Nama Tumbuhan
Brotowali (Tinospora crispa)
Taksonomi Tumbuhan
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Ranunculales
Famili : Menispermaceae
Genus : Tinospora
Spesies : Tinospora crispa L.
Definisi Umum
Brotowali termasuk jenis tanaman perdu yang tumbuh memanjang dengan tinggi mencapai sekitar 2,5 meter, dan cenderung berkembang baik di lingkungan yang panas. Batangnya berukuran kira-kira sebesar jari kelingking, memiliki permukaan berbintil rapat, dan dikenal dengan rasa yang sangat pahit. Daunnya bertangkai tunggal, berbentuk menyerupai jantung atau agak oval dengan ujung yang meruncing. Bunganya berukuran kecil, berwarna hijau muda, tersusun dalam tandan semu. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui metode stek (Margarethy et al., 2019). Brotowali merupakan tanaman liar yang dapat ditemukan tumbuh di hutan, ladang, atau dibudidayakan di dekat pagar, dan oleh masyarakat pedesaan dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang umum dimanfaatkan adalah batang dan daunnya.
Kandungan
Tanaman brotowali diketahui memiliki beragam senyawa kimia yang bermanfaat untuk membantu mengatasi berbagai jenis penyakit. Senyawa-senyawa aktif tersebut tersebar di seluruh bagian tanaman, mulai dari akar, batang, hingga daunnya. Bagian daun dan batang brotowali mengandung senyawa seperti alkaloid, saponin, dan tannin. Secara khusus, batang brotowali mengandung sekitar 2,22% alkaloid, serta senyawa lain seperti barberin, zat pahit, kolumbin, glikosida, dan pikokarotin (Firdaus et al., 2021).
Khasiat
Batang tanaman brotowali kerap digunakan sebagai bahan alami untuk membantu meredakan berbagai gangguan kesehatan seperti rematik, demam, penyakit kuning, batuk, dan infeksi cacing. Sementara itu, bagian daunnya dimanfaatkan secara tradisional untuk membersihkan luka pada kulit serta mengatasi rasa gatal (Maylina, 2019).
Cara Pengolahan
Brotowali memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, salah satunya digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan tradisional untuk meredakan reumatik. Cara pengolahannya cukup sederhana: ambil seukuran satu jari batang brotowali, cuci bersih, potong kecil-kecil, lalu rebus dengan tiga gelas air hingga airnya berkurang menjadi sekitar satu setengah gelas. Setelah disaring, tambahkan madu untuk mengurangi rasa pahit. Ramuan ini diminum tiga kali sehari, masing-masing sebanyak setengah gelas (Nisfiyanti, 2012).
Daftar Pustaka
Firdaus, M., Nazaruddin, N., & Cicilia, S. (2021). Efek Lama Perebusan terhadap Aktivitas Antioksidan Air Rebusan Batang Brotowali (Tinospora crispa L.). Journal of Food and Agricultural Product, 1(2), 71-81. https://doi.org/10.32585/jfap.v1i2.2076
Margarethy, I., Yahya, Y., & Salim, M. (2019). Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases, 5(2), 40-48. https://www.researchgate.net/publication/339407675_Kearifan_lokal_dalam_pemanfaatan_tumbuhan_untuk_mengatasi_malaria_oleh_pengobat_tradisional_di_Sumatera_Selatan
Maylina, A. (2019). Studi Katalitik Herbal Pemanfaatan Tanaman Brotowali (Tinospora cordifolia) Sebagai Obat Penurun Kadar Glukosa Darah (Diabetes Mellitus). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689-1699. https://www.researchgate.net/publication/333128275_Studi_Katalitik_Herbal_Pemanfaatan_Tanaman_Brotowali_Tinospora_Cordifolia_sebagai_Obat_Penurun_Kadar_Glukosa_Darah_Diabetes_Mellitus
Nisfiyanti, Y. (2012). Sistem Pengobatan Tradisional (Studi Kasus di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu). Patanjala, 4(1), 125-136. https://www.researchgate.net/publication/323787130_SISTEM_PENGOBATAN_TRADISIONAL_Studi_Kasus_di_Desa_Juntinyuat_Kecamatan_Juntinyuat_Kabupaten_Indramayu

