naturindofresh

Meniran (Phyllanthus niruri L.)

Nama latin Phyllanthus niruri L. Taksonomi Kingdom: Plantae Divisio: Tracheophyta (tumbuhan berpembuluh) Subdivisio: Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) Kelas: Magnoliopsida (dikotil) Ordo: Malpighiales Famili: Phyllanthaceae (dulu termasuk Euphorbiaceae) Genus: Phyllanthus Spesies: Phyllanthus niruri L. (Sholeh dan Megantara, 2019.).    Definisi Umum Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah tanaman herba semusim yang termasuk dalam famili Phyllanthaceae. Tanaman ini tumbuh liar di daerah tropis dan subtropis, termasuk di Indonesia. Meniran dikenal luas dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti hepatoprotektif, diuretik, antimikroba, dan imunomodulator. Bagian tanaman yang digunakan sebagai simplisia umumnya adalah seluruh bagian herba, baik segar maupun kering. Tanaman ini memiliki ciri khas berupa batang ramping bercabang, daun kecil tersusun berseling menyerupai daun majemuk, dan buah kecil berbentuk bulat yang tumbuh di bawah daun, ciri yang menjadi asal nama “meniran” (dari kata “menyirip kecil seperti daun sirih”). (Santos, R. V., et al. (2019)). Khasiat Meniran merupakan salah satu tanaman obat yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini mengandung beragam senyawa aktif seperti lignan (phyllanthin dan hypophyllanthin), flavonoid, tanin, alkaloid, dan terpenoid yang berperan penting dalam memberikan efek farmakologisnya. Salah satu khasiat utama meniran adalah sebagai pelindung hati (hepatoprotektif). Ekstrak Phyllanthus niruri terbukti mampu mencegah kerusakan sel hati akibat paparan zat toksik seperti karbon tetraklorida (CCl₄) dan parasetamol dosis tinggi. Efek perlindungan ini disebabkan oleh kemampuan senyawa lignan yang bekerja sebagai antioksidan dan membantu menstabilkan membran sel hati, sehingga meniran sering digunakan sebagai bahan alami untuk menjaga fungsi hati (Santos et al., 2019). Selain itu, meniran juga memiliki efek diuretik, yaitu meningkatkan produksi dan pengeluaran urin. Efek ini bermanfaat dalam membantu mengeluarkan racun dari tubuh serta mencegah pembentukan batu ginjal. Penggunaan meniran sebagai pelancar urin telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional dan juga tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia Edisi II (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Khasiat lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas antimikroba dan antivirus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak meniran mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri serta mencegah replikasi virus, termasuk virus hepatitis B. Hal ini menjadikan meniran sebagai tanaman dengan potensi besar dalam mendukung terapi penyakit infeksi (Hariana, 2008). Selain itu, kandungan flavonoid dan tanin dalam meniran memberikan efek antioksidan yang kuat, membantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Senyawa-senyawa ini juga berperan sebagai imunomodulator, yaitu membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan aktivitas sel fagosit dan produksi interferon (Santos et al., 2019; Kementerian Kesehatan RI, 2017). Secara keseluruhan, meniran merupakan tanaman dengan khasiat yang luas dan mendukung berbagai fungsi tubuh, terutama dalam menjaga kesehatan hati, ginjal, dan sistem imun. Cara Pengolahan Simplisia Meniran diperoleh dari seluruh bagian tanaman herba yang telah mencapai umur cukup dan tumbuh secara sehat. Meniran dapat dipanen ketika tanaman berumur sekitar 1–2 bulan, saat batang dan daunnya masih segar namun sudah menghasilkan buah kecil di bagian bawah daun. Seluruh bagian tanaman, termasuk batang, daun, dan akar , dapat digunakan sebagai bahan obat (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Setelah dipanen, tanaman dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan tanah dan kotoran yang menempel, kemudian ditiriskan hingga tidak ada air yang tersisa. Proses pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh yang memiliki sirkulasi udara baik, atau menggunakan alat pengering pada suhu tidak lebih dari 50°C agar kandungan senyawa aktif seperti lignan dan flavonoid tidak rusak akibat panas berlebih (Hariana, 2008). Setelah kering, bahan simplisia dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat yang terlindung dari sinar matahari langsung dan kelembaban tinggi. Simplisia kering inilah yang kemudian menjadi bahan dasar pembuatan sediaan tradisional, seperti rebusan, ekstrak etanol, maupun serbuk untuk kapsul. Dalam penggunaan tradisional, air rebusan herba meniran biasanya dibuat dengan cara merebus sekitar 15–30 gram herba kering dalam 3 gelas air hingga tersisa sekitar 1 gelas, kemudian disaring dan diminum dua kali sehari. Sementara untuk keperluan penelitian atau pembuatan produk herbal terstandar, simplisia meniran sering diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% untuk memperoleh senyawa aktif seperti phyllanthin, hypophyllanthin, dan flavonoid (Santos et al., 2019). Proses pengolahan yang tepat sangat penting untuk menjaga kestabilan zat aktif dan efektivitas farmakologis dari simplisia meniran. Dengan perlakuan pascapanen yang baik, kualitas simplisia dapat dipertahankan sehingga memberikan khasiat maksimal bagi pengobatan tradisional maupun formulasi sediaan herbal modern. Daftar Pustaka: Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hariana, A. (2008). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.Santos, R. V., et al. (2019). “Pharmacological properties and therapeutic potential of Phyllanthus niruri: A review.” Journal of Pharmacy and Pharmacology, 71(12), 1731–1749. Santos, R. V., et al. (2019). “Pharmacological properties and therapeutic potential of Phyllanthus niruri: A review.” Journal of Pharmacy and Pharmacology, 71(12), 1731–1749.

Meniran (Phyllanthus niruri L.) Read More »

DANDANG GENDIS (Clinacanthus nuntas)

Nama latin Clinacanthus nuntas Taksonomi Kingdom   : Plantae Divisi    : Spermatofita Kelas     : Dikotilrdoneae Ordo      : Solanales Famili   : Acanthaceae Genus    : ClinacanthusSpesies  : Clinacanthus nuntas Khoo et al. (2018) Definisi umum Dandang gendis adalah tanaman herbal yang banyak ditemukan di wilayah Asia. Tanaman dandang gendis memiliki banyak manfaat, pada beberapa negara di Asia Tenggara dandang gendis digunakan untuk menangkal bisa ular atau gigitan serangga. Dandang gendis juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan, bagian tanaman yang digunakan yaitu pada bagian daunnya (Pragustine et al.,2022). Dandang gendis merupakan tanaman semak belukar berbentuk perdu, memiliki batang tegak dengan tinggi sekitar 2,5 m, beruas dan berwarna hijau. Memiliki daun tunggal dan berhadapan satu sama lain, memiliki panjang daun 8-12 cm dan lebar 4-6 cm. Memiliki bunga yang tumbuh di ketiak daun dan ujung batang (Permadi, 2013). Kandungan Daun dandang gendis mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, triterpen, saponin, dan flavonoid (Klau dan Hesturini, 2021). Khasiat Dandang gendis dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan, daun dandang gendis memiliki khasiat sebagai obat diare, disentri, radang usus, dan buang air besar berlendir. Daub dandang gendis juga memiliki sifat farmakologi seperti antioksidan, antikanker, antiinflamasi, analgesik, meningkatkan sistem imun, antibakteri, antivirus, dan antibisa (Andasari dan Mustofa, 2020). Cara pengolahan Cara pengolahan tanaman dandang gendis untuk pengobatan yaitu dengan melakukan proses perebusan pada bagian daun tanaman (Seran et al., 2023). Daftar pustaka Andasari, S. D., & Mustofa, C. H. (2020). Standarisasi Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etil Asetat Daun Dandang Gendis (Clinacanthus Nutans). MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(2), 70-75. https://ejournal.umkla.ac.id/index.php/motor/article/view/176/135 Klau, M. H. C., & Hesturini, R. J. (2021). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans (Burm F) Lindau) Terhadap Daya Analgetik dan Gambaran Makroskopis Lambung Mencit. Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, 4(1), 6-12. https://doi.org/10.52216/jfsi.v4i1.59 Permadi, I. G. W. D. (2013). Keanekaragaman tanaman obat sebagai larvasida dalam upaya pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 5(1), 12-16. https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3470/3067 Pragustine, Y., Astoeti, T. E., Amtha, R., & Roeslan, M. O. (2022). Pemberdayaan Ibu-Ibu Majlis Al Muttaqien dalam Budidaya Tanaman Dandang Gendis sebagai Larutan Kumur untuk Kesehatan Rongga Mulut. Jurnal Abdimas Kesehatan Terpadu, 1(1). https://doi.org/10.25105/jakt.v1i1.13921 Seran, G. Y. T., Seran, L., & Nau, G. W. (2023). Studi Etnofarmakognosi Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat Untuk Mengobati Penyakit Pada Manusia Di Kelurahan Manutapen Kecamatan Alak Kota Kupang. JBIOEDRA: Jurnal Pendidikan Biologi, 1(3), Yuliana-Tei. https://journal.unwira.ac.id/index.php/JBIOEDRA/article/view/2249/845

