak tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) terhadap penyembuhan luka.  Skripsi. Universitas Wahid Hasyim.  Link: https://eprints.unwahas.ac.id/3557/1/Atma%20Yulida%20Pekei_169010030_Kedokteran_Sarjana%20Kedokteran.pdf Kemenkes RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.  Dalimartha, S. (2006). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Puspa Swara. 

PATAH TULANG (Euphorbia Tirucalli L.) Read More »

PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis L. )

Nama Latin Stachytarpheta jamaicensis L.  Taksonomi Kingdom : Plantae  Sub kingdom : Viridi Plantae  Infra kingdom: Streptophyta   Super Division: Embryophyta  Devision :Tracheophyta  Class : Magnoliopsida  Super order : Asteranae  Order : Lamiales  Family : Verbenaceae  Genus :` Stachytapheta Species : Stachytarpheta jamaicensis (L) Vahl. (ITIS, 2022).  Definisi Umum Tanaman pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) merupakan tanaman herba dari famili Verbenaceae yang banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini umumnya tumbuh liar di pinggir jalan, kebun, dan lahan terbuka. Ciri khas tanaman ini adalah batang tegak, daun berbentuk lonjong bergerigi, serta bunga kecil berwarna ungu yang tersusun memanjang menyerupai cambuk (pecut). Tanaman ini telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai kandungan senyawa bioaktif yang berkhasiat bagi kesehatan.  Kandungan Tanaman pecut kuda mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas farmakologis. Kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan senyawa fenolik. Selain itu, tanaman ini juga mengandung glikosida dan minyak atsiri dalam jumlah tertentu. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri, serta antiinflamasi yang mendukung potensi tanaman ini sebagai obat herbal Khasiat Tanaman pecut kuda memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional. Daun dan bagian tanaman lainnya sering digunakan untuk membantu mengatasi demam, batuk, radang tenggorokan, serta gangguan pencernaan. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai obat luka, karena memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi yang dapat mempercepat proses penyembuhan lalu untuk rematik , sakit tenggorokan , keputihan . Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman ini berpotensi sebagai antioksidan dan antidiabetes, sehingga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara umum. Cara Pengolahan Pengolahan tanaman pecut kuda dapat dilakukan secara tradisional maupun modern. Secara tradisional, daun pecut kuda biasanya direbus untuk dijadikan air minum herbal atau ditumbuk untuk digunakan sebagai obat luar pada luka. Dalam pengolahan modern, bagian tanaman seperti daun dikeringkan terlebih dahulu, kemudian dihaluskan menjadi simplisia. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut seperti etanol atau metanol dengan metode maserasi. Hasil ekstraksi disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang dapat digunakan untuk penelitian atau diformulasikan menjadi produk herbal seperti kapsul, salep, atau minuman kesehatan.  Daftar Pustaka Nadha, R et al. 2018. Pemanfaatan Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta Jamaicensis L.) sebagai Teh Herbal Antidiabetes dan Antihiperlipidemi. Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE). Universitas Ngudi Waluyo. Diakses pada https://share.google/KzBOPkFhGjnA8P1lw Septiyadi, Set al. 2021. Penggunaan Daun Pecut Kuda sebagai Obat Tradisional di Desa Sukarame Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Universitas Garut. Diakses pada https://ejurnal.universitas-bth.ac.id/index.php/PSNDP/article/view/845

PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis L. ) Read More »

Srikaya ( Annona squamosa)

