November 2025

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

Nama Latin Hibiscus Sabdariffa L Taksonomi Kingdom     : Plantae Devisi      : Magnoliophyta Kelas       : Magnoliopsida Ordo     : Malvales Famili          : Malvaceae Genus      : Hibiscus Spesies    : Hibiscus sabdariffa L. Definisi Umum Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan tanaman herbal dari famili Malvaceae yang dikenal luas karena kelopak bunganya yang berwarna merah tua dan memiliki rasa asam khas. Tanaman ini berasal dari Afrika Barat namun kini telah dibudidayakan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Bagian kelopak bunga rosella sering dimanfaatkan sebagai bahan minuman, pewarna alami, serta sumber antioksidan karena mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, dan asam organik yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh (Nurjanah et al., 2021). Secara umum, rosella dikenal sebagai tanaman yang memiliki manfaat farmakologis luas, di antaranya sebagai antihipertensi, antidiabetes, antikolesterol, dan antimikroba. Kandungan vitamin c yang tinggi menjadikan rosella berpotensi sebagai imunostimulan alami. Selain itu, kelopak bunga rosella juga banyak digunakan dalam industri pangan dan farmasi sebagai bahan baku minuman fungsional dan suplemen herbal (Sari et al., 2020). Kandungan Rosella mengandung flavonoid seperti hibiscitrin dan hibiscetin, sedangkan kelompak kering bunga rosella mengandung flavonoid ( gossipentin, hibiscetin, dan sabadareti ), alkaloid, β-sitosterol, antosianin, asam sitrat, galaktosa, pectin (Kemenkes RI, 2011). Khasiat Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Kandungan antosianin, flavonoid, dan vitamin C pada kelopak bunganya berperan sebagai antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas dan mencegah kerusakan sel (Nurjanah et al., 2021). Selain itu, ekstrak rosella menunjukkan efek antihipertensi dan penurun kolesterol melalui mekanisme vasodilatasi dan peningkatan ekskresi natrium (Widyaningrum et al., 2020). Rosella juga berfungsi sebagai antidiabetes dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat enzim α-glukosidase (Rahmawati et al., 2022). Penelitian juga melaporkan aktivitas antiinflamasi, hepatoprotektif, antibakteri, dan imunostimulan yang mendukung penggunaannya sebagai tanaman obat alami dan bahan minuman fungsional (Fadilah et al., 2023). Cara Pengolahan Pengolahan rosella sebagai obat tradisional umumnya dilakukan dengan cara pengeringan kelopak bunga yang kemudian diseduh menjadi teh herbal. Teh rosella ini dikenal bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah (Yuliani et al., 2020). Daftar Pustaka Fadilah, N., et al. (2023). Aktivitas hepatoprotektif dan antibakteri ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 145–153. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Nurjanah, S., et al. (2021). Aktivitas antioksidan ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 32(2), 89–96. Rahmawati, D., et al. (2022). Aktivitas antidiabetes dan antiinflamasi ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada tikus diabetes melitus. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 20(2), 103–110 Sari, M., et al. (2020). Potensi ekstrak bunga rosella sebagai sumber antioksidan alami dalam produk minuman fungsional. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 7(1), 45–52. Widyaningrum, N., et al. (2020). Efek konsumsi teh rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap tekanan darah dan profil lipid pada pasien hipertensi. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 33(1), 27–33. Yuliani, S., et al. (2020). Pengaruh metode pengeringan terhadap mutu simplisia bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Industri Hasil Pertanian, 15(2), 75–82.

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Read More »

Seledri ( Apium graveolens )

Nama latin       Apium graveolens Taksonomi Kingdom                 : Plantae Sub Kingdom         : Tracheobionta Divisi                        : Spermatophyta Subdivisi                 : Angiospermae Kelas                        : Dicotyledonae Ordo                        : Apiales Famili                      : Apiaceae Genus                      : Apium L Spesies                     : Apium graveolens L. Definisi Umum Seledri ( Apium graveolens L. ) adalah jenis sayuran yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk masakan dan juga memiliki sifat pengobatan. Tanaman seledri, yang merupakan tanaman musiman, sangat sensitif terhadap kondisi air yang berlebihan atau kekurangan dapat menganggu pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal Puput, (2012); Rizky et al., (2018). Kandungan Seledri (Apium graveolens L) merupakan tumbuhan yang serat dannutrisi bermanfaat bagi Kesehatan, namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, seledri umumnya hanya di gunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan. Padahal, tanpa disadari tanaman ini bisa dimanfaatkan lebih optima, seperti minyak astiri yang terkandung didalamnya (Patricia et al., 2019). Secara keseluruhan, selerdi memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiplatelet, dan antiproliferatif,. Dari segi tradisional, seledri Apium graveolens L berguna untuk mengatasi rematik/asam urat, hipertensi, demam, nyari pinggang, konstipasi, sesak nafas, gangguan mata, stroke/lumpuh, serta diabetes (Handayani & Widowati, 2020).). Khasiat Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin sebanyak 1%, apiin, minyak atsiri sekitar 0,033%, apigenin, kolin, vitamin A, B, C, serta zat pahit asparagin (Clements et al., 2020). Di antara komponen seledri yang bersifat antibakteri adalah flavonoid, saponin, dan tanin (Majidah et al., 2014) 6.  Cara pengolahan Pembuatan Jus Seledri Segar (Tujuan: Konsumsi Segar atau Bahan Fungsional) Daftar Pustaka Handayani, L., & Widowati, L. (2020). Analisis Lanjut Pemanfaatan Empiris Ramuan Seledri (Apium graveolens L) oleh Penyehat Tradisional. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 10, 31 41. https://doi.org/DOI :10.22435/jki.v10i1.1718l Majidah, D., Fatmawati, D. W. A., Gunadi, A., Gigi, K., Jember, U., Gigi, F. K., Jember, U., Gigi, F. K., & Jember, U. (2014). Daya Antibakteri Ekstrak Daun Seledri ( Apium graveolens L .) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai Alternatif Obat Kumur. Puput, S. (2012). Pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.) pada beberapa jenis media tanam dan dosis pupuk organik cair. Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas IBA. Patricia, A. D., Jumaeri, & Mahatmanti, F. W. (2019). Uji Daya Antibakteri Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Seledri ( Apium graveolens ). J. Chem. Sci, 8(1), 29–33. Rizky, A., Pratama, Y., Sumiya, W., & Yamika, D. (2018). Pengaruh komposisi media dan jumlah air terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri (Apium graveolens L.). Jurnal Produksi Tanaman, 6(8), 1613–1619. Rudy S. et al., Impact of Drying Process on Grindability and Physicochemical Properties of Celery, Foods (MDPI), 2024