DANDANG GENDIS (Clinacanthus nuntas) Read More »

Key Flower (Boesenbergia Rotunda)

Nama Latin Boesenbergia rotunda Taksonomi Kingdom (Kerajaan) : Plantae Subkingdom: Tracheobionta  Divisi (Divisio): Magnoliophyta Kelas (Classis): Liliopsida Subkelas (Subclassis): Zingiberidae Ordo (Ordo): Zingiberidae Famili (Familia): Boesenbergia Genus: Boesenbergia Spesies: Boesenbergia rotunda (L) Mansf.  (Yvonne Jing Mei Liew. (2022) Definisi Umum Temu kunci adalah tanaman herbal dari suku Zingiberaceae (jahe-jahean) yang rimpangnya sering digunakan sebagai bumbu masak dan obat tradisional. Tanaman ini memiliki aroma khas dan rasa sedikit pedas serta pahit. Kandungan Mengandung minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, kurkumin, dan senyawa aktif seperti pinostrobin, panduratin A, serta boesenbergin. Khasiat Temu kunci (Boesenbergia rotunda) termasuk ke dalam famili Zingiberaceae dan merupakan salah satu tanaman yang telah digunakan sebagai rempah dan obat herbal secara turun-temurun. Sastrahidayat (2016) menyatakan bahwa temu kunci memiliki berbagai macam khasiat antara lain sebagai rempah bumbu masak, obat batuk, peluruh dahak, penambah nafsu makan, mengatasi gangguan pencernaan, dan obat sariawan. Berdasarkan penelitian Baharudin et al. (2015) dilaporkan bahwa terdapat 18 senyawa aktif kelompok minyak esensial yang terkandung dalam rimpang temu kunci yang berpotensi sebagai antibakteri. Dalam penelitiannya, Baharudin et al. (2015) membuktikan bahwa kandungan minyak esensial dari temu kunci dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, B. cereus, E. coli. Beberapa penelitian secara in vitro membuktikan bahwa B. rotunda memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), dan Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). Mekanisme kerja minyak esensial sebagai antibakteri yaitu dengan mengubah permeabilitas dan mengubah toleransi garam sel. Hal ini dibuktikan pada sel E. coli yang terpapar minyak esensial 0,22% mengalami kebocoran senyawa anorganik (ion kalium dan kalsium) dan senyawa organik (asam nukleat dan protein) (Chahyadi et al., 2014). Minyak esensial dapat menyebabkan apotosis sel dan terganggunya pembentukan dinding dan membran sel (Chen et al., 2020). Cara Pengolahan DAFTAR PUSTAKA  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Farmakope Herbal Indonesia (Edisi I). Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Hariana, A. (2006). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Jilid 1). Jakarta: Trubus Agriwidya. Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Tanaman Obat untuk Mengatasi Berbagai Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka. Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Aktivitas antibakteri ekstrak rimpang Boesenbergia rotunda. Jurnal Biologi Indonesia, 16(1), 45–52. Key Flower (Boesenbergia Rotunda) Latin Name Boesenbergia rotunda Taxonomy Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Division: Magnoliophyta Class: Liliopsida Subclass: Zingiberidae Order: Zingiberidae Family: Boesenbergia Genus: Boesenbergia Species: Boesenbergia rotunda (L.) Mansf. (Yvonne Jing Mei Liew. (2022) General Definition Temu kunci is an herbal plant from the Zingiberaceae (ginger) family whose rhizomes are often used as a cooking spice and traditional medicine. This plant has a distinctive aroma and a slightly spicy and bitter taste. Content Contains essential oils, flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, curcumin, and active compounds such as pinostrobin, panduratin A, and boesenbergin. Benefits Temu kunci (Boesenbergia rotunda) belongs to the Zingiberaceae family and is a plant that has been used as a spice and herbal medicine for generations. Sastrahidayat (2016) states that temu kunci has various benefits, including as a cooking spice, cough medicine, expectorant, appetite stimulant, digestive disorders, and mouth ulcer treatment. Research by Baharudin et al. (2015) reported that temu kunci rhizomes contain 18 active compounds belonging to the essential oil group, which have antibacterial potential. In their study, Baharudin et al. (2015) demonstrated that the essential oil content of temu kunci can inhibit the growth of S. aureus, B. cereus, and E. coli bacteria. Several in vitro studies have shown that B. rotunda has antibacterial activity against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Staphylococcus epidermidis, Bacillus cereus (Sopitthummakhun et al., 2021), Streptococcus mutans (Handayani et al., 2018), and Enterococcus faecalis (Ridzali, 2018). The mechanism of action of essential oils as antibacterials is by changing permeability and changing cell salt tolerance. This was proven in E. coli cells exposed to 0.22% essential oils experienced leakage of inorganic compounds (potassium and calcium ions) and organic compounds (nucleic acids and proteins) (Chahyadi et al., 2014). Essential oils can cause cell apoptosis and disrupt the formation of cell walls and membranes (Chen et al., 2020). Preparation Method BIBLIOGRAPHY Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2008). Indonesian Herbal Pharmacopoeia (Edition I). Jakarta: Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Heyne, K. (1987). Useful Plants of Indonesia Volume II. Jakarta: Forestry Research and Development Agency. Hariana, A. (2006). Medicinal Plants and Their Benefits. Jakarta: Penebar Swadaya. Dalimartha, S. (2000). Atlas of Indonesian Medicinal Plants (Volume 1). Jakarta: Trubus Agriwidya. Winarto, W. P., & Surbakti, D. (2003). Medicinal Plants for Treating Various Diseases. Jakarta: Agromedia Pustaka. Nurjanah, N., & Riyanto, R. (2020). Antibacterial activity of Boesenbergia rotunda rhizome extract. Indonesian Journal of Biology, 16(1), 45–52.