Nama Latin Annona squamosa Taksonomi Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Sub Divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Ordo: Ranunculales Familia: Annonaceae Genus: Annona Spesies: Annona squamosa L. (Depkes RI, 2001)  Definisi Umum Tanaman srikaya (Annona squamosa) merupakan tanaman tropis dari famili Annonaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman buah yang memiliki nilai gizi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Secara morfologi, tanaman ini berupa pohon kecil dengan buah berbentuk bulat bersegmen dan memiliki biji berwarna hitam. Selain buahnya, bagian lain seperti daun, biji, dan kulit batang juga memiliki potensi sebagai bahan obat karena mengandung senyawa bioaktif. Kandungan Tanaman srikaya mengandung berbagai senyawa kimia aktif yang termasuk dalam metabolit sekunder. Kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini antara lain alkaloid (seperti annonain), flavonoid, saponin, serta senyawa acetogenin yang dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi. Senyawa acetogenin merupakan komponen khas dari famili Annonaceae yang memiliki potensi sebagai agen sitotoksik atau antikanker. Selain itu, kandungan senyawa lainnya juga berperan sebagai antioksidan dan antibakteri.  Khasiat Tanaman srikaya memiliki berbagai khasiat yang telah dimanfaatkan secara tradisional maupun diteliti secara ilmiah. Daun srikaya digunakan sebagai obat untuk mengatasi bisul, luka, kudis, dan penyakit kulit lainnya. Selain itu, ekstrak tanaman ini juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antivirus, serta berpotensi sebagai antikanker karena adanya senyawa acetogenin. Khasiat pada biji yaitu dapat mematangkan bisul , membasmi kutu kepala. Tanaman ini juga diketahui memiliki efek imunostimulan yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh Cara Pengolahan Pengolahan tanaman srikaya dapat dilakukan secara tradisional maupun modern. Secara tradisional, daun srikaya biasanya direbus untuk dijadikan ramuan herbal atau ditumbuk dan digunakan sebagai obat luar untuk mengobati luka dan penyakit kulit. Sementara itu, dalam pengolahan modern, bagian tanaman seperti daun dan biji diekstraksi menggunakan pelarut (misalnya etanol) melalui metode maserasi untuk memperoleh senyawa aktif. Hasil ekstraksi kemudian dapat digunakan untuk penelitian farmakologi atau dikembangkan menjadi produk obat herbal. Daftar Pustaka Putra, I. G. I. P. (2015). Uji aktivitas antikanker ekstrak etanol biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap beberapa sel kanker manusia secara in vitro. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/9292/ Haskito, A. E. P. (2011). Efek pemberian ekstrak daun srikaya (Annona squamosa L.) terhadap sistem imun. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/84303/ Partogi, T. (1992). Isolasi dan identifikasi flavonoid dari daun srikaya. Universitas Airlangga.http://repository.unair.ac.id/9942/

Srikaya ( Annona squamosa) Read More »

Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.)

