rnd

Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Nama Tumbuhan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Oxalidales Famili : Oxsalidaceae  Genus : Averrhoa  Spesies : Averrhoa bilimbi L.  (Dinas Lingkungan Hidup., 2023) Definisi Umum Belimbing wuluh adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan subur di daerah Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Myanmar, dan Malaysia yang merupakan daerah tropis. Belimbing wuluh dapat dimanfaatkan dalam pengobatan maupun bahan masakan sebagai penyedap, bagian dari tanaman belimbing wuluh yang dapat dimanfaatkan sebagai obat yaitu pada buah dan daun. Buah belimbig wuluh berbenntuk lonjong dengan panjang 4-6 cm dengan karakteristik memiliki kulit mengkilat berwarna hijau hingga kuning (Insan et al., 2019).   Kandungan Daun pada tanaman belimbing wuluh mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, saponin, tanin, asam format, sulfur, kalsium oksalat, dan kalium sitrat (Wijayanti dan Safitri, 2018). Buah belimbing wuluh menganduung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, triterpen saponin, terpenoid dan minyak atsiri dengan kandungan utaman yaitu flavonoid (Fajriah et al., 2017). Khasiat Khasiat daun belimbing wuluh dapat digunakan dalam mengobati sakit perut, reumatik, gondongan, dan sebagai penurun panas. Buah belimbing wuluh dapat dimanfaatkan untuk mengobati batuk rejan, jerawat, tekanan darah tinggi, gusi berdarah, sariawan, gigi berlubang, gangguan dan radang fungsi pencernaan (Aseptianova dan Yuliany, 2020).  Cara Pengolahan Cara pengolahan buah belimbing wuluh sebagai obat batuk yaitu dengan mengambil 30 gram buah dan dicuci bersih dengan air mengalir, buah belimbing wuluh direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih dan berubah kecoklatan selama kurang lebih 15 menit dan kemudian dikonsumsi 2 kali sehari jika sudah dingin (Nurlela dan Harfika, 2019).  Daftar Pustaka Aseptianova, A., & Yuliany, E. H. (2020). Penyuluhan manfaat belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai tanaman kesehatan di Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang. Abdihaz: Jurnal Ilmiah Pengabdian pada Masyarakat, 2(2), 52-56. https://doi.org/10.32663/abdihaz.v2i2.910  Fajriyah, Y. D. N., Wahyuni, D., & Murdiyah, S. (2017). Pengaruh kombucha sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Bioedukasi, 13(2). https://bioedukasi.jurnal.unej.ac.id/index.php/BIOED/article/download/4525/3345  Insan, R. R., Faridah, A., Yulastri, A., & Holinesti, R. (2019). Using belimbing wuluh (averhoa blimbi l.) as a functional food processing product. Jurnal Pendidikan Tata Boga Dan Teknologi, 1(1), 47-55. https://doi.org/10.2403/80sr7.00 Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Averrhoa bilimbi L. (TSN 506370). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506370 Nurlela, L., & Harfika, M. (2019). Air rebusan belimbing wuluh sebagai antitussive dan expectorant pada ISPA. Jurnal Ilmiah Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya Vol. 14 No. 2 October 2019, 14(2), 50-60. https://repository.stikeshangtuah-sby.ac.id/id/eprint/135   Wijayanti, T. R. A., & Safitri, R. (2018). Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi nifas. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6(3), 277-285. https://doi.org/10.33366/cr.v6i3.999 

Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Read More »

Secang (Cesalpinia Sappan L.)