Seledri ( Apium graveolens ) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix Dc Sinonim : Citrus paeda Miq Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah. (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah.Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Tempuyung (Sonchus arvensis L.)

Nama latin Sonchus arvensis L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida (dikotil) Ordo     : Asterales Famili   : Asteraceae Genus    : Sonchus Spesies   : Sonchus arvensis L. (Hariana, A, 2019.). Definisi Umum Tempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki khasiat obat dan tumbuh subur di daerah beriklim tropis maupun subtropis. Tanaman ini termasuk famili Asteraceae dan sering dijumpai tumbuh liar di tempat lembap seperti tepi jalan, ladang, atau tanah berbatu. Tempuyung memiliki tinggi tanaman sekitar 50–150 cm dengan batang tegak, berongga, dan mengandung getah putih. Daunnya berbentuk lonjong hingga memanjang, berwarna hijau muda, dengan tepi bergerigi tidak beraturan. Daun bagian bawah biasanya lebih besar, panjangnya dapat mencapai 20–40 cm dan lebarnya 4–10 cm, serta menempel melingkari batang. Bunga tempuyung tersusun dalam tandan berbentuk bongkol (capitulum) berwarna kuning cerah, sedangkan buahnya kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan angin. Akar tempuyung termasuk jenis akar tunggang dengan cabang halus di sekitarnya. Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (Folium Sonchi arvensis), karena mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, kalium, dan triterpenoid, yang berperan dalam efek diuretik, antiinflamasi, dan peluruh batu ginjal (antilithiasis) (Djamal, R., et al. 2017). Khasiat Kandungan kalium pada daun tempuyung membantu melarutkan dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan cara menggantikan ion kalsium pada batu oksalat, sehingga batu lebih mudah larut dan dikeluarkan melalui urin (Djamal et al., 2017). Efek diuretik dan relaksasi otot polos pembuluh darah dari ekstrak daun tempuyung dapat membantu menurunkan tekanan darah (Hariana, 2019). Cara Pengolahan Tempuyung (Sonchus arvensis L) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain: Daun segar/kering direbus dalam air 10-25 menit (biasanya 5-20 g dalam 200 ml air). dengan cara  ini ekstrak air dapat diminum langsung. Ramuan ini dapat dikonsumsi secara tunggal atau ditambahkan madu maupun gula merah untuk memperbaiki rasa. Sediaan ini umumnya digunakan sebagai penurun kadar asam urat karena hasil uji fitokimia menunjukan infusa daun tempuyung positig mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin (Estevany Priliansi et al., 2025) Pilih 2–3 helai daun segar, cuci bersih di air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan getah berlebih. Tumbuk atau haluskan daun hingga menjadi pasta lembut. Jika diinginkan, tambahkan 1–2 sendok teh air hangat atau beberapa tetes minyak kelapa untuk meningkatkan daya sebar dan penyerapan zat aktif pada kulit (Hariana, A. 2019) Daftar Pustaka Estevany Priliansi, Sarah Puspita Atmaja, & Ari Widhiarso. (2025). Antihyperuricemia Activity Test of Tempuyung Leaf Infusion (Sonchus arvensis L.) on Male Swiss Webster Mice (Mus musculus). JURNAL FARMASIMED (JFM), 7(2), 264–273. https://doi.org/10.35451/jfm.v7i2.2588  Hariana, A. (2019). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Isnindar, I., et al. (2014). “Study of diuretic and uric acid lowering effect of Sonchus arvensis L. leaf infusion.” Indonesian Journal of Pharmacy. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI.

Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Read More »

PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban)

Nama Latin Centella asiatica (L.) Urban Taksonomi Kingdom (Kerajaan): Plantae Subkingdom: Tracheobionta Divisi (Divisio): Magnoliophyta / Spermatophyta (Angiospermae) Kelas (Classis): Magnoliopsida (Dicotyledonae) Subkelas (Subclassis): Rosidae Ordo (Ordo): Apiales Famili (Familia): Apiaceae (Umbelliferae) Genus: Centella Spesies: Centella asiatica (L.) Urban Definisi Umum Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) adalah tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dengan batang tipis, beruas, dan mampu mengeluarkan akar pada setiap ruas yang menyentuh tanah. Tanaman ini termasuk dalam famili Apiaceae dan sering ditemukan tumbuh liar di tempat yang lembap, seperti tepi sawah, pekarangan, maupun area berumput yang teduh. Daun pegagan berbentuk bundar atau menyerupai ginjal dengan tepi bergerigi halus, berwarna hijau cerah, dan bertangkai panjang yang keluar dari setiap ruas batang, membentuk roset di permukaan tanah. Bunganya kecil berwarna merah muda keunguan, tersusun dalam bentuk payung majemuk (umbel), dan menghasilkan buah kecil pipih berbiji. Pegagan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, mampu tumbuh baik di daerah tropis dengan intensitas cahaya sedang hingga rendah, serta dapat berkembang di dataran rendah maupun tinggi. Secara morfologis, tanaman ini tidak memiliki batang tegak seperti tanaman berkayu, melainkan batang menjalar yang memudahkan penyebarannya melalui stolon. Kandungan Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) mengandung berbagai senyawa bioaktif penting yang berperan dalam aktivitas farmakologisnya. Kandungan utama tanaman ini adalah kelompok triterpenoid saponin, terutama asiaticoside, madecassoside, asiatic acid, dan madecassic acid, yang berfungsi sebagai agen penyembuh luka, antiinflamasi, dan stimulan pembentukan kolagen. Selain itu, pegagan juga mengandung flavonoid seperti quercetin, kaempferol, dan apigenin yang berperan sebagai antioksidan alami untuk menangkal radikal bebas dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Senyawa lain yang ditemukan meliputi tanin, alkaloid, sterol (β-sitosterol dan stigmasterol), minyak atsiri, glikosida, serta senyawa fenolik yang mendukung aktivitas antimikroba dan antidiabetes. Kandungan asam amino dan vitamin dalam pegagan juga berkontribusi terhadap efek tonik dan regeneratif jaringan tubuh. Kombinasi berbagai senyawa tersebut menjadikan pegagan tidak hanya bermanfaat untuk perawatan kulit dan penyembuhan luka, tetapi juga untuk menjaga kesehatan saraf, memperbaiki fungsi kognitif, serta meningkatkan sistem imun secara alami. Khasiat Dalam berbagai tradisi pengobatan, pegagan dikenal luas sebagai tanaman obat multifungsi yang telah digunakan selama berabad-abad di Asia, termasuk dalam sistem pengobatan Ayurveda, pengobatan tradisional Tiongkok, dan jamu Indonesia. Pegagan sering disebut sebagai “herba peremajaan” karena dipercaya dapat meningkatkan daya ingat, menenangkan sistem saraf, mempercepat penyembuhan luka, serta memperbaiki kesehatan kulit. Kandungan senyawa aktifnya, terutama triterpenoid saponin seperti asiaticoside, madecassoside, dan asiatic acid, memberikan aktivitas farmakologis yang beragam, termasuk antioksidan, antiinflamasi, dan penyembuh luka. Selain digunakan sebagai obat, pegagan juga dikonsumsi sebagai lalapan atau dibuat menjadi minuman herbal karena rasanya yang segar dan manfaatnya bagi kesehatan. Dalam industri modern, ekstrak pegagan telah banyak diaplikasikan dalam produk kosmetik, suplemen kesehatan, serta obat topikal untuk regenerasi kulit dan perawatan jaringan. Kombinasi antara kemudahan budidaya, nilai ekonomi tinggi, dan khasiat ilmiah yang terbukti menjadikan pegagan salah satu tanaman obat unggulan Indonesia yang potensial dikembangkan secara berkelanjutan. Cara Pengolahan Berikut ini beberapa metode pengolahan pegagan yang umum digunakan dalam praktik tradisional dan penelitian: DAFTAR PUSTAKA Azzahra, F., & Hayati, M. (2019). Formulasi dan Aktivitas Gel Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb) terhadap Staphylococcus epidermidis. Jurnal Prepotif, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. Diakses dari https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/prepotif/article/view/30520 Brinkhaus, B., Lindner, M., Schuppan, D., & Hahn, E. G. (2000). Chemical, pharmacological and clinical profile of the East Asian medical plant Centella asiatica. Phytomedicine, 7(5), 427–448. Departemen Pertanian Republik Indonesia. (2024). Budidaya Pegagan: Tanaman Obat Berkhasiat. Direktorat Jenderal Hortikultura. Diakses dari https://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2024/11/Budidaya-Pegagan-Tanaman-Obat-Berkhasiat_watermark.pdf Jurnal Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2022). Optimasi Waktu Maserasi pada Ekstraksi Daun Pegagan (Centella asiatica). Seminar Nasional Sains dan Teknologi. Diakses dari https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek/article/view/22497 Sadik, F., & Anwar, A. R. A. (2022). Standarisasi Parameter Spesifik Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica L.) Sebagai Antidiabetes. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 4(1). Diakses dari https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jsscr/article/download/13310/3835 Subhawa, I. M., et al. (2020). Efek Pemberian Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma, 9(1). Diakses dari https://journal.uwks.ac.id/index.php/jikw/article/download/664/pdf Sutardi. (2016). Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun. Jurnal Litbang Pertanian, 35(3). Sulistio, A. D., dkk. (2021). Pemanfaatan Daun Pegagan (Centella asiatica) Menjadi Olahan Keripik. Jurnal Pengabdian Masyarakat, Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari https://journal.uny.ac.id/index.php/jpmmp/article/download/44317/pdf Universitas Udayana. (2023). Potensi Tanaman Pegagan (Centella asiatica) dalam Pengembangan Obat Herbal Tradisional. Jurnal Farmasi Udayana, 12(2). Diakses dari https://ojs.unud.ac.id/index.php/jfu/article/download/114802/57768 Wikipedia. (2025). Centella asiatica. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pegagan

PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) Read More »

KEPEL

Nama Latin Stelechocarpus Burahol Taksonomi ·  Kerajaan : Plantae ·  Divisi : Tracheophyta ·  Kelas : Magnoliopsida ·  Suku : Annonaceae ·  Marga : Stelechocarpus ·  Spesies : Stelechocarpus burahol   Definisi Tanaman kepel merupakan tanaman asli daerah tropis yang diduga berasal dari Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia, namun tersebar hingga kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia tanaman ini banyak di temukan di daerah jawa seperti di kawasan Keraton Yogayakarta, Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Purwodadi, Taman Mini Indonesia Indah, dan Taman Kiai Langgeng Magelang. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Jawa merupakan daerah pusat keragaman dan memungkinkan daerah asal tanaman ini (Angio & Firdiana 2021). Di daerah Kabupaten Kediri sendiri, tanaman kepel ini termasuk keadalam tanaman langka karena sudah jarang di temui oleh warga sekitar. Kepel merupakan salah satu tanaman anggota suku annocecae yang memiliki habitus pohon dengan tinggi mencapai 6 – 20 meter, batang lurus berwarna coklat tua dengan permukaan yang tidak rata karena terdapat benjolan benjolan bekas bunga dan buah, diameter mencapai 50 cm pada usia pohon dewasa (Angio & Firdiana 2021). Kandungan Tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) diketahui memiliki profil fitokimia yang kaya. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa bagian buah dan daun kepel mengandung beberapa kelompok metabolit sekunder penting, yaitu fenolik, flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid. Senyawa fenolik dan flavonoid ditemukan dalam kadar yang signifikan dan merupakan komponen dominan dari ekstrak kepel. Selain itu, hasil uji fraksinasi menunjukkan keberadaan tanin serta saponin, yang mendukung karakter fitokimia tanaman ini. Senyawa alkaloid juga terdeteksi pada buah kepel, sehingga mengonfirmasi bahwa S. burahol memiliki komposisi kimia yang kompleks dan tergolong kaya metabolit aktif alami. Cara Pengolahan Masyarakat secara umum memahami bahwa bagian tanaman kepel yang dimanfaakan adalah bagian buahnya yang kemudian diyakini dapat membuat harum nafas dan bau keringat. Selain itu juga dapat mengarumkan air seni. Dilanjutkan dengan menjelaskan manfaat lain dari jenis buah kepel ini dari banyak kandungan yang sudah dikaji baik kandungan dalam buah maupun kandungan dalam daunnya, yaitu dapat menurunkan kadar asam urat, menurunkan kadar kolesterol, dapat meluruhkan air kencing, mencegah radang ginjal sebagai sumber antioksidan, maupun sebagai pencegah kanker (anti mutagenesis) dan (anti carcinogenesis) serta mencegah kehamilan (kontrasepsi). Selain itu, kepel juga digunakan sebagai tanaman pelindung dan tanaman hias karena bentuk buahnya yang menarik (Fiani& Yuliah 2018). Daftar Pustaka Amin, A., Radji, M., Mun’im, A., Rahardjo, A., & Suryadi, H. (2017). Halitosis activity against volatile sulfur compound of methyl mercaptan component from burahol fruit extract. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. Angio, Melisnawati H, and Elok Rifqi Firdiana. 2021. “Kepel (Stelechocarpus Burahol (Blume) Hook & Thompson), Buah Langka Khas Keraton Yogyakrta: Sebuah Koleksi Kebun Raya Purwodadi.” Warta Kebun Raya 19(2): 7–13. Fiani, A., dan Yuliah. 2018. “Pertumbuhan Kepel (Stelechocarpus Burahol (Blume) Hook & Thomson) Dari Dua Populasi Di Mangunan, Bantul.” Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek III: 301–6. Herlina, N., Riyanto, S., Martono, S., & Rohman, A. (2018). Antioxidant activities, phenolic and flavonoid contents of Stelechocarpus burahol fruit extracts. Dhaka University Journal of Pharmaceutical Sciences Pribadi, P., Latifah, E., & Rohmayanti. (2014). Pemanfaatan perasan buah kepel sebagai antiseptik luka. Pharmaciana.   Shadrina, A. N., Widyanengsih, E., Eiko, N. B., Putri, N. A., Sulastri, N., Dzulfiana, N., Rajebi, O., & Sulvita, W. 2022 “Analisis fitokimia dan aktivitas farmakologi tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) terhadap beberapa penyakit: Review”. Jurnal Buana Farma, 2(3), 14–21.