Key Flower (Boesenbergia Rotunda) Read More »

MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)

Nama Latin  Morinda citrifolia L. Taksonomi  Kingdom : Plantae  Subkingdom : Viridiplantae  Superdivision : Embryophyta  Divison : Magnoliophyta  Subdivision : Spermatophytina  Class : Magnoliopsida  Superorder : Asteranae  Order : Gentianales  Family : Rubiaceae  Genus : Morinda  Species : Morinda citrifolia L. NCBI (2019) Definisi Umum Mengkudu (Morinda citrifolia L.) merupakan tanaman obat yang cukup dikenal oleh masyarakat di Indonesia, mengkudu tergolong tanaman tropis yang evergreen, artinya selalu memiliki daun sepanjang tahun. Buahnya tidak mengenal musim. Mengkudu adalah pohon yang banyak manfaatnya, buahnya berwarna putih keruh berbentuk bulat sampai bulat telur, permukaannya berbenjol-benjol, berbiji banyak, daging buahnya yang masak lunak dan banyak mengandung air, rasanya agak masam, digunakan sebagai obat peluruh kencing dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi, daunnya digunakan sebagai obat sakit perut, akar dan kulit batangnya mengandung zat warna merah yang dalam pembatikan.Buah mengkudu dapat digunakan sebagai obat untuk penyembuhan penyakit darah tinggi, edema, sembelit, dan perut kembung. Buah yang masak dapat digunakan untuk radang tenggorokan dan penderita narkotika  (Sitorus et al., 2021). Buah mengkudu memiliki tangkai, berbentuk lonjong, dengan buahnya yang majemuk, panjangnya 5 hingga 10 cm, permukaannya tidak halus, dan berwarna hijau. Buah yang sudah matang berair dan berdaging, berwarna kuning muda atau kuning gelap, memiliki aroma yang kurang sedap, dan banyak mengandung biji berwarna hitam, sedangkan buah yang muda berwarna hijau tua dan keras (Nirawati, 2016). Kandungan  Buah mengkudu memiliki kandungan senyawa saponin, flavonoid, antrakuinon, triterpenoid alkaloid, dan saponin (Mudaliana et al., 2019), serta tanin (Sitorus et al., 2021). Khasiat Buah, biji, kulit, daun, dan bunga tanaman mengkudu mengandung mineral seperti kalium, zat besi, garam, dan kalsium serta vitamin A, C, tiamin, niasin, dan riboflavin (Abou Assi et al., 2017; Garnida & Hasnelly, 2018). Oleh sebab itu, buah mengkudu dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan bagi manusia, termasuk adanya berbagai bahan kimia yang mencakup sebagai antibakteri (Juariah et al., 2021), analgesik, hipotensi (Nagalingam et al., 2013), antivirus (Khoirunnisa & Sumiwi, 2019), antijamur, antitumor (Abou Assi et al., 2017), anti inflamasi dan antibiotik (Kaleem & Ahmad, 2018) serta sebagai pengobatan tradisional obat AIDS, radang sendi, batuk, diare, diabetes (Ali et al., 2016) dan antihipertensi (Sitorus et al., 2021) (Landari 2023 et al., 2023). Senyawa flavonoid rutin, luteolin dan quercetin dapat  menghambat aktivitas ACE serta aktivitas glutathione peroxidase dan Nitric Oxide (NO) meningkat pada sel endotel, yang berperan dalam sistem kardiovaskular, sehingga pembuluh darah mengalami relaksasi dan tekanan darah menjadi normal (Wigati et al., 2017).  Cara Pengolahan  Walaupun memiliki beribu khasiat, hanya sebagian kecil dari masyarakat yang memanfaatkan mengkudu. Penyebab kurangnya peminat mengkudu secara langsung adalah dikarenakan bau mengkudu yang tidak sedap. Asam decanoic dan asam dekanoat dalam buah mengkudu menyebabkan bau busuk dan tajam menyengat, terutama pada buah matang. Oleh karenanya diperlukan teknologi pengolahan buah mengkudu baik menjadi produk antara ataupun produk pangan jadi (Kurniati et al., 2018) Gunakan buah mengkudu kering yang sudah diiris-iris tipis. Ambil 3-4 iris buah kering. Rebus atau seduh dengan air mendidih selama ± 10-11 menit (Wang et al., 2021). Buah mengkudu dimaserasi dengan merendam simplisia kedalam pelarut etanol 96%, sampai terendam seluruhnya selama ±24 jam, kemudian disaring dengan kertas penyaring. Residu kembali dimaserasi lagi dengan cara yang sama, sampai 3 kali. Ekstrak hasil maserasi atau filtrat yang dihasilkan, ditampung menjadi satu dan diuapkan, untuk memisahkan pelarutnya. Penguapan dilakukan dengan menggunakan alat Rotary evaporator pada suhu 50°C, sampai pelarut habis menguap, sehingga didapatkan ekstrak kental buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Rohaya et al., 2023) Buah mengkudu matang dicuci bersih dan dipotong kecill. Hancurkan dengan blender tanpa menambahkan air. Diamkan hasil perasan dalam wadah tertutup selama 2–3 hari untuk fermentasi alami. Saring cairan yang dihasilkan dan simpan dalam botol bersih di tempat sejuk (Abou Assi et al., 2017). Buah mengkudu matang dicuci, dipotong kecil. Keringkan di oven suhu 40–50°C sampai kadar air rendah. Giling menjadi serbuk halus (simplisia kering). Serbuk ini dapat digunakan sebagai bahan baku sediaan herbal (teh, kapsul, atau ekstrak) (Garnida, Y., & Hasnelly, H. (2018). DAFTAR PUSTAKA Abou Assi, R., Darwis, Y., Abdulbaqi, I. M., Vuanghao, L., & Laghari, M. H. (2017). Morinda citrifolia (Noni): A comprehensive review on its industrial uses, pharmacological activities, and clinical trials. Arabian Journal of Chemistry, 10(5), 691–707. Garnida, Y., & Hasnelly, H. (2018). Pengembangan Simplisia dan Ekstrak Kering Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai Bahan Obat Herbal. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia, 6(1), 45–53. Kurniati, D. (2018). Teknologi budidaya dan pengolahan buah mengkudu kaya antioksidan sebagai alternatif sumber pangan fungsional. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(7), 519-521.  Landari, I. G. A. D., I Gusti, A. W. K., Ni, W. N. (2023). Profil Senyawa Flavonoid Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan Berbagai Metode Pengeringan. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas, Vol. 27 (1) : 7-16. Mudaliana, S., Retno, I., Febriyana, R. H., (2019). Perbandingan Sediaan Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) Segar Dan Hasil Fermentasi. 17 – 22. Nirawati, Cut. 2016. Uji Daya Hambat Ekstrak Daun dan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Sebagai Penunjang Praktikum Mata Kuliah Mikrobiologi. Skripsi. Rohaya, A., & Lolok, N. (2023). Uji Aktivitas Antihiperlipidemia Glikosida Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) Pada Hewan Uji Mencit (Mus Muscullus). Jurnal Pharmacia Mandala Waluya, 2(1), 36-42. Sitorus, P., Suharyanisa, S., Chandra, D., & Sitanggang, B. (2021). Karakterisasi dan Skrining Fitokimia serta Analisis Flavonoid dari Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L) secara Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Farmanesia, 8(2), 77–81. https://doi.org/10.51544/jf.v8i2.2793  Wang Q, Yang F, Jia D, Wu T. Polysaccharides and polyphenol in dried Morinda citrifolia fruit tea after different processing conditions: Optimization analysis using response surface methodology. PeerJ. 2021 May 26;9:e11507. PMID: 34123597; PMCID: PMC8164410. doi : 10.7717/peerj.11507  Wigati, D., Anwar, K., Sudarsono, & Nugroho, A. E. (2017). Hypotensive Activity of Ethanolic Extracts of Morinda citrifolia L. Leaves and Fruit in Dexamethasone-Induced Hypertensive Rat. Journal of Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 22(1), 107–113. https://doi.org/10.1177/2156587216653660 

MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) Read More »

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.)

