August 2026

BIDARA LAUT (Strychnos lingustrina)

Nama Latin Strychnos lingustrina Taksonomi Kingdom Plantae Devisi Magnoliophyta Kelas Magnoliopsida Ordo Gentianales Famili Loganiaceae Genus Strychnos Spesies Strychnos ligustrina Blume Definisi Umum Strychnos ligustrina Blume merupakan tumbuhan semak dengan tinggi sekitar 2 m. Batangnya berukuran kecil, berkayu keras dan kuat, berwarna kuning kecokelatan, tidak berbau, serta memiliki rasa pahit. Rantingnya berwarna pucat keabu-abuan dan ditandai oleh banyak lentisel yang tampak lebih terang pada permukaannya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Daunnya tunggal, berbentuk elips hingga lonjong dengan ukuran 2,6–6,1 cm × 1,7–3,7 cm, bagian bawah daun lebih pucat dibandingkan bagian atas dan memiliki tiga tulang daun utama yang terlihat jelas, sedangkan tangkai daunnya sangat pendek, yaitu sekitar 1–1,2 mm. Bunganya memiliki mahkota berbentuk tabung dengan panjang 10–15 mm, benang sari terletak pada tenggorokan tabung mahkota dengan filamen pendek, dan ovariumnya berbentuk bulat berdiameter sekitar 1 mm. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 2–2,5 cm dan berisi 2–3 biji. Biji berbentuk hampir seperti cakram dengan ukuran 12–15 mm × 10–12 mm serta permukaannya ditutupi rambut-rambut pendek dan rapat (Setiawan & Narendra, 2012). Kandungan Strychnos ligustrina mengandung berbagai senyawa aktif yang berpotensi sebagai bahan obat, antara lain striknin (strychnine), brusin (brucine), loganin, tanin, dan steroid. Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam berbagai aktivitas biologis yang mendukung pemanfaatan tanaman ini dalam pengobatan tradisional. Dari sekitar 190 spesies dalam genus Strychnos, hanya beberapa spesies, termasuk S. ligustrina, yang diketahui mengandung alkaloid utama berupa striknin dan brusin(Waluyo dan Marlena, 1992; Itoh, 2006). Khasiat Strychnos ligustrina merupakan tanaman obat yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini digunakan untuk berbagai tujuan terapeutik, antara lain sebagai pembersih tubuh, obat sakit perut, obat cacing, pengobatan bisul, chancre (ulkus akibat infeksi), serta sebagai penawar racun ular. Berbagai pemanfaatan tersebut menunjukkan potensi S. ligustrina sebagai sumber bahan obat tradisional yang bernilai bagi kesehatan Masyarakat (Setiawan & Narendra, 2012). Cara Pengolahan Strychnos ligustrina* Blume dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional melalui beberapa bentuk pengolahan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bagian kayu atau batang tanaman ini dapat diolah menjadi simplisia maupun ekstrak yang selanjutnya digunakan sebagai bahan dalam pengobatan tradisional. Bentuk pengolahannya meliputi: Daftar Pustaka

BIDARA LAUT (Strychnos lingustrina) Read More »

Kenanga (Cananga odorata)

