naturindofresh

Kecombrang ( Etlingera elatior )

Nama Latin Etlingera elatior Taksonomi Kingdom   : Plantae Divisi     : Magnoliophyta Kelas     : Liliopsida Ordo      : Zingiberales Famili    : Zingiberaceae Genus    : Etlingera Spesies  : Etlingera elatior (Prastowo, et al., 2025) Definisi Umum Kecombrang adalah tanaman herba yang tumbuh di daerah tropis, terutama di Asia Tenggara. Di Indonesia, bunga dan batang kecombrang kerap dipakai sebagai bumbu masakan karena memiliki aroma segar, sedikit pedas, dan khas. Dalam tradisi etnobotani, tanaman ini digunakan untuk menyegarkan tubuh, mengharumkan masakan, hingga sebagai bahan kosmetik alami (Prastowo, et al., 2025). Secara farmakognosi, kecombrang termasuk tanaman yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber bahan baku obat dan kosmetik karena mengandung senyawa aktif seperti minyak atsiri, flavonoid, dan tanin (Rasyadi, et al.,2022). Kandungan Kecombrang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, antara lain: Fenol dan polifenol: Bertindak sebagai antioksidan dan mampu memperlambat proses oksidasi lipid (Rasyadi, et al.,2022). Flavonoid: Senyawa antioksidan yang mampu menekan radikal bebas dan berperan sebagai antibakteri (Rasyadi, et al.,2022). Saponin, tanin, dan steroid: Berperan dalam aktivitas antiinflamasi dan modulasi sistem imun (Kusumaningtyas & Hartati, 2024). Minyak atsiri: Mengandung dodecanal, yang memiliki aktivitas antimikroba dan dapat digunakan sebagai bahan alami pengawet atau repellent ( Wasito, et al., 2025). Khasiat a. Antioksidan: Ekstrak etanol bunga kecombrang menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC₅₀ yang masih tergolong lemah, namun cukup menjanjikan sebagai bahan tambahan dalam formulasi kosmetik seperti lip balm untuk perlindungan bibir dari radikal bebas (Rasyadi, et al.,2022). b.   Antibakteri: Ekstrak daun dan bunga kecombrang terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Klebsiella pneumoniae dan Staphylococcus aureus (Puspitasari, et al., 2022; Helmidanora, et al., 2024). Hal ini berpotensi untuk pengembangan antiseptik alami. c.   Repellent dan anti-larva: Ekstrak kecombrang dan beluntas dapat diformulasikan sebagai lotion anti-nyamuk alami, efektif melawan Aedes aegypti, serta tidak mengandung bahan kimia sintetis berbahaya (Endah, et al., 2024; Puspitasari, et al., 2022). d.   Antihiperglikemik: Ekstrak daun kecombrang memiliki potensi menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2, kemungkinan berhubungan dengan efek senyawa flavonoid dalam meningkatkan sensitivitas insulin (Lutfiyah, et al., 2025). e.   Pengawetan Alami: Kecombrang dapat dimanfaatkan dalam pengawetan daging ayam broiler karena aktivitas antimikrobanya mampu memperpanjang umur simpan bahan pangan (Wardani, et al., 2024). Cara Pengelolaan : a. Penggunaan Kuliner: Bunga kecombrang segar biasanya diiris dan ditambahkan ke dalam masakan seperti sambal, gulai, atau pepes sebagai penyedap dan pengharum masakan. b. Pengolahan Herbal Tradisional: Bunga atau daun kecombrang dapat direbus untuk menghasilkan seduhan herbal yang bermanfaat untuk detoksifikasi tubuh dan meredakan bau badan. c. Ekstraksi untuk Bahan Kosmetik: Metode maserasi atau ekstraksi berbantuan ultrasonik (ultrasound-assisted extraction/UAE) digunakan untuk memperoleh ekstrak pekat yang kaya senyawa bioaktif, kemudian diformulasikan sebagai bahan dalam lip balm atau lotion (Wasito, et al., 2025). d.     Sediaan Larvasida: Larutan ekstrak kecombrang dapat digunakan sebagai larvasida alami untuk pengendalian vektor penyakit seperti Aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah dengue (Puspitasari, et al., 2022). Daftar Pustaka Endah E, Taurhesia S, Basuki W, Djamil R. Formulation and test of mosquito repellent lotion from the extract of kecombrang (Etlingera elatior) and beluntas (Pluchea indica) leaves. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 2024;22(1):54–60. https://doi.org/10.35814/jifi.v22i1.1521 Prastowo I, Ahda M, Aprilia N, Dhaniaputri R. Kecombrang (Etlingera elatior), a revivingly popular Indonesian culinary herb. Journal of Ethnic Foods. 2025;12(29):1–27. https://doi.org/10.1186/s42779-025-00290-6 Lutfiyah F, Sulaeman A, Stiani SN. Daun kecombrang (Etlingera elatior) sebagai antihiperglikemik pada penderita diabetes mellitus. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2025;24(1):40–48. https://doi.org/10.30743/ibnusina.v24i1.701 Kusumaningtyas R, Hartati NS. Aktivitas antioksidan ekstrak Etlingera elatior pada berbagai metode ekstraksi. Jurnal Teknologi Bahan Baku. 2024;14(2):123–129. https://doi.org/10.22146/jtbb.58528Helmidanora R, Sukawati Y, Miranti D, Prayoga T, Lisnawati N. Uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi dan Kesehatan. 2024;10(1):43–50. https://doi.org/10.51352/jim.v10i1.769 Puspitasari E, Pratiwi CD, Novian DR, Turista DD. Antibacterial activity of kecombrang (Etlingera elatior) leaf ethanol extract against Klebsiella pneumoniae. Edubiotik. 2022;7(1):36–42. https://doi.org/10.33503/ebio.v7i01.1867 Puspitasari E, Khoirunnisa R, Sundari RS. Efektivitas larutan kecombrang sebagai larvasida alami terhadap Aedes aegypti. Sanitasi: Jurnal Ilmiah Kesehatan Lingkungan. 2022;9(2):68–74. https://doi.org/10.29238/sanitasi.v9i2.755 Rasyadi Y, Agustin D, Aulia G. Aktivitas antioksidan lip balm ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.). Jurnal Insan Farmasi Indonesia. 2022;5(1):140–148. https://doi.org/10.36387/jifi.v5i1.896 Wardani P, Ningsih D, Setiawan F. Pemanfaatan ekstrak kecombrang (Etlingera elatior) dalam pengawetan ayam broiler. Jurnal Pangan Sehat. 2024;6(4):112–118. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v6i4.228 Wasito H, Ridha KS, Fareza MS. Optimizing Ultrasound-Assisted Extraction Methods of Etlingera elatior Using Response Surface Methodology for High Performance Liquid Chromatography Fingerprinting. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi. 2025;28(7):355–361. https://doi.org/10.14710/jksa.28.7.355-361