Nama Latin Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. Taksonomi Kingdom      : Plantae Divisi           : Tracheophyta Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Poales Famili           : Gramineae Genus           : Bambusa Spesies         : Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. (Sarmila et al., 2022) Definisi Umum Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Khasiat Bambu kuning terdeteksi positif senyawa saponin, flavon dan tannin. Saponin bermanfaat sebagai peptisida, insektisida, moluskasida, fungisida dan penggunaan pada industri untuk foaming. Ekstrak daun Bambusa vulgaris memiliki efek hepatoprotektor dan pemulihan fungsi ginjal. Ekstrak daun B. vulgaris berpotensi menjadi produk antimalaria alami yang menjanjikan tanpa efek samping pada penggunaan, terutama bila diberikan dalam kisaran dosis 100 – 200 mg/kg berat badan. Tanin digunakan sebagai astringen, melawan diare, sebagai diuretik, melawan lambung dan tumor duodenum, dan sebagai antiinflamasi, antiseptik, antioksidan dan hemostatik obat-obatan (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoid pada bambu kuning dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih. Nanopartikel emas ekstrak daun bambu kuning memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 0,907 cm (Prasetya et al., 2020). Selain itu, ekstrak etanol daun bambu Bambusa vulgaris juga memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Salmonella typhi (Ulfa  et al., 2015). Cara Pengolahan Proses pembuatan tepung rebung adalah mengambil rebung yang sudah difermentasi, kemudian rebung dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven dengan suhu 60 ̊C selama ± 14 jam hingga kering (rebung mudah dipatahkan). Lalu rebung digiling atau diblender hingga halus dan kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Prabasini et al., 2013). Rebung berpotensi menjadi produk olahan tepung yang mengandung serat tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, tepung rebung dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Namun kandungan serat yang tinggi menyulitkan rebung untuk dibuat menjadi tepung secara langsung. Untuk itu, rebung perlu diberi perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan ada beberapa macam, seperti blansing, fermentasi pikel dan perendaman dengan Na- Metabisulfit, fermentasi alami atau spontan. Perlakuan pendahuluan yang digunakan dalam pengolahan rebung menjadi tepung adalah fermentasi alami atau spontan karena perlakuan tersebut tidak menggunakan bahan kimia (Rachmadi, 2011). DAFTAR PUSTAKA Prabasini H, Ishartani D, Rahadian D. 2013. Kajian sifat kimia dan fisik tepung labu kuning (Cucurbita moschata) dengan perlakuan blanching dan perendaman natrium metabisulfite (Na2S2O5). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 93-102. Prasetya A, A., Prima A. P., Amalia, H., dan Yandi S., 2020. Biosintesis Nano Herbal Ekstrak Daun Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) Dengan Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Mahasiswa Khazanah Vol. 11(1) Hal: 1-6. Universitas Islam Indonesia. Rachmadi, 2011. Gangguan Ginjal Akut. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.  Sarmila, Nirawati, & Nuriman, A. (2022). Eksplorasi Jenis Bambu (Bambusa, Sp.) Berdasarkan Ciri Morfologi Kabupaten Maros. Jurnal Eboni, 4(1), 9–15. Sujarwanta, A., & Zen, S. (2020). Identifikasi Jenis dan Potensi Bambu (Bambusa sp.) sebagai Senyawa Antimalaria. BIOEDUKASI, 11(2), 131-151. Ulfa, M., Apridamayanti, P., & Sari, R. (2015). Penentuan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bambu (Bambusa vulgaris) terhadap Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1). BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.) Latin Name Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. Taxonomy Kingdom : Plantae Division : Tracheophyta Class : Monocotyledonae Order : Poales Family : Gramineae Genus : Bambusa Species : Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl. (Sarmila et al., 2022) General Definition Yellow bamboo is a native species originating from Cambodia, China, Laos, Myanmar, Thailand, and Vietnam. Today, yellow bamboo has spread and is cultivated in various countries, such as Bangladesh, Brazil, Colombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua New Guinea, Vanuatu, and Venezuela. Yellow bamboo can grow at elevations of 100–1,500 meters above sea level. This plant can grow up to 16 meters or taller, forming woody clumps, and is capable of producing creeping branches. Young yellow bamboo shoots are typically 15–30 cm long and are edible. Mature yellow bamboo stems have a diameter of 10–12 cm and are bright green or yellow in color. Yellow bamboo leaves are lance-shaped and pointed, with a length of 10–25 cm and a width of 1–3 cm. Each clump typically has 8–9 leaves. Yellow bamboo is a plant that rarely flowers. The yellow bamboo flower consists of small spikelets 15–20 mm long, each containing 6–10 flowers. Yellow bamboo can be utilized as food, livestock feed, fuel, timber, and in the pharmaceutical industry (Kew). Benefits Yellow bamboo has been found to contain saponins, flavonoids, and tannins. Saponins are useful as pepticides, insecticides, molluscicides, and fungicides, and are used in industry for foaming. Bambusa vulgaris leaf extract has hepatoprotective effects and aids in the recovery of kidney function. B. vulgaris leaf extract has the potential to be a promising natural antimalarial product with no side effects, particularly when administered at a dosage range of 100–200 mg/kg body weight. Tannins are used as astringents, to treat diarrhea, as diuretics, to combat stomach and duodenal tumors, and as anti-inflammatory, antiseptic, antioxidant, and hemostatic agents (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoids in

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.) Read More »

TEMU HITAM ( Curcuma Aeruginosa )

