Nama Latin
Boesenbergia rotunda
Taksonomi
Kingdom (Kerajaan) : Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Divisi (Divisio): Magnoliophyta
Kelas (Classis): Liliopsida
Subkelas (Subclassis): Zingiberidae
Ordo (Ordo): Zingiberidae
Famili (Familia): Boesenbergia
Genus: Boesenbergia
Spesies: Boesenbergia rotunda (L) Mansf.
(Yvonne Jing Mei Liew. (2022)
Definisi Umum
Temu kunci adalah tanaman herbal dari suku Zingiberaceae (jahe-jahean) yang rimpangnya sering digunakan sebagai bumbu masak dan obat tradisional. Tanaman ini memiliki aroma khas dan rasa sedikit pedas serta pahit.
Kandungan
Mengandung minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, kurkumin, dan senyawa aktif seperti pinostrobin, panduratin A, serta boesenbergin.
Khasiat
Temu kunci (Boesenbergia rotunda) termasuk ke dalam famili Zingiberaceae dan merupakan salah satu tanaman yang telah digunakan sebagai rempah dan obat herbal secara turun-temurun. Sastrahidayat (2016) menyatakan bahwa temu kunci memiliki berbagai macam khasiat antara lain sebagai rempah bumbu masak, obat batuk, peluruh dahak, penambah nafsu makan, mengatasi gangguan pencernaan, dan obat sariawan. Berdasarkan penelitian Baharudin et al. (2015) dilaporkan bahwa terdapat 18 senyawa aktif kelompok minyak esensial yang terkandung dalam rimpang temu kunci yang berpotensi sebagai antibakteri. Dalam penelitiannya, Baharudin et al. (2015) membuktikan bahwa kandungan minyak esensial dari temu kunci dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, B. cereus, E. coli. Beberapa penelitian secara in vitro membuktikan bahwa B. rotunda memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), dan Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). Mekanisme kerja minyak esensial sebagai antibakteri yaitu dengan mengubah permeabilitas dan mengubah toleransi garam sel. Hal ini dibuktikan pada sel E. coli yang terpapar minyak esensial 0,22% mengalami kebocoran senyawa anorganik (ion kalium dan kalsium) dan senyawa organik (asam nukleat dan protein) (Chahyadi et al., 2014). Minyak esensial dapat menyebabkan apotosis sel dan terganggunya pembentukan dinding dan membran sel (Chen et al., 2020).
Cara Pengolahan
- Untuk jamu: Rimpang temu kunci dicuci bersih, digeprek, lalu direbus dengan air selama 10–15 menit, kemudian airnya diminum hangat.
- Untuk bumbu masakan: Digunakan segar atau dikeringkan, lalu dihaluskan bersama bumbu lain.
- Untuk perawatan tubuh: Dapat dijadikan bahan campuran lulur tradisional.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Farmakope Herbal Indonesia (Edisi I). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Hariana, A. (2006). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Jilid 1). Jakarta: Trubus Agriwidya.
Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Tanaman Obat untuk Mengatasi Berbagai Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Aktivitas antibakteri ekstrak rimpang Boesenbergia rotunda. Jurnal Biologi Indonesia, 16(1), 45–52.
Key Flower (Boesenbergia Rotunda)
Latin Name
Boesenbergia rotunda
Taxonomy
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Division: Magnoliophyta
Class: Liliopsida
Subclass: Zingiberidae
Order: Zingiberidae
Family: Boesenbergia
Genus: Boesenbergia
Species: Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.
(Yvonne Jing Mei Liew. (2022)
General Definition
Temu kunci is an herbal plant from the Zingiberaceae (ginger) family whose rhizomes are often used as a cooking spice and traditional medicine. This plant has a distinctive aroma and a slightly spicy and bitter taste.
Content
Contains essential oils, flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, curcumin, and active compounds such as pinostrobin, panduratin A, and boesenbergin.
Benefits
Temu kunci (Boesenbergia rotunda) belongs to the Zingiberaceae family and is a plant that has been used as a spice and herbal medicine for generations. Sastrahidayat (2016) states that temu kunci has various benefits, including as a cooking spice, cough medicine, expectorant, appetite stimulant, digestive disorders, and mouth ulcer treatment. Research by Baharudin et al. (2015) reported that temu kunci rhizomes contain 18 active compounds belonging to the essential oil group, which have antibacterial potential. In their study, Baharudin et al. (2015) demonstrated that the essential oil content of temu kunci can inhibit the growth of S. aureus, B. cereus, and E. coli bacteria. Several in vitro studies have shown that B. rotunda has antibacterial activity against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), and Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). The mechanism of action of essential oils as antibacterials is by changing permeability and changing cell salt tolerance. This was proven in E. coli cells exposed to 0.22% essential oils experienced leakage of inorganic compounds (potassium and calcium ions) and organic compounds (nucleic acids and proteins) (Chahyadi et al., 2014). Essential oils can cause cell apoptosis and disrupt the formation of cell walls and membranes (Chen et al., 2020).
Preparation Method
- For herbal medicine: Wash the ginger rhizome thoroughly, crush it, then boil it in water for 10–15 minutes, then drink the water warm.
- For cooking: Use fresh or dried, then ground with other spices.
- For body care: Can be used as an ingredient in traditional body scrubs.
BIBLIOGRAPHY
Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2008). Indonesian Herbal Pharmacopoeia (Edition I). Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia.
Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia Volume II. Jakarta: Forestry Research and Development Agency.
Hariana, A. (2006). Medicinal Plants and Their Benefits. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants (Volume 1). Jakarta: Trubus Agriwidya.
Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Medicinal Plants for Treating Various Diseases. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Antibacterial activity of Boesenbergia rotunda rhizome extract. Indonesian Journal of Biology, 16(1), 45–52.