KEPEL Read More »

WALI SONGO (Schefflera arboricola)

 Nama Latin Schefflera arboricola. Taksonomi Kingdom       : Plantae Super divisi   : Angiospermae Divisi            : Spermatophyta Kelas             : Dicotyledoneae Ordo              : Apiales Famili : Araliaceae Definisi Umum Tanaman walisongo mempunyai daun yang tumbuh berbentuk jari tangan pada batang utama. Daun tebal berwarna hijau mengkialap atau varigata. Bentuk daun ada yang bergelombang, ramping, lonjong, runcing atau menyerupai daun ubi kayu. Cirri khas tanaman walisongo yaitu jumlah daunnya yang banyak dan membentuk bulatan selayaknya tapak jari. Batang meliuk dan tidak lurus karena didukung oleh beberapa batang yang lain sehingga membentuk kombinasi perpaduan beberapa batang yang berbentuk rumpun. Kandungan Golongan Senyawa Kandungan Spesifik Khasiat / Aktivitas Biologis Flavonoid quercetin, kaempferol, rutin antioksidan, antiinflamasi, antimikroba Saponin saponin triterpenoid menurunkan kolesterol, meningkatkan daya tahan tubuh Tanin tanin polifenolik antibakteri, antiradang, penyembuhan luka Steroid dan triterpenoid β-sitosterol, lupeol antiinflamasi, antikanker Alkaloid belum banyak diidentifikasi, namun ada jejak alkaloid analgesik ringan, antimikroba Minyak atsiri (volatile compounds) seskuiterpen, aldehida aromatic memberikan aroma khas dan efek antiseptik alami Khasiat Meningkatkan stamina, menetralisir racun atau polusi udara, hingga mengatasi luka bakar. Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA Backer CA and Bakhuinzen van den Brink, 1968. Flora ofJava (Spermathophytes Beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia X). Puslitbang Farmasi. Departemen Kesehatan RI. Lin TS dan Yin HW, 1995. Effect of Litsea cubeba press oils on the control of Materia Medika Indonesia, vol. 2, 1978. Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Mayun, Ida Ayu. 2015.  Indentifikasi Tanaman Lanskap pada Kampus Universitas Udayana Jalan Sudirman Denpasar. Denpasar : Udayana Muslikhati, 1995. Penapisan Aktivitas Minyak Atsiri Tiga Jenis Tanaman only). Vol II!. Wolters-Noordhoff NV-Groningen, The Netherlands. Suku Lauraceae terhadap Mikroba. Dalam Penelitian Tanaman Obat di termite Coptotermes formosan us Shiraki. Taiwan For. Res. Inst. New Series. 10: 5963. Vademekum Bahan Obat Alam. 1989. Departemen Kesehatan Rl, Jakarta.

WALI SONGO (Schefflera arboricola) Read More »

Daun Cakar Ayam (Selagiriella doederleinii Hieron)

Nama Latin Selagiriella doederleinii Hieron Taksonomi Kerajaan: Plantae Subkerajaan: Trachaeophyta Superdivisi: Pteridophyta Divisi: Lycopodiophyta Kelas: Lycopodiopsida Ordo: Selaginellales Famili: Selaginellaceae Genus: Selaginella Spesies: Selaginella doederlein Definisi Cakar ayam, dikenal dapat membersihkan getih, antipiretik (menurunkan panas), antiracun, antikanker, dan nemostatik (menghentikan pendarahan), dan anti bengkak. Bagian tanaman yang digunakan itu adalah seluruh tanamannya, dalam keadaan segar atau kering. Tumbuhan ini termasuk dalam habitus terna, merayap, dan sedikit tegak. Daunnya kecil-kecil berbentuk jorong, ujung meruncing, pangkal rata, warna daun bagian atas hijau tua dan bagian bawah hijau muda. Daun tersusun di kiri kanan batang induk sampai ke percabangannya yang menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya. Batangnya bulat dan bercabang-cabang menggarpu tanpa pertumbuhan sekunder dan warna putih kecoklatan. Memiliki sporangium yang tereduksi di ketiak daun dan berwarna putih. Tumbuhan cakar ayam ini memiliki akar serabut berwarna coklat kehitaman. Kandungan Alkaloid, saponin, pitosterol, fenilpropanon, flavonoid, glikosida, hieron, lignans, fenilpropanon, myristic acid, beta citronellol, palmitic acid, emodin, apigenin, ferulic acid, syringate, amentoflavone. Khasiat Antipiretik (penurun panas), antioksidan, antitumor, antikanker, antibakteri, antivirus, hemostatik (menghentikan pendarahan), antioedem (anti bengkak), pembersih darah, dan stomakikum (Ngibad, 2018; Kusumastuti, 2012) . Manfaat lain dari Tumbuhan bisa mengatasi batuk, infeksi saluran pernapasan, radang paru, hepatitis, diare, keputihan, dan tulang patah. Cara pengolahan Cara pengolahan menjadi jamu Pertama-tama, siapkan 15-30 gram tumbuhan Cakar Ayam yang telah dikeringkan (untuk pengobatan kanker sebanyak 50-100 gram). Setelah itu, rebus Cakar Ayam kering ke dalam lima gelas air dengan api kecil selama 3-4 jam. Setelah mendidih, tunggu jamu hingga dingin. Setelah dingin, minum jamu tersebut 2 kali dalam sehari. Daftar Pustaka Biodiversity Warriors. (2021). Mengenal Selaginella doederleinii Hieron, Tumbuhan Obat yang Melimpah di Kawasan Turgo. Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024). Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) sebagai Tanaman Obat Tradisional. Kusumastuti, E. (2012). Kajian Fitokimia dan Aktivitas Farmakologis Tanaman Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Ngibad, K. (2018). Potensi Tumbuhan Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) sebagai Obat Tradisional dan Sumber Antioksidan Alami. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Cakar ayam (tanaman).