Nama Tumbuhan Secang (Cesalpinia Sappan L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Magnoliophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Fabales  Famili : Fabaceae  Genus : Caesalpinia  Spesies : Caesalpinia sappan L.  (Fadliah, 2014) Definisi Umum Secang merupakan tanaman perdu atau pohon kecil yang dikenal luas karena kayunya yang mengandung pewarna merah alami. Secang berasal dari Asia Tenggara dan banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Secang dapat tumbuh secara alami di hutan sekunder, pinggir jalan, pegunungan berbatu, dan daerah semi-kering tropis. Secang dapat tumbuh pada ketinggian 500 – 1000 m dpl (Sari dan Suhartati, 2016). Secang merupakan tumbuhan yang memiliki ukuran tidak terlalu besar, dengan ukuran 5 hingga 10 meter (Sarjono dan Tukiran, 2021). Secang memiliki ciri morfologis berupa batang berkayu dengan duri, berbentuk bulat dan memiliki warna hijau kecokelatan. Daun secang majemuk, menyirip ganda, bentuk lonjong, pangkal romping, ujung bulat, tepi rata, dan berwarna hijau. Bunga secang berwarna kuning yang tersusun dalam malai, dan buah berbentuk polong pipih berisi 3–4 biji (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2011).  Kandungan Secang mengandung berbagai senyawa aktif, seperti senyawa fenol termasuk xanthone, kumarin, chalcones, flavonoid, dan brazilin (Palimbong et al., 2020). Brazilin merupakan senyawa utama yang terkandung dalam kayu secang (Puspadewi dan Sriwidodo, 2023)  Khasiat Khasiat utama yang terkandung dalam secang adalah sebagai antioksidan yang kuat. Kayu secang, terutama ekstraknya, menunjukkan kemampuan untuk menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel dan memicu berbagai penyakit degeneratif (Hadi et al., 2023). Selain itu, secang juga dikenal memiliki aktivitas antimikroba dan antijamur, serta sebagai antiinflamasi atau pereda peradangan, yang dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Kayu secang telah digunakan sebagai obat untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti masalah gastrointestinal, infeksi pernapasan, dan kondisi kulit. Studi juga menunjukkan bahwa kayu secang mungkin memiliki potensi antikarsinogenik karena memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker (Vij et al., 2023).  Cara Pengolahan Kayu secang biasa digunakan dengan cara diseduh untuk dibuat minuman yang biasanya untuk mengurangi berbagai penyakit (Supriani, 2019). Caranya dengan menyeduh kayu secang (baik dalam kondisi segar maupun kering) yang sudah bersih menggunakan air panas, kemudian tunggu hingga air berubah warna menjadi merah kecoklatan dan aromanya harum. Kayu secang juga biasanya digunakan dalam campuran berbagai minuman seperti wedang uwuh, bir pletok, dan minuman tradisional lainnya.  Daftar Pustaka Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2011). 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI; Jakarta. https://repository.kemkes.go.id/book/357.   Hadi, K., Setiami, C., Azizah, W., Hidayah, W., & Fatisa, Y. (2023). Kajian Aktivitas Antioksidan Dari Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.). Photon: Journal of Natural Sciences and Technology, 13(2), 48-59. https://doi.org/10.37859/jp.v13i2.4552.   Palimbong, S., Mangalik, G., & Mikasari, A. L. (2020). Pengaruh lama perebusan terhadap daya hambat radikal bebas, viskositas dan sensori sirup secang (Caesalpinia sappan L.). Teknologi Pangan: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian, 11(1), 7-15.  https://doi.org/10.35891/tp.v11i1.1786.   Puspitadewi, N., & Sriwidodo, S. (2023). Review Artikel: Aktivitas Dan Pemanfaatan Brazilin Dari Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dalam Sediaan Kosmetik. Farmaka, 21(1). https://doi.org/10.24198/farmaka.v21i1.37702.   Sari, R., & Suhartati, S. (2016). Secang (Caesalpinia sappan L.): Tumbuhan herbal kaya antioksidan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 13(1), 57-67. https://doi.org/10.20886/buleboni.5077.   Sarjono, A. K., & Tukiran, T. (2021). Potensi Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) Sebagai Antidiabetes Mellitus: A Review: The Potensial Of Extract Secang (Caesalpinia sappan L.) As Antidiabetic Mellitus. Unesa Journal of Chemistry, 10(3), 307-317. https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p307-317.   Supriani, A. (2019). Peranan minuman dari ekstrak jahecang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Jurnal SainHealth, 3(1), 30-39. https://doi.org/10.51804/jsh.v3i1.370.30-39.   Vij, T., Anil, P. P., Shams, R., Dash, K. K., Kalsi, R., Pandey, V. K., … & Shaikh, A. M. (2023). A Comprehensive Review On Bioactive Compounds Found In Caesalpinia sappan. Molecules, 28(17), 6247. https://doi.org/10.3390/molecules28176247.  

Secang (Cesalpinia Sappan L.) Read More »

Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa)