 Nama Latin Curcume aeruginosa Roxb Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Tracheophyta Kelas           : Liliopsida Ordo            : Zingiberales Famili          : Zingiberaceae Genus          : Curcuma Spesies        : Curcume Aeruginosa Roxb  (Dina, 2016)  Definisi Umum  Temu hitam memiliki nama lokal temu erang (Sumatra), koneng hideung (Jawa Barat), temu ireng (Jawa Tengah dan Jawa Timur), temu ireng (Madura), dan temu lotong (Sulawesi dan Nusa Tenggara). Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara besar-besaran di negara Asia lainnya seperti Malaysia, Kamboja, dan Myanmar. Di Indonesia rimpang temu hitam telah digunakan sebagai bahan baku jamu gendong dengan nama ramuan cabe puyang . Temu hitam atau dalam bahasa latin disebut Curcuma aeruginosa Roxb. Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) adalah salah satu rempah asli Indonesia Yang biasa digunakan sebagai bahan campuran obat atau jamu. Rimpang temu hitam merupakan salah satu keluarga dari Zingiberaceae. Tanaman ini secara empiris tumbuh pada ketinggian 1.150 m di atas permukaan laut, tumbuh baik pada tanah subur yang terairi baik (Kemenkes RI, 2011). Salah satu manfaat dari rimpang temu hitam yang sudah diteliti sebelumnya yaitu sebagai obat demam berdarah (Moektiwardoyo et al., 2012). Temu hitam adalah terna yang tingginya dapat mencapai 2 m. Batangnya semu, dan tersusun atas kumpulan pelepah daun yang basah dan berwarna hijau. Daunnya berwarna merah lembayung kecoklatan yang berwarna lebih gelap pada sepanjang tulang daunnya. Daunnya tunggal, panjang, dan terdiri atas 2-9 helai. Helaiannya berbentuk bundar memanjang sampai lanset, ujung dan pangkalnya runcing, berwarna hijau tua pada kiri-kanan tulang daun. Panjang daun 31–84 cm, dengan lebar 10–18 cm. Kandungan  Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) termasuk ke dalam famili Zingiberaceae yang mengandung beberapa senyawa, seperti minyak atsiri, tanin, curikumol, kurkumenol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumolactone, germakron, dan curcumin. a, ß, g-elemene, linderazulene, demethyoxy kurkumin, bisdemethoxy kurkumin dan zat pembawa rasa pahit. Kurkumin merupakan senyawa yang peka terhadap lingkungan terutama karena pengaruh ph dan suhu, cahaya serta radikal-radikal. Senyawa turunan kurkumin disebut kurkuminoid, yang hanya terdapat dua macam, yaitu desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin. Sebagai penambah nafsu makan, kurkumin memperbaiki kelainan pada kantong empedu dengan memperlancar pengeluaran cairan empedu dan pankreas dan sebagai hepatotoksik, sehingga terjadi peningkatan aktifitas pencernaan, serta berkemampuan merangsang perjalanan sistem hormone metabolisme dan fisiologi tubuh, Sebagai skrining awal untuk mendeteksi kemampuan ekstrak rimpang temu hitam sebagai antikanker maka dilakukan uji toksisitas. Toksisitas diartikan sebagai potensi dari suatu senyawa kimia untuk dapat menyebabkan kerusakan ketika senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh manusia (Zulfiah et al., 2020).  Khasiat   Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) memiliki rasa pahit. Tumbuhan ini memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, dikarenakan dalam temu hitam mengandung minyak atsiri yang berpotensi menurunkan lemak, sehingga dapat menambah nafsu makan (Adiant dkk, 2020). Selain itu, kandungan kurkumin yang terdapat di temu hitam dapat menyebabkan relaksasi usus di saluran cerna, sehingga membantu mencerna makanan dan menyerap bahan makanan dengan cara meningkatkan kinerja lambung yang menyebabkan lambung terasa kosong, kemudian akan mengirimkan sinyal ke otak yang berdampak terhadap peningkatan atau menimbulkan rasa lapar, serta Herbal Rimpang  temu  ireng  (Curcuma  aeruginosa)  memiliki  kandungan antioksidan yang tinggi, membantu menurunkan tekanan darah dengan mencegah penumpukan Reactive  Oxygen  Species(ROS),  yang  merupakan  faktor  penyebab  hipertensi (Sari  & Supratman, 2022).  Cara Pengolahan   Olahan temu hitam meliputi jamu herbal yang diminum langsung, teh bubuk temu hitam yang diseduh dengan air hangat, serta racikan obat oles untuk penyakit kulit seperti ruam dan kudis dengan tambahan minyak kelapa. temu hitam juga dapat digunakan sebagai bumbu alami dalam masakan. Kunyit hitam sebanyak 9 gram dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal pada tanaman yang kemudian dilakukan pengovenan pada suhu 50°C selama 24 jam yang bertujuan untuk mengurangi kadar air tanaman hingga kurang dari 10% untuk terhindar dari pertumbuhan jamur. temu hitam yang telah dikeringkan, digiling dan diayak. Sehingga dapat digunakan sebagai bahan masakan dan jamu temu hitam. DAFTAR PUSTAKA  Adiant, M., Pramesti Ella, R. dan Puruhito Frederik, E. (2020). Combination therapy of massage and temu ireng. Journal of Vocational Health Studies, 4(1):1–4. https://e-journal.unair.ac.id/JVHS/article/view/21086.  Kementrian Kesehatan RI. (2011).100 Top Tanaman Obat Indonesia. Balai Besar Litbang: Kementrian Kesehatan RI Moektiwardoyo, M., Tjitraresmi, A., Susilawati, Y., Iskandar, Y., Halimah, E. & Zahrianti,D. (2012).The Potential of Dewa Leaves (Gymura pseudochina (L) D.C) and Temu Ireng Rhizomes (Curcuma aeruginosa Roxb.) as Medicinal Herbs for Dengue Fever Treatment, Procedia Chemistry.3 (2): 134- 141. https://doi.org/10.1016/j.proche.2014.12.017 Sari,  A.  P.,  &  Supratman,  U.  (2022).  Phytochemistry  and  Biological  Activities  of  Curcuma aeruginosa (Roxb.). Indonesian Journal of Chemistry, 22(2), 576–598. https://doi.org/10.22146/ijc.70101 Setiadi, A., Khumaida, N., Ardie, W., & Sintho, D. 2017. Keragaman Beberapa Aksesi Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) Berdasarkan Karakter Morfologi. Indonesian Journal of Agronomy, 45 (1): 71–78. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalagronomi/article/view/13773.  Juhadi & Fathoni. (2024). Pengaruh Pemberian Rimpang Temu Ireng (Curcuma Aeruginosa) Terhadap Tekanan Darah Hipertensi, Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia. vol. 2 (1). https://journal.larpainstitute.com/index.php/jkti/article/view/86/56.  Zulfiah, Megawati, Herman, Lau, S. H. A, Hasyim, M. F, Murniati, Roosevelt, A, Kadang, Y, Izza, N, Patandung, G. (2020). uji Toksisitas Ekstrak Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) Terhadap Larva Udang (Artemia salina Leach) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Jurnal Farmasi Sandi Karsa, 6(1), 44–49. DOI: 10.36060/jfs.v6i1.67.  Black Curcuma (Curcuma Aeruginosa) Latin Name Curcume aeruginosa Roxb Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Liliopsida Order: Zingiberales Family: Zingiberaceae Genus: Curcuma Species: Curcume aeruginosa Roxb (Dina, 2016) General Definition Black turmeric is locally known as temu erang (Sumatra), koneng hideung (West Java), temu ireng (Central and East Java), temu ireng (Madura), and temu lotong (Sulawesi and Nusa Tenggara). This plant is well-known and widely cultivated in other Asian countries such as Malaysia, Cambodia, and Myanmar. In Indonesia, the rhizome of black turmeric is used as a raw ingredient in a herbal drink called “cabe puyang” (chilli puyang). Black turmeric, or Curcuma aeruginosa Roxb. in Latin, is a native Indonesian spice commonly used as an ingredient in herbal medicines. The rhizome of black turmeric belongs to the Zingiberaceae family. This plant empirically grows at an altitude of 1,150 m above sea level, growing well in fertile, well-watered soil (Ministry of

TEMU HITAM ( Curcuma Aeruginosa ) Read More »

Alpukat (Persea americana Mill.)