Daun Cakar Ayam (Selagiriella doederleinii Hieron) Read More »

Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)

Nama latin Clitoria ternatea L. Taksonomi Kerajaan         :Plantae Sub kerajaan       :Tracheobionta Super Divisi        :Spermatophyta Divisi             :Magnoliophyta Kelas              :Magnoliopsida Sub kelas            :Rosidae Bangsa           :Fabales Keluarga         :Fabaceae Genus             :Clitoria Species           :Clitoria ternatea L (Hartono, 2018 dalam Handito, 2023) Definisi umum Clitoria ternatea L., yang dikenal sebagai bunga telang, merupakan tanaman herba tahunan dari famili Fabaceae yang tumbuh subur di daerah beriklim tropis serta menunjukkan ketahanan yang baik terhadap gangguan lingkungan (Yusuf et al., 2025). Tanaman ini menghasilkan bunga berbentuk kupu-kupu yang bersifat zigomorfik dan memiliki lima bagian (pentamerous), dengan kelopak berbentuk tabung yang terdiri atas lima sepal yang menyatu sekitar dua pertiga dari panjangnya (Oguis et al., 2019). Selain itu, bunga telang dikenal memiliki kandungan antioksidan yang tinggi dan umumnya tumbuh di pekarangan rumah, hutan, maupun pinggiran kebun (Sumartini et al., 2020). Tidak hanya itu, Clitoria ternatea L. juga banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Ayurveda serta memiliki aplikasi luas di bidang kuliner (Ashraf et al., 2023; Maneechot et al., 2023). Kandungan bioaktif dalam ekstrak bunga telang meliputi senyawa flavonoid berupa antosianin, asam fenolat, flavon, flavonol glikosida, dan flavanol, serta berbagai senyawa terpenoid, alkaloid, dan peptida berupa siklotida (Marpaung, 2020).  Khasiat Ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) diketahui memiliki berbagai potensi dan manfaat yang luas. Handito et al. (2022) menyatakan bahwa ekstrak bunga telang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami lokal sekaligus sumber antioksidan alami yang dapat ditambahkan pada berbagai produk pangan. Sejalan dengan itu, Andriani dan Murtisiwi (2020) melaporkan bahwa ekstrak bunga telang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, yaitu sebesar 41,36 μg/mL. Selain aktivitas antioksidan, Purba (2020) juga menyebutkan bahwa bunga telang memiliki potensi farmakologis lain seperti antimikroba, antidepresan, antelmintik, antikanker, dan antidiabetes. Selanjutnya, Pratiwi et al. (2020) menjelaskan bahwa aktivitas tanin pada ekstrak bunga telang dapat memberikan efek nefroprotektif terhadap paparan bahan toksik dengan cara mencegah peroksidasi lipid dan menekan pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang dapat menyebabkan kematian sel. Selain itu, Ab Rashid et al. (2021) melaporkan bahwa mikrokapsul antosianin dari bunga telang juga memiliki aktivitas antibakteri. Hal ini didukung oleh Yurisna et al. (2022) yang menyebutkan bahwa kandungan flavonoid, antosianin, tanin, flavon, flavanol, asam fenolat, dan alkaloid dalam bunga telang berpotensi dimanfaatkan sebagai antibakteri pada produk pangan. Cara pengolahan Cara pengolahan bunga telang menjadi teh dilakukan melalui beberapa tahap. Bunga telang yang telah dipanen dicuci hingga bersih, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau menggunakan oven pada suhu 60°C hingga benar-benar kering. Setelah itu, bunga kering dihaluskan hingga menjadi serbuk simplisia, lalu dikemas dan disegel sebagai teh bunga telang (Widjajanti et al., 2023). Herlina et al. (2023) menjelaskan bahwa pengolahan bunga telang dapat dilakukan menjadi berbagai bentuk minuman seperti sirup, teh, dan air seduhan yang dapat langsung dikonsumsi. Proses penyeduhan pada suhu tertentu berpengaruh terhadap kandungan antosianin yang berperan sebagai antioksidan dalam minuman tersebut.   Sementara itu, ekstrak bunga telang juga dapat dicampurkan dengan berbagai bahan pangan lainnya. Ekstrak ini memiliki ketahanan terhadap proses pemanasan seperti pasteurisasi, sehingga berpotensi digunakan sebagai pewarna alami sekaligus penambah aktivitas antioksidan dalam produk pangan (Kurniadi et al., 2024). Referensi Ab Rashid, S., Tong, W. Y., Leong, C. R., Abdul Ghazali, N. M.,  Taher, M. A., Ahmad,  N.,  …  Teo,  S.  