Kecombrang ( Etlingera elatior ) Read More »

Jintan Hitam (Nigella sativa L.)

Nama Latin Nigella sativa L. Taksonomi Kingdom    : Plantae Division      : Magnoliophyta Class           : Magnoliosida Ordo           : Ranunculales Famili         : Ranunculaceae Genus         : Nigella Spesies        : Nigella sativa L. (ITIS, 2025) Definisi Umum Jintan hitam (Nigella sativa L.) adalah tanaman herbal dari famili Ranunculaceae yang memiliki ciri morfologi khas, yaitu tanaman herba berukuran 20–30 cm dengan batang tegak, bercabang halus, dan berwarna hijau pucat. Daunnya berwarna hijau, berbentuk menyirip dengan helaian yang sangat tipis dan terbelah seperti jarum, sehingga tampak menyerupai rambut halus. Morfologi daunnya berbentuk filiform (seperti benang) dan tersusun berselang-seling di sepanjang batang, memberikan tampilan tanaman yang tampak “ringan” dan berlapis-lapis (Lusti et al., 2024). Bunganya berwarna putih hingga kebiruan, memiliki 5–10 kelopak, dan muncul secara soliter pada ujung batang. Setelah penyerbukan, tanaman membentuk buah kapsul beruang banyak yang di dalamnya berisi biji-biji kecil berwarna hitam pekat, berbentuk segitiga, dan bertekstur keras. Kapsul buah jintan hitam terdiri dari 3–7 ruang (lokulus), masing-masing berisi puluhan biji yang menjadi bagian utama tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional dan farmasi karena kandungan metabolit sekundernya. Secara keseluruhan, kombinasi bentuk daun yang filiform, bunga soliter bercorolla putih kebiruan, dan biji hitam bersegi menjadi ciri utama yang membedakan Nigella sativa dari spesies lain (Imelda et al., 2024). Kandungan Biji jintan hitam mengandung berbagai metabolit sekunder yang penting, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik (Lusti et al., 2024). Selain itu, minyak esensial dari jintan hitam kaya akan senyawa bioaktif seperti thymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, α-hederin, dan t-anethole, yang memiliki efek antioksidan, antibakteri, antikanker, serta imunomodulator kuat (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Kandungan asam lemak seperti asam linoleat, oleat, dan palmitat juga berperan penting dalam efek antiinflamasi dan antikolesterol. Kombinasi metabolit lipofilik dan hidrofilik ini membuat jintan hitam efektif dalam berbagai aplikasi farmasi maupun kesehatan (Salma et al., 2025). Khasiat a. Aktivitas Antioksidan Jintan hitam memiliki aktivitas antioksidan kuat karena kandungan thymoquinone, flavonoid, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan ekstrak jintan hitam dari berbagai pelarut memiliki nilai IC₅₀ pada rentang 18,42–40,85 ppm yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat (Lusti et al., 2024). b. Aktivitas Antibakteri Ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakterinya dipengaruhi oleh senyawa bioaktif thymoquinone, thymohydroquinone, carvacrol, dan timol yang bekerja merusak membran sel bakteri (Salma et al., 2025). c. Aktivitas Antiinflamasi & Imunomodulator Jintan hitam dapat menurunkan inflamasi dengan menghambat produksi ROS dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan katalase. Selain itu, jintan hitam terbukti meningkatkan respon imun tubuh, termasuk peningkatan fagositosis dan jumlah leukosit, sehingga berperan sebagai imunostimulan alami (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Cara Pengolahan Potensi jintan hitam sebagai agen antibakteri terhadap bakteri patogen, dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Salma et al., 2025): a. Bersihkan biji jintan hitam dari kotoran dan benda asing, kemudian keringkan hingga kadar air rendah untuk mencegah pertumbuhan jamur. b. Haluskan biji menggunakan blender atau grinder hingga menjadi serbuk simplisia agar proses ekstraksi lebih optimal. c. Rendam serbuk dalam etanol 95% (atau etanol polar lainnya sesuai jurnal) dengan perbandingan pelarut yang memadai. d. Lakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi atau perendaman selama beberapa hari sambil sesekali diaduk agar senyawa aktif (thymoquinone, carvacrol, p-cymene) larut sempurna. e. Saring larutan untuk memisahkan filtrat (ekstrak) dari ampas. f.  Kentalkan ekstrak menggunakan evaporator atau penangas air untuk menguapkan sisa pelarut hingga diperoleh ekstrak pekat. g. Simpan ekstrak dalam wadah gelap dan kedap udara untuk menjaga stabilitas senyawa aktif, terutama thymoquinone. Daftar Pustaka Imelda, D., Maharani, P., & Mardiana, P. (2024). Seminar Nasional TREnD Pemanfaatan Minyak Jintan Hitam ( Nigella Sativa ) Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada Minuman Herbal. Seminar Nasional TREnD, 4, 12–18. Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Single report for TSN 506592. Retrieved November 15, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592 Lusti, N. F., Pratiwi, N., Musaidah, S., Audina, R. I., & Atwiyandani, I. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol , Etil Asetat , dan N-heksana Jintan Hitam ( Nigella sativa ) dengan Variasi Pelarut dan Waktu Maserasi. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 7(16), 703–714. Muahiddah, N., & Diniariwisan, D. (2024). Jurnal Biologi Tropis The Potential of Black Cumin ( Nigella sativa ) as an Immunostimulant in Aquaculture ( Review ). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 301 – 308 DOI: Salma, A., Prajawanti, K. N., Aristia, B. F., & Nisyak, K. (2025). Potensi Jintan Hitam ( Nigella sativa ) sebagai Agen Antibakteri terhadap Bakteri Patogen Klinis. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum Dan Farmasi, 3(3), 146–155.

Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix DcSinonim : Citrus paeda Miq Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah. (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah. Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

Nama Latin Hibiscus Sabdariffa L Taksonomi Kingdom     : Plantae Devisi      : Magnoliophyta Kelas       : Magnoliopsida Ordo     : Malvales Famili          : Malvaceae Genus      : Hibiscus Spesies : Hibiscus sabdariffa L. (Abdoudramane Sanou., 2022) Definisi Umum Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan tanaman herbal dari famili Malvaceae yang dikenal luas karena kelopak bunganya yang berwarna merah tua dan memiliki rasa asam khas. Tanaman ini berasal dari Afrika Barat namun kini telah dibudidayakan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Bagian kelopak bunga rosella sering dimanfaatkan sebagai bahan minuman, pewarna alami, serta sumber antioksidan karena mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, dan asam organik yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh (Nurjanah et al., 2021). Secara umum, rosella dikenal sebagai tanaman yang memiliki manfaat farmakologis luas, di antaranya sebagai antihipertensi, antidiabetes, antikolesterol, dan antimikroba. Kandungan vitamin c yang tinggi menjadikan rosella berpotensi sebagai imunostimulan alami. Selain itu, kelopak bunga rosella juga banyak digunakan dalam industri pangan dan farmasi sebagai bahan baku minuman fungsional dan suplemen herbal (Sari et al., 2020). Kandungan Rosella mengandung flavonoid seperti hibiscitrin dan hibiscetin, sedangkan kelompak kering bunga rosella mengandung flavonoid ( gossipentin, hibiscetin, dan sabadareti ), alkaloid, β-sitosterol, antosianin, asam sitrat, galaktosa, pectin (Kemenkes RI, 2011). Khasiat Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Kandungan antosianin, flavonoid, dan vitamin C pada kelopak bunganya berperan sebagai antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas dan mencegah kerusakan sel (Nurjanah et al., 2021). Selain itu, ekstrak rosella menunjukkan efek antihipertensi dan penurun kolesterol melalui mekanisme vasodilatasi dan peningkatan ekskresi natrium (Widyaningrum et al., 2020). Rosella juga berfungsi sebagai antidiabetes dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat enzim α-glukosidase (Rahmawati et al., 2022). Penelitian juga melaporkan aktivitas antiinflamasi, hepatoprotektif, antibakteri, dan imunostimulan yang mendukung penggunaannya sebagai tanaman obat alami dan bahan minuman fungsional (Fadilah et al., 2023). Cara Pengolahan Pengolahan rosella sebagai obat tradisional umumnya dilakukan dengan cara pengeringan kelopak bunga yang kemudian diseduh menjadi teh herbal. Teh rosella ini dikenal bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah (Yuliani et al., 2020). Daftar Pustaka Fadilah, N., et al. (2023). Aktivitas hepatoprotektif dan antibakteri ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 145–153. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Nurjanah, S., et al. (2021). Aktivitas antioksidan ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 32(2), 89–96. Rahmawati, D., et al. (2022). Aktivitas antidiabetes dan antiinflamasi ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada tikus diabetes melitus. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 20(2), 103–110 Fadilah, N., et al. (2023). Aktivitas hepatoprotektif dan antibakteri ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 145–153. Sari, M., et al. (2020). Potensi ekstrak bunga rosella sebagai sumber antioksidan alami dalam produk minuman fungsional. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 7(1), 45–52. Widyaningrum, N., et al. (2020). Efek konsumsi teh rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap tekanan darah dan profil lipid pada pasien hipertensi. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 33(1), 27–33. Yuliani, S., et al. (2020). Pengaruh metode pengeringan terhadap mutu simplisia bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Industri Hasil Pertanian, 15(2), 75–82.

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix Dc Sinonim : Citrus paeda Miq Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah. (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah.Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Tempuyung (Sonchus arvensis L.)