Nama Ilmiah Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa )  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Asparagales Famili : Iridaceae  Genus : Eleutherine  Spesies : Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. (Eggers et al., 2010; Judd et al., 2008). Definisi Umum Bawang dayak merupakan tanaman yang sudah terbukti secara empiris dalam megobati berbagai penyakit. Bagian tanaman bawang dayak yang digunakan dalam pengobatan yaitu pada umbinya. Bawang dayak merupakan tanaman khas Kalimantan yang berasal dari Amerika Tropis. Bawang dayak memiliki morfologi seperti daun tunggal berbentuk pita dan berwarna hijau, memiliki ujung dan pangkal daun runcing dengan tepi daun rata, bunga majemuk dalam tandan terletak diujung (terminalis) dan monochlasial, biseksual dan aktinomorf, memiliki akar serabut berwarna coklat muda (Sirhi et al., 2018).  Kandungan Bawang dayak mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat digunakan dalam pengobatan diantaranya triterpenoid naftokuinon dan senyawa turunannya seperti elacanicin, eleutherol, isoeleutherol, eleutherin, dan isoeleutherin (Sirhi et al., 2018). Umbi bawang dayak juga mengandung kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, kuinon, steroid, tanin, dan minyak atsiri (Puspadewi et al., 2013).  Khasiat Bawang dayak memiliki khasiat yang sudah terbuktibaik secara empiris maupun ilmiah, secara empiris bawang dayak berkhasiat mengobati luka, sakit kuning, batuk, sakit perut, disentri, kanker payudara, radang poros usis, obat bisul dan perangsang muntah, secara ilmiah khasiat bawang dayak melalui studi pre klinik memiliki potensi sebagai anti kanker (Muti’ah et al., 2020).  Cara Pengolahan Pengolahan bawang dayak sebagai obat secara tradisional dapat dilakukan dengan cara perebusan umbi dari bawang dayak yang dapat digunakan sebagai obat kanker, kolesterol, dna jantung (Alang, 2025). Cara pengolahan lain untuk umbi bawang dayak yaitu dapat melalui proses sehingga menghasilkan produk berupa simplisia, bubuk atau tepung, maupum bawang dayak instan (Aslamiah, 2016).  Daftar Pustaka Alang, H. (2025). Inventarisasi tumbuhan obat tradisional sebagai upaya swamedikasi oleh Suku Dayak di Mandor. Jurnal Esabi (Jurnal Edukasi dan Sains Biologi), 7(1), 35-46. https://doi.org/10.37301/esabi.v7i1.73.  Aslamiah, S. (2016). Ujicoba Hidriponik Tanaman Kencur dan Bawang Dayak: The Trial of Hydroponic on Kencur and Dayak’s Onion. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 3(1), 46-53. https://doi.org/10.33084/daun.v3i1.166   Muti’ah, R., Listiyana, A., Nafisa, B. B., & Suryadinata, A. (2020). Kajian efek ekstrak umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) sebagai antikanker. Journal of Islamic Pharmacy, 5(2), 14-25. https://doi.org/10.18860/jip.v5i2.9778  Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). Khasiat umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai herbal antimikroba kulit. Kartika: Jurnal Ilmiah Farmasi, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21  Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). Khasiat Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai Herbal Antimikroba Kulit. Jurnal Ilmiah Farmasi, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Sirhi, S., Astuti, S., & Esti, F. R. (2018). Iptek bagi budidaya dan ekstrak bawang dayak sebagai obat alternatif. JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia), 2(2), 1-7. https://doi.org/10.33366/japi.v2i2.804  Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) Scientific Name Dayak Onion (Eleutherine bulbosa) Plant Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Asparagales Family: Iridaceae Genus: Eleutherine Species: Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. (Eggers et al., 2010; Judd et al., 2008). General Definition Dayak onion is a plant that has been empirically proven to treat various diseases. The part of the Dayak onion plant used in medicine is its bulb. Dayak onion is a plant native to Kalimantan that originated in the Tropical Americas. Dayak onion has a morphology characterized by single, ribbon-shaped green leaves with pointed tips and bases and smooth leaf margins; its compound flowers are arranged in terminal, monochasial inflorescences; they are bisexual and actinomorphic; and it has light brown fibrous roots (Sirhi et al., 2018). Composition Dayak onion contains various bioactive compounds that can be used in medicine, including triterpenoid naphthoquinones and their derivatives such as elacanicin, eleutherol, isoeleutherol, eleutherin, and isoeleutherin (Sirhi et al., 2018). Dayak onion bulbs also contain secondary metabolites such as alkaloids, glycosides, flavonoids, phenolics, quinones, steroids, tannins, and essential oils (Puspadewi et al., 2013). Benefits Dayak onion has benefits that have been proven both empirically and scientifically. Empirically, Dayak onion is effective in treating wounds, jaundice, coughs, stomachaches, dysentery, breast cancer, appendicitis, treating boils, and inducing vomiting. Scientifically, preclinical studies have shown that Dayak onion has potential as an anticancer agent (Muti’ah et al., 2020). Preparation Methods Traditionally, Dayak onions are processed into medicine by boiling the bulbs, which can be used to treat cancer, high cholesterol, and heart conditions (Alang, 2025). Another method of processing Dayak onion bulbs involves a process that produces products such as crude drug, powder, or flour, as well as instant Dayak onion (Aslamiah, 2016). References Alang, H. (2025). Inventory of traditional medicinal plants as a form of self-medication among the Dayak people in Mandor. Jurnal Esabi (Journal of Education and Biological Sciences), 7(1), 35-46. https://doi.org/10.37301/esabi.v7i1.73. Aslamiah, S. (2016). The Trial of Hydroponic Cultivation of Kencur and Dayak Onion. Daun: Journal of Agricultural and Forestry Sciences, 3(1), 46-53. https://doi.org/10.33084/daun.v3i1.166 Muti’ah, R., Listiyana, A., Nafisa, B. B., & Suryadinata, A. (2020). Study on the anticancer effects of Dayak onion (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) bulb extract. Journal of Islamic Pharmacy, 5(2), 14-25. https://doi.org/10.18860/jip.v5i2.9778 Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). The efficacy of Dayak onion tuber (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) as a topical antimicrobial herbal remedy. Kartika: Journal of Pharmaceutical Sciences, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Puspadewi, R., Adirestuti, P., & Menawati, R. (2013). The Efficacy of Dayak Onion Bulbs (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) as a Skin Antimicrobial Herb. Journal of Pharmaceutical Sciences, 1(1), 31-37. https://doi.org/10.26874/kjif.v1i1.21 Sirhi, S., Astuti, S., & Esti, F. R. (2018). Science and technology for the cultivation and extraction of Dayak onion as an alternative medicine. JAPI (Journal of Community Service Access Indonesia), 2(2), 1-7. https://doi.org/10.33366/japi.v2i2.804

Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) Read More »

Sirih Hijau (Piper betle L.)