Nama latin Persea americana Mill. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus    : Persea Spesies   : Persea americana Mill. (ITIS, n.d.) Definisi Umum  Alpukat (Persea Gratissima) tumbuh subur di daerah sub tropis maupun tropis seperti Indonesia. Tanaman alpukat seringt dikonsumsi dalam bentuk buah, bagian daun dan biji alpukat juga memiliki khasiat yang baik untuk kesehatan. Tanaman alpukat tumbuh tegak dengan tinggi 9–18 m dengan diameter batang berkisar antara 30 hingga 60 cm. Bentuk daunnya bisa bermacam-macam, antara lain lanset, elips, lonjong, bulat telur, atau lonjong dan bisa berselang-seling. Warna daun hijau tua, mengkilap di permukaan atas, dan keputihan di bagian bawah. Panjang daun berkisar antara 7,5–40 cm dan bentuk buah seperti buah pir, sering berleher, lonjong atau hampir bulat dengan panjang 7,5–33 cm dan lebarnya bisa mencapai 15 cm. Kulit buahnya berwarna kuning kehijauan, hijau tua, ungu kemerahan atau ungu sangat tua hingga hampir hitam. Ketebalan kulit mencapai 6 mm, lentur atau berbutir dan rapuh. Secara umum, daging buah alpukat seluruhnya berwarna pucat hingga kuning pekat. Buah alpukat berbiji tunggal, berbentuk pipih, bulat, kerucut atau bulat telur, keras, berwarna gading, dengan panjang 5–6,4 cm, dilapisi oleh kulit berwarna coklat, tipis, sering menempel pada rongga daging (Sebayang et al., 2024). Kandungan Alpukat diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, dan sterol yang berfungsi sebagai antioksian. juga memiliki kandungan nutrisi, antara lain yaitu lemak, mineral (kalsium, magnesium, potassium, fosfor), vitamin C, E, K, dan B kompleks seperti piridoksin, riboflavin, niasin, biotin, dan tiamin. Senyawa bioaktif utama yang terkandung dalam daging buah alpukat dan limbahnya (kulit, biji, dan daun) adalah polifenol diikuti oleh karotenoid, tokoferol, dan sterol. Pada daging buah, kulit, biji, dan daun banyak mengandung polifenol, sedangkan karotenoid dan tokoferol terutama terdapat pada daging buah alpukat. Senyawa bioaktif tersebut mendapatkan perhatian besar karena potensinya untuk mencegah dan mengendalikan berbagai penyakit. Dari penelitian-penelitian terdahulu telah banyak diuji manfaat ekstrak daging buah, biji, daun dan kulit dalam bidang kesehatan, diantaranya yaitu memiliki aktivitas sebagai antikanker, antihiperglikemik, antibakteri, antihipertensi, anti kejang, antiinflamasi, analgesik, dan batu ginjal. Oleh karena itu, ampas dan limbah alpukat merupakan sumber senyawa bioaktif potensial yang cocok untuk aplikasi makanan atau nutraceutical (Sebayang et al., 2024). Khasiat Secara garis besar alpukat memiliki beberapa manfaat yaitu menjaga berat badan, memelihara kesehatan jantung, menjaga kesehatan mata, mencegah dan mengatasi sembelit, mengontrol tekanan darah, mengurangi risiko terjadinya kanker, mencegah radang sendi, menurunkan risiko gangguan metabolik, dan mencegah cacat lahir pada janin. Buah dan daun alpukat memiliki khasiat untuk menurunkan kadar kolesterol total serta memiliki efek dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan biji alpukat digunakan sebagai obat di Nigeria dalam mengobati orang yang bertekanan darah tinggi. Alpukat banyak digemari selain dagingnya yang enak, alpukat juga bermanfaat pada dunia pengobatan. Buah alpukat kaya akan nutrisi dan juga zat antioksidan. Buah alpukat juga menjadi satu-satunya buah yang mengandung lemak mono-unsaturated. Biji buah alpukat mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid, triterpenoid, tanin, flavonoid, dan saponin. Pada bidang industri biji buah alpukat digunakan dalam industri pakaian sedangkan untuk pengobatan biji alpukat dapat mengobati sakit gigi, hipertensi, dan diabetes mellitus. Buah alpukat segar mempunyai nilai gizi yang tinggi. Jumlah vitamin A tergantung pada warna buahnya. Daging buah dengan warna kuning lebih banyak vitamin A-nya daripada daging buah yang berwarna pucat (Hartati et al., 2022). Cara Pengolahan Alpukat dapat diolah menjadi beberapa bentuk: Untuk membuat minuman dari biji alpukat, pilihlah biji alpukat yang masih bagus dan dapat digunakan, lalu siapkan jahe dengan perbandingan 2:1. Kupas kulit biji alpukat dan jahe, kemudian cuci hingga bersih, lalu iris tipis keduanya. Setelah itu, siapkan wajan dan peralatan untuk menyangrai, kemudian sangrai biji alpukat dan jahe yang sudah diiris secara merata hingga berwarna hitam dan mengeluarkan aroma kopi. Setelah selesai, diamkan sejenak lalu giling perlahan hingga halus, kemudian saring hasil gilingan sampai diperoleh bubuk halus. Untuk penyajian, masukkan dua sendok makan bubuk olahan biji alpukat ke dalam gelas, tambahkan gula sesuai selera, lalu seduh dengan air mendidih sambil diaduk hingga merata, dan minuman pun siap disajikan serta dinikmati (Pangestu et al., 2022). Daftar Pustaka: Hartati, S., Yunus, A., Nandariyah, E. Y., Pujiasmanto, B., Purwanto, E., Samanhudi, S., … Dirgahayu, P. (2022). Diversifikasi Tanaman Pekarangan Dengan Tanaman Alpukat untuk Meningkatkan Gizi Keluarga. Jurnal SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat), 11(2), 161–166. https://doi.org/10.20961/semar.v11i2.61199.  Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Persea americana Mill. (TSN 18154). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=18154 Pangestu, M. B. A., Rizkyah, S. A., Fidhayanti, A. R., Isnaini, S. A., Roidah, I. S., & Diana, L. (2022). Pengembangan limbah biji alpukat sebagai inovasi produk minuman kesehatan (Studi kasus KWT Mekar Sentosa). KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(3), 87–90. e-ISSN 2798-1827. Diakses dari https://jurnalfkip.samawa-university.ac.id/KARYA_JPM/article/download/167/147 Rustanti, E., Puspita, E., Puspita, S., & Rohmani, S. (2021). Pemanfaatan tanaman herbal daun alpukat dan pemeriksaan kolesterol darah pada lansia. Jurnal Bhakti Civitas Akademika, IV(1). Retrieved from https://e-journal.lppmdianhusada.ac.id/index.php/jbca/article/view/132/125 Sebayang, S., Rayendra, R., Wientarsih, I., & Priosoeryanto, B. P. (2024). Potensi Tanaman Alpukat (Persea americana Mill) dalam Bidang Dermatologi. Jurnal Veteriner dan Biomedis, 2(2), 79–85. https://doi.org/10.29244/Jvetbiomed.2.2.79-85.  Alpukat (Persea americana Mill.) Latin name Persea americana Mill. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Laurales Family: Lauraceae Genus: Persea Species: Persea americana Mill. (ITIS, n.d.) General Definition Avocados (Persea Gratissima) thrive in subtropical and tropical regions such as Indonesia. Avocado plants are often consumed as fruit, and the leaves and seeds also possess beneficial health properties. The avocado tree grows upright, reaching a height of 9–18 m with a trunk diameter ranging from 30 to 60 cm. The leaves come in various shapes, including lanceolate, elliptical, oblong, ovate, or elongated, and may be arranged alternately. The leaves are dark green, glossy on the upper surface, and whitish on the underside. Leaf length ranges from 7.5–40 cm, and the fruit is pear-shaped, often with a neck, oblong, or nearly round, measuring 7.5–33 cm in length and up to 15 cm in width. The fruit skin is yellowish-green, dark green, reddish-purple, or very dark purple to nearly black. The skin is up to 6 mm thick, flexible or grainy,

Alpukat (Persea americana Mill.) Read More »

Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.)