Nama latin Sonchus arvensis L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida (dikotil) Ordo     : Asterales Famili   : Asteraceae Genus    : Sonchus Spesies   : Sonchus arvensis L. (Hariana, A, 2019.). Definisi Umum Tempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki khasiat obat dan tumbuh subur di daerah beriklim tropis maupun subtropis. Tanaman ini termasuk famili Asteraceae dan sering dijumpai tumbuh liar di tempat lembap seperti tepi jalan, ladang, atau tanah berbatu. Tempuyung memiliki tinggi tanaman sekitar 50–150 cm dengan batang tegak, berongga, dan mengandung getah putih. Daunnya berbentuk lonjong hingga memanjang, berwarna hijau muda, dengan tepi bergerigi tidak beraturan. Daun bagian bawah biasanya lebih besar, panjangnya dapat mencapai 20–40 cm dan lebarnya 4–10 cm, serta menempel melingkari batang. Bunga tempuyung tersusun dalam tandan berbentuk bongkol (capitulum) berwarna kuning cerah, sedangkan buahnya kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan angin. Akar tempuyung termasuk jenis akar tunggang dengan cabang halus di sekitarnya. Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (Folium Sonchi arvensis), karena mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, kalium, dan triterpenoid, yang berperan dalam efek diuretik, antiinflamasi, dan peluruh batu ginjal (antilithiasis) (Djamal, R., et al. 2017). Khasiat Kandungan kalium pada daun tempuyung membantu melarutkan dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan cara menggantikan ion kalsium pada batu oksalat, sehingga batu lebih mudah larut dan dikeluarkan melalui urin (Djamal et al., 2017). Efek diuretik dan relaksasi otot polos pembuluh darah dari ekstrak daun tempuyung dapat membantu menurunkan tekanan darah (Hariana, 2019). Cara Pengolahan Tempuyung (Sonchus arvensis L) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain: Daun segar/kering direbus dalam air 10-25 menit (biasanya 5-20 g dalam 200 ml air). dengan cara  ini ekstrak air dapat diminum langsung. Ramuan ini dapat dikonsumsi secara tunggal atau ditambahkan madu maupun gula merah untuk memperbaiki rasa. Sediaan ini umumnya digunakan sebagai penurun kadar asam urat karena hasil uji fitokimia menunjukan infusa daun tempuyung positig mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin (Estevany Priliansi et al., 2025) Pilih 2–3 helai daun segar, cuci bersih di air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan getah berlebih. Tumbuk atau haluskan daun hingga menjadi pasta lembut. Jika diinginkan, tambahkan 1–2 sendok teh air hangat atau beberapa tetes minyak kelapa untuk meningkatkan daya sebar dan penyerapan zat aktif pada kulit (Hariana, A. 2019) Daftar Pustaka Estevany Priliansi, Sarah Puspita Atmaja, & Ari Widhiarso. (2025). Antihyperuricemia Activity Test of Tempuyung Leaf Infusion (Sonchus arvensis L.) on Male Swiss Webster Mice (Mus musculus). JURNAL FARMASIMED (JFM), 7(2), 264–273. https://doi.org/10.35451/jfm.v7i2.2588  Hariana, A. (2019). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Isnindar, I., et al. (2014). “Study of diuretic and uric acid lowering effect of Sonchus arvensis L. leaf infusion.” Indonesian Journal of Pharmacy. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kemenkes RI.

Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Read More »

KEPEL

Nama Latin Stelechocarpus Burahol Taksonomi ·  Kerajaan : Plantae ·  Divisi : Tracheophyta ·  Kelas : Magnoliopsida ·  Suku : Annonaceae ·  Marga : Stelechocarpus ·  Spesies : Stelechocarpus burahol  Kehayati (2017)  Definisi Tanaman kepel merupakan tanaman asli daerah tropis yang diduga berasal dari Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia, namun tersebar hingga kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia tanaman ini banyak di temukan di daerah jawa seperti di kawasan Keraton Yogayakarta, Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Purwodadi, Taman Mini Indonesia Indah, dan Taman Kiai Langgeng Magelang. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Jawa merupakan daerah pusat keragaman dan memungkinkan daerah asal tanaman ini (Angio & Firdiana 2021). Di daerah Kabupaten Kediri sendiri, tanaman kepel ini termasuk keadalam tanaman langka karena sudah jarang di temui oleh warga sekitar. Kepel merupakan salah satu tanaman anggota suku annocecae yang memiliki habitus pohon dengan tinggi mencapai 6 – 20 meter, batang lurus berwarna coklat tua dengan permukaan yang tidak rata karena terdapat benjolan benjolan bekas bunga dan buah, diameter mencapai 50 cm pada usia pohon dewasa (Angio & Firdiana 2021). Kandungan Tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) diketahui memiliki profil fitokimia yang kaya. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa bagian buah dan daun kepel mengandung beberapa kelompok metabolit sekunder penting, yaitu fenolik, flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid. Senyawa fenolik dan flavonoid ditemukan dalam kadar yang signifikan dan merupakan komponen dominan dari ekstrak kepel. Selain itu, hasil uji fraksinasi menunjukkan keberadaan tanin serta saponin, yang mendukung karakter fitokimia tanaman ini. Senyawa alkaloid juga terdeteksi pada buah kepel, sehingga mengonfirmasi bahwa S. burahol memiliki komposisi kimia yang kompleks dan tergolong kaya metabolit aktif alami. Cara Pengolahan Masyarakat secara umum memahami bahwa bagian tanaman kepel yang dimanfaakan adalah bagian buahnya yang kemudian diyakini dapat membuat harum nafas dan bau keringat. Selain itu juga dapat mengarumkan air seni. Dilanjutkan dengan menjelaskan manfaat lain dari jenis buah kepel ini dari banyak kandungan yang sudah dikaji baik kandungan dalam buah maupun kandungan dalam daunnya, yaitu dapat menurunkan kadar asam urat, menurunkan kadar kolesterol, dapat meluruhkan air kencing, mencegah radang ginjal sebagai sumber antioksidan, maupun sebagai pencegah kanker (anti mutagenesis) dan (anti carcinogenesis) serta mencegah kehamilan (kontrasepsi). Selain itu, kepel juga digunakan sebagai tanaman pelindung dan tanaman hias karena bentuk buahnya yang menarik (Fiani& Yuliah 2018). Daftar Pustaka Amin, A., Radji, M., Mun’im, A., Rahardjo, A., & Suryadi, H. (2017). Halitosis activity against volatile sulfur compound of methyl mercaptan component from burahol fruit extract. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. Angio, Melisnawati H, and Elok Rifqi Firdiana. 2021. “Kepel (Stelechocarpus Burahol (Blume) Hook & Thompson), Buah Langka Khas Keraton Yogyakrta: Sebuah Koleksi Kebun Raya Purwodadi.” Warta Kebun Raya 19(2): 7–13. Fiani, A., dan Yuliah. 2018. “Pertumbuhan Kepel (Stelechocarpus Burahol (Blume) Hook & Thomson) Dari Dua Populasi Di Mangunan, Bantul.” Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek III: 301–6. Herlina, N., Riyanto, S., Martono, S., & Rohman, A. (2018). Antioxidant activities, phenolic and flavonoid contents of Stelechocarpus burahol fruit extracts. Dhaka University Journal of Pharmaceutical Sciences Pribadi, P., Latifah, E., & Rohmayanti. (2014). Pemanfaatan perasan buah kepel sebagai antiseptik luka. Pharmaciana.   Shadrina, A. N., Widyanengsih, E., Eiko, N. B., Putri, N. A., Sulastri, N., Dzulfiana, N., Rajebi, O., & Sulvita, W. 2022 “Analisis fitokimia dan aktivitas farmakologi tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) terhadap beberapa penyakit: Review”. Jurnal Buana Farma, 2(3), 14–21.