Nama Tumbuhan Sirih Hijau (Piper betle L.)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Piperales  Famili : Piperaceae  Genus : Piper  Spesies : Piper betle L. (Pradhan, dkk., 2013) Definisi Umum Sirih hijau merupakan salah satu tanaman obat yang potensial dan diketahui secara empiris memiliki khasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit.  Tanaman sirih tumbuh di daerah Asia tropis hingga Afrika Timur dan menyebar hampit di seluruh wilayah Indonesia, Thailand, Malaysia, India, Sri Lanka dan Madagaskar (Sadiah et al., 2022). Sirih hijau dapat tumbuh optimal pada ketinggian 10-300 mdpl dan pada berbagai jenis tanah. Sirih hijau tidak tahan terhadap intensitas cahaya yang tinggi dan genangan air (Widiyastuti et al., 2013). Sirih hijau merupakan tanaman merambat dengan tinggi tanaman 0,5-8 m. Akar tanaman sirih hijau berbentuk bulat dan berwarna coklat kekuningan. Batangnya berbentuk bulatm bersulur, beruas, memiliki akar udara, bertekstur halus, berwarna coklat sampai warna kehijauan dengan jarak antar ruasnya 2,5-7 cm. Daun sirih hijau merupakan daun tunggal dengan tata letak berseling dengan ujung runcing, pangkalnya berlekuk, pertulangan daunnya melengkung, serta tepi daunnya rata. Bunga daun sirih hijau memiliki jenis majemuk dengan bentuk bulir, panjang bulir bunga jantan 0,5-2,5 cm dan panjang bulir bunga betina 1,5-7 cm. Buahnya berbentuk bulat, berwarna hijau, dan buah masaknya berwarna kuning kehijauan (Yuliana, 2023).  Kandungan Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman sirih hijau berupa senyawa fenol, flavonoid, kavikol, hidroksi kavikol, eugenol, kavibetol, karvakrol, dan safrol yang memberikan aktivitas antioksidan yang baik. Flavonoid merupakan kelompok dari fenol alami yang bali banyak ditemukan di semua tanaman hijau seperti sirih hijau (Suarantika et al., 2023).   Khasiat Tanaman sirih hijau memiliki banyak khasiat selain sebagai antibakteri, antara lain sebagai antiradang, penghilang gatal, pereda batuk, antiseptik, dan dapat digunakan untuk menghentikan pendarahan (Hermanto et al., 2023).   Cara Pengolahan Cara pengolahan atau peracikan daun sirih hijau tergantung dari jenis penyakit yang diobati, ada yang ditumbuk atau peras, diteteskan pada mata, direbus, dan dipanaskan. Cara mengolah daun sirih hijau sebelum dijadikan obat sangat bervariasi. Pengolahan sirih hijau tidak dimanfaatkan dalam satu jenis saja, namun ada juga yang dicampurkan dengan jenis tumbuhan lain, seperti garam, minyak, madu, balsem, dan cengkeh. Cara penggunaannya sesuai dengan jenis penyakit yang diobati (Hulu et al.,2022).  Daftar Pustaka Hermanto, L. O., Nibea, J., Sharon, K., & Rosa, D. (2023). Review artikel: Pemanfaatan tanaman sirih (Piper betle L) sebagai obat tradisional. Pharmaceutical Science Journal, 3(1), 33-42. http://dx.doi.org/10.52031/phrase.v3i1.502  Hulu, L. C., Fau, A., & Sarumaha, M. (2022). Pemanfaatan daun sirih hijau (Piper Betle L) sebagai obat tradisional di Kecamatan Lahusa. TUNAS: Jurnal Pendidikan Biologi, 3(1), 46-57.   https://doi.org/10.57094/tunas.v3i1.480 Sadiah, H. H., Cahyadi, A. I., & Windria, S. (2022). Kajian Daun Sirih Hijau (Piper betle L) Sebagai Antibakteri. Jurnal Sain Veteriner, 40(2), 128-138. https://jurnal.ugm.ac.id/jsv/article/view/58745  Suarantika, F., Patricia, V. M., & Rahma, H. (2023). Optimasi Proses Ekstraksi Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) yang Memiliki Aktivitas Antioksidan Berdasarkan Penggunaan secara Empiris. Jurnal Ilmiah Medicamento, 9(1), 16-21. https://doi.org/10.36733/medicamento.v9i1.5253  Widiyastuti, Y., Haryanti, S., & Subositi, D. (2013). Karakterisasi Morfologi Dan Kandungan Minyak Atsiri Beberapa Jenis Sirih (Piper sp.) Morphological characterization and volatile oil contain of various (Piper sp.). Jurnal Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 6(2), 86-93. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/toi/article/view/6567  Yuliana, L. (2023). Studi morfologi genus Piper dan variasinya. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 3(1), 11-19. https://e-journal.lp3kamandanu.com/index.php/biocaste 

Sirih Hijau (Piper betle L.) Read More »

Jahe (Zingiber officinale Roscoe)