Nama Latin Cananga odorata Taksonomi Kingdom Plantae, plants Divisi Magnoliophyta, flowering plants Kelas Magnoliopsida, dicotyledons Ordo Magnoliales Famili Annonaceae, custard-apple amily Genus Cananga (DC.) Hook. f. & thomson, ylang-ylang Spesies Cananga odorta (Lam.) Hook. f. & Thomson, ylang-ylang (Tan et al.,2015) Definisi Umum Tanaman kenanga (Cananga odorata) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Annonaceae dan berperawakan pohon dengan tinggi mencapai sekitar 10 meter. Tanaman ini memiliki akar tunggang serta batang berkayu, berbentuk bulat, bercabang, dan berwarna hijau kotor. Daunnya merupakan daun tunggal yang tersusun tersebar, berbentuk bulat telur, berujung runcing, berpangkal rata, dengan panjang 10–23 cm dan lebar 3–14 cm, serta memiliki pertulangan menyirip dan tangkai berukuran 1–1,5 cm (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Bunganya merupakan bunga majemuk berbentuk payung yang tumbuh di ketiak daun dan berwarna kuning. Bunga memiliki kelopak berbentuk corong, benang sari yang banyak, kepala putik berbentuk bulat, serta enam mahkota berbentuk lanset dengan panjang 5–7,5 cm yang berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi kuning setelah tua. Tanaman ini juga menghasilkan buah buni berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 2 cm dan berwarna hijau (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Bunga kenanga juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak atsiri yang memiliki aroma khas, yaitu floral, dengan warna mulai dari kuning muda hingga kuning tua (Syafruddin et al., 2025). Kandungan Bunga kenanga (Cananga odorata) mengandung berbagai senyawa kimia, antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Minyak atsiri yang terdapat pada bunga kenanga tersusun atas berbagai senyawa, dengan beberapa komponen utama berupa linalool, trans-karyophyllene, α-humulene, dan germacrene-D, sedangkan senyawa lainnya ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil (Amelia & Rubiyanto, 2020). Khasiat Bunga kenanga (Cananga odorata) secara tradisional dimanfaatkan untuk membantu meredakan nyeri saat haid (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Selain itu, bunga kenanga juga dimanfaatkan sebagai bahan kosmetika dan minyak atsirinya dapat digunakan sebagai repelan terhadap nyamuk Anopheles aconitus betina(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Cara Pengolahan Bunga kenanga dapat diolah dengan mengambil minyak atsirinya melalui metode destilasi uap. Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk sediaan, salah satunya lotion dan parfum sebagai penolak nyamuk. Penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri bunga kenanga yang diformulasikan dalam lotion pada konsentrasi 7,5% dan parfum pada konsentrasi 20% memiliki efektivitas sebagai penolak nyamuk (Budi et al., 2018). Daftar Pustaka Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2015). 100 top tanaman obat Indonesia (Cetakan ke-2). Kementerian Kesehatan RI. Budi, J. J. S., Damayanti, N. L. Y., Dhani, Y. R., & Dewi, N. P. A. (2018). Ekstraksi dan karakterisasi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dan aplikasinya sebagai penolak nyamuk pada lotion dan parfum. Jurnal Kimia, 12(1), 19–24. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Acuan bahan baku obat tradisional dari tumbuhan obat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Syafruddin, S., Dewi, R., & Sari, R. (2025). Ekstraksi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dengan perbandingan metode distilasi uap dan teknik enfleurasi. Prosiding Seminar Nasional Politeknik Negeri Lhokseumawe, 8(1), A-81–A-85. https://e-jurnal.pnl.ac.id/semnaspnl/article/view/6751 Tan, L. T. H., Lee, L. H., Yin, W. F., Chan, C. K., Abdul Kadir, H., Chan, K. G., & Goh, B. H. (2015). Traditional uses, phytochemistry, and bioactivities of Cananga odorata (ylang-ylang). Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2015, Article 896314, 30 pages. https://doi.org/10.1155/2015/896314 Tentu. Saya pertahankan struktur dan isi yang kamu buat, lalu menerjemahkannya ke bahasa Inggris dengan istilah ilmiah yang sesuai. Latin Name Cananga odorata Taxonomy Kingdom Plantae, plants Division Magnoliophyta, flowering plants Class Magnoliopsida, dicotyledons Order Magnoliales Family Annonaceae, custard-apple amily Genus Cananga (DC.) Hook. f. & thomson, ylang-ylang Species Cananga odorta (Lam.) Hook. f. & Thomson, ylang-ylang (Tan et al.,2015) General Description The ylang-ylang plant (Cananga odorata) belongs to the family Annonaceae and is a tree that can reach a height of approximately 10 meters. It has a taproot and a woody, cylindrical, branched stem with a dirty green color. The leaves are simple and alternately arranged, with an ovate shape, pointed apex, and rounded base. The leaves are approximately 10–23 cm long and 3–14 cm wide, with pinnate venation and petioles measuring 1–1.5 cm (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). The flowers are borne in clusters in an umbel-like arrangement in the leaf axils and are yellow in color. The flowers have funnel-shaped sepals, numerous stamens, a rounded stigma, and six lanceolate petals measuring 5–7.5 cm in length, which are green when young and turn yellow when mature. The plant also produces berry-like fruits with an oblong shape, approximately 2 cm in length, and green in color (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Ylang-ylang flowers can also be utilized to produce essential oil with a characteristic floral aroma and a color ranging from light yellow to dark yellow (Syafruddin et al., 2025). Chemical Constituents Ylang-ylang flowers (Cananga odorata) contain various chemical compounds, including saponins, flavonoids, polyphenols, and essential oils (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). The essential oil found in ylang-ylang flowers consists of various compounds, with several major components including linalool, trans-caryophyllene, α-humulene, and germacrene-D, while other compounds are present in smaller amounts (Amelia & Rubiyanto, 2020). Benefits Ylang-ylang flowers (Cananga odorata) have traditionally been used to help relieve menstrual pain (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). In addition, ylang-ylang flowers are utilized as a cosmetic ingredient, and their essential oil can be used as a repellent against female Anopheles aconitus mosquitoes (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2015). Processing Methods Ylang-ylang flowers can be processed to obtain essential oil through the steam distillation method. The resulting essential oil can then be utilized in various formulations, including lotions and perfumes as mosquito repellents. A study showed that ylang-ylang essential oil formulated in lotion at a concentration of 7.5% and in perfume at a concentration of 20% was effective as a mosquito repellent (Budi et al., 2018). References Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. (2015). 100 top tanaman obat Indonesia (2nd ed.). Kementerian Kesehatan RI. Budi,