Nama latin Capsicum frutescens L. Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Magnoliophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo     : Solanales Famili   : Solanaceace Genus    : Capsicum L. Spesies   : Capsicum frutencens L. (Wisnujati dan Siswati, 2021) Definisi Umum  Cabai rawit (Capsicum frutescens L) merupakan tanaman dari benua Amerika. Tanaman ini sangat cocok ditanam di daerah tropis terutama sekitar garis khatulistiwa. Cabai rawit dapat ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0 – 500 mdpl untuk ketinggian hingga 1000 mdpl masih bisa tumbuh baik untuk lebih dari itu maka produktivitas tanamannya berkurang. Berikut ciri-ciri yang dimiliki buah cabai rawit yang masih muda yaitu memiliki warna putih, kuning, atau hijau muda dan bunganya memiliki warna putih kehijauan. Secara umum, dalam satu ruas ada kuntum bunga, akan tetapi terkadang mempunyai kuntum bunga lebih dari satu pada satu ruas. Pada tangkainya terdapat bunga tegak saat anthesis tetapi bunganya mengarah ke bawah, sedangkan tangkai daunnya pendek. Pada daging buah secara umum bertekstur lunak, dengan terdapat kapsaisin yaitu tingkat kepedasannya atau kadar pedasnya tinggi, sehingga rasa buah cabai rawit terasa pedas (Wisnujati dan Siswati, 2021). Kandungan Cabai rawit atau Capsicum frutescens L. adalah salah satu komoditas sayuran penting yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Cabai rawit mengandung senyawa kapsaisin, karotenoid, asam askorbat, minyak atsiri, resin dan flavonoid (Sofiarani dan Ambarwati, 2020). Khasiat Cabai rawit merupakan tanaman hortikultura dari famili nightshade yang bernilai ekonomis tinggi. Selain itu, cabai rawit merupakan sayuran dan buah yang memiliki banyak manfaat (Febriansyah, dkk., 2024). Tanaman ini mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya yaitu sebagai bumbu masak, bahan campuran industri makanan, dan sebagai bahan kosmetik. Buah, bagian batang, daun dan akar cabai dapat digunakan sebagai obat-obatan (Elfi, dkk., 2022). Beberapa penelitian menunjukan bahwa daun cabai rawit (Capsicum frutescens L.) mengandung senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi dan antioksidan. Senyawa tersebut diantaranya flavonoid, dan tanin. Daun cabai rawit digunakan secara tradisional untuk pengobatan infeksi pada kulit, disentri dan diare. Khasiat lainnya adalah sebagai antibakteri antiinflamasi, antihistamine dan bahan anti-HIV (Azmi, dkk., 2023). Penelitian tentang efektivitas ekstrak daun cabai rawit sebagai antifungi, bahwa daun cabai rawit mengandung saponin, alkaloid, terpenoid, kuinon dan flavonoid. Senyawa saponin dan flavonoid pada daun cabai rawit memiliki peranan untuk memacu pertumbuhan rambut, (Musdalipah dan Karmilah, 2018). Masyarakat Kabupaten Sikka menggunakan cabai sebagai bumbu dapur, akan tetapi sebagian kecil dari masyarakat di kabupaten Sikka menggunakan tanaman cabai sebagai obat tradisional yang dipercaya mampu menyembuhkan bisul (Elfi, dkk., 2022). Cara Pengolahan Daun Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dapat diolah secara tradisional sebagai obat-obatan alami diantaranya: Daftar Pustaka: Azmi, C., Manik, F., Rahayu, A., Saadah, I. R., Hutabarat, R. B., Barus, S., … & Gaswanto, R. (2023). The potential and the quality of several open pollinated chili varieties seed production. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1230, No. 1, p. 012186). IOP Publishing. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1230/1/012186/meta Elfi, T. N., Bare, Y., & Bunga, Y. N. (2022). Etnobotani Tanaman Capsicum annum L. Di Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka. Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 3(2), 28-35. https://doi.org/10.55241/spibio.v3i2.62 Febriansyah, F., Haris, A., & Gani, M. S. (2024). Pola tanam tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dengan kacang panjang (Vigna sinensis L.) terhadap populasi dan intensitas serangan hama. AGrotek MAS Jurnal Indonesia: Jurnal Ilmu Pertanian, 5(1), 91-99.  https://doi.org/10.33096/agrotekmas.v5i1.501 Sofiarani, F. N., dan Ambarwati, E. (2020). Pertumbuhan dan hasil cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada berbagai komposisi media tanam dalam skala pot. Vegetalika, 9(1), 292-304.  https://doi.org/10.22146/veg.44996 Musdalipah, M., & Karmilah, K. (2018). Efektivitas ekstrak daun cabai rawit (Capsicum frutescens L.) sebagai penumbuh rambut terhadap hewan uji kelinci (Oryctolagus cuniculus). Riset Informasi Kesehatan, 7(1), 83-88. https://doi.org/10.30644/rik.v7i1.137 Wisnujati, N. S., dan Siswati, E. (2021). Analisis produksi dan produktivitas cabai rawit (Capsicum frutescens L) di Indonesia. Jurnal Ilmiah Sosio Agribis, 21(1).  http://dx.doi.org/10.30742/jisa21120211345  Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Scientific name Capsicum frutescens L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Solanales Family: Solanaceae Genus: Capsicum L. Species: Capsicum frutescens L. (Wisnujati and Siswati, 2021) General Definition Bird’s eye chili (Capsicum frutescens L) is a plant native to the Americas. This plant is well-suited for cultivation in tropical regions, particularly near the equator. Bird’s eye chili can be grown in lowland areas at elevations of 0–500 meters above sea level; it can still thrive at elevations up to 1,000 meters, but productivity decreases at higher altitudes. The following are the characteristics of young bird’s eye chili fruits: they are white, yellow, or light green in color, and their flowers are greenish-white. Generally, there is one flower per node, though occasionally more than one flower may be present on a single node. The flowers stand upright on the stem during anthesis but droop downward, while the leaf stalks are short. The fruit flesh generally has a soft texture and contains capsaicin, which indicates a high level of heat or spiciness, so the bird’s eye chili has a spicy taste (Wisnujati and Siswati, 2021). Contents Bird’s eye chili, or Capsicum frutescens L., is one of the major vegetable crops widely cultivated in Indonesia. Bird’s eye chili contains capsaicin, carotenoids, ascorbic acid, essential oils, resins, and flavonoids (Sofiarani and Ambarwati, 2020). Benefits Bird’s eye chili is a horticultural plant from the nightshade family with high economic value. Additionally, bird’s eye chili is a vegetable and fruit with numerous benefits (Febriansyah et al., 2024). This plant offers many benefits, particularly from its fruit, which is used as a cooking spice, an ingredient in the food industry, and a component in cosmetics. The fruit, stem, leaves, and roots of chili peppers can be used as medicinal ingredients (Elfi et al., 2022). Several studies have shown that the leaves of bird’s eye chili (Capsicum frutescens L.) contain compounds with pharmacological and antioxidant activities. These compounds include flavonoids and tannins. Bird’s eye chili leaves are traditionally used to treat skin infections, dysentery, and diarrhea. Other benefits include antibacterial, anti-inflammatory, antihistamine, and anti-HIV properties (Azmi et al., 2023). Research on the antifungal efficacy of bird’s eye chili leaf extract indicates that bird’s eye chili leaves contain saponins, alkaloids, terpenoids, quinones, and flavonoids. The

Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.) Read More »

Mawar (Rosa Damascena)

Nama Latin Rosa domascena Mill., Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi          : Magnoliophyta Kelas            : Magnoliopsida Ordo             : Rosales  Famili           : Rosaceae Genus           : Rosa  Spesies        : Rosa domascena  (Vania Ulfa et al , 2023) Definisi Umum Tanaman bunga mawar merah (Rosa damascena) memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap berbagai jenis iklim, sehingga dapat tumbuh di wilayah subtropis atau dingin maupun wilayah beriklim tropis atau panas seperti di Indonesia. Idealnya tanaman ini dibudidaya di daerah Indonesia yang ada di ketinggian 560-1400 mdpl. Menurut data Badan Pusat Statistik (2017), hasil produksi bunga mawar terbanyak ke-2 di Indonesia untuk kategori bunga hias yaitu 184.455.598 tangkaipada tahun 2017, lokasi pesebaran mawar antara lain: Kota Batu Malang, Bogor, Cianjur, Semarang, Pasuruan,dan Mojokerto. Tanaman bunga mawar termasuk jenis koloni belukar dengan tinggi 1-2 meter, batang berkayu dan berduri, daun tanaman ini termasuk jenis daun majemuk yang terdiri dari 5-7 lembar, berbentuk bulat telur dengan bagian tepi bergerigi rapat berukuran 5-7 cm, permukaan daun ditutupi rambut halus. Tanaman ini berbunga cukup banyak dalam 1 periode pertumbuhan dan bersifat soliter, bunga mawar spesies ini umumnya berwarna merah, pink keunguan dengan diameter rata-rata 7 cm dan terdiri dari 22-35 kelopak dalam satu mahkota. Kelopak bunga berukuran 2-3 cm berbentuk bulat lonjong seperti buah pir yang biasanya dilapisi oleh kelenjar tangkai dan rambut halus. Kandungan Ekstrak bunga mawar merah (Rosa damascena) mengandung tannin, geraniol, nerol, citronellol, dan flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Flavonoid merupakan agen antibakteri yang melawan berbagai mikroorganisme patogen. Kelopak mawar merah (Rosa damascena) mengandung zat aktif yang terkandung dalam ekstrak mawar merah yang berfungsi sebagai antiseptik dan antifungi diantaranya zat tanin dan sitronellol. Zat tanin merupakan senyawa kompleks yang memiliki bentuk campuran polifenol. Senyawa fenol yang ada pada tanin mempunyai khasiat adstrigensia, antiseptik, antifungi, dan pemberi warna. Mawar merah (Rosa damascena) mengandung muurolene, isomenthone, α- himachalene, linalool, α-pinene, phenethyl alcohol, citronellyl formate, β- citronellol, citronellol asetat, geraniol, geranyl asetat, nerol, n-hexyl asetat, α- myrcene, eugenol, dan neroli alkohol yang dapat berkhasiat sebagai aromaterapi. Khasiat Sebagai antiseptik (limonene membantu penyembuhan luka dan luka bakar pada permukaan kulit), memiliki efek vasokonstriksi pada kapiler, sehingga berguna dalam mengurangi kemerahan yang disebabkan oleh pembesaran pembuluh dan kapiler, dapat menyejukkan kulit yang terluka, membantu membersihkan dan mensterilkan luka ringan dan kulit yang lecet, serta mengurangi edema dan rasa sakit (efek analgesik). Ekstrak kelopak mawar merah mempunyai daya 8 hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak kelopak mawar merah terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans adalah pada konsentrasi 100% dengan luas hambat sebesar 1,65. Cara Pengolahan Tanaman mawar dapat diolah menjadi beberapa sediaan seperti pembuatan sabun padat bunga mawar, pembuatan lilin aromatherapy, pembuatan garam mandi bunga mawar, pembuatan air mawar sebagai toner cleanser, pembuatan hand senitizer bunga mawar.  DAFTAR PUSTAKA Anjarsari, I. R. D., Murgayanti., & Suminar, E. (2022). Pemanfaatan Bunga Mawar untuk Konsumsi di Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, 11(2), 172-175. https://doi.org/10.24198/dharmakarya.v11i2.33491 Komala, O., Utami, N. F., & Rosdiana, S. M. (2020). Efek Aromaterapi Minyak Atsiri Mawar (Rosa damascena MILL.) dan Kulit Jeruk Limau (Citrus amblycarpa) terhadap Jumlah Mikroba Udara Ruangan Berpendingin. Berita Biologi: Jurnal Ilmu-ilmu Hayati, 19(2), 215-222. https://doi.org/10.14203/beritabiologi.v19i2.3697 Stefani, S. W., Mursyanti, E., Pelatihan Pengolahan Produk dari Bunga  Mawar pada Masyarakat di Kawasan Sapuangin, Merapi, Klaten https://doi.org/10.24002/jai.v3i6.8082

