Blog

Kemukus (Piper cubeba)

Nama Latin Piper cubebea Taksonomi Kingdom                : Plantae Divisi                      : Magnoliophyta (Spermatophyta) Kelas                      : Magnoliopsida Ordo                       : Piperales Famili                 : Piperaceae Genus                 : Piper Spesies                    : Piper cubeba Definisi Umum Kemukus (Piper cubeba.) merupakan komoditas perkebunan yang belum banyak dikembangkan dan dikebunkan secara intensif. Secara ekonomi, komoditas kemukus termasuk dalam komoditas rempah yang banyak diserap oleh industry obat ataupun jamu nasional. kemukus merupakan salah satu penyusun jamu yang digunakan untuk mengobati penyakit asma atau masalah gangguan pernafasan, dan ekstrak n-heksana dan alkohol dari buah kemukus mampu mengurangi kontraksi trakea marmot terisolasi yang disebabkan oleh pemberian metakolina (Wahyono, 2005). Tanaman ini banyak terdapat di pulau Jawa, Sumatra dan sebagian Kalimantan selatan yang kemudian menyebar ke Malaysia dan Srilanka (Lim, 2012). Kemukus sudah lama dimanfaatkan untuk pengobatan terutama oleh masyarakat jawa seperti yang tertulis pada naskah pengobatan kuno yaitu buku Serat Primbon Jampi Jawi yang diterbitkan tahun 1928 oleh keraton Surakarta Hadiningrat (Makmun et al., 2014). Kandungan Buah kemukus mengandung berbagai senyawa bioaktif penting yang berkontribusi terhadap aktivitas farmakologisnya. Analisis GC–MS terhadap minyak atsiri buah kemukus menunjukkan bahwa senyawa dominan adalah methyleugenol (41,31%), eugenol (33,95%), serta komponen seskuiterpen seperti (E)-caryophyllene (5,65%), p-cymene-8-ol (3,50%), dan 1,8-cineole (2,94%) (Alminderej et al., 2020). Selain itu, studi lain menemukan lebih dari 91 senyawa volatil dalam ekstrak etanol dan diklorometana buah kemukus, dengan kelompok senyawa utama berupa fenolik (rutin, katekin, asam galat, asam ferulat), flavonoid, lignan (cubebin, hinokinin, yatein, isoyatein), serta asam lemak seperti palmitat dan laurat (Drissi et al., 2022). Kandungan lignan merupakan karakteristik kimia utama dari buah kemukus; senyawa seperti cubebin, hinokinin, dan yatein dilaporkan sebagai konstituen bioaktif utama yang berperan dalam aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan sitotoksik (Dwita et al., 2022). Selain lignan, ekstrak air dan etanol buah kemukus juga mengandung flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid, yang diketahui berperan sebagai antioksidan alami (PNR Journal, 2023). Khasiat Buah kemukus mempunyai khasiat sebagai obat untuk terapi sesak napas, menghilangkan bau mulut, peluruh dahak, peluruh air seni, kencing bernanah, penyakit gula dan penghangat badan (Purwanto, 2022). Buah kemukus (Piper cubeba L.f.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari ekstrak buah kemukus memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC₅₀ sebesar 50,359 µg/mL serta kadar fenolik tinggi (32,57 mg GAE/g), yang menunjukkan kemampuannya menangkal radikal bebas (Anwar K., 2024). Minyak atsirinya juga mengandung methyleugenol (41,31%) dan eugenol (33,95%) yang berperan dalam aktivitas antioksidan dan proteksi sel saraf terhadap stres oksidatif (Farmacia Journal, 2020). Selain itu, ekstrak etanol buah kemukus memperlihatkan aktivitas antibakteri signifikan terhadap Staphylococcus aureus dan S. epidermidis dengan nilai MIC 1,25 mg/mL, mendukung penggunaannya untuk infeksi kulit dan saluran kemih (Putri, 2023). Cara Pengolahan Tahapan pengolahan tanaman kemukus : a.     Sortasi dan Pencucian Proses pengolahan dimulai dengan pemilihan buah kemukus matang yang berwarna cokelat kehitaman dan beraroma khas. Buah kemudian dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan debu dan kotoran (Fitriana & Ramadhan, 2021). b.     Pengeringan Setelah pencucian, buah dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga di bawah 10%. Pengeringan dapat dilakukan dengan oven bersuhu rendah atau sistem pengering surya hibrida. Metode pengeringan oven 45°C selama 10–12 jam memberikan kadar minyak dan aroma tertinggi, sementara pengering surya hibrida meningkatkan efisiensi energi hingga 15% (Hidayat et al., 2023) c.     Perajangan dan Penghalusan Buah kemukus kering dirajang atau dihaluskan untuk memperbesar luas permukaan kontak bahan terhadap pelarut atau uap saat ekstraksi minyak. Perlakuan penghalusan meningkatkan efisiensi ekstraksi karena mempercepat keluarnya minyak atsiri dari jaringan buah (Suhartini et al., 2020) d.     Ekstraksi Minyak Atsiri Proses ekstraksi dilakukan dengan metode distilasi uap-air (steam distillation) atau ekstraksi pelarut. Distilasi uap-air pada suhu 100°C selama 4–5 jam menghasilkan rendemen 2,3–2,8%, sedangkan penggunaan pelarut etanol 96% memberikan rendemen lebih tinggi (3,1%) (Nugraha et al., 2022). e.     Penyaringan dan Penyimpanan Minyak Minyak yang dihasilkan kemudian disaring dan disimpan dalam botol kaca gelap untuk menjaga kestabilan senyawa volatil seperti sabinene dan piperin. Minyak kemukus harus disimpan dalam wadah gelap pada suhu ruang agar tidak mengalami oksidasi dan penurunan kualitas (Suhartini et al., 2020.). Daftar Pustaka Alminderej, F., Bakari, A., & others. (2020). Antioxidant activities of a new chemotype of Piper cubeba L. Plants, 9(11), 1534. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33182768/ Anwar K. Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Etil Asetat Buah Kemukus (Piper cubeba L.) — Jurnal/Prosiding 2024 (laporan nilai IC₅₀, fenolik & flavonoid). Drissi, B. E., et al. (2022). Cubeb (Piper cubeba L.): nutritional value, phytochemical, and dermacosmeceutical potential of water extract and essential oil. Frontiers in Nutrition, 9, 1048520. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnut.2022.1048520/full Dwita, L. P., Iwo, M. I., Mauludin, R., & Elfahmi. (2022). Neuroprotective potential of lignan-rich fraction of Piper cubeba. Borneo Journal of Pharmacy, 6(3), 215–223. Farmacia Journal. (2020). Brain Antioxidant Properties of Piper cubeba L. Extracts and Essential Oil. Farmacia, 68(6), 1158–1164. https://farmaciajournal.com/issue-articles/brain-antioxidant-properties-of-piper-cubeba-l-extracts-and-essential-oil/ Fitriani, L., & Ramadhan, M. (2021). Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kualitas Simplisia Buah Kemukus di Jawa Barat. Jurnal Agroindustri Indonesia, 9(2), 112–120. Hidayat, F., Suryadi, A., & Yuliani, D. (2023). Pengembangan Teknologi Pascapanen Kemukus Menggunakan Pengering Surya Hibrida. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropika dan Biosistem, 11(1), 66–73. Lim, T.K., (2012). Piper cubeba, dalam: Lim, T.K. (Editor), Edible Medicinal And NonMedicinal Plants: Volume 4, Fruits. Springer Netherlands, Dordrecht, hal. 311–321. Makmun, M.T. al, Widodo, S.E., dan Sunarto, (2014). Construing Traditional Javanese Herbal Medicine of Headache: Transliterating, Translating, and Interpreting Serat Primbon Jampi Jawi. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 134: 238–245. Nugraha, A., Prasetyo, R., & Widodo, H. (2022). Optimasi Distilasi Uap-Air untuk Peningkatan Rendemen Minyak Atsiri Kemukus (Piper cubeba L.f.). Jurnal Rekayasa Proses, 18(3), 77–84. PNR Journal. (2023). Qualitative & quantitative estimation of phytochemicals from Piper cubeba. Pharma Nature Reviews Journal, 12(5), 9087. https://www.pnrjournal.com/index.php/home/article/view/9087 Purwanto. Introduksi Teknik Sambung Tanaman Kemukus (Piper Cubeba l.) Dengan Tanaman Malada Untuk Menghasilkan