KEPEL Read More »

WALI SONGO (Schefflera arboricola)

 Nama Latin Schefflera arboricola. Taksonomi Kingdom       : Plantae Super divisi   : Angiospermae Divisi            : Spermatophyta Kelas             : Dicotyledoneae Ordo              : Apiales Famili : Araliaceae (David G Frodin. (2010) Definisi Umum Tanaman walisongo mempunyai daun yang tumbuh berbentuk jari tangan pada batang utama. Daun tebal berwarna hijau mengkialap atau varigata. Bentuk daun ada yang bergelombang, ramping, lonjong, runcing atau menyerupai daun ubi kayu. Cirri khas tanaman walisongo yaitu jumlah daunnya yang banyak dan membentuk bulatan selayaknya tapak jari. Batang meliuk dan tidak lurus karena didukung oleh beberapa batang yang lain sehingga membentuk kombinasi perpaduan beberapa batang yang berbentuk rumpun. Kandungan Golongan Senyawa Kandungan Spesifik Khasiat / Aktivitas Biologis Flavonoid quercetin, kaempferol, rutin antioksidan, antiinflamasi, antimikroba Saponin saponin triterpenoid menurunkan kolesterol, meningkatkan daya tahan tubuh Tanin tanin polifenolik antibakteri, antiradang, penyembuhan luka Steroid dan triterpenoid β-sitosterol, lupeol antiinflamasi, antikanker Alkaloid belum banyak diidentifikasi, namun ada jejak alkaloid analgesik ringan, antimikroba Minyak atsiri (volatile compounds) seskuiterpen, aldehida aromatic memberikan aroma khas dan efek antiseptik alami Khasiat Meningkatkan stamina, menetralisir racun atau polusi udara, hingga mengatasi luka bakar. Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA Backer CA and Bakhuinzen van den Brink, 1968. Flora ofJava (Spermathophytes Beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia X). Puslitbang Farmasi. Departemen Kesehatan RI. Lin TS dan Yin HW, 1995. Effect of Litsea cubeba press oils on the control of Materia Medika Indonesia, vol. 2, 1978. Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Mayun, Ida Ayu. 2015.  Indentifikasi Tanaman Lanskap pada Kampus Universitas Udayana Jalan Sudirman Denpasar. Denpasar : Udayana Muslikhati, 1995. Penapisan Aktivitas Minyak Atsiri Tiga Jenis Tanaman only). Vol II!. Wolters-Noordhoff NV-Groningen, The Netherlands. Suku Lauraceae terhadap Mikroba. Dalam Penelitian Tanaman Obat di termite Coptotermes formosan us Shiraki. Taiwan For. Res. Inst. New Series. 10: 5963. Vademekum Bahan Obat Alam. 1989. Departemen Kesehatan Rl, Jakarta. . . WALI SONGO (Schefflera arboricola) Latin Name Schefflera arboricola. Taksonomi Kingdom       : Plantae Super divisi   : Angiospermae Divisi            : Spermatophyta Kelas             : Dicotyledoneae Ordo : Apiales Famili : Araliaceae (David G Frodin. (2010) General Description The walisongo plant has leaves that grow in a finger-like arrangement on the main stem. The leaves are thick and green, either glossy or variegated in appearance. The leaf shapes vary and may be wavy, narrow, oval, pointed, or resemble cassava leaves. A distinctive characteristic of the walisongo plant is the large number of leaves that form a circular pattern resembling the shape of a handprint. Its stems are curved and do not grow straight because they are supported by several other stems, creating a clustered combination of multiple stems that form a clump-like structure. Contents Compound Group Specific Compounds Benefits / Biological Activities Flavonoids Quercetin, kaempferol, rutin Antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial Saponins Triterpenoid saponins Lower cholesterol levels and enhance the immune system Tannins Polyphenolic tannins Antibacterial, anti-inflammatory, and promote wound healing Steroids and Triterpenoids β-sitosterol, lupeol Anti-inflammatory and anticancer activities Alkaloids Not yet extensively identified, but traces of alkaloids have been detected Mild analgesic and antimicrobial effects Essential Oils (Volatile Compounds) Sesquiterpenes, aromatic aldehydes Provide a characteristic aroma and natural antiseptic effects Benefits Increase stamina, neutralize toxins or air pollutants, and help treat burns. Processing Methods Washing: Wash the leaves thoroughly under running water. Drying: Dry the leaves in a shaded area (away from direct sunlight) to prevent damage to the active compounds. Grinding: The dried leaves can be pounded or blended into a fine powder. Storage: Store the powder in a dry, airtight container. Examples of Use: References Backer, C. A., & Bakhuizen van den Brink, R. C. (1968). Flora of Java (Spermatophytes Only), Volume III. Wolters-Noordhoff NV, Groningen, The Netherlands. Department of Health of the Republic of Indonesia. (1978). Materia Medika Indonesia, Vol. 2. Jakarta: Department of Health of the Republic of Indonesia. Lin, T. S., & Yin, H. W. (1995). Effect of Litsea cubeba Press Oils on the Control of Termite Coptotermes formosanus Shiraki. Taiwan Forestry Research Institute, New Series, 10, 59–63. Mayun, I. A. (2015). Identification of Landscape Plants at Udayana University Campus, Sudirman Street, Denpasar. Denpasar: Udayana University. Muslikhati. (1995). Screening the Activity of Essential Oils from Three Species of Lauraceae Plants Against Microorganisms. In Research on Medicinal Plants in Several Higher Education Institutions in Indonesia. Pharmaceutical Research and Development Center, Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Department of Health of the Republic of Indonesia. (1989). Vademecum of Natural Medicinal Materials. Jakarta: Department of Health of the Republic of Indonesia.