Nama Tumbuhan Jahe (Zingiber officinale Roscoe)  Taksonomi Tumbuhan Kingdom : Plantae  Divisi : Tracheophyta  Kelas : Magnoliopsida  Ordo : Zingiberales  Famili : Zingiberaceae    Genus : Zingiber  Spesies : Zingiber officinale Roscoe (rukmana, 2000) Definisi Umum  Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang tahunan yang tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman jahe memiliki sistem perakaran berupa akar serabut, dengan batang yang beruas dan tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah. Daunnya berbentuk panjang dengan susunan tulang daun sejajar, sementara rimpangnya berfungsi sebagai umbi penyimpan cadangan nutrisi (Lestari et al., 2024). Jahe sering dibudidayakan di pekarangan rumah maupun lahan pertanian pada daerah dengan ketinggian 0-1500 mdpl dengan ketinggian optimum pada 300-900 mdpl (Nana et al., 2021). Terdapat beberapa varietas jahe yang dikenal di Indonesia, seperti jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah, yang masing-masing memiliki ciri morfologi dan kegunaan berbeda. Jahe merupakan tanaman rimpang yang memiliki bentuk bercabang dan beraroma khas, serta digunakan secara luas dalam berbagai bentuk olahan tradisional maupun modern.  Kandungan  Senyawa aktif yang terkandung dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan paradol yang memiliki sifat anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, dan anti-platelet (Anggista et al., 2019).  Khasiat  Jahe (Zingiber officinale) memiliki beragam khasiat seperti mengatasi mual dan muntah, meyehatkan sistem pencernaan, menyehatkan otak, menyembuhkan migrain (Edy dan Ajo, 2020). Selain itu, jahe juga dapat mencegah dan mengobati kepala pusing, batuk, diabetes, penyakit jantung, sakit saat menstruasi, nyeri lambung (Rembet dan Wowor, 2024). Khasiat-khasiat ini menjadikan jahe sebagai bahan herbal potensial dalam pengembangan produk kesehatan dan terapi komplementer.  Cara Pengolahan  Jahe dapat diolah menajadi minumam herbal dengan bahan-bahan berupa 2 siung jahe, 1 batang sereh, 4 lembar daun jeruk, gula jawa secukupnya sesuai selera, dan 300 ml air. Proses pembuatannya dimulai dengan membakar jahe di atas kompor hingga mengeluarkan aroma harum, kemudian sereh digeprek. Setelah itu, air sebanyak 300 ml direbus dalam panci hingga mendidih. Setelah mendidih, semua bahan dimasukkan satu per satu ke dalam panci, dimulai dari jahe, sereh, daun jeruk, dan gula jawa. Aduk hingga merata dan biarkan selama kurang lebih 5–10 menit sampai air sedikit menyusut dan aroma khas muncul. Setelah selesai, kompor dimatikan dan jamu dituangkan ke dalam gelas, lalu didiamkan hingga suhunya cukup hangat untuk dikonsumsi (Wiboworini dan Shabrina, 2021).  Daftar Pustaka  Anggista, G., Pangestu, I. T., Handayani, D., Yulianto, M. E., & Astuti, S. K. (2019). Penentuan Faktor Berpengaruh Pada Ekstraksi Rimpang Jahe Menggunakan Extraktor Berpengaduk. Gema Teknologi, 20(3), 80-84.  https://doi.org/10.14710/gt.v20i3.24532 Edy, S., & Ajo, A. (2020). Pengolahan jahe instan sebagai minuman herbal di masa pandemik COVID-19. Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 2(03), 177-183.  https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/381/263 Lestari, I., Hakiki, N., Nurjanah, S., Jamil, T. K., & Sativa, N. (2024). Karakter Morfologi dan Hubungan Kekerabatan pada Tanaman Jahe (Zingiber officinale) di Kabupaten Garut. Jurnal Sumberdaya Hayati, 10(3), 150-156.  https://doi.org/10.29244/jsdh.10.3.150-156 Nana, N., Makiyah, Y. S., Susanti, E., Ramadhan, I. R., Bhinekas, R. Y., & Kanti, L. (2021). Budidaya dan Pengolahan Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum) Menggunakan Teknologi Bag Culture Pada Masa New Normal di Desa Darmaraja Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis. ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(1), 584-593.  https://doi.org/10.35568/abdimas.v4i1.1038 Rembet, I. Y., & Wowor, M. D. (2024). Manfaat jahe (Zingiber officinale Roscoe) untuk menurunkan kadar gula darah pada penyakit diabetes melitus tipe 2. Watson Journal Of Nursing, 2(2), 51-65.  https://e-journal.stikesgunungmaria.ac.id/index.php/wjn/article/view/86/67 Wiboworini, B., & Shabrina, A. (2021). Pembuatan Minuman Herbal Sederhana Dari Jahe Untuk Mendukung Imunitas Melawan Covid-19. Smart Society Empowerment Journal, 1(3), 108-112.  https://doi.org/10.20961/ssej.v1i3.56093

Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Read More »

Kencur (Kaempferia galanga L.)

