Nama Latin
Artocarpus altilis
Taksonomi
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Rosales
Famili: Moraceae
Genus: Artocarpus
Spesies: A. Altilis
(Bantari,2008)
Definsi Umum
Sukun(Artocarpus altilis) adalah nama sejenis pohon yang berbuah. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Karena itu, orang-orang Eropa mengenalnya sebagai “buah roti”.
Sukun sesungguhnya adalah kultivar yang terseleksi sehingga tak berbiji. Kata “sukun” dalam bahasa Jawa berarti “tanpa biji” dan dipakai untuk kultivar tanpa biji pada jenis buah lainnya, seperti jambu klutuk dan durian. “Moyangnya” yang berbiji (dan karenanya dianggap setengah liar) dikenal sebagai gomasi (Makassar), amakir, umare (Ambon), sukunutan (Banda),[6] πππΉπΌπΏπΌ (bahasa Selayar), timbul, kulur (bahasa Sunda), atau kluwih (bahasa Jawa), kulu (bahasa Aceh), kalawi (bahasa Minang), bakara’ (bahasa Makassar). Di Kepulauan Maluku, sukun disebut sebagai amo (Maluku Utara) dan suune (Maluku).[2] Di daerah Pasifik, kulur dan sukun menjadi sumber karbohidrat penting. Di sana dikenal dengan berbagai nama, seperti kuru, ulu, atau uru. Nama ilmiahnya adalah Artocarpus altilis.
Sekilas, pohon sukun memiliki daun besar dengan bentuk unik, dengan buah yang terlihat seperti buah nangka.[2] Buah sukun acap kali diolah sebagai makanan pokok, seperti sukun goreng atau sukun rebus. Di Kepulauan Maluku, sukun disajikan dengan cocolan sambal sebagai kudapan
Kandungan
Buah sukun mengandung niasin, vitamin C, riboflavin, karbohidrat, kalium, thiamin, natrium, kalsium, dan besi (Mustafa, A.M.,1998). Pada kulit kayunya ditemukan senyawa turunan flavanoid yang terprenilasi, yaitu artonol B dan sikloartobilosanton. Kedua senyawa terebut telah diisolasi dan diuji bioaktivitas antimitotiknya pada cdc2 kinase dan cdc25 kinase (Makmur, L., et al., 1999). Kayu yang dihasilkan dari tanaman sukun bersih dan berwarna kuning, baik untuk digergaji menjadi papan kotak, dapat digunakan sebagai bahan bangunan meskipun tidak begitu baik. Kulit kayunya digunakan sebagai salah satu bagian minuman di Ambon kepada wanita setelah melahirkan (Heyne K, 1987).
Flavanoid adalah senyawa polifenol yang secara umum mempunyai struktur phenylbenzopyrone (C6-C3-C6). Flavanoid dan derivatnya terbukti memiliki aktivitas biologi yang cukup tinggi sebagai cancer prevention. Berbagai data dari studi laboratorium, investigasi epidemiologi, dan uji klinik pada manusia telah menunjukkan bahwa Flavanoid memberikan efek signifikan sebagai cancer chemoprevention dan pada chemotheraphy (Ren, W., et al., 2003)
Khasiat
Tanaman sukun memiliki banyak manfaat yang telah digunakan secara tradisional dan didukung penelitian:
a. Antioksidan
Kandungan flavonoid dan fenolik mampu menangkal radikal bebas dan mencegah kerusakan sel.
b. Menurunkan Tekanan Darah
Air rebusan daun sukun digunakan untuk membantu mengatasi hipertensi.
c. Antidiabetes
Digunakan untuk membantu mengontrol kadar gula darah secara alami.
d. Antiinflamasi
Membantu meredakan peradangan seperti rematik dan nyeri sendi.
e. Menjaga Kesehatan Jantung
Digunakan secara tradisional untuk menurunkan kolesterol dan menjaga fungsi jantung.
f. Menjaga Kesehatan Ginjal
Digunakan dalam pengobatan tradisional untuk gangguan ginjal.
g. Sumber Energi
Buah sukun kaya karbohidrat sehingga baik sebagai sumber energi alternatif pengganti beras.
Cara Pengolahan
Tanaman sukun dapat diolah dengan berbagai cara sesuai kebutuhan:
a. Rebusan Daun
Ambil 3β5 lembar daun sukun
Cuci bersih
Rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas
Saring dan minum
Digunakan untuk hipertensi, diabetes, dan kesehatan ginjal.
b. Olahan Buah
Kupas buah sukun
Potong sesuai kebutuhan
Goreng, kukus, atau rebus
Digunakan sebagai makanan sumber energi seperti keripik atau gorengan.
c. Tepung Sukun
Iris buah sukun
Keringkan
Haluskan menjadi tepung
Digunakan sebagai bahan pangan alternatif dalam industri makanan.
d. Obat Luar
Tumbuk daun sukun segar
Tempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau luka
Digunakan untuk mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan luka.
Daftar Pustaka
Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta
Makmur, L., et al., 1999, Artonol B dan Sikloartobilosanton dari Tumbuhan Artocarpus teysmanii MIQ, Lembaga Penelitian ITB, Bandung
Mustafa, A.M., 1998, Isi Kandungan Artocarpus communis, Food Science, 9:23
Ren, W., et al., 2003.Flavanoids: Promising Anticancer Agents, Medical research Reviews, Vol 23, No 4, Willey Periodical, Inc, 519-534.
Syamsuhidayat, S.S and Hutapea, J.R, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, edisi kedua, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Nisa, S., et al. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Sukun. Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia.
Badriyah, L., & Mutripah, S. (2023). Kandungan Flavonoid Daun Sukun. Jurnal Estu Utomo Health Science.
Raihandhany, R. (2022). Ethnobotanical Aspects of Artocarpus altilis. Genbinesia Journal of Biology.
Kurniawati, I. F., & Sutoyo, S. (2021). Potensi Antioksidan Bunga Sukun. Unesa Journal of Chemistry.
Daenlangi, R., et al. (2016). Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder Sukun. Chemica Journal.
Aliyah, A., & Rahman, L. (2021). Analisis Pati Buah Sukun. Media Pharmaceutica Indonesiana.