WALI SONGO (Schefflera arboricola) Read More »

Daun Cakar Ayam (Selagiriella doederleinii Hieron)

Nama Latin Selagiriella doederleinii  Hieron Taksonomi Kerajaan: Plantae Subkerajaan: Trachaeophyta Superdivisi: Pteridophyta Divisi: Lycopodiophyta Kelas: Lycopodiopsida Ordo: Selaginellales Famili: Selaginellaceae Genus: Selaginella Spesies: Selaginella doederlein (Mahmudah, 2019) Definisi Cakar ayam, dikenal dapat membersihkan getih, antipiretik (menurunkan panas), antiracun, antikanker, dan nemostatik (menghentikan pendarahan), dan anti bengkak. Bagian tanaman yang digunakan itu adalah seluruh tanamannya, dalam keadaan segar atau kering. Tumbuhan ini termasuk dalam habitus terna, merayap, dan sedikit tegak. Daunnya kecil-kecil berbentuk jorong, ujung meruncing, pangkal rata, warna daun bagian atas hijau tua dan bagian bawah hijau muda. Daun tersusun di kiri kanan batang induk sampai ke percabangannya yang menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya. Batangnya bulat dan bercabang-cabang menggarpu tanpa pertumbuhan sekunder dan warna putih kecoklatan. Memiliki sporangium yang tereduksi di ketiak daun dan berwarna putih. Tumbuhan cakar ayam ini memiliki akar serabut berwarna coklat kehitaman. Kandungan Alkaloid, saponin, pitosterol, fenilpropanon, flavonoid, glikosida, hieron, lignans, fenilpropanon, myristic acid, beta citronellol, palmitic acid, emodin, apigenin, ferulic acid, syringate, amentoflavone. Khasiat Antipiretik (penurun panas), antioksidan, antitumor, antikanker, antibakteri, antivirus, hemostatik (menghentikan pendarahan), antioedem (anti bengkak), pembersih darah, dan stomakikum (Ngibad, 2018; Kusumastuti, 2012) . Manfaat lain dari Tumbuhan bisa mengatasi batuk, infeksi saluran pernapasan, radang paru, hepatitis, diare, keputihan, dan tulang patah. Cara pengolahan Cara pengolahan menjadi jamu Pertama-tama, siapkan 15-30 gram tumbuhan Cakar Ayam yang telah dikeringkan (untuk pengobatan kanker sebanyak 50-100 gram). Setelah itu, rebus Cakar Ayam kering ke dalam lima gelas air dengan api kecil selama 3-4 jam. Setelah mendidih, tunggu jamu hingga dingin. Setelah dingin, minum jamu tersebut 2 kali dalam sehari. Daftar Pustaka Biodiversity Warriors. (2021). Mengenal Selaginella doederleinii Hieron, Tumbuhan Obat yang Melimpah di Kawasan Turgo. Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024). Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) sebagai Tanaman Obat Tradisional. Kusumastuti, E. (2012). Kajian Fitokimia dan Aktivitas Farmakologis Tanaman Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Ngibad, K. (2018). Potensi Tumbuhan Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) sebagai Obat Tradisional dan Sumber Antioksidan Alami. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Cakar ayam (tanaman). Chicken Claw Leaf (Selagiriella doederleinii Hieron) Latin Name Selagiriella doederleinii Hieron Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheophyta Superdivision: Pteridophyta Division: Lycopodiophyta Class: Lycopodiopsida Order: Selaginellales Family: Selaginellaceae Genus: Selaginella Species: Selaginella doederlein (Mahmudah, 2019) Definition Chicken claw, known to be able to cleanse blood, act as an antipyretic (reduce fever), antitoxin, anticancer, and hemostatic (stop bleeding), and anti-swelling. The plant part used is the whole plant, whether fresh or dried. This plant belongs to the herbaceous habit, creeping, and slightly erect. The leaves are small, oblong, tapering at the tip, flat at the base, with the upper side dark green and the underside light green. The leaves are arranged on the left and right of the main stem up to its branches, resembling a chicken claw with its scales. The stem is round and branched forkedly without secondary growth and is brownish white in color. It has reduced sporangia in the leaf axils and is white in color. This chicken claw plant has fibrous roots that are dark brown in color. Contents Alkaloids, saponins, phytosterols, phenylpropanones, flavonoids, glycosides, hierons, lignans, phenylpropanone, myristic acid, beta citronellol, palmitic acid, emodin, apigenin, ferulic acid, syringate, amentoflavone. Benefits Antipyretic (heat reducer), antioxidant, antitumor, anticancer, antibacterial, antiviral, hemostatic (stop bleeding), antioedem (anti-swelling), blood purifier, and stonomics (Ngibad, 2018; Kusumastuti, 2012). Other benefits of the Plant can overcome cough, respiratory infections, pneumonia, hepatitis, diarrhea, vaginal discharge, and broken bones. How to process How to process it into herbal medicine First of all, prepare 15-30 grams of dried Chicken Claw plants (for cancer treatment as much as 50-100 grams). After that, boil the dried Chicken Claws into five glasses of water over low heat for 3-4 hours. After boiling, wait for the herbs to cool. After cooling, drink the herbal medicine 2 times a day. References Biodiversity Warriors. (2021). Getting to Know Selaginella doederleinii Hieron, an Abundant Medicinal Plant in the Turgo Area. Faculty of Medicine and Health, Muhammadiyah University of Jakarta. (2024). Chicken claw (Selaginella doederleinii Hieron) as a Traditional Medicinal Plant. Kusumastuti, E. (2012). Phytochemical Study and Pharmacological Activity of Chicken claw (Selaginella doederleinii Hieron). Yogyakarta: Gadjah Mada University. Ngibad, K. (2018). The Potential of chicken claw (Selaginella doederleinii Hieron) as a Traditional Medicine and a Source of Natural Antioxidants. Malang: Maulana Malik Ibrahim State Islamic University. Indonesian Wikipedia. (2024). Chicken claw (plant).