Nama Latin Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. Taksonomi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Genus: Erythrina Spesies: Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. (Plantamor.com) Definisi Umum Dadap serep (Erythrina variegata) merupakan tanaman berpohon yang tumbuh liar di hutan, kebun, dan tanah lapang. Genus Erythrina berasal dari kata Yunani “erythros” yang berarti “merah” yang merujuk pada bunga. Spesies variegata memiliki arti berwarna tidak teratur yang merujuk pada daun (Singh & Kumar, 2020). Tanaman Dadap serep tumbuh baik pada daerah yang setengah kering dan lembab dengan curah hujan 800-1500 mm/tahun (Tamir & Temesgen, 2015). Kandungan Dadap serep (Erythrina variegata) teridentifikasi mengandung komponen dari golongan alkaloid, flavonoid, triterpenoid, tannin, polifenol, dan saponin. Berbagai kandungan komponen tersebut, tentunya kaya akan aktivitas antioksidan (Hemmalakshmi et al., 2016). Selain itu, ada aktivitas antiinflamasi (Reddy et al., 2015) serta aktivitas antibakteri. Khasiat Antioksidan yang terkandung di dalam dadap serep antioksidan berperan dalam menyeimbangkan kadar ROS (Reactive Oxygen Species) dan mempertahankan kondisi terhadap kerusakan jaringan luka (Hemmalakshmi et al., 2016). Selain itu, aktivitas antiinflamasi di dalam dadap serep berperan dalam menghambat aktivitas enzim lipooksiginase dan siklooksiginase (Reddy et al., 2015) serta aktivitas antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri maupun mikroorganisme (Mohammed et al., 2023), sehingga memiliki potensi sebagai obat dalam membantu penyembuhan luka. . Berbagai bagian tanaman ini telah digunakan sebagai obat untuk menurunkan nyeri, demam, kolesterol, asam urat, batuk, dan melancarkan ASI. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Santhiya et al., 2016) Cara Pengolahan Dadap serep bisa langsug didunakan dengan cara daunnya ditempelkan ke dahi untuk menurunkan demam. Selain itu, daun dadap serep juga dapat diolah menjadi obat tradisional dengan beberapa cara. Salah satunya dijadikan sebagai minuman tradisional obat. Cara pembuatannya relatif mudah diawali dengan pencucian daun dadap serep hingga bersih, dilanjutkan dengan melakukan perebusan, lalu daun yang sudah direbus disaring yang kemudian air rebusan dadap serep dapat dikonsumsi sebagai obat. Daftar Pustaka Rohmah N. 2024. Potensi Kandungan Fitokimia Tanaman Dadap Serep (Erythrina variegata) sebagai Antibakteri, Antiinflamasi, dan Antioksidan:A Narrative Review. Skripsi Program Studi Farmasi. Universitas Muhammadiyah Magelang. Fensynthia G. 2025. Daun Daadap Serep, Inilah Manfaat dan Tips Aman Menggunakannya. Artikel. Alodokter. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.) Latin Name Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Superdivision: Spermatophyta Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Subclass: Rosidae Order: Fabales Family: Fabaceae Genus: Erythrina Species: Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. (Plantamor.com) General Definition Cockspur coral tree (Erythrina variegata) is a tree species that grows wild in forests, gardens, and open fields. The genus Erythrina comes from the Greek word “erythros” which means “red,” referring to the flowers. The species variegata means irregularly colored, referring to the leaves (Singh & Kumar, 2020). Cockspur coral tree grows well in semi-arid and humid areas with an annual rainfall of 800-1500 mm (Tamir & Temesgen, 2015). Content Dadap serep (Erythrina variegata) has been identified to contain components from the groups of alkaloids, flavonoids, triterpenoids, tannins, polyphenols, and saponins. These various components are of course rich in antioxidant activity (Hemmalakshmi et al., 2016). In addition, there is anti-inflammatory activity (Reddy et al., 2015) as well as antibacterial activity. Benefits The antioxidants contained in dadap serep play a role in balancing ROS (Reactive Oxygen Species) levels and maintaining conditions against tissue damage in wounds (Hemmalakshmi et al., 2016). In addition, the anti-inflammatory activity in dadap serep helps inhibit the activity of lipoxygenase and cyclooxygenase enzymes (Reddy et al., 2015), as well as antibacterial activity that can inhibit the growth of bacteria and other microorganisms (Mohammed et al., 2023), giving it potential as a medicine to aid in wound healing. Various parts of this plant have been used as medicines to reduce pain, fever, cholesterol, uric acid, cough, and to promote breastfeeding. According to research conducted by (Santhiya et al., 2016) Processing Method Dadap serep can be used directly by placing its leaves on the forehead to reduce fever. In addition, dadap serep leaves can also be processed into traditional medicine in several ways. One of them is made into a traditional medicinal drink. The preparation method is relatively easy, starting with washing the dadap serep leaves until clean, then boiling them, and finally straining the boiled leaves. The resulting dadap serep decoction can then be consumed as medicine. References Rohmah N. 2024. Phytochemical Content Potential of Dadap Serep Plant (Erythrina variegata) as Antibacterial, Anti-inflammatory, and Antioxidant: A Narrative Review. Thesis, Pharmacy Study Program. Muhammadiyah University of Magelang. Fensynthia G. 2025. Dadap Serep Leaves, Here Are the Benefits and Safe Usage Tips. Article. Alodokter. Ministry of Health of the Republic of Indonesia.

Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.) Read More »

TERONG (Solanum melongena L.)