Kemukus (Piper cubeba) Read More »

Jintan Hitam (Nigella sativa L.)

Nama Latin Nigella sativa L.  Taksonomi Kingdom    : Plantae Division      : Magnoliophyta Class           : Magnoliosida Ordo           : Ranunculales Famili         : Ranunculaceae Genus         : Nigella Spesies        : Nigella sativa L. (ITIS, 2025) Definisi Umum Jintan hitam (Nigella sativa L.) adalah tanaman herbal dari famili Ranunculaceae yang memiliki ciri morfologi khas, yaitu tanaman herba berukuran 20–30 cm dengan batang tegak, bercabang halus, dan berwarna hijau pucat. Daunnya berwarna hijau, berbentuk menyirip dengan helaian yang sangat tipis dan terbelah seperti jarum, sehingga tampak menyerupai rambut halus. Morfologi daunnya berbentuk filiform (seperti benang) dan tersusun berselang-seling di sepanjang batang, memberikan tampilan tanaman yang tampak “ringan” dan berlapis-lapis (Lusti et al., 2024). Bunganya berwarna putih hingga kebiruan, memiliki 5–10 kelopak, dan muncul secara soliter pada ujung batang. Setelah penyerbukan, tanaman membentuk buah kapsul beruang banyak yang di dalamnya berisi biji-biji kecil berwarna hitam pekat, berbentuk segitiga, dan bertekstur keras. Kapsul buah jintan hitam terdiri dari 3–7 ruang (lokulus), masing-masing berisi puluhan biji yang menjadi bagian utama tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional dan farmasi karena kandungan metabolit sekundernya. Secara keseluruhan, kombinasi bentuk daun yang filiform, bunga soliter bercorolla putih kebiruan, dan biji hitam bersegi menjadi ciri utama yang membedakan Nigella sativa dari spesies lain (Imelda et al., 2024).  Kandungan Biji jintan hitam mengandung berbagai metabolit sekunder yang penting, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik (Lusti et al., 2024). Selain itu, minyak esensial dari jintan hitam kaya akan senyawa bioaktif seperti thymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, α-hederin, dan t-anethole, yang memiliki efek antioksidan, antibakteri, antikanker, serta imunomodulator kuat (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Kandungan asam lemak seperti asam linoleat, oleat, dan palmitat juga berperan penting dalam efek antiinflamasi dan antikolesterol. Kombinasi metabolit lipofilik dan hidrofilik ini membuat jintan hitam efektif dalam berbagai aplikasi farmasi maupun kesehatan (Salma et al., 2025). Khasiat Aktivitas Antioksidan Jintan hitam memiliki aktivitas antioksidan kuat karena kandungan thymoquinone, flavonoid, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan ekstrak jintan hitam dari berbagai pelarut memiliki nilai IC₅₀ pada rentang 18,42–40,85 ppm yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat (Lusti et al., 2024). Aktivitas Antibakteri Ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakterinya dipengaruhi oleh senyawa bioaktif thymoquinone, thymohydroquinone, carvacrol, dan timol yang bekerja merusak membran sel bakteri (Salma et al., 2025). Aktivitas Antiinflamasi & Imunomodulator Jintan hitam dapat menurunkan inflamasi dengan menghambat produksi ROS dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan katalase. Selain itu, jintan hitam terbukti meningkatkan respon imun tubuh, termasuk peningkatan fagositosis dan jumlah leukosit, sehingga berperan sebagai imunostimulan alami (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Cara Pengolahan Potensi jintan hitam sebagai agen antibakteri terhadap bakteri patogen, dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Salma et al., 2025): a. Bersihkan biji jintan hitam dari kotoran dan benda asing, kemudian keringkan hingga kadar air rendah untuk mencegah pertumbuhan jamur. b. Haluskan biji menggunakan blender atau grinder hingga menjadi serbuk simplisia agar proses ekstraksi lebih optimal. c. Rendam serbuk dalam etanol 95% (atau etanol polar lainnya sesuai jurnal) dengan perbandingan pelarut yang memadai. d. Lakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi atau perendaman selama beberapa hari sambil sesekali diaduk agar senyawa aktif (thymoquinone, carvacrol, p-cymene) larut sempurna. e. Saring larutan untuk memisahkan filtrat (ekstrak) dari ampas. f.  Kentalkan ekstrak menggunakan evaporator atau penangas air untuk menguapkan sisa pelarut hingga diperoleh ekstrak pekat. g. Simpan ekstrak dalam wadah gelap dan kedap udara untuk menjaga stabilitas senyawa aktif, terutama thymoquinone.  Daftar Pustaka Imelda, D., Maharani, P., & Mardiana, P. (2024). Seminar Nasional TREnD Pemanfaatan Minyak Jintan Hitam ( Nigella Sativa ) Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada Minuman Herbal. Seminar Nasional TREnD, 4, 12–18. Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Single report for TSN 506592. Retrieved November 15, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592 Lusti, N. F., Pratiwi, N., Musaidah, S., Audina, R. I., & Atwiyandani, I. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol , Etil Asetat , dan N-heksana Jintan Hitam ( Nigella sativa ) dengan Variasi Pelarut dan Waktu Maserasi. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 7(16), 703–714. Muahiddah, N., & Diniariwisan, D. (2024). Jurnal Biologi Tropis The Potential of Black Cumin ( Nigella sativa ) as an Immunostimulant in Aquaculture ( Review ). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 301 – 308 DOI: Salma, A., Prajawanti, K. N., Aristia, B. F., & Nisyak, K. (2025). Potensi Jintan Hitam ( Nigella sativa ) sebagai Agen Antibakteri terhadap Bakteri Patogen Klinis. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum Dan Farmasi, 3(3), 146–155.

Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Read More »

Seledri ( Apium graveolens )

Nama latin Apium graveolens TaksonomiKingdom                : Plantae Sub Kingdom        : Tracheobionta Divisi                       : Spermatophyta Subdivisi                : Angiospermae Kelas                       : Dicotyledonae Ordo                       : Apiales Famili                     : Apiaceae Genus                     : Apium L Spesies : Apium graveolens L. Definisi Umum Seledri ( Apium graveolens L. ) adalah jenis sayuran yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk masakan dan juga memiliki sifat pengobatan. Tanaman seledri, yang merupakan tanaman musiman, sangat sensitif terhadap kondisi air yang berlebihan atau kekurangan dapat menganggu pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal Puput (2012); Rizky et al. (2018). Kandungan Seledri (Apium graveolens L) merupakan tumbuhan yang serat dannutrisi bermanfaat bagi Kesehatan, namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, seledri umumnya hanya di gunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan. Padahal, tanpa disadari tanaman ini bisa dimanfaatkan lebih optima, seperti minyak astiri yang terkandung didalamnya (Patricia et al., 2019). Secara keseluruhan, selerdi memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiplatelet, dan antiproliferatif,. Dari segi tradisional, seledri Apium graveolens L berguna untuk mengatasi rematik/asam urat, hipertensi, demam, nyari pinggang, konstipasi, sesak nafas, gangguan mata, stroke/lumpuh, serta diabetes (Handayani & Widowati, 2020).). Khasiat Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin sebanyak 1%, apiin, minyak atsiri sekitar 0,033%, apigenin, kolin, vitamin A, B, C, serta zat pahit asparagin (Clements et al., 2020). Di antara komponen seledri yang bersifat antibakteri adalah flavonoid, saponin, dan tanin (Majidah et al., 2014). Cara pengolahan Pembuatan Jus Seledri Segar (Tujuan : Konsumsi Segar atau Bahan Fungsional) Daftar Pustaka Handayani, L., & Widowati, L. (2020). Analisis Lanjut Pemanfaatan Empiris Ramuan Seledri (Apium graveolens L) oleh Penyehat Tradisional. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 10, 31 41. https://doi.org/DOI :10.22435/jki.v10i1.1718l Majidah, D., Fatmawati, D. W. A., Gunadi, A., Gigi, K., Jember, U., Gigi, F. K., Jember, U., Gigi, F. K., & Jember, U. (2014). Daya Antibakteri Ekstrak Daun Seledri ( Apium graveolens L .) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai Alternatif Obat Kumur. Puput, S. (2012). Pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.) pada beberapa jenis media tanam dan dosis pupuk organik cair. Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas IBA. Patricia, A. D., Jumaeri, & Mahatmanti, F. W. (2019). Uji Daya Antibakteri Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Seledri ( Apium graveolens ). J. Chem. Sci, 8(1), 29–33. Rizky, A., Pratama, Y., Sumiya, W., & Yamika, D. (2018). Pengaruh komposisi media dan jumlah air terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri (Apium graveolens L.). Jurnal Produksi Tanaman, 6(8), 1613–1619. Rudy S. et al., Impact of Drying Process on Grindability and Physicochemical Properties of Celery, Foods (MDPI), 2024

Seledri ( Apium graveolens ) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix Dc. Sinonim : Citrus paeda Miq. Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah. Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)