Nama Tumbuhan Kencur (Kaempferia galanga L.)  Taksonomi  Kingdom : Plantae  Divisi : Spermatophyta  Kelas : Monocotyledonae  Ordo : Zingiberales  Famili : Zingiberaceae  Genus : Kaempferia L.  Spesies : Kaempferia galanga L.  (Sholeh dan Megantara, 2019.). Definisi Umum Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki khasiat obat yang hidup didaerah tropis dan subtropis. Kencur memiliki ukuran kurang lebih 20 cm yang tumbuh dalam rumpun. Kencur memiliki daun berwarna hijau berbentuk tunggal yang pinggir daunnya berwarna merah kecoklatan. Bentuk dari daun kencur menjorong untuk ukurannya daun kencur memiliki panjang 7-15 cm, lebar 2-8 cm, dengan ujung daun runcing pangkai berkeluk dan tepi daun rata. Jumlah daun pada kencur tidak lebih dari 2-3 lembar. Rimpangnya memiliki ukuran yang pendek berbentuk seperti jari yang tumpul dengan warna coklat lalu pada bagian kulit rimpang kemcur memiliki warna coklat yang mengkilat, dengan bau khas yang dikeluarkan oleh rimpang kencur. Kemudian pada bagian dalam kencur memiliki warna putih dengan tekstur seperti daging yang tidak berserat (Haryudin dan Rostiana, 2016).  Kandungan Kencur (Kaempferia galanga L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, tanin dan terdapat kandungan senyawa lain seperti etil p-metoksinamat (Izazi dan Kusuma, 2020). Khasiat  Kencur (Kaempferia galanga L.) menunjukkan efek antiinflamasi yang signifikan dalam menghambat edema, antipiretik untuk menurunkan demam, serta analgesik alami untuk meredakan nyeri kepala, pegal, dan keseleo. Kencur juga berperan sebagai antitusif dan ekspektoran yang efektif mengatasi batuk berdahak, antidiare melalui formulasi tradisional dengan beras dan garam, serta antimikroba terhadap infeksi bakteri (Izazi dan Kusuma, 2020). Cara Pengolahan Kencur (Kaempferia galanga L.) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain:  (Febri dan Kusuma, 2020).  Daftar Pustaka Febriani, A., & Kusuma, I. M. (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban. Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian, 13(1), 46-54. https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524  Febriani, A., & Kusuma, I. M. (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban. Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian, 13(1), 46-54.   https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524 Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Kencur (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 19(2),109-116.https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167  Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Kencur (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 19(2),109-116. https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167  Izazi, F., & Kusuma, A. (2020). Hasil responden pengetahuan masyarakat terhadap cara pengolahan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan kencur (Kaemferia galanga) sebagai peningkatan imunitas selama COVID-19 dengan menggunakan kedekatan konsep program Leximancer. Journal Pharmasci, 5(2), 93-97.   https://doi.org/10.53342/pharmasci.v5i2.192 Soleh, S. M., & Megantara, S. (2019). Karakteristik morfologi tanaman kencur (kaempferia galanga l.) Dan aktivitas farmakologi. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.   https://doi.org/10.24198/jf.v17i2.22089 Kencur (Kaempferia galanga L.) Plant Name: Kencur (Kaempferia galanga L.) Taxonomy Kingdom: PlantaeDivision: SpermatophytaClass: MonocotyledonaeOrder: ZingiberalesFamily: ZingiberaceaeGenus: Kaempferia L.Species: Kaempferia galanga L. (Sholeh and Megantara, 2019). General Definition Kencur (Kaempferia galanga L.) is an herbal plant with medicinal properties that grows in tropical and subtropical areas. Kencur is about 20 cm in size and grows in clusters. It has green, single leaves with reddish-brown edges. The shape of kencur leaves is unique; they are about 7-15 cm long and 2-8 cm wide, with pointed tips, curved stalks, and smooth edges. Kencur usually has no more than 2-3 leaves. The rhizome is short, finger-shaped with blunt tips, brown in color, and the skin is shiny brown, emitting the distinctive smell of kencur. Inside, the rhizome is white with a meat-like texture that isn’t fibrous (Haryudin and Rostiana, 2016). Content Kencur (Kaempferia galanga L.) contains secondary metabolite compounds such as alkaloids, flavonoids, tannins, and also other compounds like ethyl p-methoxycinnamate (Izazi and Kusuma, 2020). Benefits Kencur (Kaempferia galanga L.) shows significant anti-inflammatory effects in reducing swelling, has fever-reducing properties, and acts as a natural pain reliever for headaches, body aches, and sprains. Kencur also works as a cough suppressant and expectorant to effectively tackle phlegmy coughs, can help with diarrhea through traditional formulations with rice and salt, and has antimicrobial effects on bacterial infections (Izazi and Kusuma, 2020). How to Process Kencur (Kaempferia galanga L.) can be processed into several forms for medicinal use, including: (Febri and Kusuma, 2020) Bibliografi Febriani, A., & Kusuma, IM (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Centella asiatica (L.) Urban Herb. Jurnal Ilmu Farmasi Sainstech Farma, 13(1), 46-54. https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524 Febriani, A., & Kusuma, IM (2020). Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Gel Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas (Kaempferia galanga L.) dan Ekstrak Etanol Centella asiatica (L.) Urban Herb. Jurnal Ilmu Farmasi Sainstech Farma, 13(1), 46-54. https://doi.org/10.37277/sfj.v13i1.524 Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Galangal (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Rempah dan Tanaman Obat, 19(2), 109-116. https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167 Haryudin, W., & Rostiana, O. (2016). Karakteristik Morfologi Bunga Galangal (Kaempferia galanga L.). Buletin Penelitian Rempah dan Tanaman Obat, 19(2), 109-116. https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.167 Izazi, F., & Kusuma, A. (2020). Pengetahuan responden tentang cara mengolah jahe Jawa (Curcuma xanthorrhiza) dan jahe (Kaempferia galanga) untuk meningkatkan imunitas selama COVID-19 menggunakan konsep kedekatan program Leximancer. Jurnal Farmasi, 5(2), 93-97. https://doi.org/10.53342/pharmasci.v5i2.192 Soleh, SM, & Megantara, S. (2019). Karakteristik morfologi tanaman jahe (Kaempferia galanga L.) dan aktivitas farmakologisnya. Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran. https://doi.org/10.24198/jf.v17i2.22089

Kencur (Kaempferia galanga L.) Read More »

Asam Jawa (Tamarindus indica L.)