Nama Latin Solanum melongena L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Solanum Spesies : Solanum melongena L. (Sahetapy, 2012) Definisi Umum Tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan tanaman hortikultura dari daerah tropis yang diduga berasal dari Asia, khususnya India dan Myanmar, serta telah menyebar luas ke berbagai wilayah tropis dan subtropis dunia. Tanaman ini termasuk dalam famili Solanaceae dan mampu tumbuh dengan baik hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Secara sistematika, terong tergolong ke dalam divisi Spermatophytae, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Tubiflorae, genus Solanum, dan spesies Solanum melongena L. (Andria, 2022). Kandungan Terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan sayuran dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Dalam 100 gram terong ungu terkandung sekitar kalori 25 kkal, karbohidrat 5,5 g, lemak 1,1 g, kalsium 15 mg, fosfor 37 mg, zat besi 0,4 mg, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, serta kadar air yang tinggi ±92,7% (Rukmanasari, 2010). Selain itu, terong juga kaya akan serat, mineral seperti magnesium dan kalium, serta senyawa bioaktif seperti antosianin dan nasunin yang berperan sebagai antioksidan (Foodreference, 2010). Kandungan fenolik pada terong diketahui mampu menangkap radikal bebas sehingga berpotensi melindungi sel dari kerusakan oksidatif (Tiwari et al., 2009) Khasiat Cara Pengolahan Terong dapat diolah dengan berbagai cara sederhana, tergantung kebutuhan konsumsi: Pengolahan yang minim minyak seperti kukus atau rebus lebih disarankan agar kandungan nutrisi, terutama antioksidan, tetap terjaga. Daftar Pustaka Andria, N. A. (2022). Pertumbuhan dan produksi tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) dengan pemberian plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan kompos tandan kosong kelapa sawit (Skripsi). Universitas Medan Area. https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/18911 Foodreference.com. (2010). Eggplant (aubergine) nutrition facts. https://www.foodreference.com/html/art-eggplant.html Tiwari, A., Sharma, M., & Pandey, G. (2009). Evaluation of antioxidant activity of eggplant (Solanum melongena L.). Persid, R., & Verma, S. (2014). Nutritional and antioxidant properties of eggplant (Solanum melongena L.). Rukmanasari. (2010). Kandungan gizi terong ungu. (Laporan/skripsi tidak dipublikasikan). EGGPLANT (Solanum melongena L.)Latin NameSolanum melongena L.TaxonomyKingdom: PlantaeDivision: MagnoliophytaClass: MagnoliopsidaOrder: SolanalesFamily: SolanaceaeGenus: SolanumSpecies: Solanum melongena L. (Sahetapy, 2012) General Definition The purple eggplant (Solanum melongena L.) is a tropical horticultural crop thought to have originated in Asia, particularly India and Myanmar, and has spread widely to various tropical and subtropical regions worldwide. This plant belongs to the Solanaceae family and can grow well up to an altitude of approximately 1,200 meters above sea level. Systematically, eggplant is classified in the division Spermatophytae, subdivision Angiospermae, class Dicotyledonae, order Tubiflorae, genus Solanum, and species Solanum melongena L. (Andria, 2022). Nutritional Content Purple eggplant (Solanum melongena L.) is a vegetable with a fairly complete nutritional profile. 100 grams of purple eggplant contains approximately 25 kcal of calories, 5.5 g of carbohydrates, 1.1 g of fat, 15 mg of calcium, 37 mg of phosphorus, 0.4 mg of iron, vitamins A, B1, and C, and a high water content of approximately 92.7% (Rukmanasari, 2010). Furthermore, eggplant is rich in fiber, minerals such as magnesium and potassium, and bioactive compounds such as anthocyanins and nasunin, which act as antioxidants (Foodreference, 2010). The phenolic content in eggplant is known to scavenge free radicals, potentially protecting cells from oxidative damage (Tiwari et al., 2009). Benefits Processing Methods Eggplant can be prepared in a variety of simple ways, depending on consumption needs: Preparations that use minimal oil, such as steaming or boiling, are recommended to maintain the nutritional content, especially antioxidants. Bibliography Andria, N. A. (2022). Growth and production of purple eggplant (Solanum melongena L.) with the addition of plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) and oil palm empty fruit bunch compost (Thesis). Medan Area University. https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/18911 Foodreference.com. (2010). Eggplant (aubergine) nutrition facts. https://www.foodreference.com/html/art-eggplant.html Tiwari, A., Sharma, M., & Pandey, G. (2009). Evaluation of antioxidant activity of eggplant (Solanum melongena L.). Persid, R., & Verma, S. (2014). Nutritional and antioxidant properties of eggplant (Solanum melongena L.). Rukmanasari. (2010). Nutritional content of purple eggplant. (Unpublished report/thesis).

TERONG (Solanum melongena L.) Read More »

Scroll to Top