Nama latin Pandanus amaryllifolius Roxb. Taksonomi Kingdom           : Plantae Divisi                 : Spermatophyta Class                  : Monocotyledoneae Ordo                  : Pandanales Familia              : Pandanaceae Genus                : Pandanus Spesies              : Pandanus amaryllifolius Roxb. (Mursyida et al., 2021). Definisi Umum Pandanus amaryllifolius Roxb yang sering disebut pandan wangi dalam bahasa sehari-hari pertama kali dideskripsikan oleh seorang ahli botani bernama William Roxburgh pada tahun 1832, yang kemudian direvisi oleh Benjamin C. Stone pada tahun 1978. P. amaryllifolius merupakan tumbuhan monokotil dengan akar tunggang dan daun yang memanjang dan tersusun secara roset (Putri dan Purba, 2022). Menurut Silalahi (2019), hingga kini, asal-usul P. amaryllifolius masih diperdebatkan, namun spesies ini diduga berasal dari Kepulauan Maluku, Indonesia, di mana satu-satunya spesimen berbunga diketahui. Selain di Indonesia, jenis pandan ini banyak dijumpai di wilayah Asia yang meliputi Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina dan kemungkinan besar banyak dibawa perantau Asia Tenggara untuk dibudidaya di negara-negara lainnya. Nama marga Pandanus sendiri berasal dari Bahasa Melayu pandan dan digunakanuntuk menamai seluruh anggota suku pandan-pandanan (Pandanaceae), sementara penunjuk spesies amaryllifolius merujuk pada kemiripan daunnya dengan marga tumbuhan Amaryllis. Di kawasan Flora Malesiana dan sekitarnya, P. amaryllifolius hanya ditemukan sebagai tanaman budidaya dan tidak pernah terlihat dalam perbungaan atau perbuahan (Stone, 1978), sehingga perbanyakannya biasa dilakukan dengan cara vegetatif. Menurut Dalimartha (2000), tanaman daun pandan  memiliki daun berwarna hijau, batang bulat tunggal atau bercabang dan tersusun secara spiral. Tanaman ini berakar gantung yang tumbuh menjalar dan dalam waktu singkat dapat dengan lebat merumpun. Mempunyai buah dan bunga, dimana buahnya menggantung, berbentuk seperti bola dengan diameter 4-7,5 cm, pada kulit buah terdapat rambut berwarna jingga. Daun pandan dapat mengeluarkan aroma khas jika diremas atau di iris-iris sehingga tanaman ini sering digunakan untuk bahan penyedap, pewangi dan pewarna pada masakan. Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) atau biasa disebut pandan saja adalah jenis tumbuhan monokotil dari famili Pandanaceae. Di Indonesia, kebanyakan daun pandan digunakan sebagai pewarna makanan, penyegar ruangan, pewangi makanan, obat-obatan dan juga sebagai bahan baku kerajinan tangan (Cheeptham dan Towers, 2002). Kandungan dan Khasiat Daun pandan memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol dan zat warna. Tanin memicu metabolisme gukosa dalam lemak, digunakan mencegah timbunan glukosa dan lemak di darah. Alkaloid meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan glukoneogeneis, mengakibatkan kebutuhan insulin dan kadar glukosa darah turun. Flavonoid akan menghambat GLUT 2 (Glucose Transpoter 2) mukosa usus yang menyebabkan kadar glukosa darah akan turun (Nastiandari, 2016). Menurut Astanti et al. (2022), daun pandan terbukti memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan metabolit sekunder pada daun pandan tersebut dapat digunakan sebagai antioksidan dan antibakteri pada sediaan masker peel off (Setiyanto et al., 2024). Daun pandan menghasilkan aroma yang berasal dari senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY) dan digunakan dalam industri makanan untuk meningkatkan aroma serta menjadikan makanan lebih awet. Selain itu ekstrak daun pandan memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit gangguan saluran pencernaan dan kerusakan makanan seperti Shigella dysentriae Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (Silalahi, 2018). Cara Pengolahan Teh Herbal Daun Pandan Daun pandan dipilih tidak terlalu tua dan tidak pula terlalu muda. Setelah daun pandan di ambil, selanjutnya dilakukan pencucian di air yang mengalir dan ditiriskan selama 10 menit. Selanjutnya daun pandan dilakukan pelayuan selama 18 jam pada suhu ruang ± 27 °C. Daun pandan diletakkan pada wadah dan disebar per lembaran agar tidak menimpa satu sama lainnya. Setelah layu, daun pandan wangi dirajang kecil-kecil kemudian dilakukan pengeringan pada suhu 70°C dengan lama pengeringan 150 menit. Setelah kering daun pandan dihaluskan sehingga menjadi serbuk halus. Untuk penyajian, serbuk daun pandan diseduh dengan air (Jumanio et al., 2023). Rebusan Daun Pandan Rebusan daun pandan kini semakin populer sebagai pilihan alami untuk menjaga kesehatan tubuh. Cara membuat rebusan daun pandan diawali dengan mencuci daun pandan hingga benar-benar bersih sebelum direbus untuk menghindari kotoran atau sisa pestisida. Gunakan 2-3 lembar daun pandan dalam 3 gelas air, kemudian rebus hingga tersisa sekitar 2 gelas. Batasi hingga 1–2 gelas per hari agar tubuh tidak mengalami efek samping seperti mual atau gangguan pencernaan. Jangan menjadikan rebusan pandan sebagai pengganti obat medis, terutama untuk penyakit kronis (Marianti, 2025). Pewarna Makanan Menyiapkan daun pandan yang sudah dibersihkan dipotong-potong dengan ukuran 2 cm. Daun pandan yang sudah dipotong-potong dimasukkan ke dalam blender beserta air secukupnya. Hidupkan blender hingga potongan daun pandan hancur dan menjadi jus daun pandan. Setelah cukup halus, jus pandan disaring hingga air daun pandan dan ampasnya dapat terpisah. Air daun pandan yang sudah terpisah dari ampas daun pandan dapat digunakan sebagai pewarna alami. Pewarna air daun pandan dapat dimasukkan ke dalam botol dan disimpan di lemari pendingin. Air daun pandan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai pewarna di beragam makanan seperti warna hijau pada kue, membuat nasi menjadi berwarna hijau hingga dicampur ke dalam agar-agar (Makarim, 2021). Masker Tradisional Daun Pandan Proses pembutan masker tradisional daun pandan wangi berupa bubuk. Pada proses pembuatan bubuk daun pandan wangi dengan pemilihan daun pandan wangi segar yang berwarna hujau, kemudian dicuci dengan air mengalir dan diiris. Selanjutnya irisan daun pandan diletakkan di atas loyang, lalu dikeringkan dengan pengeringan angin selama 10 hari. Setelah kering kemudian daun pandan dihaluskan dengan blender, disaring untuk memisahkan bagian yang kasar dan yang halus. Dari 1 kg daun pandan segar, setelah melalui proses pembuatan menjadi bubuk daun pandan menghasilkan 100 gram untuk dijadikan masker tradisional (Rahmi dan Minerva, 2021). Daftar Pustaka Astanti, M. D., Lestari, P. E., & Triwahyuni, I. E. 2022. Efektivitas Gel Esktrak Daun Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb.) Terhadap Penyembuhan Ulser Pada Tikus Wistar. Stomatognatic – Jurnal Kedokteran Gigi, 19(1), 7. Cheeptham, N., dan Towers, G. H. N. , 2022. Light-mediated Activities Of Some Thai Medicinal Plant Teas, Fototerapia, Vol. 73, Hlm. 651-662, 2002. Dalimartha, dr. S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. (E. Priyatini, Ed.). Jakarta: Trubus Agriwidya, anggota IKAPI. Jumanio, A.U., Junardi, Darmansyah, H. 2023. Analisis Kadar Air Teh Herbal Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Menggunakan Variasi Suhu. ournal of Food Security and Agroindustry (JFSA), Vol. 1 No. 3, pp 111-117, October 2023. Makarim, F.R. 2021. Cara Mengolah Daun Pandan dan Manfaatnya untuk Kesehatan.  https://www.halodoc.com/artikel/cara-mengolah-daun-pandan-dan-manfaatnya-untuk-kesehatan. Marianti. 2025. 7 Manfaat

Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Read More »

Daun Ungu (Graptophyllum pictum)

Nama Latin Graptophyllum pictum L. Griff Taksonomi Taksonomi Kingdom     : Plantae Divisi           : Magnoliophyta Kelas           : Magnoliopsida Ordo : Scorpulariales Famili          : Acanthaceae Genus : Graptophylum Spesies : Graptophyllum pictum (L.) Griff (Griff et al., 2021) Definisi Umum Graptophyllum pictum yang juga dikenal sebagai ‘Daun Ungu’, ‘handeuleum’, dan ‘tulak’ di Indonesia merupakan tumbuhan asal Papua Nugini yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae (Goswami et al., 2021). Daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 1,5-3 m dan tidak berambut. Terdapat lendir pada kulit dan daunnya. Daunnya tunggal, bertangkai pendek dan terletak berhadapan bersilangan. Panjang daun kira-kira 8-20 cm dengan lebar 3-13 cm, bentuk bulat telur hingga lanset dengan tepi bergelombang dan ujung pangkal runcing. Nama lokal dari Graptophyllum pictum yaitu pudding hitam, daun wungu (Wibowo et al., 2021). Kandungan Daun ungu ini terdapat kandungan fenolik dalam daun ungu seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid (Dewi et al., 2023). Khasiat Tanaman daun ungu memiliki berbagai aktivitas farmakologi diantaranya yaitu antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, analgesik, photoprotective, imunomodulator, nefroprotektif, antihemoroid, dan antibakteri (Griff et al., 2021). Daun ungu dimanfaatkan sebagai obat diuretik (batang atau daunnya), bunganya untuk melancarkan haid, dan daunnya digunakan dalam pengobatan antiinflamasi, pengobatan sembelit, ambeien, antireumatik, pengobatan bisul, dan berperan sebagai pencahar ringan. Penyembuhan dilakukan dengan meminum rebusan daun ungu sekali dalam sehari dan dilakukan setiap pagi secara rutin (Dewi et al., 2023). Cara Pengolahan Cara pengolahan daun ungu yang paling umum didokumentasikan dalam literatur pengobatan tradisional adalah melalui metode perebusan atau dekokta (Sartika & Indradi, 2021). Untuk penggunaan internal, daun segar direbus dengan air hingga volumenya menyusut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang larut air (Meilani et al., 2023). Sedangkan untuk penggunaan eksternal seperti mengobati bisul, daun ungu dapat diolah dengan cara ditumbuk halus dan ditempelkan langsung pada area yang sakit sebagai tapal (Safitri, 2021). Daftar Pustaka Dewi, P., Zahirah, F., Rahman, A., Wirawan, W., & Ungu, D. (2023). Edukasi Pembuatan Seduhan Daun Ungu untuk Atasi Wasir Di Desa Maku Kecamatan Dolo, KabupatenSigi,SulawesiTengah.2(2),16–21. https://doi.org/10.47701/abdimas.v2i2.2770 Goswami, M., Ojha, A., & Mehra, M. (2021). A Narrative literature review on Phytopharmacology of a Caricature Plant: Graptophyllum pictum (L.) Griff. (Syn: Justicia picta Linn.). Asian Pacific Journal of Health Sciences, 8 (9), 44–47. https://doi.org/10.21276/apjhs.20 21.8.3.10 Griff, G. L., Sartika, S., Indradi, R. B., & Griff, G. L. (2021). Pharmacological Activities of Daun Ungu Plants Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu. 1(2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531 Meilani, D., Miranda, N. A., & Harahap, N. (2023). Utilization Of Ethanol Extract Of Wungu Leaf (Graptophyllum Pictum (L) Griff) Growing In The Pamah Deli Old Area As An Anti-Inflammatory. Indonesian Journal of Science and Pharmacy, 1 (2), 58–63. https://doi.org/10.33024/jikk.v12i7.20260 Safitri, S. (2021). Pengaruh Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus aureus). Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 8 (1), 25–33. https://doi.org/10.63763/ijsp.v1i2.20 Sartika, I., & Indradi, S. (2021). Berbagai Aktivitas Farmakologi Tanaman Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Indonesian Journal of Biological Pharmacy, 1 (2), 88–96. https://doi.org/10.24198/ijbp.v1i2.37531.g16953 Wibowo, D., Ismayadi, P., & Wati, D. (2021). Tanaman Obat Desa Air Selimang, kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahyang,Bengukulu, Indonesia. Bengkulu:Deepublish.https://pustaka.uniraya.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4230

Daun Ungu (Graptophyllum pictum) Read More »

Kecombrang ( Etlingera elatior )