Nama Latin Tamarindus indica L. Taksonomi Kindong: Plantae Divisi: Tracheophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Genus: Tamarindus Spesies: Tamarindus indica L. (ITIS, n.d.) Definisi Umum Asam jawa merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Afrika, dan banyak dibudidayakan di negara tropis termasuk Indonesia. Asam jawa termasuk dalam subfamili Caesalpiniaceae dari famili Fabaceae, memiliki struktur kromosom 2n = 24 (Kanupriya et al., 2024). Batang pohon asam yang cukup keras dapat tumbuh menjadi besar dan daunnya rindang. Pohon Asam jawa bertangkai panjang, sekitar 117 cm dan bersirip genap, tipe daunnya majemuk dengan panjang mencapai 15 cm dan memiliki 8-18 anak daun dengan panjang anak daun 1-3,5 cm. Bunganya berwarna kuning kemerah-merahan dan buah polongnya berwarna coklat dan tentu saja berasa khas asam. Biasanya di dalam buah polong buah juga terdapat biji berkisar 2-5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman (Sindriyani, 2024). Asam jawa adalah pohon yang tumbuh lambat, selalu hijau dengan banyak kegunaan yang telah dinaturalisasi di daerah tropis subtropis dan semi-kering di seluruh dunia. Hampir setiap bagian pohon (daging buah, biji, bunga, daun, kayu, kulit kayu) memiliki kegunaan khusus, termasuk konsumsi manusia dan hewan, perdagangan, konstruksi, kayu bakar, obat tradisional, dan pemrosesan industri (Dorni et al., 2017). Kandungan Asam Jawa (Tamarindus indica L.) mempunyai kandungan flavonoid, tanin, alkaloid, anthocyanin, dan asam sitrat (Saadah et al., 2017). Daun asam Jawa diketahui mengandung berbagai golongan diantaranya terpenoid, fenol, flavonoid, dan asam asam organik (Megawasti et al., 2021).  Buah asam jawa mengandung flavonoid, tanin, glikosida, dan saponin. Kandungan lainnya adalah kalium, fosfor, magnesium, kalsium, besi, natrium, dan seng. Selain itu, asam jawa juga mengandung vitamin C, vitamin B, vitamin A dan vitamin K (Lisa et al., 2025). Khasiat Asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk masakan atau bumbu masakan. Selain itu, daging asam jawa dapat memudahkan buang air besar dan melancarkan peredaran darah (Lissa et al., 2023). Asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki khasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan dapat membantu mengendalikan kadar gula darah serta kolesterol. Kandungan senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin dalam asam jawa berkontribusi pada aktivitas farmakologinya, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk membuktikan efektivitasnya pada manusia dalam skala besar (Sindriyani, 2024). Cara pengolahan Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dapat diolah menjadi beberapa bentuk sediaan untuk pengobatan, antara lain: Daftar Pustaka Dorni AC, Amalraj A, Gopi S, Varma K, Anjana SN. (2017). Kosmetika baru dari tumbuhan—Tinjauan yang dipandu industri. Jurnal penelitian terapan tumbuhan obat dan aromatik, 7:1–26. https://doi.org/10.1016/j.jarmap.2017.05.003 Integrated Taxonomic Information System. (n.d.). Tamarindus indica L. (TSN 26980). ITIS. Retrieved November 19, 2025, from https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=26980 Kanupriya C, Karunakaran G, Singh P, Venugopalan R, Samant D, Prakash K. (2024). Keragaman Fenotipik Tamarindus indica L. yang berasal dari berbagai asal di India. Sistem Agroforestri, 98(2):477–90. https://doi.org/10.1016/j.jarmap.2017.05.003 Lissa, L., Hamidah, I., Rizqiah, K. M., & Munfarijah, M. (2023). Pemanfaatan Asam Jawa (Tamarindus indica) Untuk Menghasilkan Produk Olahan Minuman Dan Manisan di Desa Krangkeng. Abdi Wiralodra: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 114-124. https://doi.org/10.31943/abdi.v5i1.64 Megawasti, M., Sukmawati, S., & Aminah, A. (2021). Uji aktivitas antioksidan fraksi etil asetat daun asam jawa (Tamarindus indica L) dengan metode DPPH (1, 1 Diphenyl-2-Picrylhydrazil). Wal’afiat Hospital Journal, 2(2), 95-102. https://doi.org/10.33096/whj.v2i2.77 Saadah, A. A., Setyarini, D. I., & Mardiyanti, T. (2017). Asam Jawa (Tamarindus Indica L) Dan Intensitas Nyeri Dismenorea Primer Pada Remaja Putri. Jurnal Keperawatan Terapan, 3(2), 57-63. https://doi.org/10.31290/jkt.v(3)i(2)y(2017).page:57-63 Sindriyani, L. S. (2024). Artikel review: Studi fitokimia dan farmakologi asam jawa (Tamarindus indica L.). Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, 9(1), 15-21. https://ejournal.stifibp.ac.id/index.php/jibf/article/view/129/111 Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Latin Name Tamarindus indica L. Taxonomy Kingdom: Plantae Division: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Order: Fabales Family: Fabaceae Genus: Tamarindus Species: Tamarindus indica L. (ITIS, n.d.) General Definition Tamarind is a plant native to Africa and is widely cultivated in tropical countries, including Indonesia. It belongs to the subfamily Caesalpiniaceae within the family Fabaceae and has a chromosome structure of 2n = 24 (Kanupriya et al., 2024). The tree’s sturdy trunk can grow quite large, and its foliage is dense. The tamarind tree has long petioles, approximately 117 cm long, and even-pinnate leaves. The leaves are compound, reaching up to 15 cm in length, and consist of 8–18 leaflets, each 1–3.5 cm long. The flowers are yellowish-pink, and the pods are brown and, of course, have a distinct sour taste. Typically, the pods contain 2–5 flat, dark brown seeds (Sindriyani, 2024). The Java tamarind is a slow-growing, evergreen tree with numerous uses that has been naturalized in tropical, subtropical, and semi-arid regions worldwide. Nearly every part of the tree (flesh, seeds, flowers, leaves, wood, and bark) has a specific use, including for human and animal consumption, trade, construction, firewood, traditional medicine, and industrial processing (Dorni et al., 2017). Composition Tamarind (Tamarindus indica L.) contains flavonoids, tannins, alkaloids, anthocyanins, and citric acid (Saadah et al., 2017). Tamarind leaves are known to contain various compounds, including terpenoids, phenols, flavonoids, and organic acids (Megawasti et al., 2021). Tamarind fruit contains flavonoids, tannins, glycosides, and saponins. Other components include potassium, phosphorus, magnesium, calcium, iron, sodium, and zinc. Additionally, tamarind is a source of vitamin C, B vitamins, vitamin A, and vitamin K (Lisa et al., 2025). Benefits Tamarind (Tamarindus indica L.) has many benefits, including use in cooking or as a seasoning. Furthermore, tamarind pulp can facilitate bowel movements and improve blood circulation (Lissa et al., 2023). Tamarind (Tamarindus indica L.) possesses antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory properties and can help regulate blood sugar levels and cholesterol. Compounds such as flavonoids, tannins, and saponins in tamarind contribute to its pharmacological activity, although further research is still needed to prove its effectiveness in humans on a large scale (Sindriyani, 2024). Methods of Preparation Tamarind (Tamarindus indica L.) can be processed into several forms of preparations for medicinal use, including: A liquid preparation/ready-to-drink solution made by washing and drying tamarind leaves, then brewing them like herbal tea; the mixture is then strained and consumed warm, either on its own or with added honey or brown sugar to improve the taste. A ready-to-drink solution made by picking fresh tamarind flowers, then boiling or steeping them as a traditional remedy

Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Read More »

Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.)

Nama Tanaman Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.) Taksonomi Tanaman Definisi Umum Lengkuas adalah tanaman rimpang tropis yang banyak digunakan sebagai rempah dalam masakan dan juga dikenal secara luas sebagai tanaman obat. Tanaman ini memiliki batang semu, daun memanjang, dan akar rimpang beraroma tajam. Senyawa aktif utama dalam lengkuas meliputi galangin, eugenol, dan flavonoid, yang memberikan berbagai manfaat farmakologis (Nursyahra & Zikra, 2023) Kandungan Lengkuas merupakan salah satu tanaman yang sudah dikenal memiliki kandungan senyawa aktif dengan berbagai aktivitas dan diketahui dapat digunakan sebagai antijamur dan antibakteri. Rimpang lengkuas juga mengandung golongan senyawa aktif diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, fenol saponin, tanin dan terpenoid. Salah satu senyawa aktif yang berpotensi menjadi agen antibakteri adalah terpenoid ( Sangdaji et al. 2021) Khasiat Cara Pengolahan Secara Tradisional Rebusan rimpang lengkuas Infusa Herbal Lengkuas bubuk Minyak Atsiri Lengkuas Daftar Pustaka

Lengkuas (Alpinia galanga (L) Willd.) Read More »

Sereh Dapur (Cymbopogon citratus)

Nama Tanaman Sereh Dapur (Cymbopogon citratus) Taksonomi Definisi Umum Taksonomi Sereh dapur adalah tumbuhan rumput tropis aromatik yang dikenal luas sebagai bumbu dapur dan tanaman herbal. Aroma khasnya berasal dari kandungan sitral dalam minyak atsiri. Tanaman ini juga dikenal dengan sebutan lemongrass dan memiliki khasiat farmakologis sebagai antimikroba, antiinflamasi, dan peluruh keringat. (Silalahi, 2020) Khasiat Cymbopogon citratus memiliki sejumlah manfaat farmakologis yang telah dibuktikan secara ilmiah: Cara Pengolahan Secara Tradisional Beberapa bentuk pengolahan tradisional tanaman sereh dapur: a. Teh Serai b. Minyak Sereh (Aromaterapi) c. Rebusan Serai d. Sabun Herbal Ekstrak Sereh 6. Daftar Pustaka

Sereh Dapur (Cymbopogon citratus) Read More »

Lidah Buaya (Aloe vera)

Nama Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera) Taksonomi Tanaman Definisi Umum Lidah buaya adalah tanaman sukulen yang berasal dari wilayah tropis dan telah lama dikenal sebagai tanaman obat. Daunnya tebal dan berdaging dengan gel bening di bagian dalam yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti aloin, aloesin, dan acemannan. Tanaman ini telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional maupun industri farmasi dan kosmetik karena sifat antiinflamasi, antimikroba, dan penyembuh lukanya.(Pandey et al., 2013) Khasiat Cara Pengolahan Secara Tradisional Topikal untuk luka bakar dan luka sayat: Minuman herbal untuk penurun gula darah: Teh lidah buaya: Daftar Pustaka

Lidah Buaya (Aloe vera) Read More »

Scroll to Top