Mawar (Rosa Damascena) Read More »

Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose)

Nama latin Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose Taksonomi Kingdom : Plantae Divisi    : Tracheophyta Kelas     : Magnoliopsida Ordo     : Caryophyllales Famili   : Cactaceae Genus    : Hylocereus monocanthus Spesies   : Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose (ITIS, n.d.) Definisi Umum Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) merupakan buah pitaya berbentuk bulat lonjong seperti nanas yang memiliki sirip warnah kulitnya merah dihiasi sulur atau sisik seperti naga. Buah ini termasuk dalam keluarga kaktus, yang batangnya berbentuk segitiga dan tumbuh memanjat. Batang tanaman ini mempunyai duri pendek dan tidak tajam. Bunganya seperti terompet putih bersih, terdiri atas sejumlah benang sari berwarna kuning. Buah naga ada empat jenis yaitu buah naga daging merah, buah naga daging putih, buah naga super merah dan buah naga daging kuning. Keempat jenis buah naga tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dan mempunyai ciri yang berbeda. Daging buah naga merah memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibanding jenis buah baga putih. Aktifitas antioksidan pada ekstrak daging buah naga merah (Hylocereus monacanthus) menghasilkan konsentrasi yang cukup tinggi sekitar 75,4%. Daging buah naga merah memiliki banyak kandungan antioksidan salah satunya fenol dan asam askorbat yang memiliki kekuatan untuk menangkap logam sehingga dapat menangkap ion besi penyebab timbulnya penyakit degeneratif (Panjuantiningrum, 2009). Khasiat Buah Naga (Hylocereus monacanthus) mengandung vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3 dan vitamin C, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, tiamin, niasin, pyridoxine, kobalamin, glukosa, fenol, betasianin, polifenol, karoten, fosfor, besi dan flavonoid yang beberapa diantaranya merupakan senyawa antioksidan. Kandungan buah flavonoid dalam buah naga merah dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Selain itu, kandungan isoflavon pada senyawa flavonoid dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung, diabetes ginjal dan osteoporosis (Nuari et al, 2017).  Cara Pengolahan Buah Naga (Hylocereus monacanthus) dapat dibuat dalam bentuk sediaan lotion. Tahap pertama timbang semua bahan dalam pembuatan lotio, yaitu ekstrak kulit buah naga (3%), asam stearat (2,5%), Na CMC (1%), paraffin cair (7%), gliserin (5%), trietanolamin (2%), asam benzoat (0,2%), alkohol (5%), parfum (q.s) dan aquades (ad 100). Lalu panaskan lumpang di atas water bath atau penangas air. tahap kedua masukan fase minyak terlebih dahulu dalam lumpang gerus sampai homogen, lalu tambahkan fase air sedikit demi sedikit gerus cepat ad homogen kemudian setelah itu masukan alkohol sedikit-demi sedikit lalu tambahkan ekstrak kulit buah naga (Hylocereus monacanthus) lalu gerus ad homogen. Tahap ketiga tambahkan parfum gerus ad homogen. Keluarkan dari lumpang masukan ke dalam wadah yang telah disediakan (Yanty dan Siska, 2017). Daftar Pustaka: Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). TSN 907283. ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=907283 Nuari, S., Anam, S., & Khumaidi, A. (2017). Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Etanol Buah Naga. Galenika Journal of Pharmacy, 2(2), 118–125.  Panjuantiningrum, F. (2009). Pengaruh Pemberian Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih yang Diinduksi Aloksan. Yanty, N. Y., dan Siska, A. V. (2017). Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Sebagai Antioksidan dalam Formulasi Sediaan Lotio. Jurnal Ilmiah Manuntung, 3(2), 166-172. Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) Scientific name Hylocereus monocanthus (Lem.) Britton & Rose Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Caryophyllales Family : Cactaceae Genus : Hylocereus monocanthus Species : Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose (ITIS, n.d.) General Definition Dragon Fruit (Hylocereus monocanthus (Lem.) Britton & Rose) is a pitaya fruit shaped like an elongated sphere, similar to a pineapple, with red-colored skin adorned with tendrils or scales resembling a dragon. This fruit belongs to the cactus family, characterized by triangular stems that grow as vines. The plant’s stems have short, blunt spines. Its flowers resemble pure white trumpets, consisting of several yellow stamens. There are four types of dragon fruit: red-fleshed dragon fruit, white-fleshed dragon fruit, super red dragon fruit, and yellow-fleshed dragon fruit. Each of these four types has its own advantages and distinct characteristics. Red dragon fruit flesh contains higher levels of antioxidants compared to white dragon fruit. The antioxidant activity in red dragon fruit pulp extract (Hylocereus monacanthus) yields a relatively high concentration of approximately 75.4%. Red dragon fruit pulp contains numerous antioxidants, including phenols and ascorbic acid, which possess the ability to bind to metals and thus capture iron ions—a cause of degenerative diseases (Panjuantiningrum, 2009). Health Benefits Dragon fruit (Hylocereus monacanthus) contains vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, and vitamin C, as well as protein, fat, carbohydrates, dietary fiber, thiamine, niacin, pyridoxine, cobalamin, glucose, phenols, betacyanin, polyphenols, carotenoids, phosphorus, iron, and flavonoids—some of which are antioxidant compounds. The flavonoid content in red dragon fruit can lower blood glucose levels. Additionally, the isoflavone content within the flavonoid compounds can reduce the risk of heart disease, kidney diabetes, and osteoporosis (Nuari et al., 2017). Processing Method Dragon fruit (Hylocereus monacanthus) can be formulated into a lotion. The first step is to weigh all ingredients for the lotion: dragon fruit peel extract (3%), stearic acid (2.5%), sodium carboxymethylcellulose (1%), liquid paraffin (7%), glycerin (5%), triethanolamine (2%), benzoic acid (0.2%), alcohol (5%), fragrance (q.s.), and distilled water (to 100). Then heat the mortar over a water bath. In the second step, add the oil phase first to the mortar and grind until homogeneous; then add the aqueous phase little by little, grinding quickly until homogeneous. After that, add the alcohol little by little, followed by the dragon fruit peel extract (Hylocereus monacanthus), and grind until homogeneous. In the third step, add the fragrance and blend until homogeneous. Remove from the blender and transfer to the prepared container (Yanty and Siska, 2017). References: Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). TSN 907283. ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=907283 Nuari, S., Anam, S., & Khumaidi, A. (2017). Isolation and Identification of Flavonoid Compounds from Dragon Fruit Ethanol Extract. Galenika Journal of Pharmacy, 2(2), 118–125. Panjuantiningrum, F. (2009). The Effect of Red Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) Administration on Blood Glucose Levels in Alloxan-Induced White Mice. Yanty, N. Y., and Siska, A. V. (2017). Red Dragon Fruit (Hylocereus Polyrhizus) Peel Extract as an Antioxidant in Lotion Formulations. Manuntung Scientific Journal, 3(2), 166–172.

Buah Naga (Hylocereus monacanthus (Lem.) Britton & Rose) Read More »

Scroll to Top