Nama Latin Etlingera elatior Taksonomi Kingdom   : Plantae Divisi     : Magnoliophyta Kelas     : Liliopsida Ordo      : Zingiberales Famili    : Zingiberaceae Genus    : Etlingera Spesies  : Etlingera elatior (Prastowo, et al., 2025) Definisi Umum Kecombrang adalah tanaman herba yang tumbuh di daerah tropis, terutama di Asia Tenggara. Di Indonesia, bunga dan batang kecombrang kerap dipakai sebagai bumbu masakan karena memiliki aroma segar, sedikit pedas, dan khas. Dalam tradisi etnobotani, tanaman ini digunakan untuk menyegarkan tubuh, mengharumkan masakan, hingga sebagai bahan kosmetik alami (Prastowo, et al., 2025). Secara farmakognosi, kecombrang termasuk tanaman yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber bahan baku obat dan kosmetik karena mengandung senyawa aktif seperti minyak atsiri, flavonoid, dan tanin (Rasyadi, et al.,2022). Kandungan Kecombrang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, antara lain: Fenol dan polifenol: Bertindak sebagai antioksidan dan mampu memperlambat proses oksidasi lipid (Rasyadi, et al.,2022). Flavonoid: Senyawa antioksidan yang mampu menekan radikal bebas dan berperan sebagai antibakteri (Rasyadi, et al.,2022). Saponin, tanin, dan steroid: Berperan dalam aktivitas antiinflamasi dan modulasi sistem imun (Kusumaningtyas & Hartati, 2024). Minyak atsiri: Mengandung dodecanal, yang memiliki aktivitas antimikroba dan dapat digunakan sebagai bahan alami pengawet atau repellent ( Wasito, et al., 2025). Khasiat a. Antioksidan: Ekstrak etanol bunga kecombrang menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC₅₀ yang masih tergolong lemah, namun cukup menjanjikan sebagai bahan tambahan dalam formulasi kosmetik seperti lip balm untuk perlindungan bibir dari radikal bebas (Rasyadi, et al.,2022). b.   Antibakteri: Ekstrak daun dan bunga kecombrang terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Klebsiella pneumoniae dan Staphylococcus aureus (Puspitasari, et al., 2022; Helmidanora, et al., 2024). Hal ini berpotensi untuk pengembangan antiseptik alami. c.   Repellent dan anti-larva: Ekstrak kecombrang dan beluntas dapat diformulasikan sebagai lotion anti-nyamuk alami, efektif melawan Aedes aegypti, serta tidak mengandung bahan kimia sintetis berbahaya (Endah, et al., 2024; Puspitasari, et al., 2022). d.   Antihiperglikemik: Ekstrak daun kecombrang memiliki potensi menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2, kemungkinan berhubungan dengan efek senyawa flavonoid dalam meningkatkan sensitivitas insulin (Lutfiyah, et al., 2025). e.   Pengawetan Alami: Kecombrang dapat dimanfaatkan dalam pengawetan daging ayam broiler karena aktivitas antimikrobanya mampu memperpanjang umur simpan bahan pangan (Wardani, et al., 2024). Cara Pengelolaan : a. Penggunaan Kuliner: Bunga kecombrang segar biasanya diiris dan ditambahkan ke dalam masakan seperti sambal, gulai, atau pepes sebagai penyedap dan pengharum masakan. b. Pengolahan Herbal Tradisional: Bunga atau daun kecombrang dapat direbus untuk menghasilkan seduhan herbal yang bermanfaat untuk detoksifikasi tubuh dan meredakan bau badan. c. Ekstraksi untuk Bahan Kosmetik: Metode maserasi atau ekstraksi berbantuan ultrasonik (ultrasound-assisted extraction/UAE) digunakan untuk memperoleh ekstrak pekat yang kaya senyawa bioaktif, kemudian diformulasikan sebagai bahan dalam lip balm atau lotion (Wasito, et al., 2025). d.     Sediaan Larvasida: Larutan ekstrak kecombrang dapat digunakan sebagai larvasida alami untuk pengendalian vektor penyakit seperti Aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah dengue (Puspitasari, et al., 2022). Daftar Pustaka Endah E, Taurhesia S, Basuki W, Djamil R. Formulation and test of mosquito repellent lotion from the extract of kecombrang (Etlingera elatior) and beluntas (Pluchea indica) leaves. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 2024;22(1):54–60. https://doi.org/10.35814/jifi.v22i1.1521 Prastowo I, Ahda M, Aprilia N, Dhaniaputri R. Kecombrang (Etlingera elatior), a revivingly popular Indonesian culinary herb. Journal of Ethnic Foods. 2025;12(29):1–27. https://doi.org/10.1186/s42779-025-00290-6 Lutfiyah F, Sulaeman A, Stiani SN. Daun kecombrang (Etlingera elatior) sebagai antihiperglikemik pada penderita diabetes mellitus. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2025;24(1):40–48. https://doi.org/10.30743/ibnusina.v24i1.701 Kusumaningtyas R, Hartati NS. Aktivitas antioksidan ekstrak Etlingera elatior pada berbagai metode ekstraksi. Jurnal Teknologi Bahan Baku. 2024;14(2):123–129. https://doi.org/10.22146/jtbb.58528Helmidanora R, Sukawati Y, Miranti D, Prayoga T, Lisnawati N. Uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi dan Kesehatan. 2024;10(1):43–50. https://doi.org/10.51352/jim.v10i1.769 Puspitasari E, Pratiwi CD, Novian DR, Turista DD. Antibacterial activity of kecombrang (Etlingera elatior) leaf ethanol extract against Klebsiella pneumoniae. Edubiotik. 2022;7(1):36–42. https://doi.org/10.33503/ebio.v7i01.1867 Puspitasari E, Khoirunnisa R, Sundari RS. Efektivitas larutan kecombrang sebagai larvasida alami terhadap Aedes aegypti. Sanitasi: Jurnal Ilmiah Kesehatan Lingkungan. 2022;9(2):68–74. https://doi.org/10.29238/sanitasi.v9i2.755 Rasyadi Y, Agustin D, Aulia G. Aktivitas antioksidan lip balm ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.). Jurnal Insan Farmasi Indonesia. 2022;5(1):140–148. https://doi.org/10.36387/jifi.v5i1.896 Wardani P, Ningsih D, Setiawan F. Pemanfaatan ekstrak kecombrang (Etlingera elatior) dalam pengawetan ayam broiler. Jurnal Pangan Sehat. 2024;6(4):112–118. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v6i4.228 Wasito H, Ridha KS, Fareza MS. Optimizing Ultrasound-Assisted Extraction Methods of Etlingera elatior Using Response Surface Methodology for High Performance Liquid Chromatography Fingerprinting. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi. 2025;28(7):355–361. https://doi.org/10.14710/jksa.28.7.355-361

Kecombrang ( Etlingera elatior ) Read More »

Jinten Hitam (Nigella sativa L.)