Kenanga (Cananga odorata) Read More »

Pilea (Pilea cadierei)

Nama Latin Pilea cadierei Taksonomi Kindom: Plantae Devisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Rosales Famili: Urticaceae Genus: Pilea Spesies: Pilea cadierei Gagnep & Guillaumin Definisi Umum Pilea cadierei merupakan tanaman herba dengan tinggi sekitar 50 cm yang memiliki akar tunggang, batang tegak berbentuk bulat, dan daun tunggal yang tersusun berhadapan bersilang. Daunnya berbentuk elips hingga bulat telur terbalik, berwarna hijau, dengan permukaan halus, licin, dan mengkilap serta memiliki ciri khas berupa noda berwarna abu-abu atau perak pada bagian tengah daun. Bunganya merupakan bunga majemuk yang tumbuh di ketiak daun, sedangkan buah dan bijinya jarang ditemukan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Tanaman ini memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan diketahui berasal dari daerah pegunungan di Vietnam bagian tengah (Yang et al., 2011). Dalam pemanfaatannya, Pilea cadierei juga dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok (Zaichang et al., 2013). Kandungan Daun Pilea cadierei dilaporkan mengandung proanthocyanidin (PA), yaitu kelompok polifenol atau tanin terkondensasi yang tersusun atas dua atau lebih unit flavan-3-ol. Proanthocyanidin dapat dikelompokkan menjadi procyanidin dan prodelphinidin. Pada daun Pilea cadierei, lebih dari 90% proanthocyanidin dilaporkan berada dalam bentuk tidak larut (insoluble proanthocyanidins) (Girard et al., 2020). Selain kandungan tersebut, pada daun dan ruas batang P. cadierei ditemukan struktur cystolith yang terutama tersusun dari mikrofibril selulosa, pektin, dan polisakarida dinding sel serta mengandung garam anorganik, terutama kalsium karbonat. Sebagian cystolith juga dilaporkan mengandung silikon (Watt et al., 1987). Khasiat Pilea cadierei secara tradisional dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat untuk membantu mengatasi beberapa gangguan kesehatan. Berdasarkan buku Acuan Bahan Baku Obat Tradisional dari Tumbuhan Obat Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017), Pilea cadierei digunakan untuk membantu mengatasi susah buang air besar. Selain penggunaan tersebut, Pilea cadierei juga dilaporkan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk membantu menangani infeksi saluran kemih. Penelitian oleh Zaichang et al. (2013) menunjukkan bahwa ekstrak Pilea cadierei memiliki aktivitas anti-biofilm terhadap Escherichia coli secara in vitro. Aktivitas tersebut diduga berkaitan dengan pemanfaatannya secara tradisional untuk infeksi saluran kemih. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menguji aktivitas tersebut pada model hewan. Cara Pengolahan Pilea cadierei dapat dimanfaatkan dalam bentuk bahan tanaman maupun hasil ekstraksi. Beberapa bentuk pengolahannya antara lain: Daftar Pustaka Girard, M., Lehtimäki, A., Bee, G., Dohme-Meier, F., Karonen, M., & Salminen, J.-P. (2020). Changes in feed proanthocyanidin profiles during silage production and digestion by lamb. Molecules, 25(24), 5887. https://doi.org/10.3390/molecules25245887 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Acuan bahan baku obat tradisional dari tumbuhan obat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Watt, W. M., Morrell, C. K., Smith, D. L., & Steer, M. W. (1987). Cystolith development and structure in Pilea cadierei (Urticaceae). Annals of Botany, 60(1), 71–84. https://doi.org/10.1093/oxfordjournals.aob.a087424 Yang, L., Li, Y., Yang, X., Xiao, H., Peng, H., & Deng, S. (2011). Effects of iron plaque on phosphorus uptake by Pilea cadierei cultured in constructed wetland. Procedia Environmental Sciences, 11, 1508–1512. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2011.12.227 Zaichang, Y., Du, R., Zhang, J., & Li, Q. (2013). In Vitro Anti-Biofilm Activity of The Extract Of Pilea Cadierei. Asian Journal of Pharmaceutical Research and Development, 1(1), 53–57. https://ajprd.com/index.php/journal/article/view/11 Latin Name Pilea cadierei Taxonomy Kindom: Plantae Devisi: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Ordo: Rosales Family: Urticaceae Genus: Pilea Species: Pilea cadierei Gagnep & Guillaumin General Definition Pilea cadierei is a herbaceous plant that can grow up to approximately 50 cm tall. It has a taproot, an erect and round stem, and simple leaves arranged in an opposite and decussate pattern. The leaves are elliptic to broadly ovate, green in color, with a smooth, glossy surface, and are characterized by distinctive grayish-white or silvery spots in the middle of the leaf. The flowers are compound flowers that grow in the leaf axils, while the fruits and seeds are rarely found (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2017). This plant is adaptable to environmental conditions and is known to originate from mountainous regions of central Vietnam (Yang et al., 2011). In terms of its utilization, Pilea cadierei is also known in traditional Chinese medicine (Zaichang et al., 2013). Chemical Constituents The leaves of Pilea cadierei are reported to contain proanthocyanidins (PA), a group of polyphenols or condensed tannins composed of two or more flavan-3-ol units. Proanthocyanidins can be classified into procyanidins and prodelphinidins. More than 90% of the proanthocyanidins reported in Pilea cadierei leaves are present in an insoluble form (insoluble proanthocyanidins) (Girard et al., 2020). In addition to these compounds, the leaves and stems of P. cadierei contain cystoliths, which are structures composed of cellulose microfibrils, pectin, and polysaccharides within the cell wall, and contain inorganic salts, particularly calcium carbonate. Some cystoliths have also been reported to contain silicon (Watt et al., 1987). Medicinal Benefits Pilea cadierei has traditionally been used as a medicinal plant to help treat several health conditions. According to the book Reference for Raw Materials of Traditional Medicines from Indonesian Medicinal Plants, published by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (2017), Pilea cadierei is used to help relieve constipation. In addition to this use, Pilea cadierei has also been reported in traditional Chinese medicine to help treat urinary tract infections. Research by Zaichang et al. (2013) showed that Pilea cadierei extract exhibited anti-biofilm activity against Escherichia coli in vitro. This activity is thought to be associated with its traditional use for treating urinary tract infections. However, further research is still needed to evaluate this activity in animal models. Processing Methods Pilea cadierei can be utilized in the form of raw plant material or as an extract. Several forms of processing include: 1. Plant Extract Pilea cadierei can be processed into a plant extract. Zaichang et al. (2013) used the whole plant, which was first dried and then extracted using ethanol. The resulting extract was subsequently used to evaluate its anti-biofilm activity against Escherichia coli.

Pilea (Pilea cadierei) Read More »

Scroll to Top