H.  (2021). Anthocyanin  Microcapsule  from Clitoria  ternatea:  Potential  Bio-preservative  and  Blue  Colorant  for Baked Food Products. Arabian Journal for  Science  and  Engineering,  46(1), 65–72. https://doi.org/10.1007/s13369-020-04716-y Andriani, D., & Murtisiwi, L. (2020). Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70 % bunga telang (Clitoria ternatea L.) dari daerah Sleman dengan metode DPPH. Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia, 17(1), 70–76. https://doi.org/10.23917/pharmacon.v17i1.9321 Ashraf, K., Adlin, N. F., Basri, A. N., Ahmad, W., & Sultan, S. (2023). The traditional uses, phytochemistry, and pharmacological effects of Clitoria ternatea: A review. Indian Journal of Pharmaceutical Education and Research, 58(1), 1–14. https://doi.org/10.5530/ijper.58.1.1 Handito, D., Basuki, E., Saloko, S., Dwikasari, L. G., & Triani, E. (2022). Analisis komposisi bunga telang (Clitoria ternatea) sebagai antioksidan alami pada produk pangan. Prosiding SAINTEK, 4, 64-70. LPPM Universitas Mataram. E-ISSN: 2774-8057. https://eprints.unram.ac.id/40868/1/B50.pdf Handito, R., & Pratiwi, N. (2023). Klasifikasi dan potensi bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai tanaman obat. Jurnal Biologi Tropika, 10(2), 45–52. Herlina, H., Jannah, S., Mulyani, E., & Sembiring, M. (2023). Analisa antosianin pada minuman olahan bunga telang (Clitoria ternatea L.) dengan metode pH differensial. Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi, 12(2), 1–10. p-ISSN 2089-5313 | e-ISSN 2549-5062. Retrieved from https://ejournal.poltekharber.ac.id/index.php/parapemikir/article/download/5138/pdf_135 Kurniadi, A., Sartika, D., Herdiana, N., & Susilawati. (2024). Kajian formulasi ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea) terhadap aktivitas antioksidan pada minuman fungsional. Jurnal Agroindustri Maneechot, O., Hahor, W., Thongprajukaew, K., Nuntapong, N., & Bubaka, S. (2023). A natural blue colorant from butterfly pea (Clitoria ternatea) petals for traditional rice cooking. Journal of Food Science and Technology, 60(8), 2255–2264. https://doi.org/10.1007/s13197-023-05752-w Marpaung, A. M. (2020). Tinjauan manfaat bunga telang (Clitoria ternatea L.) bagi kesehatan  manusia.  Journal  of Functional  Food  and  Nutraceutical, 1(2),  63–85. https://doi.org/10.33555/jffn.v1i2.30 Oguis, G. K., Gilding, E. K., Jackson, M. A., & Craik, D. J. (2019). Butterfly Pea (Clitoria ternatea), a cyclotide-bearing plant with applications in agriculture and medicine. Frontiers in Plant Science, 10, 645. https://doi.org/10.3389/fpls.2019.00645 Pratiwi,  E.  R.,  Rahmandani,  S.  O.  A., Ibrahim, A. R., & Isbandiyah, I. (2020). Potensi Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea)  Sebagai  Pencegah  Acute Kidney  Injury  (AKI).  CoMPHI Journal:  Community  Medicine  and Public  Health  of  Indonesia  Journal, 1(2),  92–100. https://doi.org/10.37148/comphijournal.v1i2.16 Purba, E. C. (2020). Kembang telang (Clitoria ternatea L.): Pemanfaatan dan bioaktivitas. EduMatSains, 4(2), 111–124. https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/santimas/article/download/3244/2231/11942?utm_source=chatgpt.com Sumartini, Y., Ikrawan, Y., & Muntaha, F. M. (2020). Analisis bunga telang (Clitoria ternatea) dengan variasi pH metode Liquid Chromatograph-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Pasundan Food Technology Journal, 7(2), 70. Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan. E-ISSN: 2615-1405. https://doi.org/10.23969/pftj.v7i2.2983 Yurisna, V. C., Nabila, F. S., Radhityaningtyas, D., & Listyaningrum, F. (2022). Potensi bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai antibakteri pada produk pangan. JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI), 7(1), 68-77. https://doi.org/10.33061/jitipari.v7i1.5738 Yusuf, A. F.,

Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Read More »

DAUN SIRSAK (Annona muricata L.)