Nama Latin Nigella sativa L. Taksonomi Kingdom    : Plantae Division      : Magnoliophyta Class           : Magnoliosida Ordo           : Ranunculales Famili         : Ranunculaceae Genus         : Nigella Spesies        : Nigella sativa L. (ITIS, 2025) Definisi Umum Jintan hitam (Nigella sativa L.) adalah tanaman herbal dari famili Ranunculaceae yang memiliki ciri morfologi khas, yaitu tanaman herba berukuran 20–30 cm dengan batang tegak, bercabang halus, dan berwarna hijau pucat. Daunnya berwarna hijau, berbentuk menyirip dengan helaian yang sangat tipis dan terbelah seperti jarum, sehingga tampak menyerupai rambut halus. Morfologi daunnya berbentuk filiform (seperti benang) dan tersusun berselang-seling di sepanjang batang, memberikan tampilan tanaman yang tampak “ringan” dan berlapis-lapis (Lusti et al., 2024). Bunganya berwarna putih hingga kebiruan, memiliki 5–10 kelopak, dan muncul secara soliter pada ujung batang. Setelah penyerbukan, tanaman membentuk buah kapsul beruang banyak yang di dalamnya berisi biji-biji kecil berwarna hitam pekat, berbentuk segitiga, dan bertekstur keras. Kapsul buah jintan hitam terdiri dari 3–7 ruang (lokulus), masing-masing berisi puluhan biji yang menjadi bagian utama tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional dan farmasi karena kandungan metabolit sekundernya. Secara keseluruhan, kombinasi bentuk daun yang filiform, bunga soliter bercorolla putih kebiruan, dan biji hitam bersegi menjadi ciri utama yang membedakan Nigella sativa dari spesies lain (Imelda et al., 2024). Kandungan Biji jintan hitam mengandung berbagai metabolit sekunder yang penting, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik (Lusti et al., 2024). Selain itu, minyak esensial dari jintan hitam kaya akan senyawa bioaktif seperti thymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, α-hederin, dan t-anethole, yang memiliki efek antioksidan, antibakteri, antikanker, serta imunomodulator kuat (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Kandungan asam lemak seperti asam linoleat, oleat, dan palmitat juga berperan penting dalam efek antiinflamasi dan antikolesterol. Kombinasi metabolit lipofilik dan hidrofilik ini membuat jintan hitam efektif dalam berbagai aplikasi farmasi maupun kesehatan (Salma et al., 2025). Khasiat a. Aktivitas Antioksidan Jintan hitam memiliki aktivitas antioksidan kuat karena kandungan thymoquinone, flavonoid, dan senyawa fenolik. Penelitian menunjukkan ekstrak jintan hitam dari berbagai pelarut memiliki nilai IC₅₀ pada rentang 18,42–40,85 ppm yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat (Lusti et al., 2024). b. Aktivitas Antibakteri Ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakterinya dipengaruhi oleh senyawa bioaktif thymoquinone, thymohydroquinone, carvacrol, dan timol yang bekerja merusak membran sel bakteri (Salma et al., 2025). c. Aktivitas Antiinflamasi & Imunomodulator Jintan hitam dapat menurunkan inflamasi dengan menghambat produksi ROS dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan katalase. Selain itu, jintan hitam terbukti meningkatkan respon imun tubuh, termasuk peningkatan fagositosis dan jumlah leukosit, sehingga berperan sebagai imunostimulan alami (Muahiddah & Diniariwisan, 2024). Cara Pengolahan Potensi jintan hitam sebagai agen antibakteri terhadap bakteri patogen, dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Salma et al., 2025): a. Bersihkan biji jintan hitam dari kotoran dan benda asing, kemudian keringkan hingga kadar air rendah untuk mencegah pertumbuhan jamur. b. Haluskan biji menggunakan blender atau grinder hingga menjadi serbuk simplisia agar proses ekstraksi lebih optimal. c. Rendam serbuk dalam etanol 95% (atau etanol polar lainnya sesuai jurnal) dengan perbandingan pelarut yang memadai. d. Lakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi atau perendaman selama beberapa hari sambil sesekali diaduk agar senyawa aktif (thymoquinone, carvacrol, p-cymene) larut sempurna. e. Saring larutan untuk memisahkan filtrat (ekstrak) dari ampas. f.  Kentalkan ekstrak menggunakan evaporator atau penangas air untuk menguapkan sisa pelarut hingga diperoleh ekstrak pekat. g. Simpan ekstrak dalam wadah gelap dan kedap udara untuk menjaga stabilitas senyawa aktif, terutama thymoquinone. Daftar Pustaka Imelda, D., Maharani, P., & Mardiana, P. (2024). Seminar Nasional TREnD Pemanfaatan Minyak Jintan Hitam ( Nigella Sativa ) Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada Minuman Herbal. Seminar Nasional TREnD, 4, 12–18. Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Single report for TSN 506592. Retrieved November 15, 2025, from https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592 Lusti, N. F., Pratiwi, N., Musaidah, S., Audina, R. I., & Atwiyandani, I. (2024). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol , Etil Asetat , dan N-heksana Jintan Hitam ( Nigella sativa ) dengan Variasi Pelarut dan Waktu Maserasi. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 7(16), 703–714. Muahiddah, N., & Diniariwisan, D. (2024). Jurnal Biologi Tropis The Potential of Black Cumin ( Nigella sativa ) as an Immunostimulant in Aquaculture ( Review ). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 301 – 308 DOI: Salma, A., Prajawanti, K. N., Aristia, B. F., & Nisyak, K. (2025). Potensi Jintan Hitam ( Nigella sativa ) sebagai Agen Antibakteri terhadap Bakteri Patogen Klinis. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum Dan Farmasi, 3(3), 146–155.

Jinten Hitam (Nigella sativa L.) Read More »

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC )

Nama Latin Citrus hystrix DC Taksonomi Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus hystrix DcSinonim : Citrus paeda Miq Definisi Umum Jeruk purut (Cytrus hystrix DC) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia di sekitar rumah. Daun jeruk purut biasanya berbentuk unifoliate, memiliki batang yang tua berwarna hijau tua polos atau berbintik-bintik, dan berduri di ketiak daun. Buah jeruk purut berbentuk bulat hingga elips atau elips dengan leher panjang atau pendek di dasar buah dan permukaan kulit buah bergelombang atau berbintil di dekat ujung buah. (Klein, 2014). Jeruk purut merupakan tanaman obat dari famili Rutaceae yang dikenal sebagai bumbu atau rempah. Tanaman ini tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia, dan berasal dari Asia Tengah. Dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman perkarangan dan jarang dikebunkan. Jika ditanam dari bibit jeruk purut, daun dapat dipanen setelah berumur kira-kira 3 hingga 5 tahun. Setelah berumur lebih dari 4 tahun, daun akan berubah. Kandungan Penelitian oleh Nathanael J., Wijayanti N., dan Atmodjo P.K. (2015) menemukan bahwa jeruk purut mengandung flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral. Kulit buah dan daging buah jeruk mengandung naringin, narirutin, dan hesperidin, yang merupakan flavonoid utama. Flavonoid adalah antioksidan yang mampu mencegah kanker dan penyakit lainnya dengan menetralisir oksigen reaktif. Kandungan senyawa dalam tanaman jeruk purut termasuk minyak atsiri (limonene, citronellal, citronellol) yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, antileukimia, antitusif, insektisida, ilarvasida, dan senyawa fenolik seperti flavonoid, flavanone, flavon, flavonol, dan gliserolipida. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antiradang, antivirus, anti alergi, anti karsinogenik, antiaging, dan repellent (Agouillal et al., 2017). Berdasarkan Warsito et al.(2017), minyak jeruk purut memiliki kandungan sitronelal yang tinggi, dan kandungannya berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya, terutama pada kulit buah dan daun. Khasiat Tanaman jeruk purut dapat menyembuhkan flu, mengatasi ketombe, mengatasi kulit bersisik, dan kelelahan. Daun jeruk purut bermanfaat sebagai bumbu masakan, sebagai stimulant, dan sebagai penyegar. Ini juga digunakan untuk mengobati badan yang letih dan lemah setelah sakit berat (Najib et al.2017, h. 10). Daun jeruk purut berguna untuk maag, gigitan serangga, dan cacingan dan sakit kepala. Bagian buah digunakan sebagai obat untuk hipertensi, flu, demam, diare, meningkatkan pencernaan, dan menurunkan kadar darah. Bagian batang dapat disuling untuk menghasilkan minyak atsiri. Bagian daun dan buah lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk masakan (Budiarto et al., 2019). Cara Pengolahan Daftar Pustaka Agouillal, F., Taher, Z.M., Moghrani, H.,Nasrallah, N., Enshasy, H.E. (2017). A Review of Genetic Taxonomy, Biomolecules Chemistry and Bioactivities of Citrus hystrix DC. Biosciences, Biotechnology Research Asia, 14(1): 285–305. Najib, A., Ahmad, A, R., Malik, A., Amin, A.,Faradiba, H., Handayani, V., Syarif, R, A.,Dahlia, A, A., Waris, R., Handayani, S.,Hasnaeni, D., Wisdawati 2017, Kumpulan Penelitian Tanaman Obat, edk 1, Tim SCM & Ath Production, CV. SYAHADAH CREATIVE MEDIA (SCM), Watampone Sulawesi Selatan, pp 8-11. Klein, J.D. 2014.Citron cultivation, production and uses in the mediterranean region. Journal Agricultural Research Organization.2 (8): 199-214. Warsito, Noorhamdani, Sukardidan Suratmo. 2017. Aktivitas antioksidan dan antimikroba minyak jeruk purut(Citrus hystrix DC) dan komponen utamanya. Journal Of Environmental Engineering & Sustainable Technology JEEST.4 (1): 13-18. Pratama, F. (2022). Ekstraksi Asam Sitrat pada Sari Buah Jeruk (Citrus hystrix) Repository Akademi Farmasi Surabaya, 8(2), 21–28. Aprilyanie, I. (2023). Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Buah Tanaman Jeruk Purut (Citrus hystrix). Jurnal Farmasi UMI, 9(2), 55–62. JOM Instiper (2023). Minuman Sumber Antioksidan Alami Berbahan Daun Jeruk Purut Jurnal Online Mahasiswa Pertanian Instiper Yogyakarta, 7(1), 1–9.

Jeruk Purut ( Citrus hystrix DC ) Read More »

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

Nama Latin Hibiscus Sabdariffa L Taksonomi Kingdom     : Plantae Devisi      : Magnoliophyta Kelas       : Magnoliopsida Ordo     : Malvales Famili          : Malvaceae Genus      : Hibiscus Spesies    : Hibiscus sabdariffa L. Definisi Umum Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan tanaman herbal dari famili Malvaceae yang dikenal luas karena kelopak bunganya yang berwarna merah tua dan memiliki rasa asam khas. Tanaman ini berasal dari Afrika Barat namun kini telah dibudidayakan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Bagian kelopak bunga rosella sering dimanfaatkan sebagai bahan minuman, pewarna alami, serta sumber antioksidan karena mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, dan asam organik yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh (Nurjanah et al., 2021). Secara umum, rosella dikenal sebagai tanaman yang memiliki manfaat farmakologis luas, di antaranya sebagai antihipertensi, antidiabetes, antikolesterol, dan antimikroba. Kandungan vitamin c yang tinggi menjadikan rosella berpotensi sebagai imunostimulan alami. Selain itu, kelopak bunga rosella juga banyak digunakan dalam industri pangan dan farmasi sebagai bahan baku minuman fungsional dan suplemen herbal (Sari et al., 2020). Kandungan Rosella mengandung flavonoid seperti hibiscitrin dan hibiscetin, sedangkan kelompak kering bunga rosella mengandung flavonoid ( gossipentin, hibiscetin, dan sabadareti ), alkaloid, β-sitosterol, antosianin, asam sitrat, galaktosa, pectin (Kemenkes RI, 2011). Khasiat Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Kandungan antosianin, flavonoid, dan vitamin C pada kelopak bunganya berperan sebagai antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas dan mencegah kerusakan sel (Nurjanah et al., 2021). Selain itu, ekstrak rosella menunjukkan efek antihipertensi dan penurun kolesterol melalui mekanisme vasodilatasi dan peningkatan ekskresi natrium (Widyaningrum et al., 2020). Rosella juga berfungsi sebagai antidiabetes dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat enzim α-glukosidase (Rahmawati et al., 2022). Penelitian juga melaporkan aktivitas antiinflamasi, hepatoprotektif, antibakteri, dan imunostimulan yang mendukung penggunaannya sebagai tanaman obat alami dan bahan minuman fungsional (Fadilah et al., 2023). Cara Pengolahan Pengolahan rosella sebagai obat tradisional umumnya dilakukan dengan cara pengeringan kelopak bunga yang kemudian diseduh menjadi teh herbal. Teh rosella ini dikenal bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah (Yuliani et al., 2020). Daftar Pustaka Fadilah, N., et al. (2023). Aktivitas hepatoprotektif dan antibakteri ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 145–153. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Nurjanah, S., et al. (2021). Aktivitas antioksidan ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 32(2), 89–96. Rahmawati, D., et al. (2022). Aktivitas antidiabetes dan antiinflamasi ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada tikus diabetes melitus. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 20(2), 103–110 Sari, M., et al. (2020). Potensi ekstrak bunga rosella sebagai sumber antioksidan alami dalam produk minuman fungsional. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 7(1), 45–52. Widyaningrum, N., et al. (2020). Efek konsumsi teh rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap tekanan darah dan profil lipid pada pasien hipertensi. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 33(1), 27–33. Yuliani, S., et al. (2020). Pengaruh metode pengeringan terhadap mutu simplisia bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Industri Hasil Pertanian, 15(2), 75–82.

Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Read More »

Scroll to Top