Daun Cakar Ayam (Selagiriella doederleinii Hieron) Read More »

Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)

Nama latin Clitoria ternatea L. Taksonomi Kerajaan         :Plantae Sub kerajaan       :Tracheobionta Super Divisi        :Spermatophyta Divisi             :Magnoliophyta Kelas              :Magnoliopsida Sub kelas            :Rosidae Bangsa           :Fabales Keluarga         :Fabaceae Genus             :Clitoria Species           :Clitoria ternatea L (Hartono, 2018 dalam Handito, 2023) Definisi umum Clitoria ternatea L., yang dikenal sebagai bunga telang, merupakan tanaman herba tahunan dari famili Fabaceae yang tumbuh subur di daerah beriklim tropis serta menunjukkan ketahanan yang baik terhadap gangguan lingkungan (Yusuf et al., 2025). Tanaman ini menghasilkan bunga berbentuk kupu-kupu yang bersifat zigomorfik dan memiliki lima bagian (pentamerous), dengan kelopak berbentuk tabung yang terdiri atas lima sepal yang menyatu sekitar dua pertiga dari panjangnya (Oguis et al., 2019). Selain itu, bunga telang dikenal memiliki kandungan antioksidan yang tinggi dan umumnya tumbuh di pekarangan rumah, hutan, maupun pinggiran kebun (Sumartini et al., 2020). Tidak hanya itu, Clitoria ternatea L. juga banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Ayurveda serta memiliki aplikasi luas di bidang kuliner (Ashraf et al., 2023; Maneechot et al., 2023). Kandungan bioaktif dalam ekstrak bunga telang meliputi senyawa flavonoid berupa antosianin, asam fenolat, flavon, flavonol glikosida, dan flavanol, serta berbagai senyawa terpenoid, alkaloid, dan peptida berupa siklotida (Marpaung, 2020).  Khasiat Ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) diketahui memiliki berbagai potensi dan manfaat yang luas. Handito et al. (2022) menyatakan bahwa ekstrak bunga telang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami lokal sekaligus sumber antioksidan alami yang dapat ditambahkan pada berbagai produk pangan. Sejalan dengan itu, Andriani dan Murtisiwi (2020) melaporkan bahwa ekstrak bunga telang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, yaitu sebesar 41,36 μg/mL. Selain aktivitas antioksidan, Purba (2020) juga menyebutkan bahwa bunga telang memiliki potensi farmakologis lain seperti antimikroba, antidepresan, antelmintik, antikanker, dan antidiabetes. Selanjutnya, Pratiwi et al. (2020) menjelaskan bahwa aktivitas tanin pada ekstrak bunga telang dapat memberikan efek nefroprotektif terhadap paparan bahan toksik dengan cara mencegah peroksidasi lipid dan menekan pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang dapat menyebabkan kematian sel. Selain itu, Ab Rashid et al. (2021) melaporkan bahwa mikrokapsul antosianin dari bunga telang juga memiliki aktivitas antibakteri. Hal ini didukung oleh Yurisna et al. (2022) yang menyebutkan bahwa kandungan flavonoid, antosianin, tanin, flavon, flavanol, asam fenolat, dan alkaloid dalam bunga telang berpotensi dimanfaatkan sebagai antibakteri pada produk pangan. Cara pengolahan Cara pengolahan bunga telang menjadi teh dilakukan melalui beberapa tahap. Bunga telang yang telah dipanen dicuci hingga bersih, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau menggunakan oven pada suhu 60°C hingga benar-benar kering. Setelah itu, bunga kering dihaluskan hingga menjadi serbuk simplisia, lalu dikemas dan disegel sebagai teh bunga telang (Widjajanti et al., 2023). Herlina et al. (2023) menjelaskan bahwa pengolahan bunga telang dapat dilakukan menjadi berbagai bentuk minuman seperti sirup, teh, dan air seduhan yang dapat langsung dikonsumsi. Proses penyeduhan pada suhu tertentu berpengaruh terhadap kandungan antosianin yang berperan sebagai antioksidan dalam minuman tersebut.   Sementara itu, ekstrak bunga telang juga dapat dicampurkan dengan berbagai bahan pangan lainnya. Ekstrak ini memiliki ketahanan terhadap proses pemanasan seperti pasteurisasi, sehingga berpotensi digunakan sebagai pewarna alami sekaligus penambah aktivitas antioksidan dalam produk pangan (Kurniadi et al., 2024). Referensi Ab Rashid, S., Tong, W. Y., Leong, C. R., Abdul Ghazali, N. M.,  Taher, M. A., Ahmad,  N.,  …  Teo,  S.  