December 2025

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo

Yogyakarta, July 18, 2024 – Taman Jamu Naturindo recently hosted a special private visit for a Japanese couple and their family. This educational trip was part of their week-long journey through Yogyakarta and Bali. The family chose a VIP private tour to gain a deeper, personalized understanding of Indonesia’s herbal heritage. Traditional Attire and Educational Plant Tour The experience began with an authentic cultural immersion. The guests enjoyed a themed photo session wearing “Mbok Jamu” attire, the traditional costume of Indonesian herbal sellers. Following the session, the family took an educational tour of the medicinal plant showcase. During this tour, they explored: The couple showed great enthusiasm, asking deep questions about the biodiversity and traditional uses of the plants they encountered. Hands-on Jamu Workshop at Joglo Pancanaka A highlight of the visit was the traditional Jamu crafting workshop at the Joglo Pancanaka pavilion. Guided by Naturindo’s expert herbalists, the guests learned the art of making “ready-to-drink” herbal beverages. In this interactive session, the family: This hands-on experience provided a profound connection to the local culture. It allowed the guests to see the transition of Jamu from a traditional philosophy into a modern wellness practice. A Meaningful Cultural Exchange This private visit was a meaningful way for the Japanese guests to understand the dynamics of the Indonesian herbal industry. They left with more than just information; they took home cherished memories and a newfound passion for Indonesian herbal traditions. For Taman Jamu Naturindo, hosting international guests is an honor. It serves as a vital opportunity to promote the preservation of Jamu as a global educational asset.

Learning Jamu in the Heart of Java: A Private Visit by a Japanese Couple to Taman Jamu Naturindo Read More »

Temasek Polytechnic Singapore Visits Taman Jamu Naturindo for Global Studies Overseas Study Trip

Kulon Progo, November 9, 2025 — Taman Jamu Naturindo recently welcomed an international delegation from Temasek Polytechnic (TP) Singapore. This visit is part of an official collaboration with Universitas Islam Indonesia (UII) under the Global Studies Overseas Study Trip (GSOST) program. Around 35 participants, including students and faculty members, traveled from Singapore to Yogyakarta International Airport (YIA). This 2025 visit marks the second consecutive year of the successful partnership, following their initial trip in 2024. Strengthening Academic and Cultural Ties The GSOST program serves as a bridge between UII and its international partners. Through this initiative, students explore Indonesia’s rich cultural heritage. Specifically, they focus on Jamu, a traditional health legacy that has evolved into a sophisticated modern industry. Educational Experience at Taman Jamu Naturindo During their visit to Taman Jamu Naturindo, the students engaged in several educational activities: Bridging Tradition and Modern Standards This program aims to broaden the international perspectives of Temasek Polytechnic students. By observing how traditional medicine integrates with modern industrial standards, students gain a unique insight into the global herbal industry. Furthermore, this visit proves that Indonesian herbal products are gaining significant international recognition. It also strengthens the educational network between Singapore and Indonesia. A Hub for International Learning Naturindo continues to support the preservation of Jamu while serving as a global learning hub. This synergy enhances the world’s understanding of Indonesia’s natural resources. Ultimately, it fosters international collaboration in the field of herbal-based healthcare.

Temasek Polytechnic Singapore Visits Taman Jamu Naturindo for Global Studies Overseas Study Trip Read More »

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris)

Nama Latin Bambusa vulgaris Taksonomi Kingdom      : Plantae Divisi           : Spermatophyta Kelas           : Monocotyledonae Ordo            : Poales Famili           : Gramineae Genus           : Bambusa Spesies         : Bambusa vulgaris (Sarmila et al., 2022) Definisi Umum Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Khasiat Bambu kuning terdeteksi positif senyawa saponin, flavon dan tannin. Saponin bermanfaat sebagai peptisida, insektisida, moluskasida, fungisida dan penggunaan pada industri untuk foaming. Ekstrak daun Bambusa vulgaris memiliki efek hepatoprotektor dan pemulihan fungsi ginjal. Ekstrak daun B. vulgaris berpotensi menjadi produk antimalaria alami yang menjanjikan tanpa efek samping pada penggunaan, terutama bila diberikan dalam kisaran dosis 100 – 200 mg/kg berat badan. Tanin digunakan sebagai astringen, melawan diare, sebagai diuretik, melawan lambung dan tumor duodenum, dan sebagai antiinflamasi, antiseptik, antioksidan dan hemostatik obat-obatan (Sujarwanta & Zen, 2021). Flavonoid pada bambu kuning dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih. Nanopartikel emas ekstrak daun bambu kuning memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 0,907 cm (Prasetya et al., 2020). Selain itu, ekstrak etanol daun bambu Bambusa vulgaris juga memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Salmonella typhi (Ulfa et al., 2015). Cara Pengolahan Rebung berpotensi menjadi produk olahan tepung yang mengandung serat tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, tepung rebung dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Namun kandungan serat yang tinggi menyulitkan rebung untuk dibuat menjadi tepung secara langsung. Untuk itu, rebung perlu diberi perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan ada beberapa macam, seperti blansing, fermentasi pikel dan perendaman dengan Na- Metabisulfit, fermentasi alami atau spontan. Perlakuan pendahuluan yang digunakan dalam pengolahan rebung menjadi tepung adalah fermentasi alami atau spontan karena perlakuan tersebut tidak menggunakan bahan kimia (Rachmadi, 2011). Proses pembuatan tepung rebung adalah mengambil rebung yang sudah difermentasi, kemudian rebung dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven dengan suhu 60 ̊C selama ± 14 jam hingga kering (rebung mudah dipatahkan). Lalu rebung digiling atau diblender hingga halus dan kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Prabasini et al., 2013). DAFTAR PUSTAKA Prabasini H, Ishartani D, Rahadian D. 2013. Kajian sifat kimia dan fisik tepung labu kuning (Cucurbita moschata) dengan perlakuan blanching dan perendaman natrium metabisulfite (Na2S2O5). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 93-102. Prasetya A, A., Prima A. P., Amalia, H., dan Yandi S., 2020. Biosintesis Nano Herbal Ekstrak Daun Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) Dengan Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Mahasiswa Khazanah Vol. 11(1) Hal: 1-6. Universitas Islam Indonesia. Rachmadi, 2011. Gangguan Ginjal Akut. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.  Sarmila, Nirawati, & Nuriman, A. (2022). Eksplorasi Jenis Bambu (Bambusa, Sp.) Berdasarkan Ciri Morfologi Kabupaten Maros. Jurnal Eboni, 4(1), 9–15. Sujarwanta, A., & Zen, S. (2020). Identifikasi Jenis dan Potensi Bambu (Bambusa sp.) sebagai Senyawa Antimalaria. BIOEDUKASI, 11(2), 131-151. Ulfa, M., Apridamayanti, P., & Sari, R. (2015). Penentuan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bambu (Bambusa vulgaris) terhadap Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1).

BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris) Read More »

Scroll to Top