 Nama Latin Annona muricata L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Genus : Annona Spesies : Anona muricata L. (ITIS, n.d.) Definis Umum Annona muricata atau yang biasa dikenal sebagai tanaman sirsak merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur di indonedia dan termasuk kedalam tanaman tahunan. Tanaman ini merupakan tanaman yang tersebar didaerah tropis dan subtropis (Qomaliyah, 2022). Tanaman sirsak memiliki tinggi pohon sekitar 5-8 meter, batang kayunya berwarna coklat dan bercabang. Daun sirsak berbentuk lanset dengan ujung runcing, tepi daunnya rata, berwarna hijau dan bagian atasnya mengkilap dan bagian bawah daunnya kasar. Bunga tanaman sirsak terletak tunggal dibatang kayu dan memiliki warna kuning keputihan. Buahnya berukuran sedang sampai besar, dengan permukaan yang bertekstur dan berwarna hijau jika belum matang dan hijau kekuningan jika buah sudah matang. Sedangkan daging buahnya berwarna putih, berserat, memiliki banyak kandungan air dan memiliki biji yang keras berawarna hitam (Rasyidah et al., 2022). Selain daging buahnya yang dapat dikonsumsi secara langsung, daun sirsak juga dapat digunakan sebagai bahan pegebotan. Beberapa daerah di indonesia menggunakan daun sirsak untuk mengobati penyakit diabetes dan sebagai pengobatan kanker (Qomaliyah, 2022). Penggunaan tanaman sirsak sebagai bahan obat saat ini sudah mulai sering digunakan oleh masyarakat luas. Penelitian mengenai pemanfaatan kandungan tanaman sirsak juga sudah mulai banyak dilakukan. Melalui beberapa metode analisis fitokimia, ekstrak tanaman sirsak diidentifikasi memiliki banyak kandungan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif dari penyembuhan suatu penyakit. Kandungan Kandungan senyawa metabolit sekunder dari daun sirsak yang memiliki potensi bioaktivitas yaitu acetogenin, sedangkan senyawa lainnya seperti alkaloid, fenol, flavonoid, terpenoid dan steroid (Tiara et al., 2025). Khasiat Khasiat dari tanaman sirsak terutama daunnya dapat digunakan sebagai bahan pengobatan untuk hipertensi, diabetes, kanker serta batuk. Salah satu khasiat yang paling besar diidentifikasi yaitu melalu aktivitas antioksidannya, dimana aktivitas antioksidan dapat menghambat radikal bebas yang dapat memicu perkembangan penyekait degenaratif seperti kanker, penyakit kardiovaskuler, alzheimer, dan diabetes (Rasyidah et al., 2022). Kandugan acetogenin dari daun sirsak berpotensi sebagai antikanker (Silalahi, 2020) dan dibuktikan dari hasil beberapa penelitian bahwasanya kandungan tersebut dapat menghambat secara signifikan dari invasi sel kanker pada usus besar dan mempu menurunkan ukuran prostat pada sel kanker prostat (Qomaliyah, 2022). Khasiat lainnya yang dilaporkan yaitu efektif menurunkan kadar gula darah dengan mekanisme menghambat enzim e-amylase dan a-glukosidase, serta meningkatkan aktivitas glukokinase sehingga dapat mengontrol kadar glukosa darah (Ayuningtiyas et al., 2022). Cara Pengolahan Pengggunaan daun sirsak sebagai bahan pengobatan dalam kalangan masyarakat tentunya harus diolah atau dibuat dengan cara yang praktis dan efisien. Adapun cara pengolahannya yaitu dapat melalui perebusan dengan menggunakan metode infusa, berikut merupakan cara pengolahannya (Nikeherpianto et al., 2025) : a.       Didihkan 5 gelas air (ukuran gelas belimbing). b.      Masukkan 7-10 lembar daun sirsak dalam keadaan bersih. c.  Tunggu selama kurang lebih 15 menit. Pastikan menggunakan alat yang berbahan tanah liat, stainless steel, ataupun kaca. Hindari menggunakan alat yang berbahan dari aluminium, besi, tembaga ataupun kuningan. d.      Daiamkan hingga hangat. e.       Saring dan bagi menjadi 2 gelas. f.        Minum sehari 2 kali sebanyak 1 gelas sesudah makan. DAFTAR PUSTAKA Ayuningtiyas, RR., et al. (2022). Efektivitas Pemberian Air Rebusan Daun Sirsak (Annona muricata Linn) Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Populasi Sehat. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 4 (2), 475. https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/view/917 Nikeherpianti, L., et al. (2025). Pemberdayaan Masyarakat Desa Rambu Kongga Melalui Pemanfaatan Rebusan Daun Sirsak untuk Pengendalian Hipertensi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 8 (2). https://journal.matappa.ac.id/index.php/matappa/article/view/4262 Rasyidah., et al. (2019). Studi Etnobotani dan Aktivitas Farmakologi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.). KLOROFIL. 3 (2), 10-14. https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/klorofil/article/view/7825 Tiara, NP., et al. (2025). Analisis Ekstrak Metanol Daun Sirsak (Annona Muricata Linn.) Terhadap Sel Kanker Prostat. Jurnal Ilmu Tanaman, Sains dan Teknologi Pertanian. 2 (1), 118-129. https://journal.asritani.or.id/index.php/Mikroba/article/view/255. Qomaliyah, EN. (2022). Farmakologi dan Potensi Bioaktivitas Daun dan Buah Sirsak (Annona muricata). BIOCITY Jourbal of Pharmacy Biocience and Clinical Community. 1 (1), 39-58. https://journal.universitasbumigora.ac.id/index.php/biocity/article/view/2488

DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) Read More »

Scroll to Top