H.  (2021). Anthocyanin  Microcapsule  from Clitoria  ternatea:  Potential  Bio-preservative  and  Blue  Colorant  for Baked Food Products. Arabian Journal for  Science  and  Engineering,  46(1), 65–72. https://doi.org/10.1007/s13369-020-04716-y Andriani, D., & Murtisiwi, L. (2020). Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70 % bunga telang (Clitoria ternatea L.) dari daerah Sleman dengan metode DPPH. Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia, 17(1), 70–76. https://doi.org/10.23917/pharmacon.v17i1.9321 Ashraf, K., Adlin, N. F., Basri, A. N., Ahmad, W., & Sultan, S. (2023). The traditional uses, phytochemistry, and pharmacological effects of Clitoria ternatea: A review. Indian Journal of Pharmaceutical Education and Research, 58(1), 1–14. https://doi.org/10.5530/ijper.58.1.1 Handito, D., Basuki, E., Saloko, S., Dwikasari, L. G., & Triani, E. (2022). Analisis komposisi bunga telang (Clitoria ternatea) sebagai antioksidan alami pada produk pangan. Prosiding SAINTEK, 4, 64-70. LPPM Universitas Mataram. E-ISSN: 2774-8057. https://eprints.unram.ac.id/40868/1/B50.pdf Handito, R., & Pratiwi, N. (2023). Klasifikasi dan potensi bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai tanaman obat. Jurnal Biologi Tropika, 10(2), 45–52. Herlina, H., Jannah, S., Mulyani, E., & Sembiring, M. (2023). Analisa antosianin pada minuman olahan bunga telang (Clitoria ternatea L.) dengan metode pH differensial. Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi, 12(2), 1–10. p-ISSN 2089-5313 | e-ISSN 2549-5062. Retrieved from https://ejournal.poltekharber.ac.id/index.php/parapemikir/article/download/5138/pdf_135 Kurniadi, A., Sartika, D., Herdiana, N., & Susilawati. (2024). Kajian formulasi ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea) terhadap aktivitas antioksidan pada minuman fungsional. Jurnal Agroindustri Maneechot, O., Hahor, W., Thongprajukaew, K., Nuntapong, N., & Bubaka, S. (2023). A natural blue colorant from butterfly pea (Clitoria ternatea) petals for traditional rice cooking. Journal of Food Science and Technology, 60(8), 2255–2264. https://doi.org/10.1007/s13197-023-05752-w Marpaung, A. M. (2020). Tinjauan manfaat bunga telang (Clitoria ternatea L.) bagi kesehatan  manusia.  Journal  of Functional  Food  and  Nutraceutical, 1(2),  63–85. https://doi.org/10.33555/jffn.v1i2.30 Oguis, G. K., Gilding, E. K., Jackson, M. A., & Craik, D. J. (2019). Butterfly Pea (Clitoria ternatea), a cyclotide-bearing plant with applications in agriculture and medicine. Frontiers in Plant Science, 10, 645. https://doi.org/10.3389/fpls.2019.00645 Pratiwi,  E.  R.,  Rahmandani,  S.  O.  A., Ibrahim, A. R., & Isbandiyah, I. (2020). Potensi Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea)  Sebagai  Pencegah  Acute Kidney  Injury  (AKI).  CoMPHI Journal:  Community  Medicine  and Public  Health  of  Indonesia  Journal, 1(2),  92–100. https://doi.org/10.37148/comphijournal.v1i2.16 Purba, E. C. (2020). Kembang telang (Clitoria ternatea L.): Pemanfaatan dan bioaktivitas. EduMatSains, 4(2), 111–124. https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/santimas/article/download/3244/2231/11942?utm_source=chatgpt.com Sumartini, Y., Ikrawan, Y., & Muntaha, F. M. (2020). Analisis bunga telang (Clitoria ternatea) dengan variasi pH metode Liquid Chromatograph-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Pasundan Food Technology Journal, 7(2), 70. Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan. E-ISSN: 2615-1405. https://doi.org/10.23969/pftj.v7i2.2983 Yurisna, V. C., Nabila, F. S., Radhityaningtyas, D., & Listyaningrum, F. (2022). Potensi bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai antibakteri pada produk pangan. JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI), 7(1), 68-77. https://doi.org/10.33061/jitipari.v7i1.5738 Yusuf, A. F.,

Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Read More »

Scroll to Top